

Hal inilah yang menjadi pesan utama dari film Mengetuk Pintu Surga produksi Lazismu Kebumen. Film pendek yang terbagi menjadi 3 part ini dibagikan melalui kanal YouTube Lazismu Kebumen. Direktur Lazismu Kebumen Hasbilah Rifai menyebut bahwa film ini berangkat dari kegelisahan masyarakat yang tidak banyak mengenal zakat, khususnya zakat profesi.
Film yang disutradari oleh Gempar Pribadi ini bercerita tentang Rahman (Trian Hidayat), anak muda dengan karir yang sukses dan kekayaan yang melimpah, namun merasakan kehidupan yang kering. Problem yang dihadapi oleh Rahman adalah problem masyarakat secara umum, di mana masyarakat semakin maju, namun jiwanya begitu hampa.
Krisis manusia modern ini, menurut banyak pemikir, disebabkan oleh modernitas dan pembangunan yang hanya mengedepankan aspek-aspek materi, sekaligus meninggalkan aspek-aspek rohani. Di film ini, krisis manusia modern digambarkan dengan sifat Rahman yang tidak bersyukur sekaligus merasa banyak kesialan yang selalu ia hadapi.
Meminjam istilah Buya, Rahman mengalami "rancak di labuah” atau “mentereng di luar, remuk di dalam". Ia dilihat masyarakat sebagai anak muda yang kaya dan sukses. Namun, ia memiliki beberapa masalah krusial. Pertama, ia harus bolak-balik ke rumah sakit karena memiliki penyakit yang relatif parah, di usia yang masih sangat muda. Kedua, ia kehilangan beberapa proyek besar. Ketiga, ia selalu gagal masalah jodoh. Padahal, banyak perempuan yang diam-diam kagum dengannya dan ingin menjadi pendamping hidupnya.
Singkat cerita, Rahman mendengar percakapan adiknya dengan teman adiknya tentang zakat. Waktu itu, adiknya yang masih kuliah tengah mengerjakan skripsi tentang zakat. Salah satu kalimat yang didengar secara tidak sengaja oleh Rahman adalah tentang kewajiban zakat. Selama ini, ia hanya tahu tentang zakat fitrah.
Karena tengah dirundung masalah, maka Rahman memutuskan untuk datang ke salah satu lembaga zakat, Lazismu. Di Lazismu, ia mendapatkan pencerahan dari amil bahwa zakat bisa jadi akan mensucikan hartanya. Rahman kemudian berpikir bahwa jangan-jangan, kesialan yang selalu ia hadapi adalah karena ia tidak pernah membayar zakat. Padahal, ia jelas memiliki kewajiban tersebut.
Rahman kemudian berubah. Ia rutin menunaikan zakat. Tidak hanya itu, ia juga menjadi rajin silaturahmi, bahkan dengan karyawan-karyawannya. Kesialan-kesialan yang ia hadapi pun pelan-pelan sirna. Ia kembali mendapatkan proyek-proyek untuk menghidupi perusahaan yang ia pimpin.
Pesan film ini begitu apik dan mendalam. Hal ini adalah wujud kampanye ala anak muda kreatif yang harus mulai dilakukan oleh Lazismu di daerah lain.
Mengetuk Pintu Surga bisa menjadi salah satu referensi bagi pegiat zakat yang akan melakukan kampanye, khususnya melalui film. Film tersebut berperan penting untuk mengenalkan lembaga zakat seperti Lazismu kepada masyarakat luas, khususnya anak-anak muda.
Film tersebut juga layak mendapatkan dukungan dari seluruh warga persyarikatan untuk menyebarkan ke khalayak yang lebih luas. Ketika pertumbuhan teknologi digital begitu pesat, maka Lazismu, mau tak mau, harus mengikuti tren dengan memperbanyak kampanye-kampanye kreatif secara digital pula.
Menurut Hasbilah, ada beberapa dinamika yang dialami dalam produksi Mengetuk Pintu Surga, mulai dari pencarian talent yang tepat, hingga proses set lokasi untuk pembuatan film. Pihaknya juga perlu berhati-hati agar tidak menyalahi aturan-aturan agama, namun tetap relevan dengan perkembangan zaman.
"Selain itu, kami berusaha supaya plot dan alur cerita tidak mainstream seperti sinetron-sinetron di TV, namun tetap bisa diterima masyarakat," ujarnya.
