

TURKI – Filantropi Islam berkomitmen memperluas jangkauan penerima manfaatnya. Kiprah Lazismu dengan jejaringnya di seluruh Indonesia peran strategisnya telah banyak dirasakan masyarakat. Melalui pimpinan Muhammadiyah di luar negeri diharapkan Lazismu turut mengoptimalkan nilai manfaat zakat, infak dan sedekah serta dana sosial lainnya yang sejalan dengan spirit dakwah berkemajuan yaitu internasionalisasi Muhammadiyah.
Kantor Layanan (KL) Lazismu Pimpinan Cabang Istimewa Muhammadiyah (PCIM) Turki periode 2024-2026 resmi dikukuhkan pada Sabtu (20/7/2024) di kota Konya, Turki.
Pengukuhan itu dihadiri Sekretaris Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Abdul Mu’ti, Duta Besar Republik Indonesia (RI) untuk Turki, Achmad Rizal Purnama, serta Ketua Program Studi Ilmu Politik dan Kebijakan Publik Necmettin Erbakan University, Önder Kutlu.
Pada periode kepemimpinan Tri Julia Wulandari, Lazismu Turki diharapkan mampu mengoptimalkan segala usaha untuk menjadi lembaga filantropi islam berkemajuan di Turki. Hal ini sejalan dengan semangat Muhammadiyah yang tertuang dalam Muktamar ke-48 di Surakarta tentang semangat internasionalisasi Muhammadiyah.
Pada acara pengukuhan tersebut, Ketua Lazismu Turki, Tri Julia Wulandari nenyampaikan arah kebijakan program Lazismu Turki ke depannya. Selain itu, ia mengatakan bahwa program-program yang telah berjalan harapannya tidak hanya dirasakan oleh warga negara Indonesia saja, tapi juga warga Turki atau warga negara asing secara umum.
Lazismu Turki akan berkomitmen penuh untuk membantu mereka yang ingin menyalurkan zakatnya. Tanpa memandang kewarganegaraan, Lazismu Turki percaya, dakwah yang disebarkan melalui program utamanya akan membawa keberkahan dan kemaslahatan bagi sesama, sesuai dengan tagline Lazismu di Turki "Memberi Untuk Negeri".
Di samping itu, tingkat kepercayaan masyarakat terhadap Lazismu Turki semakin meningkat. Banyak dari mereka yang telah menyalurkan zakatnya melalui Lazismu. Nantinya, Lazismu Turki akan berupaya untuk mengesahkan legalitas dan menjadi salah satu lembaga filantropi terpercaya yang ada di Turki.
[Komunikasi dan Digitalisasi Lazismu PP Muhammadiyah/Kelana Wakil Sekretaris Lazismu Turki]

JAKARTA – Ketika berbicara pemberdayaan dan pengembangan program selama ini yang dianggap perlu adalah programnya. Padahal dalam aspek pemberdayaan dan pengembangan, infrastruktur merupakan bagian yang penting. Seperti fasilitas pemberdayaan antara lain kolam, air dan lain sebagainya.
Pada kondisi tertentu, dengan modal sedikit, infrastruktur ada, dan ada tempat berkumpul untuk produktivitas warga. Maka infrastruktur harus menjadi perhatian program Kampung Berkemajuan. Melalui infrastruktur eskpresi kegiatan di dalamnya bisa melengkapi suatu program, kata peneliti filantropi Islam, Hilman Latief dalam sambutannya di acara Workshop Panduan, Pelatihan LFA dan Asesmen Program Kampung Berkemajuan Inovasi Sosial Berbasis Kawasan, di Jakarta pada Kamis, 25 Juli 2024.
“Saya apresiasi workshop ini dengan program yang sejak lama dilakukan, bahwa saat ini kita perlu masuk ke satu proyek sosial secara lebih terpola, sistemik. Memang saya sedang menguji Lazismu dan majelis terkait, bisakah kita melakukan proyek berkelanjutan dan konsisten selama 2-3 tahun,” ungkap Hilman Latief yang juga Bendahara Umum PP Muhammadiyah.
