

Dalam sambutannya, Djoenaidi Ibnu Hajar Nasution yang juga menjabat sebagai Dewan Syariah Lazismu Kabupaten Aceh Barat menyebutkan, kehadiran Lazismu merupakan bagian dari dakwah Muhammadiyah. Ia berharap, pada penerima manfaat yang merupakan pelaku usaha tersebut dapat mengembangkan usahanya dan berubah menjadi pemberi zakat atau muzakki. "Lazismu hadir di tengah masyarakat sebagai bagian dari dakwah Muhammadiyah dalam mengamalkan Al-Qur'an surah Al-Maun dan spirit fastabiqul khairat. Mustahik yang menerima zakat hari ini mudah-mudahan usahanya terus berkembang dan bisa ke depannya menjadi muzakki," harapnya.
Sementara itu, Ketua Badan Pengurus Lazismu Kabupaten Aceh Barat, H. Ansarullah menegaskan, pihaknya akan terus memberikan perhatian kepada warga fakir dan miskin. Dengan adanya bantuan berupa penyaluran ini, ia berharap agar dapat mendorong pertumbuhan ekonomi para penerima manfaat. "Lazismu Aceh Barat terus hadir dan memberi perhatian kepada fakir dan miskin. Dukungan ini dapat menolong mereka yang membutuhkan dan mendorong pertumbuhan ekonomi untuk mustahik fakir miskin sebagai pelaku usaha mikro kecil menengah atau UMKM," tegasnya.
Pada acara ini, Badan Pengurus Lazismu Kabupaten Aceh Barat yang turut berhadir adalah Mukhtaruddin selaku Sekretaris dan Wakil Ketua Bidang Keuangan, T. Syarifuddin. Selain itu, penyerahan bantuan juga dihadiri oleh perwakilan Bank Syariah Indonesia, Reno dalam peluncuran aplikasi QRIS Lazismu Kabupaten Aceh Barat. Penyaluran zakat produktif tersebut dilaksanakan untuk mendorong para pelaku usaha UMKM atau pemberdayaan ekonomi produktif dengan tujuan agar usaha masyarakat dalam lintas mustahik fakir miskin dapat bertumbuh kembang.
Total bantuan yang diberikan sebanyak tiga belas juta rupiah, dengan masing-masing penerima manfaat mendapatkan dana senilai satu juta rupiah. Bantuan ini dilatar belakangi oleh masa sulit yang harus dilalui saat terjadi pandemi Covid-19. Kala itu, banyak usaha kecil yang terpuruk sehingga kehidupan dan perekonomian masyarakat pun menjadi turun. Dengan adanya bantuan ini diharapkan dapat memicu usaha yang dijalankan menjadi meningkat kembali.
[Kelembagaan dan Humas Lazismu PP Muhammadiyah/Mukhtaruddin]

Program Kolaborasi Kebajikan Zakat kerja sama Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) dan Lazismu hadir di dusun ini dengan beragam kegiatan. Salah satu kegiatan yang dilakukan adalah memberikan Pelatihan Kewirausahaan. Pelatihan yang bertajuk "Penanaman Jagung yang Baik dan Benar serta Prospek Jagung di tengah Tingginya Inflasi Kabupaten Banggai" ini bertempat di Balai Desa Maleo Jaya pada Ahad (23/10) dan diikuti oleh warga setempat.
Mochammad Sholeh Farabi selaku Pelaksana Program Kolaborasi Kebajikan Zakat Lazismu-BAZNAS Wilayah Banggai menjelaskan, berbagai program yang dijalankan di Dusun Tombiobong ini menyasar beragam sektor, seperti pendidikan, kesehatan, ekonomi, sosial, dan dakwah. "Program kolaborasi kebajikan zakat kerja sama BAZNAS dan Lazismu untuk Desa Maleo Jaya, kita memberikan bantuan di beberapa sektor. Di bidang ekonomi ada pendirian koperasi syariah, kemudian ada pelatihan kewirausahaan untuk masyarakat," jelasnya.
