

Rakernas merupakan agenda tahunan Lazismu. Tahun ini adalah Rakernas ke enam untuk periode kami. Rakernas pertama di Sidorarjo Jawa Timur pada 2016. Berturut-turut di Jogja (2017), Semarang (2018), dan Lombok NTB (2019). Pada 2020, pandemi covid memaksa Rakernas diselenggarakan secara online. Mestinya lima tahun periode kepengurusan kami selesai pada 2020 itu juga. Tetapi pandemi covid memaksa Muhammadiyah menunda Muktamar yang direncanakan di Solo pada 2020 menjadi pada 2022. Dampaknya, sebagai unsur pembantu pimpinan kami di Lazismu mengalami perpanjangan masa pengabdian. Periode kami ditambah sampai Desember 2022. Semoga Rakernas 2021 ini menjadi Rakernas terakhir untuk periode kami.
Kali ini Rakernas kami selenggarakan dengan beberapa rangkaian. Rangkaian pertama bimbingan teknis (Bimtek) Sistim Informasi Manajemen (SIM) Keuangan. SIM ini menjadi mimpi lama kami sejak Rakernas Lombok 2019. Proses pembuatannya sempat berlarut-larut. Setelah digarap Tim ITC UMY, menjelang Rakernas 2021 SIM ini sudah kelihatan wujudnya. Proses selanjutnya adalah Bimtek. Acara ini diikuti para calon operator yaitu staf keuangan Lazismu Pusat dan Wilayah di seluruh Indonesia. Harapannya sebelum launching berbagai kekurangan SIM ini bisa diperbaiki. Alhamdulillaah agenda Bimtek SIM Keuangan ini berlangsung sukses pada 23-26 Nopember 2021 di Yogyakarta.
Kedua, Pra Rakernas. Acara ini diisi laporan dari Lazismu Wilayah seluruh Indonesia. Tentu laporan tertulis sudah dikirimkan melaui email, website, maupun medsos. Dalam Pra Rakernas masing-masing Wilayah cukup menyampaikan ringkasan dari laporan tertulis mereka. Dengan begini proses persidangan bisa berjalan efektif dan efisien. Sebelum laporan Wilayah Pak Marpuji Ali, Bendahara Umum PP Muhammadiyah, yang membawahi langsung Lazismu menyampaikan amanat. Beliau menegaskan agar Lazismu menjadi lembaga amil yang berkemajuan dan selalu bisa menjaga marwah Persyarikatan. Untuk itu harus dibarengi dengan kerja keras atau jihad. Bagi Pak Marpuji jihad adalah kerja keras yang tidak kenal Lelah. Siang malam. Mau rehat pun selalu ingat amanat yang harus ditunaikan. Untuk itu Pak Marpuji mengajak para amil Lazismu untuk menikmati kelelahan.
Selanjutnya Pak Marpuji mengajak para amil Lazismu menyempurnakan kerja keras dengan bekerja secara berjamaah. Prestasi-prestasi yang sudah diperoleh Lazismu adalah hasil kerja berjamaah, bukan prestasi perorangan. Untuk itu soliditas Pusat, Wilayah, Daerah, dan KL harus selalu dijaga. Kebersamaan dijaga agar setiap proses tidak melahirkan perpecahan. Berjamaah tidak berarti tidak ada perbedaan pandangan. Lazismu harus piawai menyatukan perbedaan itu dengan mengambil mana yang lebih maslahat. Tidak lupa beliau meminta kami untuk bisa menikmati kritikan dan cobaan agar ke depannya lebih bagus lagi. Tahan uji dan tahan banting sesuatu yang sangat penting dalam mengelola amanah yang sangat mulia sebagai amil Lazismu.
Rapat Kerja Nasional (Rakernas) 2022 akhirnya terselenggara di Asrama Haji Pondok Gede. Setelah menerima masukan dari Lazismu Banten dan PWM Banten, serta saran dari Sekum dan Ketum PP Muhammadiyah, aku mengadakan rapat pleno Badan Pengurus mendadak. Kami menentukan jadi dan tidaknya Rakernas diselenggarakan di Pantai Anyer. Sebelumnya survei dilakukan di beberapa hotel di Banten dan Jakarta. Akhirnya kami memilih Asrama Haji Pondok Gede. Pilihan ini juga atas saran Dirjen Penyelenggaraan Haji dan Umroh Kemenag, Prof. Hilman Latief, yang sebelumnya adalah Ketua BP Lazismu yang aku lanjutkan kepemimpinannya. Secara keseluruhan peserta sangat senang dengan lokasi penyelenggaraan ini. Asrama Haji kini telah mengalami banyak perbaikan sehingga serasa hotel berbintang. Bersih, layanan baik, lokasi, dan masjidnya nyaman.
Rakernas Lazismu 2022 dilaksanakan dengan beberapa target. Antara lain memperkuat koordinasi dan konsolidasi kelembagaan, merumuskan program prioritas untuk pencapaian SDG’s, merumuskan strategi penghimpunan, pengelolaan, dan penyaluran dana ZISKA (zakat, infak, sedekah, dan dana sosial keagamaan lainnya), serta integrasi sistem digital. Adapun materi-materi yang disampaikan yaitu Inovasi Sosial untuk Pencapaian SDG’s, Sharing Program Unggulan Lazismu Wilayah, Paparan Target Indikator Kinerja Utama (IKU) dan Indikator Kinerja Aksi Layanan (IKAL) 2022, Program Prioritas dan Pencapaian SDG’s, serta RAPB 2022.
