

YOGYAKARTA -- Peran muhammadiyah dalam mengaktualisasikan ekonomi islam dimulai dari gerakan dakwah yang menggerakan aspek pendidkan, sosial, ekonomi, kesehatan dan filantropi islam.
Gerakan ekonomi islam harus berdampak dan menggairahkan ekonomi masyarakat. Karena itu, kerjasama dilakukan muhammadiyah dengan berbagai pihak.
Langkah nyatanya menjalin kerjasama strategis dengan Bank Muamalat Indonesia. Hal itu ditandai dengan seremoni penandatanganan nota kesepahaman antara kedua belah pihak yang dilaksanakan di Yogyakarta, Rabu 7 Agustus 2024, oleh Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir dan Direktur Bank Muamalat Indonesia Karno.
Dalam rilis dilaman resmi Pimpinan Pusat Muhammadiyah (7/8/2024), Haedar Nashir menyambut baik perluasan kerja sama ini. Haedar menyampaikan kerja sama yang dibangun dengan Bank Muamalat sudah dijalin sejak lama, bahkan Muhammadiyah juga jadi bagian dari pihak yang mendirikan Bank Muamalat.
"MoU hari ini memperkuat hubungannya antara Muhammadiyah dengan Muamalat, begitu juga dengan BPKH kami juga intensif dalam kerja sama dan komunikasi,” ungkap Haedar.
Muhammadiyah berharap untuk lembaga perbankan ini, sebagai bank syariah yang lahir dari umat tumbuh besar dan berkembang jadi perbankan yang tangguh.
“Kita harus mempertahankannya secara bersama-sama, sehingga Bank Muamalat ini tetap berkembang dan besar,” imbuhnya.
Haedar menyampaikan supaya Bank Muamalat untuk mengintensifkan komunikasi khususnya dengan investor, sehingga bisa melakukan ekspansi lebih luas dan prudence. Selain itu, menurutnya juga perlu untuk memperbaiki komunikasi publik di mana warganet Indonesia masih rendah literaturnya.
“Tentang kerja sama lebih lanjut supaya tetap jalan dan lebih baik dari sebelumnya,” katanya.
Dalam mengelola perbankan, kata Haedar, juga harus tetap memperhatikan prinsip-prinsip good government. Selain itu juga harus profesionalitas, menjaga keamanannya, dan menjaga amanahnya.
Nilai-nilai utama itu harus berdampak pada kemajuan umat, tidak hanya secara ketaatan agama tapi juga kehidupan peradaban.
“Bagi kami agama juga harus mengurus kehidupan, tidak hanya yang bersifat sakral. Dan itu semua harus tetap moderat,” sambung Haedar.
Dunia perbankan menurutnya tidak hanya untuk urusan bisnis dan finansial, tapi juga menyentuh aspek sosial dan filantropi umat. Perbankan harus memberi manfaat sebanyak-banyaknya umat, lebih-lebih UMKM harus diperhatikan serius, tidak hanya menjadi ‘sampiran’ kebijakan.
Menurutnya, itu yang selama ini diperjuangkan oleh Muhammadiyah.
Dalam kesempatan itu, Karno mengatakan, terdapat dua lingkup kerja sama yang akan dijalankan oleh Bank Muamalat dan PP Muhammadiyah. Pertama adalah pemanfaatan jasa, layanan dan program CSR Bank Muamalat untuk pengembangan cabang, ranting dan masjid yang dikelola oleh Muhammadiyah. Kedua adalah kolaborasi program antara Bank Muamalat dengan lembaga zakat nasional milik Muhammadiyah, Lazismu.
Selain itu, dilansir dalam laman resmi bankmuamalat.co.id (7/8/2024), Karno mengungkapkan sebagai pionir bank syariah di Tanah Air ini juga berkomitmen untuk menyiapkan pembiayaan sebesar Rp 2 triliun kepada Muhammadiyah. Dana tersebut akan digunakan untuk mengembangkan Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) seperti rumah sakit, perguruan tinggi, pondok pesantren dan masjid.
