

Sragen – LAZISMU. Empat sepeda berjejer di atas mobil pick up hitam. Sepeda itu terdiri dari tiga sepeda ukuran besar dan satu sepeda ukuran kecil. Semua sepeda itu merupakan donasi sepeda yang disalurkan Lazismu Sragen kepada Panti Asuhan Yatim Muhammadiyah Sragen, Selasa (13/2/2018).
Manajer Fundrasing Lazismu Sragen, Ronny Megas S, mewakili Lazismu Sragen menyerahkan keempat sepeda itu kepada pihak Panti Asuhan Yatim Muhammadiyah Sragen.
Awalnya sepeda itu milik dari Masduki, salah seorang donatur rutin Lazismu Sragen. Warga Sarigunan RT 34 RW 11 Sragen Wetan itu mengamanahkan sepeda miliknya kepada Lazismu Sragen.
“Saya punya sepeda di rumah, tidak ada yang pakai, tolong nanti sepedanya diambil dan mohon diberikan kepada orang yang lebih membutuhkan. Semoga sepeda itu bisa bermanfaat untuk mereka.” tutur Masduki.
Setelah mendengar permintaan tersebut, amil Lazismu Sragen langsung bergegas untuk mengambil sepeda milik Masduki.
Sudah lama sepeda itu tidak digunakan pemiliknya. Lazismu Sragen pun memperbaiki sepeda itu di bengkel sepeda ontel di daerah Ngrampal sebelum disalurkan. Satu pekan sepeda itu baru selesai diperbaiki, Lazismu langsung menyalurkannya kepada Panti Asuhan Yatim Muhammadiyah Sragen. (ls)

Semarang – LAZISMU. Lampu strobo warna merah, menyala berputar mengisyaratkan permintaan prioritas jalan. Jam sudah menunjukkan pukul 16.35 wib, saat ambulans Lazismu keluar dari garasi di jalan Wonodri Baru Raya, kota Semarang, menembus keramaian jalan Mataram menuju RS Sultan Agung (2-6/2/2018).
Perjalanan sore ini atas prakarsa dari seorang keluarga pasien, Nurcahyanti yang akrab di panggil Mbak Yanti, mau membawa pulang ibu kandungnya Sri Yanti setelah selesai menjalani perawatan di RS. Setelah dirawat 5 hari lamanya Ibu Sri sudah dinyatakan sehat oleh dokter dan boleh pulang.
“Ibu dirawat karena penyakit vertigo dan sesak nafas yang ia derita belakangan ini. Ibu sudah sehat, tapi karena badan ibu yang terlalu gemuk dan punggungnya sering kram sehingga sulit untuk bergerak, makanya saya perlu ambulans”, demikian tutur Yanti.
Dan ternyata benar, badan ibu Sri cukup besar sehingga untuk memindah ke tempat tidur ambulan perlu di angkat empat orang. Untungnya ada beberapa orang laki-laki dan siap untuk bersama mengangkat. Yanti merasa sangat bersyukur ada ambulans Lazismu yang siap membantu, selagi dia dalam kesulitan mendapatkan angkutan untuk ibunya.
Perjalanan kami menuju ke rumah Yanti sempat diguyur hujan. Jalanan Kaligawe yang dilanda banjir sejak dua hari yang lalu, masih menyisakan genangan air. Apalagi di tambah dengan curah hujan yang cukup lebat sore ini, menimbulkan genangan sedalam kira-kira 50 cm. Beberapa kendaraan roda dua tidak mampu melewati kedalaman genangan air, akibatnya mogok. Beruntung kami bisa melewatinya dengan selamat.
Rumah Yanti berada di perum Wisata Hati blok E54, Kudu, Menangeng, Kecamatan Genuk. Tepat bersebelahan dengan masjid, dan jalan menuju ke perumahan pun sudah di aspal bagus.
Dalam perjalanan sempat kami sampaikan bahwa program ambulan Lazismu, adalah salah satu manfaat dari dana infak dan sedekah yang dititipkan oleh para donatur kepada Lazismu untuk manfaat bersama.
Masih banyak manfaat lain dari dana zakat, infak maupun sedekah (ZIS) yang di kembangkan oleh Lazismu, salah satunya adalah program Bantu Rumah Dhuafa agar layak huni.
Sebelum kami pulang Yanti sempat menanyakan “Apakah boleh memakai ambulans Lazismu pada saat kontrol Ibu Sri”. Ya tentu saja boleh, selama tidak di pakai, karena armada ambulan kami masih terbatas satu buah, untuk melayani se-kota Semarang.
