

PEKANBARU -- Lazismu Pekanbaru mengambil peran strategis dalam penyaluran bantuan pilar program pendidikan untuk siswa dan siswi MTs Muhammadiyah Sungai Batang yang terdampak banjir.
Dengan memprioritaskan penyediaan bantuan alat-alat sekolah (School Kit), langkah ini dipilih berdasarkan penilaian di lapangan bahwa kebutuhan-kebutuhan untuk mendukung pendidikan sering kali terabaikan.
Manager Lazismu Pekanbaru, Fadhlullah menjelaskan bahwa bantuan School Kit didesain untuk memenuhi kebutuhan pendidikan anak-anak penyintas yang terdampak bencana banjir yang kerap terlupakan.
“Untuk bantuan berupa sembako, pakaian dan irigasi air alhamdulillah telah terkumpul dari donasi masyarakat dan sudah disalurkan. Berdasarkan hasil evaluasi di lapangan banyak anak-anak yang kehilangan kebutuhan pendidikannya baik pakaian, tas dan alat tulis karena terbawa banjir dan longsor" ujarnya pada sabtu (17/01/2026).
Selanjutnya, Ia mengatakan, kebutuhan bantuan paket School Kit yang disalurkan tersebut terdiri dari seragam sekolah, tas, buku dan pena untuk 33 siswa dan siswi MTs Muhammadiyah Sungai Batang. Selain itu, Fadhlullah mengatakan, Lazismu Pekanbaru juga menyalurkan sembako untuk penyintas bencana banjir.
Sementara itu, Zulkaidir, Ketua Pos Koordinasi Bencana Alam Muhammadiyah Kabupaten Agam sangat berterimakasih kepada Lazismu Pekanbaru yang kembali memberikan perhatian terhadap warga terdampak khususnya anak-anak terdampak banjir dan longsor.
"Alhamdulillah ini adalah kali kedua Lazismu Pekanbaru turun di tempat kami. Atas perhatian dan dukungannya terhadap wilayah kami yang terdampak oleh bencana alam ini”, paparnya. Lebih lanjut, Ia berharap bantuan yang diberikan dapat memberikan keringanan kepada masyarakat yang terdampak dan meringankan beban mereka.
[Kelembagaan dan Humas Lazismu Pusat/Lazismu Pekanbaru]

JAKARTA – Momen menggembirakan menyambut bulan suci Ramadhan 1447 Hijriah, Lazismu menggelar Kick Off Program Ramadhan dengan tema “Zakat Majukan Kesejahteraan Bangsa” pada Kamis (15/1/2026).
Kegiatan ini menjadi penanda dimulainya rangkaian program Lazismu selama Ramadhan yang fokus pada penguatan peran zakat dalam pembangunan sosial dan ekonomi masyarakat melalui zakat dan literasi keuangan syariah.
Bendahara Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Hilman Latief, dalam acara tersebut, menyampaikan pandangannya mengenai esensi Ramadhan bagi Lazismu.
Ia menilai maraknya kegiatan kajian keagamaan selama Ramadhan merupakan peluang strategis untuk membangun dan memperkuat literasi keuangan syariah di tengah masyarakat.
Menurut Hilman, literasi keuangan syariah tidak hanya sebatas pemahaman zakat, infak, dan sedekah sebagai instrumen non-perbankan, tetapi juga perlu diperluas pada sektor perbankan dan asuransi syariah.
Kesadaran masyarakat terhadap sistem keuangan syariah yang komprehensif dinilai penting, karena tanpa literasi yang kuat, pertumbuhan industri keuangan syariah akan sulit berkembang secara optimal.
Lebih lanjut, Hilman menekankan bahwa Ramadhan merupakan momentum bagi masyarakat untuk terlibat aktif dalam berbagai program kebajikan.
Ia menilai, makna berbagi di bulan suci tidak semata-mata diukur dari besaran materi, melainkan juga dari kontribusi kemampuan dan potensi yang dimiliki setiap individu.
