


PONTIANAK -- Dukungan Muhammadiyah terhadap Lazismu untuk merespons bencana karhutla di Kalimantan Barat terus bergulir. Setelah koordinasi pimpinan Muhammadiyah pada Selasa, (25/8/2026) di SMP Muhammadiyah 1 Pontianak, untuk aksi kemanusiaan mencegah asap yang terus meluas, Ketua Majelis Lingkungan Hidup (MLH) PWM Kalbar turut mendukung Lazismu untuk program Indonesia Siaga.
Koordinator Pos Koordinasi (Poskor), M. Hermayani Putera, mengatakan Lazismu memiliki posisi strategis dalam menghimpun dukungan masyarakat untuk memperkuat gerakan kemanusiaan Muhammadiyah. Menurutnya, dukungan yang dihimpun melalui Lazismu dapat diarahkan untuk menjawab kebutuhan di lapangan.
“Ini soal dampak yang ditimbulkan. Masyarakat yang terpapar kondisi kesehatan akibat asap, kita hadirkan rumah oksigen. Kita juga konsen kepada kesehatan para relawan dan mengupayakan hadirnya dapur-dapur relawan,” kata Hermayani yang juga Ketua Majelis Lingkungan Hidup (MLH) PWM Kalbar.
Hermayani menuturkan kebutuhan relawan di lapangan cukup beragam sehingga dukungan masyarakat perlu terus digerakkan. “Mencakup makanan bergizi, susu, air mineral, APD, masker, alat dan kebutuhan operasional di lapangan. Semua harus memastikan penggalangan dukungan pendanaan maupun suplai logistik lainnya tidak terputus”, tandasnya.
Dalam skema tersebut, Lazismu diharapkan menjadi salah satu motor penghubung terhadpa masyarakat dan dukungan publik sehingga kebutuhan di lapangan bisa dipetakan melalui Poskor dan unsur kebencanaan Muhammadiyah. Dengan pola itu, bantuan tidak berhenti pada proses penghimpunan, tetapi diarahkan berdasarkan kebutuhan prioritas di lapangan.
IMM dan Relawan Bagikan Ribuan Masker
Dampak asap terhadap masyarakat di Kalimantan Barat, menggerakan kepedulian atas kondisi kesehatan. Organisasi mahasiswa Institut Teknologi dan Kesehatan (ITEKES) Muhammadiyah Kalimantan Barat bergerak melalui aksi kemanusiaan membagikan ribuan masker.
Aksi sosial ini sebagai respons terhadap kondisi kualitas udara yang terus memburuk di Kalimantan Barat akibat asap kerhutla. Aksi pembagian masker tersebut berlangsung di Bundaran Digulis Untan, Pontianak, dan Bundaran Gaforaya, Kubu Raya, pada pekan kemarin.
Selain Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM), Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM), Himpunan Mahasiswa D3 Keperawatan, S1 Keperawatan, Administrasi Kesehatan, dan Bioteknologi, bergerak bersama membagikan masker.
Aksi serupa juga dilakukan Kantor Layanan Lazismu Politeknik 'Aisyiyah Pontianak yang ambil peran nyata mencegah dampak kabut asap dengan membagikan ribuan masker di Simpang empat lampu merah Jalan Ampera dan Simpang empat lampu merah Jalan Ahmad Yani.
Kegiatan ini didukung oleh Majelis Kesehatan Pimpinan Wilayah ‘Aisyiyah Kalimantan Barat dan segenap sivitas akademik Politeknik ‘Aisyiyah Pontianak. Tujuan program ini melindungi kesehatan dan mengajak semua pihak menjaga kelestarian lingkungan.
[Kelembagaan dan Humas Lazismu Pusat/Aep Mulyanto]

PONTIANAK -- Dalam rangkuman laporan kejadian bencana kebakaran hutan dan lahan dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), pada periode Minggu hingga Senin, 23 - 24 Agustus 2026, masih dilakukan upaya penanganan dari operasi darat dan operasi udara.
Berdasarkan data dari BNPB terkait informasi penanganan karhutla yang terkonfirmasi juga melalui Sistem Pemantauan Karhutla Kemenhut (Sipongi), disebutkan bahwa dari 6 provinsi prioritas yang ditangani untuk wilayah provinsi Kalimantan Barat merupakan yang terbanyak titik api (hotspot) sejumlah 1.836 dengan indikasi lahan terbakar seluas 38.310 hektar.
Situasi yang memanas itu menggerakan Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Kalimantan Barat, dalam hal ini bagi Lazismu untuk melakukan aksi kemanusiaan program Indonesia Siaga dalam merespons karhutla.
Ketua Lazismu Wilayah Kalbar, Ismail Syailillah, mengatakan Lazismu bersiap ambil bagian dalam merespons bencana karhutla lewat penghimpunan dan penyaluran dana masyarakat secara tepat sasaran.
“Peran Lazismu dalam merespons karhutla merupakan komitmennya sebagai lembaga amil zakat untuk menghadirkan manfaat zakat, infak dan sedekah bagi masyarakat yang membutuhkan termasuk dalam situasi bencana”, paparnya.
Dukungan pendanaan menjadi penting, kata Ismail. Karena penanganannya tidak hanya membutuhkan relawan di lapangan, tetapi juga ketersediaan logistik dan biaya operasional yang memadai.