Dalam hal publikasi, imbuhnya, ia perlu bantuan dari berbagai pihak agar film tersebut dapat dinikmati oleh banyak orang.
(Yusuf)

Dilansir dari Malang Times, sore itu ia tengah duduk di ruang tengah bersama anaknya, Mahendra Feri (27), menantunya Marinda Faradhila, serta cucunya Alverta Shenazia Arvisa Vindra (3), Kamis (4/11/2021). Rumahnya terletak di samping sungai yang sudah mati.
Saat itu desanya tengah diguyur hujan deras. Tiba-tiba, pada pukul 15.30 WIB, listrik di desanya mati. Ia kemudian ingin melihat-lihat kondisi di luar rumah, karena di dalam rumah relatif gelap. Namun, sesampainya di depan rumah, tiba-tiba air bah datang dan merangsek masuk ke rumah. Air tersebut datang tidak sendirian, ia bersama kayu, bambu, ranting, pohon, dan lumpur.
Sebelumnya, karena sungai di dekat rumahnya adalah sungai mati, maka ia tidak sedikitpun berpikir akan terjadi banjir. Sayang, asumsinya meleset. Rumahnya runtuh dihantam banjir. Ia tertimpa material rumahnya. Beruntung, ia segera bisa menyelamatkan diri. Sebenarnya tidak terlalu beruntung juga, karena anak, cucu, dan menantunya di dalam rumah tertimpa reruntuhan dan hanyut bersama banjir.
Setelah banjir mulai reda, jenazah anak dan cucunya ditemukan 200 meter dari rumahnya. Feri ditemukan dalam kondisi terjepit di sebuah pohon tertumpuk material. "Saya tidak punya firasat sama sekali," ujar Sulaimat dengan mata berkaca-kaca.
Ia tidak bisa menyembunyikan kesedihan dari raut wajahnya. Matanya memerah, air mukanya begitu lesu. Ia terkena benturan material di kepala dan tangan. Kini tangannya dibebat dengan kain. Saat kejadian, istrinya tengah berada di Malang, sehingga tidak turut menjadi korban banjir bandang di Kota Batu.
Banjir di Batu tersebar di lima titik, yakni di Dusun Sambong, Desa Bulukerto, Dusun Beru, Desa Bulukerto, Desa Sumberbrantas, Jalan Raya Selecta, Desa Tulungrejo, Jalan Raya Dieng, Desa Sidomulyo. Padahal, menurut Sulaimat, setidaknya sejak tahun 1994, tidak pernah terjadi banjir bandang sebesar banjir kali ini. Lantas, apa yang menyebabkan banjir itu terjadi?
Menurut Dosen Teknik Pengairan Fakultas Teknik Universitas Brawijaya Lily Montarcih Limantara, banjir yang terjadi di Batu adalah dampak yang jelas dari perubahan iklim global (global climate change). Dampak dari perubahan iklim global tersebut disinyalir akan berkepanjangan.
Sementara itu, dilansir dari Kompas, Kepala Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Brantas M Rizal mengatakan bahwa intensitas hujan yang tinggi diperparah dengan daerah resapan di hulu sungai yang mulai rusak. Kondisi tersebut membuat arus banjir membawa material lumpur, batu, dan kayu. Erosi akibat kerusakan daerah resapan menimbulkan bendungan alami di aliran sungai di salah satu desa tersumbat saat terjadi banjir, sehingga DAM menjadi jebol dan terjadi banjir bandang.
Sore tadi (7/11), Ketua Badan Pengurus Lazismu Kota Batu Faqih Ruhyanudin mengirimkan gambar melalui aplikasi WhatsApp kepada saya. Gambar yang ia kirim menunjukkan sungai yang tak lagi nampak seperti sungai karena mengalami pendangkalan. Karena tidak terlihat lagi seperti sungai pada umumnya, saya sampai harus memastikan apakah itu benar-benar sungai atau bukan.
"Iya itu sungai tapi udah penuh sama material pasca banjir, udah tertutup sama lumpur, batu, pohon, dan lain-lain," balasnya.
Di sekitar sungai ada beberapa relawan yang menggunakan seragam Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC). Mereka bersama-sama dengan masyarakat tengah melakukan pembersihan sungai dari lumpur dan material lain agar dapat kembali dilalui oleh air. Relawan lengkap dengan seragam, topi, dan sepatu boot itu membawa berbagai peralatan seperti cangkul, linggis, ember, dan lain-lain.
