

PALEMBANG -- Musibah kebakaran yang melanda Perguruan Pendidikan Muhammadiyah Cabang Seri Kembang, Kabupaten Ogan Ilir, Sumatera Selatan, menyentuh hati banyak pihak. Salah satunya adalah Lazismu Kota Palembang yang dengan sigap menyalurkan bantuan sebesar Rp 11.216.800 untuk meringankan beban warga sekolah.
Penyerahan bantuan secara simbolis dilakukan oleh Ketua Lazismu Kota Palembang, Kgs Muhammad Fahmi, didampingi pengurus kepada Ketua Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Seri Kembang, Laily Mubarok, berlokasi di sekolah Muhammadiyah setempat pada Rabu, 24 Juli 2024.
"Bantuan ini merupakan wujud kepedulian dari para donatur, baik dari warga Muhammadiyah maupun masyarakat umum yang telah mempercayakan Lazismu sebagai jembatan untuk menyalurkan kebaikannya," ujar Muhammad Fahmi.
Lebih lanjut, Fahmi menyampaikan bahwa Lazismu masih membuka pintu bagi siapa saja yang ingin berdonasi untuk membantu pembangunan kembali Perguruan Muhammadiyah Seri Kembang. "Donasi dapat disalurkan langsung ke kantor Lazismu Kota Palembang," imbuhnya.
Laily Mubarok mewakili PCM Seri Kembang, menyampaikan ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Lazismu Kota Palembang dan seluruh donatur. "Bantuan ini sangat berarti bagi kami. Semoga Allah SWT membalas semua kebaikan yang telah diberikan," ungkapnya.
[Komunikasi dan Digitalisasi Lazismu PP Muhammadiyah/Andi Wijaya]

SIDOARJO -- Ririn Hariani (59), di usia senjanya masih semangat meracik minuman tradisional khas Madura. Bakatnya itu warisan ibunya yang diberikan kepada Ririn ketika usianya masih muda.
Dulu ibunya membuat minuman jamu godokan, ramuan yang berkhasiat untuk para perempuan dan pasangan muda. Ramuan berkhasiat yang diperolehnya secara turun temurun.
Sejak menikah, ia ikut suaminya pindah ke Sidoarjo. Di tengah usahanya meracik minuman berkhasiat, Ririn juga merawat anaknya yang disabilitas (tuna tungu). Usahanya tidak berjalan maksimal karena harus merawat anaknya, sampai akhirnya berhenti total.
Seiring waktu, anaknya yang disabilitas sudah berumah tangga. Ia sudah memiliki cucu yang sekolah di TK, tugas sehari-hari Ririn mengantar ke sekolah dan seringnya bertemu dengan ibu-ibu pasangan muda itu memberikan ide untuk memulai kembali usaha membuat minuman tradisional ini.
Di usianya yang sudah lansia, Ririn harus tetap produktif. Ide berjualan jamu kembali diyakini dapat memberikan manfaat. Namun kendalanya, kata Ririn tidak ada modal untuk membeli alat-alat dan bahannya.
Ririn beruntung, Lazismu Sidoarjo mendukung ide cemerlangnya itu. Melalui pilar ekonomi program UMKM bantuan Lazismu diterima Ririn. Ia mengaku sangat bahagia menerima bantuan alat usaha dan modal kerja dari Lazismu Sidoarjo untuk usaha minuman berkhasiat, katanya, Sabtu (20/7/2024).
Ketua Lazismu Sidoarjo, Hifni Solikhin menjelaskan bahwa pemberian bantuan usaha untuk lansia dalam program Pemberdayaan UMKM, berupa alat usaha minuman tradisional. “Wujud kepedulian Lazismu untuk mendukung usaha mikro yang memberikan dampak positif bagi perempuan yang memiliki bakat atau kemampuan usaha tapi terkendala modal usaha,” imbuhnya.
Dengan memberikan bantuan sesuai kebutuhan penerima manfaat, Lazismu Sidoarjo berupaya untuk terus mendukung pengembangan usahanya, tentu sesuai dengan kebutuhan mustahik dan kententuan asnaf yang ada, paparnya.
Meracik Jamu
Dalam meracik minuman itu, kualitas dan rasa harus tetap terjaga. Ririn mempertahankan proses membuat munuman ini dengan alat tradisonal. Alat tumbuk berupa lumpang dan alu adalah andalannya.
