Artikel

Jelajahi artikel pilihan Lazismu. Dapatkan panduan praktis seputar ZIS serta kisah-kisah menyentuh tentang dampak kebaikan Anda bagi sesama

LETUSAN SEMERU, LAZISMU, DAN KERJA KEMANUSIAAN BERKELANJUTAN

JAKARTA -- Stasiun Kepanjen, Malang Selatan, Ahad, 25 Desember 2021. Matahari baru menampakkan dirinya di puncak Gunung Semeru ketika kereta api yang aku naiki perlahan berhenti di stasiun kecil selatan Malang ini. Aku dalam perjalanan melihat aktivitas Lazismu dan MDMC terkait erupsi Semeru di Kabupaten Lumajang. Kantukku belum lagi hilang sepenuhnya. Aku berangkat dari Stasiun Tugu jam 00.30 dinihari dan sebelumnya beberapa jam mengikuti rapat online BP Lazismu. Tidurku yang biasanya nyenyak di kereta api malam ini sedikit kurang nyaman. Sandaran kursi tempat dudukku tidak bisa direbahkan. Maklumlah kereta api kelas bisnis. Tetapi ketika melangkah keluar dari stasiun aku terkejut. Ada lima mobil menyambut kedatanganku. Mereka adalah rombongan PDM Lumajang, Lazismu Lumajang, PDM dan PDA Kabupaten Malang, Tim MDMC, dan tentu saja tim Lazismu Jatim. Sungguh ini penghormatan yang luar biasa. Maka lelah dan kantukku sirna seketika.

Sebelum menuju lereng Semeru, kami singgah di dua titik. Titik pertama rumah makan. Sepiring nasi rawon, segelas kopi susu, dan suasana hangat rombongan menguatkan kembali jasmani dan ruhaniku. Titik kedua rumah dr. Sri Sunarti, Sp.PD pengurus Aisyiyah Kabupaten Malang. Beberapa kamar bersih ber-AC lengkap dengan kamar mandi siap menjadi tempat transit tokoh Muhammadiyah yang berkunjung di kawasan Malang Selatan. Aku kembali segar setelah mandi dan berganti baju dinas Lazismu. Kesegaranku berkembang menjadi haru ketika berkeliling ke bagian belakang rumah. Rumah ini seperti botol, besar ke dalam. Ada gedung asrama bertingkat, ruang-ruang kelas, dan kantor. Lalu ada 90 santri penghuni yang sedang menyambut pagi dengan gembira. Mereka bercakap-cakap dalam Bahasa Inggris. Rumah keluarga ini ternyata sudah diwakafkan dan menjadi Panti Asuhan dan MBS Al Amin Putri. Orang-orang seperti keluarga Bu Dokter inilah yang banyak membesarkan Muhammadiyah dimana-mana. Orang-orang yang suka berbagi.

Selanjutnya kesegaran dan keharuanku bertambah dengan sebuah kebanggaan. Aku disinggahkan di SMK Muhammadiyah Gondang Legi. Sekolah ini sangat menarik. Gedung utamanya berlantai lima. Laboratoriumnya yang bernama Samsung Tech Institute dan arsitektur yang futuristik membuat aku merasa seakan sedang berada di Korea. SMKM ini telah menginspirasi banyak SMK Muhammadiyah lainnya. Salah satunya SMKM Adiwerna Tegal. Menurut Kang Amir, teman SMA-ku yang menjadi PCM Adiwerna, SMKM Adiwerna mulai bangkit dua tahun terakhir ini. Sebelumnya nyaris kehabisan murid. Tahun ini mereka harus menambah ruang baru seiring dengan peningkatan berlipat jumlah siswa baru. Ini semua berkat sentuhan dan inspirasi dari SMKM Gondanglegi. Pagi ini di SMKM Gondanglegi kami mengunjungi KL Lazismu yang sudah berdiri lama. Kami diantar Ustadz Anis, amil Lazismu sekaligus dai LDK untuk kawasan Malang Selatan. Kami menikmati kebanggaan ber-Lazismu dan ber-AUM di lembaga pendidikan yang hebat ini.

Kesegaran, keharuan, dan kebanggan, mengantarkan aku melanjutkan perjalanan bersama rombongan menuju lereng Gunung Semeru di Pronojiwo, Kabupaten Lumajang. Jarak Kepanjen-Pronojiwo tidak jauh. Hanya 57 km. Tetapi kondisi jalan berbelok-belok membuat perjalanan tidak bisa terlalu laju. Aku menikmati perjalanan ini karena serasa perjalanan menuju kampung halamanku di Kerinci di tengah Bukit Barisan Sumatera Tengah. Beberapa bukit dengan hutan primer yang masih terpelihara membuat kesan pulang kampung menjadi makin terasa. Udara juga terasa sangat sejuk. Seandainya rumah-rumah penduduk beratapkan seng maka suasana pegunungan di lereng Semeru ini persis sama seperti di kawasan bukit barisan di Sumatera. Aku memang sudah lama rindu kampung halaman. Sejak pandemi Covid-19 melanda dan aktivitas di Lazismu meningkat pesat, dua tahun sudah aku menahan rindu pada kampung halamanku. Dasar orang kampung.

Sekitar jam 10.00 pagi kami sampai di titik pertama pengungsian di Pronojiwo. Pronojiwo berubah menjadi kota relawan. Dimana-mana berdiri posko dengan bendera dan atribut masing-masing lembaga kemanusiaan. Nasional maupun lokal. Beberapa posko sudah menarik diri. Salah satu yang masih bertahan adalah pos koordinasi (Poskor) MDMC-Lazismu. Ketika kami tiba suasana Poskor ini sangat hidup. Puluhan anak muda berseragam Relawan Muhammadiyah sibuk melaksanakan tugas masing-masing. Menariknya ada banyak ibu-ibu yang tidak kalah sibuknya. Juga ada rombongan demi rombongan yang datang menyerahkan langsung bantuan untuk penyintas. Aku diminta teman-teman sebagai orang pusat mewakili mereka menerima bantuan demi bantuan itu secara simbolis. Tercatat ibu-ibu dari PCA DAU Malang datang dengan nilai bantuan sebesar Rp. 8.500.000,-. Mereka mereka juga menyerahkan beberapa kardus berisi berbagai barang keperluan para pengungsi.

