

Ketua Panitia BAZNAS Award 2019 H. Jaja Jaelani, di malam penganugerahan itu mengatakan, ada 34 kategori award yang diterima sejumlah LAZ dan BAZ termasuk pejabat pemerintah daerah, pengurus Baznas provinsi/kabupaten/kota, baik ditingkat nasional, provinsi, kabupaten dan kota.
Jaja merinci para peserta Baznas Award 2019, terdiri dari organisasi pengelolaa zakat (OPZ) diikuti 390 lembaga, terdiri atas 31 Baznas provinsi, 332 Baznas kabupaten/kota dan 15 LAZ nasional, 8 LAZ provinsi dan 4 LAZ kabupaten/kota.

Di antara daftar daftar penerima BAZNAS Award 2019, lembaga amil zakat nasional berbasis ormas atau karib dikenal Lazismu kembali menerima penghargaan ini untuk yang kedua kali dari Baznas.
Lazismu didapuk oleh Baznas sebagai lembaga amil zakat nasional, dengan laporan tahunan terbaik. Di tahun sebelumnya, Baznas memberikan penghargaan kepada Lazismu sebagai lembaga amil zakat nasional dengan kategori pertumbuhan penghimpunan terbaik secara nasional.
Dalam acara tersebut, Lazismu sudah dua kali menyabet kategori berbeda diajang bergengsi ini. Penghargaan tersebut merupakan bukti konsistensi Lazismu dalam mewujudkan perannya dalam implementasi program zakat di Indonesia.
Anugerah Baznas Award 2019 yang diserahkan Lazismu diwakili oleh Agus Edy Santoso selaku Direktur Kelembagaan dan HRD (mewakili Ketua Badan Pengurus) dan Edi Surya selaku Direktur Operasional Lazismu. (na)

Stockholm - LAZISMU. Perubahan teknologi mampu memobilisasi orang dengan kecanggihan perangkat digital. Sebagai wujud revolusi industri 4.0 semua yang terlibat di dalamnya baik untuk menggunakan, mengkonsumsi, menyebarkan dan bertransaksi memerlukan suatu lensa agar dapat diteropong nilai guna dan perkembangannya.
Di bidang industri keuangan baik yang syariah dan konvensional juga terhubung bagaimana agar ada landasan dalam memanfaatkan teknologi digital. Dalam lensa yang lebih khusus, lembaga-lembaga filantropi turut memanfaatkannya juga untuk beradaptasi dan berinovasi bagaimana memaparkan suatu program yang berkelindan dengan strategi penghimpunan.
Beruntung
bagi lembaga amil zakat nasional seperti Lazismu, pada 30 Agustus 2019 di KBRI
Stockholm, Swedia, mendapat kesempatan untuk mengenalkan zakat. Di hadapan Dubes
RI untuk Kerajaan Swedia, Bapak bagas Hapsoro, melalui PT. PIN (Permata Intan
Nusantara) melakukan penjajakan dengan pendahuluan perikatan kerjasama dengan
Supertext.
Hal
itu ditandai dengan penandatanganan LoI (Letter
of Intent) antara PT. PIN (Permata Insan Nusantara) yang menggandeng Lazismu
dengan pihak mitra kerjasama yaitu Supertext Swedia.

Penandatanganan
dilakukan oleh CEO PT. PIN, Bapak Muhammad Jafar dengan CEO Supertext, Mr.
Martin Jacobson. Disaksikan juga oleh Direktur Fundraising dan Kerjasama
Lazismu, Bapak Rizaludin Kurniawan dan Dubes RI untuk Kerajaan Swedia, Bapak
Bagas Hapsoro, ikatan pendahuluan ini resmi dijajaki.
"Penandatanganan
LoI ini merupakan langkah penting untuk membangun landasan bagi teknologi
finansial syariah yang bermanfaat bagi anggota Muhammadiyah dan rakyat
Indonesia pada umumnya,” kata Dubes Bagas setelah penandatanganan.
CEO
dan Pendiri Supertext, Mr. Martin Jacobson menekankan kembali keunggulan teknologi
komunikasi yang disediakan Supertext untuk kemanfaatan bagi anggota
Muhammadiyah dan komunitasnya.
"Nilai
yang sangat penting adalah komitmen Supertext untuk menyediakan transfer
teknologi dan berbagi pengalaman bagi PT. PIN.", tambah Dubes Bagas.
Dari
penandatanganan itu, ada hal-hal pokok yang berisi antara lain: satu, upaya mengembangkan program
aplikasi pengiriman pesan bagi anggota Muhammadiyah dan komunitas dengan
mengkombinasikan landasan teknologi finansial PT. PIN dan landasan teknologi
komunikasi Supertext termasuk dalam aktivasi digital dan promosi.
Kedua, mengembangkan
layanan teknologi finansial syariah bagi anggota Muhammadiyah dan komunitas,
seperti zakat, infak, sedekah, wakaf, kurban, aqiqah, haji, umrah, pengumpulan
dana anggota, dan wisata halal.
Sementara
itu, detail teknis ikatan kerjasama pendahuluan ini, akan diatur dalam perjanjian
kerjasama yang kembali akan ditandatangani dalam waktu dekat, demikian rilis
ini disampaikan melalui laman resmi kementerian luar negeri pada 30 Agustus
2019. (na)