Dengan adanya pelatihan ini, para warga diharapkan dapat menghasilkan panen sesuai dengan yang diharapkan, sehingga mampu mengangkat perekonomian mereka. Selain itu, dengan mendorong warga bercocok tanam, Suku Loinang tidak lagi kembali hidup berpindah di hutan. Hal ini erat kaitannya dengan pendidikan, karena jika mereka hidup berpindah-pindah tempat di hutan, anak-anak Suku Loinang akan kesulitan dalam mengikuti kegiatan belajar di sekolah.
Sri Moxsa Djamalang yang mewakili Pimpinan Daerah Aisyiyah Kabupaten Banggai yang juga menggerakkan aksi di bidang pendidikan menyambut baik program kolaborasi BAZNAS-Lazismu ini. Menurutnya, kekuatan ekonomi akan dapat dicapai melalui perekonomian umat berbasis jamaah. "Capaian program tersebut nantinya akan terbangun kekuatan dan kedaulatan ekonomi umat berbasis jamaah yang mampu menciptakan dukungan akses dan kualitas pada layanan umum," ungkapnya.
Permasalahan ekonomi yang berujung pada kemiskinan, tingkat pendidikan yang rendah, minimnya akses kesehatan, dan berbagai kendala lain menjadi dasar dilaksanakannya Program Kolaborasi Kebajikan Zakat BAZNAS-Lazismu. Program ini menjangkau titik-titik yang sulit diakses di kawasan terdepan, terluar, dan tertinggal atau 3T. Salah satu titik tersebut adalah di Dusun Tombiobong, Desa Maleo Jaya, Kecamatan Batui Selatan, Kabupaten Banggai, Sulawesi Tengah.
[Kelembagaan dan Humas Lazismu PP Muhammadiyah]

Melalui kegiatan bertajuk "Bantuan Paket Makanan Tambahan untuk Anak", anak-anak dan balita menerima tambahan nutrisi agar dapat terhindar dari stunting. Harapannya, tumbuh kembang mereka akan berjalan dengan baik. Kegiatan ini berlangsung pada Sabtu (22/10) di Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu) Desa Maleo Jaya. Para orang tua pun menyambut gembira pelaksanaan kegiatan ini.
Mochammad Sholeh Farabi selaku Pelaksana Program Kolaborasi Kebajikan Zakat Lazismu-BAZNAS Wilayah Banggai menjelaskan, Program Kolaborasi Kebajikan Zakat kerja sama BAZNAS dengan Lazismu ini menginisiasi beberapa sektor, di antaranya adalah kesehatan. Untuk anak-anak di Dusun Tombiobong, Desa Maleo Jaya, anak-anak menerima bantuan berupa makanan tambahan. "Untuk bidang kesehatan kita ada pemberian makanan tambahan untuk anak-anak di Desa Maleo Jaya dan Dusun Tombiobong," jelasnya.
Sri Moxsa Djalamang yang mewakili Pimpinan Daerah Aisyiyah Kabupaten Banggai menyambut baik adanya program ini. Ia menceritakan bahwa aktivitas Program Kolaborasi Kebajikan Zakat sudah berjalan sejak Maret dan akan terus dimaksimalkan. "Program ini juga memberikan pencegahan stunting dengan Pemberian Makanan Tambahan (PMT) Makanan Pendamping ASI (MP-ASI)," ungkapnya.
Dusun Tombiobong di Desa Maleo Jaya, Kecamatan Batui Selatan, Kabupaten Banggai, Sulawesi Tengah dihuni oleh Komunitas Adat Terpencil (KAT) Suku Loinang. Titik ini dipilih lantaran berada di kawasan 3T (terdepan, terluar, dan tertinggal) yang sangat membutuhkan perhatian karena cukup sulit dicapai. Tak hanya minim akses kesehatan, Suku Loinang juga membutuhkan perhatian di bidang pendidikan, ekonomi, dan sosial.