Sekitar seratus meter di arah belakang Poskor sebuah rumah milik salah satu pengurus PCM Pronojiwo bertambah fungsi menjadi dapur umum. Di sini bersama rombongan aku menemui beberapa ibu. Mereka ternyata berasal dari Cabang-cabang Aisyiah di seputar Gunung Semeru. Atas izin suami mereka berjihad meninggalkan keluarga. Mereka menjadi juru masak selama beberapa minggu di dapur umum untuk keperluan para pengungsi korban letusan Gunung Semeru. Menariknya lagi di dapur umum ini juga terlihat aktif beberapa remaja Angkatan Muda Muhammadiyah, putra maupun putri. Sebagian dari mereka adalah anggota Tapak Suci. Mereka dengan gembira mengambil peran membantu ibu-ibu Aisyiah memasak di dapur umum. Kepada adik-adik ini dengan sedikit bergurau aku berpesan, "Adik-adik jaga kesahatan ya. Relawan tidak boleh sakit. Kalau ada takdir, kalian juga boleh menemukan jodoh disini. Orang baik tentu akan bertemu dengan orang baik juga."

Titik kunjungan kami berikutnya  adalah lokasi psikososial. Lokasi ini berada di halaman rumah penduduk dimana penyintas mengungsi. Di atas bentangan terpal relawan memandu anak-anak yang duduk melingkar. Mereka melakukan permainan edukatif. Pada setiap bencana alam  anak-anak sebagaimana orang dewasa juga menjadi korban. Bagi anak-anak bencana sering membuat trauma berkepanjangan. Maka kepada mereka diperlukan pendampingan psikososial. Pendampingan ini dilakukan oleh relawan yang umumnya adalah mahasiswa fakultas psikologi atau jurusan pendidikan. Di Pronojiwo ini mereka berasal dari beberapa perguruan tinggi Muhammadiyah di Jatim. Kegembiraan anak-anak ini membuat aku tidak tahan untuk tidak bergabung. Demikian juga dengan Arif Jamali Muis Wakil Ketua MDMC. Kami masuk ke dalam lingkaran anak-anak dan terlibat permainan yang menyenangkan ini. Penutup dari kebahagiaan bersama kami disini adalah penyerahan simbolis family kit yang berisi kebutuhan sehari-hari sebanyak 50 paket kepada para keluarga penyintas.

Selanjutnya kami meninjau lokasi terdampak langsung erupsi Semeru. Dengan tiga mobil lapangan triton milik Muhammadiyah yang selalu siap di lokasi kami menuju dusun terdekat. Mobil-mobil dobel gardan ini sudah dikenal masyarakat di sekitar bencana karena sering bolak-balik mengantar berbagai keperluan terkait kebencanaan. Bahkan Bupati Lumajang pun suka menaiki mobil ini ketika meninjau lokasi bencana. Sekitar lima kilometer perjalanan dari Poskor kami memasuki dusun Supiturang Desa Oro-oro Ombo. Dari sebelah timur dusun ini kami bisa melihat langsung sungai Curah Kobokan jalur aliran awan panas dan lahar dingin. Tiga minggu setelah kejadian (04/12/21) dampak letusan masih sangat terlihat nyata. Seluruh sisi-sisi sungai yang lebarnya ratusan meter dengan ketinggian tebing tidak kurang sepuluh meter seakan melepuh karena terjangan awan panas dan lahar dingin. Beberapa bangkai alat berat penambang pasir nampak di tengah sungai. Kepulan asap masih terlihat di tengah sungai yang tertutup lahar dingin. Puluhan rumah penduduk hancur berantakan.

Sepulang dari Oro-oro Ombo kami langsung menuju Pos Emergency Medical Team (EMT). Pos ini berada di tepi jalan raya Malang-Lumajang. Di jalur ini kami tidak bisa melihat jembatan yang putus diterjang lahar dingin di jalur ini. Kawasannya ditutup pihak berwajib dengan alasan keamanan. Di jalur ini selain Poskor MDMC, Muhammadiyah memiliki Pos EMT dan Pos PCM Pronojiwo. Pos EMT adalah pos kesehatan yang dibentuk oleh Majelis PKU Muhammadiyah. Tim Kesehatannya terdiri dari para dokter dan paramedis. Mereka berasal dari gabungan rumah sakit Muhammadiyah terdekat. Di Pronojiwo EMT memanfaatkan sebuah gedung pemerintah milik Dinas Pertanian. Dari titik ini layanan kesehatan untuk para pengungsi dikoordinasikan sejak hari-hari pertama gunung meletus. Sebagaimana di berbagai lokasi bencana lainnya layanan EMT Muhammadiyah ini sangat dibutuhkan masyarakat. Di Pronojiwo layanan EMT akan terus dipertahankan sampai beberapa bulan ke depan.

Terakhir kami singgah di Posyan milik Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Pronojiwo. PCM Pronojiwo ini sebelumnya lama vakum dan baru saja dilantik oleh PDM Lumajang. Meletusnya gunung Semeru membuat banyak kader Muhamadiyah di kawasan ini kembali kompak. Umumnya mereka adalah para anggota Tapak Suci yang sudah lama berdiri disini. Untuk itu mereka mendirikan Posko PCM. Karena lama tidak aktif mereka tidak tahu bahwa MDMC maupun EMT adalah bagian dari Persyarikatan. Sedangkan tim MDMC ketika datang pertama kali tidak menemukan aset Persyarikatan yang bisa dijadikan Poskor. Akhirnya disepakati posko PCM ini menjadi Pos Layanan di bawah koordinasi Poskor MDMC. Di Posyan PCM ini terlihat kesibukan yang tinggi warga Muhammadiyah Pronojiwo. Logisitik melimpah dan suasana guyub  sangat terasa. Kemudian kami mengakhiri peninjauan lapangan hari ini dengan makan bersama di rumah Pak Gunawan, ketua PCM Pronojiwo. Suasana kebersamaan, rumah Pak Gun yang asri, dan sajian makan siang yang enak dari tuan rumah membuat aku malas meninggaalkan Pronojiwo. (BERSAMBUNG)

Menteng Raya 62 Jakarta, 06 Januari 2022
Mahli Zainuddin Tago

[PR Lazismu PP Muhammadiyah/Mahli Zainuddin Tago]

