

Saat ini, Ia tinggal bersama anak semata wayangnya. Anaknya memiliki tanggung jawab menafkahi sang ibu, maka dengan berat hati harus bekerja di tempat yang cukup jauh dan masih bekerja serabutan.
“Kadang Inya (red: dia) kerja ikut orang lain menambang pasir atau intan. Kadang bekerja serabutan jadi buruh bangunan dengan penghasilan tak menentu,” ucap Antung. Pulangnya juga tidak menentu, seminggu dua kali atau satu kali,” lanjutnya.
Disela-sela mengisi aktivitas sehari-hari, Nenek Antung selalu mendengarkan radio tua miliknya. Lewat radio tua itu, Ia mendengarkan siaran yang fevoritnya majelis ilmu. “Ini yang aku dengarkan setiap hari, semoga dapat menambah ilmu walau hanya mendengarkan melalui radio”, ujarnya.
Selain mendengarkan pengajian agama, Nenek Antung juga memelihara 9 ekor kucing. Kucing peliharaannya yang menemaninya jika anak semata wayangnya belum pulang. Itulah keadaan Nenek Antung, yang hidup miskin.
Kendati sudah tua, Ia masih ikut pengajian, kata Ketua Pimpinan Ranting Muhammadiyah setempat, Pak Heri Sumanto. “Beliau walau sudah sepuh rajin datang, sebelum mengalami gangguan pada kakinya, selalu datang tidak pernah absen,” terang Heri.
Selasa kemarin (9/1/2017), Tim Pelaksana Lazismu Banjarbaru untuk kesekian kalinya bersilaturahim ke rumahnya. Mendistribusikan bantuan, salah satunya ke lokasi Nenek Antung. “Sekarang, Nenek Antung berada dalam daftar mustahik penerima manfaat Program Senyum Lansia,” jelas Ginanjar Sutrisno, Divisi Pengembangan Program dan Fundraising Lazismu Banjarbaru.
Program Senyum Lansia merupakan program yang bersifat karitatif dengan konsep pemberian paket sembako senilai Rp. 200.000,- beserta uang tunai Rp. 200.000,- kepada kategori fakir dan miskin untuk usia lanjut. “Kami juga mengajak kepada kaum muslimin dan muslimat, untuk ikut berkonstribusi donasi untuk program ini”, lanjutnya. (gj)

Ia harus merawat ayahnya yang sedang sakit, dan di rumahnya hanya ada Oos, ayahnya, dan adik-adiknya yang masih duduk di sekolah dasar.
Ayah Oos, Ariz berusia 60 tahun, menderita sakit stroke lanjut, sudah tidak bisa melakukan kegiatan apapun, hanya bisa berbaring, bahkan buang air pun di tempat tidur, dan istrinya sudah lama berpulang. Selama ini Oos yang merawat ayahnya. Menyuapkan makanan, memandikan, dan mengawasinya.
Kediaman Oos di Kampung Sukarindik, RT/RW 002/001 Kelurahan Sukarindik, Kecamatan Bungursari, Kota Tasikmalaya. Adik-adiknya menjadi perhatian khusus Oos selain ayahnya dalam mempertahankan kehidupan keluarganya tanpa seorang ibu.
Oos merupakan mahasiswa STAI (Sekolah Tinggi Agama Islam) Tasikmalaya yang juga dibantu biaya pendidikannya oleh Lazismu. Selama ini, Ia cuti kuliah dari semester 3, dan untuk kebutuhan sehari-hari hanya mengandalkan pemberian saudara dan tetangganya.
Melihat kondisi Oos, Lazismu meringankan beban hidupnya dengan memberikan bantuan, 1 unit mesin cuci Desember lalu (21/12/2017). Dengan harapan Oos dapat mencuci baju ayah dan adik-adiknya dengan ringan. (rn)