Tema Rakernas 2021 ini adalah Inovasi Sosial untuk Pencapaian SDG’s. Ketua Panitia Dr. Nuryadi Wijiharjono yang merupakan Sekretaris BP Lazismu menyampaikan bahwa inovasi adalah cermin spirit Muhammadiyah yakni tajdid (pembaharuan). Kemudian Nuryadi juga menyinggung pesan Kiai Dahlan dalam pidato terakhirnya. Bahwa ada tiga hal yang menyebabkan masyarakat hancur: pertama, banyak bicara kurang bekerja. Kedua, kurang wawasan. Ketiga, hanya memikirkan kelompok sendiri. "InsyaAllah Lazismu tidak seperti itu. Buktinya sidang-sidang komisi harus menghasilkan program inisiatif yang merangsang kreativitas dan imajinasi untuk sampai ke inovasi."
Inovasi sosial merupakan gagasan lanjutan dari agenda aksi Lazismu lima tahun terakhir. Inovasi Sosial adalah gagasan dan implementasi. Ia berupa solusi-solusi inovatif, efektif, dan kreatif. Ia menginspirasi dan meningkatkan kesejahteraan dan kualitas hidup individu ataupun masyarakat, dan menyelesaikan masalah-masalah sosial dan lingkungan. Sebagai konsep inovasi sosial beririsan dengan konsep-konsep lainnya dalam strategi penguatan LSM dan gerakan filantropi: social entrepreneurship, social business/enterprises, philanthropreneurship, dan sustainable development. Untuk Lazismu sendiri inovasi sosial meliputi enam pilar Lazismu: sosial dakwah, pendidikan, kesehatan, ekonomi, kemanusiaan, dan lingkungan. Dalam hal ini Lazismu akan mendorong para inovator melakukan kewirausahaan sosial di berbagai daerah untuk melakukan perubahan kolektif berbasis komunitas. Inovasi Sosial yang sudah berjalan di Lazismu adalah Klinik Apung Said Tuhuleley, Bank Ziska/microfinance, dan Edutabmu.
Sebagai Ketua Lazismu Pusat aku menyampaikan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah terlibat menyukseskan gelaran Rakernas Lazismu ini. Aku meminta Ketum PP Muhammadiyah Prof. Haedar untuk memberi amanat kepada kami Lazismu seluruh Indoensia, terutama peserta Rakernas. Tentu saja juga Prof. Hilman Latief. Asrama Haji yang menjadi lokasi Rakernas ini berada di bawah koordinasi Direktorat yang beliau pimpin. Selanjutnya karena narasi tentang tema Rakernas sudah diuraikan dengan sangat baik oleh Mas Nur, panggilanku untuk Sekjen Lazismu Dr. Nuryadi Wijiharjono, maka aku meringkas sambutanku sebagai pidato pengantar Rakernas ke dalam dua buah pantun.
Tugu Monas indah menawan
Cuaca nan panas terasa menyejukkan
Rakernas adalah amanat Pedoman
Keputusan-keputusan terbaik harus kita tetapkan.
Lari pagi di Istora Senayan
Minum jus tomat enak menyegarkan
Inovasi sosial kita jadikan semboyan
Dengan itu masalah umat kita ikut pecahkan
Puncak dari acara pembukaan Rakernas adalah amanat Ketum PP Muhammadiyah Prof. Haedar Nashir. Pak Haedar berharap Rakernas Lazismu ini dapat berjalan lancar. Beliau juga menyampaikan penghargaan dan apresiasi dari PP Muhammadiyah atas kerja Lazismu yang membawa pada kemajuan dan memperoleh banyak penghargaan dari berbagai pihak. Selanjutnya beliau berpesan bahwa kita harus menggairahkan, menggembirakan umat kita. Ini agar umat memiliki etos kerja yang tinggi, cerdas berilmu, dan kemudian berdaya saing. Dengan begitu umat bisa merengkuh kehidupan dengan baik. Bagi Pak Haedar ZIS (zakat, infak, dan sedekah) bukan hanya sebagai tempat lalu lintas penggalian dan tasharuf harta. "Lembaga amil harus punya nilai untuk membangun kehidupan yang baik sesuai dengan tatanan Islam yang membawa pada keselamatan, kebahagiaan, kebaikan yang tawazul, yang seimbang antar berbagai aspek kehidupan."
Selain itu, Haedar mengajak amil Lazismu untuk terus belajar. Selain ikhtiar-ikhtiar praksis pengelola Lazismu harus juga memperkaya kerohanian. Sehingga bisa hadir di tengah masyarakat, di tengah umat, di tengah manusia dan kemanusiaan universal, menjadi pemandu kehidupan. Terakhir Haedar berpesan kepada seluruh peserta dan penyelenggara Rakernas Lazismu 2022 agar tetap menjaga protokol kesehatan. Dengan menjaga protokol kesehatan, amil Lazismu menjadi teladan bagi umat. "Jaga protokol kesehatan dengan ikhlas. Perlu gembira. Tetapi kerumunan tetap dihindari. Agar kita menjadi uswah hasanah. Menjaga prokes dengan baik adalah bagian dari ZIS juga. Kita berzakat, berinfak, dan bersedekah dengan keteladanan."
