

Pertanyaan:
Sebagaimana diketahui, di negara kita banyak terjadi musibah yang menimbulkan korban. Sementara itu, di daerah kami pun masih banyak orang yang membutuhkan bantuan. Mana yang harus didahulukan dalam penyaluran Zakat, Infak dan Shadaqah (ZIS)?
Pimpinan Cabang Muhammadiyah Moga Pemalang Jawa Tengah
(disidangkan pada Jum’at, 2 Rabiul Awal 1430 H / 27 Februari 2009)
Jawaban:
Perlu dibedakan terlebih dahulu antara penyaluran dana Infak dan Shadaqah dengan dana Zakat untuk korban bencana. Mengenai dana Infak dan Shadaqah yang disalurkan untuk korban bencana, tentunya tidak ada persoalan karena memang tidak ada dalil spesifik yang menentukan orang-orang atau golongan yang berhak menerimanya. Lalu begaimana dengan dana Zakat yang secara spesifik telah ditentukan, yaitu: fakir, miskin, amil, muallaf, memerdekakan hamba sahaya, membebaskan orang yang berhutang, pada jalan Allah, dan orang yang sedang dalam perjalanan, sebagaimana firman-Nya:
Artinya: “Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, Para mu’allaf yang dibujuk hatinya, untuk (memerdekakan) budak, orang-orang yang berhutang, untuk jalan Allah dan untuk mereka yuang sedang dalam perjalanan, sebagai suatu ketetapan yang diwajibkan Allah, dan Allah Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana”. [QS. at-Taubah (9): 60]
Ayat di atas memang tidak secara spesifik menyebutkan korban bencana sebagai salah satu yang berhak menerima dana Zakat. Namun demikian, melihat kondisi yang sedang dialami oleh korban bencana, tidak menutup kemungkinan mereka mendapatkan bagian dari dana Zakat dengan menganalogikannya sebagai golongan fakir dan miskin, dengan pertimbangan:
1. Korban bencana berada dalam kondisi sangat membutuhkan, sebagaimana pengertian fakir dan miskin menurut jumhur ulama adalah orang-orang yang dalam kondisi kekurangan dan membutuhkan.
2. Orang yang dalam kondisi kekurangan dan membutuhkan ini diperbolehkan untuk meminta-minta, sebagaimana sabda Nabi saw:
Artinya: “Diriwayatkan dari Yahya bin Yahya dan Qutaibah bin Said, keduanya menceritakan dari Hammad bin Zaid. Yahya berkata: Hammad bin Zaid menceritakan pada kami dari Harun bin Riyab, Kinanah bin Nu’aim al-‘Adawiy dari Qobishah bin Muhariq al-Hilaly, ia berkata: Aku membawa beban berat, lalu mendatangi Rasulullah saw, lalu aku bertanya kepada Nabi saw tentangnya. Beliau menjawab: “Tinggallah kamu sampai shadaqah datang, lalu kami memberikannya padamu”. Kemudian Rasulullah saw bersabda: Ya Qabishah, sesungguhnya tidak boleh meminta-minta kecuali untuk tiga orang; seseorang yang membawa beban berat, maka halal baginya meminta-minta sampai memperolehnya kemudian menghentikannya; seseorang yang tertimpa bencana yang menghancurkan hartanya, halal baginya meminta-minta sampai mendapat makanan untuk hidup dan tegak kembali; dan seseorang yang tertimpa kemiskinan sehingga tiga orang dari kaumnya membenarkan bahwa dia tertimpa kemiskinan, maka halal baginya meminta-minta sampai mendapat makanan untuk hidup dan tegak kembali. Adapun meminta-minta di luar itu haram ya Qabishah, makan dari hasilnya pun haram.” [HR. Muslim]
Dari keterangan di atas, kiranya sudah dapat difahami bahwa penyaluran dana Zakat untuk korban bencana dibolehkan dengan ketentuan diambilkan dari bagian fakir miskin, atau boleh juga dari bagian orang yang berhutang (gharimin), karena dimungkinkan untuk memenuhi kebutuhannya, korban bencana harus berhutang. Dengan demikian bagian mustahiq yang lain tidak terabaikan, karena dapat disalurkan secara bersama-sama.
