

PAMULANG -- Perkumpulan Organisasi Pengelola Zakat (POROZ) menggelar Sarasehan bertepatan dengan miladnya yang ke-8 pada, Ahad (8/2/2026) di kediaman Ketua Umum POROZ, Mochammad Bukhori Muslim. Sarasehan tahun ini mengusung tema “Ecotheology Zakat: Zakat for Environmental Sustainability”.
Tema tersebut merupakan ikhtiar kolektif POROZ dalam mengintegrasikan nilai-nilai ekologis dalam pengelolaan zakat serta menjawab tantangan krisis lingkungan dan kebencanaan. Acara ini dihadiri oleh Direktur Pemberdayaan Zakat dan Wakaf Kementerian Agama RI, Waryono Abdul Ghafur, serta Pimpinan BAZNAS RI, Rizaludin Kurniawan.
Kehadiran kedua tokoh tersebut menegaskan dukungan strategis terhadap peran POROZ dalam memperkuat sinergi, tata kelola, dan dampak zakat di Indonesia. Sarasehan dibuka dengan sambutan dari Ketua Umum POROZ, Mochammad Bukhori Muslim, yang menegaskan bahwa tema Ecotheology Zakat merupakan respons terhadap isu lingkungan yang semakin mengkhawatirkan.
Ia menekankan pentingnya membangun kesadaran ekologis tidak hanya di kalangan amil zakat, tetapi juga mustahik, agar praktik zakat semakin berorientasi pada keberlanjutan dan penjagaan alam.

Selaras dengan itu, Direktur Eksekutif POROZ, Nur Hasan, dalam sambutannya mengatakan, zakat memiliki keterkaitan erat dengan alam. “Zakat yang bersumber dari kekayaan dan hasil alam sudah seharusnya kembali memberikan manfaat bagi kelestarian lingkungan dan keseimbangan ekosistem,” ujarnya.
Hasan mengajak seluruh anggota POROZ untuk mengarusutamakan pendekatan ekoteologi dalam desain program dan intervensi zakat ke depan. Dalam kesempatan yang sama, Direktur Pemberdayaan Zakat dan Wakaf Kemenag RI, Waryono Abdul Ghafur, memberikan apresiasi tinggi terhadap kontribusi Lembaga Amil Zakat (LAZ), khususnya dalam respons kebencanaan di Sumatera dalam beberapa waktu terakhir.
Menurutnya, bantuan yang diberikan LAZ menjadi testimoni nyata bagi para penyintas dan berperan penting dalam meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap pengelolaan zakat. Momentum Harlah ke-8 POROZ semakin strategis dengan resminya bergabung dua anggota baru, yaitu LAZNAS IKADI (Ikatan Da’i Indonesia) dan LAZ Investa Amanah Zakat.
Bergabungnya kedua lembaga ini memperluas jejaring POROZ sekaligus memperkuat kapasitas kolektif dalam pengelolaan zakat, pemberdayaan mustahik, dan respons kebencanaan berbasis nilai-nilai keberlanjutan.
Acara ditutup dengan penandatanganan Komitmen Kolaborasi Ecotheology Zakat oleh para pemangku kepentingan yang hadir sebagai bentuk kesepakatan bersama dalam mendorong praktik zakat yang berorientasi pada keberlanjutan lingkungan. Sebagai simbol nyata kepedulian ekologis, kegiatan diakhiri dengan penanaman pohon bersama di area sekitar kediaman Ketua Umum POROZ.
Melalui Sarasehan Harlah ke-8 ini, POROZ menegaskan komitmennya untuk terus membangun ekosistem zakat yang lebih sinergis, berdaya dampak, dan berkelanjutan bagi manusia serta alam.
[Kelembagaan dan Humas Lazismu Pusat/POROZ]

