

JAKARTA – Ramadhan akan tiba dalam hitungan hari. Spirit untuk menjemputnya terus menggeliat. Ramadhan menjadi salah satu momen istimewa bagi kalangan muslim di Indonesia. Sejumlah pengamat ekonomi mengatakan, Ramadhan akan menjadi daya pendorong laju pertumbuhan ekonomi.
Bagi Lazismu menyambut Ramadhan merupakan keceriaan yang mengasyikkan. Segenap rencana dipersiapkan untuk suatu program khusus yang prioritasnya senapas dengan keistimewaan di dalamnya. Program-program Ramadhan yang disajikan antara lain, Tebar Takjil, Back to Masjid, Kado Ramadhan, Taman Lansia dan Mudikmu Aman. Setiap tahun Lazismu menyuguhkan program tersebut untuk berbagi.
Melalui Kick Off Raamdhan 1447 H, yang berlangsung di Auditorium Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Uhamka, Jakarta, Kamis, (15/1/2026), Lazismu mengusung tema Ramadhan bertajuk Zakat Majukan Kesejahteraan Bangsa. Sesuai mandat persyarikatan Muhammadiyah, menurut Ahmad Imam Mujadid Rais, Ketua Badan Pengurus Lazismu Pusat, selain sebagai momen yang tepat bagi Lazismu, Ramadhan merupakan arena edukasi dan literasi keuangan syariah. “Di dalamnya ada edukasi dan literasi zakat serta amalan kebaikan lainnya”, pungkasnya.
Di sana, peran Lazismu mendapat dukungan dari para ustadz dan guru-guru yang memotivasi jamaah dengan hikmah Ramadhan. Setiap Ramadhan, kata Mujadid Rais, dengan jalan dakwah mereka menyampaikan keutamaan bulan Ramadhan, yang salah satunya diingatkan dengan 10 hari terakhir untuk membayar zakat fitrah.
Oleh karena itu, menurutnya, tema besar Ramadhan tahun ini, memperkuat tema besar Muhammadiyah saat Tanwir di Kupang, bagaimana Lazismu sebagai salah satu elemen persyarikatan Muhammadiyah harus berkontribusi dalam tujuan bernegara ini yaitu menyejahterakan bangsa.
Sejalan dengan makna zakat ini yaitu tumbuh dan berkah. “Maka untuk semuanya dan dalam mewujudkan kesejateraan bangsa harus terpenuhi dengan lima program besarnya di Ramadhan yaitu Tebar Takjil, Back to Masjid, Kado Ramadhan, Taman Lansia dan Mudikmu Aman.
Dalam rencana strategis Lazismu, yang turut menjadi fokus perhatian Lazismu, kata Mujadid Rais adalah Masjid. Masjid menjadi perhatian penting dalam gerakan filantropi. Tidak hanya memakmurkan masjid tapi juga menjadi pusat kegiatan pemberdayaan umat.
Tidak terkecuali dengan isu lanjut usia sebagai bagaian dari kelompok rentan. Lansia menurut dokumen dari persyarikatan bangsa-bangsa (PBB) dalam agendanya terdapat upaya untuk menanggulangi kemanusian, salah satunya, tidak boleh meninggalkan lansia dan perempuan, sementara itu yang kedua, penyandang disabilitas. Hal ini menunjukkan bahwa ada keberpihakan Lazismu terhadap mereka yang rentan dan tidak boleh ditinggalkan sendirian.
Keberlanjutan program ini setiap Ramadhan merupakan komitmen Lazismu dalam mengemas program yang dibutuhkan berdasarkan wawasan filantropi Islam yang menjadi kekhasannya yang melibatkan masyarakat, mitra strategisnya dan penerima manfaat.
