Berita

Ikuti kabar terbaru dari Lazismu. Lihat laporan penyaluran, kisah inspiratif penerima manfaat, dan dampak nyata dari ZIS Anda

Lazismu Kucurkan Program Sumur Bor untuk Panti Asuhan Muhammadiyah Sambungrejo

SIDOARJO – Aktivitas bersih-bersih di Panti Asuhan Muhammadiyah Sambungrejo terganggu. Ternyata sumber air di sumur panti tersebut saat diambil warnanya kuning keruh. Anak-anak panti tidak bisa mandi dan mencuci karena air nya kotor.   

Kendala itu disampaikan anak-anak panti kepada pengelola. Hal ini perlu dicari solusinya karena air kebutuhan pokok. Pengurus panti berinisiatif untuk membuat sumur lagi. Tapi tak ada anggaran.

Berdasarkan rapat pengurus panti, akhirnya mengajukan permohonan dana ke Lazismu Sidoarjo untuk pembuatan sumur bor. Informasi ini disampaikan Dwi Songgo kepada Lazismu Sidoarjo.

Merespons persoalan yang dialami panti asuhan, Ketua Lazismu Sidoarjo, Hifni Solikhin, segera ambil langkah untuk menggalang dana.  “Melalui program Sumur Bor Lazismu Sidoarjo akan segera membuat sumber air dengan dukungan para donatur,” terangnya.

Program Sumur Bor Lazismu Sidoarjo bertujuan menyediakan sumber air bersih dan higienis untuk keperluan sehari-hari, menciptakan lingkungan sehat dan nyaman. Lebih khusus lagi, persoalan air kotor yang dihadapi Panti Asuhan Muhammadiyah Sambungrejo untuk memenuhi aktivitas keseharian panti.

Ikhtiar Lazismu Sidoarjo dan pengurus panti membuahkan hasil. “Atas dukungan donatur, Lazismu Sidoarjo melakukan penyerahan bantuan sumur bor untuk memenuhi kebutuhan air bersih bagi warga Panti Asuhan Muhammadiyah di Desa Sambungrejo, Kecamatan Sukodono, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur, pada Jumat (5/7/2024).

Hifni mengungkapkan rasa syukur, saat menyaksikan suara gemericik air keluar dari saluran pipa mengalir deras. “Alhamdulillah airnya jernih dan tidak berbau.  Sumur bor selesai dikerjakan  dalam satu hari,” bebernya.

Dalam kesempatan itu, Dwi Songgo mengucapkan terima kasih kepada para donatur dan Lazismu Sidoarjo. "Semoga dengan terpenuhinya air bersih ini akan berdampak pada kesehatan badan dan tumbuh kembang anak-anak yatim,” pungkasnya.

[Komunikasi dan Digitalisasi Lazismu PP Muhammadiyah/Yekti Pitoyo]

 

 

SELENGKAPNYA
15 Juli 2024

LAZISMU – BPKH Serahkan Terimakan Pembangunan Lantai 2 Masjid di Pasuruan

PASURUAN – Program kemaslahatan Badan Pengellola Keuangan Haji (BPKH) bersama Lazismu di pertengahan tahun ini menyasar lokasi di kawasan Pasuruan, Jawa Timur. Program ini sebagai implementasi BPKH dalam menyalurkan dan meningkatkan nilai manfaat dana abadi umat.

Kali ini kolaborasi BPKH dan Lazismu menyentuh pilar sarana dan prasarana ibadah untuk pembangunan lantai 2 Masjid Ar-Rojihi di Kabupaten Pasuruan. Tepatnya di jalan raya Pandaan – Bangil, Kebon Waris, yang pelaksanaan pembangunannya sudah dimulai sejak akhir Desember 2023.

Asisten Manajer Pencairan dan Pelaporan Program Kemaslahatan BPKH, Emy Charisma, mengatakan target penyerahan bantuan yang berjalan kurang lebih selama 6 bulan ini menjadi prioritas BPKH. Pasalnya, masjid tersebut terletak di lingkungan sekolah. “Kondisi masjid ini sebelumnya hanya satu lantai, sementara jamaah yang datang melebihi kapasitas. Mengingat masjid sebagai sarana ibadah yang strategis maka BPKH bersama Lazismu menambahkan satu lantai untuk pengembangannya,” kata Emy Charisma.

Alhamdulillah, pada Rabu, 10 Juli 2024, BPKH yang bersinergi dengan Lazismu menyerahkan terimakan bangun lantai 2 masjid yang telah selesai dibangun dengan lancar. Dengan adanya Program Kemaslahatan BPKH ini, lanjut Emy Charisma, secara fisik lantai dua Masjid Ar - Rojihi berhasil dibangun sehingga saat ini, masjid tengah aktif difungsikan oleh masyarakat sekitar sebagi sarana ibadah dan kegiatan keagamaan lainnya.

