

KABUPATEN PEKALONGAN -- Lazismu Kabupaten Pekalongan telah melampaui target yang ditetapkan untuk penghimpunan dana zakat, infak, sedekah, dan dana sosial keagamaan lainnya (ZISKA) pada tahun 2023. Hal ini disampaikan oleh Ketua Badan Pengurus Lazismu Kabupaten Pekalongan, H. Riyanto dalam acara Rapat Kerja Daerah (Rakerda) Lazismu se-Kabupaten Pekalongan. Acara ini berlangsung pada Ahad (10/12) di Hotel Grand Dian, Wiradesa, Kabupaten Pekalongan.
Dalam sambutannya, Riyanto mengungkapkan bahwa target penghimpunan ZISKA tahun 2023 dicanangkan sebesar 10.5 miliar rupiah. Hingga saat ini, Lazismu Kabupaten Pekalongan mampu melakukan penghimpunan ZISKA hingga 11,5 miliar rupiah. "Peningkatan tersebut adalah peran dari semua pihak, di antaranya adalah Kantor Layanan Lazismu yang ada di cabang, di ranting, hingga di amal usaha kesehatan," ujarnya.
Riyanto berharap agar di bawah kepemimpinannya, Lazismu Kabupaten Pekalongan dapat melakukan berbagai perbaikan. Salah satunya dengan pencatatan rekening satu atap. Dari 26 Kantor Layanan yang ada di Kabupaten Pekalongan, baru ada 11 yang menjalankan manajemen satu atap dengan Lazismu Kabupaten Pekalongan. Ia juga berharap agar tahun 2024 Lazismu Kabupaten Pekalongan dapat mencapai target 12,5 miliar rupiah.
Sementara itu, Wakil Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kabupaten Pekalongan, H. Amat Sulaiman menyampaikan dukungannya kepada Lazismu agar terus berkembang. "Target 12,5 miliar adalah tanggung jawab bersama. Saya yakin Lazismu akan terus berkembang," harapnya.
Sulaiman juga mendorong Lazismu dapat meningkatkan sinergi dengan majelis dan lembaga lainnya sehingga dapat terus berkembang. Ia pun mencontohkan pengelolaan Lazismu di Kabupaten Banyumas. Semua pengelolaan keuangan, baik dari takmir masjid hingga PDM, semua terkonsentrasi di Lazismu, sehingga semua bergerak dari Lazismu. Ia juga beranggapan jika setiap cabang menghimpun dana dengan rekening masing-masing, maka jumlahnya akan kecil.
Terakhir, Sulaiman memberikan semangat kepada para amil Lazismu agar terus menambah pengetahuan tentang zakat, infak, dan sedekah. Ia meyakini bahwa pekerjaan amil akan dapat masuk surga karena menjalankan tugas dari Allah SWT untuk dapat meringankan dan mengingatkan para muzakki atau mereka yang diberikan kelapangan hartanya untuk menunaikan zakat sesuai dengan Al-Qur'an surat Ali Imran ayat 133-134.
[Kelembagaan dan Humas Lazismu PP Muhammadiyah/Fakhrudin]

KOTA BANJARBARU -- Pada hari kedua pelaksanaan monitoring dan evaluasi program EdutabMu di Kalimantan Selatan, Lazismu bersama mitra pelaksana yaitu Majelis Pendidikan Dasar Menengah dan Pendidikan Non Formal (Dikdasmen dan PNF) Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah serta Enuma mengunjungi SD Hajjah Nuriyah di Kota Banjarbaru. Selain diikuti oleh para guru pelaksana program EdutabMu dari SD Hajjah Nuriyah, kegiatan yang berlangsung pada Selasa (12/12) ini juga dihadiri oleh perwakilan SD Alam Muhammadiyah Banjarbaru, SD Alam Muhammadiyah Martapura, dan MI Muhammadiyah Mandiangin.
Wakil Ketua Majelis Dikdasmen dan PNF PP Muhammadiyah, Kasiyarno pada kesempatan ini kembali menegaskan pentingnya monitoring dalam pelaksanaan program EdutabMu. Dengan demikian, program ini dapat berjalan dengan baik dan sesuai dengan tujuannya.
"Program EdutabMu adalah dalam rangka untuk percepatan, khususnya akselerasi pendidikan Muhammadiyah yang berbasis pada teknologi digital melalui penggunaan tablet. Pelaksanaannya memang perlu diseriusi dan dimonitor," tegas Kasiyarno.
Sementara itu, Muarawati Nur Malinda selaku Wakil Ketua Badan Pengurus Bidang Pendayagunaan dan Pendistribusian Lazismu PP Muhammadiyah menyampaikan bahwa program EdutabMu merupakan terobosan Lazismu dalam bidang pendidikan. Melalui program ini, pemerataan akses pendidikan diharapkan dapat tercapai. "Kita tidak ingin jika bicara sektor pendidikan hanya memberikan beasiswa saja," ujarnya.
Muarawati melanjutkan, program ini dapat dipergunakan untuk mendeteksi bakat anak-anak didik. Ada banyak hal positif yang bisa didapatkan dari EdutabMu. Anak-anak pun dapat belajar dengan cara yang berbeda.
Program EdutabMu mengusung tagline "Digital Learning Accelerator". Program ini merupakan bagian dari transformasi pembelajaran di sekolah Muhammadiyah berbasis digital multimedia melalui Tablet Pembelajaran. Program ini hasil kerja sama Lazismu PP Muhammadiyah, Majelis Dikdasmen dan PNF PP Muhammadiyah, Majelis Dikdasmen PP Aisyiyah dan Enuma.
[Kelembagaan dan Humas Lazismu PP Muhammadiyah]

KOTA BANJARMASIN -- Lazismu bersama mitra pelaksana program EdutabMu yaitu Majelis Pendidikan Dasar Menengah dan Pendidikan Non Formal (Dikdasmen dan PNF) serta Enuma melaksanakan monitoring dan evaluasi di Kalimantan Selatan. Kegiatan ini dilakukan dalam rangka untuk menilai kemajuan dan evaluasi terhadap pelaksanaan program yang telah berjalan selama satu setengah tahun di lingkungan sekolah-sekolah Muhammadiyah. Pada hari pertama, Senin (11/12), kegiatan ini berlangsung di SD Muhammadiyah 5 dan 11 Kota Banjarmasin dan juga dihadiri oleh perwakilan SD Muhammadiyah 3 dan 6 Kota Banjarmasin.
Wakil Ketua Majelis Dikdasmen dan PNF PP Muhammadiyah, Kasiyarno menyampaikan bahwa program EdutabMu diharapkan dapat meningkatkan kualitas pendidikan serta kuantitas peserta didik. Menurutnya, Muhammadiyah sudah 111 tahun berkiprah di dunia pendidikan, namun masih dalam bentuk kuantitas. Ia mendorong agar sekolah yang terpilih dalam program EdutabMu dapat meningkatkan kualitasnya.
"Sekolah-sekolah yang terpilih itu supaya segera maju, meningkat kualitasnya dan meningkatkan animo siswanya," ungkap Kasiyarno yang juga menjadi penanggung jawab program EdutabMu.
Abdulah Mukti, Project Manajer EdutabMu dalam kesempatan ini mengajak para guru agar terus meningkatkan kualitas pembelajaran para siswa melalui program EdutabMu. Program ini memiliki banyak keunggulan yang dapat digali oleh guru sehingga bisa mengembangkan potensi akademik anak. Terlebih jika penggunaannya dapat dilakukan secara maksimal oleh sekolah yang telah ditunjuk.
Selain itu, lanjut Abdulah Mukti, para guru harus bisa memaksimalkan waktu belajar dan mengajar sehingga program ini dapat berjalan dengan baik. "Kita harus menjadi orang yang mempertanggungjawabkan sesuatu secara profesional," tegasnya.
Salah satu guru pelaksana program EdutabMu, Armina menyampaikan bahwa pihaknya mengapresiasi program EdutabMu tersebut. Meski demikian, berbagai kendala masih ditemui dalam pelaksanaan program ini. Namun ia memastikan bahwa sekolahnya berusaha untuk meningkatkan kualitas penggunaan EdutabMu dalam pembelajaran. "Kami akan terus berusaha untuk meningkatkan," ujar guru SD Muhammadiyah 11 ini.
EdutabMu merupakan sebuah program ini bekerja sama dengan aplikasi Sekolah Enuma yang dikembangkan oleh Enuma, Inc. yang berbasis di California. Melalui aplikasi Sekolah Enuma ini, siswa dapat belajar secara mandiri dengan bimbingan guru untuk tiga bidang pembelajaran, yaitu Bahasa Inggris, Bahasa Indonesia, dan Matematika.
Pada kesempatan ini turut berhadir Wakil Ketua Badan Pengurus Bidang Pendayagunaan dan Pendistribusian Lazismu PP Muhammadiyah Muarawati Nur Malinda dan Manajer Pendidikan, Dakwah, dan Sosial Lazismu PP Muhammadiyah Ardhi Lutfi Kautsar. Mewakili Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Kalimantan Selatan yaitu Tumiran selaku Ketua Majelis Dikdasmen dan PNF serta Erie Norahman selaku Ketua, Firman Hadi selaku Sekretaris, dan Muhtar Ahmadi selaku Wakil Ketua Badan Pengurus Lazismu.
[Kelembagaan dan Humas Lazismu PP Muhammadiyah]

KOTA BANJARMASIN -- Sekolah-sekolah Muhammadiyah masih sangat memprihatinkan dari sisi kualitas. Terlebih saat ini sudah berada pada era yang sangat kompetitif atau era disrupsi. Demikian disampaikan oleh Wakil Ketua Majelis Pendidikan Dasar Menengah dan Pendidikan Non Formal (Dikdasmen dan PNF) Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Kasiyarno pada kesempatan Ramah Tamah Pencerahan Pendidikan dengan tema "Akselerasi Digitalisasi dan Sekolah Unggul Muhammadiyah". Acara ini berlangsung pada Senin (11/12) di Universitas Muhammadiyah Banjarmasin, Jalan S. Parman, Kelurahan Pasar Lama, Banjarmasin Tengah, Kota Banjarmasin.
Orang yang dapat bertahan hidup di era disrupsi ini, menurut Kasiyarno, bukanlah orang yang paling kuat dan pintar, melainkan mereka yang paling cepat beradaptasi terhadap perubahan yang terjadi di lingkungannya. "Dengan memanfaatkan berbagai fasilitas yang ada dan kerja bersama," ungkapnya.
Saat ini, sekolah-sekolah Muhammadiyah memiliki tugas yang cukup berat. Bahkan banyak yang memiliki jumlah siswa sangat sedikit. Ia pun mendorong agar para penggiat pendidikan di Muhammadiyah tidak hanya menjadi penonton bagi kesuksesan pihak lain.
"Sekolah yang hebat tidak hanya bergantung dari kepala sekolah, namun juga bergantung kepada guru yang hebat dan siswa yang hebat. Jadi semua komponen berperan untuk menciptakan sekolah yang hebat," ujar Kasiyarno.
Di samping itu, lanjut Kasiyarno, kita perlu membangun pola pikir. Jangan sampai kita bertahan dengan pola pikir yang statis dan cepat puas dengan zona nyaman. Kita harus harus mengembangkan cara berpikir untuk terus tumbuh, berkembang, dan terbuka.
Wakil Ketua Badan Pengurus Bidang Pendayagunaan dan Pendistribusian Lazismu PP Muhammadiyah, Muarawati Nur Malinda menyebutkan, dari enam Pilar Program Lazismu, pendidikan menjadi salah satu yang diutamakan. Hal ini sejalan dengan Muhammadiyah yang memang berfokus pada pendidikan. Ada banyak persoalan pendidikan yang harus dituntaskan.
"Ada sekolah yang terseok-seok untuk membangun. Ada pula sekolah yang sudah mulai redup. Kita punya banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan bersama-sama," ujar Muarawati.
Revitalisasi amal usaha pendidikan menjadi hal yang diutamakan. Tidak hanya fisik, namun juga kualitas pengelolanya, lanjut Muarawati. Masalah ekonomi guru pun harus diperhatikan, di samping persoalan lain yang juga dihadapi oleh pada siswanya.
Senada dengan apa yang dijelaskan sebelumnya oleh Kasiyarno, Muarawati menegaskan bahwa Muhammadiyah merupakan sebuah lembaga filantropi, bahkan yang tertua di Indonesia. "Sekarang ini menjadi tugas Lazismu bagaimana melanjutkan kerja-kerja yang sudah dilakukan oleh pendahulu kita di berbagai daerah yang bisa bermanfaat," sambungnya.
Terakhir, Muarawati mengajak kepada semua pemangku kepentingan di Muhammadiyah agar bersama-sama menyelesaikan permasalahan pendidikan, tidak hanya Lazismu saja. Dengan demikian, Lazismu dapat menyelesaikan berbagai persoalan lainnya di luar bidang pendidikan.
Ramah Tamah Pencerahan Pendidikan ini berlangsung di sela-sela kegiatan monitoring dan evaluasi program EdutabMu bersama Majelis Dikdasmen dan PNF PP Muhammadiyah serta Enuma. Kegiatan ini dilakukan dalam rangka untuk menilai kemajuan dan evaluasi terhadap pelaksanaan program yang telah berjalan selama satu setengah tahun di lingkungan sekolah-sekolah Muhammadiyah yang ada di Kalimantan Selatan. EdutabMu merupakan program Inovasi Sosial Lazismu pada bidang pendidikan.
[Kelembagaan dan Humas Lazismu PP Muhammadiyah]

KOTA SEMARANG -- Lazismu Wilayah Jawa Tengah menggelar Rapat Kerja Wilayah (Rakerwil) Tahun 2023. Acara dengan tema "Sinergi Majelis/Lembaga dan Penguatan Inovasi Sosial untuk Pencapaian SDGs" ini diikuti oleh ratusan peserta yang terdiri dari Badan Pengurus dan Dewan Pengawas Syariah Lazismu Wilayah Jawa Tengah, Wakil Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) se-Jawa Tengah yang membidangi Lazismu, Ketua dan Sekretaris Badan Pengurus Lazismu Daerah se-Jawa Tengah, Manajer Lazismu se-Jawa Tengah, serta Kepala Kantor Layanan Lazismu se-Jawa Tengah.
Dalam sambutannya, Ketua Badan Pengurus Lazismu Wilayah Jawa Tengah, Dwi Swasana Ramadhan menyampaikan terima kasih, khususnya Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Tengah yang telah memberikan dukungan kepada pihaknya. Dengan dukungan ini, Lazismu Wilayah Jawa Tengah dapat membawa pulang 9 penghargaan dari Lazismu Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah dalam Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Lazismu di Kota Palembang beberapa waktu lalu.
"Tentu, ini atas kinerja bapak ibu semua. Tanpa dukungan dari Kantor Daerah, Kantor Layanan, tanpa dukungan dari majelis dan lembaga, hal itu tidak mungkin terwujud," ujar Ramadhan.
Ramadhan melaporkan, penghimpunan Lazismu se-Jawa Tengah hingga akhir Oktober lalu telah mencapai 202 miliar rupiah. Perolehan tersebut melampaui target yang ditetapkan yaitu 197 miliar rupiah. Ia juga menegaskan, terdapat 7 Key Performance Indicator (KPI) bagi Lazismu Wilayah Jawa Tengah untuk 5 tahun ke depan, di antaranya rapat koordinasi dan kajian rutin minimal sebulan sekali, menjadi Lazismu terbaik nasional, mencapai total penghimpunan 1 triliun rupiah, 35 Lazismu Daerah dalam performa bagus/hijau, 35 Lazismu Daerah terkoneksi dengan SIM, menghimpun dana abadi 10 miliar rupiah, dan mengelola dana taawun 100 miliar rupiah.
Sekretaris Badan Pengurus Lazismu PP Muhammadiyah, Gunawan Hidayat dalam arahannya menyampaikan, pada pelaksanaan Rakernas Lazismu, pihaknya menilai bahwa Lazismu Wilayah Jawa Tengah adalah yang terbaik. Bahkan, Lazismu di berbagai wilayah dan daerah perlu belajar dari Lazismu Wilayah Jawa Tengah. "Kita akan meminta Lazismu Jawa Tengah untuk menjadi salah satu tim Lazimu Pusat untuk mendampingi Lazismu-Lazismu Wilayah yang sedang berkembang," jelasnya.
