

JAKARTA - Dua pekan sebelum datangnya bulan Ramadhan, Lazismu menggelar Kick Off Program Ramadhan 1446 H/2025 yang diselenggarakan di Gedung Perpustakaan Nasional, Jakarta, pada Kamis, 13 Februari 2025. Ramadhan tahun ini Lazismu mengusung tema “Zakat Memakmurkan Semua”.
Ketua Badan Pengurus Lazismu Pusat, Ahmad Imam Mujadid Rais, dalam sambutannya mengatakan ini suatu tema besar dari suatu hasil refleksi yang juga menjadi tema tanwir muhammadiyah pada Desember 2024, yang diturunkan Lazismu dalam tema ramadhan.
“Masih banyaknya ketimpangan dan ketertinggalan di berbagai bidang, seperti sosial, ekonomi, pendidikan, kita ingin ada pemerataan,” ungkapnya. Hal ini sejalan dengan fungsi zakat yang nilai manfaatnya bisa dirasakan banyak orang.
Oleh krena itu, kata dia, penumpukan modal, keuangan atau sumber-sumber daya lainnya yang hanya terpusat pada satu pihak itu sesungguhnya merugikan kita semua.
Contohnya adalah alam ini yang diciptakan untuk menjaga keseimbangan. Jika keseimbangan ini tidak berfungsi maka akan ada satu pihak atau dua pihak yang menuntut untuk keseimbangan, tegasnya.
Dalam tema ini, Zakat Memakmurkan Semua juga bermakna tentang peran penting zakat dalam kehidupan masyarakat muslim. Maka, lanjutnya, upaya literasi dan edukasi juga menjadi penting.
“Melalui Kick Off ini juga menjadi penanda bagi Lazismu untuk senantiasa mensyiarkan tentan zakat fitrah dan zakat harta (maal) antara lain zakat profesi, perdagangan, dan lainnya. Termasuk bagaimana berbuat kebajikan (amal shaleh) lainnya seperti infak dan sedekah yang terus kita ingatkan kepad masyraakat,” jelasnya.
Pada prinsipnya Mujadid Rais menggaris-bawahi bahwa Lazismu adalah mitra kebajikan untuk berbuat dan berdampak bagi masyrakat luas. Lazismu mengajak siapapun untuk berkolaborasi.
Dalam kesempatan itu, Lazismu juga menanda tangani dua program kegiatan bersama Gramedia dan Tuku. Gramedia memercayakan amanahnya kepada Lazismu untuk menyalurkan sedakah Al-Qur’an ke pelosok negeri.
Sementara itu, Karya Tetangga Tuku melalui kerja sama strategis ini berkomitmen bersama Lazismu untuk berkolaborasi dalam program pendidikan agar anak-anak Indonesia dapat mengakses pendidikan di berbagai daerah.
Selain Majelis, Lembaga dan Organisasi Otonom serta Lazismu Wlilayah se-Indonesia yang mengadiri Kick Off, Lazismu juga mengundang mitra-mitra kolaborasi lainnya untuk bisa bersama – sama menggaungkan program-program kemitraan strategis untuk memakmurkan semua.
Di dalam kesempatan yang sama Kick Off Program Ramadhan kali ini dimeriahkan dengan Talkshow Zakat Memakmurkan Semua menghadirkan peneliti filantropi dari Social Trust Fund UIN Jakarta Amelia Fauzia dan ditutup dengan hiburan stanp up komedi yang diisi oleh Bachrul Alam.
Adapun program Ramadhan Lazismu secara nasional ini mempersembahkan kegiatan antara lain: Tebar Takjil, Kado Ramadhan, Mudikmu Aman, Taman Lansia dan Kiam (Kajian Ke-Islaman Mualaf).
[Kelembagaan dan Humas Lazismu PP Muhammadiyah]

JAKARTA – Ketimpangan dan ketertinggalan yang menyelimuti problem kemiskinan di Indonesia senantiasa menjadi pembicaraan menarik dari sudut pandang filantropi Islam. Zakat sebagai instrumen keuangan ekonomi Islam dinilai dapat memberikan alternatif dalam melengkapi solusi kemakmuran dan keadilan sosial.
Hal itu terungkap dalam acara Talkshow yang digelar Lazismu bersamaan dengan rangkaian Kick Off Program Ramadhan 1446 H/2025 di Gedung Perpustakaan Nasional, Jakarta (13/2/2025).
