

Dampak ekonomi tersebut paling banyak dirasakan oleh kelompok rentan yang diwakili oleh perempuan (76,3%), individu dengan pendapatan di bawah 3 juta rupiah per bulan (78,7%), individu yang kehilangan pekerjaan (88,9%), pelaku UMKM (88,2%), pekerja harian atau pekerja lepas (87,2%), petani/peternak (84,4%), dan individu yang memiliki tanggungan 4-6 jiwa dalam keluarga (84,4%).
"Sebagian besar responden, selain mengalami penurunan pendapatan, mereka juga mengalami peningkatan pengeluaran untuk pangan, papan, dan kesehatan," ujar Sita Rahmi, Ketua Tim Peneliti Survei Lazismu, Kamis (1/7).
Menariknya, dalam survei bertajuk Dampak Sosial Ekonomi Covid-19 Terhadap Perilaku Berderma Masyarakat tersebut ditemukan bahwa meskipun kondisi ekonomi menurun, masyarakat tetap semangat untuk berderma dan saling membantu. Hampir 8 dari 10 responden mengaku rutin berderma. Bahkan, 76,5% individu yang mengalami penurunan pendapatan setelah 1 tahun lebih pandemi juga mengaku tetap rutin berderma.
"Derma ini macem-macem. Ada yang ngasih uang di jalan, ini juga berderma, membantu. Jangan-jangan tidak ada hubungannya antara punya duit atau enggak dengan kemauan berderma. Intensi untuk membayar zakat fitrah dan zakat mal cukup tinggi," imbuhnya.
Bahkan, imbuh Sita, setelah masyarakat membayar zakat, mereka tetap ingin berdonasi untuk penanganan pandemi. Presentase intensi berderma tidak menurun, justru lebih tinggi dari survei tahun lalu ketika pandemi covid-19 baru berumur dua bulan di Indonesia. Sita menyebut bahwa pandemi meningkatkan sisi kemanusiaan masyarakat di semua level ekonomi
Masyarakat yang terdampak pandemi, imbuh Sita, melakukan berbagai strategi untuk menghadapi dampak Covid-19. Strategi tersebut antara lain:
1. Mencari pekerjaan atau penghasilan tambahan sebanyak 38,9% responden,
2. Menggunakan tabungan cadangan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari sebanyak 40,7% responden,
3. Menjual asset atau barang pribadi sebanyak 52,2% responden,
4. Meminjam uang kepada pihak ketiga untuk memenuhi kebutuhan keluarga sebanyak 54,9% responden,
5. Menerima bantuan dari pemerintah atau lembaga sosial/zakat sebanyak 62,3% responden.
"Meskipun sudah satu tahun pendapatan menurun, namun mayoritas tidak memiliki pekerjaan sampingan untuk menambah penghasilan tambahan. 57,6% responden tidak memiliki sumber pendapatan lain. Diantara yang memiliki pekerjaan sampingan tersebut memilih berdagang dan berjualan online, terutama ibu-ibu banyak yang berjualan," imbuhnya.
Untuk strategi coping kedua, Sita menyebut bahwa pada kelompok yang pendapatannya turun, hanya 32,5% yang memiliki cadangan tabungan. Itupun hanya cukup untuk berjaga-jaga memenuhi kebutuhan harian kurang dari 1 bulan. Lebih banyak yang tidak memiliki tabungan sebagai jaring pengaman. Hal ini kembali menegaskan bahwa dampak pandemi paling dirasakan oleh kelompok rentan.
Hal yang sama juga terjadi pada strategi coping ketiga. Kelompok perempuan (61,2%) lebih banyak yang pernah menjual asset dibandingkan laki-laki (43,1%). Presentase yang pernah menjual aset paling besar terjadi pada kelompok yang memiliki tanggungan lebih dari 7 jiwa (64,3%). Banyak terjadi pada kelompok pendapatan dibawah Rp. 3 juta/bulan (60,2%).
"Temuan ketiga, ternyata strategi coping laki-laki dan perempuan berbeda. Laki-laki lebih banyak yang memiliki cadangan tabungan dibandingkan perempuan. Kebanyakan perempuan mencari pekerjaan/penghasilan tambahan untuk perempuan yang sudah berkeluarga, juga menjual aset, meminjam uang dan mendapatkan bantuan," ujar Sita.