Dalam konteks itu, Hilman mendorong Lazismu di seluruh wilayah Indonesia untuk mengembangkan pendekatan filantropi berbasis kewirausahaan.
Ia mencontohkan praktik baik yang telah berjalan melalui Pasar Ramadhan Kauman dan Pasar Ramadhan Jogokariyan, yang terbukti mampu membuka ruang pemberdayaan ekonomi masyarakat melalui aktivitas usaha produktif.
Selain itu, Hilman juga menyoroti tingginya kepedulian publik terhadap isu-isu kemanusiaan, khususnya bencana di wilayah Sumatera. Memasuki Ramadhan, antusiasme masyarakat untuk berdonasi diperkirakan meningkat, sehingga Lazismu perlu memperkuat tata kelola dan akuntabilitas keuangan.
Ia menegaskan pentingnya sinergi dengan Lembaga Pembinaan dan Pengawasan Keuangan (LPPK) PP Muhammadiyah agar penyaluran bantuan berjalan tepat sasaran, efektif, dan efisien.
Melalui berbagai langkah tersebut, Hilman berharap program-program Lazismu selama Ramadhan 1447 Hijriah dapat menghadirkan keberkahan, kemaslahatan, serta kesejahteraan yang lebih luas bagi masyarakat.
[Kelembagaan dan Humas Lazismu Pusat/ Soleh]

JAKARTA – Ramadhan akan tiba dalam hitungan hari. Spirit untuk menjemputnya terus menggeliat. Ramadhan menjadi salah satu momen istimewa bagi kalangan muslim di Indonesia. Sejumlah pengamat ekonomi mengatakan, Ramadhan akan menjadi daya pendorong laju pertumbuhan ekonomi.
Bagi Lazismu menyambut Ramadhan merupakan keceriaan yang mengasyikkan. Segenap rencana dipersiapkan untuk suatu program khusus yang prioritasnya senapas dengan keistimewaan di dalamnya. Program-program Ramadhan yang disajikan antara lain, Tebar Takjil, Back to Masjid, Kado Ramadhan, Taman Lansia dan Mudikmu Aman. Setiap tahun Lazismu menyuguhkan program tersebut untuk berbagi.
Melalui Kick Off Raamdhan 1447 H, yang berlangsung di Auditorium Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Uhamka, Jakarta, Kamis, (15/1/2026), Lazismu mengusung tema Ramadhan bertajuk Zakat Majukan Kesejahteraan Bangsa. Sesuai mandat persyarikatan Muhammadiyah, menurut Ahmad Imam Mujadid Rais, Ketua Badan Pengurus Lazismu Pusat, selain sebagai momen yang tepat bagi Lazismu, Ramadhan merupakan arena edukasi dan literasi keuangan syariah. “Di dalamnya ada edukasi dan literasi zakat serta amalan kebaikan lainnya”, pungkasnya.
Di sana, peran Lazismu mendapat dukungan dari para ustadz dan guru-guru yang memotivasi jamaah dengan hikmah Ramadhan. Setiap Ramadhan, kata Mujadid Rais, dengan jalan dakwah mereka menyampaikan keutamaan bulan Ramadhan, yang salah satunya diingatkan dengan 10 hari terakhir untuk membayar zakat fitrah.
Oleh karena itu, menurutnya, tema besar Ramadhan tahun ini, memperkuat tema besar Muhammadiyah saat Tanwir di Kupang, bagaimana Lazismu sebagai salah satu elemen persyarikatan Muhammadiyah harus berkontribusi dalam tujuan bernegara ini yaitu menyejahterakan bangsa.
Sejalan dengan makna zakat ini yaitu tumbuh dan berkah. “Maka untuk semuanya dan dalam mewujudkan kesejateraan bangsa harus terpenuhi dengan lima program besarnya di Ramadhan yaitu Tebar Takjil, Back to Masjid, Kado Ramadhan, Taman Lansia dan Mudikmu Aman.
Dalam rencana strategis Lazismu, yang turut menjadi fokus perhatian Lazismu, kata Mujadid Rais adalah Masjid. Masjid menjadi perhatian penting dalam gerakan filantropi. Tidak hanya memakmurkan masjid tapi juga menjadi pusat kegiatan pemberdayaan umat.
