

PALANGKARAYA – Penguatan tata kelola Lazismu sebagai lembaga amil zakat bertujuan mengintegrasikan program secara nasional. Aspek manajamen dan digitalisasi merupakan kebutuhan sebagai bagian dari inovasi sosial.
Kinerja Lazismu di setiap level tingkatan dari pusat, wilayah, daerah dan kantor layanan tertuang dalam peta jalan yang sudah dimusyawarahkan dalam forum rakernas di Kalimantan Selatan. Lazismu wilayah mempertajam dan memperkuatnya untuk bisa direalisasikan di wilayahnya masing - masing.
Lazismu Wilayah Kalimantan Tengah meneguhkan komitmen itu melalui Rapat Kerja Wilayah (RAKERWIL), yang dilaksanakan pada 30 Januari – 1 Februari 2026 di Asrama Haji Al-Mabrur, Jl. G. Obos, Menteng, Jekan Raya, Kota Palangka Raya, Kalimantan Tengah.
Rakerwil kali ini mengusung tema "Penguatan Inovasi Sosial Yang Terintegrasi, Berdampak Dan Berkemajuan Untuk Kalimantan Tengah Semakin Berkah”. Badan Pengurus Lazismu Pusat Mustiawan, dalam sambutannya menyampaikan, Lazismu kini tengah memasuki fase penguatan tata kelola kelembagaan dan integrasi program secara nasional.
“Inovasi sosial Lazismu harus dibangun di atas sistem yang terintegrasi, berbasis data, dan mampu menunjukkan dampak yang terukur”, ungkapnya. Ia menegaskan, secara tidak langsung, digitalisasi, profesionalitas amil, dan pemeliharaan kepercayaan publik menjadi fondasi utama pengembangannya di periode 2026 – 2030.
Sejalan dengan arah kebijakan nasional tersebut, Mustiawan mengungkapkan, capaian kinerja Lazismu Kalteng sepanjang tahun 2025, menunjukkan peningkatan signifikan dalam penghimpunan dana ZISKA.
Dalam kurun waktu tahun 2025, berhasil menghimpun sebesar Rp. 2.492.008.205, yang diproyeksikan pada tahun 2026 mencapai Rp. 2.990.409.846 pada akhir tahun ini sebagai bagian dari target nasional Lazismu senilai Rp 801.472.161.875 sebagai angka optimis.
“Hal itu akan dicapai melalui penguatan basis penghimpunan di seluruh kantor layanan, optimalisasi kanal digital, perluasan kemitraan strategis, serta penajaman program pendayagunaan berbasis kebutuhan lokal dan pengukuran dampak”, pungkasnya.
Mustiawan menilai, ini merupakan cerminan meningkatnya kepercayaan publik. Harus terus dijaga dengan pengelolaan yang profesional, transparans serta program yang berdampak untuik penerima manfaat secara luas, tegasnya.
Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Provinsi Kalteng, Muchtar, yang membidangi Lazismu mengatakan menegaskan posisi Lazismu sangat strategis sebagai instrumen dakwah Muhammadiyah yang bekerja langsung di ranah sosial.
“Lazismu bukan sekadar lembaga penghimpun dan penyalur zakat, tetapi bagian dari gerakan dakwah Muhammadiyah yang hadir untuk menjawab persoalan umat secara nyata,” ujarnya, Muchtar membeberkan bahwa secara tidak langsung penguatannya berarti memperkuat daya hadir Muhammadiyah di tengah masyarakat.
Melalui Rakerwil ini, sambung Muchtar, Lazismu di kota Bumi Tambun Bungai, berupaya meneguhkan komitmen bersama untuk memperkuat konsolidasi ideologis, manajerial, dan kebijakan strategis, sekaligus memastikan setiap program yang dijalankan terintegrasi secara kelembagaan berdampak nyata dan berkelanjutan.
Penguatan arah gerak Lazismu tersebut, diperdalam melalui kehadiran, Ahmad Syar'i, Ketua PW Muhammadiyah Kalteng di sela-sela pelaksanaan Rakerwil. Penguatan ideologis dengan menyampaikan sejarah dan latar belakang berdirinya Lazismu menandai lahirnya dari keprihatinan atas realitas sosial yang masih dihadapkan pada problem kemiskinan, rendahnya kualitas pendidikan, dan lemahnya tatanan keadilan sosial.
“Lazismu merupakan sarana menjemput keyakinan itu untuk menjawabnya bahwa zakat, infak, dan sedekah memiliki potensi besar untuk mendorong keadilan sosial dan pembangunan manusia”, tandasnya.
