

Semarang – LAZISMU. Suasana hening, beberapa
orang menyaksikan dengan haru, ketika Oki Prasetyo (32) membaca kalimat
syahadat dengan terbata-bata. Seorang ustadz menuntunnya mengucapkan ikrar itu,
dengan antusias. Momen ini juga yang dinanti jamaah masjid At-Taqwa, Pimpinan
Daerah Muhammadiyah Semarang, pada Ahad pagi (26/1/2020).
Hari itu, hari yang bersejarah bagi Oki untuk menerima pengalaman baru dalam seumur hidupnya. Cahaya hidayah menerangi Oki dengan memutuskan memeluk agama Islam.
Cerita Oki masuk Islam, bermula dari seoarang mahasiswa UIN Walisongo yang tahun lalu melaksanakan Program Pengalaman Lapangan (PPL) di Lazismu. Menurutnya, ada seorang temannya yang membutuhkan bimbingan untuk memeluk agama Islam. Pertemuan dilakukan dengan berkenalan dan berbincang bersama Oki. Dari pertemuan itu, Oki serius ingin masuk Islam. Informasi ini dilanjutkan kepada Majelis Tabligh PDM Kota Semarang.
Sumber
lain disampaikan oleh Aji teman Oki. Bahwa Oki sudah tiga tahun ini berteman sering
bertanya tentang Islam. Sempat beberapa kali menyatakan dirinya sudah siap
merubah keyakinannya menjadi Islam. Hal inilah yang ditanggapi Aji dengan
memberikan informasi sekaligus mengantarkannya ke Lazismu.
Pembimbing
ikrar, Zainul Amri dalam keterangannya menyampaikan, seseorang yang masuk Islam
adalah orang yang kembali kepada fitrahnya. Setiap individu yang pernah dilahirkan
ke dunia ini, pasti sudah menerima janji tauhid yang disampaikan kepada setiap
jiwa ketika di alam ruh. Ada konsekuensi yang harus dilaksanakan oleh setiap orang
yang menyatakan dirinya Islam.
Zainul
menyarankan agar Oki belajar lebih banyak tentang Islam, agar dalam menjalankan
ibadah dapat dilaksanakannya dengan ikhlas. Ia juga berpesan kepada seluruh
jamaah agar bersedia memberikan bimbingan dan pembelajaran kepada mualaf yang
sedang dalam proses memahami Islam.
Bagi Lazismu, Oki adalah mualaf. Dalam pelaksanaannya zakat diperuntukan untuk mualaf. Karena itu, kata Muhammad Hasan dari amil Lazismu, porsi tasaruf dipersiapkan oleh Lazismu dan akan diberikan kepada Oki setelah prosesi ikrar selesai. Zainul menyarankan jika mualaf belum berkhitan agar prosesnya juga mendapat bimbingan. (cs)

Kalsel – LAZISMU. Lazismu kabupaten Banjar pada 5 – 20 Januari 2020, menggelar program
Back To Masjid, di masjid dan musala. Program kali ini merupakan pemberian
bantuan sarana ibadah berupa sarung dan mukena. Back to Masjid adalah program
yang bertujuan untuk memakmurkan masjid sebagai pusat pembinaan dan
pemberdayaan bagi masyarakat sekitar.
Ginanjar Sutrisno selaku Manajer Lazismu Banjar, menyampaikan, terlaksananya kegiatan ini awalnya bagian dari turunan program Lazismu Pusat pada tahun lalu. “Program tersebut dilaksanakan berupa bantuan sarana ibadah. Dikatakan turunan dari program nasional karena bekerjasama dengan Alfamart, namun dikemas dengan balutan program Back To Masjid sebagai bagian dalam pilar dakwah,” jelasnya
Ginanjar menambahkan, harapan terlaksananya kegiatan ini agar terus berlanjut. Kami berharap program ini akan terus dilaksanakan secara berkelanjutan dengan penerima manfaat yang dapat terus bertambah.
Hal senada, disampaikan Samhudi salah seorang pengurus musala Al-Ihsan, Mandi Angin, bahwa memakmurkan tempat ibadah adalah pilar dakwah yang strategis. Karena itu, rasa syukur atas bantuan yang diberikan menjadi pemantik untuk selalu menghidupkan masjid secara lebih giat lagi.
“Saya bersyukur atas bantuan berupa sarana ibadah, mukena dan sarung, karena musala kami sangat memerlukan mengingat seringnya pengguna jalan yang singgah untuk menunaikan salat di sini yang lokasinya persis di pinggir jalan,” bebernya.
Seperti
disampaikan Lazismu Kabupanten Banjar, pada prinsipnya program ini difokuskan
untuk lokasi yang dianggap sangat membutuhkan bantuan sarana ibadah. Program
Back to Masjid tersebar di beberapa kecamatan baik itu di Martapura, Martapura Timur, Karang Intan dan Aranio dengan jumlah masjid dan musala yang menerima bantuan sebanyak 13 unit tempat ibadah. (mn/gj)