Hilman mengungkapkan, pada tahun 2019, saya berkomunikasi dengan salah satu perusahaan Korea berdiskusi tentang transformasi digital. Saya ingat mungkin bulan Desember beberapa tahun lalu, bagaimana kemudian agar satu program ada literasi untuk guru, siswa ada proses pembelajaran dengan mudah namanya Enuma.
Sebagai informasi, lanjut Hilman Latief, mereka sukses menerapkan program tersebut di kawasan gurun, Afrika, karena tidak memerlukan koneksi internet. Di sana, ada proses pembelajaran Enuma yang saat itu Covid, karena lebih relevan dan memberikan kemudahan bagi bantuan guru dalam mengajar.
Mereka adalah orang terpelajar, memiliki martabat, tapi hal itu kurang bermartabat. Kenapa demikian karena sekolah tidak mendapatkan income karena banyak siswa yang kesulitan juga. Hilman mengisahkan, akan lihat dahulu kerja tim kami, kita menyumbang Rp 2 milyar. Selanjutnya kita jalankan dan Enuma dukung dari sisi teknologi.
“Kita butuh tim, dari dikdasmen kita libatkan, ambil dari yang muda lalu membuat tim dan merancang peta jalannya (roadmap), lima tahun akan berhasil atau tidak,” ungkapnya.
Maksud dari apa yang saya sampaikan, saya ingin menguji, bisakah kita, tiga tahun minimal mengerjakan satu proyek inovasi sosial selama tiga tahun. Dan bagi mereka itu suatu kesuksesan yang merupakan bagian dari kemitraan (partnership).
Selanjutnya, saya juga pamit dari Lazismu dan membuat satu platform program dari 2018. Pada kondisi ini, ingin menerjemahkan hasil muktamar dengan pemberdayaan kawasan, ada pemerataan kawasan. Bahwa ada daerah tertentu yang harus disentuh secara khusus agar masyarakat lebih hidup untuk meningkatkan berbagai aspek kehidupan.
Saya juga melihat suatu desa, dan tidak ada perubahan, dan kita lihat potensi, infrastruktur yang dibutuhkan. Kemudian saya inisiatif membuat ecovillages yang didukung dengan farm culture, yang selanjutnya kita kenalkan ke masyarakat.
Ternyata itu tidak mudah, tantangannya soal dana, di tempat yang saya kelola hampir 400 ekor kambing yang berasal dari 40 ekor di tahun 2020. “Keberlanjutan menjadi tantangan, sekaligus saya menguji teori pemberdayan sebagai peneliti filantropi,” tandasnya.
Masalah perencanaan waktu, juga perlu dipikirkan untuk berapa tahun dikerjakan program itu. Maksud saya, Lazismu bisa merancang suatu program sampai tahun 2027. Di periode 2,5 tahun, kita intensifkan dari sesuatu yang level A menjadi level C dengan model seperti ini. Lantas berapa budget yang akan diinvestasikan, karena itu Lazismu butuh ekspert yang bisa menguji untuk kampung berkemajuan ini.
Saya pikir yang menjadi poin penting akhirnya adalah bagaimana Lazismu bisa terkoneksi dengan wakaf. Agar lahan wakaf bisa diberikan perspektif baru dari Lazismu, mulai dari isu berkelanjutan, isu food friendly, sampai dengan tanaman, perikanan.
Semoga apa yang disampaikan kali ini, hemat saya, bisa memberikan pencerahan agar tanah wakaf bisa memberikan benefit untuk masyarakat sehingga tidak melulu dibangun masjid, sekolah dan lainnya. Sekali lagi, saya apresiasi langkah ini, dengan adanya tim fasilitator, bisa membuat hasil yang bermanfaat, pungkasnya.
[Komunikasi dan Digitalisasi Lazismu PP Muhammadiyah]

PALEMBANG -- Musibah kebakaran yang melanda Perguruan Pendidikan Muhammadiyah Cabang Seri Kembang, Kabupaten Ogan Ilir, Sumatera Selatan, menyentuh hati banyak pihak. Salah satunya adalah Lazismu Kota Palembang yang dengan sigap menyalurkan bantuan sebesar Rp 11.216.800 untuk meringankan beban warga sekolah.