“Kami mengucapkan terima kasih atas kepercayaan Muhammadiyah kepada Bank Muamalat selama ini. Bagi kami, Muhammadiyah adalah mitra utama dan strategis yang senantiasa mendukung Bank Muamalat dengan tetap menjadi nasabah loyal. Insya Allah kolaborasi dengan Muhammadiyah akan semakin erat dan lebih luas lagi ke depannya,” ujarnya.
Salah satu aspek utama dari nota kesepahaman tersebut adalah dukungan kepada pengurus masjid dalam memahami dan menggunakan layanan perbankan syariah. Bank Muamalat akan menyediakan aplikasi khusus untuk masjid yang dapat membantu pengurus dalam proses digitalisasi pengelolaan keuangan masjid.
Implementasi Quick Response Code Indonesia Standar (QRIS) di lingkungan masjid Muhammadiyah juga akan dilakukan guna memudahkan transaksi keuangan, seperti pembayaran donasi dan Zakat, Infaq, Shodaqah dan Wakaf (Ziswaf) secara digital. Dengan layanan penyimpanan dan pengelolaan dana yang diperoleh, diharapkan dana tersebut dapat dimanfaatkan dengan lebih efektif dan efisien untuk kemaslahatan umat.
Aspek kerja sama lain adalah pengelolaan keuangan dan program agregator haji. Dalam hal ini, Bank Muamalat akan mensosialisasikan dan mengelola keuangan yang berhubungan dengan haji di lingkungan Muhammadiyah.
Adapun terkait kerja sama dengan Lazismu, kedua belah pihak akan berkolaborasi dalam hal layanan keuangan syariah, penyaluran ziswaf, donasi kemanusiaan, penyaluran hasil kurban dan resiprokal marketing.
Sebelumnya, Bank Muamalat telah menjalin kerja sama dengan sejumlah pengurus wilayah Muhammadiyah di Sumatera yang mencakup kerja sama bisnis, sosial keagamaan hingga literasi keuangan. Selain itu, Bank Muamalat juga memfasilitasi pembukaan rekening secara serentak untuk amal usaha, organisasi otonom dan ratusan warga Muhammadiyah di kota Serang, Banten belum lama ini.
[Kelembagaan dan Humas Lazismu PP Muhammadiyah)

KEBUMEN – Marbot masjid berperan penting dalam memakmurkan masjid. Melalui peran dan tugasnya, jamaah dapat melakukan aktivitasnya di masjid yang diiringi dengan upaya peningkatan kualitas pelayanan dan pengelolaan masjid.
Pada hari Kamis, 8 Agustus 2024, Lazismu melakukan kunjungan ke Masjid Miftahul Ulum, di Kebumen, Jawa Tengah. Agenda silaturahim itu sekaligus penyerahan bantuan untuk renovasi sarana ibadah Masjid Miftahul Ulum yang berlokasi di Kecamatan Sruweng, Kebumen.
Bantuan diserahkan dalam bentuk dana renovasi senilai Rp 50.000.000, yang diterima oleh jajaran takmir Masjid Miftahul Ulum. Direktur Utama Lazismu, Ibnu Tsani dan Direktur Pendayagunaan dan Distribusi, Ardi Lutfi Kautsar serta perwakilan Lazismu Daerah Kebumen, hadir dalam serah terima bantuan itu.
Melalui Program Back To Masjid, peran marbot kehadirannya untuk menguatkan komitmen dan Lazismu sebagai penghimpun dan penyalur dana ZISKA mendukung penuh pengembangan sarana ibadah masjid di berbagai daerah untuk perluasan dakwah.
Dalam sambutannya, Direktur Utama Lazismu Ibnu Tsani menjelaskan, program ini merupakan salah satu program unggulan Lazismu yang sangat dinantikan oleh para donatur.