[Kelembagaan dan Humas Lazismu PP Muhammadiyah]

Melalui Program Kolaborasi Kebajikan Zakat kolaborasi BAZNAS dan Lazismu, kegiatan "Penyuluhan dan Pemeriksaan Kesehatan" pun dilakukan. Bertempat di Balai Desa Maleo Jaya pada Ahad (23/10), warga antusias mengikuti rangkaian pemeriksaan dan penyuluhan serta berbagai layanan kesehatan lainnya. Tak hanya warga umum, para lansia pun mengikuti kegiatan ini.
Pelaksana Program Kolaborasi Kebajikan Zakat Lazismu-BAZNAS Wilayah Banggai, Mochammad Sholeh Farabi menerangkan, di samping memberikan bantuan makanan tambahan untuk anak, pihaknya juga memberikan layanan kesehatan di Dusun Tombiobong. Khusus untuk lansia juga diberikan layanan pemeriksaan psikologis. "Untuk bidang kesehatan kita juga ada pemeriksaan kesehatan gratis untuk umum dan untuk lansia juga, serta ada pemeriksaan psikologis lansia," terangnya.
Farabi menambahkan, selain layanan kesehatan, Program Kolaborasi Kebajikan Zakat juga membantu pengadaan armada ambulans. Hal ini berdasarkan fakta bahwa tidak ada fasilitas ambulans, sementara untuk mencapai puskesmas terdekat harus ditempuh selama empat puluh menit perjalanan darat. "Ada juga pengadaan ambulans karena jarak terdekat ke puskesmas terdekat dari Desa Maleo Jaya sekitar empat puluh menit perjalanan darat, dan itu sangat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat sekitar," imbuhnya.
Sementara itu, Kepala Desa Maleo Jaya, Zaenal Abidin mengatakan, pihaknya mengucapkan terima kasih dengan adanya Program Kolaborasi Kebajikan Zakat BAZNAS-Lazismu ini. Kehadiran program ini dirasakan sangat membantu masyarakat yang ada di sana. "Dan atas nama pemerintah dan masyarakat kami berterima kasih kepada semua pihak yang ikut terlibat dalam program ini untuk membantu masyarakat," ujarnya.
Program Kolaborasi Kebajikan Zakat BAZNAS-Lazismu hadir untuk menjawab berbagai persoalan yang ada di masyarakat, khususnya bagi mereka yang tinggal di kawasan 3T (terdepan, terluar, dan tertinggal). Salah satunya adalah Komunitas Adat Terpencil (KAT) Suku Loinang yang menghuni Dusun Tombiobong. Dengan beragam aksi yang digelar, diharapkan warga bisa mendapatkan haknya di bidang pendidikan, ekonomi, kesehatan, dan sosial.
[Kelembagaan dan Humas Lazismu PP Muhammadiyah]

Selain kebutuhan perekonomian dan kesehatan, pembinaan keagamaan dan pendidikan pun menjadi hal yang harus terus ditingkatkan. Hal ini mendorong Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) bersama Lazismu untuk terjun melalui Program Kolaborasi Kebajikan Zakat yang berjalan pada kurun waktu 1 September sampai 31 Desember 2022. Aksi nyata pun dilakukan, salah satunya melalui renovasi rumah singgah bagi para dai serta guru untuk memudahkan aktivitas dalam pembinaan keagamaan maupun kegiatan pendidikan.
Pelaksana Program Kolaborasi Kebajikan Zakat Lazismu-BAZNAS Wilayah Banggai, Mochammad Sholeh Farabi mengemukakan, peningkatan terhadap kesejahteraan dai merupakan salah satu ikhtiar yang dilakukan melalui bidang dakwah pada program ini, di samping bantuan pada beberapa sektor lainnya. "Program kolaborasi kebajikan zakat kerja sama BAZNAS dan Lazismu untuk Desa Maleo Jaya, kita memberikan bantuan di beberapa sektor. Di bidang dakwah kita ada peningkatan kesejahteraan dai," terangnya.