Penyerahan bantuan secara simbolis dilakukan oleh Ketua Lazismu Kota Palembang, Kgs Muhammad Fahmi, didampingi pengurus kepada Ketua Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Seri Kembang, Laily Mubarok, berlokasi di sekolah Muhammadiyah setempat pada Rabu, 24 Juli 2024.
"Bantuan ini merupakan wujud kepedulian dari para donatur, baik dari warga Muhammadiyah maupun masyarakat umum yang telah mempercayakan Lazismu sebagai jembatan untuk menyalurkan kebaikannya," ujar Muhammad Fahmi.
Lebih lanjut, Fahmi menyampaikan bahwa Lazismu masih membuka pintu bagi siapa saja yang ingin berdonasi untuk membantu pembangunan kembali Perguruan Muhammadiyah Seri Kembang. "Donasi dapat disalurkan langsung ke kantor Lazismu Kota Palembang," imbuhnya.
Laily Mubarok mewakili PCM Seri Kembang, menyampaikan ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Lazismu Kota Palembang dan seluruh donatur. "Bantuan ini sangat berarti bagi kami. Semoga Allah SWT membalas semua kebaikan yang telah diberikan," ungkapnya.
[Komunikasi dan Digitalisasi Lazismu PP Muhammadiyah/Andi Wijaya]

SIDOARJO -- Ririn Hariani (59), di usia senjanya masih semangat meracik minuman tradisional khas Madura. Bakatnya itu warisan ibunya yang diberikan kepada Ririn ketika usianya masih muda.
Dulu ibunya membuat minuman jamu godokan, ramuan yang berkhasiat untuk para perempuan dan pasangan muda. Ramuan berkhasiat yang diperolehnya secara turun temurun.
Sejak menikah, ia ikut suaminya pindah ke Sidoarjo. Di tengah usahanya meracik minuman berkhasiat, Ririn juga merawat anaknya yang disabilitas (tuna tungu). Usahanya tidak berjalan maksimal karena harus merawat anaknya, sampai akhirnya berhenti total.
Seiring waktu, anaknya yang disabilitas sudah berumah tangga. Ia sudah memiliki cucu yang sekolah di TK, tugas sehari-hari Ririn mengantar ke sekolah dan seringnya bertemu dengan ibu-ibu pasangan muda itu memberikan ide untuk memulai kembali usaha membuat minuman tradisional ini.
Di usianya yang sudah lansia, Ririn harus tetap produktif. Ide berjualan jamu kembali diyakini dapat memberikan manfaat. Namun kendalanya, kata Ririn tidak ada modal untuk membeli alat-alat dan bahannya.
Ririn beruntung, Lazismu Sidoarjo mendukung ide cemerlangnya itu. Melalui pilar ekonomi program UMKM bantuan Lazismu diterima Ririn. Ia mengaku sangat bahagia menerima bantuan alat usaha dan modal kerja dari Lazismu Sidoarjo untuk usaha minuman berkhasiat, katanya, Sabtu (20/7/2024).
Ketua Lazismu Sidoarjo, Hifni Solikhin menjelaskan bahwa pemberian bantuan usaha untuk lansia dalam program Pemberdayaan UMKM, berupa alat usaha minuman tradisional. “Wujud kepedulian Lazismu untuk mendukung usaha mikro yang memberikan dampak positif bagi perempuan yang memiliki bakat atau kemampuan usaha tapi terkendala modal usaha,” imbuhnya.
Dengan memberikan bantuan sesuai kebutuhan penerima manfaat, Lazismu Sidoarjo berupaya untuk terus mendukung pengembangan usahanya, tentu sesuai dengan kebutuhan mustahik dan kententuan asnaf yang ada, paparnya.
Meracik Jamu
Dalam meracik minuman itu, kualitas dan rasa harus tetap terjaga. Ririn mempertahankan proses membuat munuman ini dengan alat tradisonal. Alat tumbuk berupa lumpang dan alu adalah andalannya.