Wakil Ketua PWM Kalbar yang membidangi Majelis Pembinaan Kesehatan Umum dan Kesejahteraan Sosial sekaligus unsur Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC), Ishak Jumarang, menyampaikan bahwa keberlanjutan aksi kemanusiaan ini sangat bergantung pada dukungan seluruh unsur Muhammadiyah.
“Harapan kita melalui pertemuan kali ini dapat memaksimalkan keberadaan semua unsur yang ada di Muhammadiyah, baik ortom, AUM maupun lainnya, termasuk bagaimana dukungan pendanaan maupun mata rantai logistik agar terus berjalan”, tandasnya pada rapat koordinasi di SMP Muhammadiyah 1 Pontianak, Jalan Ahmad Yani, Selasa, (25/8/2026).
Menurut Ishak, dari kejadian ini berdasarkan kebutuhan di lapangan cukup beragam, mulai dari makanan bergizi bagi relawan, air mineral, susu, alat pelindung diri (APD), masker, kebutuhan operasional pemadaman, dukungan transportasi, hingga layanan kesehatan bagi masyarakat yang terdampak asap.
Untuk tahap awal respons bencana karhutla, Muhammadiyah di Kalimantan Barat akan fokus pada sejumlah titik di Pontianak dan Kubu Raya. Dua wilayah ini yang menjadi perhatian dalam penanganan dampak karhutla.
Respons di lapangan melibatkan SAR Muhammadiyah LRB-MDMC Kalimantan Barat, Tim Assessment MDMC Kalimantan Barat, serta kader IMM Kota Pontianak. Pembagian masker juga dilakukan oleh sejumlah mahasiswa dari kader Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah di Pontianak.
[Kelembagaan dan Humas Lazismu Pusat/Aep Mulyanto]

JAKARTA -- Lebih dari sepuluh hari pascagempa bumi di Nusa Tenggara Timur (NTT), berdasarkan hasil kaji cepat kesehatan dilaporkan bahwa dampak kesehatan kesehatan meliputi 70 korban jiwa, 876 kasus cedera, dan 38.862 jiwa pengungsi yang tersebar di 7 kabupaten terdampak.
Merespons hal itu, Lembaga Resiliensi Bencana (LRB) / Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) Pimpinan Pusat Muhammadiyah telah menyusun daftar rosterlist personel kesehatan dan pendukung Emergency Medical Team (EMT) dari unsur Rumah Sakit / Fasilitas Kesehatan Muhammadiyah 'Aisyiyah (RSMA) jejaring MPKU untuk ditugaskan dalam respons kemanusiaan ini.
Emergency Medical Team (EMT) Muhammadiyah sedang menyiapkan instalasi lengkap Rumah Sakit Lapangan berstandar WHO di Nusa Tenggara Timur (NTT) untuk layanan kesehatan. Upaya EMT ini untuk tetap melaksanakan tugasnya di masa tanggap darurat.
Demikian disampaikan Ketua Emergency Medical Team (EMT) Muhammadiyah, dokter Corona Rintawan, pada Senin (24/8/2026). Pada intinya memang kita akan merilis penempatan suatu sistem layanan kesehatan (deploy) yang berstandar internasional dalam kondisi darurat pascabencana berupa rumah sakit lapangan.
“Model EMT Type 1 fixed berstandar WHO untuk mendukung operasional Puskemas Dampek, di Manggarai Timur”, jelasnya. Direncanakan, kata Corona, minimal masa tugasnya selama 30 hari dengan pengiriman sebanyak 2 rosterlist. Rosterlist tersebut memuat sekelompok orang yang tergabung dalam EMT berdasarkan peran dan tugasnya masing-masing di lapangan.
“Masing-masing rosterlist terdiri dari 25 orang yang di dalamnya terdapat penempatan dokter, perawat, bidan, apoteker, psikilog, safety and security officer dan logistik. Jadi EMT ini ada komposisi peralatan dan sumber daya manusia, semuanya sesuai standar WHO”, jelasnya.
Dalam respons bencana sebelumnya, Muhammadiyah sudah menerjunkan paling tidak enam tim Emergency Medical Team. Tim awal tersebut telah diberangkatkan yang terdiri dari EMT Klinik Muhammadiyah Ende untuk di Dampek, Manggarai Timur, EMT RS PKU Muhammadiyah Bima, Klinik ‘Aisyiyah Kupang, EMT Unismuh Makassar, EMT RS Muhammadiyah Lamongan, dan EMT Klinik Muhammad Ende serta Klinik UNIMOF.
Rumah Sakit Lapangan itu, sepenuhnya didukung oleh Lazismu. Direktur Utama Lazismu Pusat, Barry Adhitya, mengatakan dukungan tersebut dari program Indonesia Siaga yang pendanaannya dari masyarakat Indonesia. “Dana program Indonesia Siaga ini alhamdulillah dapat dimanfaatkan serapannya melalui EMT”, ujarnya.
Dukungan Lazismu terhadap EMT, bukan kali ini saja bahkan sejak EMT dikukuhkan sebagai yang pertama di Indonesia. Alhamdulilah Kemenskes memberikan mandat ini sehubungan dengan dampak yang dialami masyarakat pascabencana gempa bumi di NTT.
Oleh karena itu, kata Barry, ini menjadi peran Lazismu sebagai lembaga amil zakat untuk mendukung sepenuhnya misi kemanusiaan ini dalam program Indonesia Siaga. Lazismu berharap nilai manfaat kegiatan layanan kesehatan melalui EMT dapat dirasakan sepenuhnya oleh masyarakat yang terdampak langsung.