Jogja, Ahad 12 Desember 2021. Jam 09.10 KA Taksaka perlahan meninggalkan Gambir. Ada lelah terasa di badan. Menjadi ketua memang menuntut tanggung jawab dan intensitas yang lebih tinggi. Dalam dua minggu terakhir aku dua kali bolak-balik Jogja-Jakarta dengan selingan tiga hari di Ambon. Tetapi sungguh pikiran dan perasaanku lega. Mengutip Pak Marpuji, mungkin ini yang disebut menikmati kelelahan. Rakernas tadi malam kami tutup dengan suasana sangat gembira. Berbagai hal penting jadi keputusan. Target penghimpunan, misalnya, dinaikkan sampai 25%. Ketika pagi ini sebagian besar peserta mengikuti city tour ke Lubang Buaya, aku melanjutkan langkah pulang ke Jogja. Semoga Lazismu bisa menyelesaikan periode transisi yang hanya satu tahun ini dengan baik. Melakukan akselerasi dengan berbagai inovasi sosial di segala penjuru. Aamiin…
Menteng Raya 62 Jakarta, 29-12-21
Mahli Zainuddin Tago
[PR Lazismu PP Muhammadiyah/Mahli Zainuddin Tago]

Saya hanya bisa merenungkan korban-korban bencana awan panas guguran Gunung Semeru yang kehilangan sanak saudaranya. Dalam keadaan seperti ini, mana mungkin mereka bisa merenung mencari ide seperti yang tengah saya lakukan?
Yang sempat mereka pikirkan adalah bagaimana cara menemukan jasad sanak saudaranya. Bagi yang sudah ditemukan, mereka akan menyesal sejadi-jadinya, perihal kebaikan-kebaikan yang belum sempat mereka berikan kepada almarhum, atau perihal kesalahan-kesalahan yang belum sempat mereka mintakan maaf kepada almarhum.
Mereka juga berpikir perihal rumah yang telah begitu nyaman ditinggali, yang tiba-tiba hancur lebur tak berbekas. Mereka yang sehari-hari bekerja sebagai petani, yang ketika panen tiba-tiba pemerintah malah impor hasil tani, bagaimana bisa membangun rumah menjadi seperti semula?
Mereka juga mengkhawatirkan nasib anak-anaknya. Anak-anak ringkih itu butuh tempat tinggal untuk melindungi diri dari dinginnya malam dan teriknya siang. Namun, di mana mereka akan berteduh, ketika rumah yang selama ini mereka tinggali telah luluh lantah oleh awan panas guguran Gunung Semeru?
Sepertinya, mereka tak sempat memikirkan hal lain, karena dunia yang mereka huni tiba-tiba menjadi gelap, sempit, dan menyesakkan. Berbeda dengan saya dan kamu masih sempat membaca tulisan ini, yang bisa merasakan nikmat berpikir dan merenung.
Dalam perenungan saya, saya tak kunjung mendapatkan ide menarik. Maka saya pergi ke ruang tengah. Saya nyalakan televisi, saya putar acara ceramah. Bukan karena saya suka mendengarkan ceramah di TV, bukan. Namun karena tidak ada acara lain yang lebih bagus.
Kebetulan sekali, penceramah di TV itu mengatakan bahwa salah satu nikmat terbesar manusia yang diberikan oleh Allah adalah nikmat akal. Lebih lanjut, ia mengatakan bahwa yang membedakan manusia dengan hewan adalah kemampuan berpikir. Sambil mengutip seorang filosof klasik, ia berkata bahwa manusia adalah hewan yang berpikir.
Padahal, seperti yang saya tulis di atas, orang yang sedang berada dalam kesusahan akan sulit sekali berpikir secara jernih. Ia membutuhkan bantuan orang lain agar kemampuan intelektuilnya tetap berjalan. Agar ia tetap bisa memikirkan masa depan dengan baik dan benar.
Sampai titik ini, saya kemudian memahami bahwa bantuan-bantuan yang diberikan oleh Muhammadiyah adalah dalam upaya merawat akal sehat para korban bencana di manapun berada. Bayangkan saja, jika tidak ada relawan yang membantu korban bencana Semeru, atau korban bencana lainnya, maka para korban tersebut bisa tambah pusing. Beban yang ia terima tidak hanya kerugian materi atau kerugian jiwa, namun juga tekanan psikis yang tak mudah dilewati.
Tak heran, beberapa jam setelah terdengar berita tentang Semeru, grup WhatsApp yang berisi aktivis-aktivis MDMC dan Lazismu Pusat langsung ramai. Tercatat, guguran awan panas atau banjir lahar terjadi pada pukul 14.47 WIB. Pada pukul 17.54 WIB, grup tersebut mulai menunjukkan aktivitas.
"Lazismu segera galang dana. Nanti akan kami blasting," ujar seorang petinggi MDMC PP Muhammadiyah.
Rekomendasi tersebut disikapi dengan serius oleh Lazismu. Untuk wilayah Jawa Tengah saja, perolehan donasi siaga bencana hingga Rabu, 15 Desember, 11 hari setelah letusan Gunung Semeru, mencapai 2,3 miliar rupiah. Sementara itu, angka di Jawa Timur lebih fantastis lagi. Pada hari Selasa, 14 Desember, donasi siaga bencana yang digalang oleh Lazismu Jawa Timur mencapai lebih dari 2,5 miliar rupiah. Itu belum angka donasi secara nasional. Banyak betul!
Dana-dana tersebut digunakan untuk membantu korban bencana Semeru melalui relawan MDMC di seluruh Indonesia yang datang ke lokasi bencana. Kisah-kisah kerelawanan MDMC dengan funding Lazismu ini terekam banyak sekali di media online. Coba search di google dengan keyword "MDMC Semeru", maka ratusan artikel berita akan muncul. Donasi dari masyarakat melalui Lazismu pun bisa dilihat hasilnya.
