

JAKARTA - Indonesia tidak henti-hentinya dilanda bencana selain dari pandemi Covid-19 yang kini terjadi gemba bumi di Sulawesi Barat (Sulbar). Universitas Muhammadiyah Prof. DR. Hamka (Uhamka) persiapkan satuan tugas medis ke wilayah bencana gempa bumi di Sulawesi Barat.
Tim medis berangkat Ahad, 24 Januari 2021 dan memulai melaksanakan tugas untuk melayani kesehatan pada 25 Januari hingga 31 Januari mendatang. Bunyamin selaku Wakil Rektor IV Uhamka mengungkapkan satuan tugas medis ini membawa misi kemanusiaan untuk memastikan masyarakat di Sulawesi Barat untuk mendapatkan bantuan medis maupun logistik.
Dilansir dari Republika, Wakil Rektor IV juga menyampaikan satuan tugas medis Uhamka akan selalu siap untuk diterjunkan ke daerah bencana, mereka sudah memiliki kemampuan dan pengalaman dalam kebencanaan. Melalui Lazismu Uhamka logistik dan alat-alat medis tersebut akan digunakan untuk melengkapi logistik dan tim medis yang sudah lebih dulu sampai di Sulawesi Barat melalui MDMC.
Rahmawati selaku perwakilan Lembaga Penanggulangan Bencana Muhammadiyah atau yang biasa dikenal dengan MDMC mengungkapkan sebelumya, MDMC telah melakukan pertemuan dengan Majelis Dikti PP Muhammadiyah, karena tim pelayanan kesehatan ini masih kurang.
"Maka direkomendasikan untuk PTM yang memiliki fakultas kesehatan atau kedokteran dapat membantu melakukan pelayanan di Mamuju,” ujar Rahmawati dalam siaran persnya.
Lebih lanjut Emaridial Ulza Sekretaris Uhamka menyampaikan setelah mendapatkan surat dari MDMC dan informasi dari Majelis Diktilitbang PP Muhammadiyah, mereka bergerak dengan membentuk satuan tugas medis yang terdiri dari dua orang dokter yaitu Adimas Euro Kurnia dan Leli Hesti Indriyati yang merupakan dosen Fakultas Kedokteran dan dua mahasiswa Fakultas Farmasi dan Sains yaitu Tossy Yoga Pratama serta Muhammad Ibadurrohman.
Sesuai arahan dari tim medis MDMC bahwa tugas ini akan dilaksanakan dari tanggal 24 hingga 31 Januari 2021.
"Kami akan menyesuaikan saja, sesuai dengan SOP dari MDMC, yang pasti Uhamka siap terlibat langsung dalam penanganan bencana yang ada di Indonesia. Kami siap menjadi garda terdepan," ujarnya.

MAJENE - Tim Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Muhammadiyah Makassar (Unismuh) tembus pusat gempa di Kecamatan Ulumanda, Kabupaten Majene, Provinsi Sulawesi Barat (Sulbar), Sabtu (30/1/2021) untuk menyalurkan bantuan dan menyapa penyntas gempa.
Bantuan tersebut didistribusikan Tim FKIP Unismuh Peduli Gempa Sulbar melalui Pos Koordinasi Angkatan Muda Muhammadiyah (AMM) di Kecamatan Ulumanda Kabupaten Majene.
Dekan Fakults Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar Erwin Akib mengungkapkan gerakan kemanusiaan ini tetap dalam koordinasi Muhammadiyah Disaster and Management Center (MDMC).
“Setelah mendistribusikan logistik, tim kami langsung mengunjungi daerah atau lokasi pengungsian yang merupakan episentrum gempa yang terjadi di Sulawesi Barat, tepatnya di Desa Kabiraan, Kecamatan Ulumanda, Kabupaten Majene,” jelas Erwin sebagaimana dikabarkan oleh pwmu.
Di desa tersebut, tim bersilaturahmi dengan para relawan MDMC dan menyapa warga penyintas gempa.
“Kami melihat secara langsung kondisi rumah mereka yang memang sudah tidak layak lagi untuk digunakan. Di desa itu relawan MDMC langsung terjun tak lama setelah gempa terjadi,” ujarnya.
Selain menyalurkan bantuan, relawan MDMC di Desa Kabiraan banyak membantu pemulihan infrastruktur. Mulai saluran air bersih hingga evakuasi bangunan roboh.
"Tim Psikososial MDMC sudah bekerja di tempat ini,” tambahnya.
