

PEKANBARU -- Kepedulian terhadap lingkungan akan memberikan manfaat bagi masyarakat. Lazismu Pekanbaru melalui program lingkungan menggandeng KAMMI Pekanbaru menggelar aksi penanaman pohon di Kelurahan Melebung, Pekanbaru, pada Jumat (23/10/2026).
Kegiatan pengabdian masyarakat ini disambut positif sekaligus menyemarakkan Milad Muhammadiyah ke-114. "Program ini disambut positif, selaras dengan program peduli lingkungan salah satu pilar unggulan program Lazismu Pekanbaru”, ujarnya.
Selain itu, kolaborasi ini sebagai bagian dari program dalam menyemarakkan millad Muhammadiyah ke 114 tahun”, kata Manager Lazismu Pekanbaru Fadhlullah Nury. Kegiatan tersebut dihadiri oleh Wakil Wali Kota Pekanbaru, Markarius Anwar, yang memberikan sambutan sekaligus membuka secara resmi kegiatan penanaman pohon.
Dalam sambutannya, Markarius menyampaikan apresiasi atas inisiatif Lazismu Pekanbaru dan bersinergi dengan organisasi kemahasiswaan untuk mengajak masyarakat peduli kelestarian lingkungan.
“Kami sangat mengapresiasi kegiatan ini. Melihat isu lingkungan terkait pembakaran hutan, tentu kita sebagai masyarakat, jika tidak bisa mencegah kebakaran yang dilakukan oleh oknum, kita masih bisa menjaga diri kita, salah satunya dengan menanam pohon,” ujarnya.
Ia juga menekankan pentingnya menjaga lingkungan, terutama mengingat persoalan kebakaran hutan yang kerap dirasakan masyarakat saat musim panas.
Semnetara itu, Arif Futtajjalli mewakili organisasi kemahasiswaan mengatakan bahwa kegiatan penanaman pohon ini merupakan salah satu bentuk kepedulian terhadap dampak kerusakan lingkungan yang semakin dirasakan masyarakat.
“Kita hari ini merasakan begitu dampak dari kerusakan lingkungan. Maka hari ini kita harus merawat lingkungan agar kita mendapatkan udara yang sehat”, ungkapnya.
Ia juga menyoroti kondisi cuaca yang dinilai mengkhawatirkan dan berpotensi berdampak terhadap kesehatan masyarakat. Menurutnya, menjaga lingkungan merupakan langkah penting untuk mendukung terciptanya lingkungan yang sehat dan nyaman bagi masyarakat.
Program ini diharapkan tidak hanya memberikan manfaat ekologis, tetapi juga menghadirkan manfaat jangka panjang bagi masyarakat melalui keberadaan pohon buah yang dapat tumbuh dan menghasilkan buah di kemudian hari.
[Kelembagaan dan Humas Lazismu Pusat/Lazismu Pekanbaru]

BANDUNG -- Komitmen untuk memberikan nilai manfaat bagi masyarakat dalam memperkuat literasi dan inklusi keuangan syariah dilakukan PT Asuransi Jasindo Syariah yang berkolaborasi dengan Lazismu untuk edukasi dan kepedulian sosial.
Kedua entitas ini berupaya memperkuat edukasi tersebut di ‘Aisyiyah Boarding School (ABS) Baleendah, Bandung, pada Kamis, 22 Oktober 2026. Kegiatan ini diikuti oleh ratusan santriwati serta jajaran pimpinan Pimpinan Wilayah 'Aisyiyah (PWA) Jawa Barat dan pengelola pesantren.
Selain edukasi, acara ditandai dengan penyerahan bantuan pilar program pendidikan berupa beasiswa kepada 15 santri serta pendaftaran proteksi asuransi syariah bagi 5 santri. Branch Manager PT Asuransi Jasindo Syariah KP Bandung, Ririn Riani Ludisa mengatakan pemahaman asuransi syariah tidak sekadar berfokus pada produk keuangan, melainkan pada penanaman prinsip kepedulian sosial.
"Asuransi syariah hadir dengan prinsip saling melindungi dan tolong-menolong sesuai dengan nilai ta'awun”, ujarnya. Melalui kegiatan ini, kami berharap adik-adik santriwati memperoleh pengetahuan baru mengenai manajemen risiko sebagai bekal masa depan.