Dengan donasi tersebut, para korban yang tengah berada di dunia yang sempit, gelap, dan menyesakkan, bisa sedikit merasa lega, terang, dan lapang. Mengingat, ada puluhan relawan yang sejak awal bencana hingga detik ini masih bertahan di Semeru untuk membantu mereka. Para korban tersebut kemudian bisa berpikir secara lebih jernih, mencari solusi terbaik dalam menghadapi situasi yang sulit.
Para relawan tersebut, meskipun tidak bisa menggantikan sepenuhnya sanak keluarga yang meninggal, setidaknya bisa mengurangi beban kehilangan orang-orang tersayang. Senyum tulus para relawan membuat dunia korban yang muram, menjadi tidak muram-muram amat. Membuat dunia korban yang gelap, menjadi ada setitik cahaya yang tetap hidup.
Cahaya tersebut adalah cahaya kemanusiaan, cahaya empati, cahaya kepedulian. Cahaya tersebut menyinari umat manusia agar mampu berpikir lebih jernih dan lebih baik. Tentunya, agar mampu merenung seperti yang sedang saya lakukan ini. Anehnya, saya masih merenung akan menulis apa, tapi kok tulisan ini sudah selesai?
(Yusuf)

Dalam rentang itu pula, Lazismu saat ini dianggap tengah bertransformasi menjadi the leading Islamic philantrophy in Indonesia, even in Southeast Asia dengan berbagai program inovatif, liberatif, dan transformatif. Salah satu yang membuat lembaga zakat infaq dan sadaqah ini dinilai progresif adalah tafsir dan praxisme sosialnya yang mengacu pada —-selain fatwa, 17 tema SDG’s PBB dan 13 isu penting hasil Muktamar Muhammadiyah 45 di Makassar. Dari sana misalnya, Lazismu berpendapat bahwa zakat itu diberikan kepada yang membutuhkan (whoever in the need, not essentially and specifically Muslims) untuk antara lain program kemiskinan, perlindungan HAM, buruh migran dan perempuan, serta pemberantasan korupsi.
Kini, kiprah Lazismu semakin ditunggu umat, bangsa, dan kemanusiaan universal. Aksinya tidak terbatas di level nasional, tetapi juga di masyarakat global (Philippina, Myanmar, Bangladesh, Nepal, Palestina, Yaman, dan Somalia dan sebagainya). Dengan kurang lebih 1000 kantor layanan dari Papua hingga Aceh, ribuan amil dan relawan, Lazismu membantu pengumpulan zakat, infaq dan sadaqah dan mendistribusikannya kepada para penerima. Dalam masa Covid-19, misalnya, Lazismu bersama majelis dan lembaga Muhammadiyah-Aisyiyah lainnya aktif mensupport MCCC (Muhammadiyah Covid-19 Command Center) menyalurkan dana senilai 1 trilyun lebih kepada masyarakat umum pada 2021 ini.
Di luar itu semuanya, tentu saja, sebagai sebuah institusi dan organisme yang dinamis, lembaga filantropi ini tampaknya masih perlu untuk terus melakukan otokritik atas kekurangan dan kelemahan, mengasah dan meningkatkan kapasitas kelembagaan, kecerdasan berinovasi, membangun jaringan, sinergi dan kolaborasi nasional dan global secara cerdas dan terbuka dengan institusi apapun.
Misi dan visi Lazismu perlu dipertajam di tengah tantangan jaman dan kemanusiaan yang semakin kompleks. Lazismu adalah gagang bagi Trisula Baru Muhammadiyah bersama MDMC (lembaga kebencanaan), MPM (majelis pemberdayaan masyarakat) dan MPS (majelis pelayanan sosial) yang menjadi garda depan dalam aksi-aksi kemaslahatan umum (public Good) dan praksisme sosial di Abad Kedua Muhammadiyah. Ia juga adalah ‘kumparan’ yang terus bergerak aktif-proaktif mengalirkan daya hidup bagi sekelilingnya.
Selamat Rakernas!
Sukses!
Paris, 11 Desember 2021
Andar Nubowo
(Dua artikel saya di jurnal Archipel Paris dan Social Sciences And Mission (Brill Amsterdam) yang akan terbit 2022 turut memotret kiprah Lazismu sebagai salah satu perwujudan praksisme sosial dan public Good institusi Wasathiyah Islam di Indonesia)
[PR Lazismu PP Muhammadiyah/Andar Nubowo]

Semua sifat yang ditimbulkan oleh bencana adalah sifat negatif. Bencana tidak pernah menimbulkan kebahagiaan, kecuali bagi sebagian elit yang suka mempermainkan proyek bencana. Maka, setiap umat beragama memiliki doa agar terhindar dari bencana. Namun, tetap saja, tak ada gading yang tak retak. Tak ada hidup yang mulus-mulus saja, yang terus-terusan berada di atas, yang penuh suka tanpa ada duka.
Bencana tetap saja selalu datang silih berganti. Kadang ringan, kadang berat, kadang juga sangat berat. Sintang, salah satu Kabupaten di Kalimantan Barat menjadi korban keganasan bencana. Sintang dan sekitarnya dihantam banjir berkepanjangan. Banjir tersebut bertahan selama lebih dari satu bulan. Pekan ketiga bulan Oktober menjadi awal yang muram bagi Kabupaten dengan jumlah penduduk 421.306 jiwa tersebut.