Mengenai pertanyaan tentang mana yang harus didahulukan, korban bencana atau orang-orang yang membutuhkan di sekitar tempat tinggal kita, maka diupayakan sebisa mungkin kedua-duanya mendapatkan bantuan tanpa mendahulukan salah satunya. Namun jika kondisi darurat, maka yang didahulukan adalah yang lebih darurat keadaannya.
Wallaahu a’lam bish-shawab.
Sumber: Majalah Suara Muhammadiyah No. 8, 2009
(fatwatarjih.or.id)

Sragen - LAZISMU. Studi lapangan kawan-kawan amil dari Kota Semarang ke Lazismu Daerah Sragen berlangsung seru. Pasalnya, Kepala KL Plupuh, Supriyanto menceritakan bahwa KL Plupuh memulai aktivitas sejak peristiwa meletusnya Gunung Kelud di Kediri, pada 2007. Saat itu, dirinya dan beberapa orang aktivis mengumpulkan sumbangan bencana dari masyarakat atas nama Lazis Muhammadiyah.
Kemudian mereka mengantar sendiri bantuan yang terkumpul sampai ke zona merah di kampung terdampak bencana tersebut. Kemudian berlanjut dengan program santunan duafa, beasiswa sampai bedah rumah. Semuanya berbasis kebutuhan masyarakat setempat, yang dikuatkan dengan survei oleh tim amil Lazismu.
Berpijak dari survei itu, lalu didapatkan informasi jika kebutuhan masyarakat yang masih sangat diperlukan di sana adalah ambulans. “Lantas KL Plupuh perlu menyiapkan 2 unit ambulans. Satu unit untuk pelayanan pasien dan yang lain untuk pelayanan jenazah,” paparnya.
Membedah Lazismu tidak lengkap jika tidak mengurai tata kelolanya. Dari administrasi dan keuanga, lanjut Supriyanto, bahwa semua lalu lintas keuangan zakat, infak dan sedekah di setorkan langsung ke rekening Lazismu Daerah Sragen, disertai dengan bukti penerimaan. Sementara untuk tasaruf dilakukan dengan pengajuan berdasarkan perencanaan ke kantor daerah tersebut. Semua proses berjalan tertib dan mudah, terangnya.
Puas dengan informasi yang diperoleh, para amil dalam perjalanan pulang, menyisakan perbincangan yang disampaikan Ketua KL Lazismu PCM Banyumanik. Menurutnya, beberapa KL Lazismu di Kota Semarang bisa menerapkan model dengan sistem administrasi yang dipraktikan di KL Plupuh. Semua perlu memiliki komitmen untuk menerapkannya di KL Banyumanik. Ia berharap semua KL Lazismu di Kota Semarang bisa belajar dari KL Plupuh sebagai benchmark dalam tata kelolanya. Mereka sudah terbukti sukses, katanya.
Mewakili tim amil Lazismu Kota Semarang, Hasan menyampaikan terima kasih kepada segenap amil Lazismu Sragen dan KL Plupuh, atas kesempatannya meluangkan waktu untuk berbagi dan sharing wawasan dalam tata kelola pelayanan zakat. Dari pertemuan
sehari tersebut, ditemukan bahwa kiat sukses pengelolaan zakat di Sragen adalah
fokus dan konsisten dalam melaksanakan program, semua KL selalu mengikuti
aturan yang diterapkan Lazismu Daerah Sragen. (cs)

Senang bisa ke Tapanuli Selatan lagi, pekan lalu. Dua hal yang membuat saya senang: bisa mengunjungi Pondok Pesantren Muhammadiyah Ahmad Dahlan di Sipirok dan Universitas Muhammadiyah Tapanuli Selatan di Padang Sidempuan.
Pondok Pesantren Ahmad Dahlan adalah satu dari lima pondok pesantren yang didirikan Muhammadiyah dekade 60-an. Tepatnya tahun 1962. Pesantren ini dibangun bersamaan dengan lima pesantren lainnya.
Pesantren Ahmad Dahlan mungkin terlambat rebranding. Padahal 'pesaingnya' makin banyak. Muncul berbagai sekolah baru yang fasilitasnya lebih modern.
Beruntung pesantren ini melahirkan banyak alumni hebat. Pengusaha nasional, dosen, rektor dan pejabat serta masih banyak lagi.
Para alumni rupanya juga ingin membangkitkan almamaternya agar kembali bisa menjadi pilihan kaum milenial. Menjadi pesantren yang memenuhi tuntutan zaman.