Tim FKIP Unismuh Peduli Gempa Sulbar juga sempat bertemu dengan salah seorang penyintas gempa yang merupakan alumnus Juruan Pendidikan Anak Usia Dini FKIP Unismuh.
“Alhamdulillah alumnus tersebut dalam kondisi sehat bersama keluarganya. Walaupun trauma itu masih ada, tapi secara keseluruhan mereka bisa tetap bertahan dengan keadaan seperti ini,” kata Erwin.

KARANGANYAR - SMA Muhammadiyah 1 Karanganyar melakuka aksi sosial galang dana untuk bencana yang terjadi di Sulbar dan Kalsel.
Aksi-aksi yang dilakukan oleh seluruh sivitas SMA Muhammadiyah 1 Karanganyar tersebut antara lain galang dana melalui sedekah makan gratis, turun ke jalan, dan galang dana secara daring.
Kepala SMA Muhammadiyah 1 Karanganyar, Sumarwanto, S.H., M.Pd. menyampaikan ucapan terima kasih dan apresiasi kepada para guru dan karyawan atas segala upaya secara bersama-sama. Ia juga menegaskan bahwa seluruh keluarga besar SMA Muhi, sebutan SMA Muhammadiyah 1 Karanganyar selalu ditanamkan nilai-nilai kepedulian dan kebersamaan.
"Di tengah situasi krisis karena pandemi, puluhan hingga ratusan warga sekitar SMA Muhammadiyah 1 Karanganyar mendapatkan makanan gratis. SMA Muhi dalam kegiatan Jum’at Berbagi Bersama Lazismu Muhi, menyediakan makanan siap santap bagi warga sekitar yang dibuka setiap Jum’at pagi guna membantu warga yang terdampak pandemi covid-19," ujarnya.
Dilansir dari Kabar Dua Belas, ia menyebut tidak ada syarat khusus untuk menikmati sarapan gratis sepekan sekali ini. Semua orang bebas menikmati makanan tanpa harus menunjukkan kartu atau kupon apapun. Akan tetapi, warga yang datang harus menjalankan protokol kesehatan seperti mencuci tangan dengan sabun, memakai masker, dan menjaga jarak.
Selain memberikan sedekah makan gratis, para relawan SMA Muhi juga menyediakan kotak donasi untuk penggalangan bencana alam di Kalsel dan Sulbar. Guru bahkan masyarakat sekitar berlomba-lomba menitipkan sedekah makan gratis mulai dari nasi bungkus, bubur, sayuran, lauk-pauk, dan ada juga yang menitipkan uang donasi. Kegiatan sedekah makan gratis ini telah terselenggara sebanyak dua kali sejak Jum’at (22/1).
Menurut keterangan Sumarwanto, awalnya kegiatan ini sebagai bentuk rasa syukur atas terpenuhinya target Pendaftaran Peserta Didik Baru (PPDB) gelombang pertama dan kedua bagi SMA Muhi. Namun, kegiatan tersebut akan terus dilakukan karena memberikan manfaat yang besar bagi masyarakat sekitar. Selain mengajak masyarakat dan guru untuk bersedekah, dalam acara ini juga dilakukan penggalangan donasi bencana Sulbar dan Kalsel.
Di sisi lain, SMA Muhi melakukan gerakan galang dana secara daring. Selain sebagai media pembelajaran antar guru dan siswa, platform digital seperti WhatsApp SMA Muhi digunakan untuk penggalangan donasi bencana alam.
Lewat instruksi kepala sekolah, selain penggalangan dari masing-masing pendidik dan tenaga kependidikan SMA MUHI, wali kelas diinstruksikan untuk melakukan penggalangan donasi peduli bencana kepada siswa lewat grup WA kelas.
Aditya Citra, S.Pd., wali kelas XI IPA 2 mengajak para siswanya menggalang donasi guna meringankan beban korban bencana alam Sulbar dan Kalsel melalui grup WA kelas. Penggalangan dana tersebut juga menjadi media pembelajaran bagi siswa tentang pentingnya membangun dan menumbuhkan perasaan empati pada anak-anak.
Menurut Citra, dengan kegiatan tersebut siswa diajarkan pentingnya kepekaan sosial. Hal ini juga dapat menumbuhkan solidaritas, empati, simpati kepada saudara sebangsa setanah air di Sulbar dan Kalsel yang saat ini sedang tertimpa bencana gempa dan banjir. Dari ajakan penggalangan dana tersebut, Citra berhasil mengumpulkan donasi sebanyak empat juta lebih. Selain Citra, setiap wali kelas juga mengajak para siswanya menggalang donasi peduli bencana.