Mewakili BPKH, kami mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah mendukung dan bersinergi dalam pembangunan lantai dua masjid. Keberadaan Lazismu Pusat dan Lazismu Wilayah Jawa Timur memberikan kekuatan dalam mewujudkan nilai manfaat dana abadi umat.

Wakil Ketua Badan Pengurus Lazismu, Erry Ahmad Sunandar mengucapkan terima kasih juga kepada BPKH atas kepercayaannya menunjuk Lazismu sebagai mitra program kemaslahatan. Tak luput ucapan terima kasih kepada Lazsimu Wilayah Jawa Timur dan Dewan Kesejahteraan Masjid Ar Rojihi yang turut mengikuti proses pembangunan ini sampai selesai.

Puji syukur kami panjatkan bahwa saat ini secara bersama-sama sedang berlangsung prosesi kegiatan serah terima program pembangunan lantai 2 Masjid Ar - Rojihi di Kabupaten Pasuruan. ”Yang menjadi pesan kami adalah bangunan ini sudah jadi fisiknya, tugas kita selanjutnya bagaimana merawat dan memakmurkan masjid,” pungkas Erry.

Semoga dengan bertambahnya kapasitas masjid dalam menampung jamaah, berdampak pada sarana dan kegiatan pemberdayaan masyarakat. Selain itu, kata Erry, masjid selain tempat ibadah juga menjadi bagian dari dakwah kebudayaan.

Proses serah terima ini bertempat  di SMK Muhammadiyah 1 Pandaan, Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur. Hadir dalam acara serah terima dan tamu undangan, antara lain: Manajer Kemitraan Lazismu Pusat, Upik Rahmawati, Wakil Ketua Bidang Pendayagunaan dan Pendistribusian Lazismu Wilayah Jawa Timur, Aditio Yudono, Staf Ahli Wakil Ketua Komisi VIII, Revi Reza Mujahidin dan Aditya Rahmansyah, PDM Kabupaten Pasuruan , Achmad Samsoni dan Hari Santoso, serta amilin Lazismu Kabupaten Pasuruan dan Mojokerto, yang diikuti juga oleh Jwi Mardani dan Eni Widi Lestari dari PDA Pasuruan dan jajaran pimpinan muhammadiyah setempat.  

Sementara itu, BPKH dan Lazismu juga meninjau program kemaslahatan berupa peternakan sapi. Program ini merupakan wujud pengadaan sapi kelompok tani ternak Bromo II, Kabupaten Pasuruan yang berada di Dusun Patuk, Desa Wonosari, kecamatan Tutur. Jenis sapi ternak yang dikunjungi adalah jenis sapi perah yang kandungan susunya bernilai ekonomi.

 

[Komunikasi dan Digitalisasi Lazismu PP Muhammadiyah]

SELENGKAPNYA
11 Juli 2024

Gelar Pemeriksaan Gratis, Lazismu Ajak PDM dan PDA Hulu Sungai Selatan

KALIMANTAN SELATAN – Masjid Istiqamah Kandangan terpantau ramai kunjungan dari masyarakat sekitarnya. Spanduk Lazismu mengundang mata untuk tertuju ke sana pada Senin, 8 Juli 2024. Di halaman masjid ada beberapa tenaga medis sedang melakukan pemeriksaan kepada warga yang bergantian antre.

Pasalnya di masjid yang berlokasi di Kabupaten Hulu Sungai Selatan menggelar pemeriksaan kesehatan gratis. Program dakwah kesehatan yang digelar bersama atas inisiasi Lazismu di bawah Pilar Kesehatan mendapatkan sambutan antusias dari warga. Pasien yang diperiksa mayoritas dari kalangan lansia.

Mewakili Lazismu Kabupaten Hulu Sungai Selatan, Fitri menuturkan tidak hanya menginisiasi pemeriksaan kesehatan gratis, Lazismu turut menyerahkan bantuan berupa peralatan kesehatan. “Peralatan ini akan dipergunakan untuk setiap kali pemeriksaan kesehatan antara lain alat cek gula darah, asam urat, dan kolesterol,” ujarnya.

Penyerahan bantuan peralatan kesehatan kali ini merupakank salah satu program di Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Hulu Sungai Selatan. Kami sangat bersyukur dan berterima kasih kepada donatur yang telah memberikan zakat, infak, dan sedekahnya melalui Lazismu untuk kemaslahatan kita bersama, kata Fitri.