[Kelembagaan dan Humas Lazismu Pusat]

JAKARTA -- Mendorong perluasan akses bantuan kemanusiaan tidak hanya melalui Pos Koordinasi pada penyalurannya. Dalam menggalang dana kemanusiaan Lazismu memberikan kemudahan akses berdonasi melalui saluran aplikasi donasi digital MASA (Aplikasi Muhammadiyah 'Aisyiyah Super App).
Aplikasi gaya hidup muslim digital resmi milik Muhammadiyah dan populer disebut MASA itu, kini membuka saluran berdonasi untuk warga terdampak pascagempa di Nusa Tenggara Timur. Bagi anggota Muhammadiyah yang telah mengunduhnya berdonasi semakin mudah.
Muhammadiyah melalui gerakan One Muhammadiyah One Response (OMOR), sebelumnya telah menerbitkan surat edaran tentang tentang imbauan Penghimpunan Infak Salat Jumat untuk Bantuan Kemanusiaan Korban Bencana Gempa Bumi di Flores, NTT. Surat edaran tersebut merupakan bagian dari penggalangan dana kemanusiaan yang selanjutnya dipermudah aksesnya untuk berkontribusi melalui kanal donasi digital MASA.
Direktur Utama Lazismu Pusat, Barry Adhitya, seperti dilansir dalam laman resmi Muhammadiyah, mengatakan kehadiran kanal donasi digital ini adalah tanggung jawab kemanusiaan Lazismu dan menjamin kemudahan masyarakat dalam berpartisipasi memberikan bantuan untuk menjangkau korban bencana.
“Kami memastikan dana yang terhimpun dikelola secara professional dan transparans yang penyalurannya tepat sasaran melalui jaringan kemanusiaan Muhammadiyah. “Setiap donasi yang masuk itu amanah dan diperuntukan kepada mereka yang membutuhkan”, ujarnya.
Terkait kemudahan dalam berdonasi tersebut, Direktur Utama LabMu, Asad Fatchul’ilmi, mengungkapkan bahwa kecanggihan teknologi adalah sarana memudahkan masyarakat dalam melakukan aksi kebaikan, terutama dalam situasi darurat.
“Situasi pascabencana misalnya, informasi yang tersebar tentang kondisi itu menggerakan orang untuk berempati dan lebih mudah membantu, bukan menambah hambatan,” pungkasnya.
Sebagai upaya mendukung gerakan kemanusiaan yang dilakukan Lazismu melalui program Indonesia Siaga, LabMu juga melakukan pemantauan sistem untuk menjaga kelancaran dan stabilitas layanan selama masa tanggap darurat. Langkah itu dilakukan untuk mengantisipasi peningkatan transaksi dan segala kemungkinannya dalam proses berdonasi agar berlangsung aman dan nyaman.
Dalam akuntabilitasnya, Lazismu akan terus menyampaikan informasi perkembangannya kepada publik, terkait jumlah penghimpunan yang masuk, termasuk penyaluran dananya secara berkala. Langkah ini sejalan dengan ketentuan dalam edaran Pimpinan Pusat Muhammadiyah yang mengamanatkan setiap tingkatan pimpinan untuk melaporkan hasil penggalangan dana kepada pimpinan di atasnya.
Melalui kolaborasi ini, dukungan teknologi, lembaga filantropi, dan jaringan kemanusiaan Muhammadiyah dan akses masyarakat untuk bergotong-royong membantu korban gempa Flores diharapkan jangkauannya semakin luas.
Aplikasi MASA dengan fitur donasi yang ada memberikan solusi kepada masyarakat yang akan berdonasi. Secara digital, aplikasi ini dapat digunakan di mana pun dan kapan pun tanpa harus datang langsung ke masjid terdekat di sekitar rumah.
Secara teknis, dengan mulai berdonasi lewat fitur donasi di aplikasi MASA, yang pertama memilih program kemanusiaan untuk korban gempa NTT, berapa nilai donasi, selanjutnya menyelesaikan pembayaran melalui metode digital yang tersedia melalui gawai.
[Kelembagaan dan Humas Lazismu Pusat/Muhammadiyah]

NUSA TENGGARA TIMUR -- Perkembangan situasi pascagempa di Nusa Tenggara Timur telah dimutakhirkan oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). Berdasarkan informasi resmi yang dilaporkan BNPB, pada Minggu (23/8/2026), bahwa terjadi gempa susulan lebih dari 5.000 kali.
Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika mencatat fenomena tersebut hingga Jumat (21/8), pukul 05.00 WIB terjadi sebanyak 5.012 kali. Magnitudo terbesar tercatat M6.2 dan terkecil M1.1. Dari total kejadian, sebanyak 124 gempa susulan yang dirasakan warga di NTT.
Dilihat pada dampak korban jiwa, Pos Pendamping Nasional mencatat korban meninggal dunia sebanyak 87 jiwa hingga Sabtu. (22/8/2026), pukul 16.00 WIB. Jumlah ini bertambah dari angka sebelumnya pada 21 Agustus 2026 sebanyak 78 jiwa.
Dalam laporannya, BNPB merinci bahwa korban jiwa tersebut meliputi 31 jiwa di Kabupaten Manggarai, 30 jiwa di Manggarai Timur, 13 jiwa di Nagekeo, 9 jiwa di Sikka, 4 jiwa di Ngada, 2 jiwa di Ende, dan 1 jiwa di Manggarai Barat. Sedangkan korban luka mencapai total 1.298 orang, dengan rincian 336 luka berat, 61 luka sedang, 895 luka ringan, dan 6 lainnya masih dalam proses pendataan.