Selain itu, bersama Kantor Layanan Lazismu dan organisasi siswa intra sekolah yang terdiri dari Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM), Hizbul Wathan (HW), Palang Merah Remaja (PMR) dan Seniman Teater Gandrung, SMA Muhi turun kejalan menggalang dana kemanusiaan. Mereka pun berupaya untuk meringankan beban para korban yang saat ini masih berdiam di pengungsian.
Dikoordinir Lazismu SMA Muhi, para siswa membuat kelompok untuk aksi penggalangan donasi terjun ke jalan. Mereka dibagi menjadi tiga sift. Yaitu pagi, siang, dan sore di sejumlah titik di Kabupaten Karanganyar. Tiap harinya kelompok siswa mendapatkan jadwal tersendiri.
“Tujuan kita penggalangan dana ini kan melihat di Indonesia saat ini banyak bencana terutama yang terjadi kemarin di Sulawesi dan Kalimantan. Kita sesama warga negara ya harus saling membantu. Aksi ini kita lakukan setiap hari dimulai sejak 22 Januari,” ujar Direktur Fundraising KL Lazismu SMA Muhi Tatas Supendi, Ahad (31/1).
Aksi galang dana di sejumlah titik tersebut mendapatkan respon baik oleh para pengendara dengan turut membantu mengulurkan tangan bagi mereka yang membutuhkan.
Dari berbagai kegiatan tersebut, sebagaimana dilansir dari Kabar Dua Belas, SMA Muhi berhasil mengumpulkan dana sebanyak Rp. 40.000.000,-. Jumlah tersebut akan bertambah mengingat ada beberapa kotak donasi yang belum diambil dan dihitung.
“Saat ini data yang masuk sudah terkumpul 40 juta rupiah lebih dan masih akan bertambah karena ada beberapa kotak donasi yang belum diambil dan dihitung serta ada beberapa kegiatan sosial lain yang akan dilaksanakan,” terang Tatas.

LAZISMU.ORG - Narasi-narasi besar dan konsepsi-konsepsi spiritualitas yang terdapat dalam al-Qur’an maupun Hadis telah menjadi landasan etis kaum Muslim untuk membangun semangat filantropisme. Tidak sedikit ayat-ayat al-Qur’an yang menginspirasi kaum Muslimin untuk memformulasikan tindakan kebajikan dalam bentuk aktivisme yang bersifat filantropik. Filantropi dalam hal ini mencakup aspek kedermawanan, gotong royong, saling membantu, kebajikan dan kepedulian sosial, solidaritas ekonomi dan lain-lain.
Hal tersebut disampaikan oleh Prof. Hilman Latief dalam pengukuhan dirinya sebagai Guru Besar Bidang Islamic Studies and Arabic yang diselenggarakan pada hari Sabtu (30/1).
Ia menyebut ada semangat yang bernuansa ‘kapitalistik’ dalam ajaran Islam yang dibatasi oleh prinsip-prinsip moralitas yang menjunjung rasa dan tindakan berkeadilan. Hal ini ia sebut dengan ‘dimensi etik’ ajaran Islam yang telah menjadi rujukan kaum Muslim di berbagai belahan dunia, baik ketika mereka menjadi mayoritas maupun minoritas, apapun mazhab atau aliran fikih mereka. Fikih zakat kaum Muslim di berbagai negara, dan khususnya di Indonesia, bisa berbeda-beda.
Hilman menjelaskan bahwa di awal abad ke duapuluh, Ahmad Dahlan dari Yogyakarta (Indonesia), pendiri gerakan Muhammadiyah, harus mengajarkan berkali-kali tentang semangat filantropi dan keadilan dari Surat al-Mâûn kepada murid-muridnya agar Islam dapat menjadi gerakan sosial. Dahlan mendirikan sekolah dan mendorong kalangan muda yang menjadi kadernya untuk mencari ilmu dan bertebaran dimana-mana, namun mereka diminta tetap dapat kembali menggerakkan persyarikatan Muhammadiyah berikut semangat filantropinya.
