

Jakarta – LAZISMU. Wacana zakat bagi aparatur sipil negara (ASN) terus bergulir dan menjadi polemik. Pertama kali wacana itu diungkapkan oleh Menteri Agama Lukman Hakim Saefuddin di Kompleks Istana Presiden Jakarta, Senin (5/2/2018) rencananya melalui peraturan presiden (Perpres).
Meski masih berupa imbauan, wacana ini terlanjur diperdebatkan. Menteri Agama mengatakan, potensi zakat di Indonesia sangat besar. Karena itu, optimalisasi penggunaan zakat perlu dimaksimalkan, pemerintah berupaya menyorot sektor zakat yang nantinya dikelola dan dimanfaatkan oleh Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS).
Dengan demikian, melalui potensi yang besar itu, akan ada penerima manfaat yang lebih banyak dari masyarakat, kata Lukman. Teknisnya masih didalami, pemerintah sedang berupaya membantu umat Islam untuk menyalurkan zakatnya yang dicanangkan oleh Kementerian Agama.
Hentikan Polemik
Perihal itu, lembaga amil zakat (LAZ) nasional dari ormas Islam merespons wacana tersebut. LAZ berbasis ormas Islam ini telah terdaftar dalam Kementerian Agama. Di antaranya Lazismu, NU-CARE-Lazisnu, Pusat Zakat Umat Persis, LAZ BMH, LAZ DDII, dan LAZ Wahdah Islamiyah.
Dalam jumpa pers-nya seluruh LAZ ormas Islam ini membentuk Perkumpulan Organisasi Pengelola Zakat (POROZ) yang langsung diresmikan, Jumat (9/2/2018) setelah rapat bersama untuk menyatakan beberapa hal berkenaan dengan polemik yang mengemuka.
POROZ mengapresiasi langkah pemerintah atas kepeduliannya dalam perkembangan zakat di Indonesia, kata Angga Nugraha, dari LAZ Persis ketika membaca pernyataan sikap yang disampaikan kepada media, di Gedung Pusat Dakwah PP Muhammadiyah, Jakarta.
Selain itu, POROZ juga mendorong pemerintah agar melibatkan masyarakat (LAZ Ormas) dalam merumuskan peta jalan (roadmap) dan regulasi zakat di Indonesia, seperti munculnya wacana pemotongan zakat ASN,” jelasnya.
Pada prinsipnya, peran pemerintah dalam sosialisasi dan edukasi tentang pentingnya berzakat juga perlu ditingkatkan. POROZ menilai langkah edukasi zakat kepada umat Islam merupakan langkah nyata. Namun, POROZ meminta pemerintah segera menghentikan sementara wacana dan polemik zakat ASN.
Dalam kesempatan yang sama, Direktur Utama NU-CARE Lazisnu, Syamsul Huda menuturkan wacana tentang pemotongan gaji ASN untuk zakat segera dihentikan. “Demi menghindari munculnya polemik di masyarakat,” paparnya. Sebagai langkah lain, pemerintah perlu mengajak diskusi lembaga zakat nasional yang juga berperan penting dalam penyaluran zakat.
Sementara itu, Badan Pengurus Lazismu, Rizaludin Kurniawan mengatakan, pemerintah seharusnya dapat memberikan edukasi kepada masyarakat sebelum menyosialisasikan tentang Zakat ASN. Dalam penilaiannya, zakat merupakan ibadah maka perlu dihindari wacana yang belum jelas kepastiannya yang menimbulkan polemik.
Sebelumnya, pada 2016, Lazismu – NU-CARE Lazisnu, pernah meminta pemerintah melakukan penataan tata kelola zakat, yang tercantum dalam UU No. 23 Tahun 2011, terutama pasal 22 dan 23. Dikarenakan umat Islam Indonesia masih memiliki dua beban, zakat dan pajak. Dua LAZ ormas Islam ini mendorong pemerintah untuk merevisi agar zakat itu sebagai pengurang pajak. (na)

Banjabaru – LAZISMU. Siang itu, sebelum waktu dzuhur, (6/3/2018), Anna Dharta baru sampai ke rumahnya di Perum Griya Caraka, Loktabat Utara, Kota Banjarbaru. Dari pagi sampai siang dia mengantar pesanan kue serta cemilan di beberapa sekolah di sekitaran Kota Banjarbaru.
