

Purwokerto – LAZISMU. Lembaga Amil Zakat Infak dan Sedekah Muhammadiyah (Lazismu) Banyumas menggelar Rapat Kerja Daerah (Rakerda) bersama seluruh Kantor Layanan Lazismu se-Kabupaten Banyumas. Kegiatan tersebut dilaksanakan di Aula AK Anshori Universitas Muhammadiyah Purwokerto dengan mengusung tema ”Peningkatan pelayanan ZISKA satu atap menuju Lazismu Banyumas Berkemajuan”. Pada kegiatan tersebut juga dilaksanakan pelatihan aplikasi pelayanan ZISKA secara online. (17/3/2018)
Sebagai upaya meningkatkan pemahaman bersama tentang konsep ZISKA secara satu atap dan kemudahan pelayanan, Lazismu menyelenggarakan rapat kerja daerah. Rapat itu dihadiri oleh 130 amil dari kantor layanan yang meliputi cabang, ranting, dan amal usaha muhammadiyah di Kabupaten Banyumas. Dalam kegiatan tersebut disampaikan materi tentang konsep ZISKA satu atap oleh Dr. H. Ibnu Hasan, M.Si, Fikih Amilin oleh Drs. H. Sujiman, MA, Regulasi dan Program Kerja oleh Sabar Waluyo, SE, serta pelatihan pelayanan ZISKA secara online oleh Ardian Webi Kirda, S.Kom.
Dalam pembukaan rapat kerja, Fany Ariska selaku ketua panitia menyampaikan apresiasi tinggi kepada seluruh amil Lazismu di Banyumas yang semangat sehingga menjadi modal awal bagi Lazismu menuju amil profesional di Indonesia.
Materi pertama disampaikan oleh ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Banyumas mengenai konsep ZISKA. Ibnu Hasan menyampaikan pentingnya layanan satu atap ini agar dana di Muhammadiyah tidak bercecer sehingga potensi umat dapat terlihat. ”Lazismu sebagai urat nadi persyarikatan harus mengelola dana itu secara satu atap dan Masjid sebagai basis dari gerakannya ” ujar Ibnu Hasan. Layanan ZISKA satu atap melalui gerakan jamaah dakwah jamaah adalah konsep yang tengah dijalankan serius oleh PDM Banyumas sebelum musyawarah daerah 2020 yang bersinergi dengan Lazismu Banyumas.
Materi kedua disampaikan oleh Ketua Badan Pengurus Lazismu Banyumas tentang Fikih Amilin. Sujiman menjelaskan secara menyeluruh mengenai Fikih Amil yang meliputi pengertian, syarat, bagian, tugas, dan paradigma amil. Ia menyampaikan bahwa seorang amil harus cerdas dan berkompeten dalam menghimpun dan mendayagunakan dana ZIS.
Materi ketiga disampaikan oleh Direktur Lazismu Banyumas, Sabar Waluyo yang membahas tentang regulasi dan program kerja. Menurutnya Lazismu harus menjadi lembaga zakat yang tertib administrasi serta mampu melaporkan sebagai wujud akuntabilitasnnya. Semua itu dapat dicapai dengan tertibnya admisnistarsi serta legalitas resmi kantor layanan Lazismu di Banyumas.
Materi terakhir adalah pelatihan aplikasi software pelayanan ZISKA yang disampaikan oleh Ardian Webi Kirda. Pelatihan tersebut dilaksankan di ruang cerdas Gedung Fakultas Teknik UMP yang dibagi menjadi dua sesi. Dalam pelatihan tersebut diajarkan oleh Ardian selaku ahli Infprmation and Technology Lazismu Banyumas mengenai pelanyanan penghimpunan ZISKA secara online. Semua kantor layanan yang sudah membuka rekening untuk layanan satu atap sangat mudah menggunkan aplikasi ini yang telah terhubung melalui web lazismubanyumas.org. Tujuan pelatihan ini sebagai kemudahan dalam menghimpun dan melaporkan dana ZISKA bagi kantor layanan.