Di samping itu, Lazismu Kabupaten Hulu Sungai Selatan juga menyerahkan bantuan serupa untuk Pimpinan Daerah Aisyiyah (PDA) Hulu Sungai Selatan. Fitri berharap melalui bantuan ini kegiatan pemeriksaan kesehatan dapat dilakukan secara berkala. Warga pun dapat memanfaatkan layanan kesehatan dari program tersebut.

Saat menerima bantuan dari Lazismu, perwakilan PDA Hulu Sungai Selatan, Rosalina menyampaikan terima kasih atas kerja sama yang dilakukan oleh Muhammadiyah dan Aisyiyah dengan dukungan Lazismu. Dengan demikian pemeriksaan kesehatan ini dapat berjalan dengan lancar. Ia pun mengucapkan terima kasih kepada Lazismu.

"Kami berharap kerja sama yang sudah terjalin akan terus berlanjut sehingga pemeriksaan kesehatan untuk warga muhammadiyah dan masyarakat sekitar dapat berkesinambungan," harap Rosalina. 

Lingkungan Masjid Istiqamah Kandangan menjadi lokasi pemeriksaan kesehatan bukan tanpa sebab. Dengan adanya program ini, para lansia yang merupakan jamaah masjid tersebut dapat mengikutinya secara cuma-cuma sehingga kesehatan mereka terjaga. Dengan kondisi tubuh yang sehat, mereka pun dapat beribadah dengan lancar.

[Komunikasi dan Digitalisasi Lazismu PP Muhammadiyah]

SELENGKAPNYA
11 Juli 2024

Bantuan Alat Kesehatan Kembali Diserahkan Lazismu untuk Warga Palestina

MESIR – Bertempat di Capital Palace Grand Bill Room (Qasr El Maliki), Nadi Sikkah, Magama El Ferdos, El Abageyah, Nasr City, Muhammadiyah melalui Kantor Layanan (KL) Lazismu Pimpinan Cabang Istimewa Muhammadiyah (PCIM) Mesir melakukan serah terima bantuan alat kesehatan yang diperuntukkan bagi RS Palestina yang ada di Mesir. Penyerahan bantuan berlangsung pada Selasa, 9 Juli 2024, waktu setempat.

Penyerahan langsung bantuan alat kesehatan diberikan oleh Kepala KL Lazismu PCIM Mesir, Muhamad Khairul Hakim. Turut hadir dan mendampingi, Ketua PCIM Mesir Hidanul Akhwan, Ketua Pimpinan Cabang Istimewa Aisyiyah (PCIA) Mesir Hilma A'yunina, Sekjen Palestinian Red Crescent Tareek Arafat, Duta Besar Palestina untuk Mesir Abdul Hunud, dan Wakil Duta Besar RI untuk Mesir Muhammad Zain Nasution.

Bantuan alat kesehatan tersebut disambut dengan sukacita oleh Sekjen Palestinian Red Crescent, Tareek Arafat. "Sangat gembira dan senang dengan apa yang dilakukan oleh warga Indonesia melalui Lazismu. Karena dalam hal ini mereka sangat cepat dalam menanggapi saudara-saudara di Palestina sehingga antara Indonesia dan Palestina sudah seperti saudara sendiri," ujarnya.

Kepala KL Lazismu PCIM Mesir, Muhamad Khairul Hakim menyampaikan ucapan terima kasih kepada warga Indonesia yang telah menitipkan donasinya melalui Lazismu. Sebelumnya, Lazismu juga telah menyalurkan berbagai bantuan bagi rakyat Palestina yang mengungsi di Mesir. Terutama pada saat bulan Ramadhan 1445 H lalu.

"Terima kasih banyak atas kepercayaan masyarakat Indonesia melalui Lazismu yang sejak awal serangan Israel itu Lazismu sudah turut aktif memberi bantuan dengan mengirimkan 2 kontainer bantuan makanan pokok dan obat-obatan,” tuturnya.

Selama Ramadhan Lazismu juga memberikan bantuan paket untuk berbuka dan sahur kepada warga Palestina. Sebelum serah terima bantuan alat kesehatan Lazismu juga memberikan 2 buah alat medis berupa alat cuci darah Merk Gambro Ak 98 senilai 25 ribu USD," terang Khairul.

Khairul melanjutkan, bantuan alat kesehatan ini sendiri merupakan bentuk kepedulian Lazismu dan warga Indonesia untuk saudara-saudara kita warga Palestina yang berada di Mesir. Bantuan alat kesehatan itu sendiri berupa 2 buah alat defibrillator (alat pacu jantung), dan 1 buah alat diathermy (alat terapi ultrasonik) yang keseluruhannya senilai $32,710.