Bantuan ini, menurut Farabi, dipilih berdasarkan kondisi Dusun Tombiobong yang berada di sisi bukit dan hutan. Untuk mencapai dusun tersebut, jarak yang harus ditempuh sekitar lima kilometer dari desa terdekat. Medan yang harus dilewati pun tidaklah ringan seperti melintasi jalur sungai, jembatan yang sempit, serta jalan dengan bebatuan yang cukup besar. Keadaan inilah yang membuat BAZNAS dan Lazismu melakukan renovasi tempat tinggal atau transit yang layak untuk para dai dan guru yang melakukan pembinaan di Dusun Tombiobong.
Saat ini, proses belajar di Dusun Tombiobong dilakukan di sekolah Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD)/TK milik Aisyiyah. Di tempat ini terdapat lima orang guru yang sehari-hari secara bergantian mengajar untuk anak-anak Dusun Tombiobong. Selain itu juga terdapat tiga hingga empat orang dai yang juga melakukan kegiatan dakwah serta mengajar mengaji, baik waktu subuh, ashar, maupun maghrib. Salah satu di antara dai tersebut sudah tinggal menetap bersama warga Dusun Tombiobong.
Renovasi rumah singgah ini juga disertai dengan pembangunan aula sebagai sarana pendukung. Dengan demikian diharapkan agar proses pembinaan dan pembelajaran serta penguatan keagamaan dapat terus meningkat, seiring dengan bertambahnya fasilitas pendidikan. Kenyataan ini tak lepas dari fakta bahwa Dusun Tombiobong masih minim akses pendidikan yang layak.
[Kelembagaan dan Humas Lazismu PP Muhammadiyah]

Dalam menjalankan program bersama BAZNAS, Lazismu juga menggandeng Pimpinan Daerah Aisyiyah Kabupaten Banggai. Adalah Sri Moxsa Djamalang, motor penggerak Aisyiyah dalam memutus rantai buta aksara dan tulis anak-anak. Ia menuturkan, program ini tidak hanya berfokus pada satu sektor saja, namun juga menyasar pada pelayanan secara umum, seperti pendidikan, kesehatan, ekonomi, sosial, dan dakwah.
"Di bidang pendidikan, ada pembangunan sekolah SD Muhammadiyah Tombiobong dua lokal, pemberian beasiswa SD Maleo Jaya, SD Muhammadiyah, TK Aisyiyah Tombiobong, dan juga ada pemberian bantuan sepeda motor untuk operasional guru, pendirian rumah guru, peningkatan kesejahteraan guru TK Aisyiyah, SD Muhammadiyah Tombiobong, dan SD Maleo Jaya," terang Sri Moxsa Djalamang yang akrab disapa Ibu Inang ini.
Senada dengan Ibu Inang, Pelaksana Program Kolaborasi Kebajikan Zakat Lazismu-BAZNAS Wilayah Banggai, Mochammad Sholeh Farabi memaparkan beberapa program yang digagas untuk Dusun Tombiobong. Program-program ini bergulir mulai 1 September sampai 31 Desember 2022. Tak hanya untuk kesejahteraan guru dan kemudahan siswa dalam memperoleh ilmu, BAZNAS bersama Lazismu juga memberikan kemudahan kepada guru dalam mengakses lokasi sekolah melalui bantuan kendaraan operasional.
"Yang pertama di sektor pendidikan itu ada pembangunan ruang kelas baru untuk SD Muhammadiyah Tombiobong, ada beasiswa untuk para siswanya, kemudian ada bantuan honor untuk guru, setelah itu ada pemberian motor juga untuk operasional guru di sana karena medannya yang sulit untuk dijangkau. Ada beasiswa juga untuk para siswa dan bantuan untuk guru honorer di SD Negeri Maleo Jaya," papar Farabi.
Dusun Tombiobong merupakan lokasi yang sulit untuk diakses. Perjalanan untuk mencapai dusun ini tidaklah mudah. Dibutuhkan waktu sekitar dua puluh hingga tiga puluh menit untuk tiba di Dusun Tombiobong dari desa terdekat yang berjarak sekitar lima kilometer. Itu pun harus melewati jalur sungai, jalan dengan bebatuan yang besar dan semak belukar, serta jembatan yang sempit.
[Kelembagaan dan Humas Lazismu PP Muhammadiyah]