Untuk membantu korban banjir seperti Suliamat dan ratusan penduduk Batu yang terdampak banjir bandang beberapa hari silam, pihaknya juga menyalurkan bantuan air bersih. Salah satu foto yang dikirimkan oleh Faqih juga menunjukkan bagaimana masyarakat begitu antusias untuk menantri air bersih.
Lazismu Kota Batu beserta segenap relawan menyalurkan dua tangki air bersih, menggunakan mobil tangki dari Universitas Muhammadiyah Malang dan satu mobil tangki berlogo AMCF. Rupanya, seluruh aset AMCF di Malang telah dihibahkan untuk Muhammadiyah, sehingga mobil tangki hijau berlogo AMCF tersebut resmi dimiliki oleh Muhammadiyah dan dikelola oleh Lazismu bersama MDMC.
Lazismu juga mendirikan pos koordinasi di gedung Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Batu dan juga di Apple Sun Kota Batu, pendataan kebutuhan logistik, pendataan fasilitas umum terdampak, koordinasi dengan BPBD Kotoa Batu dan Kota Malang, menerjunkan tim asesmen, melakukan pengolahan data, membentuk dapur umum, termasuk distribusi air bersih dan pembersihan lumpur.
Sementara itu, Persyarikatan Muhammadiyah sendiri juga terdampak, karena 8 Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) di Kota Batu terdampak banjir dan kekurangan air bersih. Kendati demikian, relawan Muhammadiyah tetap gesit membantu masyarakat. Relawan yang tergabung dalam Persyarikatan Muhammadiyah terdiri dari KOKAM Kota Batu, HW Kota Batu, Maharesigana UMM, IPM Kota Batu, MDMC Kota Batu, MDMC Kab Malang, IMM, KOKAM Kab Malang, AMCF, LEPPAMI, Muhammadiyah Blitar, Nganjuk Probolinggo, PDA Kota Batu, dan Lazismu.
(Yusuf)

Sialnya, jempol saya tak mau diajak bersantai. Ia bersekongkol dengan otak saya untuk memikirkan pekerjaan. Sehingga, tiba-tiba ia mengetik kata "Lazismu" di kotak pencarian YouTube.
Sialnya lagi, di hasil pencarian, ada thumbnail perempuan cantik dengan rompi Lazismu tengah tersenyum di tengah sawah. Kali ini jempol saya bisa diajak kompromi. Ia saya perintahkan untuk segera memencet thumbnail tersebut.
Sedetik kemudian, saya sadar bahwa itu adalah video lagu tentang ajakan berderma dari Lazismu DIY. Suara perempuan di video tersebut menjadi suara pertama yang saya dengar setelah bangun tidur.
Ketika mengetahui bahwa lagu tersebut diproduksi oleh sebuah lembaga semacam Lazismu, saya membayangkan bahwa lagu yang muncul adalah dengan suara-suara tinggi dan berat ala mars yang biasa kita dengar. Namun, tebakan itu jauh meleset.
Saya disuguhi sebuah lagu pop yang layaknya dinyanyikan oleh remaja yang tengah jatuh cinta. Iya, lagu Jalan Berderma produksi Lazismu DIY tersebut sangat milenial. Jika kita mendengar sekilas, mungkin kita akan menyangka bahwa lagu itu dinyanyikan oleh grup band Armada dengan vokalis baru seorang perempuan.
Lagu tidak dibuka dengan biasa. Lagu itu dibuka dengan seorang amil perempuan muda yang duduk di sebelah ibu-ibu yang tengah sakit. "Mari, kami bantu ya ibu," ujar amil tersebut.
Setelah senyum ibu yang sakit itu merekah karena mendengar kabar baik, musik baru disenandungkan. Dimulai dengan instruksi beberapa ketukan drum. Terlihat Kenzie Vallisha Friyadi dan Naura Syauqi Athaya (semoga saya tidak typo) berjoget ringan di tengah hamparan luas sawah. Mereka berdua adalah vokalis yang menyanyikan lagu Jalan Berderma.