"Bantuan ini bertujuan untuk meringankan penderitaan warga Palestina yang sedang menjalani pengobatan di Mesir. Semoga bantuan ini bisa sedikit membantu kesembuhan saudara kita yang membutuhkan," tutupnya.

[Komunikasi dan Digitalisasi Lazismu PP Muhammadiyah]

SELENGKAPNYA
10 Juli 2024

Dorong Peningkatan Ekonomi Umat, Lazismu dan Danamon Syariah Jalin Kerjasama

JAKARTA -- Lazismu Pusat dan Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Aceh  menandatangani perjanjian kerja sama dengan Bank Danamon Syariah dalam rangka mewujudkan gaya hidup yang syariah (halal lifestyle).

Penandatanganan ini dilaksanakan di Menara Bank Danamon, Setiabudi, Jakarta pada Selasa (9/7/2024). Penandatanganan itu dihadiri oleh Direktur Syariah dan Sustainability Finance, Herry Hykmanto, Sekretaris Badan Pengurus Lazismu Pusat, Gunawan Hidayat, Direktur Utama Lazismu Pusat, Ibnu Tsani, Direktur Penghimpunan dan Kerjasama Lazismu Pusat, Edi Muktiono serta A. Malik Musa beserta jajaran Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Aceh.

Herry Hykmanto dalam sambutannya menyampaikan suatu kehormatan bagi Danamon Syariah melakukan nota kesepahaman ini karena melanjutkan kerja sama yang sudah terbangun dengan PP Muhammadiyah sejak tahun 2012.

"Lalu, kami melihat bahwa salah satu yang paling penting dalam kemajuan ekonomi umat ini adalah pemberdayaan Zakat, Infak dan Sedekah," tuturnya.

Herry pun menjelaskan dalam era digitalisasi saat ini, semua pihak dapat mengikuti perkembangan teknologi termasuk Bank Danamon Syariah.

"Danamon Syariah insyaallah siap untuk menjadi channel digital maupun konvensional untuk seluruh kegiatan sosial Lazismu," lanjutnya.

"Kami sudah memiliki platform untuk dimanfaatkan, dan kami komitmen tidak akan ada biaya apapun dalam transaksi serta kami akan membawa lebih banyak nasabah untuk bisa menyalurkan melalui Lazismu," ungkapnya.

Herry juga menyebutkan pihaknya komitmen untuk berkolaborasi bersama Lazismu dengan berbagai kegiatan sosial dan bisnis.

Dalam momen yang sama, Gunawan Hidayat menyampaikan kebanggaan kepada Danamon Syariah karena bisa kembali berkolaborasi dengan Lazismu.

"Selama 22 tahun Lazismu, kami akan terus menjaga amanah kepada publik, pemerintah sebagai regulasi maupun internal Muhammadiyah," pungkasnya.

"Untuk menjaga amanah tersebut, kami setiap tahun melakukan pelaksanaan audit yang dilakukan oleh Akuntan Publik, lalu dari sisi Syariah diaudit oleh Kementerian Agama serta audit internal Lembaga Pemeriksa Keuangan PP Muhammadiyah," jelasnya.

Gunawan menuturkan dengan adanya kerja sama ini diharapkan dapat meningkatkan kepercayaan yang sudah bagus dari masyarakat terhadap Lazismu di seluruh Indonesia.

Ia juga berharap dengan adanya kerja sama ini, dapat meningkatkan kualitas UMKM dan masyarakat yang dimulai dari Aceh dengan adanya dukungan dari Bank Danamon Syariah.

"Karena tujuan dari Lazismu adalah mengangkat derajat masyarakat agar dapat hidup lebih baik," tutupnya.

Sementara itu, Ketua PWM Aceh, A. Malik Musa mengatakan apa yang telah direncanakan akhirnya dapat terwujud dengan adanya penendatanganan MoU hari ini. Aceh sebagai wilayah yang pertama dimulainya kolaborasi antara Lazismu dan Danamon Syariah semoga dapat melaksanakan program yang mendorong perkembangan zakat, infak dan sedekah.

Ini bisa dimulai dengan generasi muda dengan dukungan teknologi digital. Kita berharap Lazismu dapat terus berkembang di Indonesia, tuturnya.

Selain penandatanganan perjanjian kerja sama ini, pada kesempatan itu ditampilkan juga sosialisasi salah satu produk bank Danamon Syariah sebagai sarana optimalisasi pengumpulan ZISWAF melalui aplikasi sosial banking salah satunya melalui fitur ZIS dalam aplikasi tersebut.