Rasa dan aroma khas yang menyengat dari rempah-rempah menjadi minuman yang berbeda dari minuman sejenis. Karena saya masih menjaga proses dengan menumbuk, pakai lumpang dan alu. “Agak lama prosesnya karena tidak diblender, kalau ditumbuk minyak astiri dari bahan-bahan minuman itu keluar aroma dan khasiatnya berbeda," ungkapnya
Proses pembuatannya sederhana, setelah semua bahan ditumbuk, dimasukan ke air mendidih di panci, kemudin ditambah gula aren dan gula putih, setelah dingin dikemas ke dalam botol. Ramuan ini diperoleh dari ibu saya dan sangat disukai karena khasiatnya sudah terbukti khusus bagi ibu rumah tangga muda agar keset.
Resep minuman herbal ini merupakan ramuan dari kunyit, sirih, jahe, kunci pepet, majaan jambe muda, kulit delima putih, daun sirih, asem matang, gula aren dan gula putih, tukasnya. Ririn menjual minuman berkhasiatnya seharga Rp 10.000 per botol plastik.
[Komunikasi dan Digitalisasi Lazismu PP Muhammadiyah/Yekti]

MAKASSAR -- Lazismu Wilayah Sulawesi Selatan menyerahkan bantuan di pilar pendidikan, Dakwah, Ekonomi, dan Kesehatan melalui program Save Our School, Pemberdayaan UMKM, Beasiswa Mentari, Beasiswa Sang Surya, dan Sosial Dakwah. Acara seremonial penyerahan bantuan berlangsung di Aula Pesantren Muhammadiyah Boarding School (MBS) Awwalul Islam di Paralonge, Makassar, pada Kamis, 25 Juli 2024.
Kepala Sekolah MBS Awwalul Islam, Syamsir Dewang menyampaikan harapannya agar pesantren ini melahirkan calon ulama besar yang unggul dalam bidang keagamaan, teknologi informasi, dan sains. "Sebagai guru besar dalam bidang sains, saya merasa malu jika sekolah ini tidak unggul dalam bidang Ilmu Pengetahuan Alam," ucapnya.
Ketua Badan Pengurus Lazismu Wilayah Sulawesi Selatan, Mahmuddin, menegaskan bahwa dana-dana yang dikelola Lazismu merupakan amanah dari para donatur. "Kami melaksanakan program ini sebagai bentuk pengelolaan pada Lembaga Amil Zakat, dengan tugas pokok menghimpun, mencatat, dan menyalurkan,”jelasnya.
Lazismu telah menjalani dua proses audit, yaitu Audit Syariah dan Audit Akuntan Publik. Oleh karena itu, kami harus mengelola amanah tersebut seefektif dan seefisien mungkin untuk memastikan penyalurannya tepat sasaran. Ia juga menyampaikan, ke depan berbagai program akan terus dikembangkan guna menjangkau 8 Asnaf.
Pimpinan Wilayah Muhammadiyah, Husain Abdul Rahman, menyatakan pentingnya kemitraan dengan Lazismu untuk kemajuan dakwah Muhammadiyah. "Muhammadiyah Boarding School Awwalul Islam harus menjadi sekolah unggulan Muhammadiyah. Dibutuhkan kerja keras, bukan hanya dari direktur, tetapi juga dari semua guru. Guru-guru harus punya visi dalam mengembangkan sekolah dan berkolaborasi untuk memajukan MBS," pesannya.
Setelah pembukaan dan penyerahan bantuan, acara dilanjutkan dengan pengajian yang dibawakan oleh Pimpinan Wilayah Muhammadiyah, Qadir Gassing, yang juga Koordinator Lazismu.
[Komunikasi dan Digitalisasi Lazismu PP Muhammadiyah/Bayu]

JAKARTA -- Satu per satu lembaran program – program Lazismu dibuka untuk diidentifikasi sejauh mana dampak dan berkelanjutannya dapat memberikan nilai manfaat. Inovasi sosial merupakan tema gerakan zakat yang diusung Lazismu sejak 2021. Beberapa program sudah terlaksana, tinggal dilanjutkan karena bibitnya sudah ada.