Lamongan – LAZISMU. Seorang perempuan di usia senja tersenyum bahagia, melihat atap rumahnya
kembali berdiri menutupi rumah yang dihuninya sejak lama. Demikian perempuan
senja ini disapa dengan sebutan Nenek Tutik. Usianya sudah kepala enam. Januari
lalu, rumahnya diterjang angin, atapnya rusak parah hingga tak bisa ditempati.
Awal Februari, Lazismu Lamongan didampingi Pimpinan Ranting Muhammadiyah (PRM) Latek-Sekaran berkunjung ke rumah Nenek Tutik. Tujuannya melihat keadaan rumahnya. Sesuai rencana, Lazismu dan warga Muhammadiyah menggalang kepedulian untuk Nenek Tutik. Lewat kegiatan berbagi ‘One Click One Care’ Lazismu berupaya membantu Nenek Tutik agar dapat kembali menempati rumahnya.
Dalam
kesempatan itu, Lazismu Lamongan juga menyampaikan amanah dari donatur untuk
membantu pembangunan. Ketua PRM Latek, M. Shokeh menyampaikan bahwa warga
Muhammadiyah bergerak cepat setelah atap rumah nenek Tutik terbawa angin.
“Kami mewakili warga bergerak cepat, sehari setelah peristiwa itu terjadi penggalangan dana dilakukan untuk membenahi atap rumah, dan memulai pembangunannya agar cepat dapat dihuni kembali,” katanya.
Nenek Tutik sendiri setiap hari hidupnya bergantung pada aktivitasnya berjualan di depan Madrasah Ibtidaiyah (MI) Muhammadiyah Latek.
“Usianya sudah mencapai 60 lebih, setelah atap rumahnya terkena angin kencang dan roboh, tak mungkin dengan hasil berjualan dapat memperbaikinya. Sangat sulit baginya untuk memperbaiki rumahnya, maka Lazismu dan warga secara swadaya membantunya,” sambung Shokeh.
Nenek Tutik menyampaikan terima kasih kepada warga, donatur dan amil Lazismu. Sujudna selaku Ketua Lazismu Lamongan menyampaikan penghargaan atas dukungan seluruh donatur dan dermawan yang sudah menyalurkan bantuannya melalui Lazismu.
Terima
kasih untuk seluruh donatur dan juga terutama kepada warga Muhammadiyah Latek
yang bergerak cepat menolong sesama. Semoga apa yang patut dilakukan dapat
ditiru untuk kebaikan kita semua. (irv)