Dihadiiri oleh ratusan partisipan Lazismu Wilayah dan Kantor Layanan, se-Indonesia dan mitra strategisnya, Shofia Khoerunisa memandu Talkshow dengan bernas selama satu jam membesut tema Zakat Memakmurkan Semua, yang menghadirkan narasumber Ameli Fauzia Direktur Social Trust Fund UIN Jakarta dan Ahmad Imam Mujadid Rais Ketua Badan Pengurus Lazismu Pusat.
Shofia memantik problem kemiskinan di Indonesia dengan menarik benang merah peran lembaga amil zakat dan regulasi zakat. Tentu saja apa yang dilontarkan moderator disambut pertanyaan narasumber Amelia Fauzia.
Menurutnya negara kita sudah 7 tahun berturut-turut didapuk sebagai negara yang paling dermawan. Pertanyaannya, mengapa mustahik masih banyak dan problem sosial masih ada? Apakah potensi zakat tidak semuanya terkumpul dengan baik atau apa sebenarnya yang terjadi?
Saya memulai dari sini dulu sebagai tilikan, sementara kita memiliki budaya filantropi yang kuat. “Ada tradisi di masyarakat kita sangat mudah membantu, berbagi dan punya solidaritas yang tinggi,” pungkasnya.
Dalam perjalanan, dalam amatan saya, dulu dari tahun 2004 tidak ada donasi ke luar negeri, sekarang ada dan lembaga filantropi melakukan itu. Ini perubahan luar biasa. Maka kembali lagi, kenapa kemiskinan dan problem sosial itu masih ada?
Amelia menemukan, ternyata dari hasil studi yang lain, saya melihat ekosistem lembaga filantropi kita dan tata kelolanya masih belum maksimal.
Hal tersebut, memliki signifikansi dengan indeks kinerja lembaga filantropi antara lain ada doing well, doing good, doing enought dan doing okay. Untuk Indonesia, lanjut Amelia, ada di peringkat tiga Asia Tenggara. Contoh baiknya yang paling bagus itu doing well-nya negara Singapura dan Taiwan yang secara integrase sampai ke sistem pajak.
Cara pandang terhadap perkembangan filantropi ternyata ada lagi dengan hadirnya philanthropy freedom. Artinya menurut Amelia, kita punya keleluasaan untuk menyalurkan. “Berderma jangan dipaksa untuk menyalurkan ke lembaga tertentu, masyarakat sipil juga diberi kesempatan untuk mengelolanya,” tandasnya.
Dalam suatu suveinya, Hudson Institute misalnya, Indonesia dari 64 negara ada di urutan ke-56, sejauh mana kita sudah mempraktikan philanthropy freedom. Tata tata lembaga fialntropi kita masih perlu di perbaiki.
Peneliti filantropi dari Social Trust Fund UIN Jakarta ini menilai bahwa kemakmuran bukan hanya tugas lembaga filantropi, karena ini tugas bersama, pemerintah dan swasta (privat sector). Dengan demikian perlu dilihat lagi peran masing – masing antara lain sector negara, swasta dan masyarakat sipil.
Semua harus bersinergi, dan terjawab bahwa tata kelola kita dan sinergisitasnya perlu di teropong dari strategic giving-nya. Ini masih pekerjaan rumah bersama. Semuanya harus merata, tidak hanya karitatif tapi yang berkelanjutannya.
“Perlu ada keseimbangan dan penting disampaikan bahwa lembaga filantropi kita masih kurang dalam aspek upaya untuk mendorong penguatan ekosistem filantropi itu sendiri,” jelasnya.
Kita sudah ada FOZ dan Poroz, itu front line-nya, karena itu, dibutuhkan studi dan riset, kemudian istilah filantropi ini bagaimana bisa menggerakan sektor filantropi dalam perkembangannya.
Saya menyimak sejauh ini Lazismu sudah beberapa kali survei, secara internal itu penting agar ekosistem di dalamnya ada upaya lebih dalam lagi untuk melihat dalam perspektif yang lebih kritis dan konstruktif. Apalagi kata kunci keberlanjutan ini untuk menyingkap apa itu keseimbangan dalam distribusi, bukan hanya sekadar fakir atau miskin tapi ada keseimbangan gendernya, wilayahnya. Maka sektor penguatan sistem ekosistem filantropi kalau bukan dimulai dari kita, dari siapa lagi?