Anna merupakan mualaf binaan Lazismu Banjarbaru berkolaborasi dengan Mualaf Center Regional Kalsel. Terhitung setelah 3 bulan bantuan itu disalurkan, sekarang dia sudah menjadi donatur tetap, baru 2 bulan berjalan.
“Saat ini di Lazismu Banjarbaru telah hadir mustahik yang berdaya menjadi donatur,” ujar Ginanjar, Divisi Pengembangan Program & fundraising Lazismu Banjarbaru. Dalam 2 bulan ini infak bulanan dan donasi dari keuntungan yang terjual, rata-rata sebesar Rp 200 ribu.
“Usaha kami dibantu Lazismu Banjarbaru, sekarang giliran kami yang berbuat untuk Lazismu,” ungkap Anna, mualaf berdarah Indo-Pakistan itu. Dia mengharapkan ke depannya bisa membantu saudara-saudara mualaf yang lain untuk bersama-sama mengembangkan usahanya.
Selain usaha produksi brownies varian rasa, Anna sekarang mengembangkan usaha nasi kotak dan aneka kue kemasan kotak. Bahkan selain pangsa pasar sekolahan dan individu sekitar rumah, sebagian pelanggan dari perusahaan BUMN.
Pada bulan ini, ia berhasil mengumpulkan infak sebesar Rp 234.100,-. Ia juga mengatakan akan memotivasi teman-teman mualaf yang lain untuk berinfaq melalui Lazismu Banjarbaru. (lb)

Semarang – LAZISMU. Geliat Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) di Semarang semakin terasa. Hari Minggu (18/2/2018) bertempat di rumah makan Soto Sedeep Banyumanik, 85 orang pelaku UMKM menghadiri pelatihan kewirausahaan dengan tajuk “Cara Berkah Hidup Melimpah.” Acara diselenggarakan oleh Lazismu Kota Semarang, Kantor Layanan Banyumanik bersama BPR Syariah Asaba, menghadirkan dua narasumber, dosen dan motivator dari UNNES , Rohani, SPd, MA, dan wirausahawan Raja Keripik Semarang, Nur Sodiq.
Dalam paparannya, Rohani yang juga pembina Lembaga Pendidikan Kampung Inggris, Semarang menyampaikan, dalam mencapai hidup melimpah dengan cara yang berkah, ada beberapa tahapan yang harus dilakukan, yakni meluruskan keyakinan, menata diri, melakukan usaha bumi, dan melakukan usaha langit.
Keyakinan yang keliru bisa mengakibatkan orang tidak bersemangat dalam menjalankan usaha. Misalnya, orang yang meyakini menjadi miskin atau kaya itu tergantung dari garis keturunan, dia cenderung akan lemah dalam berusaha. Keyakinan semacam itu harus diluruskan. Menata diri membangun sifat yang baik. Salah satu sifat baik yang harus dimiliki wirausahawan adalah sifat bisa dipercaya. Usaha bumi adalah tindakan profesional yang mendatangkan manfaat bagi orang lain (customer). Sedangkan usaha langit adalah perbuatan untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT Maha Pemberi Rizki.
Sementara itu, Nur Sodiq menguraikan perjuangannya membangun bisnis di bidang makanan ringan dari nol. Di balik keberhasilannya, banyak suka duka yang harus dilewati. Mendatangkan bahan, memproduksi, memasarkan, mendistribusikan, harus dilakukan semuanya. Dalam perjalanan waktu, Ia berhasil menjadi pemasok keripik terpercaya di salah satu koperasi institusi militer. Ia mendapat kehormatan diundang saat RAT koperasi tersebut.
Pimpinan koperasi menyerahkan surat kepada Cak Nur, sapaan akrab dia, “Titip surat undangan RAT untuk bosmu mas,” katanya tanpa menyadari kalau bos yang dimaksud adalah orang yang dia titipi surat itu. Itulah wujud pelayanan total yang dicontohkan oleh Cak Nur, sehingga pelanggan pun tidak sempat mengenali pribadi dia.
Seluruh peserta antusias mengikuti acara sampai paripurna. Heru Rusdiana, seorang wirausahawan warung makan dari Pudak Payung mengungkapkan kesannya, “Saya termotivasi untuk memperbaharui dan membenahi sistem manajemen dan cara kerja warung makan saya.”