Melihat realitas yang ada, pergerakan filantropi islam terus berkembang. Maka selayaknya Lazismu melihat ke dalam, kekuatannya sudah sampai di tahap apa, kata Direktur Kewirausahaan dan Inovasi Sosial, Edi Suryanto dalam pengantarnya di Workshop Panduan, Pelatihan LFA dan Asesmen Program Kampung Berkemajuan Inovasi Sosial Berbasis Kawasan, di Jakarta pada Kamis, 25 Juli 2024.
Diketahui bahwa Lazismu sebagai lembaga filantropi terbesar di dunia dari sisi jumlah kantornya. “Angka penghimpunan dan angka penyaluran masih perlu ditingkatkan mengingat nama besar muhammadiyah. Muhammadiyah sebagai payung organisasi, karena itu perlu ada lembaga yang berperan sebagai penopang. Dan lazismu salah satunya yang dianggap sebagai motor gerakan itu,” jelasnya.
Inovasi sosial yang dijajaki Lazismu sampai saat ini, kata Edi Suryanto, merupakan satu gagasan lanjutan dari agenda aksi yang sudah dirumuskan dalam lima tahun terakhir. Lazismu sebagai bagian dari gerakan filantropi islam perlu memproyeksikan agenda perubahan yang lebih tertata dan sistematis.
Di hadapan para peseta workshop, Edi Suryanto memaparkan, inovasi sosial sebagai suatu pendekatan sosial harus didefinisikan. Beberapa sumber penelitian menyebutkan, definisinya adalah untuk memperluas kesejahteraan masyatakat dalam mengatasi berbagai masalah sosial yang berdampak, terukur dan berkesinambungan.
“Tujuan dari inovasi sosial itu, memperkuat daya pikir dan jelajah amil untuk menemukan solusi baru, meningkatkan kreativitas, serta menciptakan inovator muda yang dalam praktiknya nanti memperluas jaringan dan kemitraan, memperkuat basis kewilayahan dalam melakukan perubahan,” tuturnya.
Paling tidak ada catatan penting yang disampaikan pada hari ini, di antaranya, hemat saya, enam tahapan proses inovasi sosial, yaitu menemukan akar masalah, identifikasi untuk solusi, melibatkan banyak pihak, menguji coba teori dan praktik, ada unsur keberlanjutan sehingga bisa dipublikasikan dan diduplikasi supaya ada perubahan sosial.
Salah satu program Lazismu yang bisa dijadikan contoh adalah Edutabmu. Karena memenuhi unsur persyaratan inovasi sosial. Berangkat dari keterbatasan akses pendidikan saat pandemi dan banyak daerah kesulitan dalam kegiatan belajar mengajar, maka muncul solusi Edutabmu tanpa jaringan internet yang sangat membantu penerima manfaatnya.
Keberhasilannya sudah diduplikasi atas program yang dijalankan di awal, duplikasi ini salah satu proses yang menjadi akhir program yang bisa dikatakan sebagai inovasi sosial. Contoh lainnya Bank ZISKA di Jawa Timur.
Belajar dari Bank ZISKA, upaya selanjutnya yang bisa disempurnakan adalah perlu ada opini dewan pengawas syariah (DSP). JIka ada opini DPS, maka bisa dijadikan program unggulan di masa yang akan datang.
Masih banyak program lain di wilayah dan daerah yang dikembangkan Lazismu seperti peternakan kambing perah di Banjar Negara, Jawa Tengah, kata Edi Suryanto memberikan contoh. Pada prinsipnya konsep ini berangkat dari kebutuhan pasar, pemberdayaan yang berhasil adalah akses pasarnya. Peternakan kambing perah di Banjar Negara selanjutnya harus disiapkan pasarnya.
Contoh program inovasi sosial berbasis kawasan lainnya adalah kolaborasi Lazismu dan Baznas. Di wilayah Serang, Banten, permasalahan yang muncul di sana adalah erosi pantai yang juga kerusakan lingkungan karena airnya payau, kemiskinan tinggi, pendidikan rendah, kesehatan rendah, akses pendidikan terbatas, dan akses kesehatan sulit.
Solusi yang diberikan Lazismu adalah memberikan bantuan dan pendampingan dengan menanam mangrove untuk mencegah erosi panta serta bantuan program pendidikan untuk santri. Saya pikir dari contoh – contoh ini bisa menjadi insight bagi Lazismu di seluruh Indonesia dalam mengemas program yang berkelanjutan.