Mayoritas korban luka berada di Kabupaten Manggarai Timur sebanyak 643 jiwa dan Kabupaten Manggarai sebanyak 285 jiwa. Jumlah pengungsi sementara juga tercatat mencapai 150.576 jiwa yang tersebar di Kabupaten Manggarai sebanyak 41.427 jiwa, Nagekeo 34.256 jiwa, Manggarai Timur 31.372 jiwa, Manggarai Barat 19.954 jiwa, Sikka 17.587 jiwa, Ende 3.429 jiwa, dan Ngada 2.551 jiwa.
EMT Muhammadiyah Dukung Klaster Layanan Kesehatan
Sementara itu, respons Muhammadiyah melalui MDMC dan Lazismu dalam program Indonesia Siaga, masih terus berkoordinasi untuk mengirimkan bantuan logistik dan tim medis serta dukungan operasional selama masa tanggap darurat. Pos Koordinasi wilayah, tujuh Pos Koordinasi Daerah dan sepuluh Pos Pelayanan terus dioptimalkan untuk membantu warga yang terdampak.
Berdasarkan laporan resmi Pimpinan Pusat Muhammadiyah, pada Sabtu (22/8/2026), dalam laman resminya, Emergency Medical Team (EMT) Internasional Muhammadiyah turut diterjunkan membantu korban bencana gempa bumi di Nusa Tenggara Timur. Hal itu disampaikan oleh Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Agus Taufiqurrahman.
Tim EMT sudah bergerak karena warga terdampak membutuhkan rumah sakit lapangan. Agus mengatakan sebelum EMT diberangkatkan Muhammadiyah lebih dahulu memberangkatkan tim kesehatan dari amal usaha Muhammadiyah yang terdiri dari Rumah Sakit Muhammadiyah – Aisyiyah (RSMA) dan PTMA. Setidaknya sambung Agud, ada 4 institusi antara lain: Klinik Muhammadiyah Ende, RSM Bima, RSMA di Jawa dan juga dari Universitas Muhammadiyah Makassar.
Sementara itu, informasi terkini dari MDMC, jumlah pengungsi lebih dari 5.000 jiwa mengungsi yang tersebar di beberapa kabupaten. Titik pengungsian terbesar berada di Kabupaten Sikka sebanyak 3.356 jiwa, termasuk di GOR Samador Maumere dan pengungsian mandiri serta pengungsi di Kabupaten Manggarai sejumlah 2.078 jiwa.
Adapun kondisi pengungsian sementar ini dikabarkan banyak warga yang memilih tetap bertahan di luar rumah atau lapangan terbuka karena trauma serta kekhawatiran akibat gempa susulan yang masih berlangsung. Sebagian pengungsi ditampung di fasilitas umum (GOR, lapangan), sementara lainnya membangun tenda darurat secara mandiri di sekitar pekarangan rumah.
Kebutuhan mendesak yang sangat dinanti pengungsi adalah hunian darurat yang terdiri dari tenda keluarga, tenda peleton/pengungsi, terpal, tikar, velbed, dan selimut. Kebutuhan mendesak lainnya adalah bahan makanan seperti beras, makanan siap saji, makanan pendamping ASI serta serta air minum.
[Kelembagaan dan Humas Lazismu Pusat]

SURABAYA -- Penggalangan bantuan untuk penyintas gempa di Nusa Tenggara Timur merupakan komitmen Lazismu untuk membantu sesama. Bagi penyintas bencana, khususnya di pulau Flores NTT, uluran tangan kita semua adalah harapan bagi mereka untuk bangkit dari nestapa.
Wakil Ketua Lazismu Jawa Timur, Aditio Yudono, yang membidangi Pendistribusian dan Pendayagunaan, mengungkapkan bahwa kontribusi lembaga amil zakt dalam merespons kebencanaan perlu ditingkatkan. Oleh karena itu, Lazismu senantiasa bekerjasama dengan berbagai pihak untuk aksi-aksi kemanusiaan dalam program Indonesia Siaga.
"Salah satu bentuk kolaborasinya adalah pengiriman bantuan logistik kemanusiaan ke NTT melalui armada TNI Angkatan Laut, khususnya Kodaeral V Surabaya. Lazismu Jawa Timur berkomunikasi dengan Dinas Teritorial Kodaeral V Surabaya dalam upaya pengiriman bantuan kemanusiaan," kata Aditio, pada Kamis (20/8/2026).
Kolaborasi Lazismu dengan TNI AL untuk pengiriman bantuan, kata Aditio, telah dilakukan sebelumnya ketika ada bencana dan peristiwa kemanusiaan, seperti bencana di Sulteng, Sulbar, Kalsel, bahkan pengiriman logistik untuk penyintas di Gaza, Palestina juga menggunakan KRI TNI AL.
Komandan Komando Daerah TNI Angkatan Laut (Kodaeral) V Surabaya, Laksamana Muda TNI Ali Triswanto, mengapresiasi aksi bersama ini sebagai bentuk kepedulian dan solidaritas terhadap masyarakat yang terdampak bencana gempa bumi di wilayah Nusa Tenggara Timur.