Dalam kerangka ini, Amelia dalam studinya mengatakan negara punya cara berbeda sehingga melakukan dengan caranya sendiri untuk memperkuat sektor filantropi dan sentralisasi zakat. Hemat saya itu bagus, tapi bisa juga tidak tepat untuk kondisi di Indonesia, itu poinnya. (Klik : Bersambung ke Bagian 2)

PALEMBANG - Lazismu se-Sumatera Selatan menggelar Rapat Kerja Wilayah (Rakerwil) pada Jumat-Ahad, 7-9 Februari 2025 di Aula SMA Muhammadiyah 1 Palembang. Rakerwil kali ini mengusung tema "Sinergi Kebajikan Untuk Inovasi Sosial dan Capaian SDGs".
Rakerwil ini diikuti oleh perwakilan dari Kantor Layanan Lazismu Kota/Kabupaten se-Sumatera Selatan. Hadir dalam acara ini Wakil Ketua Bidang Kelembagaan dan SDA Lazismu Pusat, Nuryadi Wijiharjoko, yang memberikan sambutan dan penguatan kepada peserta.
"Rakerwil ini momentum penting untuk memperkuat sinergi antar kantor layanan Lazismu di Sumatera Selatan. melalui kegiatan ini, Lazismu dapat semakin berkontribusi dalam mencapai tujuan pembangunan berkelanjutan (SDGs) melalui inovasi-inovasi sosial yang bermanfaat bagi masyarakat", ujarnya penuh harap.
Sementara itu Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Sumatera Selatan, Ridwan Hayattudin, hadir memberikan sambutan sekaligus membuka acara. Ridwan mengapresiasi kegiatan rakerwil dan berharap Lazismu di Sumatera Selatan bisa menjangkau penerima manfaatnya lebih luas lagi.
"Kami sangat mengapresiasi inisiatif LAZISMU dalam menggelar Rakerwil ini. Sinergi dan inovasi adalah kunci untuk meningkatkan efektivitas dan efisiensi pengelolaan zakat, infak, dan sedekah,” jelasnya.
Ridman menambahkan, Lazismu dapat terus menjadi garda terdepan dalam membantu masyarakat yang membutuhkan.
Sementara itu, Ketua Lazismu Provinsi Sumatera Selatan, Heru Ginanjar Prayogo, dalam sambutannya mengatakan rakerwil ini adalah wadah bagi kita untuk bertukar pikiran, berbagi pengalaman, dan merumuskan strategi-strategi terbaik untuk mengembangkan Lazismu di Sumatera Selatan.
Kami berkomitmen untuk terus meningkatkan kualitas layanan dan program-program kami agar dapat memberikan manfaat yang lebih besar bagi masyarakat.
Rakerwil yang berlangsung selama tiga hari ini diisi dengan rangkaian acara, antara lain strategi fundraising, pendistribusian dan pendayagunaan program, fikih zakat, kebijakan dan regulasi lembaga zakat, filantropi Muhammadiyah, Pengoptimalan dana ZISKA, sosialisasi RAPB Wilayah dan target 2025 serta sidang komisi.
Rakerwil ini diakhiri dengan pengumuman award kepada kantor layanan Lazismu kota/kabupaten. Pada rakerwil ini diharapkan dapat memperkuat sinergi antar kantor layanan Lazismu di seluruh Sumatera Selatan, serta mendorong inovasi sosial untuk mencapai tujuan pembangunan berkelanjutan (SDGs).
[Kelembagaan dan Humas Lazismu PP Muhammadiyah/andi]

LANGKAT – Aksi sosial kembali dilakukan Lazismu Langkat dengan menyalurkan bantuan berupa kursi roda dan santunan kesehatan kepada Bapak Mutar Lubis, warga Desa Pantai Cermin, Kecamatan Tanjung Pura, Kabupaten Langkat.
Bantuan tersebut merupakan amanah dari Dinas Sosial Kabupaten Langkat yang mempercayakan Lazismu Langkat sebagai mitra utama dalam pendistribusian bantuan sosial. Penyerahan bantuan dilaksanakan pada Jumat, 7 Februari 2025, di kediaman Bapak Mutar Lubis.
Hadir dalam kegiatan tersebut Ketua Lazismu Langkat, M. Sholihin Nur Tarigan Tua, Kepala Desa Pantai Cermin Muhammad Taufiq, AMK, Relawan Lazismu Rusli, Ketua Pemuda Muhammadiyah Tanjung Pura Arzi Ali. Bantuan ini diberikan berdasarkan informasi yang diperoleh dari Ketua Pemuda Muhammadiyah Tanjung Pura dan Relawan Lazismu mengenai kondisi Bapak Mutar Lubis yang mengalami stroke.