Semua peserta mengikuti jalannya rapat kerja dengan penuh antusias sampai dengan selesai. Semoga dengan suksesnya rapat kerja ini menjadi kepahaman bersama layanan satu atap oleh seluruh kantor layanan sebagai upaya menuju Lazismu Banyumas yang profesional, akuntabel, dan canggih. (hb)

Surabaya – LAZISMU. Sahabat disabilitas dan warga penderita penyakit berat yang membutuhkan alat bantu gerak mendapat bantuan dari program 1000 kursi roda oleh Lazismu. Sabtu pagi, 17 Maret 2018, bertempat di Kantor Lazismu Jl. Wuni 9 Surabaya telah diberikan 4 kursi roda kepada penyandang disabilitas.
Salah satu penerimanya adalah Cinta Aulia, putri pertama pasangan Agus Supriyadi dan Wasilah, warga Jl. Kunti I/29 Surabaya. Gadis cilik yang menerima bantuan kursi roda dari Lazismu Surabaya ini penyandang disabilitas sejak lahir. Ia tidak bisa berjalan dan harus dibantu dengan kursi roda agar bergerak untuk beraktifitas.
“Semoga bantuan kursi roda ini dapat membantu perkembangan anak saya sehingga bisa kembali normal seperti anak usia dini lainnya. Terima kasih kepada seluruh donatur yang memercayakan ZIS-nya melalui Lazismu” kata Wasilah dengan penuh rasa syukur..
Menurut Ketua Lazismu Surabaya, Sunarko, penyerahan kursi roda berlangsung penuh kekeluargaan dengan bahagia. Di akhir acara suasana akrab berlangsung dengan makan bersama antara penerima bantuan dengan para pengurus dan relawan Lazismu Surabaya.
Door to Door Serahkan Kursi Roda
Di tempat berbeda, penyerahan bantuan kursi roda juga berlangsung di rumah warga yang membutuhkan. Seperti penyerahan bantuan kursi roda yang dananya dari para donatur kepada Syaiful Bahri (70) warga Jl. Kedung Klinter,Gg VII No. 9 Surabaya diserahkan langsung ke rumahnya.
Ketika berbincang dengan istri Syaiful Bahri, Sumarlich (69) diketahui bahwa suaminya telah lama menderita sakit paru-paru dan jantung hingga kakinya bengkak dan sulit untuk bisa berjalan normal. Sehingga harus memakai bantuan kursi roda.
“Suami saya sudah lama menderita penyakit paru dan jantung sampai kedua kakinya bengkak dan tidak bisa berjalan normal. Saya bersyukur Lazismu berkenan bantu suami, ini memudahkan untuk berobat dan kontrol ke RS Dr. Sutomo.,” katanya.
Berangkat dari keluhan penyakitnya itu, maka kebutuhan kursi roda dianggap penting oleh Lazismu bila penerima manfaat pergi berobat ke RS Dr. Soetomo yang setiap hari harus antre saat menunggu di ruang daftar dan tindakan. Oleh karena itu, Yuda Utami, putri Syaiful, mengajukan ke PSM kelurahan Kedungdoro, Syaiful kemudian dibantu mengajukan bantuan kursi roda ke Lazismu Surabaya.
Pada Sabtu, 17 Maret 2018 ini bantuan kursi roda diserahkan ke Syaiful Bahri bersama sang istrinya yang tinggal di rumah petak ukuran 3 x 6 meter yang terkesan kumuh dan masuk ke kampung gang kecil. Namun Syaiful bersyukur rumah petak itu adalah milik sendiri sehingga tidak mengeluarkan biaya untuk sewa kontrakan.
Keluarga Syaiful merasa bahagia bisa menempati rumah itu. Syaiful memiliki 3 anak putri. Yuda Utami yang tinggal di kampung itu meski berbeda rumah bertugas mengawasi kedua orangtuanya yang sudah tua dan sakit-sakitan dibantu adiknya Yuli. Sementara putri ketiganya tinggal di Sumatera. (ad/tz/hk)

Sragen – LAZISMU. Sebuah mini bus berhenti di halaman parkir Resto Ayam Geprek Sambel Korek Cantel di Jalan Jenderal Ahmad Yani No.76, Sragen Kulon, Sragen. Satu per satu penumpang turun dari mini bus. Mereka adalah peserta santunan anak yatim yang diadakan Lazismu Sragen bersama Resto Ayam Geprek Cantel.