“Kolaborasi dengan seluruh elemen masyarakat untuk memberikan bantuan kemanusiaan kepada warga terdampak bencana sangatlah penting dan harus terus dilakukan”, ujarnya. Ali mengatakan, TNI AL menerima bantuan dari masyarakat dan berbagai pihak untuk disalurkan secara langsung kepada para penyintas.
Sampai dengan hari pemberangkatan KRI Teluk Parigi – 539 ke Flores, bantuan kemanusiaan sudah diterima dari beberapa lembaga kemanusiaan di antaranya, Yayasan Buddhist Education Center, Laznas Al-Irsyad Al Islamiyyah, UKM Cyber E-Sport Universitas Terbuka Surabaya, Komcad Matra Laut, AAL, Jalasenastri Ranting F Cabang 1 Kodaeral V, termasuk Lazismu Jawa Timur.
Adapun bantuan yang terkumpul berupa sembako, family kit, perlengkapan sekolah (school kit), perlengkapan bayi (baby kit), perlengkapan mandi, air mineral, dan lain sebagainya. Bantuan telah dikirim ke NTT menggunakan KRI Teluk Parigi-539 Satlinlamil 2 Surabaya. Sementara itu, penerimaan bantuan kemanusiaan masih terus berlangsung.
Masyarakat dapat berpartisipasi dalam aksi kemanusiaan ini dengan menghubungi staf Dister Kodaeral V yang ditunjuk untuk mengumpulkan bahan kontak guna disalurkan di NTT. Kami mengajak seluruh masyarakat untuk turut peduli dan berpartisipasi dalam aksi kemanusiaan.
Melalui pembukaan posko bantuan, Kodaeral V menegaskan komitmennya untuk terus hadir berkontribusi membantu masyarakat terdampak bencana, sekaligus mengajak elemen masyarakat memperkuat semangat kemanusiaan. Setiap bentuk bantuan yang diberikan diharapkan dapat meringankan beban masyarakat yang terdampak sekaligus mendukung proses penanganan dan pemulihan pascabencana.
Selain berkolaborasi dengan berbagai pihak, Lazismu Jawa Timur juga membuka posko penghimpunan bantuan berupa donasi dan barang logistik. Adapun daftar kebutuhan Logistik Tanggap Darurat Bencana Gempa antara lain, kebutuhan tempat tinggal sementara (shelter), bahan makanan, air bersih, perlengkapan kebersihan dan sanitasi, obat-obatan dan alat perlengkapan untuk penerangan.
[Kelembagaan dan Humas Lazismu Pusat/Lazismu Jawa Timur/AY]



Seseorang dalam suatu pengajian bertanya kepada Ustadz, Jika Allah SWT Maha Baik dan Maha Penyayang kepada mahluknya, mengapa Ia dengan Kuasanya, memberikan ujian bagi manusia. Hal ini tidak adil padahal Allah SWT telah memberikan nikmat dan anugerah yang tak terhingga.
Pertanyaan di atas, mungkin ada dan dialami dalam benak orang lain. Pertanyaan itu fitrah bagi manusia. Karena dalam Islam manusia memiliki fitrah untuk belajar dan mengetahui segala sesuatu. Potensi bertanya manusia juga bagian dari fitrah manusia dalam beragama untuk mengetahui Kemahakuasaan-Nya sebagai Maha Pemberi Bentuk (Al-Wahib Al-Suwar).
Dengan kuasa-Nya, Allah bisa menjadikan sesuatu dalam bentuk apa saja, bahkan dengan kuasa-Nya mengubah sesuatu dalam bentuk yang lain bahkan menghancurkan atau memusnahkannya. Termasuk bencana gempa bumi, tentu ada maksud-Nya Allah memberikan peringatan dan kehancuran itu kepada setiap manusia.
Dalam kajian Fikih Bencana tahun 2014, Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah telah melakukan kajian atas pokok bahasan mengenai bencana, keadilan dan nasib manusia dalam mempertahankan hidupnya.
Salah seorang Ketua Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah Ustadi Hamsah, misalnya, ketika membahas soal Keadilan Tuhan (theodicy), Musibah dan Peristiwa yang Penuh Makna, mengungkapkan bahwa konsep Keadilan Tuhan merupakan ke-Maha Baik-kan dan ke-Maha Adil-an Allah yang dihadapkan pada kenyataan adanya keburukan dan kejahatan di dunia.
Hal itu, menurutnya, didasarkan pada sifat Rahmah (rahman dan rahim). Ketentuan dan ketetapan Allah pun selalu BAIK, dan hamba-hamba Yang Rahman dan Rahim (‘ibad al-Rahman) memandang bahwa Allah adalah Sumber Kebaikan. Konsekuensi kebaikan ini adalah bertambahnya nilai dari kebaikan (ihsan).
Dalam kajian itu, Ustadi mengatakan bahwa seluruh ketentuan Allah adalah anugerah bagi manusia. Fungsi anugerah itu sendiri sebagai ujian (bala’). Dan ujian itu berbentuk dua keberadaanya, yaitu kebaikan (hasanat) dan keburukan (sayyi’at). Ujian yang buruk (sayyi’at) lazim dikenal dengan musibah, bencana, pageblug, atau prahara.
Musibah Bukan Berarti Masalah
Terlepas dari ujian yang diberikan oleh Allah SWT, sebelum musibah itu datang manusia dalam hidupnya senantiasa dihadapi oleh kendala dalam bentuk masalah. Baik itu masalah ringan atau berat. Masalah dalam pengertian yang sederhana adalah adanya kesenjangan sesuatu antara yang senyatanya (Das Sein) dengan yang seharusnya (Das Sollen).
