

YOGYAKARTA -- Pusat Studi Muhammadiyah (PSM) kembali meluncurkan Beasiswa Tugas Akhir Batch 2 di Aula Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Yogyakarta, Senin, 8 Juli 2024. Dalam peluncuran program pendidikan itu, PSM berkolaborasi dengan Lazismu.
Peluncuran Beasiswa Tugas Akhir Batch 2 ditandai dengan penyerahan penghargaan secara simbolik kepada penerima beasiswa yang diserahkan oleh Direktur Pusat Studi Muhammadiyah, Bachtiar Dwi Kurniawan dan Direktur Utama Lazismu, Ibnu Tsani.
Dalam sambutannya, Direktur Pusat Studi Muhammadiyah, Bachtiar Dwi Kurniawan mengatakan sebenarnya program bantuan riset ini sudah kami soft launching di akun resmi sosial media PSM. Dalam tahapan itu diumumkan, Alhamdulillah momen ini mendapat antusiasme yang cukup besar dari ratusan kader muhammadiyah yang melakukan proses pendaftaran.
“Beasiswa berupa riset tugas akhir ini perlu juga secara resmi ditandai dengan peluncurannya dalam (kick off) bahwa kita punya program riset kader-kader muhammadiyah dalam skema penelitian,” ujarnya
Hal ini merupakan wujud akuntabilitas kepada publik apa yang telah diamanahkan Lazismu kepada PSM, kata Bachtiar. Maka agenda ini dapat disyiarkan bahwa dukungan dana dari Lazismu telah diberikan kepada penerima manfaat yang lolos proses tahapan demi tahapan dalam seleksinya.
Apresiasi kepada awardee yang memiliki talenta akademik khususnya terkait penelitian tentang muhamamdiyah dan aisyiyah. Solusi bagi mereka yang lolos seleksi untuk memperoleh akses pendidikan serta keringanan dalam memperlancar tugas akhir dengan riset yang dikembangkan kader-kader muhamamdiyah.
Kami berharap dalam pekembangannya nanti tidak ada hambatan dalam studi akhirnya. Semua proses diberi kelancaran sehingga menghasilkan riset yang berkualitas.
Tujuan diberikannya beasiswa ini, sambung Bachtiar, dalam rangka mengumpulkan sumber informasi terkait dengan apa dan bagaimana yang sudah muhammadiyah lakukan secara akademik. Pada gilirannya akan ada kurasi informasi tentang riset bagaimana kontribusi muhammadiyah secara akademik.
Nilai lebihnya, kata dia, jika sudah terkumpul akan ada informasi bagi peneliti selanjutnya tentang muhammadiyah dan menemukan data penelitian yang bisa digali lebih lanjut. Bagi kader yang lolos diharapkan ke depan mampu mempublikasikan hasil risetnya sehingga publik semakin tahu apa yang dilakukan oleh muhammadiyah.
Beberapa topik penelitian tentang Lazismu turut mewarnai kajian ini sehingga masyarakat tahu apa yang dilakukan muhammadiyah melalui lembaga filantropi Islam yang dimilikinya. “Di masa yang akan datang bila program ini belanjut PSM berencana melakukan adu gagasan dari para awardee untuk bisa hasil penelitiannya dapat dikonferensikan di depan khalayak, harapnya dengan optimis.
Semoga kerjasama PSM dan Lazismu bisa memberikan kontribusi terhadap pendidikan dan berbagai bidang lainnya. Mewakili PSM, saya ucapkan terima kasih kepada Lazismu atas dukungan penuhnya. Tak luput kepada kepada kawan-kawan PSM yang telah menyiapkan terselenggaranya acara ini.
Selanjutnya terima kasih kami ucapkan kepada penerima manfaat yang hadir di sini. Inilah kader-kader yang telah mendapatkan dukungan dana beasiswa dari Lazismu. Dengan terbukanya akses beasiswa ini PSM bercita-cita ada pengembangan budaya akademik dan riset di Muhammadiyah sebagai sumbangsih terhadap ilmu pengetahuan yang sejalan dengan gerakan muhammadiyah sebagai gerakan ilmu agar bisa segera terwujud.