Rakerwil Lazismu Wilayah Kalimantan Tengah, diikuti oleh 38 peserta yang berasal dari unsur Kantor Perwakilan Wilayah, 13 kantor wilayah pembantu, dan 2 kantor layanan Lazismu se- Kalteng.
Kegiatan ini turut dihadiri oleh Direktur Fundraising Lazismu Pusat, M. Sholeh Farabi, jajaran Wakil Ketua Pimpinan Muhammadiyah Kalteng, Pimpinan Wilayah ‘Aisyiyah Kalteng, dan perwakilan Pimpinan Ortom tingkat Wilayah Muhammadiyah Kalteng, Pimpinan Amal usaha Muhammadiyah, Basnaz, serta para mitra Strategis Lazismu.
[Kelembagaan dan Humas Lazismu Pusat/Lazismu Kalteng]

ENREKANG -- Rapat Kerja Wilayah (Rakerwil) Lazismu Sulawesi Selatan merupakan bagian penting dari konsolidasi nasional untuk memastikan pengelolaan zakat, infak, dan sedekah berjalan terintegrasi, berdampak, dan berkelanjutan.
Penegasan ini disampaikan Lazismu Pimpinan Pusat, yang diwakili Badan Pengurus Hafizh Syafa'aturrahman, dalam Rakerwil yang dilaksanakan di Kampus Universitas Muhammadiyah Enrekang, pada Sabtu, (31/1/2026).
Menurut Hafizh, Lazismu tidak bekerja secara parsial, melainkan dalam satu sistem nasional yang terhubung dari pusat hingga daerah. “Pelaporan Lazismu dilakukan secara rutin dan terstandar, tidak hanya di tingkat pusat, tetapi juga secara nasional”, ujarnya. Hal ini menjadi wujud komitmen Lazismu dalam menjaga akuntabilitas dan kepercayaan publik.
Ia menegaskan, seluruh pedoman dan panduannya telah dirancang untuk mengakomodasi program yang terintegrasi, berdampak, dan berkelanjutan, serta sejalan dengan visi besar Muhammadiyah. Seluruh program Lazismu, menurutnya, merupakan turunan dari keputusan dan amanat Muktamar Muhammadiyah, sekaligus tunduk pada regulasi dan hukum negara.
“Rakerwil adalah forum kebijakan yang terkonsolidasikan,” pungkasnya. Forum ini menjadi ruang strategis untuk menyelaraskan rencana kerja Lazismu Wilayah dan Daerah dengan rencana strategis nasional Lazismu Pusat.
Rakerwil Lazismu Sulawesi Selatan yang mengusung tema Inovasi Sosial yang Terintegrasi, Berdampak, dan Berkemajuan ini dihadiri seluruh perwakilan Lazismu Daerah se-Sulawesi Selatan. Forum ini diharapkan memperkuat sinergi kelembagaan Lazismu dalam menghadirkan pengelolaan zakat yang profesional dan berorientasi pada kemaslahatan umat.
Melalui Rakerwil ini, Lazismu PP Muhammadiyah menegaskan komitmennya untuk terus mengawal dan memperkuat Lazismu di seluruh wilayah agar tetap berada dalam satu visi Persyarikatan, sekaligus mampu menjawab tantangan sosial secara nyata dan berkelanjutan.
[Kelembagaan dan Humas Lazismu Pusat/Lazismu Enrekang]

CIANJUR – Gempa bumi di Cianjur pada tahun 2002 silam, menyisakan misi kemanusiaan yang masih berlanjut. Salah satunya melalui tahap pemulihan membuka akses layanan kesehatan dalam bentuk klinik pratama.
Pada Juli 2025 lalu, Lazismu memanfaatkan tanah wakaf seluas 2700 meter2 yang dikekola Pimpinan Daerah Muhammadiyah Cianjur untuk dijadikan Klinik. Peletakan batu pertama dimulai sebagai cikal bakal berdirinya Klinik Muhammadiyah, di Desa Sarampad, Kecamatan Cugenang pascabencana gempa bumi.
Komitmen tersebut dibuktikan melalui program Indonesia Siaga, Klinik Pratama PKU Muhammadiyah Kabupaten Cianjur resmi beroperasi mulai hari ini, Sabtu (31/1/2026). Peresmian digelar dan dihadiri langsungu oleh Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) RI, Abdul Mu’ti, bersama jajaran pemerintah kabupaten dan pimpinan Muhammadiyah.