Lazismu tak mau ketinggalan dengan program Santripreneur untuk memandirikan pesantren.
Pada tahap pertama akan dibuat program peternakan ayam petelur dan pertanian sayur-mayur. Kebetulan pesantren punya lahan cukup luas, sekitar 2 hektar.
Target jangka pendeknya sederhana. Bagaimana warga pesantren bisa mengonsumsi telur dan sayuran dari hasil usahanya sendiri.

Dampak ikutan program itu akan sangat panjang. Warga pesantren bisa memperoleh ilmu baru dalam budidaya ternak ayam petelur dan pertanian sayur. Selain itu warga pesantren akan memperoleh ilmu manajemen dan pemasaran yang bisa menjadi bekal setelah lulus.
Dalam proses persiapan Santripreneur inilah saya ke Sipirok bersama Pak Mahli Zainuddin Tago, Sekretaris Badan Pengurus Lazismu. Selain berdiskusi dengan para pengurus pesantren juga bertemu beberapa alumninya.
Dari pertemuan itu, sampailah kami ke kampus Universitas Muhammadiyah Tapanuli Selatan (UMTS). Di lahannya yang luasnya 4 Hektar itu, saya melihat fasilitas kandang ayam pedaging dan penggemukan kambing.
Sambil melihat fasilitas kami berdiskusi dengan wakil rektor UMTS tentang kemungkinan bekerjasama. UMTS menyediakan tenaga ahli untuk program Santripreneur.
Terbetik pula gagasan baru: membangun program entrepreneurship mahasiswa berbasis produk pertanian dan peternakan. Dari kandang ayam dan kandang kambing di kampus akan lahir mahasiswa berjiwa wirausaha. Akan hadir produk telur, sayur, usaha aqiqah dan kambing kurban.
Di Muhammadiyah hampir semua ada. Saatnya mempertemukan kekuatan itu dalam sebuah sinergi program yang bermanfaat untuk semua. (jto)

Banjarnegara –
LAZISMU.
Dua foto kiriman dari Banjar Negara itu sungguh membuat saya gembira. Tampak
dua puluh warga desa. Emak-emak semua. Mereka tampak bangga dengan kain
bermotif dedaunan hasil karyanya.
Kain
itu memang istimewa. Itulah kain ecoprint untuk jilbab. Kain tersebut
dihasilkan melalui program pelatihan produksi di desa Merden, Banjar Negara, Jawa
Tengah.
Setelah
pelatihan perdana pada hari Sabtu dan Minggu, pelatihan kedua dimulai hari ini
dan besok pagi. Lokasinya pindah ke desa Mertasari. Tetangga desa Merden.
‘’Peminatnya melebihi kuota. Mungkin karena sudah melihat hasil pada pelatihan
perdana,’’ kata Bu Pupung Pursita, ahli ecoprint yang menjadi pelatih.
Lagi-lagi
Bu Pupung mengirimkan foto. Suasana lokasi pelatihan di desa Mertasari itu.
‘’Bapak-bapaknya menyiapkan tempat penjemuran kain. Ibu-ibunya berburu
daun-daun,’’ kata sarjana seni rupa alumni Universitas Negeri Jakarta itu.
Kegiatan
pelatihan produksi kain ecoprint di Banjar Negara merupakan tahap pertama dari
program pemberdayaan ekonomi perempuan Lazismu dengan biaya sepenuhnya dari
dana infak Wardah Cosmetics. Setelah pelatihan produksi, masih ada beberapa
pelatihan lagi. Antara lain, pelatihan manajemen usaha dan pemasaran serta
promosi online.
Pesertanya
berbeda. Pelatihan produksi diikuti warga desa sebagai perajin. Sedangkan
pelatihan manajemen dan pemasaran serta promosi akan diikuti tim yang akan
mengelola bisnis kain ecoprint itu. Pelatihan manajemen, pemasaran dan promosi
online akan diberikan para praktisi dan akademisi dari Universitas Muhammadiyah
Purwokerto.
Usaha
jilbab ecoprint di Banjar Negara merupakan satu rintisan. Skalanya masih pilot
project. Diharapkan pada bulan keenam, usaha yang diberi modal kerja Rp 237
juta itu sudah mulai bisa diduplikasi di kelompok lainnya. Lokasinya tetap di
Merden dan Mertasari, Banjar Negara, agar menjadi destinasi wisata industri
kain ecoprint.