Tidak terkecuali dengan isu lanjut usia sebagai bagaian dari kelompok rentan. Lansia menurut dokumen dari persyarikatan bangsa-bangsa (PBB) dalam agendanya terdapat upaya untuk menanggulangi kemanusian, salah satunya, tidak boleh meninggalkan lansia dan perempuan, sementara itu yang kedua, penyandang disabilitas. Hal ini menunjukkan bahwa ada keberpihakan Lazismu terhadap mereka yang rentan dan tidak boleh ditinggalkan sendirian.
Keberlanjutan program ini setiap Ramadhan merupakan komitmen Lazismu dalam mengemas program yang dibutuhkan berdasarkan wawasan filantropi Islam yang menjadi kekhasannya yang melibatkan masyarakat, mitra strategisnya dan penerima manfaat.
Literasi Keuangan Syariah, dari Entrepreneurship Menuju Empati Bencana
Selain tentunya edukasi dan literasi zakat, Bendahara Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Hilman Latief dalam amanahnya mengungkapkan kerja keras Lazismu dalam satu tahun terakhir bisa memberikan manfaat dan dampak yang luas. Hilman mengapresiasi seluruh mitra perbankan atas dukungannya ke pimpinan pusat Muhammadiyah dan Lazismu, sehingga program-program kami yang bertalian dengan kesejahteraan bangsa memiliki signifikansinya.
“Setiap tahun Ramadhan kita hadapi, rasakan dan lewati bahkan meninggalkannya. Siklus ini terus berkembang, ada kegembiraan dan kesedihan”, tandasnya. Karena itu, yang perlu disampaikan ke Lazismu dan pemangku kepentingan (stakeholders), bersama-sama kita manfaatkan Ramadhan tahun ini 1447 H, dengan bersemangat dan momentum penguatan literasi keuangan syariah.
Ramadhan tidak hanya diisi dengan nuansa spiritualitas semata, tapi juga penguatan literasi keuangan syariah, tidak hanya zakat, infak, sedekah dan dana sosial keagamaan lainnya (ZISKA), lebih jauh lagi mulai memperkenalkan kepada masyarakat tentang bagaimana literasi keuangan syariah itu ada dalam kehidupan kita dalam bermuamalat.
“Tanpa literasi yang kuat tidak akan tumbuh bagi industri keuangan, khususnya dunia perbankan”, bebernya. Lalu, bagaimana Ramadhan jadi arena penguatan literasi keuangan syariah, maka yang kedua, poin pentingnya adalah mengharapkan Ramadhan sebagai arena reaktualisasi program kebajikan yang biasa dilakukan.
“Kita ingin membangun perspektif yang baru, bahwa Ramadhan bukan sekadar waktu untuk berbagi angka, tapi juga berbagi kemampuan”, tutur Hilman. Ia mendorong Lazismu dan entitas persyarikatan muhammadiyah supaya sudah mulai menyusun spirit kewirausahaan (entrepreneurship).
Filantropi Islam yang berbasis entrepreneurship, tanpa itu gerak dan langkah kita akan terbatas. Oleh sebab itu, sambung Hilman, biasanya kalau di dalam bulan-bulan sebelumnya arena untuk berbagi bayar zakat dilakukan begitu juga infak serta sedekah, kita jarang menempatkan di Ramadhan bagi masyarakat untuk bisa terlibat di dalam kegiatan entrepreneurship.
Sejauh ini, menyalurkan infak sedekah hanya untuk berbagi, di bulan Ramadhan harusnya lebih kuat. “Semakin dekat Idul Fitri baru kita memberi, saya berpikir bahwa bagaimana caranya juga kelompok tertentu di Ramadhan kali ini mulai beraktualisasi seperti adanya pasar kaget di berbagai tempat”, jelasnya.