Banjir di Sintang tidak sama dengan Batu. Di Batu, banjir datang begitu kencang. Air bah meluluhlantakkan bangunan. Banjir di Batu meminta tumbal berupa korban jiwa. Sementara itu, banjir di Sintang datang pelan-pelan. Air naik sedikit demi sedikit. Namun, ketika air sudah sedemikian tinggi, ia tak sudi untuk surut hingga lebih dari satu bulan. Konon, di salah satu titik, ketinggian air mencapai 3 meter. Hampir dua kali lipat tinggi orang Indonesia.
Ekonomi lumpuh. Kegiatan sehari-hari mandek. Ibadah berjamaah libur. Penduduk Sintang menepi dari rumah yang sehari-hari mereka tinggali. Yang beruntung, bisa singgah di rumah sanak saudara. Yang tidak beruntung, mencari tempat yang tinggi di tengah hutan Kalimantan. Makan dari hasil hutan yang bisa dimakan. Tidur beralas tenda dari kayu, beratap langit.
Endang Kusmiyati, Koordinator Eksekutif Lazismu Sintang mengaku bahwa sepanjang hidup, ia tidak pernah merasakan banjir yang sedemikian besar seperti yang tengah ia alami.
Menurutnya, orang-orang tua di Sintang sering bercerita, bahwa banjir seperti saat ini pernah terjadi pada tahun 1964. Namun, durasinya tetap lebih lama banjir sekarang. Banjir saat ini lebih besar dari banjir besar yang terjadi 57 tahun silam!
Jalan Lintas Melawi, salah satu jalan utama di Sintang berubah menjadi sungai. Sehingga yang bisa melewati jalan tersebut hanya perahu. Seluruh transportasi darat lumpuh total. Padahal, jalan tersebut adalah satu-satunya jalan menuju Kabupaten terujung di Kalimantan Barat, yaitu Kabupaten Kapuas Hulu. Banjir di jalan ini kedalamannya mencapai 1 meter.
Menurut Kepala BNPB Mayjen TNI Suharyanto, Sintang tidak pernah mengalami banjir pada kurun waktu 1990-2010. Namun, hal tersebut berubah setelah terjadi kerusakan lingkungan dalam satu dekade terakhir.
Aldo Topan Rivaldi, relawan Muhammadiyah Sintang bercerita. Ia menemukan pengungsi yang mengungsi di hutan. Mereka minum di air keruh karena tidak ada air bersih sama sekali. Sementara itu, mereka tidak mungkin menahan rasa haus.
Selain itu, pengungsi yang berasal dari Desa Tebing Raya, Kecamatan Sintang itu juga tidur di pondok sederhana. Jangan harap bantal dan guling. Bebas dari gigitan nyamuk saja sudah merupakan kemewahan yang langka.
Pondok yang mereka tempati dibangun dari papan kayu. Papan kayu tersebut dilapisi tikar. Tentu saja tidak ada tembok. Yang ada hanya bekas terpal yang dijadikan dinding sekaligus atap. Di atas tikar, seluruh barang-barang diletakkan. Itupun hanya barang-barang yang bisa diselamatkan.
Di hutan, anak-anak kehilangan kesempatan belajar. Waktu satu bulan seharusnya bisa digunakan untuk mempelajari barang satu dua huruf, satu dua kosakata dalam bahasa asing, dan satu dua operasi matematika. Namun mereka kehilangan itu. Mereka justru sibuk mengeluh dan merengek kepada ibunya meminta pulang.
Di hutan pula, para orang tua tidak bisa bekerja. Sawah mereka terendam. Warung-warung mereka tutup. Jasa-jasa libur. Mereka menggantungkan hidup pada Tuhan melalui tabungan dan belas kasih relawan.
Melihat bencana yang begitu ganas, Persyarikatan Muhammadiyah yang dilahirkan oleh Ahmad Dahlan 109 tahun silam tak tinggal diam. Muhammadiyah tidak hanya membantu dalam doa, namun juga membantu dalam tindakan.
Sejak awal terjadi banjir, Muhammadiyah langsung mendirikan empat pos pelayanan. Empat pos tersebut tersebar di SMK Muhammadiyah Sintang, SMP Muhammadiyah Sintang, SD Muhammadiyah Sintang, Tebing Raya, dan Mungguk Bantok. Empat pos tersebut telah menjangkau setidaknya 178 KK dan 605 jiwa.
Belakangan, ketika air semakin tinggi, pos pelayanan di SMP Muhammadiyah Sintang terpaksa ditutup karena ikut terendam ganasnya banjir.
Muhammadiyah, melalui berbagai sayap organisasinya, membuka pos layanan kesehatan di 39 titik. Salah satunya adalah di Gereja Yonesius Engkrauk Entabuk Belitang Hilir. Kenapa Muhammadiyah membuka pos kesehatan di gereja? Karena Muhammadiyah sudah selesai dengan urusan-urusan toleransi tanpa perlu teriak-teriak paling toleran.
Muhammadiyah melakukan pendistribusian logistik, sejak awal hingga akhir November. Logistik yang didistribusikan oleh Muhammadiyah telah menjangkau hampir 4 ribu jiwa di Sintang, Ketapang, dan Sanggau. Ahad (28/11), mereka membagikan sembako dan hygiene kit sebanyak 1000 paket kepada warga di Tebing Raya, Entabuk, Sungai Asem, Engkrau.