Parepare – LAZISMU. Memasuki tahun baru Islam 1441 H, Lazismu menyelenggarakan Family Gathering. Kegiatan dilaksanakan dengan melibatkan partisipasi santri penghafal al-Qur’an yang didampingi orang tua wali santri. Acara berlangsung di Pantai Pasir Putih Tonrangeng, salah satu objek wisata Paputo Beach yang berlokasi di Kelurahan Lumpue, Kecamatan Bacukiki Barat, Kota Parepare.
Beberapa rangkaian paket acara yang menambah kemeriahan acara antara lain Kajian Islam, dengan tema "Indahnya Hidup di Bawah Naungan Al Qur'an yang dibahas KH. A. Jamal Patombongi, Pimpinan Ponpes Al Muslimun, Kanie Sidrap.
Selain kajian ada program Tahsinul Qiroah untuk para orang tua peserta, tujuannya agar setiap wali bisa membaca al-Qur'an dengan tartil sekaligus bisa mendampingi anaknya di rumah untuk menghafal agar tidak hanya di camp semata.
Peran orang tua sebagai pendamping di rumah, bisa mengikuti dan memantau perkembangan hafalan al-Qur’an anaknya sehingga motivasi anak bersama orang tua dapat mendorong spirit mempelajari ilmu al-Qur’an beserta tadjwidnya.
.jpeg?access_token=8f32f08e-d0d4-4b77-8367-3d8a017a76e0)
Di sesi akhir, yang cukup menyita perhatian adalah pengunjung Paputo bermain Outbond dan Panahan. Setiap peserta harus ikut memanah sebagai salah satu olahraga yang disenangi Rasulullah. Khusus untuk memanah, sebetulnya ada nilai-nilai pendidikan di dalamnya yakni belajar focus sebagai kekuatannya termasuk fokus menghafal al-Qur’an.
Saiful Amir selaku Direktur Lazismu, mengatakan, dalam forum silaturahim ini, Hafidz Camp
bersama keluarga merupakan sarana yang mengasyikkan untuk saling belajar.
Menyaksikan anaknya berpartisipasi dalam Hafidz Camp tersebut, Asisyah selaku Ibu Lurah Lakessi, sangat antusias dengan kegiatan ini. Lazismu telah mempertemukan kami bersama anak-anak lainnya dalam Family Gathering. (sf)


Bandung – LAZISMU. Perencanaan dalam aktivitas organisasi tidak bisa diabaikan. Setiap kegiatan berawal dari perencanaan. Dalam lembaga amil zakat, fundraising berperan penting menghidupkan makna penting program. Lazismu harus mampu memaksimalkan rencana proses penghimpunan zakat, infak, sedekah dan dana sosial kemanusiaan lainnya (Ziska) pada momen penting.
Lazismu Wilayah Jawa Barat pada 30 – 31 Agustus kemarin, mengupasnya dalam workshop marketing dan fundraising yang menghadirkan amil-amil Lazismu se-Jawa Barat. Di Masjid Raya Mujahidin workshop berlangsung. Peserta diarahkan untuk mampu merencanakan agenda fundraising secara konseptual dan implementasinya di lapangan.
Dalam sudut pandang analisa SWOT, Lazismu Daerah diarahkan dapat merencanakan program fundraising sesuai dengan kapasitas dan kapabilitas di daerah nya masing-masing. Sehingga proses fundraising di daerah menjadi maksimal. Selain materi yang berkaitan dengan fundraising, disisipkan pula materi tentang akuntasi zakat PSAK 109.
Salah satu materi fundraising yang disampaikan kepada para peserta adalah Fundraising Digital. Muhammad Furqon dan Argo Wibowo - dua pemateri dari Lazismu Pusat - memberikan materi tentang bagaimana di dunia digital hari ini proses fundraising dilakukan.
Furqon mengatakan, melalui pelatihan aktivasi akun lazismu.org dan matahatimu setiap kantor layanan Lazismu di daerah bisa meningkatkan penghimpunan dana ziska dengan memanfaatkan website Lazismu nasional.
“Setiap program yang ada di daerah bisa diakses langsung secara nasional melalui laman lazismu.org dan matahatimu.org.,” katanya. Langkang tersebut berkorelasi dengan kesempatan berdonasi yang terbuka lebih luas bagi seluruh kalangan masyarakat, sambung Furqon.
Argo mengungkapkan, pelatihan dan workshop diarahkan pada perencanaan fundraising yang matang. “Berbanding lurus dengan efektifitas fundraising yang dijalankan oleh fundraiser sebagai ujung tombak,” katanya. Karena itu, pendidikan dan pelatihan fundraising sangat dibutuhkan agar amil-amil zakat memiliki kecakapan dan wawasan tentang perkembangan dunia fundraising yang semakin berkembang di era digital.