Di kesempatan yang sama, Direktur Utama Lazismu Ibnu Tsani dalam peluncuran itu mengatakan Lazismu sebagai lembaga amil zakat ada program yang difokuskan yaitu pendidikan di antara program lainnya. Ini senafas dengan peran Muhammadiyah yang juga bicara pendidikan di samping ada bidang lainnya seperti kesehatan, dakwah dan ekonomi.
Kita ketahui bersama dalam pendidikan ada persoalan. Selain masalah akses ada masalah berikutnya yaitu kualitas. “Aspek akses solusinya yaitu beasiswa. Beasiswa di Lazismu ada Sang Surya, Mentari dan Beasiswa Riset. Adalah sulit memisahkan Lazismu dengan program pendidikan,” pungkasnya.
Tantangan pendidikan begitu berat, lembaga tinggi banyak, tapi biaya juga menjadi perhatian dalam memperoleh akses itu. Lazismu tidak bisa menyelesaikan akar masalahnya apalagi muhammadiyah. Akar masalahnya ada di negara, kata Ibnu Tsani.
Lahirnya privatisasi dan liberalisasi pendidikan sekarang ini turut menjadi pemicu bagaimana akses pendidikan sulit didapat. Karena itu, Lazismu mendukung kualitas sumber daya manusia dalam bidang pendidikan yang satu paket dengan riset dalam kaitannya.
Pada kondisi yang lain dalam akses pendidikan masih tersisa persoalan yakni sarana pendukungnya yang belum memadai. Maka Lazismu turut memberikan dukungan di bidang pendidikan dengan memberikan sarana pembelajaran berupa Edutabmu sebagai aplikasi digital untuk melengkapi proses belajar mengajar bagi guru dan peserta didik yang manfaatnya dirasakan oleh masyarakat di kawasan terluar, terdepan dan tertinggal.
Menurut Ibnu Tsani posisi Lazismu sebagai bagian dari elemen non-pemerintah memiliki andil bagaimana membuka akses dan kualitas pendidikan tersebut dari pendekatan filantropi. Dengan demikian kata Ibnu Tsani sejarah Muhammadiyah juga tak bisa dilepaskan oleh Lazismu yang fokus pada persoalan pendidikan.
Dukungan penuh Lazismu ini di program pendidikan, kata dia sebagai wujud kepedulian Lazismu terhadap problem yang dihadapi oleh masyarakat. Jelas bahwa para penerima manfaatnya kali ini untuk jenjang S1 sebanyak 30 orang dan jenjang S2 sebanyak 20 orang.
“Sasaran penerima manfaat program Beasiswa Tugas Akhir adalah mahasiswa yang ada dalam tugas akhir di perguruan tinggi seluruh wilayah Indonesia antara lain meliputi wilayah Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, NTB, NTT dan Papua. Beasiswa ini juga diberikan bagi mahasiswa yang memiliki keaktifan pada Persyarikatan Muhammadiyah dan Organisasi Otonom Muhammadiyah sebagai prioritasnya” jelas Ibnu Tsani.

YOGYAKARTA --- Beasiswa untuk warga Palestina yang ditetapkan Lazismu untuk para penerima manfaat yang memenuhi syarat di tahun 2024 merupakan gelombang yang ketiga (Batch 3). Program beasiswa ini kolaborasi Lazismu dengan BAZNAS, Majelis Pendidikan Tinggi Penelitian dan Pengembangan (Diktilitbang) Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah yang sumber dananya diperoleh dari donasi Ma'had Islam Rafiah Akhyar (MIRA) dibawah asuhan Ustadz Adi Hidayat.
Sejak April 2024, para mahasiswa Palestina yang akan melanjutkan studi di Indonesia satu per satu telah datang. Kendati dalam proses administrasinya mereka tidak datang serentak karena kondisi Palestina yang belum pulih seratus persen. Untuk keluar dari Gaza membutuhkan proses yang cukup panjang akibat pemberlakuan pembatasan oleh Israel.
Direktur Program Pendistribusian dan Pendayagunaan, Ardi Lutfi Kautsar mengatakan, ada 37 awardee yang diterima dalam program beasiswa Palestina. “Sebanyak 17 awardee mengikuti program Summer Course di Indonesia. Pekan pertama bulan Juni sudah ada 1 orang yang datang untuk kursus singkat Akuntansi dan Keuangan di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY)”, katanya.
