

JAKARTA — Surplus informasi tak sepenuhnya mengandung vitamin literasi bagi pengguna teknologi digital. Di satu sisi berdampak pada ekonomi digital, di sisi lain lautan ilmu yang mengalir tenang menyimpan ombak yang jika tak siap bisa menggulung hingga pendangkalan spiritual penggunanya.
Transformasi digital tersebut dibaca Republika lewat ikhtiar meluncurkan platform Aiman dan Aisha sebagai kecerdasan buatan berbasis Al-Qur’an, di Auditorium Perpustakaan Nasional Republik Indonesia, Jakarta pada Rabu (4/3/2026) yang didukung Lazismu dan BytePlus sebagai mitra teknologi strategis.
Wakil Menteri Komunikasi dan Digital (Wamenkomdigi) Nezar Patria mengapresiasi atas inisiatif Republika. Menurutnya, langkah ini merupakan bentuk adaptasi progresif industri media nasional dalam menghadapi gelombang transformasi digital. Lebih dari sekadar inovasi, Aiman dan Aisha adalah representasi nyata bagaimana kecerdasan buatan dapat dirancang khusus untuk mendukung ekosistem konten keislaman yang terkurasi.
“Kehadirannya harus kita maknai sebagai upaya menjaga kedaulatan digital kita, di mana kecerdasan buatan dibangun di atas referensi yang kuat untuk mencerdaskan kehidupan bangsa,” ujarnya.
Ia menegaskan, pengembangan AI oleh institusi media nasional seperti ini sangat penting. Tujuannya agar algoritma yang berinteraksi dengan masyarakat tetap berpijak pada integritas data dan keberagaman konteks budaya Indonesia. Jadi, teknologi tidak menjadi entitas yang asing dan tercerabut dari realitas sosial penggunanya.
Tren beragama di era kecerdasan buatan menurut Sekretaris Jenderal Kementerian Agama Republik Indonesia, Kamaruddin Amin merupakan babak baru yang telah kita saksikan bersama. “Apakah AI itu membantu manusia atau benar-benar mitra atau tuan,” tandasnya.
Sekarang ini, kita hidup pada zaman yang unik. Amin mengungkapkan dalam perjalanannya tidak diukur oleh kilometer zaman, tapi sejauh perkembangannya berklindan dalam algoritma. Ia mengatakan sebagai bangsa yang relijius kita tidak boleh alergi. “Ilmu tanpa kecerdasan ketuhanan berpotensi salah arah sesuai dengan pesan Al-Qur’an dalam surat Al- Alaq,” jelasnya.
Kendati demikian, kecerdasan manusia dan hasilnya lahir dari peradaban dan riset Panjang. Ia menilai AI adalah buatan manusia dan secara eksistensial ada peran manusia. AI bisa merangkum dan berdialog, tapi ia tidak memiliki nuarni, tidak punya rasa takut pada Tuhan.
Karena itu, sambungnya, AI harus dibingkai dengan etika. Akal imitasi bisa saja memperluas dan mematikan informasi. Jangan sampai manusia yang diberi akal kalah bijak dalam beprikir. Tugas manusia sebagai produsen nilai menanamkan moral dalam ekosistemnya. Yang dalam batas tertentu sensitif terhadap keberagaman yang humanis.
Nyatanya, nilai positif transformasi digital mewarnai dakwah keislaman kita. Menurut Sekretaris Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Izzul Muslimin, dulu jika orang tidak membaca disebut sebagai orang tertinggal perkembangan informasi, sebaliknya era sekarang ini yang banjir informasi bagi orang yang tak mengikuti informasi digital disebut orang yang tertinggal dan tidak memilah informasi.
Mewakili Muhammadiyah, kami mengapresiasi apa yang telah digagas oleh Republika. Semoga kecerdasan buatan ini bisa diakses masyarakat dan menjadi sarana media yang membantu. “Masyarakat sangat mendukung kegaitan ini dan kita berharap bisa membawa manfaat yang besar terutama kepada nilai nilai kebenaran dan kebaikan,” paparnya.
Izzul menilai kehadiran kecerdasan buatan berbasis nilai-nilai Islam akan memberi kontribusi positif bagi dakwah dan literasi keagamaan di tengah masyarakat. Adapun dukungan Lazismu di dalamnya merupakan Langkah strategis bagaimana dakwah filantropi turut beradaptasi dengan percepatan transformasi digital.
Momentum ramadan adalah waktu yang tepat kata Izzul, terlebih lagi Lazismu juga telah berkolaborasi dengan Republika dalam program ramadan tahun ini. Semoga sinergi ini semakin memperkuat gerakan filantropi di era informasi digital.
[Kelembagaan dan Humas Lazismu Pusat]