Dalam momen yang sama, Zaini Abdul Malik, selaku Ketua BP Lazismu Jawa Barat, menyampaikan, workshop selain ajang silaturahim juga sebagai tempat sharing untuk mempertemuka persepsi yang berbeda. Dari sana, keseragaman marketing, branding dan fundraising Lazismu di daerah-daerah akan bertemu dalam satu persepsi.
“Dalam syariat, ayat zakat bisa difahami sebagai marketing dengan memperkuat branding Lazismu.” papar Zaini. Dia menambahkan, pelatihan dan workshop ini juga menyentuh aspek akuntansi zakat yang lebih dikenal dengan PSAK 109 sehingga seluruh Lazismu se-Jawa Barat menjadi lembaga yang kuat secara akuntabilitas.
“Tujuan lain dari pelatihan dan workshop ini untuk meningkatkan pengelolaan ZISKA yang lebih efisien dan efektif di Jawa Barat,” terangnya.
Sementara itu, dalam sambutannya, Ketua PWM Jabar, Suhada menyampaikan, Lazismu bisa menjadi jalan keluar bagi kehidupan masyarakat jika proses ekonomi macet. “Pengelolaan zakat ini tidak bisa main-main karena dituntun betul dalam firman-Nya.” Paparnya.
Kegiatan ini mempersiapkan keberlangsungan aktivitas LAZISMU Se-Jawa Barat yang lebih terarah. Pemasaran dan penggalangan dana (fundraising) merupakan kegiatan yang sangat penting dalam upaya mendukung jalannya program dan menjalankan roda operasional lemabga amil zakat, yang telah digariskan. Tidak hanya secara konvensional, tapi juga ditujukan menggarap lading digital agar mampu bersaing. (bs)

Palu
– LAZISMU. Pemberdayaan petani bagian dari gerakan Al-Maun yang diinisiasi
Muhammadiyah. Dalam usaha penguatan kapasitas petani, pengenalan produk
pertanian yang bernilai ekonomi tinggi merupakan sebagian dari pendekatan
Muhammadiyah dalam mengedukasi agar para petani dapat melakukan inovasi.
Suatu
lahan pertanian perlu difasilitasi dengan sarana pengairan yang memadai. Selain
sebagai sumber penghidupan lahan pertanian, sumber air juga menghidupkan
keberlangsungan masa tanam dan masa mengetam bagi petani. Langkah ini ditempuh
Majelis Pembedayaan Masyarakat (MPM) PP Muhammadiyah dengan menginisiasi
gerakan Jamaah Tani Muhammadiyah (Jatam).
Jatam
dideklarasikan dengan memfasilitasi petani dengan penggalian lima sumur
artesis. Sumur artesis langsung diresmikan Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah,
Haedar Nashir di Sigi, Palu, Sulawesi Tengah (31/8/2019). Disaksikan para
petani yang tergabung dalam Jatam, Haedar mengatakan, PP Muhammadiyah
menghargai upaya yang dirintis MPM yang merambah Sulteng untuk Jatam pertama di
luar pulau Jawa.
Buah
kerjasama MPM dan Lazismu selama ini senafas dengan gerakan Al-Maun
Muhammadiyah, kata Haedar. Selain ada MDMC yang mengurus bidang kebencanaan,
keberadaan MPM di beberapa tempat di kawasan tertinggal, terluar dan terpencil
(3T) turut membuktikan kiprahnya.
MPM
telah mengupayakan peningkatan usaha tani mulai dari produksi dan pasca usaha
tani. "Nikmat Allah tidak bisa dihitung. Betapa diberi nikmat Allah SWT
sedemikian rupa, alam dan kekayaan yang besar. Indonesia sangat kaya, bagaimana
memanfaatkan anugerah itu secara berkemajuan," sambung Haedar.
Haedar
berharap Jatam Sulteng harus menjadi petani berkemajuan. Menurut Haedar,
kelemahan pertanian kita jika sering didiamkan tidak akan mengalami kemajuan.
Banyak produk yang bisa diproduksi tetapi masih impor. Bangsa penjajah datang
ke Indonesia salah satunya memperebutkan kawasan yang kaya produk pertanian dan
perkebunan.
"Di
Donggala ini menghasilkan Kopra. Petani bukan jamaah yang malas. Jika pertanian
tidak maju, yang disalahkan petani kita malas. Padahal bukan. Banyak yang
menyebutkan penelitian, petani kita gigih dan pekerja keras. Memiliki sifat
komunal, perasaan jiwa bersama. Dan tidak kenal lelah. Kelemahan kita mungkin
di sektor teknologi," terang Haedar.
Maka
Jatam, lanjut dia, Muhammadiyah perlu melakukan inovasi teknologi untuk
meningkatkan produk pertanian. Sektor teknologi harus kuat. Di samping SDM juga
perlu ditingkatkan. Petani harus punya jiwa mandiri. Percaya yang dilakukan dan tidak meminta
bantuan ke orang lain, tetapi terbuka untuk bekerja sama.
Dia
menjelaskan watak seorang petani di antaranya sabar, tekun, tidak kenal lelah,
telaten, dan mandiri. "Banyak jalan
menggerakkan persyarikatan, salah satunya lewat Jatam,” tutupnya.
(muhamamdiyah.or.id/na)