Ia juga menambahkan, saat ini Lazismu tengah fokus pada pengembangan pembinaan marbot masjid sebagai bagian dari upaya peningkatan kualitas pelayanan dan pengelolaan masjid.
Ketua Takmir Masjid Miftahul Ulum, Waluyo mengungkapkan rasa syukur dan berterimakasih yang mendalam kepada Lazismu atas bantuan yang diberikan. Menurutnya, bantuan ini sangat berarti, terutama di tengah keterbatasan pengelola masjid dalam menghimpun dana untuk melakukan renovasi masjid.
Dengan penyerahan bantuan ini, diharapkan Masjid Miftahul Ulum dapat semakin optimal dalam melaksanakan kegiatan ibadah dan mendukung kebutuhan dakwah umat di wilayah tersebut.
Back To Masjid adalah program Lazismu yang didesign untuk peningkatan kualitas tata kelola masjid melalui pembinaan dan pendampingan marbot serta sarana penunjang dakwahnya.
{Kelembagaan dan Humas Lazismu PP Muhammadiyah}

SULTRA – Pendidikan sebagai investasi jangka panjang sejatinya dapat diakses dengan komitmen yang kuat. Di perguruan tinggi Muhammadiyah, Buton, Sulawesi Tenggara, komitmen itu diwujudkan dengan pemberian beasiswa bagi mahasiswa di acara Milad ke-23 Universitas Muhammadiyah Buton (UMB).
Dalam milad tersebut, Lazismu Kota Baubau ikut mengukuhkan komitmennya di pilar pendidikan dengan menyerahkan beasiswa penyelesaian studi kepada para mahasiswa. Penyerahan beasiswa ini berlangsung pada, 4 Agustus 2024 di Aula Gedung B Universitas Muhammadiyah Buton, dihadiri oleh pengurus Lazismu Kota Baubau, Ketua Badan Pembina Harian (BPH), Rektor Universitas Muhammadiyah Buton, mahasiswa penerima manfaat dan sejumlah tamu undangan lainnya.
Ketua Lazismu Kota Baubau, Azaludin, dalam sambutannya mengataka tentang pentignya dukungan terhadap pendidikan sebagai investasi jangka panjang. "Kami berharap bantuan beasiswa ini dapat menjadi pendorong semangat bagi para mahasiswa penerima dalam menyelesaikan studi mereka dengan baik,” ungkapnya.
Pendidikan adalah investasi jangka panjang yang sangat berharga, dan kami di Lazismu Kota Baubau berkomitmen untuk terus mendukung upaya-upaya peningkatan kualitas pendidikan di Kota Baubau, kata Azaludin.
Beasiswa penyelesaian studi ini diberikan sebagai bentuk nyata dukungan Lazismu kepada mahasiswa yang membutuhkan bantuan finansial untuk menyelesaikan studinya. Bantuan ini diharapkan mampu meringankan beban biaya pendidikan dan memotivasi mahasiswa untuk terus berprestasi.
Jumaidin, salah satu penerima beasiswa dari Program Studi Pendidikan Agama Islam (PAI) Universitas Muhammadiyah Buton, mengungkapkan rasa syukur dan terima kasihnya atas bantuan yang diterima.
"Beasiswa ini sangat membantu saya dalam menyelesaikan studi saya, terutama di tengah kesulitan ekonomi yang saya hadapi. Saya berjanji akan memanfaatkan kesempatan ini sebaik-baiknya dan terus berusaha meraih prestasi akademik," katanya meyakinkan.
Acara penyerahan beasiswa ini merupakan bagian dari program Lazismu Kota Baubau yang bertujuan untuk meningkatkan akses pendidikan tinggi bagi seluruh lapisan masyarakat, terutama yang memiliki keterbatasan ekonomi. Lazismu berharap, dengan adanya bantuan ini, semakin banyak generasi muda yang dapat menyelesaikan pendidikan mereka dan berkontribusi positif bagi pembangunan Kota Baubau.