SELENGKAPNYA
9 Januari 2022

LAZISMU, RAKERNAS, DAN INOVASI SOSIAL

JAKARTA -- Jalan raya Semarang-Demak, Sabtu 4 Desember 2021. Malam belum lagi larut, baru pukul delapan. Sebuah pesan WA masuk. "Wa 'alaikum salam pak ketua. MDMC Banten mengusulkan menunda acara Rakernas Lazismu…" Pesan ini dikirim Bang Mulyadi, Ketua Lazismu Banten. Ini jawaban atas pertanyaanku terkait kondisi Pantai Anyer. Beberapa bulan yang lalu kami bersepakat melaksanakan Rakernas Lazismu 2021 di sana. Beberapa jam yang lalu beredar di medsos surat Walikota Cilegon. Isinya meminta publik tidak berkegiatan di kawasan Anyer dan sekitarnya. Cuaca ekstrim, ombak besar, dan gunung Anak Krakatau sedang batuk-batuk. Sedangkan pembukaan Rakernas dijadwalkan Jumat, 10 Desember. Kurang dari seminggu lagi. Maka pesan bang Mulyadi itu membuat aku merasa malam itu terasa telah larut.

Rakernas merupakan agenda tahunan Lazismu. Tahun ini adalah Rakernas ke enam untuk periode kami. Rakernas pertama di Sidorarjo Jawa Timur pada 2016. Berturut-turut di Jogja (2017), Semarang (2018), dan Lombok NTB (2019). Pada 2020, pandemi covid memaksa Rakernas diselenggarakan secara online. Mestinya lima tahun periode kepengurusan kami selesai pada 2020 itu juga. Tetapi pandemi covid memaksa Muhammadiyah menunda Muktamar yang direncanakan di Solo pada 2020 menjadi pada 2022. Dampaknya, sebagai unsur pembantu pimpinan kami di Lazismu mengalami perpanjangan masa pengabdian. Periode kami ditambah sampai Desember 2022. Semoga Rakernas 2021 ini menjadi Rakernas terakhir untuk periode kami.

Kali ini Rakernas kami selenggarakan dengan beberapa rangkaian. Rangkaian pertama bimbingan teknis (Bimtek) Sistim Informasi Manajemen (SIM) Keuangan. SIM ini menjadi mimpi lama kami sejak Rakernas Lombok 2019. Proses pembuatannya sempat berlarut-larut. Setelah digarap Tim ITC UMY, menjelang Rakernas 2021 SIM ini sudah kelihatan wujudnya. Proses selanjutnya adalah Bimtek. Acara ini diikuti para calon operator yaitu staf keuangan Lazismu Pusat dan Wilayah di seluruh Indonesia. Harapannya sebelum launching berbagai kekurangan SIM ini bisa diperbaiki. Alhamdulillaah agenda Bimtek SIM Keuangan ini berlangsung sukses pada 23-26 Nopember 2021 di Yogyakarta.

Kedua, Pra Rakernas. Acara ini diisi laporan dari Lazismu Wilayah seluruh Indonesia. Tentu laporan tertulis sudah dikirimkan melaui email, website, maupun medsos. Dalam Pra Rakernas masing-masing Wilayah cukup menyampaikan ringkasan dari laporan tertulis mereka. Dengan begini proses persidangan bisa berjalan efektif dan efisien. Sebelum laporan Wilayah Pak Marpuji Ali, Bendahara Umum PP Muhammadiyah, yang membawahi langsung Lazismu menyampaikan amanat. Beliau  menegaskan agar Lazismu menjadi lembaga amil yang berkemajuan dan selalu bisa menjaga marwah Persyarikatan. Untuk itu harus dibarengi dengan kerja keras atau jihad. Bagi Pak Marpuji jihad adalah kerja keras yang tidak kenal Lelah. Siang malam. Mau rehat pun selalu ingat amanat yang harus ditunaikan. Untuk itu Pak Marpuji mengajak para amil Lazismu untuk menikmati kelelahan.

Selanjutnya Pak Marpuji mengajak para amil Lazismu menyempurnakan kerja keras dengan bekerja secara berjamaah. Prestasi-prestasi yang sudah diperoleh Lazismu adalah hasil kerja berjamaah, bukan prestasi perorangan. Untuk itu soliditas Pusat, Wilayah, Daerah, dan KL harus selalu dijaga. Kebersamaan dijaga agar setiap proses tidak melahirkan perpecahan. Berjamaah tidak berarti tidak ada perbedaan pandangan. Lazismu harus piawai menyatukan perbedaan itu dengan mengambil mana yang lebih maslahat. Tidak lupa beliau meminta kami untuk bisa menikmati kritikan dan cobaan agar ke depannya lebih bagus lagi. Tahan uji dan tahan banting sesuatu yang sangat penting dalam mengelola amanah yang sangat mulia sebagai amil Lazismu.

Rapat Kerja Nasional (Rakernas) 2022 akhirnya terselenggara di Asrama Haji Pondok Gede. Setelah menerima masukan dari Lazismu Banten dan PWM Banten, serta saran dari Sekum dan Ketum PP Muhammadiyah, aku mengadakan rapat pleno Badan Pengurus mendadak. Kami menentukan jadi dan tidaknya Rakernas diselenggarakan di Pantai Anyer. Sebelumnya survei dilakukan di beberapa hotel di Banten dan Jakarta. Akhirnya kami memilih Asrama Haji Pondok Gede. Pilihan ini juga atas saran Dirjen Penyelenggaraan Haji dan Umroh Kemenag, Prof. Hilman Latief, yang sebelumnya adalah Ketua BP Lazismu yang aku lanjutkan kepemimpinannya. Secara keseluruhan peserta sangat senang dengan lokasi penyelenggaraan ini. Asrama Haji kini telah mengalami banyak perbaikan sehingga serasa hotel berbintang. Bersih, layanan baik, lokasi, dan masjidnya nyaman.

Rakernas Lazismu 2022 dilaksanakan dengan beberapa target. Antara lain memperkuat koordinasi dan konsolidasi kelembagaan, merumuskan program prioritas untuk pencapaian SDG’s, merumuskan strategi penghimpunan, pengelolaan, dan penyaluran dana ZISKA (zakat, infak, sedekah, dan dana sosial keagamaan lainnya), serta integrasi sistem digital. Adapun materi-materi yang disampaikan yaitu Inovasi Sosial untuk Pencapaian SDG’s, Sharing Program Unggulan Lazismu Wilayah, Paparan Target Indikator Kinerja Utama (IKU) dan Indikator Kinerja Aksi Layanan (IKAL) 2022, Program Prioritas dan Pencapaian SDG’s, serta RAPB 2022.