[Komunikasi dan Digitalisasi Lazismu PP Muhammadiyah/Fathin]

SELENGKAPNYA
9 Juli 2024

Talkshow Beasiswa Tugas Akhir, Lazismu Prioritaskan Program Pendidikan untuk Indonesia Emas

YOGYAKARTA – Pasca peluncuran Beasiswa Tugas Akhir, Lazismu dan Pusat Studi Muhammadiyah menggelar Talk Show (8/7/2024). Acara yang dikemas dengan diskusi pendidikan mengusung tema: “Muhammadiyah Menyongsong Indonesia Emas 2045: Ikhtiar Muhammadiyah Dalam Pemerataan Akses Pendidikan di Indonesia”

Acara Talk Show dipandu oleh Muhammad Iqbal Khatami selaku Peneliti Pusat Studi Muhammadiyah, menghadirkan narasumber yaitu Mohammad Muzzakir selaku perwakilan dari Majelis Diktilitbang PP Muhammadiyah dan Ibnu Tsani selaku Direktur Utama Lazismu Pusat.   

Mengawali diskusi, Iqbal membuka wacana tentang peran sentral muhammadiyah dalam pendidikan. Yang didalamnya ada hilir yang perlu dikaji tentang pengayaan literasi ilmiah. Muhammadiyah dalam kiprahnya tidak perlu diragukan lagi. Amal usahanya di bidang pendidikan tersebar di seluruh Indonesia.  

Belum lama ini, isu kenaikan Uang Kuliah Tunggal (UKT) mendapat respons dari masyarakat. Sentimen negatif terhadap PTN begitu besar, tapi juga ada sentimen positif terhadap muhammadiyah yang berupaya menampilkan pendidikan dengan pendekatan inklusif. Ini tentu menarik bagaimana peran sentral dan strategis muhammadiyah, serta bagaimana positioning muhammadiyah di tengah tantangan yang dihadapi saat ini.

Fakta yang tak terbantahkan bahwa perguruan tinggi muhammadiyah (PTM) secara statistik jumlahnya lebih banyak dari perguruan tinggi negeri. Karena bicara pendidikan sebagai pembuka apa yang menjadi tilikan Muzzakir terkait tema kali ini, ungkap Iqbal melontarkan pertanyaan.

Apa yang disoroti terutama akses pendidikan, peran muhammadiyah cukup sentral. Bicara data hari ini masyarakat ketika mengakses pendidikan masih sangat rendah. “Masih jauh dari apa yang kita harapkan. Peran sentral PTM saat isu UKT bergejolak mendapat sambutan baik terutama di Indonesia timur,” jelas Iqbal. Bagaimana pandangan Anda (Muzzakir) terkait peran sentral itu dalam agenda Indonesia emas itu sendiri?

Saya pikir bicara peran sentral muhammadiyah tidak lepas dari sejarah bangsa Indonesia. Dan muhammadiyah merupakan bagian dari komponen bangsa yang ikut mendirikan bangsa Indonesia. Tujuan terbentuknya bangsa ini salah satunya adalah mencerdaskan kehidupan bangsa. Untuk mencerdaskannya, maka itulah tugas negara bukan sektor swasta (private sector).

Adalah betul muhammadiyah memiliki amal usaha di bidang pendidikan yang tersebar di nusantara. Tapi tugas utama pendidikan adalah tugas negara, jadi menurut Muzzakir relasi ini harus dipandang antara masyarakat dan negara.

Sebelum muhammadiyah berdiri sudah ada proses melakukan inisiasi praktik pendidikan, tidak hanya formal, tapi informal dan non formal di mana pergerakan tokohnya bagian dari spirit pendidikan itu sendiri. Itu yang dilakukan oleh muhammadiyah, mendirikan sekolah saat itu ketika pendidikan hanya bisa diakses oleh pemerintah kolonial Belanda.

Pribumi itu juga macam-macam ada bangsawan, kiyai, guru dan rakyat jelata. “Tokoh pergerakan itu dulu anak – anak priyayi dan bangsawan, Jadi tidak ada ceritanya kaum jelata kemudian jadi tokoh,” bebernya.

Nah kehadiran muhammadiyah menjembatani itu yang tidak memandang seseorang dari kelas sosial tertentu sebagai kontribusi awal di periode awalnya. Karena sejak awal sudah melakukan demokratisasi pendidikan dalam konteks historisnya, tuturnya.

Semangat muhammadiyah saat itu, mengisi ruang yang belum ada negara, negara yang masih sangat diskriminatif yaitu kolonial beanda. Barulah di era setelah kemerdekaan menjadi berperan penting dalam perkembangannya. Oleh sebab itu, kata Muzzakir, muhammadiyah sudah mengenal modernisasi birokrasi karena sejak awal sudah mengenal sekolah.