Dalam kesempatan itu, Direktur Penghimpunan dan Kerjasama Lazismu Pusat, M. Sholeh Farabi, menekankan pentingnya perlindungan syariah dan skema jaring pengaman sosial dalam menjaga stabilitas ekonomi keluarga.
"Dalam Islam, mengelola harta tidak hanya soal mencari dan membelanjakan, tetapi ada unsur sosial di dalamnya”, kata Farabi. Melalui penyaluran zakat Jasindo Syariah yang dikelola Lazismu, kita dapat memberikan beasiswa dan meringankan beban sesama.
Literasi yang diberikan ini, sambung Farabi, adalah penting agar santriwati paham bagaimana harta diperoleh secara halal, dikelola dengan baik, dan didistribusikan untuk memberi dampak positif bagi masyarakat.
Sementara itu, Ketua Pimpinan Wilayah 'Aisyiyah (PWA) Jawa Barat, Ia Kurniati, mengatakan bahwa kemandirian finansial merupakan keterampilan krusial bagi perempuan berkemajuan. "Perempuan harus cerdas merencanakan dan mengelola keuangan sehingga mampu membedakan antara kebutuhan dan keinginan”, pungkasnya.
Kami berharap melalui edukasi literasi keuangan syariah ini, para santriwati dipersiapkan menjadi generasi perempuan berkemajuan, yang tidak hanya berilmu tinggi, tetapi juga mandiri secara finansial dan menjadikan harta sebagai ladang ibadah serta benteng dari risiko finansial negatif.
Menanggapi acara kolaborasi dalam edukasi dan literasi keuangan syariah, Mudir Pesantren ‘Aisyiyah Boarding School Baleendah, Dede Kurniawan, turut menyampaikan apresiasinya. Kami mengucapkan terima kasih atas kontribusi Lazismu dan Jasindo Syariah. Bantuan beasiswa dan edukasi ini menjadi pemantik serta awal yang baik bagi tumbuh kembang pesantren.
“Semoga sinergi dan keberkahan ini terus mengalir untuk mendukung pendidikan serta pemberdayaan santriwati ke depannya", tuturnya.
Adapun materi edukasi dan mengenal asuransi syariah dan kewaspadaan keuangan disampaikan M. Fajar dari Jasindo Syariah. Disusul materi konsep harta dalam islam yang dikupas tuntas oleh Pengawas Syariah Lazismu Pusat, Ayi Yunus Rusyana. Ia memberikan panduan praktis pengelolaan keuangan bagi para santriwati.
Adapun program ini dirancang untuk mengenalkan manajemen risiko berbasis nilai-nilai Islam sejak dini. Nilai utama seperti saling tolong-menolong (ta’awun), kepedulian, dan kebersamaan (takaful) menjadi fondasi agar generasi muda siap menghadapi ketidakpastian finansial di masa depan.
Melalui rangkaian kegiatan ini, Jasindo Syariah, Lazismu, dan PWA Jawa Barat berkomitmen untuk terus memperkuat inklusi keuangan syariah sekaligus mendorong pemerataan akses pendidikan berkualitas bagi generasi muda Islam di Indonesia.
[Kelembagaan dan Humas Lazismu Pusat]

SURABAYA -- Bantuan finansial bagi seseorang untuk kebutuhan biaya studi memiliki kontribusi dalam peningkatan kapasitas. Penerima manfaatnya merasakan dampak langsung sehingga mampu memberikan motivasi.
Lazismu Universitas Muhammadiyah Surabaya (Umsura), mewujudkannya dalam menyalurkan kebutuhan akademik mahasiswa untuk mendukung studinya dalam bentuk Beasiswa Sang Surya. Beasiswa senilai Rp130 juta diberikan kepada 73 mahasiswa pada semester gasal tahun akademik 2026/2027.
Dari jumlah tersebut, sebanyak 12 penerima merupakan mahasiswa asing, termasuk mahasiswa asal Sudan yang keluarganya terdampak perang. Penyaluran Beasiswa Sang Surya tersebut berlangsung di Masjid Al-Khoory Umsura, pada Rabu (21/10/2026), dilansir dalam laman resmi Umsura.
Program ini mencakup tiga skema, yaitu Sang Surya Scholarship untuk bantuan pendidikan mahasiswa reguler, Sang Surya Living Cost untuk membantu biaya hidup mahasiswa asing, serta Sang Surya Charity berupa bantuan sosial bagi dua mahasiswa asal Sudan yang keluarganya terdampak perang.