Klinik Muhammadiyah yang berlokasi di Desa Sarampad didirikan atas inisiatif bersama Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Cianjur yang berkolaborasi dengan Lazismu Pusat dan Lazismu Jawa Tengah. Awalnya, sebagai respons cepat pemulihan setelah gempa, kata Ketua PDM Cianjur, Saepul Ulum.
"Pembangunan klinik berhasil dilakukan atas respons positif dari Lazismu Pusat dan Lazismu Jawa Tengah. Pembiayaan bantuan kemanusiaan mencakup alat kesehatan hingga dana operasional”, jelasnya. Alhamdulillah, klinik ini 99 persen setelah berdiri sudah siap beroperasi. Saepul berharap surat izin operasional dapat segera diproses di pemerintah daerah.
Hal senada disampaikan oleh Kepala Klinik Pratama PKU Muhammadiyah Cianjur, dokter Hani Zahia Suarsa. Ia menjelaskan, ide pembangunan lahir karena minimnya layanan kesehatan di kawasan yang juga merupakan lokasi rawan bencana tersebut.
"Berawal dari bencana gempa bumi 2022, kami melihat ada kebutuhan mendesak yaitu layanan kesehatan. Harapan kami, klinik ini diterima masyarakat Cianjur dan sesuai mimpi kami, dalam lima tahun ke depan bisa berkembang menjadi Rumah Sakit Tipe D", pungkasnya.
Apresiasi datang dari Pemerintah Kabupaten Cianjur, Mohammad Wahyu Ferdian, yang turut hadir bersama Wakil Bupati. Dalam peresmian itu, Bupati Cianjur, Wahyu Ferdian mengapresiasi langkah Muhammadiyah. Ia mengakui Kabupaten Cianjur masih membutuhkan banyak bantuan mengingat sisa-sisa dampak gempa dan pergeseran tanah masih dirasakan.
"Muhammadiyah memiliki sekolah, universitas, klinik, hingga rumah sakit. Maka dari itu, tidak salah jika Muhammadiyah menjadi salah satu organisasi muslim terkaya keempat di dunia", kata Bupati Cianjur memuji.
Sementara itu, Sekretaris Badan Pengurus Lazismu Pusat, Gunawan Hidayat berharap fasilitas ini dapat dimanfaatkan sebaik-baiknya oleh warga Desa Sarampad dan sekitarnya. "Mudah-mudahan gedung yang merupakan sumbangan dari para donatur bisa bermanfaat lebih luas bagi masyarakat Cianjur untuk mendapatkan fasilitas kesehatan yang bermutu," ujarnya.
Pada kesempatan yang sama, dalam sambutannya, Mendikdasmen, Abdul Mu’ti, menyoroti jaringan kesehatan gerakan dakwah muhammadiyah yang mendunia. Mendikdasmen memuji desain bangunan klinik muhammadiyah dan menyoroti perkembangan pesat amal usaha Muhammadiyah di usia yang ke-113 tahun ini.
"Bagus sekali desainnya. Kurang lebih 113 tahun lalu, Muhammadiyah hanya perkumpulan kecil di Kauman, Yogyakarta. Sekarang sudah berkembang hingga internasional dengan 31 kantor di luar negeri, di mana lima di antaranya (Amerika, Australia, Jepang, Mesir, Malaysia) telah diakui pemerintah setempat," jelas Abdul Mu’ti.
Abdul Mu’ti menambahkan, Klinik Pratama PKU Muhammadiyah Cianjur ini merupakan klinik ke-19 di Jawa Barat. Secara nasional, Muhammadiyah kini mengelolanya dengan total 500 unit layanan kesehatan, yang terdiri dari 300 klinik dan 128 rumah sakit.
[Kelembagaan dan Humas Lazismu Pusat/athif]

PEMATANG SIANTAR – Renovasi masjid Taqwa telah selesai. Masjid yang berlokasi di Jalan Merdeka, Kelurahan Dwikora Kecamatan Siantar Barat, saat ini berdiri megah dengan pembiayaan renovasi bersumber dari dana program kemaslahatan Badan Pengelola Keuangan Haji (BPKH).
Hari ini, pasca-renovasi, Masjid Taqwa diserahterimakan oleh BPKH. Hadir dalam seremoni serah terima Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen), Fajar Riza Ul Haq dan Badan Pengurus Lazismu Pusat, Muarawati Nurmalinda, yang disambut tarian Tortor Somba oleh pelajar SMP 12 Muhammadiyah Kota Siantar pada Jum’at, (30/1/2026).