Semarang
– LAZISMU. Coba bayangkan satu rumah dengan
tipe 27/60, dihuni
oleh satu keluarga besar dengan 9 jiwa di dalamnya. Itulah
rumah Nur Kustatik (62) di kawasan Perumahan Puskopkar Pudakpayung, Banyumanik, Kota Semarang. Nenek Nur Kustatik, yang biasa disapa Mami tinggal di rumah
mungil itu bersama dengan anak, menantu dan 6 orang cucunya.
Rumah sederhana yang dibangun pada 1993, belum pernah direnovasi sampai sekarang. Rangka kayu rumah rapuh, atap
bocor di mana-mana. Kaca ruang tamu pecah, sofa kusam dan robek. Tidak ada meja
tamu di rumah itu. Yang ada hanya rongsokan elektronik yang sudah tidak
berfungsi. Begitulah cerita amil
Lazismu saat datang melihat kondisi rumah Mami pada Ahad, 2 Februari 2020.
Tengok lebih dalam, kamar mandi rusak hingga bau pesing tercium menyengat.Ruang dapur yang kusam dan berantakan tidak teratur. Di bagian belakang terdapat ruang terbuka, yang dipakai menaruh barang bekas. Sisa air hujan menggenang dibekas bak mandi yang tidak terpakai.

Mami bercerita kalau hujan deras turun, mereka sekeluarga harus bahu-membahu menyelamatkan barang, mencari wadah untuk air hujan yang jatuh. Menutupi barang-barang dengan plastik, bahkan terkadang harus rela basah kuyup. Mami juga merasakan semakin lama kondisi rumahnya semakin rapuh dan mengkhawatirkan.
Rasa was-was sering menghantui, jangan-jangan atapnya runtuh saat hujan deras. Mami tidak bisa berbuat banyak, dia pasrah. Namun dia tetap berdoa agar keluarganya selalu dilindungi oleh Yang Maha Kuasa.
Mami bekerja sebagai buruh lepas, biasanya dipanggil tetangga untuk menyeterika pakaian atau memasak. Oleh karenanya dia tidak punya penghasilan pasti. Sementara Andik, sang menantu profesinya sebagai penyedia jasa servis elektronik, yang membuka pelayanan di rumah itu juga. Sedangkan anak perempuan Mami, Novi tidak bisa bekerja karena kesibukan mengasuh keenam anaknya.
Dengan penghasilah yang minim mereka bertahan di rumah tua itu. Dengan keadaan yang serba kurang Andik berusaha membesarkan 6 anaknya dengan penuh tanggung jawab. Bila menginginkan lauk, Andik terpaksa harus berburu ular, biawak dan binatang buas lainnya yang ada di sekitar tempat tinggal mereka. Keadaan miskin yang membuat saya harus melakukan seperti ini, kata Andik.
Setelah
mengetahui cerita lebih jauh, kedatangan Lazismu ingin membantu renovasi rumahnya. Mami sangat kaget dan
berterimakasih atas karunia yang dia terima. “Matursuwun sanget mas, mugi-mugi
panjenengan diparingi panjang umur, murah rejeki” (Terimakasih banyak mas,
semoga anda diberi umur yang panjang dan banyak rejeki). (ns/cs)