{Kelembagaan dan Humas Lazismu PP Muhammadiyah/Hidayat}

MADIUN --- Kajian rutin Ahad Pagi di Islamic Center Madiun semakin meriah dengan terlaksananya rangkaian Gebyar Milad Lazismu Ke-22. Milad lazismu ke-22 tahun ini diselenggarakan pada Minggu, 4 Agustus 2024. Rangkaian kegiatan ditampilkan antara lain, santunan anak yatim, cek kesehatan gratis, sarapan pecel 1000 porsi dan senam Aisyiyah Bahagia.
Sutomo selaku Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Madiun, mengucapkan terima kasih kepada para hadirin dan donatur, mitra, dan para penggerak Lazismu di Madiun dan sekitarnya.
Milad kali ini merefleksikan apa yang telah dicapai Lazismu Kota Madiun hingga hari ini. “Insyaallah apa yang telah diamanahkan senantiasa disalurkan melalui program-program Lazismu” tandasnya.
Ketua PDM Kota Madiun lalu menyerahkan santunan untuk anak yatim. Sutomo menyampaikan harapannya untuk Lazismu Kota Madiun agar selalu menyebarkan kebaikan untuk umat yang lebih luas. Salah satu yang disorot adalah capaian Lazismu melalui layanan unggulan berupa ambulans gratis yang telah membantu banyak orang untuk menjangkau fasilitas kesehatan dengan lebih mudah.
Dalam milad tersebut, Mulyadi sebagai Ketua Badan Pengurus Lazismu Kota Madiun mengungkapkan, Lazismu menggandeng anak-anak dari LKSA Panti Asuhan Muhammadiyah dan siswa-siswi AUM SD, MI dan SMP di Kota Madiun sebagai penerima manfaat santunan. Santunan yang diberikan berupa bingkisan alat tulis sekolah dan uang saku.
“Total ada 85 anak yang menerima santunan anak yatim dan duafa. Penyaluran santunan ini juga terlaksana dalam rangka program Beasiswa Mentari,” paparnya. Di masa yang akan datang, Lazismu Kota Madiun berharap program Beasiswa Mentari tidak hanya menyalurkan bantuan alat tulis sekolah dan uang saku, tapi kata Mulyadi, juga bisa memberikan bantuan pemenuhan seragam sekolah atau biaya pendidikan lainnya yang lebih besar.
Kendati gebyar milad Lazismu ini baru bisa terlaksana, namun tak sedikit pun menghilangkan kekhidmatan gelaran acara itu. “Antusiasme jamaah terlihat dari antrean jamaah yang mengambil sarapan pecel. Lazismu menggandeng 4 vendor warung pecel untuk hadir menyiapkan 1000 porsi pecel pincuk. Gedung ICM tempat para vendor makanan membuka lapaknya penuh dengan jamaah yang mengantri dan makan,” ungkapnya.
Penyelenggaraan gebyar milad Lazismu terlaksana berkat kolaborasi dari banyak pihak. Layanan cek kesehatan dan pengobatan gratis terlaksana atas partisipasi dari Rumah Sakit Islam Aisyah Madiun dan Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC). Total ada 120 pasien yang menerima pengobatan gratis terdiri dari orang dewasa dan lansia.
[Kelembagaan dan Humas Lazismu PP Muhammadiyah/Lazismu Kota Madiun)

JAKARTA – Manusia sebagai mandataris di muka bumi memiliki tugas untuk memakmurkan bumi. Mengurus dan mengelola bumi dari kerusakan merupakan sikap antisipatoris untuk keberlangsungan generasi selanjutnya. Perubahan iklim sebagai sunatullah adalah takdir yang bisa diubah dengan langkah mitigasi.