Anggota Badan Pelaksana Badan Pengelola Keuangan Haji (BPKH), Amri Yusuf, dalam kesempatan itu mengatakan, BPKH dalam prosesnya, proposal renovasi masjid itu diajukan Pimpinan Daerah Muhammadiyah dan Lazismu Kota Siantar, pada tahun 2024.
“BPKH baru bisa menyalurkan bantuannya tahun 2025, yang secara rinci diperuntukan untuk pembangunan kubah masjid, pintu gerbang dan pagar,” papar Amri meyakinkan bahwa program kemaslahatan ini menjadi optimal nilai manfaatnya.
Amri menjelaskan bahwa BPKH dalam tugasnya mengelola dana haji dari calon jamaah haji dan dana wakaf. Adapun bantuan renovasi pembangunan Masjid Taqwa, sambung Amri, bersumber dari dana wakaf umat.
Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Siantar, Sailan Nasution, menyampaikan terima kasihnya kepada BPKH dan Lazismu Pusat atas dukungannya sehingga masjid ini selesai direnovasi. “Dalam perjalanannya, Lazismu Pusat sudah mendampingi dan menjemput dana bantuan BPKH itu,” ujarnya.
Tidak lupa, kepada Wamendikdasmen atas kehadirannya ke Siantar, turut memberikan nilai dakwah, kata Sailan setelah penyematan ulos kepada Fajar sebagai penghargaan adat. Sailan menjelaskan, di kompleks Masjid Taqwa, ada sekolah Muhammadiyah, dari tingkat TK, SD, SMP dan SMK.

Sementara itu, Badan Pengurus Lazismu Pusat, Muarawati Nurmalinda mengatakan, renovasi masjid ini telah melalui proses audit. “Transparansi dan akuntabilitas menjadi bagian tak terpisahkan sebagai kolaborasi program kemaslahatan antara BPKH dan Lazismu”, ujarnya.
Sampai proses serah terimanya tersebut, lanjut Muarawati, Lazismu masih terus mendampingi sampai dengan proses pelaporannya hingga tuntas secara kualitas. Lazismu tutut menyampaikan terima kasih kepada BPKH dan semua pihak atas dukungannya. Muarawati mengatakan sebelumnya BPKH telah melakukan visitasi memastikan renovasi telah tuntas.
Dalam kesempatan yang sama, Wamendikdasmen, Fajar Riza Ul Haq, lewat sambutannya mengatakan masjid berfungsi sebagai tempat ibadah perlu dioptimalkan, khususnya untuk turut membentuk karakter generasi muda yang baik.
“Masjid Taqwa Muhammadiyah sedapat mungkin bisa menarik generasi muda untuk menjadikan masjid sebagai tempat yang aman dan nyaman. Sehingga, mampu mengantisipasi dampak negatif media sosial”, paparnya.
Makmurkan masjid sebagai tempat terbuka dan inklusif, tandasnya. Maka perlu membangun sarana pendidikan dengan sistim gotong - royong.
Turut hadir dalam serah terima itu, Wali Kota Pematangsiantar yang diwakili oleh Asisten II Zaenal Siahaan, Wesly Silalah, sejumlah Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Sumatera Utara, PD Muhammadiyah serta Aisyiyah Kota Siantar, Ketua Dewan Masjid Indonesia Kota Siantar, Natsyir Armaya Siregar yang juga mewakili MUI Kota setempat.
[Kelembagaan dan Humas Lazismu Pusat]

SEMARANG – Keberadaan fundraising dalam lembaga filantropi merupakan pondasi utama. Tujuan khususnya adalah menghimpun dana sebanyak -banyaknya untuk keberlangsungan suatu lembaga.
Peran strategis fundraising juga perlu diikuti dengan kecakapan sumber daya amilnya. Oleh karena itu, kemampuan komunikasi tim fundraising menjadi tolok ukur sejauh mana perolehan yang ditarget dapat terpenuhi dengan achievement.
Menilai pentingnya hal itu, Lazismu Wilayah Jawa Tengah kembali menghadirkan komitmennya dalam penguatan sumber daya amil di aspek penghimpunan. Melalui Sekolah Amil Fundraising yang digelar pada Senin, (26/1/2026), di Hotel Candi Indah, segenap jajaran pimpinan serta eksekutif Lazismu dari berbagai daerah mengikuti agenda itu di kota Atlas.