Kepala Kantor Layanan Lazismu Umsura, Gandhung Fajar Panjalu mengatakan bahwa program tersebut merupakan bagian dari upaya memperluas manfaat filantropi di lingkungan kampus.
“Semester ini ada tiga skema Beasiswa Sang Surya, yaitu Sang Surya Scholarship, Sang Surya Living Cost, dan Sang Surya Charity. Kami ingin memastikan bahwa manfaat zakat, infak, dan sedekah dapat menjangkau mahasiswa dengan kebutuhan yang beragam”, ungkap Fajar.
Fajar menambahkan, Lazismu Umsura juga berencana mengembangkan program sertifikasi amil dengan melibatkan mahasiswa yang tergabung dalam filantropi muda. Selain itu, Lazismu akan mengadakan sertifikasi halal bagi mitra penyedia makan siang gratis.
Menurutnya, penguatan penggalangan dana atau fundraising juga akan dilakukan melalui integrasi program antara Lazismu Umsura, universitas, dan filantropi muda mahasiswa.
Selaras dengan hal itu, Rektor Umsura, Mundakir, menyampaikan selamat kepada seluruh penerima manfaat. Bantuan itu diharapkan bisa dimanfaatkan sebaik mungkin untuk menunjang proses perkuliahan sehingga mahasiswa menyelesaikan studi tepat waktu.
“Kami berharap mahasiswa dapat mensyukuri dan memanfaatkan beasiswa ini dengan sebaik-baiknya. Belajar lebih giat dan menyelesaikan studi tepat waktu. Raih cita-cita yang diinginkan, dengan tetap semangat dalam spirit ta’awun yang menjadi nilai utama Beasiswa Sang Surya”, pesannya menekankan amanah itu.
Salah seorang penerima manfaat yang mendapat perhatian dalam penyaluran beasiswa tersebut adalah Eissa Thabit Mohamed Matar, mahasiswa asal Sudan. Ia menceritakan dampak perang terhadap kehidupan masyarakat di negaranya, termasuk kesulitan ekonomi dan berbagai keterbatasan yang dialami keluarganya.
Kesempatan melanjutkan pendidikan di Umsura menjadi hal yang sangat berarti bagi Eissa. Dukungan beasiswa dari kampus dan Lazismu Umsura turut membantunya menjalani perkuliahan. Ia bersyukur atas dukungan yang diterimanya sembari menyampaikan terima kasih kepada pihak universitas, Lazismu Umsura, serta teman-temannya dalam menempuh pendidikan di Indonesia.
Selain menjalani perkuliahan, Eissa mengaku mendapat kesempatan untuk berkontribusi dalam berbagai kegiatan pengabdian di lingkungan kampus maupun masyarakat di luar kampus.
[Kelembagaan dan Humas Lazismu Pusat/Lazismu Umsura]

SIDOARJO -- Tidak ada berita instans. Setiap informasi memiliki sumber penuturnya. Metodenya objektif. Persis apa yang disampaikan Bill Kovach dalam bukunya, 9 Elemen Jurnalisme. Salah satu esensi butir-butir elemennya, disiplin untuk memverifikasi informasi, lalu mengujinya.
Teknologi media informasi boleh berubah, tapi prinsip dan praktik penting dalam jurnalisme sebagai pedomannya. Kecepatan menerbitkan berita penting, jauh lebih penting akurasinya. Di tengah kuasa jagad media sosial, tantangan reporter saat ini menyajikan berita yang berimbang (cover bothsides) dan benar.
Sigit Hermawan merasakan betul perubahan cepat dan dinamika informasi yang mengalir deras. Guru Besar ini mengatakan media lembaga seperti Lazismu bukan hanya instrumens promosi. Di dalamnya ada sarana edukasi, pelayanan, dan pertanggungjawaban publik.
Demikian disampaikan Sigit Hermawan dalam Kopdar Media dan Workshop Jurnalistik Filantropi di Cafe Limasan, Sidodadi, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur, pada Selasa (20/10/2026). Seperti dilansir laman resmi Lazismu Jawa Timur, kata Sigit, pemanfaatan media yang terstruktur dinilai mampu memperluas jangkauan dakwah sekaligus mendongkrak kepercayaan muzaki.
Di kedai kopi bernuansa tradisional itu, sebanyak 45 peserta mengikuti kegiatan tersebut. Seluruh peserta mewakili Lazismu daerah dan dari berbagai wilayah di Jawa Timur. Mereka membedah strategi penghimpunan serta pendayagunaan Zakat, Infak, Sedekah, dan Dana Keagamaan Lainnya (ZISKA) berbasis pengelolaan media digital.
