

JAKARTA – Meningkatkan kompetensi dan etos kerja amil menjadi bagian dalam program pemberdayaan Lazismu Pusat. Salah satunya dengan menggelar sertifikasi amil yang tergabung dalam peserta program Philanthropy Academy dengan metode portofolio.
Program Philanthropy Academy merupakan program pemberdayaan yang didesain untuk meningkatkan kapasitas peserta dengan pengetahuan, keterampilan dan pengalaman praktis, dalam pengelolaan program filantropi.
Uji kompetensi untuk peserta program Philanthropy Academy adalah babak baru Lazismu dalam program pemberdayaan untuk generasi muda. Ujian kompetensi digelar pada Senin, (11/6/2026), yang diikuti oleh 11 peserta di Gedung Pusat Dakwah Muhammadiyah.
Menurut Direktur Program Pendistribusian dan Pendayagunaan Lazismu Pusat, Ardi Lutfi Kautsar, tujuannya, untuk mencetak generasi profesional yang kompeten dalam mengelola kegiatan filantropi, secara efektif, akuntabel, dan berkelanjutan sejalan dengan kebutuhan Masyarakat dan perkembangan zaman.
“Pendekatan portofolio adalah peningkatan kapasitas dengan pembelajaran yang menekankan perencanaan kegiatan yang hasil kerjanya kemudian dikumpulkan dalam satu periode waktu yang telah ditentukan”, jelasnya.
Perencanaan kegiatan, mencakup aspek penghimpunan, pendistribusian dan pendayagunaan, dan pengelolaan dana zakat, infak, dan sedakah. Ardi mengatakan, peserta ditempatkan di berbagai divisi sesuai dengan kebutuhan organisasi dan minat pengembangan masing-masing.
“Semua peserta diharapkan memperoleh pengalaman langsung dalam pengelolaan program filantropi secara komprehensif”, tuturnya.
Dalam Uji Kompetensi itu, Manager Program Pendistribusian dan Pendayagunaan Lazismu Pusat, Shofia Khaerunnisa, mengatakan bahwa secara teknis, sesuai sasaran programnya, menggunakan dua skema program sertifikasi.
“Pertama skema sertifikasi klaster pelaksanaan pendistribusian dan pendayagunaan zakat, dan yang kedua, skema sertifikasi klaster pelaksanaan penghimpunan donasi zakat”, paparnya.
Dari indikator kinerja, kata Shofia, ada meningkatnya jumlah sumber daya amil filantropi profesional dan peningkatan kualitas pengelolaan zakat di lembaga amil zakat, khususnya Lazismu Pusat.
“Setiap peserta mampu memiliki 1 dokumen portofolio dan memiliki suatu hasil berupa tersusunnya laporan praktik individu”, pungkasnya. Ia berharap sesuai perencanaan 80 persen peserta Uji Kompetensi dalam program Philanthropy Academy lulus sertifikasi.
Ihwaluddin Arya Putra, salah seorang peserta uji kompetensi sertifikasi melalui skema Pendistribusian dan Pendayagunaan menyampaikan bahwa melalui uji kompetensi metode portofolio saya merasa diberikan ruang untuk menunjukkan proses belajar, pengalaman, dan kemampuan yang selama ini dijalani.
“Terima kasih kepada pihak Lembaga Sertifikasi Profesi PP Muhammadiyah dan asesor yang telah mendampingi proses ini dengan baik. Semoga hasilnya membawa manfaat untuk langkah profesional ke depan”, imbuhnya.
Hal senada diungkapkan Hafiz Ardhiyansah, bahwa bersama yang lain, peserta Philanthropy Academy yang mengikuti proses uji kompetensi mengungkapan rasa syukur bisa mengikuti uji kompetensi ini.
”saya sangat senang bisa mengikuti uji kompetensi untuk sertifikasi profesi melalui skema penghimpunan”, katanya seraya mengucapkan terima kasih kepada Lazismu Pusat yang telah memberikan kesempatan untuk dapat magang selama satu tahun bahkan diberikan kesempatan untuk mengikuti sertifikasi ini.
Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP) PP Muhammadiyah, Berlin, menyampaikan atas nama LSP, kami mengucapkan selamat mengikuti uji kompetensi kepada seluruh peserta. ”Berharap kegiatan ini dapat menjadi sarana pengakuan kompetensi yang objektif, profesional, dan bermanfaat bagi pengembangan karier peserta di masa mendatang”, ujarnya.
Adapun bertindak sebagai asesor yaitu, Muarawati Nur Malinda dan Edi Suryanto. Keduanya merupakan asesor tersertifikasi yang telah diakui kompetensinya berdasarkan LSP PP Muhammadiyah.
[Kelembagaan dan Humas Lazismu Pusat]