Tema Rakernas 2021 ini adalah Inovasi Sosial untuk Pencapaian SDG’s. Ketua Panitia Dr. Nuryadi Wijiharjono yang merupakan Sekretaris BP Lazismu menyampaikan bahwa inovasi adalah cermin spirit Muhammadiyah yakni tajdid (pembaharuan). Kemudian Nuryadi juga menyinggung pesan Kiai Dahlan dalam pidato terakhirnya. Bahwa ada tiga hal yang menyebabkan masyarakat hancur: pertama, banyak bicara kurang bekerja. Kedua, kurang wawasan. Ketiga, hanya memikirkan kelompok sendiri. "InsyaAllah Lazismu tidak seperti itu. Buktinya sidang-sidang komisi harus menghasilkan program inisiatif yang merangsang kreativitas dan imajinasi untuk sampai ke inovasi."

Inovasi sosial merupakan gagasan lanjutan dari agenda aksi Lazismu lima tahun terakhir. Inovasi Sosial adalah gagasan dan implementasi. Ia berupa solusi-solusi inovatif, efektif, dan kreatif. Ia menginspirasi dan meningkatkan kesejahteraan dan kualitas hidup individu ataupun masyarakat, dan menyelesaikan masalah-masalah sosial dan lingkungan. Sebagai konsep inovasi sosial beririsan dengan konsep-konsep lainnya dalam strategi penguatan LSM dan gerakan filantropi: social entrepreneurship, social business/enterprises, philanthropreneurship, dan sustainable development. Untuk Lazismu sendiri inovasi sosial meliputi enam pilar Lazismu: sosial dakwah, pendidikan, kesehatan, ekonomi, kemanusiaan, dan lingkungan. Dalam hal ini Lazismu akan mendorong para inovator melakukan kewirausahaan sosial di berbagai daerah untuk melakukan perubahan kolektif berbasis komunitas. Inovasi Sosial yang sudah berjalan di Lazismu adalah Klinik Apung Said Tuhuleley, Bank Ziska/microfinance, dan Edutabmu.

Sebagai Ketua Lazismu Pusat aku menyampaikan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah terlibat menyukseskan gelaran Rakernas Lazismu ini. Aku meminta Ketum PP Muhammadiyah Prof. Haedar untuk memberi amanat kepada kami Lazismu seluruh Indoensia, terutama peserta Rakernas. Tentu saja juga Prof. Hilman Latief. Asrama Haji yang menjadi lokasi Rakernas ini berada di bawah koordinasi Direktorat yang beliau pimpin. Selanjutnya karena narasi tentang tema Rakernas sudah diuraikan dengan sangat baik oleh Mas Nur, panggilanku untuk Sekjen Lazismu Dr. Nuryadi Wijiharjono, maka aku meringkas sambutanku sebagai pidato pengantar Rakernas ke dalam dua buah pantun.

Tugu Monas indah menawan
Cuaca nan panas terasa menyejukkan
Rakernas adalah amanat Pedoman
Keputusan-keputusan terbaik harus kita tetapkan.

Lari pagi di Istora Senayan
Minum jus tomat enak menyegarkan
Inovasi sosial kita jadikan semboyan
Dengan itu masalah umat kita ikut pecahkan

Puncak dari acara pembukaan Rakernas adalah amanat Ketum PP Muhammadiyah Prof. Haedar Nashir. Pak Haedar berharap Rakernas Lazismu ini dapat berjalan lancar. Beliau juga menyampaikan penghargaan dan apresiasi dari PP Muhammadiyah atas kerja Lazismu yang membawa pada kemajuan dan memperoleh banyak penghargaan dari berbagai pihak. Selanjutnya beliau berpesan bahwa kita harus menggairahkan, menggembirakan umat kita. Ini agar umat memiliki etos kerja yang tinggi, cerdas berilmu, dan kemudian berdaya saing. Dengan begitu umat bisa merengkuh kehidupan dengan baik. Bagi Pak Haedar ZIS (zakat, infak, dan sedekah) bukan hanya sebagai tempat lalu lintas penggalian dan tasharuf harta. "Lembaga amil harus punya nilai untuk membangun kehidupan yang baik sesuai dengan tatanan Islam yang membawa pada keselamatan, kebahagiaan, kebaikan yang tawazul, yang seimbang antar berbagai aspek kehidupan."

Selain itu, Haedar mengajak amil Lazismu untuk terus belajar. Selain ikhtiar-ikhtiar praksis pengelola Lazismu harus juga memperkaya kerohanian. Sehingga bisa hadir di tengah masyarakat, di tengah umat, di tengah manusia dan kemanusiaan universal, menjadi pemandu kehidupan. Terakhir Haedar berpesan kepada seluruh peserta dan penyelenggara Rakernas Lazismu 2022 agar tetap menjaga protokol kesehatan. Dengan menjaga protokol kesehatan, amil Lazismu menjadi teladan bagi umat. "Jaga protokol kesehatan dengan ikhlas. Perlu gembira. Tetapi kerumunan tetap dihindari. Agar kita menjadi uswah hasanah. Menjaga prokes dengan baik adalah bagian dari ZIS juga. Kita berzakat, berinfak, dan bersedekah dengan keteladanan."

Jogja, Ahad 12 Desember 2021. Jam 09.10 KA Taksaka perlahan meninggalkan Gambir. Ada lelah terasa di badan. Menjadi ketua memang menuntut tanggung jawab dan intensitas yang lebih tinggi. Dalam dua minggu terakhir aku dua kali bolak-balik Jogja-Jakarta dengan selingan tiga hari di Ambon. Tetapi sungguh pikiran dan perasaanku lega. Mengutip Pak Marpuji, mungkin ini yang disebut menikmati kelelahan. Rakernas tadi malam kami tutup dengan suasana sangat gembira. Berbagai hal penting jadi keputusan. Target penghimpunan, misalnya, dinaikkan sampai 25%. Ketika pagi ini sebagian besar peserta mengikuti city tour ke Lubang Buaya, aku melanjutkan langkah pulang ke Jogja. Semoga Lazismu bisa menyelesaikan periode transisi yang hanya satu tahun ini dengan baik. Melakukan akselerasi dengan berbagai inovasi sosial di segala penjuru. Aamiin…

Menteng Raya 62 Jakarta, 29-12-21
Mahli Zainuddin Tago

[PR Lazismu PP Muhammadiyah/Mahli Zainuddin Tago]

SELENGKAPNYA
29 Desember 2021

Semeru, Relawan, dan Nikmat Berpikir

Begitu bencana Gunung Semeru meletus, saya diberikan tugas untuk menulis feature tentang kejadian tersebut, terutama dalam konteks bantuan yang diberikan oleh Muhammadiyah terhadap korbannya. Lama sekali saya merenung. Saya tidak menangkap hal menarik yang bisa saya tulis, selain berita 5W+1H yang biasa-biasa saja.

