

KOTA PALANGKA RAYA -- Pilar Sosial Dakwah merupakan salah satu pilar penyaluran beberapa program yang menjadi fokus Lazismu Wilayah Kalimantan Tengah. