Keluarga Berisiko Stunting, Mengimpikan Hidup Sehat di Tengah Keterbatasan

Ditulis oleh
Author
Ditulis pada
13 Januari 2026
Kategori :

SUKABUMI – Rumah bilik di desa Kabandungan, kecamatan Kabandungan, kabupaten Sukabumi itu milik pasangan Heri Irawan dan Leni Lespinawati. Tata letak rumah terdiri dari ruang tamu, dua kamar tidur sebelah kiri, dan di bagian belakang terdiri dari dapur dan kamar mandi.  

Tidak ada perabotan mewah. Di sudut kanan ruang belakang ditemukan kompor hitam dua tungku sudah berkarat. Di sudut kirinya, terdapat kamar mandi dengan kloset jongkok permanen buatan sendiri. Satu bak plastik hitam melengkapi kamar mandi berdinding kayu itu, diterangi sinar matahari yang menyelinap masuk di dinding kayunya yang renggang.

Beberapa gelas dan piring tertata di rak kayu yang kusam. Sebuah panci dan penggorengan yang hitam berkerak tergantung di dinding kayu dapur itu. Leni semringah, ketika rombongan Kemendukbangga/BKKBN yang dipimpin Wihaji mengunjungi rumahnya. Hari itu, Senin (12/1/2026), menjadi istimewa bagi Leni yang didapuk sebagai calon penerima manfaat bantuan program Genting yang bermitra dengan Lazismu.

Masing-masing kamar tidur tanpa dipan menjadi perhatian Wihaji setelah membuka tirainya. Heri, suaminya hanya buruh harian lepas, kata Leni menjawab pertanyaan Pak Menteri. Ia mengaku hanya menerima uang seminggu sekali untuk memenuhi kebutuhan ketiga anaknya. Heri sehari-hari buruh lepas yang setiap minggu membawa pulang Rp 400.000, untuk isteri dan ketiga anaknya. 

Leni mengaku untuk makan sehari-hari masih jauh dari bergizi. Kendati ada tanaman sayuran di sekitar rumahnya, kebutuhan untuk protein hewani belum tercukupi. Jika tidak ada uang, Ia dan ketiga anaknya makan seadanya. Sesekali memohon bantuan tetangganya yang berjualan sembako untuk berhutang dan akan dibayarnya saat suami pulang bekerja.   

“Leni menyeritakan anak-anaknya bersekolah cukup jauh dengan berjalan kaki. Tanpa uang jajan di saku. Kalau pun ada uang dibekali hanya Rp 3000 dengan senang hati, itu pun tidak setiap hari”, pungkasnya. Tidak ada kendaraan atau pun sepeda untuk mengantar anaknya ke sekolah.

Kondisi itu tak membuatnya patah arang. Bagi Wihaji, yang bertemu dan berdialog langsung dengan Leni sudah cukup untuk menggambarkan bagaimana keluarga berisiko stunting (KRS) menghadapi kesulitan ekonomi. Wihaji berharap tim pendamping keluarga stunting bisa mendampingi dengan penyuluhan dan edukasi.

“Keluarga berisiko stunting disebabkan oleh banyak faktor di antaranya pernikahan dini, pemenuhan asupan gizi yang tak memadai, serta keterbatasan akses air bersih dan sanitasi’, jelas Wihaji menyebutkan faktor yang berpengaruh terhadap terjadinya risiko stunting.    

Demikian juga dengan kondisi keluarga Hermawan dan Karyati. Kemiskinan menyelimuti kehidupannya yang tinggal di desa Tugubandung. Hermawan seorang buruh lepas dengan penghasilan Rp 50.000 per hari. Ia harus memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari isteri dan ketiga anaknya.  

Sulit baginya memberikan asupan gizi yang cukup untuk buah hatinya. Kondisi rumah yang sama masih menyisakan kendala dalam kebersihan sanitasi. Karyati banyak menyeritakan bagaimana kondisi ekonominya selama ini kepada Pak Menteri. Membeli gas untuk memasak saja tak mampu. Ia mengandalkan kayu bakar untuk memasak di dapur yang persis ada di samping kiri rumahnya.

Anak terakhirnya pun didapati dalam keadaan sakit kulit. Kedua kakinya, dari betis hingga paha penuh ruam dan bintik-bintik hitam. “Kadang suka menangis karena merasa gatal dan demam,kata Karyati.

Impitan Ekonomi

Sekretaris Badan Pengurus Lazismu Pusat, Gunawan Hidayat, yang turut berkunjung bersama Wihaji, mengatakan, keluarga rawan stunting dicirikan dengan ketidakmampuannya hidup yang sehat di lingkungannya, khususnya rumah tinggal.

“Kondisi MCK (mandi, cuci, kakus) yang tidak memenuhi fasilitas standar sehat, termasuk kondisi dalam rumah turut menjadi perhatian’”, ungkapnya. Kemendukbangga/BKKBN berencana merenovasi rumahnya yang akan menggandeng mitra kolaborasinya. Salah satunya Lazismu yang akan mendukung proses renovasinya yang membutuhkan waktu untuk bedah dua unit rumah itu.

Langkah ini, bagian dari kontribusi untuk memanusiakan manusia agar menjadi generasi yang sehat dan cerdas, paparnya. Selanjutnya, Lazismu segera menindaklanjuti dengan melakukan perencanaan pra pembangunan yang melibatkan para pihak di kedua lingkungan bedah rumah tersebut. Setelah mendapat persetujuan kelayakan segera membangun untuk direnovasi secepatnya.

[Kelembagaan dan Humas Lazismu Pusat]

Bagikan Tulisan Ini :
LAZISMU adalah lembaga zakat nasional dengan SK Menag No. 90 Tahun 2022, yang berkhidmat dalam pemberdayaan masyarakat melalui pendayagunaan dana zakat, infaq, wakaf dan dana kedermawanan lainnya baik dari perseorangan, lembaga, perusahaan dan instansi lainnya. Lazismu tidak menerima segala bentuk dana yang bersumber dari kejahatan. UU RI No. 8 Tahun 2010 Tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang

Alamat

Jl. Menteng Raya No.62, RT.3/RW.9, Kb. Sirih, Kec. Menteng, Kota Jakarta Pusat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 10340
Jl. Jambrut No.5, Kenari, Kec. Senen, Jakarta Pusat 10430
info@lazismu.org
0213150400
0856-1626-222
Copyright © 2025 LAZISMU bagian dari Persekutuan dan Perkumpulan PERSYARIKATAN MUHAMMADIYAH
cross