Reporter : Yusuf

Paket yang diberikan oleh Lazismu Kota Langsa berupa 15 kg beras, 2 liter minyak goreng, 1 papan telur, gula, dan 1 kaleng biskuit. Bantuan tersebut diberikan untuk menanggulangi kesulitan ekonomi yang dirasakan oleh masyarakat Langsa di tengah pandemi.
Sebelumnya, Lazismu Kota Langsa juga telah membantu warga untuk mendapatkan kebutuhan protokol kesehatan seperti masker dan hand sanitizer.
Ketua Lazismu Kota Langsa, Anwar S.Pd.I menyampaikan rasa syukur kepada Allah SWT, dan rasa terima kasih kepada muzaki yang telah menyisihkan sebagain hartanya untuk menolong sesama. Ia merasa sangat gembira karena penyaluran zakat maal untuk 13 orang fakir miskin warga Tanjung Putus berjalan dengan baik.
Saat melakukan penyerahan santunan, ia didampingi oleh pengurus Lazismu Kota Langsa lainnya. “Terimaksih kepada para Muzaki. Semoga Allah membalasnya dengan ganjaran pahala yang berlipat ganda," ujarnya.
Sebelumnya, Lazismu Kota Langsa mendata terlebih dahulu masyarakat yang membutuhkan paket sembako tersebut disesuaikan dengan kebutuhannya.

Pangan menjadi sumber pengeluaran terbesar di masa pandemi. Maka perlu inisiatif untuk mendorong kemandirian pangan masyarakat. Pada saat yang sama, kemandirian pangan mampu mengatasi kerawanan pangan.
Di Indonesia, dulu ada tradisi kebun keluarga. Keluarga bisa mencukupi kebutuhan pangan melalui kebun masing-masing. Namun belakangan tradisi tersebut telah menghilang seiring meluasnya perkotaan dan tingginya angka urbanisasi.
Hal tersebut disampaikan oleh Hamid Abidin, Direktur Eksekutif Filantropi Indonesia dalam kegiatan Public Expose Hasil Survei Dampak Sosial Ekonomi Covid-19 oleh Lazismu Pusat, Kamis (1/7).
Selain tantangan pangan, di tengah gempuran pandemi ada tantangan optimalisasi kerja dan perubahan model bisnis untuk mempertahankan bisnis. "Ada banyak lapangan kerja yang hilang karena dampak covid," ujarnya.
Selain itu, tantangan selanjutnya adalah kelompok rentan, terutama anak, perempuan, dan difabel. Perempuan memiliki beban ganda ketika pandemi. Anak-anak yang melakukan pembelajaran jarak jauh (PJJ) membuat perempuan harus bekerja lebih keras. Pada saat yang sama, Hamid Abidin menyebut bahwa perempuan juga dituntut untuk bekerja membantu keluarga yang terdampak.
Jika melihat hasil survey dampak sosial ekonomi covid-19 Lazismu, kelompok rentan adalah kelompok yang paling terdampak pandemi. Dampak yang dirasakan jauh lebih besar daripada kelompok menengah ke atas.
"Dampak ini akan terkurangi jika lembaga filantropi membantu keluarga terdampak. Misalnya para relawan membantu anak-anak melaksanakan PJJ di rumah," imbuh Hamid Abidin. Anak-anak, menurut Hamid Abidin, mengalami dua ketertinggalan sekaligus. Yaitu ketertinggalan dalam pendidikan dan kesehatan.
Maka, lembaga filantropi harus mengawal strategi coping yang dilakukan oleh pemerintah. Dalam temuan Lazismu, ada 5 strategi coping. Antara lain mencari pekerjaan sampingan, menggunakan tabungan, menjual aset, melakukan pinjaman, dan menerima bantuan dari pemerintah.
Hamid Abidin khawatir jika lembaga filantropi tidak turut mengawal coping yang dilakukan oleh masyarakat untuk bertahan di masa pandemi, masyarakat akan jatuh ke hal-hal negatif seperti rentenir atau pinjaman online.