Lagu Jalan Berderma tersebut setidaknya memiliki 2 pesan utama. Pertama, setiap manusia tak boleh lupa terhadap Tuhannya, baik ketika senang atau susah, ketika kaya atau miskin, ketika makan di McD atau makan di angkringan, ketika liburan di luar negeri atau liburan di rumah saja sambil nonton TV karna nggak punya duit, ketika nonton film di bioskop atau nonton film di web bajakan yang penuh gangguan iklan.
Biasanya, manusia akan ingat Tuhan waktu dia dikejar-kejar utang, diomongin orang, kepalanya pening, perutnya mual, istrinya marah karna dia nggak bisa cari duit, dan seterusnya. Sebaliknya, manusia relatif lupa kepada Tuhan ketika waktu senggangnya saja bisa ia isi dengan liburan ke Raja Ampat atau lihat-lihat mobil mewah ke showroom.
Manusia relatif lupa kepada Tuhan ketika ia tak lagi mempersoalkan biaya transfer uang ke lain bank yang hanya 6500 itu, ketika ia beli baju tanpa pernah melirik harga yang ada di label, ketika ia bisa cek out barang di marketplace sesuai dengan bisikan modernitas, atau ketika dia lagi jauh dari rumah dan waktu sudah malam, dia bisa cek in kamar hotel bintang 4 tanpa bingung besok pagi mau sarapan apa.
Singkatnya, sasaran tembak lagu ini adalah orang-orang yang punya rezeki berlebih.
Lagu ini mengajak orang-orang yang berada di kelas tersebut untuk tidak lupa, bahwa kesuksesan yang tengah ia nikmati sejatinya berasal dari Tuhan. Di sisi lain, dalam kesuksesan yang ia nikmati, ada hak orang lain yang harus ia tunaikan.
Lagu tersebut seolah berkata: "Jangan sombong. Sukses itu datang dari Tuhan. Hemat dikit lah, masih banyak orang yang nggak bisa makan nih," kira-kira begitu kalau saya terjemahkan. Namun, tentu bait-bait lirik itu disampaikan dengan sopan dan anggun.
Kedua, ajakan untuk berderma. Beda dengan poin pertama di atas, poin kedua ini lebih tegas, terbuka, dan berani. Maklum, ia disampaikan di reff. Reff langsung dibuka dengan kalimat perintah: "Berikan sebagian yang kita punya untuk jalan berderma."
Selanjutnya, mbak-mbak penyanyi melirikkan bait-bait lagu yang menjelaskan bahwa berderma itu tidak membuat harta menjadi berkurang, namun justru sebaliknya.
Memberikan harta kepada orang lain juga tidak perlu menunggu waktu luang. Artinya, di waktu sempit pun, ketika kita pusing karena dompet terasa begitu tipis, kita juga harus tetap berderma. Karena, menurut si penulis lagu, Hasanudin, berderma tidak membuat harta kita berkurang, melainkan bertambah.
Ketika memutar lagu apik tersebut untuk kedua kalinya, tiba-tiba sayup-sayup terdengar suara adzan dari masjid kampung sebelah.
(Yusuf)

Sebelumnya, ia bekerja di perusahaan tambang di Kalimantan. Namun, karena satu dua hal, ia bercerai dengan istrinya. Istrinya tetap di Kalimantan, dan ia pulang ke Jember, rumah pertamanya.
Sebagai perantau yang memutuskan pulang kampung di usia yang tak lagi muda, ia tidak mudah mencari pekerjaan. Akhirnya, pilihan terakhir jatuh pada pekerjaan serabutan. Jika ada orang yang membutuhkan tenaganya sebagai tukang bangunan, maka ia tak akan menolak.
Sebagaimana siang itu, ia tengah bekerja dengan sigap. Namun, tanpa pernah diduga sebelumnya, tiba-tiba kesadarannya hilang. Tubuhnya limbung, ambruk ke tanah di bawah terik matahari. Pekerja bangunan yang lain panik dan segera membawa Pak Edi ke rumah sakit terdekat.
Sampai di rumah sakit, ia tak kunjung sadar. Alih-alih sadar, ia malah koma hingga lebih dari satu bulan. Padahal, ia tak punya riwayat sakit apapun sebelumnya.
Setelah lebih dari satu bulan koma, kesadarannya berangsur-angsur kembali datang. Sayangnya, ia tak bisa pulih seperti semula. Ia kehilangan kendali atas fungsi ototnya. Pak Edi lumpuh.