Banyak
dampak ekonomi kalau industri kain ecoprint bisa menjadi destinasi wisata baru.
Desa Merden dan Mertasari kelak akan banyak dikunjungi wisatawan yang ingin
belajar membuat kain ecoprint.
Belajar
dua hari berarti akan menginap semalam. Menginap semalam berarti akan
melahirkan bisnis home stay, restoran, oleh-oleh khas dan jasa-jasa lainnya.
Ekonomi desa bergerak karena dana infak.(jto)

Kompetisi internasional yang memberikan kesempatan kepada generasi muda untuk menuangkan gagasannya untuk membangun bangsa. Lalu Pipit mendaftarkan diri dengan mengirimkan aplikasi online. Pipit meyakini bahwa hanya ada satu orang yang bisa menghalangimu untuk menjadi versi terbaik dirimu. Orang itu adalah kamu.
“Hanya kamu yang bisa mempengaruhi kebahagiaan dan kesuksesanmu. Hidupmu tidak berubah ketika kamu tidak berubah, maka berubahlah,” demikian Pipit menulis dalam akun instagram pribadinya seraya memohon doa agar lolos dalam ajang itu nanti.
Jika dirinya lolos, Pipit berhak mendapatkan tiket dalam event international di Malaysia, yang berlangsung pada 15-19 Agustus 2019 dengan tajuk International Youth Leadership And Entrepreneurship Summit di Asia Pasific University. Selanjutnya di event Asia Youth International Model United Nations, 25-28 Agustus 2019 di Putrajaya International Convention Center.
Masa penantian Pipit menunggu hasilnya dilalui dengan kegiatan sehari-hari di Sekolah Dasar Muhammadiyah Baitul Fallah. Kebetulan di sekolah itu Pipit seorang kepala sekolah. Kepala sekolah termuda begitu orang menyebutnya. Pantas atas prestasinya itu dia terpilih sebagai pemuda pelopor pendidikan Jawa Tengah 2018.

Suatu hari Pipit membuka email, betapa terkejutnya, YBB mengumumkan dengan mengirim email jika dirinya terpilih (letter of acceptance) menjadi delegasi dalam ajang itu. Beberapa kali proses dilaluinya untuk mengikuti wawancara, lalu diumumkan di laman resmi YBB. Pipit akhirnya terpilih dalam kompetisi, selain itu juga mendapat Beasiswa Program Saudara Satu Negara Asia Tenggara (Singapura, Malaysia, Thailand).
Di tengah kabar gembira itu, Pipit juga didukung penuh oleh Lazismu Karanganyar. Ketua Lazismu Karanganyar bahkan mensponsori Pipit selama kompetisi itu berlangsung mulai dari berangkat dan pulangnya. Selama berada di Malaysia, Pipit bertemu Alaa Bakkar, CEO Give and Go dan Vincent Cheng, CEO of EN IDEA.
Tidak berhenti sampai di situ, Pipit juga menerima hasil seleksi melalui program Youth Cultural and Educational Exchange (YCEE) 2019 di Istanbul, Turki. Program yang diprakarsai juga oleh Youth Break the Boundaries (YBB) dengan tujuan, menyiapkan generasi pemimpin muda berkualitas, berwawasan global dan berkontribusi nyata bagi pembangunan nasional. Pengumuman itu diterima Pipit pada 3 Februari 2019.
Hati Pipit kembali berdebar-debar, mungkin atau tidak, katanya. Ternyata dirinya berhasil, esainya terpilih menjadi yang terbaik dan menjadi satu-satunya delegasi untuk menjadi pembicara di event internasional. Dalam forum itu, Pipit berbagi cerita akan perannya selama di Indonesia dalam dunia pendidikan, isu-isu kemiskinan dan perdamaian yang digelutinya sebagai bagian dari peran pemuda dalam kepemimpinan.
Peran sosial Pipit selama ini yang inspiratif diakui sebagai langkah inovatif. Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kabupaten Karanganyar melalui Lazismu, menilai, apa yang dilakukan Pipit termasuk bentuk kepedulian dalam dunia pendidikan. Sebagai kader muda berprestasi yang mengembangkan potensi diri, kata M. Samsuri selaku Ketua PDM, Pipit memberikan dampak sosial (social impact) yang bermanfaat bagi orang lain bangsa dan kader persyarikatan Muhamamdiyah.