Gunawan menambahkan, apa yang telah dicapai oleh Lazismu Wilayah Jawa Tengah pada tahun 2023 sudah memenuhi kuota baseline tingkat nasional untuk tahun 2024. "Sudah diputuskan baseline tingkat nasional untuk tahun 2024. Artinya dengan target tahun 2023 yang dilakukan Jawa Tengah, itu sudah sangat luar biasa. Itu sudah sepertiga lebih disumbangkan oleh Lazismu Jawa Tengah," paparnya.
Sementara itu, Ketua PWM Jawa Tengah K.H. Tafsir juga mengucapkan ucapan terima kasih kepada Lazismu PP Muhammadiyah yang telah memberikan 9 penghargaan dari 11 kategori. Ia pun menargetkan agar pada tahun 2024, Lazismu Wilayah Jawa Tengah dapat menyapu bersih seluruh kategori penghargaan. "Atas nama PWM Jawa Tengah menyampaikan apresiasi atas Rakerwil Lazismu Jateng. Tidak sia-sia kalau tulisan Zakat Center di atas tulisan PWM (di Gedung Dakwah Muhammadiyah Jawa Tengah). Banyak yang mengritik itu, masak tulisan Zakat Center di atas tulisan PWM. Kemudian, saya jawab zakat kan rukun Islam, PWM kan bukan," ungkap Tafsir diikuti riuh tepuk tangan hadirin.
Hadir dalam pembukaan Rakerwil Lazismu Jawa Tengah, Ketua PWM Jawa Tengah K.H. Tafsir, Sekretaris Badan Pengurus Lazismu PP Muhammadiyah Gunawan Hidayat, dan Direktur Utama Lazismu PP Muhammadiyah Edi Suryanto. Kegiatan ini berlangsung pada Sabtu-Ahad (02-03/12) di Hotel Pandanaran, Kota Semarang.
[Kelembagaan dan Humas Lazismu PP Muhammadiyah]

KABUPATEN BELITUNG -- Malang bagi Marina. Penyakit Neurofibromatosis kini menderanya. Ujian hidup yang dialami oleh Marina ini mendorong Lazismu Kabupaten Belitung untuk membantu. Penghimpunan bantuan pun dilakukan, salah satunya melalui kanal penghimpunan donasi selama sekitar 3 bulan. Tujuannya adalah untuk membantu proses pengobatan Marina.
Sebagai sebuah penyakit genetik yang langka, Neurofibromatosis mempengaruhi pertumbuhan sel saraf. Hal ini yang dialami Marina, janda berusia 40 tahun yang tinggal seorang diri di sebuah rumah kontrakan. Selama bertahun-tahun ia menghadapi berbagai tantangan yang ditimbulkan oleh keadaan ini. Dampak dari penyakit tersebut tidak hanya secara fisik, namun juga secara finansial mengingat pengobatannya membutuhkan biaya yang tidak sedikit.
Melihat kondisi yang dialami oleh Marina, Lazismu Kabupaten Belitung melalui tim digital fundraisingnya bergerak menghimpun dana. Setelah terkumpul, dana tersebut diserahkan kepada Mariana pada Jumat (24/11). Sedianya, bantuan ini akan dipergunakan untuk membiayai pengobatan dan kebutuhan pokok Mariana sehari-hari.
Mariana mengucapkan terima kasih atas bantuan yang diberikan oleh Lazismu Kabupaten Belitung, juga kepada para donatur yang telah mengamanahkan donasinya. "Terima kasih tak terhingga atas kebaikan dan dukungan yang diberikan. Semoga Allah membalas kebaikan kalian semua dengan berlipat ganda," ucapnya dengan haru.
Bantuan ini menjadi bukti nyata bahwa kepedulian dan empati masyarakat dapat mengubah kehidupan seseorang yang sedang berjuang melawan penyakit serius. Semoga bantuan ini tidak hanya menjadi bantuan finansial semata, tetapi juga memberikan semangat dan harapan baru bagi Marina dan keluarganya.
[Kelembagaan dan Humas Lazismu PP Muhammadiyah]