Kondisi kesehatannya terus menurun sehingga membutuhkan perhatian. Terlebih lagi Bapak Mutar tidak dapat berjalan maupun beraktivitas seperti biasa selama kurang lebih tiga tahun, demikian disampaikan Ketua Lazismu Langkat, M. Sholihin Nur Tarigan Tua.
Lazismu Langkat telah dipercaya oleh Dinas Sosial Langkat untuk menyalurkan kursi roda kepada masyarakat yang membutuhkan, ungkap Tarigan, dan menjadikannya sebagai mitra yang konsisten dalam aksi sosial ini. Ini merupakan kali ketiga Lazismu Langkat menjalankan amanah tersebut.
Pada tahun 2024, sebanyak dua kursi roda telah disalurkan, dan di awal Februari 2025, Lazismu Langkat kembali dipercaya untuk mendistribusikan bantuan serupa. “Peran aktif Lazismu Langkat dalam aksi kemanusiaan ini semakin memperkuat komitmennya dalam membantu masyarakat kurang mampu di Kabupaten Langkat,” paparnya.
Selain kursi roda, Lazismu Langkat juga memberikan santunan kesehatan sebagai bagian dari Pilar Kesehatan, salah satu program unggulan Lazismu. Program ini bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat yang membutuhkan dukungan medis dan finansial.
Dengan adanya program ini, Lazismu Langkat terus membuktikan dedikasinya dalam membantu masyarakat yang membutuhkan, serta menjalin sinergi dengan berbagai pihak demi kesejahteraan sosial.
[Kelembagaan dan Humas Lazismu PP Muhammadiyah/Lazismu Langkat]

PEKALONGAN -- Bencana banjir dan longsor di Kabupaten Pekalongan, Jawa Tengah terjadi pada 20 Januari 2025. Dua pekan sudah pasca-bencana tersebut masih menyisakan duka terutama warga yang berada di 10 kecamatan. Berdasarkan informasi dari Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) ada dua kecamatan yang menjadi dampingan program Indonesia Siaga untuk kegiatan tanggap darurat, yaitu kecamatan Kedungwuni dan Petungkriyono, juga di kecamatan Bawang, kecamatan Batang, kecamatan Blado dan kecamatan Reban, Kabupaten Batang.
Respons atas kebutuhan para penyintas dilakukan Badan Pengelola Keuangan Haji (BPKH) dengan berkolaborasi bersama Mitra Kemaslahatan Lazismu. Pada, 3 Februari 2025, BPKH menyalurkan 1000 paket bantuan sembako dan Hygiene Kit untuk warga Dukuh Kranji, Kelurahan Kedungwuni Timur dan Desa Kedungpatangewu, kecamatan Kedungwuni, kabupaten Pekalongan.
Bantuan yang sama berjumlah 1000 paket sembako dan Hygiene Kit disalurkan untuk warga di Desa Surjo, kecamatan Bawang, kelurahan Karangasem Utara, kecamatan Batang, Desa Keteleng, kecamatan Blado, dan Desa Pacet, kecamatan Reban, Kabupaten Batang.
Dalam keterangannya, mewakili BPKH, Upik Rahmawati Manajer Kemitraan Lazismu Pusat, mengungkapkan bahwa tujuan disalurkannya bantuan ini untuk meringankan beban masyarakat akibat bencana tersebut.
Upik menjelaskan BPKH memiliki peran penting dan strategis dalam mengelola dana haji. Dana hasil pengelolaan itu, terang dia, dikembalikan nilai manfaatnya kepada masyarakat dalam bentuk program kemaslahatan, salah satunya dengan disalurkannya bantuan untuk warga yang terdampak.
“Komitmen BPKH tidak semata mengelola dana haji, lebih jauh lagi memberikan nilai manfaat yang luas bagi masyarakat melalui berbagai program sosial,” terangnya.
Upik menambahkan dengan kolaborasi BPKH bersama Lazismu dalam program tanhggap darurat ini, akan ada kegiatan yang berkelanjutan melalui monitoring, evaluasi, dan asesmen. Salah satunya ditahap rehabilitasi dan rekonstruksi untuk bisa memulihkan kondisi agar warga dapat kembali hidup normal dengan program yang sudah berjalan.