Kami sampaikan terimakasih sebesar-besarnya atas partisipasi dan donasi dari semua pihak dalam mendukung keberlangsungan pelayanan ambulan untuk masyarakat ini. (cs)
Dukungan bisa melalui nomor rekening berikut :
– Bank Syariah Mandiri 777 888 1785 (Infak & Sedekah)
– BTN Syariah 714 205 6983 (Infak & Sedekah)

Kendal – LAZISMU. Memiliki rumah impian semua orang. Bagaimana jika sudah punya rumah, tapi rumah itu tidak layak huni. Seperti rumah Bu Saminem di Dusun Muncar, Desa Kalices, Kecamatan Patean, Kabupaten Kendal. Beliau tinggal seorang diri, di rumah dengan kondisi atap rumah yang mulai berjatuhan.
Papan kayu rumah sebagai dinding terlihat keropos. Tanpa pondasi dengan lubang-lubang di dinding yang kian terlihat. Rumahnya berdiri di atas tanah milik orang lain. Demikian disampaikan Amil Lazismu Kendal, Agus wahyudi, kepada Matahati melalui pesan tertulis (14/2/2018).
Lazismu berkeinginan membedah rumahnya. Informasi tentang kesehariannya juga sudah dikantongi. Ia buruh kletek, mengupas buah randu (kapuk) dan buah jagung milik tetangganya. Pekerjaan ini hanya musiman. Penglihatan Bu Saminem kurang sempurna, untuk berjalan saja perlu dituntun.
Ketua Badan Pengurus Lazismu Kendal, Sutiyono menyampaikan bahwa Kita yang sehat harus ada diposisi yang seperti apa? Antara diposisi yang membantu atau diposisi beliau yang perlu dibantu?
Manusia hidup tidak sendiri, Lazismu mencoba bersinergi dengan BMT Bismillah, dan mengajak para donatur untuk berbagi bersama-sama. Selama satu pekan, ikhtiar membantu Bu Saminem berbuah tanggapan dari masyarakat. Donasi terus terkumpul.
Swadaya tenaga masyarakat sepakat untuk membenahi rumahnya. Dalam kurun waktu tiga pekan rumah sudah rapi. Bu Saminem sudah bisa nyaman di dalam rumah ini. “Saya sangat berterima kasih kepada semua donatur yang sudah membantu saya,” katanya. Rumah baru untuk saya, terima kasih.
Bersama BMT Bismillah, Lazismu menyerahkan rumah yang sudah diperbaiki kepa Bu Saminem (14/2/2018) disela acara pengajian yang disi penceramah Ustadz Drs. K.H. Iskhaq, Dip.Kmd selaku Pimpinan Daerah Muhammadiyah setempat.
Ustadz Iskhaq menyampaikan pesan moral dalam ceramahnya untuk tetap mengajak anak-anak, jika besar nanti menanamkan sikap Mesem, Mantuk, Monggo. Agar spirit berbagi dan menolong sesama tidak luntur di generasi sekarang. Kepedulian harus terus ditanamkan, pesannya. (ag)

Banjarbaru – LAZISMU. Senyum mungilnya terukir di bibir Raihan. Permainan yang menyenangkan, mereka masih belum puas untuk main flying fox. Penantiannya terbayar sudah bersama teman-temannya di lapangan outbound SD Alam Muhammadiyah Banjarbaru, Syamsudin Noor, Landasan Ulin pada Sabtu (17/2/2018).
Raihan adalah satu di antara 27 anak yang ikut serta dalam Program Save Our School yang diselenggarakan Lazismu Banjarbaru dan Lazismu Kabupaten Banjar.
Program ini merupakan bagian dari pengembangan SDM bagi sekolah-sekolah pinggiran. Tema yang diusung ”Kontribusi Kita, Ikhtiar Mereka Meraih Cita-cita”. Hampir 3 bulan kegiatan ini dirancang, berkolaborasi dengan SD Alam Muhammadiyah serta komunitas literasi Teaching and Trip (T & T) Kalimantan Selatan.
Lebih jauh lagi, mampu menarik daya pikat kepada Yayasan Baitul Maal PLN Unit Induk Pembangunan (YBM PLN UIP) Kalimantan Bagian Tengah .
Manager YBM PLN UIP Kalimantan Bagian Tengah, Saparin dalam sambutannya, mengatakan, program ini bagi kami sangat menarik. Konsep pengembangan sekolah pinggiran yang bersifat jangka panjang sangat diperlukan masyarakat.
“Selain itu, PLN menyampaikan terima kasihnya kepada semua pihak untuk meyukseskan program ini bersama Lazismu,” paparnya.
Penanggung jawab program dari Divisi Pengembangan Program dan Fundraising Lazismu Banjarbaru, menyampaikan hal serupa bahwa Save Our School merupakan program yang dicanangkan Lazismu secara nasional.