Saya hanya bisa merenungkan korban-korban bencana awan panas guguran Gunung Semeru yang kehilangan sanak saudaranya. Dalam keadaan seperti ini, mana mungkin mereka bisa merenung mencari ide seperti yang tengah saya lakukan?

Yang sempat mereka pikirkan adalah bagaimana cara menemukan jasad sanak saudaranya. Bagi yang sudah ditemukan, mereka akan menyesal sejadi-jadinya, perihal kebaikan-kebaikan yang belum sempat mereka berikan kepada almarhum, atau perihal kesalahan-kesalahan yang belum sempat mereka mintakan maaf kepada almarhum.

Mereka juga berpikir perihal rumah yang telah begitu nyaman ditinggali, yang tiba-tiba hancur lebur tak berbekas. Mereka yang sehari-hari bekerja sebagai petani, yang ketika panen tiba-tiba pemerintah malah impor hasil tani, bagaimana bisa membangun rumah menjadi seperti semula?

Mereka juga mengkhawatirkan nasib anak-anaknya. Anak-anak ringkih itu butuh tempat tinggal untuk melindungi diri dari dinginnya malam dan teriknya siang. Namun, di mana mereka akan berteduh, ketika rumah yang selama ini mereka tinggali telah luluh lantah oleh awan panas guguran Gunung Semeru?

Sepertinya, mereka tak sempat memikirkan hal lain, karena dunia yang mereka huni tiba-tiba menjadi gelap, sempit, dan menyesakkan. Berbeda dengan saya dan kamu masih sempat membaca tulisan ini, yang bisa merasakan nikmat berpikir dan merenung.

Dalam perenungan saya, saya tak kunjung mendapatkan ide menarik. Maka saya pergi ke ruang tengah. Saya nyalakan televisi, saya putar acara ceramah. Bukan karena saya suka mendengarkan ceramah di TV, bukan. Namun karena tidak ada acara lain yang lebih bagus.

Kebetulan sekali, penceramah di TV itu mengatakan bahwa salah satu nikmat terbesar manusia yang diberikan oleh Allah adalah nikmat akal. Lebih lanjut, ia mengatakan bahwa yang membedakan manusia dengan hewan adalah kemampuan berpikir. Sambil mengutip seorang filosof klasik, ia berkata bahwa manusia adalah hewan yang berpikir.

Padahal, seperti yang saya tulis di atas, orang yang sedang berada dalam kesusahan akan sulit sekali berpikir secara jernih. Ia membutuhkan bantuan orang lain agar kemampuan intelektuilnya tetap berjalan. Agar ia tetap bisa memikirkan masa depan dengan baik dan benar.

Sampai titik ini, saya kemudian memahami bahwa bantuan-bantuan yang diberikan oleh Muhammadiyah adalah dalam upaya merawat akal sehat para korban bencana di manapun berada. Bayangkan saja, jika tidak ada relawan yang membantu korban bencana Semeru, atau korban bencana lainnya, maka para korban tersebut bisa tambah pusing. Beban yang ia terima tidak hanya kerugian materi atau kerugian jiwa, namun juga tekanan psikis yang tak mudah dilewati.

Tak heran, beberapa jam setelah terdengar berita tentang Semeru, grup WhatsApp yang berisi aktivis-aktivis MDMC dan Lazismu Pusat langsung ramai. Tercatat, guguran awan panas atau banjir lahar terjadi pada pukul 14.47 WIB. Pada pukul 17.54 WIB, grup tersebut mulai menunjukkan aktivitas.

"Lazismu segera galang dana. Nanti akan kami blasting," ujar seorang petinggi MDMC PP Muhammadiyah.

Rekomendasi tersebut disikapi dengan serius oleh Lazismu. Untuk wilayah Jawa Tengah saja, perolehan donasi siaga bencana hingga Rabu, 15 Desember, 11 hari setelah letusan Gunung Semeru, mencapai 2,3 miliar rupiah. Sementara itu, angka di Jawa Timur lebih fantastis lagi. Pada hari Selasa, 14 Desember, donasi siaga bencana yang digalang oleh Lazismu Jawa Timur mencapai lebih dari 2,5 miliar rupiah. Itu belum angka donasi secara nasional. Banyak betul!

Dana-dana tersebut digunakan untuk membantu korban bencana Semeru melalui relawan MDMC di seluruh Indonesia yang datang ke lokasi bencana. Kisah-kisah kerelawanan MDMC dengan funding Lazismu ini terekam banyak sekali di media online. Coba search di google dengan keyword "MDMC Semeru", maka ratusan artikel berita akan muncul. Donasi dari masyarakat melalui Lazismu pun bisa dilihat hasilnya.

Dengan donasi tersebut, para korban yang tengah berada di dunia yang sempit, gelap, dan menyesakkan, bisa sedikit merasa lega, terang, dan lapang. Mengingat, ada puluhan relawan yang sejak awal bencana hingga detik ini masih bertahan di Semeru untuk membantu mereka. Para korban tersebut kemudian bisa berpikir secara lebih jernih, mencari solusi terbaik dalam menghadapi situasi yang sulit.

Para relawan tersebut, meskipun tidak bisa menggantikan sepenuhnya sanak keluarga yang meninggal, setidaknya bisa mengurangi beban kehilangan orang-orang tersayang. Senyum tulus para relawan membuat dunia korban yang muram, menjadi tidak muram-muram amat. Membuat dunia korban yang gelap, menjadi ada setitik cahaya yang tetap hidup.

Cahaya tersebut adalah cahaya kemanusiaan, cahaya empati, cahaya kepedulian. Cahaya tersebut menyinari umat manusia agar mampu berpikir lebih jernih dan lebih baik. Tentunya, agar mampu merenung seperti yang sedang saya lakukan ini. Anehnya, saya masih merenung akan menulis apa, tapi kok tulisan ini sudah selesai?