Oleh sebab itu, Upik menilai langkah kolaboratif ini dilakukan agar manfaat yang diberikan dapat dirasakan secara optimal oleh masyarakat dan berdampak luas bagi penyintas.
Selain dari BPKH dan Lazismu Pusat, kegiatan ini juga dihadiri oleh pemangku kepentingan di antaranya Badan Pengurus Lazismu Jawa Tengah, Akhmad Zaeni, serta Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kabupaten Pekalongan, Mulyono. Hadir pula Wakil Ketua PDM Kabupaten Pekalongan, Amat Sulaiman, Ketua Badan Pengurus Lazismu Kabupaten Pekalongan, M. Ali Sofyan, dan Manager Lazismu Kabupaten Pekalongan, Sutiknyo.
Turut hadir dalam acara ini, Sekretaris Posko Koordinasi Bencana Banjir dan Longsor Muhammadiyah Kabupaten Pekalongan, Miftahuddin, Camat Kedungwuni, serta sejumlah perwakilan warga penerima bantuan.
[Kelembagaan dan Humas Lazismu PP Muhammadiyah]

BANJARNEGARA -- Klinik Utama PKU Muhammadiyah Merden, Banjarnegara, Jawa Tengah di bulan kedua tahun ini menambah layanan medis dengan datangnya satu armada ambulans dari Badan Pengelola Keuangan Haji (BPKH) Republik Indonesia.
Kehadiran satu unit mobil ambulans tersebut disambut baik oleh Direktur Klinik Utama PKU Muhammadiyah Merden, dr. Farah Fauzianingtyas (25/2/2025). Beliau menghaturkan terima kasih kepada BPKH atas bantuan tersebut untuk melengkapi layanan kesehatan di sini.
“Ambulans ini adalah anugerah yang akan memperkuat misi kami dalam melayani umat, karena mobil ini bukan sekadar kendaraan, tetapi alat yang membawa harapan dan keselamatan,” tuturnya.
Dalam kesempatan itu, Farah teringat pesan luhur dari pendiri Muhammadiyah, K.H Ahmad Dahlan melalui suatu nasihat, ‘Hiduplah untuk memberi sebanyak-banyaknya, bukan untuk menerima sebanyak-banyaknya’.
“Bantuan ini merupakan cerminan dari semangat berbagi, dan kami berdoa semoga setiap pihak yang terlibat dalam momen ini mendapatkan pahala berlipat,” ujarnya.
“Sebagai mana janji Allah tentang ‘Perumpamaan orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah seperti sebutir biji yang menumbuhkan tujuh tangkai, pada setiap tangkai ada seratus biji’,” pungkasnya.
Pada penutup sambutannya, dia berkomitmen untuk terus mengoptimalkan kebermanfaatan dari mobil ambulans untuk kepentingan kemanusiaan, selaras dengan apa yang disampaikan Rasulullah SAW ‘Sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi manusia lainnya’.
Pada kesempatan yang sama, Direktur Kewirausahaan dan Inovasi Sosia Lazismu Pusat, Edi Suryanto, yang berkesempatan hadir di Aula Klinik Utama PKU Muhammadiyah, menuturkan, bahwa dirinya mengaku bangga atas geliat Lazismu secara nasional.
“Sangat membanggakan ketika saya mengetahui geliat Lazismu di kancah nasional, bahkan Lazismu juga ada di 8 PCIM (Pimpinan Cabang Istimewa Muhammadiyah). Hal ini menunjukkan gerakan ini cukup masif karena meratanya struktur Muhammadiyah di seantero dunia.
Dirinya juga mengungkapkan bahwa Lazismu merupakan mitra pertama dari BPKH setelah bencana likuivaksi di Palu, Donggala dan Sigi.
Ambulans yang diterima oleh PKU Muhammadiyah ini merupakan mobil yang berasal dari nilai manfaat pengelolaan Dana Abadi Umat. Dana ini juga disalurkan untuk program kemaslahatan salah satunya pelayanan umat, dengan wujud pengadaan ambulans.
Edi menambahkan Lazismu juga berperan dalam upaya menjadikan mustahik menjadi muzaki, sehingga aktifitas zakat benar-benar membuat masyarakat menjadi berdaya dan tidak ketergantungan.
[Kelembagaan dan Humas Lazismu PP Muhammadiyah/layarmu]
Sumber: layarmu.id