Harapannya program ini dapat membantu sekolah-sekolah pinggiran untuk memiliki daya saing dengan sekolah-sekolah lainnya, kata Ginanjar Sutrisno.
Sebelum acara berakhir, Lazismu Banjarbaru menyerahkan piagam penghargaan kepada YBM PLN UIP Kalimantan Bagian Tengah atas kemitraan yang terjalin selama satu tahun ini.
Program ini berlangsung dari pagi sampai dengan sebelum dzuhur. Selanjutnya program ini berlanjut untuk fokus pengembangan SDM dan bantuan kesejahteraan guru-guru selama 1 tahun.
“Setelah ini Lazismu akan fokusn pada pelatihan-pelatihan pembelajaran inovatif dan kreatif guna menunjang kompetensi guru,” ujarnya.
“Kami sangat terharu, terima kasih kepada semua pihak yang peduli terhadap pendidikan, diharapkan program seperti ini dapat berlanjut,” kata Muhammad Syafi’i, selaku Kepala MI Hidayatul Islamiyah Gambut. (gs)

Parepare – LAZISMU. Setiap orang ingin hidup berkecukupan memenuhi kebutuhannya. Termasuk Kakek Halawi, ia ingin hidup yang serba cukup tidak lebih. Kakek berusia 80 tahun ini, malang nasibnya. Hidup dan tidur dalam gubuk reot berukuran 2 x 3 meter. Nestapa seorang diri, tanpa sanak saudara dan anak-anaknya.
Lebih menyedihkan lagi, ia tinggal tanpa tetangga karena gubuk deritanya terletak di tengah sawah sekitar dua kilometer dari perkampungan warga, Kampung Kanni, Desa Mattiro Ade, perbatasan dengan kecamatan Palleteang dengan Sawitto Pinrang.
Pada Jum’at, 16 Februari 2018, kondisinya memantik rasa kemanusiaan Lazismu Kota Parepare. Informasi diperoleh dari grup pesan daring IMM Kabupaten Pinrang. IMM langsung turun dan menyalurkan bantuan yang dibutuhkan sang Kakek.
Kendaraan roda empat tiba di ujung kampung, dengan berjalan kaki melewati pematang sawah bersama para pengurus Pimpinan Cabang Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Kabupaten Pinrang. Setiba di lokasi, rombongan yang dipimpin oleh Saiful Amir selaku Sekretaris Lazismu Kota Parepare menemui Kakek Halawi yang duduk termangu menanti uluran tangan orang lain yang peduli.
“Assalamu’alaikum Kek, kami dari Lazismu Parepare, ungkap Saiful memperkenalkan diri. Lalu memulai percakapan, mencoba mendalami penderitaan yang dialami Kakek sebatang kara ini. Dengan suara lirih, diruang yang pengap, Kakek Halawi berbicara terbata-bata menceritakan asal usul dirinya. Mengapa dia ada ditempat dengan hidup memprihatinkan?
”Saya nak, saat masih kecil, orangtuaku meninggal, begitu pula saudara-saudaraku. Dari kecil hanya jadi kuli tani, saat muda ikut membantu warga panen padinya, dari situlah dapat upah untuk makan. Setelah tua renta dan sakit-sakitan, tak mampu berbuat banyak. Apalagi penglihatan mulai rabun sebelah, tidak kuat kerja, nak tinggalma di gubuk ini. Hanya numpang ditanah milik Pak Imam Masjid Lalla,” ungkapnya.
”Sedih, saya sudah 20 tahun hidup seperti ini. Hidup dari belas kasihan orang lain. Sebenarnya masiri-siri ka (malu) nak, tapi apa boleh buat hanya ini yang bisa saya lakukan, pasrah,” lanjutnya.
“Miris, masih ada ironi kata Alimuddin pengurus IMM Kabupaten Pinrang yang turut mendampingi. Di tengah hiruk-pikuk para elit menjual program pengentasan kemiskinan di musim Pilkada ini ternyata kita temui realitas di depan mata.
Warga Pinrang ini hidup sangat tidak layak. Apalagi kita kenal Pinrang sebagai daerah penghasil beras terbesar kedua setelah Sidrap di Sulsel. Penyangga stabilitas pangan bahkan dikenal sebagai lumbung beras, tapi di tengah hamparan sawah yang membentang luas ini hidup orang melarat seperti kakek Halawi ini,” pungkas Ali tak kuasa menahan emosi.
Ibarat “tikus mati di lumbung padi” semoga ini menjadi tamparan keras buat kita semua untuk lebih peka dan peduli dengan lingkungan sekitar kita. Lazismu Pinrang harus segera mampu menjangkau realiatas sosial yang semakin akut.
Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kabupaten Pinrang, Drs. H. Sakri Condeng saat ditemui di rumahnya merasa kaget mendengar informasi itu.” Ini kita kecolongan dan kita akan bicarakan untuk segera merelokasi Kakek tersebut. Majelis Pelayanan Sosial PDM akan berkoordinasi dengan pemerintah setempat untuk mencari solusi.
Semoga tidak ada lagi kasus serupa di sini. Kongkretnya kita mau Kakek Halawi ini bisa hidup layak, kita akan bawa ke Panti Jompo di Parepare karena kita belum punya di sini, “ paparnya (sa)

Jakarta – LAZISMU. Wacana zakat bagi aparatur sipil negara (ASN) terus bergulir dan menjadi polemik. Pertama kali wacana itu diungkapkan oleh Menteri Agama Lukman Hakim Saefuddin di Kompleks Istana Presiden Jakarta, Senin (5/2/2018) rencananya melalui peraturan presiden (Perpres).
Meski masih berupa imbauan, wacana ini terlanjur diperdebatkan. Menteri Agama mengatakan, potensi zakat di Indonesia sangat besar. Karena itu, optimalisasi penggunaan zakat perlu dimaksimalkan, pemerintah berupaya menyorot sektor zakat yang nantinya dikelola dan dimanfaatkan oleh Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS).
Dengan demikian, melalui potensi yang besar itu, akan ada penerima manfaat yang lebih banyak dari masyarakat, kata Lukman. Teknisnya masih didalami, pemerintah sedang berupaya membantu umat Islam untuk menyalurkan zakatnya yang dicanangkan oleh Kementerian Agama.
Hentikan Polemik
Perihal itu, lembaga amil zakat (LAZ) nasional dari ormas Islam merespons wacana tersebut. LAZ berbasis ormas Islam ini telah terdaftar dalam Kementerian Agama. Di antaranya Lazismu, NU-CARE-Lazisnu, Pusat Zakat Umat Persis, LAZ BMH, LAZ DDII, dan LAZ Wahdah Islamiyah.
Dalam jumpa pers-nya seluruh LAZ ormas Islam ini membentuk Perkumpulan Organisasi Pengelola Zakat (POROZ) yang langsung diresmikan, Jumat (9/2/2018) setelah rapat bersama untuk menyatakan beberapa hal berkenaan dengan polemik yang mengemuka.
POROZ mengapresiasi langkah pemerintah atas kepeduliannya dalam perkembangan zakat di Indonesia, kata Angga Nugraha, dari LAZ Persis ketika membaca pernyataan sikap yang disampaikan kepada media, di Gedung Pusat Dakwah PP Muhammadiyah, Jakarta.
Selain itu, POROZ juga mendorong pemerintah agar melibatkan masyarakat (LAZ Ormas) dalam merumuskan peta jalan (roadmap) dan regulasi zakat di Indonesia, seperti munculnya wacana pemotongan zakat ASN,” jelasnya.
Pada prinsipnya, peran pemerintah dalam sosialisasi dan edukasi tentang pentingnya berzakat juga perlu ditingkatkan. POROZ menilai langkah edukasi zakat kepada umat Islam merupakan langkah nyata. Namun, POROZ meminta pemerintah segera menghentikan sementara wacana dan polemik zakat ASN.
Dalam kesempatan yang sama, Direktur Utama NU-CARE Lazisnu, Syamsul Huda menuturkan wacana tentang pemotongan gaji ASN untuk zakat segera dihentikan. “Demi menghindari munculnya polemik di masyarakat,” paparnya. Sebagai langkah lain, pemerintah perlu mengajak diskusi lembaga zakat nasional yang juga berperan penting dalam penyaluran zakat.
Sementara itu, Badan Pengurus Lazismu, Rizaludin Kurniawan mengatakan, pemerintah seharusnya dapat memberikan edukasi kepada masyarakat sebelum menyosialisasikan tentang Zakat ASN. Dalam penilaiannya, zakat merupakan ibadah maka perlu dihindari wacana yang belum jelas kepastiannya yang menimbulkan polemik.
Sebelumnya, pada 2016, Lazismu – NU-CARE Lazisnu, pernah meminta pemerintah melakukan penataan tata kelola zakat, yang tercantum dalam UU No. 23 Tahun 2011, terutama pasal 22 dan 23. Dikarenakan umat Islam Indonesia masih memiliki dua beban, zakat dan pajak. Dua LAZ ormas Islam ini mendorong pemerintah untuk merevisi agar zakat itu sebagai pengurang pajak. (na)