"Maka perlu skema-skema pinjaman menggunakan aset, namun dalam waktu tertentu aset mereka harus kembali. Jangan sampai mereka sudah kesusahan, justru harus kehilangan aset untuk bertahan," paparnya.
Menurut hemat Hamid Abidin, bantuan sosial yang diberikan oleh pemerintah belum optimal, bahkan terkesan tumpang tindih. Ia berharap ada pengembangan data terpadu sehingga pemerintah bersama lembaga filantropi bisa melakukan pembagian peran untuk membantu masyarakat.
Ia mengusulkan agar pemerintah fokus pada kebutuhan dasar masyarakat, sementara lembaga filantropi di luar negara fokus pada pemberdayaan keluarga. Bagaimanapun, imbuhnya, pemenuhan kebutuhan dasar adalah tugas utama pemerintah.
Di sisi lain, hal yang positif di tengah badai pandemi adalah kemauan berderma masyarakat masih cukup tinggi. Temuan riset Lazismu ini juga relevan dengan temuan riset-riset lembaga lain. Indonesia menjadi negara paling dermawan sedunia.
"Covid tidak berdampak pada kegiatan sumbangan. Yang berdampak hanya pada jumlahnya, itu wajar karena tingkat ekonomi juga menurun," imbuh Hamid.
Hal ini sejalan dengan sikap masyarakat untuk membantu pasien covid-19 yang cukup tinggi.
Perubahan juga terjadi pada skema berderma. Di masa pandemi, masyarakat berderma melalui skema digital. Skema konvensional secara pelan-pelan mulai ditinggalkan. Maka, hal ini harus ditangkap oleh lembaga filantropi. Ia berpesan agar lembaga filantropi bisa ikut bergeser ke fundraising berbasis digital.
Reporter : Yusuf

Hal tersebut disampaikan oleh Sekretaris PWM Jawa Tengah, Wahyudi, Senin (28/6). Menurutnya, selain pandemi, Indonesia juga negara yang rawan bencana alam. Sehingga korban bencana harus dibantu dengan makanan yang awet seperti Kaleng Rendangmu.
"Pandemi ini tidak bisa kita prediksi kapan akan berakhir. Kita tidak tahu. Maka ketahanan pangan itu sangat penting. Program Rendangmu perlu ditata dengan baik," pesannya.
Ia menyebut PWM Jawa Tengah bersama Lazismu Jawa Tengah mentargetkan pengumpulan dana qurban hingga 4 miliar rupiah. Angka ini setara dengan sekitar 200 ekor sapi.
Wahyudi menjelaskan bahwa dengan Rendangmu, daging qurban tidak akan langsung habis dalam waktu tiga hari. Namun dapat dimanfaatkan hingga waktu dua tahun melalui program Rendangmu. Ia meminta seluruh warga Muhammadiyah mendukung program ini.
“Ini adalah salah satu alternatif untuk ketahanan pangan. Marilah kita sengkuyung secara bersama program Rendangmu. Kita bantu masyarakat dengan qurban melalui Lazismu. Ini bukan hanya kepentingan Muhammadiyah, tapi juga masyarakat umum untuk ketahanan pangan," imbuhnya.
Menurutnya, pengemasan daging Rendangmu dengan kaleng sangat higenis sehingga tidak ada bakteri. Berbeda ketika daging qurban dikemas dengan plastik sebagaimana yang dilakukan masyarakat pada umumnya. Ia menyebut Rendangmu akan sangat bermanfaat jika sewaktu-waktu terjadi bencana, baik bencana alam maupun non alam.
Hal yang sama disampaikan oleh Ketua PWM Jawa Tengah, KH. Drs. Tafsir, M.Ag. Tafsir, dalam launching Program Rendangmu (24/6) mengajak seluruh masyarakat, warga persyarikatan, dan AUM untuk ikut mensukseskan program qurban Rendangmu.
“Melalui qurban Rendangmu yang tahun ini memiliki target 4 M, saya mengajak seluruh masyarakat Jawa Tengah, warga persyarikatan dan AUM untuk ikut mensukseskan program ini. Karena produk ini tidak saja syar’i, tapi higienis dan humanis. Kemanfaatannya jauh lebih besar dibanding qurban yang biasa kita lakukan di masjid," ujarnya.