Selain itu, Muhammad Fethullan Gülen dari Turki menjadi pelopor sebuah gerakan yang disebut hizmet (‘pelayanan’). Ia harus menyampaikan banyak gagasan dalam ceramahnya yang kemudian banyak dibukukan untuk membangun kesadaran ‘etis’ baru seorang Muslim yang hidup di era modern.
Gülen, lanjut Hilman, mendorong para pengikutnya (kaum Muslimin) untuk belajar sains dan menjadi professional dan menjabat di berbagai posisi. Namun mereka diminta tetap menjadi seseorang yang memiliki semangat keberpihakan pada kemanusiaan.
"Setali tiga uang dengan fenomena di atas, Sayyid Qutb dari Mesir dan Ali Syariati dari Iran adalah beberapa nama lain dari para sarjana Muslim yang mengelaborasi dimensi etik Islam agar kesadaran tentang keadilan di kalangan Muslim semakin mengental. Para pemikir Islam komtemporer, juga tidak pernah lepas dari isu keadilan, seperti Hassan Hanafi, Nasr Hami Abu Zayd, dan Asghar Ali Engineer," imbuhnya.
Pria kelahiran Tasik, 12 September 1975 tersebut menyebut karakter dari gagasan-gagasan tersebut memiliki nada-nada yang sangat ‘sosialistik’ dan masxis. Dengan berbagai kontroversinya, para intelektual Muslim memiliki perhatian yang sama tentang perlunya keadilan sosial.
Menurut Hilman, di Indonesia dan juga di beberapa negara lainnya kini ada persinggungan yang lebih kasat mata antara gairah gerakan ekonomi Islam dan semangat filantropisme. Ada relasi yang semakin kuat antara Islam dan ekonomi. Islam tidak hanya dirumuskan sebagai sebuah konsepsi ritual yang menenangkan batin penganutnya, tetapi sebagai sebagai cara pandang dunia yang menopang perilaku ekonomi mereka, mendorong kesejahteraan masyarakat dan menjadikan kelompok Muslim menjadi kelompok yang produktif dan unggul.
Dalam hal ini, menurut Hilman, kelas menengah memiliki peran yang sangat kuat dalam merumuskan konsep-konsep maupun strategi yang diambil dari tradisi Islam untuk meningkatkan taraf hidup dan ekonomi masyarakat. Masyarakat Muslim di beberapa negara mulai melihat bahwa demokrasi dan kapitalisme—dengan berbagai dimensi negatif yang diasosiasikan dengannya seperti sekular, kerakusan, eksploitasi, dan pasar bebas—dianggap tetap akan memberikan dampak ekonomi dan politik yang kuat bila diambil dan dimodifikasi dalam masyarakat Muslim, khususnya kelas menengah.
Sebagian kaum Muslim kemudian membangun ‘habitus’ berupa ‘ruang baru’ untuk menerjemahkan Islam dalam ruang kapitalisme dan sosialisme. Gerakan filantropi Islam yang berkembang dewasa ini, menurut pengamatan Hilman, tidak lepas dari pergulatan yang terjadi antara Islam, semangat kapitalisme dan sosialisme, dan bermutasi menjadi “Islamic-philanthro-capitalism” dengan berbagai derivasinya, termasuk “Islamic philanthropreneurship”. Kaum Muslim mecoba merumuskan kembali makna kapitalisme dan makna Islam, dan mencoba memberikan dimensi moralitas keagamaan terhadap kapitalisme.
Mereka menggeser paradigma lama dalam mendorong manusia untuk membangun kesejahteraan masyarakat dari konsep al-‘abd (hamba) kepada al-fard (individu manusia), dari konsep al-ummah(dalam makna yang terbatas kepada kelompok Muslim semata) menjadi al-mujtama’ (masyarakat umum) agar konsep-konsep kesejahteraan dalam Islam bisa dikembangkan.
"Dalam konteks inilah konsep dasar yang menjadi fondasi ajaran Islam seperti zakat dan shadaqah ditempatkan, yaitu untuk mereduksi ketidakadilan. Kelas menengah Muslim dan perkotaan di Indonesia, dan juga di beberapa negara lainnya, nampaknya memiliki posisi dan peran penting dalam dua atau tiga dasawarsa terakhir dalam merumuskan konsep-konsep baru dari filantropi Islam dan mentransformasikan gagasan sederhana dari zakat dan sedekah menjadi sebuah gerakan sosial kemanusian dan memperkuat ‘Islam sosial’ atau ‘jihad sosial’," imbuhnya.