Salah satu kiat yang diberikan Cak Nur, usaha adalah melatih kesabaran. Banyak pengusaha pemula yang bimbang menghadapi permasalahan, seperti yang pernah dia hadapi di masa lalu. Kunci suksesnya kesabaran, tidak goyah karena rintangan, terus bersemangat dan tidak berhenti belajar. Cak Nur menyadari hal itu tidak mudah bagi pemula, untuk itu dia bersama wirausahawan muslim di Semarang giat membantu pelaku UMKM untuk maju melalui berbagai program pelatihan dan pendampingan, bersama LAZISMU & Asaba. (hz)

Jakarta – LAZISMU. Bertempat di kantor MUI Pusat, hari ini ditandatangani kerjasama antara Baznas dengan lima lembaga zakat berbasis ormas Islam (19/2/2018). Inilah babak baru kolaborasi antara Baznas dengan organisasi pengelola zakat yang bergabung dalam Poroz.
Prof Bambang Sudibyo, ketua Baznas, menyampaikan rasa gembiranya bisa menjalin kerjasama dengan lembaga zakat berbasis ormas Islam.
“Semangat undang-undang perzakatan adalah mengutamakan LAZ milik ormas Islam,” kata Bambang.
LAZ berbasis ormas Islam, lanjut Bambang, merupakan partner strategis bagi Baznas. Sebab, LAZ inilah yang memiliki jaringan sampai desa-desa. Dengan jaringan yang sangat luas, program penghimpunan dan pendistribusian bisa dilakukan dengan efektif.
“Baznas tidak mungkin bisa menyalurkan zakat, infak dan sedekah sendirian. Baznas harus menggandeng banyak pihak. Di situlah peran penting LAZ berbasis ormas Islam,” papar Bambang.
Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Prof Dr Makruf Amin, dalam sambutannya menyampaikan apresiasi yang tinggi terkait kerjasama tersebut. “MUI ingin agar kelembagaan zakat bisa diatur dengan baik. Jangan ada benturan,” kata Makruf.
Lima lembaga zakat berbasis ormas Islam yang bekerjasama dengan Baznas adalah: Lazisnu (Nahdlatul Ulama), Lazismu (Muhammadiyah), Laz Dewan Dakwah (DDII), BMH (Hidayatullah), Laz Wahdah Islamiyah (Wahdah Islamiyah). (jt)

Yogyakarta – LAZISMU. Dalam rangka meningkatkan kualitas, kapabilitas dan pelayanan yang baik sehingga menjadikan Amil profesional maka Lazismu DIY dalam mendorong dan memfasilitasi untuk menjadikan Amil profesional mengadakan Sekolah Amil ke 2.
Sekolah amil tersebut merupakan tindak lanjut dari sekolah amil ke 1 yang diadakan oleh lazismu Kantor Layanan Piyungan. Dalam sekolah amil ke 2 ini (Sabtu 17 Februari 2018) akan membahas standarisasi kantor layanan dan sistem keuangan yang disampaikan oleh Sabar Waluyo, S.E Manager Lazismu Banyumas.
Adanya sekolah amil ke 2 ini juga melihat kebutuhan dari lazismu khususnya di DIY yang semakin berkembang, dimana juga merupakan inisiasi dari beberpa kantor layanan untuk membuat standarisasi kantor layanan dan sistem keuangan yang memang belum dimiliki oleh lazismu di DIY.
Menurut Jefree Fahana, S.T. M.Kom selaku sekretaris lazismu wilayah DIY setelah adanya sekolah amil ini selanjutnya akan membentuk tim yang juga melibatkan beberapa kantor layanan untuk merumuskan Standarisasi operasional Kantor layanan untuk lazismu se- DIY.
Selain itu, Cahyono S.Ag ketua Lazismu Wilayah DIY menambahkan, selanjutnya akan membentuk 30 kantor layanan model yang akan mewakili disetiap kabupaten atau kota. “Nanti akan membentuk kantor layanan model dari setiap kabupaten atau kota masing-masing 5 perwakilan kantor layanan,” kata Cahyono.
Cahyono juga mengatakan 30 kantor layanan tersebut akan mengikuti sekolah amil selanjutnya yang yang bertujuan untuk mematangkan semua materi yang telah didpat di sekolah amil sebelum sebelumnya. Sehingga 30 kantor layanan tersebut bisa jadi model di kabupaten atau kota masing-masing.