Pasar kaget seperti di Jogokariyan bisa bertahan selama tiga minggu. Maka, bagaimana pertanyaannya untuk mengajak keterlibatan masyarakat dalam memuliakan Ramadhan. Kelompok yang jadi target kita bukan target di akhir Ramadhan, tapi bagaimana menggembirakan Ramadhan juga melibatkan masyrakat. Ini bisa direnungkan oleh amil Lazismu dan bagaimana pelibatan ekosoistem yang akan kita dorong.
Sepertinya kita melihat Ramadhan bulan yang terpisah dengan bulan lainnya. Inilah ekosistem yang harus kita bangun butuh perjuangan. Hilman mengatakan, tanpa melupakan saudara-saudara kita yang tertimpa musibah bencana banjir dan longsor di Sumatera dan Aceh.
Hemat saya, ada tempat-tempat spesifik untuk melaksanakan ibadah yang dilaksanakan dengan membawa kegembiraan sebagai bekal yang juga perlu kita bawa. “Mari kita imajinasikan juga Ramadhan tahun ini seperti apa yang akan kita sajikan program-programmnya di daerah bencana”, ajak Hilman bersemangat.
[Kelembagaan dan Humas Lazismu Pusat]

JAKARTA – Sejak berubah nomenklatur, dari Majelis Wakaf dan Kehartabendaan menjadi Majelis Pendayagunaan Wakaf (MPW), mulai tahun 2023 – 2027, MPW bergerak pada ranah pendayagunaan produktif lahan baik di kota dan pedesaan.
Demikian disampaikan Bendahara Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Hilman Latief, di Kantor Lazismu Pusat, Jakarta, Selasa (13/1/2026), bersamaan dengan agenda serah terima dana wakaf, dari Lazismu kepada Majelis Pendayagunaan Wakaf Pimpinan Pusat Muhammadiyah.
Hadir dalam serah terima dana wakaf tersebut, Ketua Badan Pengurus Lazismu Pusat, Ahmad Imam Mujadid Rais dan Ketua Majelis Pendayagunaan Wakaf (MPW) Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Amirsyah Tambunan beserta jajaran pimpinan terkait. Adapun nilai dana wakaf itu sebesar Rp 1,8 miliar yang secara simbolis diserahkan dan disaksikan bendahara umum pimpinan pusat Muhammadiyah.
Dalam amanahnya, Hilman Latief mengatakan, cara pandang terhadap wakaf telah berubah. Sejauh ini, ketika masih bernama Majelis Wakaf dan Kehartabendaan, perannya legalisasi dan sertifikasi. Sekarang, sambungnya, konsep pendayagunaan bisa dapat dioptimalkan agar manfaatnya lebih berdampak.
Hilman menjelaskan bahwa karakter lembaga filantropi yang sesungguhnya adalah dari wakaf. “Itu sejarahnya. Oleh karena itu, dari dana sebesar Rp 1,8 miliar, maka Rp 800 juta nya bisa dimanfaatkan untuk pendayagunaan wakaf sehingga menjadi lebih produktif,” tuturnya.
Ia memberikan contoh, bagaimana wakaf pendayagunaan mampu memberikan kontribusi positif kepada Masyarakat. Salah satunya Pesantren Eco-Saintek Muhammadiyah, yang berada di Rancamaya, Kota Bogor. Menurutnya, ini adalah model pesantren dengan pengembangan dari Pesantren Kilat Al-Hikmah yang telah diwakafkan kepada Muhammadiyah. Selain untuk mendukung Pendidikan, pesantren ini terpadu dengan pendekatan sains, lingkungan, dan nilai keislaman.
Sementara itu, Ketua Majelis Pendayagunaan Wakaf (MPW) Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Amirsyah Tambunan, menyampaikan terima kasih kepada bendaha umum pimpinan pusat Muhammadiyah dan Lazismu atas dukungannya dan kepercayaannya.
“Di bawah koordinasi bendahara umum, MPW dipercaya untuk mengelolanya secara produktif.,” kata Amirsyah. Salah satu kelebihan wakaf harus abadi, sambungnya. Jika dana zakat harus habis dikelola, berbeda dengan wakaf yang harus dikelola secara produktif dan abadi nilai manfaatnya.