Hilman menyebut bahwa persepsi pemerintah dan dunia internasional terhadap gerakan filantropi Islam di Indonesia sebagai negara Muslim mulai mengalami banyak pergeseran. Organisasi filantropi Islam yang terus tumbuh dan berkembang tidak lagi ditempatkan sebagai organsiasi yang harus selalu dicurigai dan dipandang sebagai ‘musuh’, melainkan juga sebagai mitra strategis pembangunan.
Di luar berbagai kritik dan sikap kehati-hatian terhadap gerakan filantropi Islam, lanjut Hilman, fenomena yang terjadi dalam beberapa tahun terakhir ini justru menunjukkan bahwa organisasi filantropi Islam kerap terlibat dan dilibatkan oleh negara dalam berbagai misi sosial dan kemanusiaan di berbagai peristiwa. Masalah krisis di Timur Tengah dan beberapa negara lain, telah mendorong lembaga filantropi Islam yang mendapatkan dukungan dari negara untuk berpartisipasi untuk dalam menjalankan misi kemanusiaan seperti di Palestina, Yaman, Syria, Thailand Selatan, Myanmar, Filipina dan lain-lain.
Dalam mendukung dan mengakselerasi pencapaian SDGs pemerintah dan UNDP mulai melirik lembaga filantropi Islam. Pada bulan April 2017, dilakukan penandatanganan nota kesepahaman (MoU) antara lembaga filantropi Islam yang diwakili oleh BAZNAS dengan UNDP dalam rangka mengurangi masalah kemiskinan meningkatkan kualitas hidup masyarakat dan di Indonesia.
"Transformasi lembaga filantropi Islam di Indonesia dan peran yang mereka mainkan untuk mengisi ‘ruang kosong’ dalam program pembangunan di berbagai bidang seperti pengentasan kemiskinan, penyediaan sarana pendidikan, layanan kesehatan, kelestarian lingkungan, ketahanan pangan, penanggulangan bencana alam dan sebagainya menjadi alasan mengapa UNDP dan BAPPENAS menggandeng lembaga filantropi Islam sebagai mitra mereka," ujar alumni Ikatan Pelajar Muhammadiyah tersebut.
Diluncurkannya naskah Zakat on SDGs oleh BAZNAS (Badan Amil Zakat Nasional) dan pengarusutamaan SDGs menjadi faktor penting untuk mengikat lembaga filantropi Islam dalam mempercepat pembangunan. Lembaga Amil Zakat Nasional sudah semakin akrab dengan pencapaian SDGs.
Reporter : Yusuf

SEMARANG - Lazismu Jawa Tengah serahkan mobil operasional ke RS Hj Fatimah Sulhan PKU Muhammadiyah Demak, di kantor Lazismu Jateng Jalan Singosari 33 Semarang, Rabu (3/2).
Mobil diserahterimakan oleh Direktur Lazismu Jawa Tengah Ikhwanushoffa ke dr Budi Istriawan M.MK selaku direktur RS PKU Muhammadiyah Hj Fatimah Sulhan Demak.
Manager Fundraising Lazismu Jateng Wahidin Hasan dan anggota MPKU Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Tengah dr Aldila S Arfah, MMR juga menghadiri prosesi penyerahan mobil operasional tersebut. Mobil Ambulance untuk RS PKU Muhammadiyah yang diperuntukkan untuk mendukung opersional rumah sakit tersebut diharapkan dapat mengoptimalisasikan pelayanan antar jemput pasien dan kegiatan lainnya.
“Indonesian Mobil Clinic (IMC) sebagai mobil opersional diharapkan bisa mempermudah pelayanan pasien, mengingat RS Hj Fatimah Sulhan PKU Muhammadiyah Demak ini sebagai rumah sakit baru, dan masih membutuhkan banyak perangkat pendukung yang perlu dilengkapi”, ungkap Aldila sebagaimana diwartakan oleh pwmjateng.
Wahidin Hasan menegaskan bahwa Masyarakat Demak tentu berbangga dengan berdirinya RS PKU Muhammadiyah Demak, meski masih dalam proses pemenuhan perangkat (alat) kesehatan, namun sudah dapat melayani masyarakat yang membutuhkan.
“Hal yang sangat menggembirakan bagi masyarakat Demak akan kehadiran RS PKU Muhammadiyah, paling tidak memicu kepedulian masyarakat untuk ikut berpartisipasi dan mendukung penuh agar rumah sakit ini bisa memenuhi kebutuhan mendesak masyarakat akan pentingnya pelayanan kesehatan yang berkualitas”, ungkap Hasan.