Tokoh - tokoh seperti Soekarno dan Jendral soedirman bisa melakukan mobilitas sosial karena sekolah. Konteks sekarang tentu saja berbeda dengan periode awal dan perkembangannya.  

Merespons kembali penjelasan dari Muzzakir, lalu Iqbal menyintesakan gerakan muhammadiyah secara historis dengan konteks filantropi, di mana dalam setiap lini gerakan muhammadiyah sekarang ini selalu ada Lazismu. Lembaga amil zakat yang perannya tidak hanya menghimpun dan mendistribusikan tetapi sekaligus kolaborator dalam sisi elemen gerakan muhammadiyah. Apa rencana stragis Lazismu di periode sekarang di mana pendidikan menjadi prioritas, tanya Iqbal kepada Ibnu Tsani.

Ibnu Tsani menjelaskan bahwa Lazismu sebagai lembaga amil zakat ada program yang difokuskan yaitu pendidikan kendati ada program lainnya. Programnya sejalan dengan peran muhammadiyah yang juga bicara dan bergerak dalam bidang pendidikan.

Diketahui bersama pendidikan saat ini menyimpan persoalan. Persosalaan itu sulitnya akses dan kualitas pendidikan yang masih jauh dari cita-cita. “Dalam menjemput akses pendidkan solusi Lazismu adalah dengan beasiswa. Beasiswa di Lazismu ada Sang Surya, Mentari dan Beasiswa Riset. Adalah sulit memisahkan Lazismu dengan program pendidikan,” pungkasnya.

Tantangan pendidikan begitu berat, lembaga pendidikan menjamur, namun untuk bisa masuk ke perguruan tinggi biaya menjadi kendala bagi sebagian masyarakat. Lazismu tidak bisa menyelesaikan akar masalahnya apalagi muhammadiyah. Akar masalahnya ada di negara, kata Ibnu Tsani.

Lahirnya privatisasi dan liberalisasi pendidikan sekarang ini turut menjadi pemicu bagaimana akses pendidikan sulit didapat. Karena itu, Lazismu mendukung kualitas sumber daya manusia dalam bidang pendidikan yang satu paket dengan riset dalam kaitannya.

Selanjutnya dalam akses masih tersisa persoalan berikutnya yaitu sarana pendukungnya yang belum memadai. Maka Lazismu turut memberikan dukungan di bidang pendidikan dengan memberikan sarana pembelajaran berupa Edutabmu sebagai aplikasi digital untuk melengkapi proses belajar mengajar bagi guru dan peserta didik yang manfaatnya dirasakan oleh masyarakat di kawasan terluar, terdepan dan tertinggal.

Menurut Ibnu Tsani posisi Lazismu sebagai bagian dari elemen non-pemerintah memiliki andil bagaimana membuka akses dan kualitas pendidikan tersebut dari pendekatan filantropi. Dengan demikian kata Ibnu Tsani sejarah muhammadiyah juga tak bisa dilepaskan oleh Lazismu yang fokus pada persoalan pendidikan.

Merespons apa yang disampaikan Muzzakir, melihat situasi sekarang, Lazismu dengan 6 pilar programnya merupakan perwujudan dari gerakan muhammadiyah itu sendiri dalam kerangka filantropi.

Karena bicara muhammadiyah maka bicara pendidikan selain ada soal kesehatan, dan itu bagian dari konstruksi sosial secara soiologis seperti itu.   

Kemudian visi jangka panjang apa yang Lazismu sematkan dalam gerakannya untuk mendukung visi Indonesia emas. Ibnu Tsani memaparkan bahwa, pertama Lazismu tidak bisa selesaikan akar masalahnya. Bukan tanggung jawab Lazismu dan muhammadiyah. Sekali lagi itu kata kuncinya. Perihal UKT, lanjut dia, akar masalahnya bisa ditilik dari kacamata politik ekonomi pendidikan, faktornya dipicu dari privatisasi dan liberalisasi pendidikan.

Ikhtiar Lazismu adalah memediasi dan memfasilitasi kualitas sumber daya manusia yang dikombinasikan dengan riset dan selanjutnya adalah bagaimana meningkatkan kualitas sarana belajar. Ekosistem ini yang dibutuhkan untuk melipatgandakan kualitas sumber daya manusia.

Tak berhenti sampai gerakan filantropi Lazismu, Iqbal kembali mendedahkan pertanyaan untuk Muzzakir, ketika muhammadiyah berkomitmen di bidang pendidikan, kemudian bagaimana peran dan caranya agar bisa adaptasi terhadap perkembangan zaman terutama dalam merespons keberadaan kampus yang sedapat mungkin relevan dengan zaman.

