

SEMARANG - Lazismu Kota Semarang melakukan koordinasi persiapan bedah rumah di Aula Pimpinan Daerah Muhammadiyah, Sabtu (6/3). Bedah rumah rencananya akan dilakukan di setiap Kantor Layanan yang ada di Kota Semarang.
Koordinasi ini dihadiri oleh Ketua Lazismu Semarang Azis Soleh, Direktur Lazismu Kota Semarang Hasan Pardjoko, Sekretaris Lazismu Kota Semarang Marhaeni, Manager Teritori Lazismu Jawa Tengah Agus Alwi, jajaran eksekutif Daerah dan seluruh staf Kantor Layanan se Kota Semarang.
Rapat koordinasi bedah rumah di Kota Semarang diselenggarakan untuk membangun sinergitas lintas KL, implementasi prioritas program untuk membantu masyarakat terutama kalangan mustadh'afin, dan membuat perencanaan bersama menyangkut standarisasi rumah yang laik untuk dibedah.
Sebagaimana disampaikan Hasan Pardjoko, bedah rumah ini akan dilakukan di tiap titik KL dengan subsidi Lazismu sekitar 20-30 juta, sekaligus menyambut syiar gebyar Ramadhan.
Agus Alwi menyebut bahwa bedah rumah yang akan dilakukan Lazismu merupakan bagian dari pentasarufan ZISKA. Hal ini harus bersinergi dengan masyarakat luas, sehingga keterlibatan semua komponen masyarakat seperti RT RW, tokoh masyarakat, dan para muzakki akan memudahkan dalam implementasi program secara kolegial.

GARUT - Lazismu Garut melakukan kerja sama dengan Komunitas Motor XTC 09 Pakidulan, GMaXS, Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) Cabang Pameungpeuk, dan beberapa aktivis kemanusiaan di Garut Selatan untuk menyalurkan 800 Mushaf Alquran, Iqra', dan Juz Amma dalam program Pengentasan Garut Darurat Quran.
Komunitas motor, IPM, dan beberapa aktivis kemanusiaan tersebut akan membantu Lazismu Garut dalam menyalurkan Alquran ke masjid dan madrasah di pelosok Garut Selatan, seperti Kecamatan Caringin, Cisewu, Talégong, Bungbulang, Cisompét, Cikelét dan Pameungpeuk.
Penyerahan dari Lazismu kepada komunitas motor dilakukan pada Sabtu (6/3) di tepian pantai Karangpapak Pameungpeuk Garut Selatan.
Zaenal, penggagas program Pengentasan Garut Darurat Program menyebut bahwa anak-anak muda di Garut Selatan jauh lebih mudah mengakses internet daripada mengakses Alquran. Hal ini berbanding terbalik dengan di perkotaan, di mana geliat terhadap Alquran seperti sekolah tahfidz sedang menjamur.
"Ini sangat kontradiktif dengan kecenderungan anak anak di pelosok kampung, di pinggir hutan, di pinggir pantai, akses terhadap Quran lebih sulit dibanding dengan akses pada Internet,” tegas Zaenal sebagaimana dilansir dari Garut Bicara.
Menurutnya, anak-anak desa yang ingin membeli Alquran harus naik ojek, transit dengan elf, kemudian dilanjutkan dengan angkot, baru bisa membeli Alquran. Kondisi ini yang membuat pihaknya untuk melakukan program Pengentasan Garut Darurat Quran.
Sementara itu, Ketua Lazismu Garut Asep Muslim Nurdin berterima kasih kepada seluruh pihak yang turut mensukseskan program tersebut. Menurutnya partisipasi dari komunitas motor, IPM, dan aktivis kemanusiaan sangat membantu Lazismu Garut dalam mendistribusikan Mushaf Alquran dengan jumlah besar tersebut.
"Ini adalah sebuah perjuangan yang tidak sederhana, penuh liku dan tantangan, dan yakinlah, barangsiapa menunjukan jalan kebaikan, pahalanya sama dengan orang yang mengerjakannya, maka yakinlah setiap ayat yang dibaca dari Quran yang kita sampaikan, akan mengalirkan pahala yang tak henti,” ujarnya.
Kegiatan penyerahan mushaf Alquran tersebut diakhiri dengan penyerahan amanah secara simbolis dan bersama-sama menikmati nasi uduk seafood di pinggir pantai.
Reporter: Yusuf