Rasa dan aroma khas yang menyengat dari rempah-rempah menjadi minuman yang berbeda dari minuman sejenis. Karena saya masih menjaga proses dengan menumbuk, pakai lumpang dan alu. “Agak lama prosesnya karena tidak diblender, kalau ditumbuk minyak astiri dari bahan-bahan minuman itu keluar aroma dan khasiatnya berbeda," ungkapnya
Proses pembuatannya sederhana, setelah semua bahan ditumbuk, dimasukan ke air mendidih di panci, kemudin ditambah gula aren dan gula putih, setelah dingin dikemas ke dalam botol. Ramuan ini diperoleh dari ibu saya dan sangat disukai karena khasiatnya sudah terbukti khusus bagi ibu rumah tangga muda agar keset.
Resep minuman herbal ini merupakan ramuan dari kunyit, sirih, jahe, kunci pepet, majaan jambe muda, kulit delima putih, daun sirih, asem matang, gula aren dan gula putih, tukasnya. Ririn menjual minuman berkhasiatnya seharga Rp 10.000 per botol plastik.
[Komunikasi dan Digitalisasi Lazismu PP Muhammadiyah/Yekti]

MAKASSAR -- Lazismu Wilayah Sulawesi Selatan menyerahkan bantuan di pilar pendidikan, Dakwah, Ekonomi, dan Kesehatan melalui program Save Our School, Pemberdayaan UMKM, Beasiswa Mentari, Beasiswa Sang Surya, dan Sosial Dakwah. Acara seremonial penyerahan bantuan berlangsung di Aula Pesantren Muhammadiyah Boarding School (MBS) Awwalul Islam di Paralonge, Makassar, pada Kamis, 25 Juli 2024.
Kepala Sekolah MBS Awwalul Islam, Syamsir Dewang menyampaikan harapannya agar pesantren ini melahirkan calon ulama besar yang unggul dalam bidang keagamaan, teknologi informasi, dan sains. "Sebagai guru besar dalam bidang sains, saya merasa malu jika sekolah ini tidak unggul dalam bidang Ilmu Pengetahuan Alam," ucapnya.
Ketua Badan Pengurus Lazismu Wilayah Sulawesi Selatan, Mahmuddin, menegaskan bahwa dana-dana yang dikelola Lazismu merupakan amanah dari para donatur. "Kami melaksanakan program ini sebagai bentuk pengelolaan pada Lembaga Amil Zakat, dengan tugas pokok menghimpun, mencatat, dan menyalurkan,”jelasnya.
Lazismu telah menjalani dua proses audit, yaitu Audit Syariah dan Audit Akuntan Publik. Oleh karena itu, kami harus mengelola amanah tersebut seefektif dan seefisien mungkin untuk memastikan penyalurannya tepat sasaran. Ia juga menyampaikan, ke depan berbagai program akan terus dikembangkan guna menjangkau 8 Asnaf.
Pimpinan Wilayah Muhammadiyah, Husain Abdul Rahman, menyatakan pentingnya kemitraan dengan Lazismu untuk kemajuan dakwah Muhammadiyah. "Muhammadiyah Boarding School Awwalul Islam harus menjadi sekolah unggulan Muhammadiyah. Dibutuhkan kerja keras, bukan hanya dari direktur, tetapi juga dari semua guru. Guru-guru harus punya visi dalam mengembangkan sekolah dan berkolaborasi untuk memajukan MBS," pesannya.
Setelah pembukaan dan penyerahan bantuan, acara dilanjutkan dengan pengajian yang dibawakan oleh Pimpinan Wilayah Muhammadiyah, Qadir Gassing, yang juga Koordinator Lazismu.
[Komunikasi dan Digitalisasi Lazismu PP Muhammadiyah/Bayu]

JAKARTA -- Satu per satu lembaran program – program Lazismu dibuka untuk diidentifikasi sejauh mana dampak dan berkelanjutannya dapat memberikan nilai manfaat. Inovasi sosial merupakan tema gerakan zakat yang diusung Lazismu sejak 2021. Beberapa program sudah terlaksana, tinggal dilanjutkan karena bibitnya sudah ada.
Melihat realitas yang ada, pergerakan filantropi islam terus berkembang. Maka selayaknya Lazismu melihat ke dalam, kekuatannya sudah sampai di tahap apa, kata Direktur Kewirausahaan dan Inovasi Sosial, Edi Suryanto dalam pengantarnya di Workshop Panduan, Pelatihan LFA dan Asesmen Program Kampung Berkemajuan Inovasi Sosial Berbasis Kawasan, di Jakarta pada Kamis, 25 Juli 2024.