Kegiatan itu dilaksanakan, Sabtu, 10 Maret 2018 pukul 14.00 wib. Kegiatan santunan seperti ini diselenggarakan Lazismu Sragen rutin setiap dua pekan sekali. Setiap kegiatan, dipilih satu kecamatan dari 20 Kecamatan yang ada di Sragen secara bergilir. Bersyukur, anak yatim dari Kecamatan Sambirejo terpilih untuk menghadiri kegiatan santunan itu.
Kegiatan itu dihadiri 20 anak yatim, lima pendamping dan Tantinah, pengurus Kantor Layanan Sambirejo lazismu Sragen. Rintik hujan tak menghalangi acara. Dengan penuh riang, antusias para anak yatim dipandu Tommy Arsaputra, staf program Lazismu Sragen. Ketika doa bersama, seorang anak yatim berdoa dengan khidmat. “Aamiin”, ucap anak itu dengan suara lirih.
Adalah Dimas Aji Pangestu. Anak kedua dari pasangan suami-istri Ngatiyo, seorang kuli bangunan dan Hartini, buruh tani. Kakaknya, Didit yang merupakan saudara kandung satu-satunya Dimas sudah empat tahun lamanya merantau ke Jakarta mengadu nasib.
Siswa kelas 2 SMP N 1 Sambirejo itu saat ini tinggal di rumah budenya, Warsini di daerah Tegalrejo, RT 23, Kadipiro, Sambire. Sudah dua tahun lamanya kedua orangtuanya wafat karena tenggelam di Sungai Kedunglaras dekat tempat tinggalnya. Saat itu, mereka berada di pinggiran sungai, tiba-tiba arus deras menerjang dari arah hulu sungai. Orangtuanya tak sempat menyelamatkan diri, hingga terseret arus.
Warga sekitar langsung berusaha menyelamatkan mereka tapi sayang saat ditemukan tubuh mereka sudah terbujur kaku tidak bernyawa lagi. Orangtua Dimas meninggal ketika ia akan melanjutakan ke SMP. Meski kesedihan menyelimuti dirinya, dia pantang mundur tetap semangat bersekolah. Bahkan berjanji akan lebih giat belajar untuk meraih cita-citanya.
Kegiatan santunan anak yatim ditutup dengan pemberian santunan berupa bingkisan peralatan sekolah dan santunan tunai. Santunan diberikan Tommy dan salah satu karyawan Resto Ayam Geprek, Vian. Anak-anak yatim itu senang sekali bisa menghadiri kegiatan tersebut. Acara berjalan lancar, Semoga santunan anak yatim ini bermanfaat untuk mereka dan apa yang mereka cita-citakan tercapai. (ls)
Mari bantu program Santunan Anak Yatim Lazismu Sragen dengan menyalurkan zakat, infak dan sedekah anda melalui Lazismu. Hubungi kami di 085100000098, atau transfer a.n lazismu sragen
Bank BNI Syariah 0-2019-144-16
Bank Jateng Syariah 60-42000-240
Bank Syariah Mandiri 713-3000-008
Bank Muamalat 527-0005-200
dapat juga datang langsung ke kantor layanan kami di Jl. Yos Sudarso No. 6 Kutorejo, Sragen

Gresik – LAZISMU. Tani Bangkit sebagai program pemberdayaan masyarakat tidak hanya menyasar bidang pertanian. Di bidang perikanan dan pertambakan memiliki peluang yang sama untuk dikembangkan. Lazismu bersama Majelis Lingkungan Hidup (MLH), Majelis Pemberdayaan Masyarakat (MPM) Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) dan Pemuda Muhammadiyah Kabupaten Gresik memfasiltasi pemberdayaan petani lewat tebar benih udang.