(Yusuf)

SELENGKAPNYA
16 Desember 2021

TERUSLAH MENJADI KUMPARAN

PARIS -- Enam tahun, sejak pasca Muktamar 2015, saya menjadi bagian dari Lazismu, sebuah lembaga filantropi Islam di bawah Persyarikatan Muhammadiyah. Selama itu pula saya menyaksikan perkembangan lembaga ini dari dekat (sangat dekat) dan dari jauh: sebagai Sekjen Lazismu Pusat, mendampingi Ketua Hilman Latief (Oktober 2015-April 2016); Direktur Utama (April 2016- 15 Januari 2018); dan wakil ketua dan anggota Badan Pengurus (Januari 2018-sekarang). Sejak 2017 lalu, saya off board, tinggal di Singapura dan Perancis.

Dalam rentang itu pula, Lazismu saat ini dianggap tengah bertransformasi menjadi the leading Islamic philantrophy in Indonesia, even in Southeast Asia dengan berbagai program inovatif, liberatif, dan transformatif. Salah satu yang membuat lembaga zakat infaq dan sadaqah ini dinilai progresif adalah tafsir dan praxisme sosialnya yang mengacu pada —-selain fatwa, 17 tema SDG’s PBB dan 13 isu penting hasil Muktamar Muhammadiyah 45 di Makassar. Dari sana misalnya, Lazismu berpendapat bahwa zakat itu diberikan kepada yang membutuhkan (whoever in the need, not essentially and specifically Muslims) untuk antara lain program kemiskinan, perlindungan HAM, buruh migran dan perempuan, serta pemberantasan korupsi.

Kini, kiprah Lazismu semakin ditunggu umat, bangsa, dan kemanusiaan universal. Aksinya tidak terbatas di level nasional, tetapi juga di masyarakat global (Philippina, Myanmar, Bangladesh, Nepal, Palestina, Yaman, dan Somalia dan sebagainya). Dengan kurang lebih 1000 kantor layanan dari Papua hingga Aceh, ribuan amil dan relawan, Lazismu membantu pengumpulan zakat, infaq dan sadaqah dan mendistribusikannya kepada para penerima. Dalam masa Covid-19, misalnya, Lazismu bersama majelis dan lembaga Muhammadiyah-Aisyiyah lainnya aktif mensupport MCCC (Muhammadiyah Covid-19 Command Center) menyalurkan dana senilai 1 trilyun lebih kepada masyarakat umum pada 2021 ini.

Di luar itu semuanya, tentu saja, sebagai sebuah institusi dan organisme yang dinamis, lembaga filantropi ini tampaknya masih perlu untuk terus melakukan otokritik atas kekurangan dan kelemahan, mengasah dan meningkatkan kapasitas kelembagaan, kecerdasan berinovasi, membangun jaringan, sinergi dan kolaborasi nasional dan global secara cerdas dan terbuka dengan institusi apapun.

Misi dan visi Lazismu perlu dipertajam di tengah tantangan jaman dan kemanusiaan yang semakin kompleks. Lazismu adalah gagang bagi Trisula Baru Muhammadiyah bersama MDMC (lembaga kebencanaan), MPM (majelis pemberdayaan masyarakat) dan MPS (majelis pelayanan sosial) yang menjadi garda depan dalam aksi-aksi kemaslahatan umum (public Good) dan praksisme sosial di Abad Kedua Muhammadiyah. Ia juga adalah ‘kumparan’ yang terus bergerak aktif-proaktif mengalirkan daya hidup bagi sekelilingnya.

Selamat Rakernas!
Sukses!

Paris, 11 Desember 2021

Andar Nubowo

(Dua artikel saya di jurnal Archipel Paris dan Social Sciences And Mission (Brill Amsterdam) yang akan terbit 2022 turut memotret kiprah Lazismu sebagai salah satu perwujudan praksisme sosial dan public Good institusi Wasathiyah Islam di Indonesia)

[PR Lazismu PP Muhammadiyah/Andar Nubowo]

SELENGKAPNYA
12 Desember 2021

Peran Muhammadiyah Menangani Banjir Sintang

Jika ada orang yang bertanya, apa yang tidak disukai oleh seluruh umat manusia, maka salah satu jawaban yang benar adalah: bencana. Bencana adalah bencana. Cerdik cendikia yang menyusun KBBI mengartikan bencana sebagai sesuatu yang menyebabkan kesusahan, kerugian, atau penderitaan; kecelakaan; dan bahaya.

Semua sifat yang ditimbulkan oleh bencana adalah sifat negatif. Bencana tidak pernah menimbulkan kebahagiaan, kecuali bagi sebagian elit yang suka mempermainkan proyek bencana. Maka, setiap umat beragama memiliki doa agar terhindar dari bencana. Namun, tetap saja, tak ada gading yang tak retak. Tak ada hidup yang mulus-mulus saja, yang terus-terusan berada di atas, yang penuh suka tanpa ada duka.

Bencana tetap saja selalu datang silih berganti. Kadang ringan, kadang berat, kadang juga sangat berat. Sintang, salah satu Kabupaten di Kalimantan Barat menjadi korban keganasan bencana. Sintang dan sekitarnya dihantam banjir berkepanjangan. Banjir tersebut bertahan selama lebih dari satu bulan. Pekan ketiga bulan Oktober menjadi awal yang muram bagi Kabupaten dengan jumlah penduduk 421.306 jiwa tersebut.

Banjir di Sintang tidak sama dengan Batu. Di Batu, banjir datang begitu kencang. Air bah meluluhlantakkan bangunan. Banjir di Batu meminta tumbal berupa korban jiwa. Sementara itu, banjir di Sintang datang pelan-pelan. Air naik sedikit demi sedikit. Namun, ketika air sudah sedemikian tinggi, ia tak sudi untuk surut hingga lebih dari satu bulan. Konon, di salah satu titik, ketinggian air mencapai 3 meter. Hampir dua kali lipat tinggi orang Indonesia.

Ekonomi lumpuh. Kegiatan sehari-hari mandek. Ibadah berjamaah libur. Penduduk Sintang menepi dari rumah yang sehari-hari mereka tinggali. Yang beruntung, bisa singgah di rumah sanak saudara. Yang tidak beruntung, mencari tempat yang tinggi di tengah hutan Kalimantan. Makan dari hasil hutan yang bisa dimakan. Tidur beralas tenda dari kayu, beratap langit.