Menurut keterangan dokter, ada gumpalan di otaknya yang menyebabkan sebagian sarafnya mati, sehingga tidak bisa berfungsi dengan baik. Selain itu, Pak Edi juga kesulitan untuk berkomunikasi dengan baik. Kadang, ia bisa menjawab pertanyaan orang lain dengan baik, namun kadang juga tidak.
Hingga kini, Pak Edi masih lumpuh. Kabar baiknya, seminggu yang lalu, ia mulai bisa duduk. Melihat hal tersebut, akhir bulan Oktober lalu, Lazismu Jember memberikan bantuan kursi roda kepada Pak Edi. Kursi roda tersebut diberikan agar Pak Edi bisa sedikit bergerak ke luar rumah untuk memulihkan kondisi psikologinya, sehingga mampu memberikan energi positif bagi Pak Edi.
Kini, kehidupan Pak Edi bergantung kepada anak pertamanya. Ia dikaruniai dengan 3 orang putra. Anak pertama sudah lulus SMK, sementara anak kedua dan ketiga masing-masing masih menempuh pendidikan di tingkat SD dan SMP.
Anak pertama menjadi tulang punggung keluarga. Sayangnya, ia tak hanya harus merawat bapaknya saja. Ia juga harus merawat bapak dan ibu dari Pak Edi, alias kakek dan nenek kandungnya. Kakeknya, sejak beberapa tahun yang lalu, tidak bisa melihat kehidupan karena buta. Sementara penglihatan neneknya juga tidak begitu baik, ia rabun.
Anak pertama tersebut berjuang keras supaya keluarga kecil tersebut masih bisa bertahan, dengan segenap kekuatan yang ada. Ia harus merawat ayahnya, kakek neneknya, sekaligus mencari biaya untuk pendidikan kedua adiknya.
Untuk mencari penghidupan, ia membuka usaha warung kopi lesehan di pinggir jalan. Penghasilannya pun tak menentu. "Paling tidak sampai 50 ribu per hari," ujar Asbit, salah satu pengurus Lazismu Jember.
Dengan penghasilan tersebut, dan sedikit bantuan dari orang-orang yang peduli, ia mencoba terus bertahan hidup bersama keluarga yang ia cintai.
Ia masih terus memelihara harapan bahwa suatu saat bapak yang membesarkannya tersebut akan sembuh, karena usianya sejatinya belum terlalu senja. Usia Pak Edi belum menyentuh angka 50.
Satu bulan terakhir, anak Pak Edi menutup sementara warung kopinya karena harus mengantarkan kontrol bapaknya.
Selain memberikan bantuan kursi roda, Lazismu Jember juga memberikan bantuan sembako kepada keluarga yang tengah dirundung cobaan tersebut.
(Yusuf)

Salah satu poin dalam Arah Kebijakan dan Strategi Penguatan Perguruan Tinggi yang dikeluarkan oleh Bappenas menyebut bahwa Perguruan Tinggi harus mulai melakukan pengembangan dana abadi (endowment fund) dan pengembangan filantropi.
Sayangnya, menurut Direktur Utama Lazismu PP Muhammadiyah Sabeth Abilawa, belum banyak kampus di Indonesia yang melakukan dua hal tersebut. Padahal, di kampus-kampus besar dan tua di dunia telah menggunakan dana abadi untuk membiayai operasional pendidikannya, seperti Universitas Al-Azhar Kairo, Harvard, Oxford, dan Cambridge.
Dalam hal ini, Perguruan Tinggi Muhammadiyah di seluruh Indonesia dan juga di luar negeri memiliki potensi yang besar untuk mulai menggunakan sistem wakaf tunai atau dana abadi untuk membiayai operasional pendidikan. Besarnya aset dan wakaf yang dimiliki oleh Muhammadiyah bisa saja digunakan untuk pengembangan dana abadi.
Ada kolaborasi pentahelix lima sektor yang menurut Sabeth harus dilakukan untuk memajukan perguruan tinggi, yaitu sektor perguruan tinggi itu sendiri, sektor industri, sektor filantropi, pemerintah, dan masyarakat. Sektor filantropi tidak bisa ditinggalkan untuk pengembangan dan kolaborasi perguruan tinggi. Filantropi memiliki potensi dana 346 triliun rupiah. Sedangkan yang bisa dikelola baru sekitar 50 triliun. Di sisi lain, sektor filantropi juga lebih bisa bertahan di tengah pandemi.