Dalam sesi pengantar workshop dampak perubahan iklim dan peran Lazismu, di Jakarta, 3 Agustus 2024, Sofa dari Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah menyampaikan dampak perubahan iklim harus disadari dengan sikap bahwa dalam ajaran islam takdir perlu dipahami dengan ikhtiar penuh.
“Takdir bisa dalam arti suatu hal yang diterima dengan ikhlas dan takdir yang bisa dimaknai dengan ikhtiar untuk bisa mengubah agar manusia tidak kehilangan kreatifitasnya,” jelas Sofa.
Mengenai dampak perubahan iklim, Sofa mengatakan hubungan manusia dengan manusia tidak sekadar manusia dalam makna yang utuh. Tapi di dalam hubungan manusia dengan manusia juga bermakna bagaimana hubungan manusia dengan alam.
“Alam semesta itu untuk manusia. Kerusakan alam yang terjadi juga disebabkan oleh manusia yang berdampak kepada anak cucu kita dan berdampak juga oleh pelakunya,” pungkasnya.
Jangan sampai anak generasi selanjutnya mengetahui Nyiur Melambai hanya dalam lirik lagu. Faktanya pantai menjadi gersang dan tidak ada tanaman, kondisi itu menyedihkan.
Kesadaran umat Islam tentang perubahan iklim yang dipahami sebagai takdir harus dilihat lagi maknanya sebagai sesuatu yang bisa diubah dalam arti bisa dimitigasi. Ada proses pencegahan jika sudah diketahui dampaknya, kata Sofa.
Musyawarah nasional Majelis Tarjih tahun 2020 adalah munas terlama sepanjang sejarahnya di persyarikatan Muhammadiyah. Dalam munas itu Sofa bercerita yang diawali dengan pra munas dengan topiknya pengembangan putusan tarjih berkenaan dengan salat Istosqo dan perubahan iklim.
Curah hujan yang tidak pasti dan kemarau yang panjang memicu ikhtiar untuk melakukan salat Istisqo dan doa. Dalam diskusi seputar perubahan iklim tersebut pada akhirnya muncul istilah dosa ekologis. Karena ada istilah dosa ekologis yang berangkat dari kerusakan alam salah satunya akibat dosa manusia.
“Memahami dosa dan maksiat itu hanya seperti apa yang kita pahami. Jadi dikaji kembali maka ada istilah dosa ekologis,” jelasnya. Karena kemarau panjang itu sunatullah maka bisa dipelajari dan bisa dihitung secara saintifik. Kemudian topik itu berkembang dan menghasilkan produk kajian tarjih berupa Fikih Air dan Fikih Kebencanaan.
Rumusan dari dokumen produk tarjih tersebut, sambung Sofa, salah satu intisarinya memberikan dasar teologis yang kuat bagi seorang muslim agar bersikap terhadap perubahan iklim. Selanjutnya, Fikih Kebencanaan menyajikan suatu sikap bagi seorang muslim untuk bersungguh-sungguh merespons perubahan iklim dan dampaknya dengan mitigasi bencana.
“Dari sini sebetulnya bisa menjadi panduan moral dan etik yang melahirkan kerangka dasar yuridis. Prinsip universal sebagai kaidah digunakan untuk tolok ukur menyusun regulasi dan membuat program yang konkret misalnya dalam tata kelola air dan lainnya,” tandasnya. Maka keterlibatan publik dan penyusunan skala prioritas dalam merespons dampak perubahan iklim adalah signifikan.
Merespons paparan yang disampaikan Sofa dari Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah, dalam kesempatan itu, Deputy Derector Madani Berkelanjutan Giorgio Budi Indrarto, mengatakan, memandang perubahan iklim di kalangan umat Islam saya optimis mitigasi dan adaptasi akan bisa dilakukan.