Ketua Badan Pengurus Lazismu Pusat, Ahmad Imam Mujadid Rais, yang hadir dalam kegiatan tersebut, menekankan fokus kegiatan selama dua hari ke depan dari aspek pembaruan dan penguatan SDM. Menurutnya, penguatan kapasitas eksekutif melalui keilmuan yang mendalam adalah kunci utama untuk membangun dan menjaga kepercayaan donatur.
“Fundraising adalah ujung tombak dari proses keberlanjutan Lazismu. Mengutip ayat zakat, Ia mengatakan bahwa kata kuncinya adalah ‘ambillah’. Seorang fundraiser harus mampu berkomunikasi secara persuasif sebagai satu kesatuan yang utuh tentang ajaran Islam,” tegasnya.
Kemampuan amil, sambung Mujadid Rais, adalah kemampuannya memaknai penjelasan ajaran islam tentang zakat untuk memberikan rasa tenang secara spiritual bagi masyarakat saat menunaikannya. Ia menilai pentingnya akuntabilitas. Seluruh kantor Lazismu akan menjalani audit syariah untuk mendukung gerakan dakwah Persyarikatan Muhammadiyah secara lebih profesional.
Senada dengan hal itu, Ketua Badan Pengurus Lazismu Jawa Tengah, Dwi Swasana Ramadhan, menyampaikan urgensi pelaksanaan sekolah amil ini. “Peningkatan skill dan sertifikasi amil sangat krusial, terutama dalam menghadapi momentum besar filantropi Islam”, pungkasnya.
Sekolah Amil Fundraising kali ini diselenggarakan untuk meningkatkan kemampuan yang ditandai dengan sertifikasi amil. Lebih khusus lagi, Dwi mengungkapkan bahwa untuk mewarnai event besar istimewa yaitu Ramadan dan Idul Adha. Dengan bekal sertifikasi BNSP, diharapkan para amil memiliki standar kompetensi yang diakui secara nasional dalam menghimpun dana dari umat.
Dukungan atas terselenggaranya Sekolah Amil Fundraising datang dari Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Tengah. Ahmad Hasan, Wakil Ketua PWM Jawa Tengah, memberikan motivasi kepada para peserta. Ia berharap pelatihan ini tidak hanya menjadi legalitas formal, tetapi benar-benar menjadi lokomotif bagi amil dalam aktivitasnya.
“Selamat melaksanakan Sekolah Amil Fundraising. Mudah-mudahan ini menjadi satu kekuatan untuk Muhammadiyah dan juga Lazismu Jawa Tengah, dengan target penghimpunan yang cukup fantastis, Rp 400 miliar,” ungkapnya penuh optimis.
Sebagai informasi Sekolah Amil Fundraising bertujuan meningkatkan kapasitas para amil, baik di aspek ritel maupun digital. Di samping itu, mempersiapkan amil menuju sertifikasi Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP).
Sebanyak 60 peserta yang terdiri dari Badan Pengurus, Manajer, dan Eksekutif Lazismu Daerah se-Jawa Tengah serta perwakilan luar Jawa Tengah turut ambil bagian dalam pelatihan intensif ini.
[Kelembagaan dan Humas Lazismu Pusat/Lazismu Jateng]

JAKARTA – Wujud pendidikan karakter tidak hanya dipahami peserta didik di ruang kelas. Pendidikan karakter sejatinya dibentuk dengan sikap dan tindakan seperti empati, peduli dan saling tolong menolong. Implementasi sikap dan tindakan tersebut dipraktikan langsung oleh siswa dan siswi Yayasan Masjid Panglima Besar Soedirman, Cijantung, Jakarta dengan galang dana untuk penyintas banjir Sumatera.
Hasil penggalangan dana itu terkumpul sebesar Rp 261.305.474, yang diperoleh dari infak dan sedekah para siswa dari tingkat TK, SD, SMP, SMA dan SMK serta para guru dan karyawan di lingkungan yayasan di Jakarta dan Bekasi. Demikian disampaikan Endang Titiek Soerjandari, Ketua Yayasan Masjid Panglima Besar Soedirman, pada Rabu (28/1/2026), di Gedung Pusat Dakwah Muhammadiyah, Menteng, Jakarta.
“Kami dari yayasan menyerahkan bantuan kemanusiaan untuk saudara-saudara yang tertimpa musibah bencana banjir dan longsor di Sumatera”, kata Endang. Keluarga besar yayasan menyampaikan rasa duka dan prihatin mendalam atas musibah yang menimpa saudara-saudara kita di Sumatera dan Aceh.