Selanjutnya kata Ardi, ada 1 awardee lagi yang tiba di Yogyakarta untuk kursus singkat Small Medium Enterprise di UMY. Sementara itu, hari ini, Senin, 8 Juli 2024, 1 orang awardee juga telah tiba di Yogyakarta untuk kursis singkat International Training for Young Islamic Economic Leaders.
Mush'ab Bahrah dari Majelis Diktilitbang PP Muhammadiyah, menjelaskan ketia awardee yang telah datang ke Indonesia, masing – masing mengikuti program Summer Course dengan fokus kajian yang berbeda. Ada Mohammed Saleh, dengan program kursusnya di bidang akuntansi dan keuangan.
Awardee lainnya dengan nama Ayman Aldirawi, program kursus singkatnya di bidang Usaha Kecil Menengah dalam pemberdayaan ekonomi. Adapun yang baru datang Issam Ayyash, fokus dalam kursus singkat Pelatihan Internasional Pemimpin Muda Ekonomi Islam.
Dalam kesempatan itu, Mush’ab Bahrah mengungkapkan bahwa ada 10 orang awardee yang diundur jadwalnya karena berdomisili di Gaza yang kondisinya belum kondusif. Mereka akan tiba dalam waktu yang masih dikoordinasikan, jelasnya.
“Untuk program Summer Course kedatangan awardee yang lain berdasarkan jadwal dimulai dari Juni, Juli dan Agustus 2024,” tandasnya.
Issam Ayyash adalah mahasiswa pascadoktoral lulusan Selcuk University-Konya, Turkey. Bidang kajiannya di isu ekonomi terutama keuangan publik (public finance) yang menjadi bagian dari minatnya selama menempuh jalur akademik di Palestina dan Turki.
[Komunikasi dan Digitalisasi Lazismu PP Muhammadiyah]

PURBALINGGA -- Peternakan masyarakat mandiri merupakan satu di antara program inisiatif LAZISMU untuk memberdayakan masyarakat melalui sektor peternakan.
Pentasarufan programnya dilakukan pada 7 Juli 2024, dengan penerima manfaatnya adalah Kandang Edukasi Fascho Rabbits, di Bobotsari, Kabupaten Purbalingga, Jawa Tengah.
Acara pentasarufan digelar dalam satu rangkaian Pengajian Ahad Kliwon Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Bobotsari yang bertempat di Masjid Besar Baitul Mukmin Bobotsari.
Fascho Rabbits Bobotsari terpilih sebagai penerima manfaat program ini karena dedikasinya dalam mengembangkan peternakan kelinci yang edukatif bagi masyarakat setempat.
Serah terima pentasarufan dihadiri oleh pengurus pimpinan cabang Muhammadiyah setempat, tokoh masyarakat, hingga anggota jama'ah masjid.
Dalam sambutannya, Ketua Lazismu Daerah Purbalingga menyampaikan pentingnya kemandirian ekonomi bagi masyarakat melalui usaha peternakan yang dikelola secara profesional.
"Program ini diharapkan dapat menjadi contoh bagi masyarakat lain dalam mengembangkan usaha peternakan yang berkelanjutan dan mendukung perekonomian lokal," ujarnya.
Pengajian Ahad Kliwon yang menjadi bagian dari acara ini juga diisi dengan tausiyah dari para ustadz yang memberikan motivasi keagamaaan dan wawasan spiritual tentang pentingnya keberkahan dalam usaha ekonomi.
Selain itu, acara ini juga menjadi ajang silaturahim dan tukar pengalaman antar nggota jamaah dan pengusaha peternakan.
Pengurus Kandang Edukasi Fascho Rabbits Bobotsari, dalam kesempatan yang sama, mengucapkan terima kasih atas bantuan dan dukungan dari Lazismu.
"Kami berharap dengan adanya program ini, kami dapat lebih mengembangkan usaha peternakan kelinci dan memberikan edukasi kepada masyarakat tentang pentingnya peternakan yang baik dan benar," katanya.
Dengan adanya pentasarufan ini, diharapkan Kandang Edukasi Fascho Rabbits Bobotsari dapat terus berkembang dan menjadi inspirasi bagi usaha peternakan lainnya di Bobotsari dan sekitarnya.
Program ini juga menjadi bukti nyata komitmen Lazismu Pusat dalam mendukung kemandirian ekonomi masyarakat melalui berbagai program pemberdayaan yang bermanfaat.