Dilaksanakan pada Sabtu pagi, 17 Maret 2018, tebar benih udang windu di desa Kramat Kecamatan Duduksampeyan, Gresik berjalan sukses. Aktivitas ini dilaksanakan di salah satu lahan wakaf Muhammadiyah yang ada di desa itu. Benih yang ditanam adalah udang windu, sejumlah 10 rean (50.000 ekor).
Sekretaris Lazismu Gresik, Kemas Rizal, Program Tani Bangkit ini tidak hanya menyasar ke bidang pertanian tanaman pangan namun juga ke perikanan, khususnya pertambakan.
Diharapkan dalam 3 bulan ke depan udang sudah sudah dapat dipanen, dengan prediksi hasil 3 – 4 kwintal, pada lahan seluas 0.8 Ha. “Hasil normalnya sekitar 1 kwintal, namun dalam penanaman ini bisa mencapai 300% karena sistem tanam yang dikelola sebelum masa panen dilakukan pemeliharaan dan perawatan secara khusus,” kata Kemas.
Dengan modal awal Rp 6 juta nantinya jika dipanen, udang bisa dijual dengan harga Rp 125.000 per-kilogram. “Hasil panen udang setelah dibagi dengan petambak, akan digunakan untuk pengembangan dakwah Islam melalui Pimpinan Ranting Muhammadiyah (PRM) Kramat, Duduksampeyan dan juga untuk tebar benih kedua,” pungkasnya.
Program ini bertujuan tidak hanya untuk mendapatkan dana dakwah namun juga memberikan edukasi kepada masyarakat agar bisa membudidayakan udang yang didukung dengan benih berkualitas dan pemeliharaan yang baik sehingga dapat menghasilkan panen terbaik bagi kesejahteraan warga. (ad/kms)

Lhokseumawe – LAZISMU. Panti Asuhan dan anak-anak dalam Muhammadiyah tidak bisa dilepaskan dalam program pemberdayaan dan pendidikan. Termasuk peran penting lembaga amil zakat untuk mendukung keberadaannya untuk menyiapkan kapasitas anak-anak panti asuhan.
Karena itu, revitalisasi panti asuhan mendapat perhatian serius dari Lazismu. Hal itu, diwujudkan dengan meluncurkan program di Panti Asuhan Muhammadiyah Lhokseumawe, yang bekerjasama dengan Majelis Pelayanan Sosial (MPS) Muhammadiyah.
Peluncuran program tersebut ditandai dengan pemotongan pita ruang belajar oleh Ketua Lazismu Pusat, Hilman Latief, di Panti Asuhan Muhammadiyah Lhokseumawe (18/3/2018). Ketua Lazismu Lhokseumawe, Farhan Zuhri, mengatakan, “Program yang diluncurkan hari ini bersifat pengembangan, baik pendidikan maupun keterampilan untuk masa depan anak-anak panti asuhan,” kata Farhan.
Program ini diberi nama CCI (Child Center Indonesia) yang sebelumnya telah di perkenalkan oleh Lazismu Pusat untuk mendukung revitalisasi panti asuhan atau anak jalanan, lanjutnya.
Sementara itu, Ketua Majelis Pelayanan Sosial Pimpinan Daerah Muhammadiyah Lhokseumawe, Sulaiman Ali, optimis dengan program CCI bersama Lazismu, ada upaya memberikan yang terbaik bagi Panti Asuhan Muhammadiyah Lhokseumawe. “Kelak ketika mereka telah keluar dari panti asuhan, mereka bisa berdaya meraih kesuksesan,” ungkapnya.