SURABAYA - Majelis Pemberdayaan Masyarakat PDM Surabaya bersama Lazismu Daerah Surabaya dan CV Hartoyo Mandiri menggelar pelatihan servis AC. Pelatihan yang diikuti oleh 22 peserta ini digelar di Aula Aula PDM Kota Surabaya, Jl. Wuni 9 Surabaya, dari tanggal 6 Maret hingga 11 April 2021.
Pimpinan PDM Surabaya Zayyin Hudhori MA menyebut bahwa pelatihan ini diselenggarakan untuk membekali kemampuan peserta baik teori maupun praktik, yakni teknikni service AC yang amanat, handal dan profesional.
Sementara itu, Ketua MPM Drs. H. Syamsun Aly, M.Ag menjelaskan, pelatihan ini adalah salah satu program spesial di antara sejumlah program unggulan MPM Kota Surabaya.
"Selain ikhtiar untuk membekali para aktivis muda Muhammadiyah dengan skill handal khususnya di bidang servis AC, pelatihan ini diharapkan mampu mewujudkan tim profesional yang diperlukan banyak Amal Usaha Muhammadiyah, baik sekolah, masjid, atau masyarakat pengguna vasilitas AC," ujarnya.
Menurutnya, Muhammadiyah butuh tenaga servis AC yang tidak hanya handal dan kompeten, tetapi juga memiliki kepribadian yang soleh, jujur, dan amanat. Ia menyebut bahwa trust para teknisi ini selain menjaga nama baik Persyarikatan Muhammadiyah dan CV Hartoyo Mandiri, perusahaan yang memberikan pelatihan, juga berdampak positif bagi teknisi layanan jasa servis AC tersebut.
"Banyaknya tenaga kerja potensial di tengah minimnya lapangan kerja, maka pelatihan ini menjadi peluang untuk membuka lapangan kerja yang memiliki kepribadian Islam dan skill servis handal dan manajemen usaha yang kompeten," imbuh Syamsun.
Pelatihan yang berlangsung selama satu setengah bulan tersebut akan membekali peserta lebih banyak praktik, di samping teori.
Reporter: Abdul Hakim/Yusuf

MAKASSAR - Lazismu Makassar menyalurkan bantuan Beasiswa Sang Surya kepada kader-kader muda Muhammadiyah. Penyerahan beasiswa secara simbolis dilaksanakan di Kantor Lazismu Makassar, Jl Gunung Lompobattang No 201 Makassar, Rabu (24/2).
Menurut keterangan Kamaruddin Kasim, Ketua Lazismu Kota Makassar Beasiswa Sang Surya tersebut adalah salah satu program unggulan yang dimiliki oleh Lazismu Kota Makassar.
Ia bersyukur karena meskipun dalam suasana pandemi, namun Lazismu Kota Makassar masih bisa menyalurkan Beasiswa Sang Surya.
"Beasiswa ini kita berikan untuk kader-kader Muhammadiyah yang aktif di Persyarikatan Muhammadiyah," jelas Kamaruddin.
Kamaruddin berharap beasiswa tersebut bisa menjadi motivasi bagi penerima manfaat agar tetap aktif memberikan kontribusi bagi masyarakat melalui Persyarikatan Muhammadiyah.
“Dengan penyaluran beasiswa tersebut, kami berharap mampu membantu para kader dalam mengurangi beban biaya pendidikan di perguruan tinggi masing-masing. Terlepas daripada itu, kami mengharapkan mereka terus semangat bermuhammadiyah,” ucapnya.
Selain itu, Akbar Ayatullah, salah satu penerima Beasiswa Sang Surya yang menjabat sebagai Ketua Umum PC IPM Bontoa mengucapkan banyak terimakasih.
“Saya sangat berterimakasih kepada Lazismu Kota Makassar, insya Allah saya akan memanfaatkan bantuan ini dengan menuntut ilmu dan tak lepas berjuang di Muhammadiyah,” tuturnya.
Reporter: Amri/Yusuf