Kepada peserta, Ketua Lazismu Jawa Timur ini menegaskan bahwa tujuan kegiatan kali ini menghimpun kembali rekan-rekan amil yang aktif di media Lazismu daerah. Harapannya, mampu meningkatkan kompetensi para kru media, sehingga program kerja yang dijalankan tersampaikan dengan baik kepada publik.
Di workshop jurnalistik itu, Ia mengingatkan seluruh amil agar memegang teguh etika publikasi filantropi Islam. “Prinsip tabayun (verifikasi), perlindungan data pribadi sesuai regulasi, dan larangan merendahkan martabat penerima manfaat adalah loyalitas reporter pada pedoman etika jurnalistik”, pungkasnya.
Sigit juga mendorong penggalangan kepedulian publik untuk merespons krisis seperti kekeringan di Bojonegoro dan bencana karhutla di Kalimantan. Sembari memotivasi, Ia menekankan pentingnya pemanfaatan platform digital agar bisa menjangkau target audiens lebih luas sehingga masyarakat mudah memanfaatkan internet dalam mencari informasi.
Beberapa jam berselang, Redaktur Pelaksana Tagar.co, Mohammad Nurfatoni memaparkan teknis penulisan berita. Menurutnya, penerapan jurnalisme solusi merupakan model yang bisa digunakan oleh media Lazismu.
Dalam menyajikan berita program, Nurfatoni menekankan pentingnya memuat unsur pilar pemecahan masalah, bukti capaian riil, serta kejujuran dalam mengakui keterbatasan di lapangan. Nurfatoni memastikan bahwa judul berita harus dibuat lugas, berbasis fakta konkret tanpa narasi bombastis.
Setelah materi teknis penulisan berita itu disampaikan, Founder Ruang Karya Media Bayu Firdaus, mengulas materi digital fundraising. Ia menyoroti fenomena laporan seremonial yang cenderung kaku dan minim daya gugah. Bayu menyarankan pengelola media sosial Lazismu memproduksi konten yang fokus pada sisi kemanusiaan yang didukung struktur narasi terukur.
“Sajikan laporan yang mengisahkan peristiwa dengan solusi kemanusiaan yang menyentuh sisi emosional audiens. Libatkan anak muda dalam pengelolaan, optimasi, hingga buka ruang diskusi karena merekalah yang menguasai medan digital saat ini,” tandasnya.
Lewat pelatihan ini, para peserta juga dibekali panduan penyusunan kalender konten mingguan, teknik penyuntingan video pendek, hingga perancangan indikator keberhasilan media sosial. Langkah ini diharapkan mampu memperkuat penetrasi dakwah digital Muhammadiyah di seluruh wilayah Jawa Timur.
Dalam kesempatan itu, dilansir dalam laman Tagar.co, mahasiswa Ikom Umsida ikut berpartispasi langsung dalam Kopdar Media dan Workshop Jurnalistik Filantropi tersebut. Keterlibatan mereka mempertemukan tim media Lazismu dari berbagai daerah di Jawa Timur. Forum itu mengupas materi penguatan publikasi lembaga, strategi komunikasi, serta praktik jurnalistik yang akurat dan humanis.
[Kelembagaan dan Humas Lazismu Pusat/Lazismu Jatim/ysf/ayu]

YOGYAKARTA -- Model program beasiswa dengan penugasan bagi penerima beasiswa dilakukan Lazismu yang bekerja sama dengan Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).
Melalui pilar program pendidikan, Lazismu DIY melaksanakan penyerahan beasiswa Sang Surya (BSS) Batch 5 kepada sejumlah majelis dan lembaga di lingkungan Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) DIY pada Kamis, 15 Oktober 2026.
Kegiatan berlangsung di Aula PWM DIY, dihadiri oleh Ketua Lazismu DIY, Jefree Fahana serta perwakilan pimpinan dari masing-masing majelis dan lembaga penerima mahasiswa. Sebanyak 15 mahasiswa diserahkan untuk bertugas sebagai staf bantu untuk mendukung kinerja dan pelaksanaan program di lingkungan PWM DIY.
Penempatan tersebut, kata Jefree, mencakup tujuh mahasiswa di PWM DIY, satu mahasiswa di bidang Wakaf, satu mahasiswa di Lembaga Pengkajian, Pengawasan, dan Pendampingan Produk Halal (LP4H), satu mahasiswa di Lembaga Pengembangan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (LPUMKM).