Jika kebablasan, bisa melewati norma. Gokil kata anak-anak zaman now. Fenomena itu semakin nyata, lembaga filantropi perlu meresponnya seperti yang dilakukan lembaga amil zakat nasional, di Kendal melalui Kantor Layanan Kangkung untuk tidak berpangku tangan.
Pagi itu (7/1/2017) semilir angin menyita perhatian di sekitar jalur Pantura, Kabupaten Kendal. Seolah rasa sejuknya memantik semangat. Semangat memacu untuk berbagi dengan anak-anak yatim dan duafa. Kali ini, Kantor Layanan (KL) Lazismu Kangkung membuktikannya dengan cara tidak hanya menyantuni, namun mengajaknya juga untuk Ngaji.
Kegiatan itu dilaksanakan di SMP Muhammadiyah 5 Cepiring, Darul Arqom 5, di Kendal. Kegiatan diawali oleh sambutan dari Ketua Panitia, Abdul Rohman, yang menjelaskan beberapa aktivitas program dan juga laporan hasil penghimpunan kantor layanan Lazismu Kangkung. Seusai laporan turut dibacakan beliau gambaran ke depan Lazismu yang akan menjadi motor utama dalam membudayakan spirit zakat bersama.
Semntara itu, Ketua PDM Kabupaten Kendal, yang diwakili oleh Drs. H. Utomo, M.Pd, memaparkan tentang pentingnya pendidikan bagi generasi muda, beliau juga menambahkan gerakan zakat yang bisa berbicara banyak hal untuk memajukan negeri ini. Di akhir sambutannya, Utomo menambahkan bahwa pendidikan dan gerakan zakat merupakan dua hal yang saling menguatkan dan jangan dipisahkan.
Disamping itu, melalui program SAY (santunan anak yatim), sambutan yang memotivasi jamaah diringi penampilan dari keterampilan dan prestasi para santri. Lewat tilawah merdu dari para hafidz belia hingga Tari Saman dengan beberapa atraksi yang di akhir penampilan mendapat apresiasi yang menggembirakan para jamaah.
Secara simbolik, santunan diberikan oleh PDM Kabupaten Kendal oleh Drs.H.Utomo,M.Pd untuk anak-anak yang diundang, serta dari Ekseskutif Lazismu Kendal yang diwakili Danang Ari Wibowo untuk pentasarufan kepada PRM serta Ortom dan AUM. Selain itu, SAY juga menyuguhkan keseriusan SMP Muhammadiyah 5 Cepiring dalam pengembangan penguasaan bahasa asing. Hal itu dibuktikan dengan penampilan pidato tiga Bahasa (Bahasa Indonesia, Arab dan Inggris ) oleh tiga santri serta Dua Bahasayang digunakan oleh pembawa acara.
Ustadz Sumanto yang menjadi pembicara pada kajian di SAY, memaparkan tentang bahaya Sekeng bagi generasi muda Islam. Beliau memaparkan fenomena negatif yang menggejala tengah menggerogoti generasi muda. Sikap para generasi muda ini, bisa dicontohkan dengan kreativitas mereka mengoplos obat kemudian meminumnya, masih banyak contoh yang lain, tegas beliau.
“Solusinya adalah menguatkan diri generasi sekarang, terutama putra-putri kita dengan menghadirkan lingkungan yang baik, dan itulah maksud dan tujuan adanya lemaga pendidikan sebagaimana telah buktikan oleh Darul Arqom 5 Kabupaten Kendal, dalam mendidik santrinya dengan prestasi,” Tambah Ustadz Sumanto, sebelum menutup kajian.
Program SAY di Kantor Layanan Kangkung tahun ini merupakan bagian dari program Santunan 1000 anak Yatim dan Duafa di Lazismu Kendal. Dalam kegiatan ini, yang mendapat manfaat sejumlah 120 anak yang tidak hanya berasal dari warga Muhammadiyah saja.
Paket School Kit yang diberikan sesuai dengan kesepakatan bersama yang di seragamkan oleh Lazismu Kendal. Program ini akan di lanjutkan dan disinergikan dengan program KL Kangkung yang lain, agar tak jenuh dalam memberi untuk negeri. (d’)

Sudah 8 tahun Ia melakoninya, setiap hari mangkal di Jalan Wonodri Baru, Kota Semarang. Bukan omong kosong, memang dia pernah menerima order untuk menjahit potongan rambut panjang dijadikan bahan dasar pembuatan Wig.
Sebagai tukang jahit, dia mengaku kesulitan menjalankan usaha di daerah asalnya Pekalongan, Ia memilih melanjutkan usahanya di Semarang. Ia tidak sendiri, Udin adik kandungnya juga menjalani profesi yang sama, bahkan merantau ke Semarang lebih dulu.
Modal utamanya sepeda motor bebek yang sudah dimodifikasi, mesin jahit menempel persis di belakang sepeda motornya. Bisa dipakai untuk berkeliling dan bisa juga untuk mangkal, apabila menjahit duduknya menghadap ke belakang.
Setiap ada panggilan azan, Ia hentikan pekerjaannya, barang-barang dikemas, di tutup dengan plastik dan ditinggal untuk berjamaah di masjid. Kebetulan tempat mangkalnya tidak jauh dari lokasi masjid At-Taqwa.
“Rejeki itu sudah ada yang mengatur mas, kalau sudah hak kita tidak akan lari kemana, yang penting kita jangan meninggalkan perintah yang mengatur rejeki itu” kata Slamet.
Dia menginginkan untuk mengganti payungnya yang sudah rusak dengan terpal menggunakan kaki penyangga dari besi yang mudah dibongkar pasang. “Kalau turun hujan agak repot mas menutup kain jahitan, jika basah kan kasihan pelanggan” tutur Slamet.
Lazismu menyambut impian Slamet, untuk memfasilitasi agar usahanya tetap berjalan tanpa gangguan jika musim hujan tiba. Akhirnya, Slamet menjadi mitra binaan LAZISMU di bidang usaha kecil.
Untuk membantu Slamet mengembangkan usahanya, Lazismu ucapkan sampaikan terimakasih kepada semua muzaki yang telah membantu Slamet. Bantuan lainnya dapat disalurkan melalui Bank BTN Syari’ah, dengan nonor rekening 714205 6970. (cs)