Adapun jadwal sekolah amil selanjutnya sebagai berikut:
Sekolah Amil 3 Bersama Dwi Santosa Pambudi, S.H.I., M.Hum
Materi Dalil Al-Qur’an dan Hadist Tentang ZIS, Sejarah Kewajiban Berzakat, dan Hukum positif di Indonesia pada rabu-kamis/ 21-22 februari 2018 Pukul 12.30-16.00 WIB tempat Aula PWM DIY
Sekolah Amil 4 Bersama Farid Ma’ruf, S.T., M.eng

Tasikmalaya – LAZISMU. Dua sosok perempuan berdaya ini didaulat Lazismu sebagai ibu yang ikut bertahan bagaimana menopang kehidupan ekonomi keluarga. Para suaminya yang berpenghasilan tidak menentu, tidak menyurutkan semangatnya untuk tetap berusaha mendidik anak-anaknya.
Di Tasikmalaya, kedua sosok perempuan bersahaja ini berhasil ditemui Rizky Nugraha selaku amil Lazismu. Pertama sosok Nurhayati, yang dikarunia tiga orang anak. Sebagai sosok penerima manfaat program pemberdayaan ekonomi, dia tergolong produktif, meski suaminya bekerja sebagai petugas penerima telepon honorer.
Saat ditemui Lazismu, di kampung Tonjong, Kelurahan Nagarasari, Kecamatan Cipedes, Nurhayati berkisah tentang pekerjaannya sebagai buruh lepas di perusahaan konveksi (3/3/2018). Banyaknya orderan dari Jakarta di konveksi itu, butuh SDM yang sepadan untuk mengerjakan produksinya.
Mengetahui hal itu, Lazismu segera memfasilitasi dan menghubungkan komunikasi dengan pemilik konveksi. Sebagai jalan tengah, Lazismu memberikan bantuan mesin obras. “Di samping itu, diberikan pelatihan obras agar ketika menerima orderan membuat celana dalam anak dapat dikerjakan dengan baik,” kata Rizky.
Kesempatan yang sama diterima Ibu Komalasari, yang tinggal di Bojong Tritura RT/RW 004/012 Cipedes, Kota Tasikmalaya. Suaminya juga memiliki pekerjaan yang tidak menentu dengan 3 tanggungan anak yang masih kecil.
Selama beberapa hari Bu Kokom diberi pelatihan keterampilan memotong dan mengobras oleh pemilik konveksi. Setelah dianggap bisa, diberi orderan sesuai kesanggupannya.
Menurut PCM Cipedes, Kindi Suhendi, Nurhayati didampingi dengan pembinaan bertahap oleh Lazismu. Sebagai bentuk kaderisasi, Nurhayati juga ikut jamaah pengajian di Cipedes memelalui Pimpinan Ranting Aisyiyah Nagasari.
“Selain membina ekonominya, spiritualnya juga perlu dibina sebagai bekal mental yang kuat,” pungkasnya.
Hal senada disampaikan Ketua Pelaksana LazisMu Kota Tasik, Nasrulllah bahwa pendampingan tersebut bagian dari visi program Lazismu. Tentunya ini sangat membantu penerima manfaat. Adapun akad mesin obras ini akad sewa beli. Penyerahan simbolis mesin obras diserahkan oleh Ketua Pelaksana Lazismu Kota Tasikmalaya bersama PCM Cipedes Kota Tasikmalaya pada 3 Februari 2018 pukul 13.46 wib.
Setiap seminggu sekali bahan yang sudah diobras disetorkan ke pengusaha. Mereka mendapatkan upah sebesar Rp 2500 – Rp 3000 dari setiap kodi. Jika tekun bisa menyelesaikan minimal 20 kodi sehari bisa memeroleh Rp 50000 lebih per hari. Bahkan ada yang bisa mendapatkan pendapatan 600 ribu per minggunya.
Seperti Bu Kokom, sehari-hari bisa mengerjakan sampai 20 kodi, yang akhirnya bisa mendapatkan penghasilan tambahan untuk menghidupi keluarganya sehari-hari. Mesin obras ini, fungsinya untuk mencegah agar bahan yang ada ditepi kain tidak berserabut. (ng)