Medan – LAZISMU. Lazismu Kota Medan,
menandatangani nota kesepahaman (MoU) dengan Panti Asuhan Bayi Sehat
Muhammadiyah yang dikelola Majelis Pelayanan Sosial (MPS) Pimpinan Wilayah
Muhammadiyah (PWM) Sumatera Utara, pada Jum'at, 7 Januari 2020. Penandatanganan
MoU dilaksanakan di Panti Asuhan Bayi Sehat Muhammadiyah yang berada di Jl.
Jermal IV No. 18, Denai, Kecamatan, Medan Denai.
Ketua Lazismu Kota Medan Muhammad Arifin Lubis, menuturkan bahwa Lazismu sebagai sebuah lembaga Zakat tingkat nasional yang ada di bawah persyarikatan Muhammadiyah, hari ini melaksanakan kerjasama bersama dengan Panti Asuhan Bayi Sehat Muhammadiyah Kota Medan.
Lazismu memiliki program pemberdayaan panti yang sudah tentu kita sandingkan dengan adanya panti asuhan bayi sehat ini. Dan tentunya dana zakat, infaq dan shadaqah yang dihimpum bisa dimanfaatkan untuk penerima yang tepat sasaran dengan bersinergi bersama majelis dan lembaga ortom terkait.
“Sehingga pemanfaatan bisa terus dirasakan masyarakat dan tentunya bisa langsung tepat sasaran, karena memang dana yang dihimpun tersebut dikelola langsung oleh lembaga yang profesional yang melakukan pendayagunaan dan pendistribusian,” katanya.
Pimpinan Panti Asuhan Bayi Muhammadiyah, Ustadz Rafdinal, mengungkapkan bahwa Panti Asuhan Bayi Sehat Muhammadiyah merupakan panti asuhan bayi sehat pertama milik Muhammadiyah yang berada di luar Pulau Jawa. “Panti asuhan bayi sehat Muhammadiyah Kota Medan diresmikan oleh PP Muhammadiyah pada 14 Oktober 2017 yang menampung dan merawat anak-anak bayi yang menjadi korban perdagangan orang (trafficking) dan bayi terlantar,” jelasnya.
Kami mengucapkan terima kasih, dan apresiasinya berkat sinergi ini serta dukungan dari Muhammadiyah Kota Medan untuk pemberdayaan panti. Panti bayi sehat keberadaannya sebagai salah satu bentuk dari implementasi Rakernas MPS PP Muhammadiyah untuk Sumatera Utara yang mengembangkan amal usaha Muhammadiyah di bidang kesejahteraan sosial melalui konsep dakwah pencerahan yang fokus pada tata kelola Panti Asuhan Bayi Sehat. (ns)

Lamongan – LAZISMU. Pengembangan pendidikan Islam untuk santri-santri penghafal Al-Qur’an di berbagai pondok pesantren (ponpes) di Lamongan, merupakan agenda penting mendorong generasi muda untuk mengkaji kandungan dan menghafalnya. Karena itu, Lazismu, Majeles Tabligh, dan Lembaga Pengembangan Pesantren Muhammadiyah (LP3M) Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Lamongan mendukung program itu dengan menyerahkan 350 mushaf Al Qur’an kepada 6 pondok pesantren dan satu komunitas binaan (6/2/2020).
Ketua Lazismu Lamongan, Sujudna saat dihubungi mengatakan, program ini ditujukan untuk santri-santri di pondok pesantren. “Suatu program pemberdayaan bagi santri pondok pesantren, maka upaya Lazismu bersama Majelis Tabligh dan LP3M untuk mendukung pendidikan tahfidz di Lamongan,” ungkapnya.
Lazismu Lamongan
juga mendorong adanya keterlibatan berbagai pihak untuk bersama-sama dengan
generasi muda agar cinta kepada Al-Qur’an. Hal ini sejiwa dengan cita-cita Gerakan
Memakmurkan Masjid Muhammadiyah (GM3) dan Pelajar Rindu Masjid (Perimas) yang
dicetuskan dan diinisiasi oleh Majelis Tabligh PDM Lamongan.
Ketua Majelis
Tabligh PDM Lamongan, Masroin Assafani, menilai, jika program tersebut
dimanfaatkan dengan benar, ada harapan bahwa bantuan yang ditujukan untuk
santri bisa memotivasi dan meningkatkan hafalan santri.

“Semoga bantuan
Al-Qur’an ini dapat bermanfaat bagi pendidikan tahfidz santri, yang berpijak
pada visi pemberdayaan yang diperuntukkan bagi generasi muda,” sambungnya.
Selanjutnya
melalui program ini akan semakin banyak kader-kader Islam dan Muhammadiyah yang
menjadi Hafidz Al-Quran. “Tantangan pendidikan Islam di pesantren semakin
berat. Dengan demikian, hafalan dan pemahaman tentang Al-Qur’an akan menjadi
bekal yang baik bagi generasi muda,” paparnya.
Sementara itu, Basith salah seorang perwakilan dari pesantren, mengucapkan terima kasih yang sebsar-besarnya kepada seluruh donatur dan Lazismu Lamongan. Bantuan ini akan sangat bermanfaat bagi santri di pondok pesantren, semoga berkah dan amal baiknya dibalas oleh Allah dengan kebaikan, terangnya. (irv)