Adapun dua mahasiswa lainnya, ditempatkan di Lembaga Pengembangan Cabang, Ranting, dan Pembinaan Masjid (LPCR-PM), dua mahasiswa di Family Learning Center (FLC), serta satu mahasiswa di Majelis Lingkungan Hidup (MLH).
Pada penyerahan mahasiswa tersebut, terdapat arahan mengenai pelaksanaan tugas dan tanggung jawab selama menjalankan penugasan di masing-masing majelis dan lembaga. “Mahasiswa diharapkan dapat menjalankan amanah dengan baik, menjaga kedisiplinan, membangun komunikasi yang positif, serta menyesuaikan diri dengan lingkungan kerja”, ujarnya.
Selain itu, mahasiswa diharapkan mampu menunjukkan sikap profesional, aktif belajar, dan memberikan kontribusi nyata dalam membantu kelancaran aktivitas serta program kerja di tempat penugasan.
Sinergi antara Lazismu dan PWM DIY serta majelis dan lembaga di lingkungan persyarikatan diharapkan dapat memberikan manfaat bagi pengembangan kapasitas mahasiswa sekaligus mendukung peningkatan kinerja organisasi.
Program beasiswa ini tidak hanya memberikan dukungan terhadap keberlangsungan pendidikan, tetapi juga membuka kesempatan bagi mahasiswa untuk memperoleh pengalaman kerja, mengasah keterampilan, serta menumbuhkan rasa tanggung jawab dan semangat pengabdian di lingkungan persyarikatan Muhammadiyah.
[Kelembagaan dan Humas Lazismu Pusat/Lazismu DIY]

SUKABUMI -- Layla Nur Alpiah murid kelas 11 Madrasah Aliyah (MA) Nurhasanah tak biasa mengais sampah. Begitu juga dengan Siti Ainsa teman sekelasnya, yang merasakan risi dengan bau tak sedap dari sampah. Siswa di MA Nurhasanah ini, setelah mengikuti program Rekabumi atau preduksi kelola sampah Sukabumi, sekarang cekatan memilah sampah.
Program Rekabumi berpusat di MA Nurhasanah, Desa Sindangraja, Kecamatan Curugkembar, Kabupaten Sukabumi. Inisiasi program tersebut merupakan hasil kolaborasi Universitas Muhammadiyah Sukabumi (UMMI) bersama Lazismu Jawa Barat dalam pilar program lingkungan yang dimulai sejak 18 Juli 2026.
Selama ini, semua sampah di sekolah dikumpulkan lalu dibakar. Di sekolah itu, petugas kebersihan mengakhiri limbah sampah dengan membakarnya. Kepala Sekolah MA Nurhasanah, Nurhayati, mengungkapkan, limbah sekolah tidak dipilah sama sekali, terutama sampah plastik. Butuh waktu untuk memilahnya, maka jalan terakhirnya dibakar saja.
Saat tata kelola sampah dilakukan seadanya, kata Nurhayati, jika sudah penuh butuh penanganan yang rumit. Jadi dilema, dibakar menimbulkan polusi dan mengganggu warga sekitar. Ia menyadari lingkungan sekolah masih absen dalam pengelolaan sampah yang baik dan tepat.
Kelola Limbah Sampah
Dari pengalaman mengelola sampah yang masih seadanya itu, tercetus harapan bagaimana mencari solusinya. Beruntung sekolah ini dipertemukan dengan lingkungan akademisi yang peduli limbah sampah dari Universitas Muhammadiyah Sukabumi.
Johanda, penanggung jawab program Rekabumi dari Program Studi Pendidikan Biologi UMMI, menyeritakan bahwa ada banyak jalan menangani limbah sampah yang berserakan. Meski perlu usaha untuk memilahnya, namun ini merupakan cara alternatif.
“Tidak ada yang mudah dan sulit. Tetapi bagaimana menyikapinya dengan cara tepat agar sampah tak menimbulkan persoalan baru”, bebernya. Paling tidak, kata Johanda, cara ini berjalan di empat pilar utama pengolahan limbah.
Mulai dari bagaimana mengelola budidaya magot (larva lalat tentara hitam) untuk mengurai yang organik, pembuatan limbah organik sebagai pakan ternak, meracik yang organik jadi kompos untuk pupuk, serta pemanfaatan plastik menjadi ecobrick.