Merujuk sejarah Muhammadiyah, lanjut Muzzakir, pertama jika bicara PTM itu gagasannya telah ada di tahun 1920 oleh Kiyai Hisam tapi imajinasi itu sudah ada dalam gerakan muhammadiyah. Jika dianalisis lagi satu tahun berikutnya sudah berdiri sekolah Nederlandsch-Indische Artsen (NIAS) setelah itu baru muncul STOVIA. Kemudian berdirilah sekolah teknik yang Soekarno ada dalam prosesnya. Maka muncullah ITB yang berdiri tahun 1920.

Muhammadiyah belum bisa ketika itu, baru kemudian gagasan itu dibuat lagi pada tahun 1955. Saat itu sudah ada perguruan tinggi Islam. Dan kampus - kampus swasta yang secara privat dari kalangan Katolik dan Kristen. Dibandingkan dengan Islam, umat kristiani sudah lebih dulu dalam mengembangkan pendidikan di Indonesia.

Barulah kemudian sekolah di muhammadiyah muncul. Tapi bukan dari atas, justeru kehadirannya ada dari bawah, dulu cabang muhammadiyah Jakarta mengawalinya kemudian diikuti cabang Solo dan Malang serta di Sumatera Utara. Yang pertama itu UMJ tahun 1950-an di era orde lama itu tidak bisa terlepas dari sejarah.

Kenapa kampus muhammadiyah sudah ada, karena spirit ideologisnya sudah ada, sebagai bagian dari dinamika organisasi dan kebutuhan masyarakat, tapi itu alami percepatan di muhammadiyah dalam majelis tingggi muhammadiyah. Di solo tahun 1965 muhammadiyah menerima asas tunggal, kemudian 1986 diinisiasi majelis diktilitbang secara organisatoris bukan hanya di Jawa tapi di seluruh Indonesia secara bertahap. Itu di era ketika majelis tinggi di muhammadiyah di bawah Jazman al-Kindi pendiri IMM melakukan lompatan pemikiran yang progresif.

Di samping tingkat pendidikan orang Indonesia yang sudah mulai berkembang, seiring itu juga kebijakan orde baru yang membuka program pendidikan seperti sekolah inpres banyak melahirkan kebijakan-kebijakan pendidikan yang secara tidak langsung menguntungkan muhammadiyah.

Baik itu dari sisi historis kata Iqbal selaku moderator. Kira-kira ke depan apa yang dilakukan Lazismu dengan aksi kolaborasinya agar bisa menyongsong pendidikan yang bisa diakses dan berkualitas, dan apa peran Lazismu di sektor itu?

Bagi Ibnu Tsani, pertama akar masalahnya harus dikunci dulu saja. Itu kan tugas negara mencerdaskan kehidupan bangsa, poin kedua adalah kolaborasi antara sektor swasta dan pemerintah. Aspek pemegang kebijakan jangan dihilangkan. Lazismu bagaimana pun bisa menghimpun donasi dari khalayak untuk ambil peran dalam bidang pendidikan.

Saya pikir kerangka ini bisa dilihat di mana Indonesia berdasarkan riset menjadi negara yang masyarakatnya gemar untuk berdonasi. Orang Indonesia yang suka berdonasi harus tetap dipertahankan dan difasilitasi, maka kuncinya harus ada di kepercayaan dalam tata kelolanya (trust). 

Kepercayaan publik itu masih ada, selanjutnya bagaimana menyalurkan program sebaik mungkin dengan tata kelola sedemikian rupa yang menjadi fokus lazismu. Jika ada yang berprestasi dalam program pendidikan tentu Lazismu dan muhammadiyah bangga karena dampaknya bisa dirasakan masyarakat.

Merespons kedua narasumber Muhammad Alfarisi dari Magister FAI UAD, mengatakan bahwa narasumber dengan buah pikirannya cukup menarik. Saya tertarik dengan meritokrasi dari Bapak Muzzakir. Diakui bahwa muhammadiyah telah berkontribusi terhadap Indonesia. Tapi realitasnya muhammadiyah hanya dijadikan objek dalam penelitian. Artinya, saya ingin tahu bagaimana cara dari Lazismu Pusat atau Diktilitbang PP Muhammadiyah untuk menguatkan apa yang dikatakan Ketua Umum PP Muhamamdiyah, Haedar Nashir di mana kader - kader adalah sekoci di tempatnya masing masing. Muhammadiyah hanya dijadikan objek penelitian tapi masalahnya tidak disampaikan dengan teori risalah islam berkemajuan dan dakwah kultural.