Karena dalam kajian dampak perubahan iklim untuk mengelola mitigasi dan adaptasinya membutuhkan biaya yang sangat tinggi. “Butuh banyak bantuan, masyarakat Indonesia dikenal dermawan bahkan bisa memberikan bantuan untuk diri kita sendiri,” katanya.
Yang menarik sebagai catatan, ketika ada dana tapi bingung akan melakukan apa. Tanam pohon dan lainnya baru sebatas permukaan dalam merespons dampak perubahan iklim. “Lebih relevan ketika berpikir preventif dalam konteks dampak perubahan iklim. Indonesia sudah banyak target di sektor lahan dan hutan, untuk sektor energi kita mau seperti apa model energinya di Indonesia,” tuturnya.
Dalam Islam seperti disampaikan Majelis Tarjih dan Tajdid, seperti melihat sebuah kode, kata Giorgio. Ada semacam rambu-rambu yang harus dimaknai, misal ketika ingin bicara energi terbarukan, ini penting kita dalami dalam konteks perubahan iklim. Dari sisi halalnya sudah dikaji, tapi dari sisi kebaikannya itu yang perlu digali kembali.
Secara zat sumber – sumber daya alam itu halal, tapi bagaimana cara memperolehnya. Saatnya sekarang umat islam bisa menunjukkan bahwa ini cara kita bertransisi dalam suatu kondisi ke kondisi yang lain. Cara pandangnya harus berbeda dengan negara yang menyajikan suatu kebijakan, katanya. Ketika gagal menuju perubahan yang diinginkan maka akan jadi ujian yang besar.
“Dalam konteks perubahan iklim ada banyak potensi, seperti fikih air, ini yang kita jadikan sebagai sebuah tantangan dan kita tidak dikatakan sebagai kelompok orang yang menepak air tapi mengenai muka sendiri,” terangnya.
Giorgio menuturkan Indonesia harus mengejar capaian itu dalam SDGs dan berangkat dari potensi lokal ini akan ada harapan bahwa Lazismu yang berkolaborasi dengan jaringan Muhammadiyahnya, tadi ada Muhammadiyah Climate Changes (MCC) dan Majelis Lingkungan Hidup (MLH), maka kita harus sering banyak diskusi. “Ada kesempatan untuk bertemu dan berkolaborasi, dan apa yang bisa kita jadikan sebagai suatu inovasi sosial,” pungkasnya menutup sesi pengantarnya.
Sementara itu, Direktur Eksekutif Madani Berkelanjutan, dalam kesempatan itu mengatakan, apa yang disampaikan Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah dengan kajian dan teorinya secara nyata dari semua yang kita lakukan praktiknya harus memikirkan bagaimana dampaknya bagi kita semua terhadap lingkungan.
“Ini bukan persoalan main-main, dampak perubahan iklim yang kita rasakan sudah sangat terasa. Dan takdir harus bisa diubah, tidak bisa membiarkan praktik yang mengabaikan kelestarian lingkungan yang dampaknya akan dirasakan anak cucu kita. Kita tidak boleh meninggalkan bumi dan lingkungan yang sulit dihuni oleh anak cucu kita karena dampak perubahan iklim,” tandasnya.
Dampak perubahan iklim, lanjut Nadia Hadad, sudah menjadi misi Madani Berkelanjutan dalam mendorong dan membantu pemerintah untuk dapat melaksanakan kewajiban itu. Negara harus mengeluarkan kebijakan yang melestarikan lingkungan, Namun kebijakan itu belum mengarah ke sana dan belum maksimal.
Yang bisa kita lakukan sekarang ini, sambung Nadia Hadad, mengajak publik bersama masyarakat menyadarkan masyarakat untuk melakukan upaya yang lebih jelas dan berdampak untuk benar-benar menjaga lingkungan. Kita sadar masih ada yang belum bisa melestarikan lingkungan, seperti yang disampaikan Tarjih, tutupnya.