Endang Kusmiyati, Koordinator Eksekutif Lazismu Sintang mengaku bahwa sepanjang hidup, ia tidak pernah merasakan banjir yang sedemikian besar seperti yang tengah ia alami.

Menurutnya, orang-orang tua di Sintang sering bercerita, bahwa banjir seperti saat ini pernah terjadi pada tahun 1964. Namun, durasinya tetap lebih lama banjir sekarang. Banjir saat ini lebih besar dari banjir besar yang terjadi 57 tahun silam!

Jalan Lintas Melawi, salah satu jalan utama di Sintang berubah menjadi sungai. Sehingga yang bisa melewati jalan tersebut hanya perahu. Seluruh transportasi darat lumpuh total. Padahal, jalan tersebut adalah satu-satunya jalan menuju Kabupaten terujung di Kalimantan Barat, yaitu Kabupaten Kapuas Hulu. Banjir di jalan ini kedalamannya mencapai 1 meter.

Menurut Kepala BNPB Mayjen TNI Suharyanto, Sintang tidak pernah mengalami banjir pada kurun waktu 1990-2010. Namun, hal tersebut berubah setelah terjadi kerusakan lingkungan dalam satu dekade terakhir.

Aldo Topan Rivaldi, relawan Muhammadiyah Sintang bercerita. Ia menemukan pengungsi yang mengungsi di hutan. Mereka minum di air keruh karena tidak ada air bersih sama sekali. Sementara itu, mereka tidak mungkin menahan rasa haus.

Selain itu, pengungsi yang berasal dari Desa Tebing Raya, Kecamatan Sintang itu juga tidur di pondok sederhana. Jangan harap bantal dan guling. Bebas dari gigitan nyamuk saja sudah merupakan kemewahan yang langka.

Pondok yang mereka tempati dibangun dari papan kayu. Papan kayu tersebut dilapisi tikar. Tentu saja tidak ada tembok. Yang ada hanya bekas terpal yang dijadikan dinding sekaligus atap. Di atas tikar, seluruh barang-barang diletakkan. Itupun hanya barang-barang yang bisa diselamatkan.

Di hutan, anak-anak kehilangan kesempatan belajar. Waktu satu bulan seharusnya bisa digunakan untuk mempelajari barang satu dua huruf, satu dua kosakata dalam bahasa asing, dan satu dua operasi matematika. Namun mereka kehilangan itu. Mereka justru sibuk mengeluh dan merengek kepada ibunya meminta pulang.

Di hutan pula, para orang tua tidak bisa bekerja. Sawah mereka terendam. Warung-warung mereka tutup. Jasa-jasa libur. Mereka menggantungkan hidup pada Tuhan melalui tabungan dan belas kasih relawan.

Melihat bencana yang begitu ganas, Persyarikatan Muhammadiyah yang dilahirkan oleh Ahmad Dahlan 109 tahun silam tak tinggal diam. Muhammadiyah tidak hanya membantu dalam doa, namun juga membantu dalam tindakan.

Sejak awal terjadi banjir, Muhammadiyah langsung mendirikan empat pos pelayanan. Empat pos tersebut tersebar di SMK Muhammadiyah Sintang, SMP Muhammadiyah Sintang, SD Muhammadiyah Sintang, Tebing Raya, dan Mungguk Bantok. Empat pos tersebut telah menjangkau setidaknya 178 KK dan 605 jiwa.

Belakangan, ketika air semakin tinggi, pos pelayanan di SMP Muhammadiyah Sintang terpaksa ditutup karena ikut terendam ganasnya banjir.

Muhammadiyah, melalui berbagai sayap organisasinya, membuka pos layanan kesehatan di 39 titik. Salah satunya adalah di Gereja Yonesius Engkrauk Entabuk Belitang Hilir. Kenapa Muhammadiyah membuka pos kesehatan di gereja? Karena Muhammadiyah sudah selesai dengan urusan-urusan toleransi tanpa perlu teriak-teriak paling toleran.

Muhammadiyah melakukan pendistribusian logistik, sejak awal hingga akhir November. Logistik yang didistribusikan oleh Muhammadiyah telah menjangkau hampir 4 ribu jiwa di Sintang, Ketapang, dan Sanggau. Ahad (28/11), mereka membagikan sembako dan hygiene kit sebanyak 1000 paket kepada warga di Tebing Raya, Entabuk, Sungai Asem, Engkrau.

Sementara itu, layanan kesehatan Muhammadiyah telah menjangkau hampir dua ribu jiwa. Layanan psikososial menjangkau 63 jiwa, dan dapur umum menjangkau hampir dua ribu jiwa. Muhammadiyah, tentu saja, juga melakukan pembersihan fasilitas umum ketika banjir sudah mulai surut akhir November silam.

Tim respon Muhammadiyah terdiri dari 198 orang. 82 orang di tim poskoor relawan, 10 orang tim logistik, 12 orang tim SAR, 45 orang tim kesehatan, 5 orang driver, 15 orang dapur umum, 23 orang relawan umum, dan 6 orang tim asistensi. Relawan-relawan tersebut didatangkan dari berbagai daerah, termasuk dari Jawa dan Sumatra.

Kini, beberapa daerah di Sintang sudah mulai surut. Jika menggunakan patokan Jalan Lintas Melawi, maka Sintang tergenang selama genap satu bulan. Namun, Sintang bukan hanya ada di Jalan Lintas Melawi. Hingga awal Desember, beberapa daerah seperti Kapuas Hulu, Selimbau, dan Semitau belum juga surut.

(Yusuf)

SELENGKAPNYA
4 Desember 2021

Kedermawanan Aktivis Muda Muhammadiyah

Pandemi belum usai. Virus covid-19 masih menghantui. Pemerintah kembali menerapkan PPKM level 3 di berbagai daerah jelang liburan natal dan tahun baru. Ekonomi belum pulih secara penuh.

Di tengah situasi yang serba tidak pasti, masyarakat kelas menengah ke bawah terus dihantui dengan himpitan tuntutan hidup yang tinggi. Ada banyak mulut yang mesti diberi makan, ada banyak kebutuhan yang mesti dipenuhi. 

Belum lagi tingginya curah hujan yang membawa banjir di berbagai tempat. Banjir bandang di Batu, Jawa Timur meminta tumbal korban jiwa. Banjir yang bertahan lebih dari tiga pekan di Sintang, Kalimantan Barat juga meminta korban. Banjir-banjir di tempat lain juga sama. Banjir selalu mendatangkan kesusahan hidup bagi korbannya.