Melalui agenda serah terima dana wakaf tersebut, Ketua Badan Pengurus Lazismu Pusat, Ahmad Imam Mujadid Rais merasa bersyukur, bahwa kolaborasi Lazismu dan Majelis Pendayagunaan Wakaf bisa terwujud. Kerjasama ini bisa lebih dioptimalkan dalam suatu program filantropi yang produktif.
[Kelembagaan dan Humas Lazismu Pusat]

ACEH TAMIANG -- Pos Koordinasi Hasanah di Kotalintang, menjadi lokasi penyaluran bantuan kemanusiaan yang dilakukan Majelis Telkomsel Taqwa (MTT) bersama Lazismu kepada warga terdampak pasca-banjir di provinsi Aceh.
Kolaborasi MTT dan Lazismu sebelum tiba di lokasi singgah di Masjid At-Taqwa Kualasimpang sebagai rangkaian alur Pos Koordinasi, pada Selasa (13/1/2026). Alur koordinasi antar Posko ini dilakukan Lazismu untuk memastikan kesiapan yang dibutuhkan tidak ada yang terlewati.
Mulkan Tampubolon, Ketua Lazismu Aceh Tamiang, mengatakan, dari Kualasimpang bantuan ini akan bergerak menuju titik penyaluran di Posko Hasanah, Kotalintang. “Koordinasi lapangan terus dilakukan agar aman dalam perjalanan”, paparnya.
Sinergi MTT dan Lazismu merupakan aksi nyata untuk membantu warga terdampak banjir bandang di Kabupaten Aceh Tamiang. “Kolaborasi ini diwujudkan melalui pendistribusian 280 paket sembako sebagai langkah tindak lanjut dari serah terima bantuan yang dilakukan di Kota Medan sehari sebelumnya,” kata Mulkan.
Tim gabungan MTT dan Lazismu bertolak dari Kantor Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Sumatera Utara di Medan menuju Aceh Tamiang dengan menempuh perjalanan darat selama empat jam. Tiba di lokasi, para relawan One Muhammadiyah One response (OMOR) langsung bergerak menyiapkan kebutuhan di lapangan.
Rizky Saragih dari Divisi Pendistribusian dan Pendayagunaan Lazismu Pusat, menjelaskan bahwa koordinasi ini sangat penting untuk memastikan bantuan tepat sasaran. "Kami bersama-sama dengan MTT melakukan koordinasi sebelum menuju titik pendistribusian di Posko Hasanah”, tandasnya.
Paket sembako yang disiapkan MTT dan Lazismu diperuntukkan untuk lokasi yang masih minim dalam menerima bantuan. Rizky mengungkapkan, kami menyalurkan langsung kepada warga yang saat ini sangat membutuhkan bahan pangan.
Pihak MTT menyatakan bahwa aksi ini merupakan bagian dari komitmen perusahaan dalam merespons bencana alam secara cepat. Akhdiyat Suryana, Ketua MTT Regional Sumbagut yang hadir langsung di lokasi, berharap bantuan ini dapat meringankan beban para penyintas.
"Paket yang kami berikan sebanyak 280 paket sembako, mudah-mudahan bermanfaat dan berkah. Ini merupakan salah satu bentuk respons gerak cepat peduli kepada penyintas banjir bandang di Aceh Tamiang," pungkasnya.
Kondisi Terkini di Lokasi Pengungsian
Kendati bantuan darurat berupa pangan mulai tersalurkan, para penyintas di lapangan dilaporkan masih menghadapi berbagai tantangan, terutama terkait sanitasi dan fasilitas tidur. Eliza Tantiana, salah satu warga Desa Kotalintang, di Lorong 3, Gang Kartika, mengatakan kebutuhan sembako memang sangat mendesak. Di samping itu kebutuhan mendesak lainnya adalah matras atau kasur.
Berdasarkan pantauan Lazismu di lapangan, masih ada kendala fisik, seperti area pemukiman, terutama gang bagian bawah masih terendam lumpur, sehingga warga masih harus mengungsi di lokasi yang lebih tinggi dan aman.