[Komunikasi dan Digitalisasi Lazismu PP Muhammadiyah]

JAKARTA -- Setumpuk masalah yang dihadapi masyarakat membutuhkan penanganan yang berkesinambungan. Tidak ada cara instans selain melakukan pendampingan dan kolaborasi antar aktor untuk penguatan pemberdayaan komunitas. Merangkul masyarakat adalah pendekatan persuasif sembari mengakomodasi keunikkan lokal ketimbang meninggalkannya dalam keadaan rapuh.
Tema pemberdayaan masyarakat (community development) di Muhammadiyah adalah bukan suatu isu yang baru. Inilah yang dilakukan Muhammadiyah sejak dahulu yang dalam hasil rekomendasi Rakernas Lazismu harus diimplementasikan.
Salah satu output rakernas, melakukan program percontohan (piloting) berupa Kampung Berkemajuan di 10 wilayah yang ada di Indonesia, demikian disampaikan Ahmad Imam Mujadid Rais Ketua Badan Pengurus Lazismu dalam sambutannya di acara pembukaan Workshop Panduan, Pelatihan LFA dan Asesmen Program Kampung Berkemajuan Inovasi Sosial Berbasis Kawasan, di Jakarta pada Kamis, 25 Juli 2024,. yang diikuti oleh Lazismu Wilayah Jateng, Jatim, Jabar, DIY, dan Lampung.
Dalam sambutannya, Mujadid Rais, mengatakan bahwa Lazismu bisa merujuk pesan yang disampaikan oleh Ketua Umum Muhammadiyah dalam pengkajian ramadhan tentang dakwah kultural. “Sudah banyak capaian yang diperoleh Muhammadiyah dari AUM-nya, hanya saja ada satu kerisauannya yaitu jejak pemberdayaan yang bisa dijadikan contoh,” kata Mujadid Rais.
Di tengah capaian itu kita masih ingat ada hasil penelitian yang cukup mengena tentang penurunan jumlah anggota persyarikatan. Apa pun itu hasilnya dari yang mengkritik, lanjut Mujadid Rais, ini merupakan suatu otokritik buat kita.
“Apakah kita selama ini hanya fokus pada satu aspek saja atau berusaha memperluas jangkauan dakwah yang sudah ada,” jelasnya. Kendati ada beberapa persoalan yang dihadapi sejauh ini pada dasarnya merupakan kenyataan yang harus dicari solusinya.
Sebagai contoh di Aceh, tepatnya di Bireun, mungkin kasusnya berbeda. Muhammadiyah tidak merasa sebagai ormas besar di sana. Namun, ada salah seorang pimpinannya yang mau datang ke komunitas masyarakat setempat dengan pendekatan inklusif.
“Karena orang asli Aceh, ia sangat menghormati kearifan lokal masyarakat setempat dan dakwah berbasis masjidnya bisa diterima kalangan masyarakat, ini suatu hal yang menarik,” ceritanya.
Belajar dari realitas yang ada, sambung Mujadid Rais bahwa selama ini kita melihat seolah ada capaian yang positif tapi di sisi lain ada yang tertinggal. Karena itu, pada pengkajian ramadhan yang lalu dalam salah satu kajiannya soal perluasan basis kawasan.
“Lazismu bisa berangkat dari kaijan itu bagaimana merangkul semua dengan pendekatan dakwah inklusif. Menghadapi komunitas tertentu tidak cukup dengan pendekatan amar maruf nahi munkar. Bahkan amar maruf itu bisa dimaknai sebagai sesuatu yang luas,” pungkasnya.
Mendampingi masyarakat memerlukan usaha keras. Maka dalam aksinya tidak bisa sendiri-sendiri. “Kita perlu kolaborasi dan sinergi sehingga ketika ada orang bertanya di mana contoh pemberdayaan masyarakat di Muhamamdiyah. Bisa kita jawab dengan kampung berkemajuan yang bisa dijadikan satu percontohan,” tandasnya.
Sejauh ini jika ada yang bertanya soal pemberdayaan di Muhammadiyah, lanjut dia, paling tidak dibawa ke sekolah atau kampus. Kita belum bisa menunjukkan suatu komunitas masyarakat sebagai komunitas pemberdayaan dan komunitas binaan.