Literasi Keuangan Syariah, dari Entrepreneurship Menuju Empati Bencana
Selain tentunya edukasi dan literasi zakat, Bendahara Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Hilman Latief dalam amanahnya mengungkapkan kerja keras Lazismu dalam satu tahun terakhir bisa memberikan manfaat dan dampak yang luas. Hilman mengapresiasi seluruh mitra perbankan atas dukungannya ke pimpinan pusat Muhammadiyah dan Lazismu, sehingga program-program kami yang bertalian dengan kesejahteraan bangsa memiliki signifikansinya.
“Setiap tahun Ramadhan kita hadapi, rasakan dan lewati bahkan meninggalkannya. Siklus ini terus berkembang, ada kegembiraan dan kesedihan”, tandasnya. Karena itu, yang perlu disampaikan ke Lazismu dan pemangku kepentingan (stakeholders), bersama-sama kita manfaatkan Ramadhan tahun ini 1447 H, dengan bersemangat dan momentum penguatan literasi keuangan syariah.
Ramadhan tidak hanya diisi dengan nuansa spiritualitas semata, tapi juga penguatan literasi keuangan syariah, tidak hanya zakat, infak, sedekah dan dana sosial keagamaan lainnya (ZISKA), lebih jauh lagi mulai memperkenalkan kepada masyarakat tentang bagaimana literasi keuangan syariah itu ada dalam kehidupan kita dalam bermuamalat.
“Tanpa literasi yang kuat tidak akan tumbuh bagi industri keuangan, khususnya dunia perbankan”, bebernya. Lalu, bagaimana Ramadhan jadi arena penguatan literasi keuangan syariah, maka yang kedua, poin pentingnya adalah mengharapkan Ramadhan sebagai arena reaktualisasi program kebajikan yang biasa dilakukan.
“Kita ingin membangun perspektif yang baru, bahwa Ramadhan bukan sekadar waktu untuk berbagi angka, tapi juga berbagi kemampuan”, tutur Hilman. Ia mendorong Lazismu dan entitas persyarikatan muhammadiyah supaya sudah mulai menyusun spirit kewirausahaan (entrepreneurship).
Filantropi Islam yang berbasis entrepreneurship, tanpa itu gerak dan langkah kita akan terbatas. Oleh sebab itu, sambung Hilman, biasanya kalau di dalam bulan-bulan sebelumnya arena untuk berbagi bayar zakat dilakukan begitu juga infak serta sedekah, kita jarang menempatkan di Ramadhan bagi masyarakat untuk bisa terlibat di dalam kegiatan entrepreneurship.
Sejauh ini, menyalurkan infak sedekah hanya untuk berbagi, di bulan Ramadhan harusnya lebih kuat. “Semakin dekat Idul Fitri baru kita memberi, saya berpikir bahwa bagaimana caranya juga kelompok tertentu di Ramadhan kali ini mulai beraktualisasi seperti adanya pasar kaget di berbagai tempat”, jelasnya.
Pasar kaget seperti di Jogokariyan bisa bertahan selama tiga minggu. Maka, bagaimana pertanyaannya untuk mengajak keterlibatan masyarakat dalam memuliakan Ramadhan. Kelompok yang jadi target kita bukan target di akhir Ramadhan, tapi bagaimana menggembirakan Ramadhan juga melibatkan masyrakat. Ini bisa direnungkan oleh amil Lazismu dan bagaimana pelibatan ekosoistem yang akan kita dorong.
Sepertinya kita melihat Ramadhan bulan yang terpisah dengan bulan lainnya. Inilah ekosistem yang harus kita bangun butuh perjuangan. Hilman mengatakan, tanpa melupakan saudara-saudara kita yang tertimpa musibah bencana banjir dan longsor di Sumatera dan Aceh.
Hemat saya, ada tempat-tempat spesifik untuk melaksanakan ibadah yang dilaksanakan dengan membawa kegembiraan sebagai bekal yang juga perlu kita bawa. “Mari kita imajinasikan juga Ramadhan tahun ini seperti apa yang akan kita sajikan program-programmnya di daerah bencana”, ajak Hilman bersemangat.
[Kelembagaan dan Humas Lazismu Pusat]

