

PURWOREJO -- Warga desa Wadas pasca-penambangan batu andesit untuk pembangunan bendungan Bener, aktivitasnya tak seproduktif dulu. Tambang Andesit telah mengubah kebun dan lahan subur jadi lubang-lubang galian.
Nasib warga Wadas tak bisa diprediksi di kemudian hari. Nasib serupa dialami warga lainnya yang mengalami ketidakadilan ekologis seperti Pakel di Banyuwangi, Pracimantoro di Wonogiri, Pulau Rempang di Kepulauan Riau, serta Sagea di Kabupaten Halmahera Tengah.
Semua warga tersebut wilayahnya terdampak konflik sumber daya alam. Bahkan merembet menjadi konflik agraria dan krisis lingkungan yang berkepanjangan yang mengakibatkan mata pencaharian mereka terganggu.
Pada hari raya Idul Ahda 1447 H, Lembaga Hikmah dan Kebijakan Publik (LHKP) Pimpinan Pusat Muhammadiyah yang berkolaborasi dengan Lazismu berbagi kebahagiaan. Lazismu memercayakan 20 ekor kambing kurban melalui LHKP untuk disalurkan kepada masyarakat yang terdampak krisis ekologis. Penyembelihan dan pendistribusian daging segar kurban dilaksanakan pada 28 Mei 2026.
Ketua LHKP PP Muhammadiyah, Busyro Muqoddas menyampaikan apresiasinya atas dukungan penuh dari Lazismu. Ia menyatakan bahwa Idul Adha mengajarkan makna pengorbanan, solidaritas, dan keberpihakan kepada mereka yang lemah dan tersingkirkan.
“Melalui kurban yang difasilitasi oleh Lazismu, Muhammadiyah berupaya hadir membersamai warga yang terus mendapat tekanan, kerentanan sosial, kriminalisasi, hingga potensi kehilangan mata pencaharian”, tuturnya.
Krisis yang dialami warga di lima wilayah itu sangat kompleks. Di Wadas, misalnya, masih konsisten berhadapan dengan rencana penambangan batu andesit untuk bendungan Bener. Dalam kondisi berbeda, warga Rempang terancam relokasi akibat Proyek Strategis Nasional (PSN).
Hal yang sama dirasakan masyarakat Sagea karena ancaman kerusakan ekologis akibat industri tambang nikel di kawasan karst. Sementara itu, Warga Pakel dan Pracimantoro terus berjuang di tengah kusutnya tata kelola sumber daya alam di daerahnya.
Menyapa Warga, Menyerap Aspirasi
Mewakili Lazismu, Sekretaris LHKP PP Muhammadiyah, David Efendi yang turun langsung ke beberapa wilayah penerima manfaat di Jawa Tengah memastikan Amanah kurban Lazismu tepat sasaran. Kehadirannya untuk berdialog langsung dan menyerap aspirasi warga di akar rumput.
Davis mengatakan, kunjungan pertama dilakukan pada Jumat, 29 Mei 2026, ke Kecamatan Pracimantoro, Kabupaten Wonogiri, yang kemudian dilanjutkan pada hari Sabtu, 30 Mei 2026, ke Desa Wadas, Kabupaten Purworejo.
Program Qurbanmu Bahagiakan Sesama mendapat sambutan hangat dari pemerintah desa, tokoh masyarakat, dan warga setempat. Warga bergembira karena mendapat dukungan moral lewat program kurban di tengah perjuangannya mempertahankan kelestarian desa.
Selama proses penyaluran daging segar kurban, tim di lapangan turut menyaksikan kuatnya aspirasi warga yang terekspresikan di ruang publik. Seperti tulisan “Tolak Pabrik Semen” di Pracimantoro. Kondisi yang sama di Desa Wadas lewat semboyan “Wadas Melawan: Jaga Alam, Jaga Masa Depan”.
Realitas tersebut menjadi bukti nyata bahwa konflik ini menyentuh hati terdalam antara manusia dengan alam dan ikhtiar menjaga dan melestarikan alam bagi generasi mendatang.
Kurban dari para donatur Lazismu ini diharapkan menjadi pesan yang kuat bahwa ibadah sosial harus mampu menghadirkan empati dan membangun keberpihakan nyata terhadap masyarakat yang selalu berada di garis terdepan dalam menjaga kelestarian alam.
[Kelembagaan dan Humas Lazismu Pusat/LHKP]