Oleh karena itu, ketika manusia diuji dengan masalah, sebagian orang mengatakan itu adalah musibah. Bahkan musibah itu dimaknai negatif. Sehingga menjadi masalah bagi manusia. Mengapa? Karena manusia memiliki kesadaran. Kesadaran itu bisa rapuh. Dalam kacamata Tauhid tentang musibah secara hakikat pada dasarnya tidak sama dengan masalah. Padahal yang menjadi masalah bagi manusia pada dasarnya adalah cara manusia menyikapi masalahnya. Ustadi berpendapat, apapun yang terjadi adalah nasib (bagian) manusia, ketentuan (qadla’) Allah bagi makhluk-Nya sesuai ketetapan-Nya (taqdir).
Demikian keadilan Tuhan. Maka kita harus memahami dan menyikapi takdir itu. Dalam Tauhid, ada cinta dan keridhoan. Artinya menerima ketentuan Allah dengan Ikhlas. Ridho dan Ikhlas atas kejadian atau peristiwa di alam (bil kaun). Itu adalah kuasa-Nya, manusia tidak mampu menjangkaunya.
Yang menarik menurut Ustadi, jika Allah menghendaki musibah pada suatu kaum, maka akan menimpa orang sholih juga orang kafir, tetapi Allah akan membangkitkan dalam kondisi yang berbeda-beda. Selanjutnya ada Ridho yang dimaknai atas yang menimpa kita (bi na). Maksudnya ada banyak faktor dalam hidup kita yang diatur oleh Allah. Dan yang tahu rahasianya hanya Allah SWT.
Untuk itu, dalam Islam dan dalam setiap ibadah kita selaku Muslim, maka penting untuk kuatkan sikap kita ridho dan ikhlas malakukan hal yang layak untuk dilakukan. Allah tidak mengubah kondisi suatu kaum kecuali kaum tersebut mau mengubah kondisnya pula.
Pandangan terkait bencana ini, juga disampaikan Majelis Tarjih dan tajdid PP Muhammadiyah, Muhammad Khaeruddin Hamsin mengenai Konsep Darurat Dalam Islam dan Masalah -Masalah Fikih Terkait Bencana. Menurutnya, darurat dalam kerangka Maqasid Syar’iyah adalah di mana manusia sampai pada kondisi yang sangat kesulitan sehingga dapat melakukan hal-hal yang dilarang guna menghindarkan jiwanya, hartanya dan sebagainya dari kebinasaan.
Mendudukan makna darurat menjadi penting di sini, karena bertalian dengan konsep maslahah yaitu bagaimana manusia dapat menggapai suatu kemanfaatan dan terhindar dari
kerusakan atau mencapai kemanfaatan dengan menjaga agama, jiwa, keturunan (harga diri) akal dan harta. Jadi, maslahah dalam konteksnya ini mencakup hal-hal yang bersifat dharuriyat, hajiyat dan tahsiniyat, sedang darurat hanya terbatas hal-hal yang besifat dharuriyat saja.
Dari paparan di atas, Ketua PP Muhammadiyah, Syafiq Mughni menilai bahwa pandangan Islam tentang bencana berarti ada suatu hal yang penting yaitu mengurangi risiko bencana untuk mempertahankan hidup.
Penggalian nilai-nilai Islam tentang kebencanaan sangat penting untuk membangun kesadaran masyarakat terhadap bencana. Kesadaran itu akan terwujud dalam upaya untuk memahami bencana sebagai fenomena alam maupun sosial sehingga bisa mengurangi tingkat risikonya, mengantisipasi dan melakukan apa yang terbaik ketika bencana itu terjadi.
Agama memainkan peran yang penting karena sifat ajaran Islam yang menyentuh seluruh aspek kehidupan manusia. Menurut pendapat para pemikir hukum Islam, prinsip-prinsip dasar atau maksud dari setiap ketetapan hukum Islam di antaranya, menjaga keselamatan jiwa dan harta manusia. Karena ini wajib menurut ajaran Islam untuk mempertahankan hidup.
[Kelembagaan dan Humas Lazismu Pusat]

Bayangkan, anda tertidur lelap. Tidur malam cukup selama 7- 8 jam yang bermanfaat untuk kesehatan. Jaringan sel tubuh mengalami perbaikan dalam sistem tubuh yang bekerja untuk menguatkan kekebalan, menjaga kesehatan jantung dan mengoptimalkan fungsi kerja otak serta daya ingat. Selain itu, tidur malam yang cukup dapat menjaga emosi tetap stabil.
Tiba-tiba dalam nyenyak yang nikmat, kasur bergerak dan atap rumah berguncang hebat hingga merubuhkan bangunan. Tetangga dan kerabat dekat anda merasakan hal yang sama sehingga terkejut berlari keluar rumah untuk menyelamatkan diri. Gempa bumi sedang menyapa kita dengan ujian musibah yang tidak mengenal waktu dan tempat.
Demikian hal yang dialami saudara-saudara kita di Nusa Tenggara Timur (NTT). Gempa bumi tektonik berkekuatan 7,7 magnitudo pada Sabtu, (15/8/2026) pukul 04.58 waktu setempat. Tujuh kabupaten di NTT merasakan dampaknya. Bahkan BNPB dalam datanya melaporkan bahwa ada dua kabupaten yang mengalami kerusakan dan dampak yang luar biasa yaitu kabupaten Manggarai dan kabupaten Manggarai Timur.