“Islam mengajarkan untuk saling tolong menolong, spirit ini yang menjadi landasan untuk saling menguatkan dan saling membantu khususnya saudara – saudara kita di Sumatera yang sedang diuji sejak November tahun lalu”, paparnya.
Semoga bantuan ini, yang kami serahkan melalui Lazismu bermanfaat untuk para penyintas. Endang mengungkapkan, alasan mengapa perwakilan siswa dan siswi kami ajak ke Lazismu? Supaya peserta didik bisa menyaksikan bagaimana proses penyerahan donasi mengadirkan nilai-nilai kebersamaan dan kepedulian kepada mereka yang membutuhkan.
“Insyaallah bantuan ini dapat meringankan dan sebagai penyambung asa kepada penyintas sebagai rasa empati kami”, sambungnya. Kami memercayakannya kepada Lazismu yang amanah dan profesional. Ini sudah yang kesekian kalinya, terima kasih atas sinergi yang terjalin, pungkasnya.
Ketua Badan Pengurus Lazismu Pusat, Ahmad Imam Mujadid Rais, menyampaikan ucapan terima kasihnya kepada Yayasan Masjid Panglima Besar Soedirman. “Donasi kemanusiaan untuk penyintas di Aceh dan Sumatera akan segera disalurkan”, tandasnya. Setelah November Lazismu telah berkoordinasi dengan MDMC dan semua pihak untuk menerjunkan relawan.
Kami perlu sampaikan juga, sambung Mujadid Rais, bahwa yayasan ini beberapa waktu lalu juga menyalurkan bantuan lewat Lazismu ke Palestina. Secara bertahap kami telah menyalurkan dan berkolaborasi dengan pihak-pihak yang saling sinergi melalui jalur Yordania dan Mesir. Saat ini, Lazismu sedang menuju tahap rehabilitasi dan rekonstruksi di Sumatera Utara dan Sumatera Barat, dan di Aceh masih terus berlangsung penyaluran bantuan kemanusiaan.
Perkuat Pendidikan Karakter
Langkah pedagogis yang dilakukan Yayasan Masjid Panglima Besar Soerdirman dalam mengimplementasikan pendidikan karakter turut diapresiasi Kemendikdasmen yang diwakili oleh Arif Jamali Muis. Menurutnya, apa yang dilakukan oleh guru, siswa dan pengurus Yayasan dalam mengumpulkan donasi jauh lebih penting.
“Nilai-nilai kemanusiaan dan agama untuk saling tolong menolong merupakan bentuk praktik sikap dan tindakan dari pendidikan karakter”, ujarnya. Ia menilai, aspek kognitif saat ini berhenti di pendidikan kita. Anak-anak kita paham dan tahu tapi berhenti di kognitif.
Mengapa bisa terjadi, menurutnya karena tidak menyelelami dan menerapkan apa yang diajarkan. Tentu saja, lanjut Arif, pendidikan karakter di Yayasan Masjid Panglima Besar Soedirman diajarkan makna infak, sedekah dan zakat dalam pelajaran agama islam. Dan ternyata lebih jauh dari itu penerapannya.
“Pendidikan karakter yang sesungguhnya juga menarik dari apa yang dilakukan para guru tidak hanya meyerahkan kepada Lazismu, tapi anak-anak diajak ketemu langsung dengan pengurus dan amil Lazismu, serta mengerti apa yang telah dilakukan oleh Muhammadiyah,” jelasnya.
Sementara itu, Arina Maharani salah seorang siswi SMA Yayasan Masjid Panglima Besar Soedirman, Kelas 2, mengatakan bersama keluarga besar Yayasan Masjid Panglima Besar Soedirman menghimpun dana untuk peduli terhadap penyintas banjir Sumatera. "Kami punya jiwa untuk peduli dan empati. Untuk kawan - kawan di sana yang sedang terkendala pendidikan, jangan putus asa karena pendidikan bisa diperoleh dari mana saja", katanya.
Secara simbolis serah terima donasi peduli penyintas bencana Aceh dan Sumatera dari Yayasan Masjid Panglima Besar Soedirman kepada Lazismu disaksikan oleh para guru, pengurus yayasan dan siswa – siswi serta jajaran pimpinan Lazismu Pusat di antaranya Wakil Badan Pengurus Lazismu Pusat Barry Adhitya, Direktur Utama Lazismu Pusat Ibnu Tsani dan Direktur Fundraising Lazismu Pusat Mochamad Sholeh Farabi.
[Kelembagaan dan Humas Lazismu Pusat]