Sementara itu, layanan kesehatan Muhammadiyah telah menjangkau hampir dua ribu jiwa. Layanan psikososial menjangkau 63 jiwa, dan dapur umum menjangkau hampir dua ribu jiwa. Muhammadiyah, tentu saja, juga melakukan pembersihan fasilitas umum ketika banjir sudah mulai surut akhir November silam.
Tim respon Muhammadiyah terdiri dari 198 orang. 82 orang di tim poskoor relawan, 10 orang tim logistik, 12 orang tim SAR, 45 orang tim kesehatan, 5 orang driver, 15 orang dapur umum, 23 orang relawan umum, dan 6 orang tim asistensi. Relawan-relawan tersebut didatangkan dari berbagai daerah, termasuk dari Jawa dan Sumatra.
Kini, beberapa daerah di Sintang sudah mulai surut. Jika menggunakan patokan Jalan Lintas Melawi, maka Sintang tergenang selama genap satu bulan. Namun, Sintang bukan hanya ada di Jalan Lintas Melawi. Hingga awal Desember, beberapa daerah seperti Kapuas Hulu, Selimbau, dan Semitau belum juga surut.
(Yusuf)

Di tengah situasi yang serba tidak pasti, masyarakat kelas menengah ke bawah terus dihantui dengan himpitan tuntutan hidup yang tinggi. Ada banyak mulut yang mesti diberi makan, ada banyak kebutuhan yang mesti dipenuhi.
Belum lagi tingginya curah hujan yang membawa banjir di berbagai tempat. Banjir bandang di Batu, Jawa Timur meminta tumbal korban jiwa. Banjir yang bertahan lebih dari tiga pekan di Sintang, Kalimantan Barat juga meminta korban. Banjir-banjir di tempat lain juga sama. Banjir selalu mendatangkan kesusahan hidup bagi korbannya.
Kendati demikian, apapun yang terjadi, hidup harus terus berlanjut. Harapan akan masa depan yang lebih baik terus dijaga. Manusia bisa bertahan tanpa makan dan minum dalam beberapa hari. Namun, manusia tidak bisa bertahan tanpa harapan, meskipun hanya sedetik saja.
Untuk terus memupuk harapan tersebut, rasa empati dari sesama menjadi kunci. Kepedulian orang lain yang memiliki harta lebih menjadi begitu penting. Ia adalah setitik embun di tengah padang pasir kemiskinan. Menariknya, kendati pendapatan masyarakat turun, namun mereka tetap berderma.
Dalam survei yang dilakukan oleh Lazismu bertajuk Dampak Sosial Ekonomi Covid-19 Terhadap Perilaku Berderma Masyarakat, dijelaskan bahwa perilaku berderma masyarakat tidak mengalami penurunan meskipun pendapatan mereka mengalami penurunan. Maka, tak heran jika survei lain mengganjar Indonesia dengan gelar negara dengan penduduk paling dermawan sedunia.
Contoh semangat berderma itu datang dari beberapa aktivis muda Muhammadiyah. Ali Muthohirin, Ketua Umum DPP IMM 2016-2018 itu rela melelang barang yang ia cintai, vespa, untuk korban banjir di Batu, Jawa Timur. Vespa yang ia beli dengan harga tidak murah tersebut ia maksudkan sebagai koleksi.
Namun, ia terhenyak ketika melihat korban banjir bandang di Batu. Ia ingin membantu korban. Namun, ia tidak sekedar membantu dengan donasi seratus dua ratus ribu. Tak tanggung-tanggung, ia lelang vespa kesayangannya. Ia merasa terpanggil dengan firman Allah dalam surat Ali Imran ayat 92 yang berbunyi:
لَن تَنَالُوا۟ ٱلْبِرَّ حَتَّىٰ تُنفِقُوا۟ مِمَّا تُحِبُّونَ ۚ وَمَا تُنفِقُوا۟ مِن شَىْءٍ فَإِنَّ ٱللَّهَ بِهِۦ عَلِيمٌ
Akhirnya, vespa tersebut terjual dengan harga 41 juta rupiah oleh seorang temannya di Surabaya. Rencananya, ia akan menyerahkan bantuan tersebut bersama dengan pembeli, baik langsung ke lokasi bencana atau melalui Lazismu.
"Sebelum bencana itu sempat ditawar orang dengan harga 45 juta, nggak saya lepas. Vespa itu kan soal selera dan hobi, jadi harganya bisa tinggi," ujar Ali.
Justru itu yang membuatnya melepas vespa untuk membantu orang lain. Vespa adalah barang yang ia cintai. Sedangkan, kata Allah, seseorang tidak sempurna imannya sampai berani menginfakkan barang yang ia cintai.
Contoh lain dari aktivis muda Muhammadiyah adalah adanya seorang tenaga pengajar yang mewakafkan tanahnya untuk SMK Muhammadiyah Pondok Pesantren Imam Syuhodo. Ia adalah Ninin Karlina. Aktivis MDMC Jawa Tengah dan PD Nasyiatul Aisyiyah Sukoharjo,
Ia memiliki tanah dengan luas +-100 meter persegi di samping gedung SMK Muhammadiyah Pontren Imam Syuhodo, Sukoharjo, Jawa Tengah.. Sebagai tenaga pengajar di sana, ia ingin memberikan lebih. Maka, ia merelakan tanahnya tersebut untuk dikelola oleh santri-santri yang ada di sana.
Sejatinya, tanah tersebut berada di tempat yang cukup strategis. Tanah tersebut menjadi rebutan banyak orang untuk memilikinya. Bahkan, ada yang ingin membeli dengan harga 10 kali lipat dari harga normal. Tanah tersebut juga bisa disewakan dengan harga yang tinggi.