Kendati demikian, apapun yang terjadi, hidup harus terus berlanjut. Harapan akan masa depan yang lebih baik terus dijaga. Manusia bisa bertahan tanpa makan dan minum dalam beberapa hari. Namun, manusia tidak bisa bertahan tanpa harapan, meskipun hanya sedetik saja.

Untuk terus memupuk harapan tersebut, rasa empati dari sesama menjadi kunci. Kepedulian orang lain yang memiliki harta lebih menjadi begitu penting. Ia adalah setitik embun di tengah padang pasir kemiskinan. Menariknya, kendati pendapatan masyarakat turun, namun mereka tetap berderma.

Dalam survei yang dilakukan oleh Lazismu bertajuk Dampak Sosial Ekonomi Covid-19 Terhadap Perilaku Berderma Masyarakat, dijelaskan bahwa perilaku berderma masyarakat tidak mengalami penurunan meskipun pendapatan mereka mengalami penurunan. Maka, tak heran jika survei lain mengganjar Indonesia dengan gelar negara dengan penduduk paling dermawan sedunia.

Contoh semangat berderma itu datang dari beberapa aktivis muda Muhammadiyah. Ali Muthohirin, Ketua Umum DPP IMM 2016-2018 itu rela melelang barang yang ia cintai, vespa, untuk korban banjir di Batu, Jawa Timur. Vespa yang ia beli dengan harga tidak murah tersebut ia maksudkan sebagai koleksi.

Namun, ia terhenyak ketika melihat korban banjir bandang di Batu. Ia ingin membantu korban. Namun, ia tidak sekedar membantu dengan donasi seratus dua ratus ribu. Tak tanggung-tanggung, ia lelang vespa kesayangannya. Ia merasa terpanggil dengan firman Allah dalam surat Ali Imran ayat 92 yang berbunyi:

لَن تَنَالُوا۟ ٱلْبِرَّ حَتَّىٰ تُنفِقُوا۟ مِمَّا تُحِبُّونَ ۚ وَمَا تُنفِقُوا۟ مِن شَىْءٍ فَإِنَّ ٱللَّهَ بِهِۦ عَلِيمٌ
Artinya: "Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sehahagian harta yang kamu cintai. Dan apa saja yang kamu nafkahkan maka sesungguhnya Allah mengetahuinya."

Akhirnya, vespa tersebut terjual dengan harga 41 juta rupiah oleh seorang temannya di Surabaya. Rencananya, ia akan menyerahkan bantuan tersebut bersama dengan pembeli, baik langsung ke lokasi bencana atau melalui Lazismu.

"Sebelum bencana itu sempat ditawar orang dengan harga 45 juta, nggak saya lepas. Vespa itu kan soal selera dan hobi, jadi harganya bisa tinggi," ujar Ali.

Justru itu yang membuatnya melepas vespa untuk membantu orang lain. Vespa adalah barang yang ia cintai. Sedangkan, kata Allah, seseorang tidak sempurna imannya sampai berani menginfakkan barang yang ia cintai.

Contoh lain dari aktivis muda Muhammadiyah adalah adanya seorang tenaga pengajar yang mewakafkan tanahnya untuk SMK Muhammadiyah Pondok Pesantren Imam Syuhodo. Ia adalah Ninin Karlina. Aktivis MDMC Jawa Tengah dan PD Nasyiatul Aisyiyah Sukoharjo,

Ia memiliki tanah dengan luas +-100 meter persegi di samping gedung SMK Muhammadiyah Pontren Imam Syuhodo, Sukoharjo, Jawa Tengah.. Sebagai tenaga pengajar di sana, ia ingin memberikan lebih. Maka, ia merelakan tanahnya tersebut untuk dikelola oleh santri-santri yang ada di sana.

Sejatinya, tanah tersebut berada di tempat yang cukup strategis. Tanah tersebut menjadi rebutan banyak orang untuk memilikinya. Bahkan, ada yang ingin membeli dengan harga 10 kali lipat dari harga normal. Tanah tersebut juga bisa disewakan dengan harga yang tinggi.

Kini, tanah tersebut digunakan oleh para santri untuk ternak ikan gurami. SMK Pontren Imam Syuhodo Sukoharjo adalah pesantren SMK berbasis kewirausahaan. Sehingga, santri, selain belajar ilmu agama dan ilmu teknik, juga belajar berwirausaha. Tak heran, tanah tersebut dipilih untuk menjadi wahana latihan ternak ikan.

Dua contoh kedermawanan kader-kader muda Muhammadiyah tersebut layak menjadi teladan bagi kita semua. Bahwa semangat membantu orang lain harus tetap menyala. Di sisi lain, memberikan bantuan juga merupakan wujud dari rasa syukur kita kepada Tuhan Yang Maha Esa, atas segala kenikmatan yang tak terhitung jumlahnya.

Membantu orang lain berarti turut menghidupkan lilin harapan mereka yang hampir padam. Membantu orang lain berarti turut meyakinkan bahwa masa depan akan selalu lebih indah. Membantu orang lain juga berarti bahwa nilai-nilai kemanusiaan yang luhur itu belum luruh dalam arus modernitas. Bahwa masih ada nilai-nilai kebaikan dan kebahagiaan yang lestari.

(Yusuf)

SELENGKAPNYA
24 November 2021
LAZISMU adalah lembaga zakat nasional dengan SK Menag No. 90 Tahun 2022, yang berkhidmat dalam pemberdayaan masyarakat melalui pendayagunaan dana zakat, infaq, wakaf dan dana kedermawanan lainnya baik dari perseorangan, lembaga, perusahaan dan instansi lainnya. Lazismu tidak menerima segala bentuk dana yang bersumber dari kejahatan. UU RI No. 8 Tahun 2010 Tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang

Alamat

Jl. Menteng Raya No.62, RT.3/RW.9, Kb. Sirih, Kec. Menteng, Kota Jakarta Pusat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 10340
Jl. Jambrut No.5, Kenari, Kec. Senen, Jakarta Pusat 10430
info@lazismu.org
0213150400
0856-1626-222
Copyright © 2026 LAZISMU bagian dari Persekutuan dan Perkumpulan PERSYARIKATAN MUHAMMADIYAH
cross