Reporter : Yusuf

Kebijakan ini disertai penegakan hukum yang tidak tebang pilih, penindakan tegas kepada para penyebar informasi yang menyesatkan (hoax/disinformasi) dan jaminan sosial bagi warga terdampak secara ekonomi selama PSBB tersebut diberlakukan.
Situasi terkini pandemi Covid-19 di Indonesia, berdasarkan data pemerintah melalui website Covid19.go.id, mengalami peningkatan penambahan kasus per hari yang sangat tinggi.
Pada tanggal 27 Juni 2021, kasus covid-19 mencapai 21.342 per hari yang tersebar di 33 provinsi. Sehingga total pasien yang terjangkit virus corona di Indonesia kini mencapai 2.115.304 orang, terhitung sejak kasus pertama diumumkan pada 2 Maret tahun lalu. Angka positif rate juga mengalami peningkatan tajam menjadi >20% pada 16 provinsi di Indonesia.
Lima provinsi dengan kenaikan tertinggi antara lain DKI Jakarta (9.394 kasus baru), Jawa Barat (3.988 kasus baru), Jawa Tengah (2.288 kasus baru), Jawa Timur (889 kasus baru), dan DIY (830 kasus baru).
Peningkatan jumlah kasus secara tajam mengakibatkan risiko kolapsnya fasilitas layanan kesehatan di Indonesia, kurangnya jumlah tenaga kesehatan, dan kurangnya suplai logistik medis seperti oxigen, alat pengaman diri (APD) berserta obat-obatan yang diperlukan.
Bed Occupancy Rate (BOR) rumah sakit untuk pasien covid sudah mencapai >90% di sejumlah daerah. Sementara fasilitas isolasi mandiri (komunal/pribadi) diluar fasyankes yang layak masih sangat terbatas.
Keterbatasan fasilitas isolasi mandiri ini menyebabkan banyaknya angka kunjungan ke rumah sakit dan menyebabkan rumah sakit tidak mampu menampung dan merawat pasien secara optimal. Banyak pasien harus menunggu di IGD dan bahkan banyak yang tidak bisa mendapat perawatan di rumah sakit karena rumah sakit sudah tidak bisa lagi menerima pasien covid.
Atas dasar fakta-fakta tersebut, MCCC PP Muhammadiyah merekomendasikan tiga hal, yaitu :
Reporter : Yusuf

Khitan masal tersebut dilaksanakan selama 10 hari berturut-turut, dimulai pada hari ini, Senin (28/6) hingga 10 hari ke depan. Peserta khitan per hari dibatasi hanya 2 anak. Pelaksanaan dibatasi agar tidak menimbulkan kerumunan sehingga tidak melanggar protokol kesehatan.
Direktur Lazismu Nganjuk Amar Ikhsan Rosyidi menyebut bahwa khitan dilaksanakan setiap pukul 7 pagi hingga pukul 9 pagi, dengan total peserta khitan 20 anak.
"Angka covid-19 masih sangat tinggi. Jadi kita perketat protokol kesehatan. Maka per hari kita batasi 2 anak saja," ujarnya.
Khitan tersebut dilaksanakan secara gratis, atas kerja sama antara Lazismu Nganjuk dengan Masjid Al-Muthmainnah. Sebelumnya, Lazismu juga bekerja sama dengan masjid tersebut dalam penggalangan dana untuk Palestina.
"Pesertanya bebas. Tidak harus fakir miskin atau anak-anak tertentu. Tapi siapapun kalau mau khitan, kita gratiskan di program ini," ujar Amar.
Peserta juga tidak hanya diikuti oleh anak-anak di sekitar masjid. Namun diikuti oleh anak-anak dari berbagai daerah.
Menurut Amar, khitan dilaksanakan dalam rangka mengenalkan syiar Islam ke anak-anak sejak usia dini. Pihaknya berharap pasca khitan, anak-anak tersebut mulai mau untuk mengenal masjid dan mengenal agama secara lebih mendalam.
"Untuk mempermudah anak-anak dan orang tua yang ingin mengkhitankan anak-anaknya. Ini juga bisa meningkatkan anak-anak di zaman modern seperti ini. Setelah ini semoga lebih rajin ngaji dan rajin ke masjid," tutupnya.
Reporter : Yusuf