Kondisi itu diakui Eliza masih banyak lumpur. Warga masih bergantung pada air sumur yang harus dimasak terlebih dahulu agar layak konsumsi. "Harapan saya semoga kondisi bisa segera pulih dan kami bisa kembali mencari mata pencaharian untuk menghidupi keluarga”, katanya.
Mewakili para penyintas, Eliza menyampaikan terima kasih kepada Lazismu dan Telkomsel karena sudah memberikan bantuan berupa sembako yang kami butuhkan," ujar Eliza.
[Kelembagaan dan Humas Lazismu Pusat/Athif]

MEDAN – Warga terdampak banjir di Aceh Tamiang mendapatkan bantuan kemanusiaan dari program Indonesia Siaga. Penyaluran bantuan kemanusiaan Pilar Program Kemanusiaan tersebut dilakukan Lazismu yang bersinergi dengan Majelis Telkomsel Taqwa (MTT).
Kolaborasi aksi kemanusiaan ini untuk warga terdampak di Aceh Tamiang, yang sebelum diberikan kepada penerima manfaat, dilakukan agenda penyerahan bantuan secara simbolis di Graha Merah Putih, Kantor Pusat Telkomsel, Kota Medan, pada Senin (12/1/2026).
Sinergi kedua entitas itu menyiapkan 280 paket bantuan sembako yang siap didistribusikan kepada para penyintas. Paket bantuan kemanusiaan tersebut berisi kebutuhan pokok mendesak, di antaranya beras, telur, mie instan, biskuit, dan minyak goreng.
Fokus pada Lokasi Minim Bantuan
Ketua Umum Majelis Telkomsel Taqwa, Herdin Hasibuan, menjelaskan bahwa pemilihan Lazismu sebagai mitra distribusi didasari oleh kapabilitas tim relawan di lapangan yang mumpuni.
"Kami berkolaborasi dengan Lazismu untuk menyalurkan dana yang telah terkumpul kepada penyintas di beberapa titik yang menurut pantauan kami masih minim menerima bantuan”, ujarnya. Lazismu memiliki tim relawan yang memadai dan sudah memahami kondisi bencana di sana. Mudah-mudahan, sambung Herdin, kolaborasi ini berjalan dengan baik.
Selain bantuan logistik, Telkomsel sebelumnya telah bergerak cepat dalam memulihkan jaringan komunikasi di area terdampak. Direktur Sales Telkomsel, Stanislaus Susatyo, menekankan bahwa pemenuhan kebutuhan pangan sama pentingnya dengan pemulihan infrastruktur teknis.
"Terima kasih kepada teman-teman Telkomsel dan semua pihak yang tergerak hatinya berjuang keras membantu penyintas banjir. Sejauh ini kami fokus menyediakan kembali infrastruktur yang sangat penting, tapi saudara-saudara kita juga butuh makan," ungkapnya.
Ia menambahkan, distribusi bantuan kali ini akan diprioritaskan untuk menjangkau pelosok Aceh Tamiang yang selama ini sulit diakses atau belum tersentuh bantuan dari pihak lain.
Aksi tanggap bencana ini merupakan bagian dari komitmen berkelanjutan MTT dan Telkomsel dan Lazismu untuk hadir di tengah masyarakat, tidak hanya melalui layanan telekomunikasi, tetapi juga melalui aksi nyata kepedulian sosial di masa sulit.
Dalam kesempatan yang sama, Divisi Fundraising Lazismu Pusat, Rifatul Mahmudah, mengungkapkan, kolaborasi ini menyalurkan bantuan kemanusiaan sebanyak 280 paket sembako untuk didistribusikan kepada para penyintas.
“Paket tersebut berisi kebutuhan pokok mendesak, di antaranya beras, telur, mie instan, biskuit, minyak goreng dan rendangmu,” katanya. Mewakili Lazismu Pusat, dia mengucapkan terima kasih kepada MTT Telkom yang memercayakan donasi kemanusiaannya melalui Lazismu.
[Kelembagaan dan Humas Lazismu Pusat]