LAZISMU.ORG - Dalam melakukan pendampingan terhadap penyandang disabilitas, Majelis Pelayanan Sosial (MPS) PP Muhammadiyah memulai pendampingan dengan memberikan kampanye penyadaran hak-hak penyandang disabilitas yang harus dimengerti dan diterapkan dalam kehidupan oleh stakeholder.
Kedua, MPS PP Muhammadiyah melakukan pengorganisasian dan pembuatan kelompok berbasis kewilayahan atau kedaerahan. Ketiga, MPS melakukan pembinaan berupa pemberdayaan, pelatihan, dan pendampingan teknis kecakapan hidup atau life skill.
Hal ini disampaikan oleh Sekretaris Majelis Pemberdayaan Masyarakat (MPM) PP Muhammadiyah Bachtiar Dwi Kurniawan dalam Pelatihan Kewirausahaan bagi Penyandang Disabilitas, Sabtu (6/3). Pelatihan ini merupakan serangkaian kegiatan dalam program Gerakan Ekonomi Inklusi yang diselenggarakan oleh MPS bersama Lazismu PP Muhammadiyah.
Menurutnya, pendampingan tidak hanya pada peningkatan kapasitas namun juga mencakup aspek permodalan usaha dan bahkan sampai bank khusus difabel di Sleman.
Selain itu, Muhammadiyah juga melakukan advokasi kebijakan terhadap produk-produk perundangan.
"Kami coba dorong pemerintah daerah di beberapa daerah untuk menerbitkan Perda terkait dengan disabilitas. Mudah-mudahan Perda itu bisa mengakomodasi dan memberikan akses yang lebih luas kepada penyandang disabilitas," ujar Gus Bach, panggilan akrab Bachtiar Dwi Kurniawan.
Ia berharap agar pandangan masyarakat terhadap penyandang disabilitas bisa terbuka, inklusif, dan lebih ramah.
Menurutnya, ada situasi sulit yang dialami oleh penyandang disabilitas dalam mengakses pekerjaan. Masyarakat masih menganggap bahwa penyandang disabilitas adalah kelompok yang tidak produktif.
"Padahal, Muhammadiyah memfasilitasi masyarakat agar mampu menolong diri sendiri. Allah berpesan bahwa Ia tidak akan memberikan beban diluar kemampuan manusia. Sehingga siapapun bisa dan mampu menghadapi masalah yang ada, termasuk masalah keterbatasan akses dan fasilitas," imbuhnya.
Dewasa ini, sektor formal masih memandang penyandang disabilitas sebagai beban. Padahal, mereka harus dipandang sebagai mitra dan partner yang bisa diajak untuk bekerja.
Gus Bach menyebut bahwa hal ini akan memberikan beban psikologis kepada penyandang disabilitas.
Selain itu, situasi sulit penyandang disabilitas adalah sulitnya akses permodalan karena pihak perbankan tidak mempercayai penyandang disabilitas. Di sinilah peran Muhammadiyah yang mendirikan bank difabel di Sleman. Bank ini bertujuan agar penyandang disabilitas bisa melakukan simpan pinjam untuk kepentingan hidup mereka.
Reporter: Yusuf

LAZISMU.ORG - Di dalam kondisi penuh keterbatasan, kiprah para penyandang disabilitas dalam hal berwirausaha sangat luar biasa. Dalam menjalankan wirausaha, para penyandang disabilitas tidak kalah dengan masyarakat yang lain.
Hal ini disampaikan oleh Ketua Majelis Pelayanan Sosial (MPS) PP Muhammadiyah Sularno dalam Pelatihan Kewirausahaan bagi Penyandang Disabilitas, Sabtu (6/3). Pelatihan ini merupakan serangkaian kegiatan dalam program Gerakan Ekonomi Inklusi yang diselenggarakan oleh MPS bersama Lazismu PP Muhammadiyah.
Menurut Sularno, salah satu penyandang tuna netra yang juga mahasiswa Universitas Muhammadiyah Yogyakarta memiliki kedai kopi yang cukup besar. Ia sendiri yang meracik kopi di kedai tersebut.
Ia menyebut bahwa usaha-usaha lain dari penyandang disabilitas akan terus menjamur. Ia berharap hal ini dapat menggerakkan ekonomi kreatif bagi penyandang disabilitas.
"Ini sangat membanggakan. Ini saya berikan bocoran bahwa akan ada kegiatan berikutnya. Jadi Gerakan Ekonomi Inklusi ini tidak akan hanya tiga bulan. Nanti akan kita lanjutkan dengan majelis dan lembaga lain di Muhammadiyah," ujarnya.
Selain MPS dan Lazismu, ia akan mengajak Majelis Pemberdayaan Masyarakat (MPM) PP Muhammadiyah dan MKS PP 'Aisyiyah.
Sularno menegaskan harapannya agar program yang telah berjalan sejak bulan Januari ini semakin masif dan menjadi gerakan kewirausahaan baru yang dimotori oleh para penyandang disabilitas. Ia berharap ada peningkatan dari segi kualitas maupun kuantitas.
"Ini mestinya tugas pemerintah. Tapi kita di Muhammadiyah sudah biasa membantu pemerintah. Maka, pemerintah mestinya melihat hal ini dengan jelas bahwa Lazismu bersama Majelis Lembaga Muhammadiyah lain telah menggerakkan ekonomi inklusi ini," imbuhnya.
Sebagaimana diketahui, Program Ekonomi Inklusi yang berjalan selama tiga bulan sejak Januari hingga Maret 2021 ini adalah pemberian modal usaha sekaligus pendampingan terhadap penyandang disabilitas dalam hal usaha mikro.
Koordinator Program Ekonomi Inklusi Dedi Warman menyebut bahwa program ini bertujuan untuk membantu penyandang disabilitas yang memiliki usaha agar usahanya semakin berkembang, meningkatkan kapasitas, dan semakin mandiri.
Selain bantuan modal, Majelis Pelayanan Sosial juga melakukan pendampingan teknis kepada pemilik usaha. MPS juga memberikan pelatihan-pelatihan seperti pelatihan wirausaha, marketing, dan lain-lain.
Reporter: Yusuf