Hasil survei Lazismu tentang Dampak Sosial Ekonomi Covid-19 Terhadap Perilaku Berderma Masyarakat tahun 2021 menyebut bahwa meskipun pendapatan masyarakat menurun, namun semangat berderma masyarakat tidak menurun.
Belakangan muncul model crowdfunding digital yang begitu besar seperti Kitabisa. Percepatan sektor filantropi ini semakin menggembirakan dunia filantropi, dan membuat pelaku filantropi semakin optimis bahwa ia memiliki potensi yang sangat besar.
Di dalam filantropi ada tiga level, yaitu karitatif (sekedar sumbangan), empowering (pemberdayaan), dan advokasi. Karitatif biasanya berbentuk pemberian beasiswa. Empowering biasanya berbentuk bantuan modal untuk pelaku UMKM dengan pendampingan dan pembinaan. Sedangkan advokasi bisa digunakan untuk mendanai riset-riset yang memiliki luaran perubahan kebijakan. Hal ini masih jarang dilirik oleh perguruan tinggi. Padahal, ia bisa mendanai pendidikan dan riset.
Tri Dharma perguruan tinggi harus melahirkan sumber daya manusia yang berkualitas, yang bisa diserap secara maksimal oleh industri sehingga bisa berdampak terhadap kesejahteraan. Maka perlu adanya keterkaitan antara riset, perguruan tinggi, dan kewirausahaan.
Di Lazismu misalnya, ada skema call for proposal untuk tema-tema riset kemiskinan, ketahanan pangan, mitigasi dan resiliensi bencana, resolusi konflik, dan lain-lain. Lembaga filantropi harus memiliki alokasi pendistribusian dana untuk riset.
Perguruan tinggi juga bisa mengirim mahasiswa untuk magang atau praktik kerja di lembaga filantropi yang ada di Indonesia. Sehingga, setelah lulus, mahasiswa tidak hanya memiliki pengetahuan yang mekanis, namun juga memahami relasi sosial di masyarakat, ketimpangan, dan lain-lain.
(Yusuf)

"Belum, Pak," jawab kami serempak. Siang itu, saya bersama Rohmat, amil Lazismu Sukoharjo tengah duduk melingkar bersama dua bapak setengah baya, Pak Hadi beserta satu jamaah masjid.
"Seminggu yang lalu anaknya meninggal," ujar Pak Hadi. Raut mukanya berubah menjadi sedih.
Yang ia maksud meninggal dunia adalah Shava Queenta Kinanti, seorang anak berusia 15 tahun yang tinggal bersama kedua orang tua dan 3 adiknya. Ia tinggal di sebuah indekos kecil di Sukoharjo.
Satu tahun silam, pertengahan tahun 2020 Shava divonis kanker lutut oleh dokter. Ada benjolan di sekitar lututnya yang semakin lama semakin membesar. Waktu itu, ia tengah menempuh pendidikan kelas 2 SMP. Vonis tersebut membuatnya harus intens mengikuti perawatan, sekaligus menghalangi aktivitasnya untuk mengikuti pembelajaran dari sekolah layaknya teman-temannya.
Oleh kedua orang tuanya, Shava dilarikan ke klinik kecil. Keterbatasan ekonomi membuat orang tuanya tidak mampu membiayai pengobatan di rumah sakit yang besar, yang secara profesional lebih mampu menangani penyakit kanker lutut.
Hal itu bisa dimaklumi. Ibu Shava harus mengurus 3 anak yang masih kecil selain Shava. Di sisi lain, ia tengah hamil. Sementara itu, bapaknya bekerja dengan berjualan secara daring. Menurut data Lazismu Sukoharjo, ia memiliki penghasilan per bulan 500 ribu - 1 juta rupiah.
Kabar baiknya, setelah beberapa bulan menjalani perawatan seadanya, Shava mendapatkan kartu BPJS. Kartu tersebut membuat keluarganya mampu membawa Shava ke pengobatan yang lebih memadai.
Namun, malang tak dapat ditolak, mujur tak dapat diraih. Kanker yang ia alami semakin parah. Dokter merekomendasikan kemoterapi. Merasa tak punya pilihan lain, orang tua Shava menyetujui tindakan kemoterapi kepada anak kesayangan mereka.