[Divisi Komunikasi & Digital/KangObet]

Tanggal 4 Juli 2024, Lazismu memasuki usia genapnya yang ke – 22, setelah tahun 2022 Pimpinan Pusat Muhammadiyah menerbitkan surat keputusan didirikannya Lazismu di Menteng, Jakarta. Usia yang jika dihitung dalam perjalanan panjangnya, telah banyak melakukan peran dan memberikan kontribusi bagi persyarikatan atau di tengah persoalan hidup kemasyarakatan.
Kunci sukses Lazismu bisa bertahan dan maju adalah tidak pernah lelah berhenti untuk berbagi, komitmen dan terus berinovasi. Ahmad Imam Mujadid Rais selaku Ketua Badan Pengurus Lazismu dalam senarai ucapan milad Lazismu mengatakan bahwa kita bisa melihat jejak langkah Lazismu bertebaran di seluruh negeri dan penjuru dunia.
“Capaian ini tidak lepas dari kerjasama banyak pihak, baik di internal persyarikatan dan internal Lazismu sendiri,” katanya.
Dalam mengayuh kapasitas amilnya Lazismu berada dalam situasi untuk membuka pintu selebar-lebarnya, maka ada beberapa kawan-kawan yang datang dan pergi. Silih bergantinya, memberikan legasi yang bermanfaat dan berguna untuk menjadi cermin pembelajaran yang akan datang.
Mujadid Rais mengungkapkan bahwa tantangan ke depan tidaklah mudah. Mulai ada bermunculan lembaga – lembaga filantropi lain yang menjadi lembaga imbangan (competitor) dan atau pun saudara bagi Lazsimu untuk berlomba - lomba dalam kebaikan.
Lazismu sebagai saudara tua yang lebih awal hadir, miliki tanggung jawab untuk perbaiki jatidirinya dan meningkatkan kinerja demi tercapainya visi dan misi yang dibangun berapa tahun silam.
Kita patut bersyukur bangsa Indonesia merupakan bangsa yang memiliki kesadaran berbagi yang sangat tinggi, karena itu sebuah lembaga memberikan apresiasi bahwa bangsa Indonesia sebagai bangsa yang dermawan.
Karena di tengah kesulitannya sendiri yang dialami keluarga atau dirinya, bangsa Indonesia masih mau berbagai sesuatu miliknya, meluangkan waktunya dan mau menjadi relawan.
Selain itu, mau berkorban atas penderitaan yang dialami oleh saudara-saudaranya. Kata Mujadid Rais, seorang penasehat pernah mengatakan ketika dunia mengalami krisis dan ketika masyarakat mengalami krisis, ia menyarankan untuk terus berbagi terhadap sesama.
Dengan berbagi kepada sesama itu akan memperbaiki (reliefing) atas kondisi yang ada dan mungkin membuat seseorang lebih baik lagi atas kondisi yang ada.
Maka, jangan pernah berhenti untuk terus berbagi dan insyaallah Lazismu akan terus ada di garda terdepan dalam gerakan berbagi kepada sesama dan turut memberdayakan sesama.
Mudah - mudahan Lazismu menjadi lembaga amil zakat yang terpercaya, amanah dan meningkatkan kinerjanya di masa yang akan datang.
Di sana, ada tugas keumatan yang senantiasa menanti untuk berkontribusi di seluruh negeri dan penjuru dunia. Sekali lagi, lanjut Mujadid Rais, Selamat Milad untuk Lazismu yang ke – 22.
[Komunikasi dan Digitalisasi Lazismu PP Muhammadiyah]

PALEMBANG – Di hari jadi Lazismu yang ke – 22, Lazismu Kantor Layanan Bukit Kecil menggelar temu amil dan silaturahim. Agenda tersebut dihadiri oleh Ketua Badan Pengurus dan Sekretaris Dewan Pengawas Syariah Lazismu Kota Palembang pada Kamis, 4 Juli 2024, serta jajaran pengurusnya.
Kepala Kantor Layanan Lazismu Bukit Kecil, Maliki dalam sambutannya mengucapkan terima kasih atas kunjungan dan arahan yang diberikan oleh Lazismu Kota Palembang. Dia menyampaikan rasa syukur atas terbitnya SK Kepengurusan yang baru.