Kesenjangan sektor pendidikan Provinsi Papua Barat jika dibandingkan dengan sejumlah daerah di luar Indonesia Timur begitu nyata. Pemerintah sampai saat ini turut pula memerhatikan kebijakannya di Papua Barat.
Berdirinya Lazismu di Papua Barat adalah fakta bahwa gerakan filantropi dampaknya harus memiliki nilai manfaat untuk semua orang. Di sektor pendidikan ini pula kalangan muda di Papua Barat mendapat prioritas pemberdayaan pendidikan oleh Lazismu melalui Beasiswa Sang Surya.
Untuk mewujudkannya, pada 13 Januari 2018, di Universitas Muhammadiyah Sorong (UMS) Lazismu menyerahkan beasiswa tersebut kepada 18 orang penerima manfaat. Bantuan beasiswa se-Papua Barat diserahkan oleh Gubernur & Wakil Gubernu Papua Barat Bapak Drs. Dominggus, M.Si & H. Muhamad Lakotani, SH, M.Si & Ketua Lazismu Papua Barat H. Kamaluddin, SS. MM, disela-sela acara Tanwir IMM ke 27 di Kota Sorong.
Hadir pula dalam acara penyerahan beasiswa Ketua PP Muhammadiyah, Marpuji Ali, Kemendikbud RI, Muhadjir Effendy, civitas akademik STKIP Sorong dan Universitas Muhammadiyah Sorong serta Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Papua Barat. Dalam sambutannya, Gubernur Papua Barat, Drs. Dominggus, M.Si, mengatakan nilai manfaat beasiswa ini untuk meningkatkan kapasitas SDM, terutama mahasiswa dan mahasiswi.
“Program ini adalah contoh bagaimana pemberdayaan melalui pendidikan bisa terwujud di sini,” katanya. Jika Lazismu mampu, maka Provinsi Papua Barat tentu juga bisa melakukannya, tambahnya.
Terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Lazismu, PP Muhammadiyah yang telah memberikan beasiswa kepada putra-putri asli Papua Barat. Ia juga menyadari bila keberadaan Muhammadiyah dengan amal usahanya di bidang pendidikan di Papua Barat turut memberikan peran yang besar dalam mencerdaskan anak bangsa, paparnya.
Lazismu Papua Barat, yang diwakili oleh Kamaluddin, menilai 18 orang penerima beasiswa ini ke depan sebagai duta Lazismu untuk program pemberdayaan. Dari penerima beasiswa tersebut, 7 diantaranya adalah perempuan.
Kamal merinci untuk daerahnya terdiri dari Teluk Bintuni sebanyak 3 orang, Manokwari sebanyak 4 orang, Kabupaten Sorong sebanyak 5 orang dan Kota Sorong sebanyak 6 orang. Tiga orang diantaranya non-muslim memeroleh beasiswa ini, semuanya sebagai generasi bangsa untuk masa depan. “Keempat kawasan itu jaraknya sangat berjauhan, selain melalui transportasi udara, jalur laut bisa digunakan untuk munuju ke sana,” ungkapnya. (na)

“Karena itu, pendataan harus dimulai dari sekarang meskipun menggunakan software pengolah data yang sederhana sekalipun,” pungkasnya.
Hal ini terungkap dalam bincang-bincang Lazismu di ruang kerjanya saat kunjungan pada Kamis kemarin (3/1/2017) sekaligus penyerahan piagam NPWZ (Nomor Pokok Wajib Zakat).
NPWZ adalah salah satu program LAZISMU Kota Semarang, yang sudah dicanangkan sejak 2017. Program ini berangkat dari rapat pleno PDM (Pimpinan Daerah Muhammadiyah) Kota Semarang. Selanjutnya, dibuktikan dengan melaksanakan ZIS di Lazismu sebagai lembaga amil zakat milik Muhammadiyah.
Tercatat sejumlah 113 orang muzaki (terdaftar NPWZ) dari total 696 orang. Muzaki menyalurkan zakatnya melalui Lazismu. Sementara mustahik sebagai penerima manfaat sejumlah 3.626 orang. Capaian ini belum sesuai dengan target yang dicanangkan sejumlah 1000 muzaki di 2017.
Anggota Pleno PDM Bidang ZIS, Yusuf Hidayat, mengatakan perlunya kesadaran semua komponen persyarikatan untuk melaksanakan ZIS. Mulai dari PDM, PCM, PRM, AUM, Ortom dan semua anggota serta simpatisan Muhammadiyah, sehingga program persyarikatan bisa tercapai dengan baik.
Tahun 2018 ini menjadi kewajiban bagi semua komponen persyarikatan mendukung secara nyata, berzakat, infak dan sedekah melalui Lazismu, agar kegiatan dakwah lancar. Dana zakat ini bisa mengurangi kemiskinan, bisa memberdayakan duafa, dan menjadikan mustahik menjadi muzaki, demikian Yusuf menjelaskan. (cs)