Kini, tanah tersebut digunakan oleh para santri untuk ternak ikan gurami. SMK Pontren Imam Syuhodo Sukoharjo adalah pesantren SMK berbasis kewirausahaan. Sehingga, santri, selain belajar ilmu agama dan ilmu teknik, juga belajar berwirausaha. Tak heran, tanah tersebut dipilih untuk menjadi wahana latihan ternak ikan.
Dua contoh kedermawanan kader-kader muda Muhammadiyah tersebut layak menjadi teladan bagi kita semua. Bahwa semangat membantu orang lain harus tetap menyala. Di sisi lain, memberikan bantuan juga merupakan wujud dari rasa syukur kita kepada Tuhan Yang Maha Esa, atas segala kenikmatan yang tak terhitung jumlahnya.
Membantu orang lain berarti turut menghidupkan lilin harapan mereka yang hampir padam. Membantu orang lain berarti turut meyakinkan bahwa masa depan akan selalu lebih indah. Membantu orang lain juga berarti bahwa nilai-nilai kemanusiaan yang luhur itu belum luruh dalam arus modernitas. Bahwa masih ada nilai-nilai kebaikan dan kebahagiaan yang lestari.
(Yusuf)

Mereka berasal dari segala penjuru Nusantara. Dari Sumatera sampai Papua. Mereka juga dari ragam pemeluk agama. Sejak semula acara berlangsung ceria. Terutama bagi penerima beasiswa. Pandemi yang belum usai tidak menghalangi kemeriahan acara yang diselenggarakan oleh Lazismu Pusat ini. Tetapi di ujung acara suasana berubah menjadi syahdu. Air mata menggenang di pelupuk mata. Setidaknya di pelupuk mataku. Apa pasal? Inilah kisah tentang bagaimana sebuah program yang mensinergikan banyak pihak telah menemukan sasarannya yang tepat.
Sebagai lembaga filantropi yang menghimpun dana umat Lazismu telah lama mendukung pendidikan bermutu (quality education). Pendidikan bermutu merupakan salah satu dari tujuh belas indikator SDG's (Sustainable Development Goal) yang merupakan suatu rencana aksi global yang disepakati oleh para pemimpin dunia, termasuk Indonesia. Tujuannya mengakhiri kemiskinan, mengurangi kesenjangan, dan melindungi lingkungan.
Dalam hal ini Lazismu menyalurkan dana melalui beragam program di bawah pilar pendidikan. Di antaranya Save Our School (SOS), Bakti Guru, serta Beasiswa Mentari dan Beasiswa Sang Surya. Dalam penghimpunan dananya Lazismu melibatkan donatur yang turut peduli dalam bidang pendidikan. Salah satunya adalah Bank Mega Syariah (BMS).
Pada periode kedua tahun 2021 ini Lazismu menyalurkan Beasiswa Mentari dan Sang Surya untuk 500 penerima manfaat. Mereka terdiri dari 250 Siswa SD-SMP-SMA dan 250 mahasiswa. Secara khusus SMK Labschool UAD yang berada di Sambas Kalimantan Barat menerima dana Rp. 200 juta untuk 20 siswa mereka. Total dana yang disalurkan Rp. 857 juta.
Di sisi lain, 18 guru dari Labschool UAD ini juga sebagai penerima program Lazismu lainnya yaitu Bakti Guru 2020. Dana yang disalurkan berasal dari zakat dan infak yang dihimpun Lazismu Rp. 381 juta, zakat Bank Permata Syariah Rp. 216 juta, dan zakat BMS Rp. 260 juta. Muhammad Sabeth Abilawa, Dirut Lazismu menyampaikan antusiasme masyarakat untuk Beasiswa Lazismu ini sangat tinggi setiap periodenya. Pada periode ini pemohon yang masuk sebanyak 18.175 orang. Sedangkan kapasitas Lazismu untuk memenuhinya terbatas hanya untuk 500 orang.
Acara launching beasiswa ini dihadiri Lazismu Pusat, pihak Bank Mega Syariah, serta para penerima beasiswa. Dirut Lazismu Sabeth Abilawa mewakili manajemen Lazismu mangucapkan selamat dan berharap penerima memanfaatkan sebaik-baiknya beasiswa ini. Mereka diminta menjaga nama baik dan menjadi duta Islam berkemajuan.
Tetap menjadi seperti sang surya dan mentari yang senantiasa mencerahkan, menyinari, dan memberi enegri. Penerima hendaknya terus bersemangat dan memberi kemanfaatan kepada umat, bisa membanggakan bagi keluarga, dan bisa berhasil dalam capaian sekolah atau kuliah mereka. Selanjutnya Sabeth mohon doa agar Lazismu bisa berbuat lebih banyak lagi di masa-masa yang akan datang.
Bank Mega Syariah (BMS) diwakili kepala divisi Corporate Secretary Ratna Wahyuni. Beliau berterima kasih pada Lazismu yang telah memfasilitasi kegiatan ini. Beliau juga berharap beasiswa sebagai tanggung jawab sosial perusaahaannya ini dapat memberi manfaat sebaik-baiknya bagi seluruh penerimanya. Selanjutnya Ratna mohon doa semoga BMS dapat terus berkembang dan menjadi lebih besar.