Data terkini dari BNPB, tertanggal 20 Agustus 2026, jumlah korban meninggal dunia menjadi 72 orang. Korban luka-luka sebanyak 900 orang, dan 82.691 orang mengungsi serta 18.019 kepala keluarga terdampak. Tidak hanya itu, kerugian materilnya ada 29.001 rumah rusak termasuk fasilitas ibadah dan fasilitas umum.
Makna Bencana sebagai Buah Empati
Adalah penting untuk memandang bencana dari perspektif islam dan kemanusiaan. Dalam sudut pandang Fikih Bencana yang diterbitkan oleh Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah (2015), kata bencana memiliki padanan istilah dalam Al-Qur’an yaitu musibah, bala’, fitnah, ‘azab, fasad, halak, tadmir, tamziq, ‘iqab, dan nazilah.
Istilah – istilah tersebut mengandung makna yang berbeda-beda dalam teks dan konteksnya. Istilah Bala’ diartikan sebagai “cobaan untuk memperteguh keimanan”. Adapun istilah fitnah lebih dekat pada makna bencana sosial yang diakibatkan oleh ketegangan sosial antar manusia.
Sedangkan istilah Azab diartikan sebagai “ragam peristiwa yang menimpa manusia karena perbuatannya yang abai terhadap ketetapan dan hukum Allah”. Sementara istilah Fasad merupakan bencana yang diakibatkan oleh manusia yang bertentangan dengan ketetapan Allah.
Dalam makna lain tentang bencana, Halak bersandar pada suatu kehancuran dan kebinasaan yang menjadi hukum ketetapan Allah. Makna bencana lainnya melalui istilah Tadmir diartikan sebagai sifat dari suatu peristiwa yang berdampak merusak dan disebabkan oleh manusia juga oleh alam.
Selain itu, istilah Tamziq merupakan peristiwa buruk yang murni disebabkan oleh ulah manusia. Sedangkan istilah Iqab merupakan kejadian berupa hukuman disebabkan oleh sikap pengingkaran manusia terhadap Allah dan Rasul serta istilah Nazilah yang berarti bencana sebagai hukuman dari Allah untuk manusia.
Berdasarkan istilah dan makna bencana di atas, secara teknis dan konseptual kita sering menggunakannya secara bergantian. Oleh karena itu, makna dasar ini menjadi relevan sebagai bekal pengetahuan tentang bencana dari perspektif fikih islam karena berkaitan dengan wawasan kemanusiaan dan kepekaan sosial (empati).
Berkhidmat kepada Kemanusiaan
Setiap bencana mengandung hikmah dan pelajaran bagi setiap manusia, baik sebagai manusia yang terdampak atau tidak. Oleh karena itu, bencana harus disikapi dengan arif bijakasana agar kita mampu berkhidmat untuk merespons bencana tersebut. Sebagai pelajaran yang sudah terjadi maka manusia harus merencanakan mitigasinya, dan bagaimana merespons kedaruratannya hingga masa pemulihannya.
Hamim Ilyas dari Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah mengatakan bahwa berkhidmat terhadap bencana berarti menyelami makna terdalam. Hamim mendasarkan argumennya pada Surat Al-Maun tentang Yatim dan Miskin serta orang yang mendustai agama. Mengapa demikian, karena manusia yang tertimpa bencana mengalami kerugian bahkan kehilangan harta bendanya yang berharga. Bisa jadi bagi seorang anak, karena bencana orang tuanya berpulang dan Ia menjadi yatim duafa atau penyandang masalah kesejahteraan.
Oleh karena itu, menurut Hamim Ilyas, berkhidmat kepada yatim dan miskin dilakukan dengan empat prinsip: 1. Memuliakan, 2. Keberpihakan, 3. Memperlakukan dengan adil, dan 4. Memberikan kebaikan nyata. Al-Qur’an telah menunjukkan bukti dari pengkhidmatan itu melalui upaya memberikan perlindungan dan santunan, memperhatikan masa depan, berlaku adil dan tidak bersikap kasar serta mengelola harta yang dimiliki yatim dengan cara terbaik.
Dengan upaya pengkhidmatan itu, akan ada usaha-usaha yang dapat dilakukan, misal setelah masa tanggap darurat bencana akan masuk pada fase pemulihan, sebagai ikhtiar menolong sesama bisa dilakukan dengan pemberdayaan masyarakat dengan 4 orientasi yang terus bisa dikembangkan sesuai kebutuhan, yaitu: 1. Pemberdayaan masyarakat yang berorientasi kesejahteraan, 2. Pemberdayaan masyarakat yang berorientasi kemandirian dan kelestarian, 3. Pemberdayaan masyarakat yang berorientasi advokasi dan perubahan sosial, 4. Pemberdayaan masyarakat yang berorientasi advokasi kebijakan publik dan gerakan sosial.
Hal itu diperkuat oleh pemaknaan terhadap bencana yang diungkapkan oleh Pakar Manajemen Bencana dari PP Muhammadiyah, Rahmawati Husein bahwa bencana adalah peristiwa atau rangkaian peristiwa yang mengancam dan mengganggu kehidupan dan penghidupan masyarakat yang disebabkan, baik oleh faktor alam dan/atau faktor non alam maupun faktor manusia sehingga mengakibatkan timbulnya korban jiwa manusia, kerusakan lingkungan, kerugian harta benda, dan dampak psikologis.