Selain memberikan bantuan mobil operasional, Lazismu Jawa Tengah berhasil menghimpun dana kemanusiaan senilai Rp. 2.833.376.218,- per hari Selasa (2/2). Donasi ini berasal dari berbagai daerah di Jawa Tengah.
Ikhwanushoffa menyebut bahwa Lazismu Jawa Tengah memiliki target hingga 4 miliar pada akhir Maret 2021. Sebelumnya, ia mentargetkan angka 2 miliar.
"Denggan tingginya kepedulian masyarakat, insyaallah kami optimis target 4 miliar bisa tercapai. Bencana yang datang bertubi-tubi menumbuhkan empati yang mendalam di tengah masyarakat Indonesia dan warga Jawa Tengah khususnya," ujarnya ketika dihubungi lazismu.org.
Sebagaimana diketahui, paska terjadi gempa bumi di Majene, Sulawesi Barat dan banjir di Kalimantan Selatan, keluarga besar Muhammadiyah meliputi Majelis, Lembaga, Organisasi Otonom, dan Amal Usaha di seluruh Indonesia saling bahu-membahu untuk meringankan beban korban bencana.
Reporter: Yusuf

SEMARANG – Lembaga Amil Zakat Infaq Shadaqah Muhammadiyah (Lazismu) Kota Semarang kembali melakukan Bedah Rumah pada putaran ke tujuh, Minggu (31/1).
Melalui kantor Layanan Lazismu (KL) Gayamsari, Bedah Rumah dilakukan di rumah Sri Pamulatsih, warga Purwosari RT 006 RW 004 Kelurahan Tambakrejo Kecamatan Gayamsari Kota Semarang.
Dilansir dari pwmjateng, serah terima simbolis pelaksanaan Bedah Rumah dan serah terima bantuan dilaksanakan di rumah Sri pamulatsih. Acara tersebut dihadiri oleh Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Semarang, Lazismu Kota Semarang, Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Gayamsari, Pejabat pemerintah setempat, serta beberapa pengurus KL Lazismu se Kota semarang seperti KL Lazismu RS Roemani dan KL Lazismu Banyumanik.
Sri merupakan seorang nenek berusia 58 tahun yang sehari-harinya berjualan kelontongan di rumah. Ia tinggal di rumah berukuran 68 meter persegi bersama 3 anak, 3 menantu, dan 3 cucu, sedangkan suaminya telah meninggal dunia beberapa tahun yang lalu.
Kondisi rumahnya sekarang sangat memprihatinkan, bangunan rumah lebih rendah dari jalan, sehingga dalam keadaan rob atau hujan air dapat masuk ketempat tinggal, bahkan rumah yang tidak layak huni tersebut ditinggali 3 KK.
Dalam kondisi usia yang sudah menua dan hidup bersama anak-anak dan cucu-cucunya yang secara ekonomi kurang mampu, sangat sulit bagi keluarga Sri Pamulatsih untuk bisa memperbaiki rumahnya sendiri selain karena tidak memiliki biaya.
Abdullah Muhajir, Ketua PCM Gayamsari mengajak kepada masyarakat untuk memberikan donasi melalui Lazismu. "Pengurus Lazismu mengharapkan uluran tangan para dermawan untuk dapat menyisihkan sebagian hartanya untuk mendukung kegiatan bedah rumah keluarga Sri Pamulatsih”, ujarnya.
Ia juga menyampaikan terimakasih kepada Lazismu, Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Semarang, dan Pimpinan Cabang Muhammadiyah Gayamsari.
Sementara itu, Wakil Ketua PDM Kota Semarang yang membidangi Lazismu Yusuf Hidayat menghimbau kepada seluruh KL Lazismu se Kota Semarang untuk terus semangat berjuang melakukan penggalangan dana agar dapat menyalurkan bantuan kepada warga yang membutuhkan.
“Saya menghimbau kepada seluruh Kantor Layanan Lazismu se Kota Semarang untuk bekerja keras dalam hal penggalian dana infaq shodaqoh untuk dipergunakan semaksimal mungkin untuk beramal shodaqoh di jalan Allah. Karena memang kehadiran Muhammadiyah melalui Lazismu sangat memberikan manfaat untuk umat. Ini yang akan selalu menjadi motto kita, yaitu bekerja beramal demi kesejahteraan umat, “ tegas yusuf.