Hal itu terbukti dengan perannya yang mendapat kepercayaan di persyarikatan sebagai Kepala Sekolah SD Muhammadiyah Baitul Falah Mojogedang Kabupten Karanganyar, dalam usia yang sangat muda. Meski latar belakang organisasi sejak sekolah tidak secara formal dekat dengan Muhammadiyah, pilihannya setelah setamat kuliah, gadis asal Giriwondo, Jumapolo ini meluangkan waktunya mengabdikan dirinya mengembangkan pendidikan di amal usaha Muhammadiyah Karanganyar.
Pipit juga menjadi salah satu filantropis muda Lazismu pada Kantor Layanan Lazismu Al-Falah sebagai direktur media. Kreatifitas dan keberaniannya untuk maju dan berkembang mendorong pimpinan Muhammadiyah Karanganyar melalui Lazismu untuk mendorongnya melangkah lebih maju.
Lazismu peduli kepada kader-kader yang berprestasi untuk maju berkembang. Menurut Samsuri, dengan memperhatikan latar belakang prestasinya dan kondisi keluarganya sudah selayaknya ada kepedulian dari persyarikatan. Harapannya, lanjut Samsuri, pengalaman dan ilmu yang diperolehnya dapat bermanfaat ketika dkembali ke persyarikatan melalui SD Muhammadiyah Baitul Falah” kata Doktor Ilmu Hukum ini.
Senada dengan apresiasi itu, Direktur Utama Lazismu PDM Karanganyar, Ahmad Zaki Musthofa, Sosok Pipit adalah contoh relevan generasi milenial yang memiliki talenta. “Pemberian dukungan berupa bantuan kepada Pipit tentunya masih dalam ranah spirit filantropi. Pipit sudah mengambil jalan sosial-dakwah di persyarikatan dengan mengabdi di SD Muhammadiyah Baitul Falah Mojogedang,” pungkasnya.
Yang membuat Lazismu bahagia, Pipit adalah filantropis muda yang menggerakkan Kantor Layanan Lazismu Al-Falah yang mengembangkan gerakan dakwah berbasis filantropi melalui event internasional. “Lazismu sangat mengapresiasi soosok muda dengan talenta inovatif yang menginspirasi kader-kader Muhammadiyah lain untuk berkembang dalam dakwahnya,” ujar Zaki. (na)

Di antara nama-nama yang lolos, ada nama Nur Fitri Fatimah. Biasa dipanggil Pipit. Perempuan berusia 25 tahun itu berasal dari Karanganyar, Jawa Tengah. Pipit lolos diajang bergengsi ini hasil dari ikhtiarnya yang panjang.
Sejak duduk di bangku sekolah dasar, Pipit terbilang sosok yang gesit. Selalu berprestasi menjadi juara kelas di SDN 02 Giriwondo. Di tingkat sekolah menengah pertama, dia aktif diberbagai kegiatan, mulai dari OSIS dan Pramuka. Prestasinya cemerlang, peringkat 1 dipertahankannya sebagai siswa bertalenta dan cerdas. Di SMPN 1 Jumapolo, Pipit tergolong luwes dalam bergaul.
Beranjak ke sekolah menegah atas, SMAN 1 Karanganyar adalah pilihannya, karena di bumi Intanpari, sekolah ini masuk kategori favorit. Selain menjadi pengurus inti Pramuka, Pipit tercatat sebagai delegasi Olimpiade Sains Nasional bidang Kimia mewakili SMA di tingkat se-Jawa Tengah dan DIY.
Saat itu, jarak rumah ke SMAN 1 Karanganyar sekitar 22 kilometer, setiap hari dilaluinya dengan gembira meski berasal dari desa yang terpencil di kabupaten itu. Anak ketiga dari 4 bersaudara pasangan Loso dan Kiftiyah ini tak pernah patah arang.
Pada 2012, setamat dari SMA, keinginan Pipit untuk berkuliah membuncah. Dia sadar dirinya berasal dari keluarga yang pas-pasan. Skenario Tuhan memberikan jalan berbeda, Pipit mendapatkan beasiswa kuliah S1 di Universitas Sebelas Maret. Setiap bulannya mendapatkan uang pembinaan dari pemerintah.