Kemoterapi adalah cara menghentikan pertumbuhan sel kanker yang bersarang di dalam tubuh. Meski mampu menghancurkan sel kanker, kemoterapi juga dapat merusak sel sehat yang berada di sekitarnya. Sel sehat yang ikut rusak inilah yang dapat mengakibatkan efek samping. Namun, efek samping yang muncul umumnya akan segera menghilang setelah pengobatan kemoterapi selesai. Efek samping kemoterapi yang cukup umum adalah rambut rontok. Hal ini juga dialami oleh Shava. Ia kehilangan seluruh rambutnya.
Sayang, kemalangan tak berhenti di situ. Lagi-lagi dokter harus menyampaikan kabar buruk ke Shava dan keluarga. Menurut keterangan dokter, kanker di lutut Shava tidak mau bersikap kooperatif, sehingga kaki Shava harus diamputasi. Jika tidak, kanker ganas tersebut akan menjalar ke bagian tubuh yang lain.
Apa boleh buat? Dengan penuh isak tangis, disaksikan oleh adik-adik Shava yang masih kecil dan masih butuh perhatian lebih, orang tua Shava menyetujui tindakan amputasi. Shava tidak tau, dengan satu kaki, masa depan apa yang akan ia jalani.
Pertangahan bulan September 2021, salah satu kaki Shava diangkat. Takdir memang misteri. Manusia sedikitpun tak bisa mengintip apa yang akan terjadi esok hari. Ia hanya bisa berencana dan berusaha. Hasilnya? Wallahu a'lam. Kata bijak bestari, hasil tak sudi menghianati usaha. Namun, segala usaha yang telah dilakukan oleh Shava dan keluarganya tak kunjung melahirkan hasil yang diinginkan.
Namun, keluarga kecil yang sederhana tersebut tetap berusaha memegang teguh janji dari Tuhan. Bahwa apa yang menjadi milik kita, sedetikpun tak akan pernah meninggalkan kita. Di sisi lain, apa yang bukan milik kita, akan secara perlahan meninggalkan kita. Kata Ali bin Abi Thalib, apapun yang menjadi takdirmu akan mencari jalan menemukanmu. Di balik semua kesulitan yang dialami Shava, kita tidak tau ada kemudahan apa yang menanti di depan.
Sayangnya, kemudahan dan kabar baik yang diharapkan tersebut nampak masih agak jauh. Setelah diamputasi, kondisi Shava tak kunjung membaik. Kesehatannya drop. Ia semakin lemah terbaring di rumah indekos sederhananya. Berat badannya turun drastis, dari 50 kg menjadi 26 kg. Kondisi tersebut berlangsung selama satu bulan. Hingga akhirnya, kabar yang menutup seluruh cerita Shava itu datang.
Jumat, 15 Oktober 2021, Shava datang memenuhi panggilan Tuhan. Shava telah menunaikan tugas dengan sebaik-baiknya. Ia telah menjadi anak kecil yang tabah menerima takdir Tuhan.
Apakah benar kita diberi kesempatan memilih? Atau tugas kita sebenarnya hanya menerima dan menjalani ketetapan-Nya? Barangkali, manusia berhak memilih, namun pilihannya terbatas.
Kisah Shava mengingatkan kita pada kisah Gitta Sessa Wanda Cantika, gadis 13 tahun yang divonis oleh dokter mengidap penyakit rabdomiosarkoma atau kanker jaringan lunak. Kanker jaringan lunak adalah salah satu kanker ganas paling mematikan di dunia. Kisah nyata tersebut dituliskan oleh Agnes Davonar menjadi sebuah novel berjudul Surat Kecil untuk Tuhan dan difilmkan oleh Sautradara Harris Nizam dengan judul yang sama.
Kisah Keke, panggilan Gitta Sessa di novel yang saya baca ketika SMP langsung memenuhi memori saya. Shava dan Keke sama-sama gadis kecil yang bahkan belum menikmati indahnya masa putih abu-abu. Namun, mereka telah berada dalam rengkuhan rahmat dan kasih sayang Tuhan nun jauh di sana. Selamat jalan, Shava.
"Ya sudah mas, kita langsung ke rumahnya saja," ajak Pak Hadi. Ia mengajak kami ke rumah Shava untuk menyalurkan bantuan. Lazismu Sukoharjo memberikan bantuan berupa sembako dan subsidi biaya indekos untuk keluarga Shava selama 3 bulan.
(Yusuf)