Alhamdulilah antusias warga muhammadiyah dalam menyalurkan zakat, infak, dan sedekah ke Kantor Layanan Bukit Kecil menunjukan peran Lazismu di sini sudah dikenal lebih dekat dengan masyarakat, katanya. Kepercayaan ini harus terus dijaga agar para donatur dapat berdonasi dalam program-program Lazismu yang beragam.
Pada kesempatan itu, Ketua Badan Pengurus Lazismu Kota Palembang, Kgs. M. Fahmi dalam kunjungannya menyampaikan bahwa temu amil kali ini bertujuan untuk memperkuat konsolidasi dan mendorong Lazismu di Bukit Kecil untuk semakin maju. Ia berharap Kantor Layanan Lazismu Bukit Kecil dapat terus berkembang dan menjadi lebih baik sehingga dapat membantu masyarakat lebih banyak.
Hal senada disampaikan Sekretaris Dewan Pengawas Syariah Lazismu Kota Palembang, Syarief Ali. Kata dia, selain silaturahim, kedatangannya juga untuk memberikan penguatan dan pembekalan dalam tata kelola administrasi Lazismu.
Ia berharap momentum ini dapat menjadi motivasi bagi Kantor Lazismu Lazismu Bukit Kecil agar bisa berinovasi dan lebih dikenal dekat lagi di mata masyarakat.
Bertepatan dengan hal itu, Ketua Badan Pengurus Lazismu Kota Palembang melakukan penyerahan SK Kepengurusan yang baru kepada Kantor Layanan Lazismu Bukit Kecil. Diharapkan dengan terbitnya SK baru kepengurusan yang baru ini diharapkan dapat meningkatkan kinerjanya dalam menghimpun dan menyalurkan dana ZISKA.
[Komunikasi dan Digitalisasi Lazismu PP Muhammadiyah/Andi Wijaya]

JAKARTA -- Direktorat Pemberdayaan Zakat dan Wakaf Kementerian Agama RI menggelar webinar ekspos zakat dan wakaf “Akselerasi Pencapaian Pembangunan Berkelanjutan Melalui ZISWAF”, pada Kamis, 4 Juli 2024.
Direktorat Pemberdayaan Zakat dan Wakaf Kementerian Agama RI menggandeng Lazismu dan Forum Nasional Himpunan Prodi Manajemen Zakat dan Wakaf (Fornas Mazwa) sebagai wujud sosialisasi dan edukasi tentang literasi zakat dan wakaf.
Dipandu oleh Muhammad Nizarul Asror selaku moderator, webinar ini merupakan agenda rutin setiap pekan yang akan berakhir di bulan Desember 2024. Dalam pengantarnya Nizarul Asror mengatakan literasi zakat dan wakaf adalah penting untuk dikenal masyarakat secara luas. Karena itu, publikasi dilakukan tidak hanya secara online tetapi melalui ragam saluran secara online.
Bertindak sebagai moderator, Nizarul Asror membuka webinar dengan kupasan singkat tentang kiprah Lazismu. Bagaimana tata kelola dan koordinasinya mengingat Lazismu jaringannya ada di seluruh Indonesia. Perihal ulasan singkatnya, jawabannya tentu akan dijawab oleh Lazismu yang diwakili oleh Direktur Utama Lazismu, Ibnu Tsani selaku narasumber.
Untuk menjawab hal itu, dalam kupasannya, Ibnu Tsani menjawab dari dua sisi, pertama dari aspek historis dan kedua dari aspek tata kelolanya. Merujuk pada Kisah Pergerakan Moehammadijah Bagian PKO di Djokja, yang ditulis Drijowongso dalam Suara Muhammadiyah (1923), aksi kebajikan muhammadiyah dalam pelayanan zakat dimulai pada pukul 7 sore hingga pukul 12 malam.
Dengan semakin banyaknya orang yang ingin berdonasi, maka layanan zakat harus dimulai pukul 6 pagi. Untuk kelancaran pendistribusian, muhammadiyah membagikan kupon kepada penerima zakat, tiga hari sebelum jadwal pendistribusian, jelas Ibnu Tsani mengutip sumber historis itu.