Dalam kesempatan yang sama M. Fachrurrozi dari PC IMM Bantul, turut merespons kedua narasumber. Pertama tugas menciptakan akses pendidikan adalah tugas negara. Muhammadiyah sebagai sektor swasta yang berkontribusi sejauh ini dalam pemerataan akses juga masih berbeda. Misalnya antara Indonesia bagian Barat dan Indonesia bagian Timur.

Bagaimana Diktilitbang PP Muhammadiyah melihat relaitas yang terjadi di mana akses kualitas PTM tidak merata. Sementara di Indonesia Timur masih terbatas, sehingga sangat panjang prosesnya untuk menciptakan generasi yang berkualitas di Indonesia Timur.

Menanggapi hal itu, Muzakir mengatakan dialektika gagasan dan Islam berkemajuan sama saja dengan gagasan revolusi mental, dan Pancasila tidak hanya dalam kata - kata tapi dalam laku. Artinya dalam sejarah gerakan itu dialektika yang dinamis akan terjadi termasuk ketegangannya.

Muhamamdiyah juga alami itu, bagaimana menjaga jarak antara idealitas dan realitas. Harus ada teks dan konteks yang tiada akhir. Itu yang dilakukan KH. Ahmad Dahlan, harus bisa memaknai teks dalam gerakan dan aksi nyata. Itu kegelisahan yang kita alami bersama.

Jawabannya menurut hemat saya, sambung Muzzakir, fenomena itu akan dialami oleh individu dan organisasi. Pada waktunya nanti akan menemukan tujuannya, seperti apa yang dijadikan tujuan besar bangsa Indonesia.

Selain perlu impian (utopia), maka gagasan itu butuh dikontekstualisasikan semendekati mungkin. Maka kami di majelis diktilitbang, bagaimana mendorong dalam konteks PTM yaitu ada ukuran formal dalam PTM. Dari hal yang tampak dulu dan isinya perlu kajian lebih lanjut dengan diiringi peningkatan kualitasnya.

Indikatornya bisa muncul budaya akademik yang sehat dan berdampak pada ekosistem pendidikan. Tradisi akademik tidak bisa begitu saja bisa dirasakan. Semua itu ada proses yang berkelanjutan. 

Sementara itu, Ibnu Tsani melihat bahwa muhammadiyah sebagai objek penelitian itu masih bisa diperdebatkan. Muhammadiyah "seksi" dan ada dinamika. Kedua, memang ada masing - masing konteks juga di wilayah dan cabang yang tidak bisa digeneralisasi. Tapi initinya pada konteks riset muhammadiyah masih layak untuk dikaji baik dalam aspek layanan, pemikiran dan gerakannya.

Sebenarnya kalau bagaimana putusan persyarikatan itu hemat saya adalah pimpinan itu mampu membaca teks dan dikontektualisasikan dalam agenda kerja yang konkret. Akses PTM tidak merata karena biaya yang mahal, bukan perkara mudah. Dan menurut pandangan saya, bagaimana negara dalam cara pandangnya terhadap muhammadiyah itu kompetitor atau mitra.

Jika itu sudah jelas kuncinya tergantung bagaimana negara melihat muhammadiyah sebagai kompetitor atau mitra. Faktanya mendirikan PTM itu butuh investasi yang tidak sedikit dan butuh proses yang panjang.

Ibnu Tsani menuturkan bahwa muhammadiyah dan Lazismu tidak akan pernah berhenti untuk melakukan gerakan filantropi. Harus dengan pembacaan yang ikhtiarnya mengkaji dengan sumbangsih tulisan dan aksi konkret sehingga ada cara pandang yang signifikan dan ada kawan berkolaborasi yang baru sehingga dunia tidak sempit. “Jangan pernah merasa menyesal setelah kuliah tidak dapat kerja dan dunia kiamat,” tutupnya.

SELENGKAPNYA
9 Juli 2024
LAZISMU adalah lembaga zakat nasional dengan SK Menag No. 90 Tahun 2022, yang berkhidmat dalam pemberdayaan masyarakat melalui pendayagunaan dana zakat, infaq, wakaf dan dana kedermawanan lainnya baik dari perseorangan, lembaga, perusahaan dan instansi lainnya. Lazismu tidak menerima segala bentuk dana yang bersumber dari kejahatan. UU RI No. 8 Tahun 2010 Tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang

Alamat

Jl. Menteng Raya No.62, RT.3/RW.9, Kb. Sirih, Kec. Menteng, Kota Jakarta Pusat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 10340
Jl. Jambrut No.5, Kenari, Kec. Senen, Jakarta Pusat 10430
info@lazismu.org
0213150400
0856-1626-222
Copyright © 2026 LAZISMU bagian dari Persekutuan dan Perkumpulan PERSYARIKATAN MUHAMMADIYAH
cross