Dengan begitu dapat memberi manfaat lebih banyak bagi seluruh rakyat Indonesia. Khususnya kepada masyarakat muslim. Lazismu diharapkan terus berkoordinasi sehingga BMS dapat bekerjasama dalam setiap kegiatan Lazismu. Menjawab Bu Ratna aku mengucapkan, “Terima kasih Bu Wahyuni dari BMS yang sudah menyalurkan dana yang besar untuk program beasiswa ini. Insya Allaah akan berlanjut dan Lazismu siap menjalankannya. Bahkan dalam jumlah yang lebih besar.”
Sebagai Sekretaris Badan Pengurus Lazismu aku menyampaikan beberapa pesan kepada para siswa dan mahasiswa. Pertama, selamat atas penerimaan beasiswa ini. Ini harus disyukuri dengan belajar lebih fokus dan lebih serius. Dengan bersyukur maka Allaah akan menambah nikmat-Nya sebagaimana ayat lain syakartum laaziidannakum.
Kedua, mengacu pada Q.S. Al-Lail ayat 5-7 barang siapa yang suka berbagi maka dimudahkan Allaah ke jalan yang mudah. Sebaliknya kalau pelit maka dimudahkan ke jalan yang sulit. Adik-adik penerima beasiswa diharapkan suka berbagai dalam bentuk tenaga dan pikiran. Mereka harus ringan tangan dalam membantu orang lain.
Misalnya, menjadi guru mengaji di TPA. Atau menjadi pembimbing belajar anak-anak SD-SMP-SMA. Terakhir saya menegaskan dalam rangka menuntut ilmu jangan pernah menyerah. Jangan pernah putus asa. Selalu ada jalan. Salah satu cara membuka jalan itu adalah dengan suka berbagi.
Aku menutup sambutan ini dengan dua pantun. Pertama, “Kalau hendak mendaki gunung Merapi/mari mendaki dengan gembira hati/Selamat kepada para penerima beasiswa ini/jadikan motivasi untuk terus berprestasi.”
Pantun kedua, “Agar-agar dan jadah untuk sarapan/sate klatak dan jus mentimun untuk makan siang/Agar dimudahkan urusan dan semua jalan/jadikan suka berbagi sebagai kebiasaan. Dua pantun ini mendatangkan kegembiraan. Terbukti para peserta menepukkan tangan dengan semangat.
Lalu sampailah pada sambutan terakhir yang diwakili penerima manfaat dari SMK Labschool UAD di Sambas. SMK ini dihadirkan di Sambas oleh UAD yang berada di Jogja setelah sebelumnya mahasiswanya melaksanakan KKN selama empat periode disana. Jadi ini merupakan respon UAD atas permintaan masyarakat sekitar.
Pada kesempatan peresmian sekolah ini Pak Kasiyarno, rektor UAD saat itu (14/05/2018), mengatakan sarana pendidikan ini berkonsep pesantren dan fokus pada jenjang SMP dan SMK. Pembangunan sekolah ini juga selaras dengan program unit sekolah baru (USB) yang dicanangkan Kemendikbud RI. Lahan yang digunakan seluas 15 hektar yang sebagiannya merupakan lahan wakaf. Lebih lanjut beliau menerangkan, “Boarding school ini merupakan laboratorium UAD. Dari Jogja kami memberikan dukungan infrastruktur dan sumber daya manusia (SDM) untuk Sambas.”
Sambutan atas nama SMK Labschool UAD Sambas disampaikan oleh salah satu gurunya Bu Hesti. Bu guru ini berpidato secara online. Setelah salam, hormat, dan terima kasih Bu Guru mohon maaf karena suaranya terputus-putus. Lalu dia mematikan videonya. Tetapi suara Bu Guru Hesti tanpa video tetap tersendat-sendat. Ternyata Bu Guru mulai terbawa perasaan. Dia bercerita tentang sekolah dan para muridnya. Sekolah mereka berada di daerah 3T (terjauh, termiskin, dan tertinggal). Para orang tua lebih memilih anak bekerja di negeri jiran daripada lanjut sekolah. Anak-anak cukup tamat SD.
Sebagian anak sudah berada di Malaysia karena orang tua mereka sudah lama disana. Disana anak-anak mereka tidak bisa mengakses sekolah. Lalu hadirlah sekolah labschool UAD di Sambas. Maka Bu Hesti dan kawan-kawan memberikan pencerahan kepada para orang tua. Agar mereka mengizinkan anak-anak sekolah.
Anak-anak di perbatasan nan jauh itu lalu diusung ke Labschool UAD di Sambas. Untuk itu Bu Hesti dan kawan-kawan menempuh jarak ratusan kilo. Mereka harus menyeberangi banyak sungai dan melewati beberapa gunung. Meski demikian mereka sangat bersyukur telah diberi kesempatan untuk terus berkarya untuk bangsa. Walaupun dengan dengan berbagai keterbatasan.
Bu guru ini juga mengucapkan terima kasih kepada Lazismu Pusat dan kepada BMS selaku donatur Sang Surya. Tiba-tiba Bu Guru Hesti terisak. “Tidak bisa diungkapkan dengan seribu bahkan berpuluh ribu kata …. Terima kasih telah mendukung perjuangan kami. Mendukung perjuangan Muhammadiyah meningkatkan Pendidikan… di pedalaman yang jauh ini.” Tangis haru Bu Hesti dari Sambas menjadi bukti program yang mensinergikan banyak pihak ini telah menemukan sasarannya yang tepat. Alhamdulillaah.
Penulis: Mahli Zainudin Tago (Ketua Badan Pengurus Lazismu PP Muhammadiyah)