Upaya kreatif dilakukan muhammadiyah di masa perintisan berdirinya organisasi ini, berdasarkan rapat anggota yang dipimpin oleh KH. Ahmad Dahlan, muhammadiyah mengesahkan pendirian Bagian Penolong Kesengsaraan Oemoem (PKO) pada tahun 1920.
Dilanjutkan pada Kongres ke- 16 tahun 1927 di Pekalongan, diputuskan bahwa muhammadiyah harus menjadi amil zakat. Inovasi kembali dilakukan muhammadiyah, salah satunya adalah mengusulkan kepada pemer intah kolonial Hindia-Belanda pada 4 April 1940, melaui surat nomor 44968/A4, 29 November 1940, tentang permohonan muhammadiyah mencetak dan menjual prangko yang pada akhirnya disetujui. Harga prangko bervariasi, mulai dari kisaran 2 sen, 3,5 sen, 7,5 sen, 10 sen, dan 15 sen.
Penjualan dikelola tim khusus, Hoofdcomite Franco Amal Muhammadijah. Ketua komite, Mas Mansur dan Sekretaris, S Tjitrosoebono. Periode penjualan, 22 September-31 Oktober 1941. Penjualan prangko dilakukan dengan menggandeng kantor pos dan menyediakan loket khusus penjualan. Tampilan prangko menyajikan gambar dan tema prangko yang memuat kiprah muhammadiyah dalam bidang kesejahteraan sosial. Seluruh prangko diberi tulisan PKO.
Tata kelola muhammadiyah dalam melaksanakan amil zakat, pada 1950 proses penghimpunannya dilakukan oleh Majelis Perbendaharaan yang bersinergi dengan PKO. Tentu saja dalam pekembangannya, kata Ibnu Tsani kajian fikih zakat mulai digiatkan dengan membahas konsep asnaf modern pada Muktamar muhammadiyah ke-36 di Bandung, yang menelurkan putusan bahwa zakat merupakan instrumen keadilan sosial.
Puncak kajian zakat di muhammadiyah kian menggelora setelah diterbitkannya buku berjudul al-Amwal fi al-Islam sebagai hasil muktamar muhammadiyah ke-20 di Garut. Tiga tahun berikutnya menurut Ibnu Tsani merujuk akar historisnya bahwa muhammadiyah menegaskan gerakan filantropinya dengan memunculkan kebijakan tentang Realisasi Gerakan Zakat Muhammadiyah.
Wacana progresif kajian zakat tidak berhenti dalam gerakannya yang berkarakter khas Al-Maun, tapi pada dekade 1970-an beberapa tokoh di Jawa Tengah seperti KH. Abdul Barie Sho’im asal Kendal menulis makalah yang berjudul Zakat Kita: Zakat Yang Direalisasikan, yang dalam perjalanannya di Kendal terbentuklah Badan Penyelenggara Urusan Zakat Muhammadiyah (Bapelurzam).
Barulah kemudian di tahun 2002, Lazismu resmi menjadi lembaga amil zakat nasional yang secara undang-undang zakat mendapat tugas penghimpunan dan pendayagunaan. Tata kelolanya dikemas lebih modern dengan bertambahnya jumlah amil eksekutif di seluruh Indonesia yang diikuti dengan transformasi brand Lazismu yang tampilannya lebih estetik dan bermakna.
Dari aspek tata kelola, sambung Ibnu Tsani, bahwa Lazismu memiliki rencana strategis (renstra) yang dimulai dari tahun 2021 – 2025. “Inilah dasar rujukan program penghimpunan dan pendayagunaan Lazismu yang berlaku secara nasional dengan 6 pilar programnya yaitu pendidikan, sosial dakwah, ekonomi, kesehatan, kemanusiaan dan lingkungan sebagai program yang realtif baru diawal tahun 2020 muncul sebagai respons dan amanat muktamar muhammadiyah di Makassar tahun 2015, tentang krisis iklim,” tandasnya.
Beberapa acuan lainnya adalah Lazismu membuat peta jalan (road map) dalam kerangka komunikasi dan pendataan digital dan integrasi yang terus dikonsolidasikan sebagai big data dan mengembangkan ekosistem Lazismu.
Ibnu Tsani mengatakan apa yang termuat dalam indikator kinerja aksi layanan (IKAL), merupakan isi rencana capaian kegiatan yang bisa terukur serta target yang dicapai Lazismu dalam realisasinya secara nasional.