[Kelembagaan dan Humas Lazismu PP Muhammadiyah]

JAKARTA – Tantangan perubahan iklim di saat ini nyata di sekitar lingkungan manusia. Seperti dikatakan Sekjen PBB, Antonio Guterres, pemanasan global sudah berakhir, sekarang ini yang terjadi pendidihan global. Dampak perubahan iklim telah tiba di depan mata, suhu yang panas belakangan ini mengkonfirmasi situasi atas fenomena perubahan iklim di era industrialisasi.
Persoalan perubahan iklim yang hangat dikaji Lazismu dan Madani Berkelanjutan selama dua hari, 3-4 Agustus 2024, di Menteng, Jakarta, mendasari alur kegiatan workshop yang fokus pada mitigasi dan adaptasi dari dampak perubahan iklim.
Ketua Badan Pengurus Lazismu, Ahmad Imam Mujadid Rais, yang juga mengikuti acara ini mengatakan dari alur materi yang sistematis dapat dikembangkan dalam suatu framework Lazismu pada pelaksanaan program lingkungan.
Para peserta dari hari pertama sampai hari kedua telah melakukan eksplorasi. Kata Mujadid Rais, mereka melihat fakta-fakta perubahan iklim di daerah masing – masing. Misal dampak yang mereka rasakan di daerahnya terjadi kesulitan memperoleh air bersih, petani mendapatkan lahannya dalam situasi kering, dan suhu dirasakan panas. Apa yang mereka sampaikan dari kondisi daerahnya adalah sebagian contoh kecil yang dialami.
Dari pemahaman itu dalam workshop, analisa dapat dilakukan sejauh mana adaptasi dan mitigasi penting dan Lazismu sebagai lembaga filantropi dapat turut serta berkontribusi. Kaitan perubahan iklim dan lingkungan bisa dikreasi menjadi saluran program menarik yang sumber dananya dikemas dalam aksi penghimpunan (fundraising).
Kontribusi Lazismu dalam program lingkungan dan perubahan iklim adalah strategis. Alasannya kata Mujadid Rais, Lazismu berpeluang untuk kolaborasi. Ini tidak bisa berjalan sendiri. Di internal persyarikatan bersama majelis, lembaga dan ortom akan ada sinergi yang kuat.
Tak kalah penting, inisiasi membangun aliansi lintas sektor seperti dengan lintas agama untuk membangun kesadaran umat tentang perubahan iklim. Termasuk berkolaborasi dengan pemerintah baik di pusat dan daerah dan media dalam realisasinya nanti.
Sementara itu, Manajer Reaseacrh and Development Lazismu, Sita Rahmi, mengungkapkan, workshop dampak perubahan iklim yang dilaksanakan Lazismu adalah rangkaian workshop sebelumnya tentang panduan kerangka kerja logis yang diikuti kawan – kawan dari wilayah dan daerah.
“Menyambung rangkaian kegiatan itu, secara khusus pada isu lingkungan. Dengan metode partisipatoris peserta dirangsang untuk memetakan masalah dan identifikasi potensi lokalnya. Mereka diharapkan dapat memetakan kondisinya,” katanya.
Sebagai contoh, ketika daerah mereka mengalami kekeringan, apa yang bisa dilakukan dengan potensi lokalnya agar bisa beradaptasi dengan musim kering sehingga aktivitas sosial dan perputaran roda ekonomi dapat terus berlanjut meningkatkan nilai bagi masyarakat setempat.
Bagaimana berkoordinasi dengan aktor lokal dan jaringan Muhammadiyah sehingga rencana aksi bisa lebih konkret untuk berjalannya program perubahan iklim bisa direalisasikan. Workshop ini sebagai bekal dan pintu masuk kawan - kawan Lazismu wilayah dan daerah untuk menjalankan program adaptasi perubahan iklim berdasarkan kebutuhan lokal.
[Kelembagaan dan Humas Lazismu PP Muhammadiyah]