Diketahui bahwa Lazismu sebagai lembaga filantropi terbesar di dunia dari sisi jumlah kantornya. “Angka penghimpunan dan angka penyaluran masih perlu ditingkatkan mengingat nama besar muhammadiyah. Muhammadiyah sebagai payung organisasi, karena itu perlu ada lembaga yang berperan sebagai penopang. Dan lazismu salah satunya yang dianggap sebagai motor gerakan itu,” jelasnya.
Inovasi sosial yang dijajaki Lazismu sampai saat ini, kata Edi Suryanto, merupakan satu gagasan lanjutan dari agenda aksi yang sudah dirumuskan dalam lima tahun terakhir. Lazismu sebagai bagian dari gerakan filantropi islam perlu memproyeksikan agenda perubahan yang lebih tertata dan sistematis.
Di hadapan para peseta workshop, Edi Suryanto memaparkan, inovasi sosial sebagai suatu pendekatan sosial harus didefinisikan. Beberapa sumber penelitian menyebutkan, definisinya adalah untuk memperluas kesejahteraan masyatakat dalam mengatasi berbagai masalah sosial yang berdampak, terukur dan berkesinambungan.
“Tujuan dari inovasi sosial itu, memperkuat daya pikir dan jelajah amil untuk menemukan solusi baru, meningkatkan kreativitas, serta menciptakan inovator muda yang dalam praktiknya nanti memperluas jaringan dan kemitraan, memperkuat basis kewilayahan dalam melakukan perubahan,” tuturnya.
Paling tidak ada catatan penting yang disampaikan pada hari ini, di antaranya, hemat saya, enam tahapan proses inovasi sosial, yaitu menemukan akar masalah, identifikasi untuk solusi, melibatkan banyak pihak, menguji coba teori dan praktik, ada unsur keberlanjutan sehingga bisa dipublikasikan dan diduplikasi supaya ada perubahan sosial.
Salah satu program Lazismu yang bisa dijadikan contoh adalah Edutabmu. Karena memenuhi unsur persyaratan inovasi sosial. Berangkat dari keterbatasan akses pendidikan saat pandemi dan banyak daerah kesulitan dalam kegiatan belajar mengajar, maka muncul solusi Edutabmu tanpa jaringan internet yang sangat membantu penerima manfaatnya.
Keberhasilannya sudah diduplikasi atas program yang dijalankan di awal, duplikasi ini salah satu proses yang menjadi akhir program yang bisa dikatakan sebagai inovasi sosial. Contoh lainnya Bank ZISKA di Jawa Timur.
Belajar dari Bank ZISKA, upaya selanjutnya yang bisa disempurnakan adalah perlu ada opini dewan pengawas syariah (DSP). JIka ada opini DPS, maka bisa dijadikan program unggulan di masa yang akan datang.
Masih banyak program lain di wilayah dan daerah yang dikembangkan Lazismu seperti peternakan kambing perah di Banjar Negara, Jawa Tengah, kata Edi Suryanto memberikan contoh. Pada prinsipnya konsep ini berangkat dari kebutuhan pasar, pemberdayaan yang berhasil adalah akses pasarnya. Peternakan kambing perah di Banjar Negara selanjutnya harus disiapkan pasarnya.
Contoh program inovasi sosial berbasis kawasan lainnya adalah kolaborasi Lazismu dan Baznas. Di wilayah Serang, Banten, permasalahan yang muncul di sana adalah erosi pantai yang juga kerusakan lingkungan karena airnya payau, kemiskinan tinggi, pendidikan rendah, kesehatan rendah, akses pendidikan terbatas, dan akses kesehatan sulit.
Solusi yang diberikan Lazismu adalah memberikan bantuan dan pendampingan dengan menanam mangrove untuk mencegah erosi panta serta bantuan program pendidikan untuk santri. Saya pikir dari contoh – contoh ini bisa menjadi insight bagi Lazismu di seluruh Indonesia dalam mengemas program yang berkelanjutan.
[Komunikasi dan Digitalisasi Lazismu PP Muhammadiyah]