Indikatornya adalah adanya baseline dan target spesifik angka dari renstra yang jadi referensi dan disosialisasikan ke pelaksana dalam kemitraan program Lazismu. Dia menegaskan bahwa Lazismu dalam pelaksanaannya bukan implemantator program tapi menghimpun dan penyalurannya bersinergi dengan mitra. Karena itu Lazismu fokus pada tiga ranah dalam implementasi program yang terdiri dari 6 pilar.
“Fokusnya antara lain telaah proposal dari calon mitra, monitoring dan evaluasi, dan telaah laporan akhir dari mitra sebagai alur kerja dalam konteks penyaluran dan pendistribusian, di mana mitranya dari internal dan eksternal muhammadiyah,” pungkasnya.
Jadi dalam skemanya, lanjut Ibnu Tsani, ada siklus yang berjalan antara lain penghimpunan, penyaluran dan pelaporan. Renstra akan berakhir di 2025, secara konseptual akan dievaluasi untuk bisa dipertahankan atau ada inovasi lain dari pendekatan program.
Sebagi contoh katanya, pilar pendidikan yang mendapat sambutan positif dari masyarakat dan entitas profesional adalah Edutabmu. Program pendidikan yang dikemas dengan inovasi sosial yang didalamnya materi pembelajaran dihadirkan dengan dukungan teknologi digital. Terobosan ini sangat membantu siswa khususnya sekolah dasar dan para guru di muhammadiyah.
Unsur pembelajaran yang ditonjolkan adalah matematika dan Bahasa inggris sehingga memantik ketertarikan proses pembelajaran. Program yang dimulai tahun 2022 sampai sekarang ini diganjar oleh Bapenas sebagai program terbaik kategori filantropi yang mendukung capaian SDGs.
Program ini kata Ibnu Tsani menyasar penerima manfaat sebanyak 3097 peserta didik tingkat sekolah dasar di 54 sekolah dasar dengan sebaran tablet edutabmu sejumlah 825 unit yang meliputi kawasan Sumatera Utara, Bangka Belitung, Lampung, Kalimantan Selatan dan Sulawesi Selatan.
Tak hanya itu, Lazismu juga menyuguhkan program menarik lainnya di kawasan terluar, terdepan dan tertinggal (3T) dengan menghadirkan Klinik Apung Said Tuhuleley. Dari program ini Lazismu memberikan layanan kesehatan berupa edukasi, pemeriksaan, pengobatan gratis dan khitan.
Terisolirnya kawasan ini di kepulauan Maluku dengan segala keterbatasannya dan berdasarkan informasi dari masyarakat dan penerima manfaat, jangkauan layanan Klinik Apung Said Tuhuleley diperluas dengan layanan pendidikan dan pemberdayaan masyarakat seperti layanan perbaikan sarana pendidikan dan perbaikan sarana pertanian dan perikanan.
Lazismu juga bermitra dengan Baznas dalam kolaborasi program yang inilah program kolaborasi dengan Baznas yang manfaatnya dirasakan oleh warga setempat. Lokasi ekspedisinya meliputi pulau ambon, Maluku Tengah, Seram Bagian Timur dan Bagian Barat. Total penerima manfaatnya dari Maret 2022 – Mei 2023 sebanyak 2736 jiwa.
Merespons capaian Sustainable Development Goals (SDGs), Ibnu Tsani mengatakan bahwa renstra Lazismu adalah komitmen tentang SDGs, jadi bagi Lazismu dan keluarga besar muhammadiyah, SDGs adalah bagian dari Islam Rahmatan lil Alamin. Setiap pilar program ada aspek SDGs sehingga dampaknya bagi Lazismu, Bapenas memberikan penghargaan sebagai pemenang terbaik kategori filantropi.
Kedepannya Lazismu terus berinovasi dengan menyiapkan pilot project pengembangan kawasan berbasis desa, Lazismu melaksanakan ini karena amanat keputusan rakernas Lazismu di Palembang. Satu desa akan kami optimalkan dalam 6 pilar program dan SDGs, yang sampai detik ini sedang proses mewujudkan dan menyiapkan panduan operasionalnya.