Pemantauan kegiatan siswa dilakukan hingga akhir Juli dengan penyampaian materi pembuatan pupuk kompos dan magot diberikan sebagai pelengkapnya yang sebelumnya disampaikan materi tentang pembuatan dan pemanfaatan limbah organik.
Pertengahan Agustus, pembimbingan dan pengukuhan ulang siswa serta pembuatan ecobrick dilakukan secara bertahap yang dimulai pada awal bulan itu. Literasi dan pelatihan pengelolaan limbah sampah yang bersahabat diberikan kepada siswa MA Nurhasanah.
Hingga September, dukungan kuat masih diberikan terhadap persoalan lingkungan yang dialami Sekolah Nurhasanah. Tidak ada yang instans. Semuanya membutuhkan proses agar seluruh siswa tak belajar sendirian.
Dari awal didampingi, hasilnya sekarang setelah tiga bulan berjalan, prinsipnya untuk mengubah kebiasaan membuang sampah, tetapi juga membangun sistem pengolahan limbah sampah yang berkelanjutan dari skala rumah tangga hingga lingkungan sekolah.
Sementara itu, UMMI menerjunkan tim mahasiswa untuk menemukan kendala dan menilai hasil di lapangan menjadi bahan diskusi dan data dalam melakukan rekognisi yang model kegiatannya di setarakan dengan Kuliah Kerja Nyata.
Syahdan salah seorang mahasiswa yang terlibat aktif dalam program ini mengatakan terdapat kendala lapangan, seperti tantangan musim kemarau serta keterbatasan wadah magot. Hal serupa diungkapkan Dede Nur Endah bahwa tantangan besarnya adalah bagaimana mengajak siswa untuk peduli terhadap lingkungannya.
Sementara itu, Fauzan Ramadani berharap kendala yang ditemui di lapangan dapat segera tertarasi sembari berkoordinasi dengan Lazismu Jawa Barat yang dalam praktiknya butuh komunikasi lebih lanjut seiring masuknya bantuan fasilitas baru dalam program ini.
Memasuki bulan ketiga pelaksanaan, telah terjadi perubahan kebiasaan siswa dan warga sekitar. Bukti nyatanya, dari hanya lima siswa yang tertarik, kini program tersebut sudah mengundang minat 28 siswa yang aktif bergerak bersama memilah dan mengolah sampah dengan baik dan benar.
Harus diakui, sekolah merupakan basis dasar masyarakat yang sering kali belum tersentuh program lingkungan. Melalui sekolah, kita menanamkan pola pikir sejak dini bahwa sampah bisa bermanfaat jika dikelola dengan benar.
Tak hanya itu, sekolah juga mengoperasikan sistem Bank Sampah. Sampah yang dibawa siswa maupun warga disetorkan ke tempat pengolahan untuk ditimbang dan ditukar dengan poin. Poin yang terkumpul bisa ditukarkan kembali dengan berbagai produk kreatif buatan para siswa, salah satunya kerajinan ecobrick.
Aisyah murid kelas 12 MA Nurhasanah selaku penanggung jawab ecobrick mengatakan mereka dahulu tidak peduli pada sampah, tapi setelah adanya program ini kini mereka dapat membuat karya lewat sampah.
"Sekarang kalau melihat sampah, bisa dibuat kerajinan," katanya. Sekarang bersama teman-temannya sampah dimanfaatkan jadi kompos. Botol-botol plastik yang dipadatkan menjadi ecobrick kini disulap menjadi beragam kerajinan tangan menarik, seperti gantungan kunci.
Wakil Ketua Badan Pengurus Lazismu Jawa Barat, Endang Mahbub, menegaskan bahwa ada komitmen untuk terus mendukung dan melanjutkan program kolaborasi ini agar menjadi contoh model pengolahan sampah yang mandiri dan berkelanjutan di Sukabumi.
Endang mengatakan bahwa keberlanjutan program pengolahan sampah memerlukan dukungan sarana dan prasarana penunjang yang memadai. Untuk itu, Lazismu Jawa Barat menyiapkan sejumlah inovasi alat pendukung, seperti penyediaan tempat pembakaran sampah khusus (rocket stove) yang lebih aman, mesin pencetak paving block dari olahan limbah plastik, hingga penambahan mesin pengolah sampah lainnya agar mampu menghasilkan lebih banyak produk bermanfaat.
[Kelembagaan dan Humas Lazismu Pusat/Lazismu Jabar]