Menurut Rahmawati Husein dalam memahami bencana dan pengelolaannya yang menjadi poin penting adalah dari tanggap darurat ke pengurangan risiko bencana. Ia menilai sejauh ini masih ada sebagian masyarakat yang melihat bencana alam sebagai sesuatu yang datang di luar kemampuan manusia. Maka kecenderungannya menunggu kejadian tersebut dialami atau menimpa diri mereka tanpa ada pembelajaran untuk mitigasi dan penanggulangan risiko bencananya.
[Kelembagaan dan Humas Lazismu Pusat]

MENGECAM PENYANDERAAN 9 AKTIVIS KEMANUSIAAN INDONESIA DAN BANTUAN KEMANUSIAAN GLOBAL SUMUD FLOTILLA OLEH AKSI MILITER ISRAEL
Jakarta, 20 Mei 2026
Aksi militer Israel yang melancarkan penyergapan terhadap relawan kemanusiaan Global Sumud Flotilla 2.0, menuju Gaza, Palestina, merupakan bentuk teror dan melanggar hukum internasional. Tindakan intersepsi itu terjadi pada Senin, 18 Mei 2026, di perairan internasional Siprus, tepatnya di kawasan Laut Mediterania Timur.
Misi kemanusiaan untuk Palestina yang diinisiasi oleh masyarakat global yang berjumlah 426 Relawan dari 40 negara berlayar menggunakan 50 kapal, merupakan aktivis kemanusiaan dari berbagai macam profesi. Salah satunya negara Indonesia, yang di dalamnya ada 9 orang aktivis kemanusiaan yang mewakili lembaga amil zakat dan jurnalis kemanusiaan.
Berdasarkan informasi terbaru, pada 19 Mei 2026 pukul 21.02 WIB, militer Israel telah mencegat dan memaksa 40 kapal kemanusiaan tersebut untuk berhenti di perairan internasional. Kabar tersiar lainnya melalui media internasional yang sampai ke Indonesia, para relawan kemanusiaan ini dipaksa berlutut dengan kondisi tangan terikat di belakang.
Dengan bersenjata, pasukan militer Israel berjaga dari kapalnya memberikan ancaman. Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, tetap pada pendiriannya sebagai upaya membela hak Israel mencegat kapal kemanusiaan itu. Bahkan, Netanyahu, memerintahkan agar semua aktivis kemanusiaan segera dideportasi.
Atas landasan hukum dan etika kemanusiaan, Kami dari Lembaga Amil Zakat Pimpinan Pusat Muhammadiyah (LAZISMU), yang juga sebagai bagian dari lembaga pengelola zakat, menyatakan kerisauan atas krisis kemanusiaan yang terjadi menimpa aktivis kemanusiaan Global Sumud Flotilla 2.0.
Kami sekaligus mengecam setiap bentuk intervensi yang dilakukan dengan kekerasan yang sewenang-wenang oleh pasukan militer Israel terhadap misi kemanusiaan Global Sumud Flotilla 2.0.
Bantuan kemanusiaan amanah rakyat Indonesia, berupa pangan, logistik, dan penunjang medis serta kesehatan yang diambil-alih dengan paksa merupakan upaya perampasan, dan tidak semata menahan sementara tetapi menghentikan akses atas hak hidup rakyat Palestina. Ini juga merupakan bentuk perendahan martabat kemanusiaan dan solidaritas internasional, termasuk Indonesia.
Ancaman represif tersebut adalah pelanggaran nyata terhadap hukum humaniter internasional. Tindakan militer Israel, melanggar Pasal 59 Konvensi Jenewa IV (1949) serta Protokol Tambahan I Pasal 70 dan 71, yang mewajibkan perlindungan mutlak bagi personil pekerja kemanusiaan dan kewajiban untuk memfasilitasi akses lintasan bantuan tanpa hambatan.
Pencegatan distribusi bantuan kemanusiaan yang disengaja turut melukai wajah kemanusiaan dan ancaman kelaparan di Gaza, Palestina, serta mencederai prinsip-prinsip dasar kemanusiaan universal yang dijunjung tinggi oleh komitmen internasional yang dibuat pada World Humanitarian Summit 2016, sebagai Agenda Pembangunan Berkelanjutan 2030 dan sejumlah inisiatif global lainnya.
Berpijak dari prinsip dasar kemanusiaan dan hukum humaniter internasional tersebut, Kami dari LAZISMU, dalam situasi darurat yang menyertai, dan atas nama solidaritas kemanusiaan, dengan ini menyampaikan pernyataan sikap:
Berikut pernyataan sikap yang LAZISMU sampaikan sebagai wujud solidaritas kemanusiaan universal dan akan terus ikut mengawal dengan tetap menjunjung tinggi perlindungan akses kemanusuiaan global bagi hak kemerdekaan rakyat Palestina.
Kami menyerukan kepada seluruh masyarakat Indonesia untuk tidak pernah lelah mengawal setiap aksi kemanusiaan, sekaligus memanfaatkan ruang-ruang media sosial dengan narasi solidaritas kemanusiaan dan dukungan penuh bagi kemerdekaan rakyat Palestina. LAZISMU juga menyerukan kepada Masyarakat Indonesia untuk tidak letih membantu rakyat Palestina.