Menanggapi hal itu, Pranggono Kusumo yang hadir online dari Kalimantan Utara (Kaltara) mengatakan, bagaimana dengan kehadiran Lazismu di sana. Ini penting sebagai keberadaan Lazismu di Kalimantan Utara yang sampai saat ini masih belum hadir di tengah masyarakat.
Ibnu Tsani menuturkan, di suatu kawasan yang masuk dalam pemekaran secara geografis, perlu pertimbangan matang. Tidak hanya soal sumber daya amil dan kesiapannya, tapi juga segala persyaratannya yang ada sehingga nanti dalam prosesnya tidak mengalami kendala.
Ini kami masih menyiapkan langkah – langkah koordinasinya, mewakili Lazismu kami ucapkan terima kasih atas informasinya dan akan kami koordinasikan lebih matang lagi sebagai tindak lanjut supaya Lazismu bisa hadir di Kaltara.
Peserta yang turut hadir kembali melemparkan pertanyaan soal wakaf kepada Ibnu Tsani. Bagiamana wakaf yang dikelola oleh Lazismu. Ibnu tsani menjawab, pada prinsipnya Lazismu secara legalitas hanya menghimpun dan menyalurkan. Adapun soal wakaf sudah ada Majelis Wakaf di muhammadiyah.
Dalam beberapa aspek tertentu Lazismu menerima wakaf dari masyarakat. Namun dalam tata kelolanya Lazismu memfasilitasi dengan majelis wakaf muhammadiyah yang secara terstruktur sama dengan Lazismu ada di seluruh wilayah.
Ada layanan wakaf yang statusnya bisa diumumkan Lazismu dan berapa besarannya, ini dilengkapi dengan berita acara yang mekanismenya kami fasilitasi dan sediakan dalam saluran aktivasinya.
Dalam kesempatan itu, Ibnu Tsani menanggapi pertanyaan Latief mengenai sasaran distribusi program Lazismu dan muzaki apakah hanya dari kalangan simpatisan dan warga muhammadiyah. Pada intinya Lazismu bergerak secara terbuka (inklusif). Sasaran muzakinya tidak terbatas pada internal muhammadiyah tapi ada juga yang non muhammadiyah serta korporasi baik level nasional dan multinasional yang menyalurkan dana CSR dan zakat perusahaannya.
Termasuk dalam penyalurannya, di luar internal muhammadiyah sasaran penerima manfaatnya lebh luas termasuk masyrakat pada umumnya. Ibnu Tsani memberikan contoh di Indonesia Timur, bagaimana muhammadiyah melakukan pendampingan dan layanan di pilar pendidikan yang mayoritas tidak beragama Islam.
Di luar pembahasan di atas, Ibnu Tsani mengakui bahwa dalam proses tata kelola Lazismu tidak semudah yang diduga. Karena Lazismu tumbuh dari bawah yang berbeda dengan lembaga amil zakat di luar ormas.
Luasnya jaringan Lazismu menjadi tantangan tersendiri untuk menemukan jawabannya di kemudian hari, kata Ibnu Tsani. Pekerjaan rumah lainnya adalah bagaimana Lazismu menyikapi generasi Z yang perlu diedukasi soal zakat.
Karena karakter mereka tidak bisa didekati dengan jalur formal, melainkan dengan pendekatan yang lebih luwes salah satunya dengan edukasi konten yang sesuai dengan kebiasaan mereka dalam mengakses informasi di sosial media.
Bahkan temuan riset dari RnD Lazismu, kata Ibnu Tsani, masyarakat mengenal zakat dari masjid dan majelis taklim. Berdasarkan temuan itu, Lazismu sedapat mungkin mengkoordinasikan ke Lazismu tingkat wilayah sampai dengan kantor layanan untuk perlu melakukan edukasi di akar rumput yang berbasis masjid.
Dengan memanfaatkan struktur muhammadiyah yang unik dan berjenjang sampai kantor layanan inilah sosialisasi dilakukan dalam gerakan zakat di muhammadiyah. Potensi masjid karena itu, kata dia, perlu dioptimalkan mengingat masyarakat akan pengetahuan zakatnya masih pada tahap kategori zakat fitrah. “Maka di sinilah peran kantor layanan Lazismu untuk memperkenalkan zakat harta (maal) kepada masyarakat,” tutupnya.
[Divisi Komunikasi dan Digitalisasi Lazismu PP Muhammadiyah