Kesempatan itu tidak disia-siakan. Kata Pipit, dia tidak ingin menjadi mahasiswa yang biasa-biasa saja. “Menjadi mahasiswa luar biasa adalah pilihan,” katanya. Membahagiakan keluarga dan banyak orang adalah pilihannya. Salah satu caranya, sambung Pipit, harus mengembangkan dan mengenal potensi yang ada dalam dirinya.
Medan kampus tentu berbeda dengan SMA, Pipit memberanikan diri ikut organisasi yang ada di kampus dan di luar kampus. Meski masih semester awal, dirinya aktif di Himpunan Mahasiswa Prodi Pendidikan Kimia, Kovalen. Di kampus itu pula, Pipit mengikuti kegiatan ekstra kampus di Forum Mahasiswa Islam Karanganyar (Formaiska), Kajian Seluruh Pemuda-Pemudi Karanganyar Bersinergi (Inspirasi), hingga berlabuh di RRC, atau dikenal dengan Rumah Resolusi Cerdas.
Berbagai keterampilan diikuti, mulai dari menulis, kajian ilmiah, hingga pengabdian masyarakat. Semester tiga adalah masa di mana identitas itu begitu membayangi perjalanan hidupnya sebagai mahasiswa. Yang pada akhirnya, Pipit memutuskan untuk bergabung di organisasi baru tingkat fakultas dengan aktif di Lingkar Studi Pendidikan.
Membuka Jendela Dunia
Menyandang status sebagai mahasiswa Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Kimia di Kota Batik, merupakan sesuatu yang istimewa. Kondisilah yang memantik Pipit untuk bergiat di berbagai kegiatan, dan tak satupun melunturkan kecemerlangan akademisnya. Dunia sangat luas, karena itu bagi Pipit, membuka jendela dunia penting lewat berbagai cara.
Hal-hal kecil dilaluinya, bahkan sejal semester 3 sampai semester 7, Pipit terpilih sebagai Asisten Mahasiswa untuk mata kuliah Kimia Dasar, Kimia Fisika, dan Kromatografi - Elektrometri. Seminar demi seminar dia ikuti. Menjadi pembicara seminar motivasi hingga berperan sebagai moderator dan pembawa acara di berbagai acara kampus maupun ekstra kampus.

Berbekal pengalamannya dalam berorganisasi inilah jalan menjadi mahasiswa berprestasi diraihnya. Pipit mengatakan, pernah lolos proposal kreativitas mahasiswa yang didanai Kementerian Riset dan Pendidikan Tinggi sebanyak dua kali. Pipit termasuk dari salah satu utusan dalam delegasi temu nasional bidikmisi.
Selain prestasi itu, beberapa lomba kepenulisan esai dan karya tulis di tingkat fakultas, universitas, provinsi, nasional diikutinya yang berlangsung di berbagai kota di Indonesia. Pipit mendapatkan banyak relasi dari seluruh Indonesia dan mendapatkan ilmu yang bermanfaat. Kuliah Pipit berlangsung tertib. Dia lulus tepat waktu pada tahun 2016.
Pipit mengisahkan kembali, jika keluarganya berasal dari latar belakang ekonomi yang lemah. Ayahnya buruh tani. Menggarap sawah milik orang lain yang upahnya tidak seberapa. “Sejak sekolah dasar ayah membantu sawah tetangga,” terangnya.
Rasanya tidak mungkin jika dirinya bisa menempuh pendidikan dijenjang kuliah. Dirinya bersyukur bisa menamatkan kuliah. Pipit selalu mencari beasiswa agar kuliah tetap berlanjut. Ayah selalu mendampingi di rumah ketika anak-anaknya sedang belajar. Tidak terbesit sedikitpun ayah meninggalkan keluarga merantau ke kota besar mencari nafkah. Perhatian ayah pada pendidikan anak-anaknya begitu kuat, kenang Pipit.
Pipit tidak menyerah begitu saja, dia ingin melanjutkan kuliah strata dua. Doanya terkabul. Saat ini Pipit tercatat sebagai mahasiswa pascasarjana Pendidikan Sains di UNS. Di tengah keterbatasan itu Pipit berusaha memaksimalkan potensinya. Justeru keterbatasannya menjadi cambuk motivasi untuk merubah keadaan menjadi lebih baik lagi. (na)
Kisah selanjutnya tentang Pipit, klik Link berikut : Ajang Internasional