Sulaiman menambahkan melalui program ini juga, mereka akan dilatih cakap berbahasa asing terutama bahasa Arab dan Inggris. Kegiatan ini sebagai ikhtiar meningkatkan kapasitas diri serta menguatkan kemampuan. “Pola asuh yang baik bisa diberikan dengan menyiapkan ruang belajar dan perpustakaan sehingga ada komunikasi antara pendamping dan anak asuh,” tutupnya. (zh)

Jakarta – LAZISMU. Dalam gerakan zakat, fundraising berperan penting untuk membangun suatu program yang direncanakan agar program pemberdayaan dan penyaluran zakat berjalan optimal. Di samping itu, lembaga amil zakat juga harus berperan dalam melakukan kerja-kerja fundraising ketika bulan Ramadan dan hari raya kurban.
Semua itu memerlukan perencanaan fundraising yang matang. Termasuk efektifitas fundraising yang dijalankan oleh fundraiser sebagai ujung tombak. Karena itu, pendidikan dan pelatihan fundraising sangat dibutuhkan agar amil-amil zakat memiliki kecakapan dan wawasan tentang perkembangan dunia fundraising yang semakin berkembang di era digital.
Untuk mewujudkannya lembaga amil zakat nasional (Lazismu) menyelenggarakan workshop fundraising yang diikuti oleh Lazismu seluruh Indonesia. Tema Workshop itu bertajuk “Meraih Sukses Fundraising Ramadhan dan Kurban” yang berlangsung di Jakarta, Selasa-Rabu (20-21 Maret) 2018.
Para amil yang hadir sebagai peserta memiliki latarbelakang pengalaman yang berbeda-beda, begitu juga dengan perkembangan zakat di daerahnya masing-masing menjadi tantangan tersendiri.
Adapun narasumber yang mengisi workshop didatangkan dari Institute Fundraising Indonesia (IFI) sebagai mitra Lazismu. Di antaranya Hilman Latief Dirut Lazismu, Abdul Ghofur Dirut Mandiri Amal Insani, Arifin Purwakananta Deputi Baznas, dan Arlina F Saliman selaku Dirut IFI. Sementara Urip Budiarto, General Fundraising Dompet Dhuafa menambah semarak workshop dengan materinya yang menantang. Meski di hari pertama, tantangan digital fundraising disajikan lebih awal dengan menghadirkan Fahri Amirullah dari Kitabisa.com.
Fahri Amrillah, mengatakan kekuatan fundraising digital ada dalam kisah cerita yang kuat. Karena itu, diawal cerita harus cepat menggunggah orang yang membacanya. “Dengan begitu, orang akan melakukan donasi setekah membaca, karena langsung tersentuh,” paparnya.
Dalam kesempatan berbeda, Deputi Baznas, Arifin Purwakananta menuturkan, di era revolusi industri tahap 4.0, integrasi marketing dan fundraising harus seirama. Kekuatan sosial media adalah sarana untuk berdonasi. “Di dalamnya ada interaksi untuk mendorong pengguna sosial media agar berdonasi,” sambungnya.
Bagi Urip Budiarto, selain efektivitas fundraising, upaya melayani muzaki penting dilakukan. Menurutnya, komunikasi yang baik antara fundraising dan muzaki baik personal maupun korporat sangat menentukan untuk meraih simpati agar dapat tergerak untuk melakukan donasi.
Hal senada dikatakan Abdul Ghofur, hanya saja ia menekankan peran penting perencanaan marketing yang terukur. Sehingga target-target yang sudah direncanakan dapat dievaluasi, pungkasnya.
Di sesi terkahir, Arlina F. Saliman memberikan materi strategi membuka peluang kerjasama dengan korporasi. Untuk itu, menurut Arlina, amil yang juga seorang fundraising harus bisa memetakan korporasi-korporasi yang bisa punya peluang untuk diajak kerjasama.
“Harus ada lompatan strategi dan gagasan sehingga seorang fundraiser mampu melakukan komunikasi dengan korporasi dengan penuh percaya diri. Tidak mudah menyerah dan kecewa, karena harus bisa diperhitungkan,” tuturnya.
Para amil Lazismu ini, juga mendapat tugas dari Arlina untuk membuat sebuah simulasi program fundraising selama bulan Ramadan. Tujuan simulasi ini, untuk memberikan cara pandang baru bagaimana seorang fundraiser itu bekerja dengan penuh tantangan. (na)