Padahal kita ingin ada suatu yang berkelanjutan sehingga Muhammadiyah bisa dilihat ada sesuatu yang bernilai. “Mudah-mudahan langkah kecil kita untuk sembilan hari ke depan bisa bermanfaat,” terangnya.
Kita punya analisa sosial yang bisa dijadikan cara pandang. Semua aktor perlu dilibatkan dalam menempatkan kampung berkemajuan. Lazismu juga perlu melihat lokalitas yang akan menjadi agenda pemberdayaan sehingga tidak dilepas dan selalu berkelanjutan berdasarkan kebutuhan lokal di masyarakat setempat.
Semoga dengan ikhtiar ini lazismu dapat berkontribusi bagi persyarikatan dan umat, tutupnya.
[Komunikasi dan Digitalisasi Lazismu PP Muhammadiyah]

PAREPARE– Kemiskinan masih ada di sekitar kita. Dalam kondisi itu, dibagian lain ada kemiskinan ekstrem. Kemiskinan yang masalahnya memerlukan perhatian dan tindakan segera. Oleh karena itu, Lazismu Kota Parepare, Pemerintah Kota Parepare dan beberapa Lembaga Amil Zakat (LAZ) menjalin kolaborasi untuk bersama-sama menurunkan angka kemiskinan ekstrem di kota tersebut.
Momentum 10 Muharram 1446 H, Pemerintah Kota Parepare menggandeng lembaga amil zakat di Kota Parepare untuk bersama-sama meluncurkan program "Bantuan Langsung Berkelanjutan Kepada Masyarakat Miskin Ekstrem Non Produktif".
Program yang diluncurkan di Ruang Pola Kantor Walikota Parepare pada Kamis, 18 Juli 2024 ini diharapkan dapat menurunkan angka kemiskinan ekstrem di kota tersebut. Akbar Ali Pj. Walikota Parepare, menyampaikan bahwa program ini juga merupakan bentuk dukungan implementasi mandatori dari pemerintah pusat untuk menurunkan angka kemiskinan ekstrem.
Secara khusus, Akbar Ali berterima kasih kepada Bappeda Parepare, Kemenag Parepare, BAZNAS Parepare dan LAZ yang terdiri dari Lazismu, Kurir Langit, Wahdah Inspirasi Zakat, dan BM Hidayatullah, yang telah menginisiasi dan berkolaborasi program ini.
"Saya menyebutnya bantuan langsung bagi yang sangat berkebutuhan. Karena menghapus kemiskinan itu memang berat, tapi bagaimana kita bisa saling tolong menolong, gugah sisi kemanusiaan dan kepedulian sosial untuk bersama mengentaskan kemiskinan ini," harapnya.
Program ini mendapat sambutan positif dari Lazismu Kota Parepare. Wakil Ketua Badan Pengurus Lazismu Kota Parepare Bidang Pendayagunaan dan Pendistribusian, Edi Kurniawan berharap agar program ini dapat terus berjalan. Pihaknya juga terus berkomitmen untuk membantu para penerima manfaat.
"Diharapkan nantinya, kegiatan kolaborasi antara Pemerintah Kota Parepare dan Lembaga Amil Zakat akan berkelanjutan, dikarenakan para penerima manfaat kali ini hampir semuanya adalah lansia yang tidak mempunyai penghasilan. Maka dari itu Lazismu Kota Parepare berkomitmen untuk terus mengentaskan kemiskinan," ujar Edi Kurniawan.
Program kolaborasi tersebut akan diimplementasikan melalui pemberian bantuan langsung berupa uang tunai (natura) senilai Rp. 400.000 per orang dan per bulan secara berkelanjutan sampai dengan penerima bantuan dapat membiayai dirinya sendiri untuk bisa produktif.
Jumlah sasaran miskin ektrem di Parepare saat ini ada 171 orang, terbagi 84 orang atau 49,12 persen di antaranya merupakan lansia, disabilitas dan orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) atau sasaran yang non-produktif sehingga diperlukan bantuan langsung dalam penanganannya.
[Komunikasi dan Digitalisasi Lazismu PP Muhammadiyah/Cahaya Anita]

