

TANGERANG – Setiap terjadi bencana masjid kerap terdampak alami kerusakan. Risiko bencana tak bisa dihindarkan. Sejatinya, jamaah masjid bisa memitigasi risikonya sebagai suatu komunitas. Maka, peningkatan kapasitas jamaah perlu diberikan agar tangguh hadapi bencana.
Kenyataannya tidak semua jamaah masjid mengenal risiko bencana. Berdasarkan data BNPB, sepanjang tahun 2025 tercatat sebanyak 813 tempat ibadah mengalami kerusakan akibat bencana banjir dan tanah longsor.
Berdasarkan kondisi itu, Wakil Sekretaris MDMC PP Muhammadiyah, Budi Santoso, pada Selasa (25/2/2026) mengatakan bahwa pendampingan terhadap komunitas masjid harus terus dilakukan mengingat tingginya angka kerusakan tempat ibadah akibat bencana.
“Program ketangguhan komunitas berbasis masjid telah digagas lewat jamaah tangguh bencana. MDMC dan Lazismu akan terus memperkuat upaya pengurangan risiko bencana melalui program yang dirancang sebagai bagian dari pendampingan komunitas,” ujarnya.
Karena itu, agenda yang telah dirancang tersebut akan dilaksanakan selama enam bulan, dimulai pada Mei hingga Oktober 2026, yang dilaksanakan di tiga wilayah, antara lain Sumatera Utara, Maluku Utara, dan Kalimantan Barat.
Program ini digagas sebagai respons terhadap tingginya dampak bencana terhadap fasilitas ibadah. “Kondisi tersebut menunjukkan pentingnya penguatan kapasitas masyarakat berbasis masjid dalam menghadapi ancaman bencana,” pungkasnya.
Selain itu, program masjid tangguh bencana (MASTANA), akan melengkapi peran masjid yang tidaj hanya berfungsi sebagai tempat ibadah, tetapi juga sebagai pusat mitigasi, evakuasi, dan edukasi kebencanaan bagi masyarakat sekitar.
Pelaksanaan program dilakukan melalui kolaborasi antara MDMC dan Lazismu bersama LRB-MDMC PWM dan PDM setempat, serta didukung oleh LPCRA dan Majelis Tabligh Muhammadiyah. Sinergi lintas lembaga ini diharapkan dapat memperkuat ketangguhan masyarakat berbasis masjid dalam menghadapi risiko bencana.
Fokus utama program adalah peningkatan kapasitas komunitas masjid dalam mengenali risiko bencana, melakukan upaya mitigasi, serta meningkatkan kesiapsiagaan. Kegiatan yang akan dilaksanakan meliputi pelatihan peningkatan kapasitas serta pembentukan komunitas tangguh bencana berbasis masjid dengan pendekatan One Muhammadiyah One Response (OMOR).
Program ketangguhan berbasis masjid ini merupakan bagian dari komitmen MDMC dan Lazismu dalam memperkuat resiliensi masyarakat di seluruh fase penanggulangan bencana, tidak hanya pada tahap tanggap darurat tetapi juga pada upaya pengurangan risiko dan kesiapsiagaan.
[Kelembagaan dan Humas Lazismu Pusat/MDMC]

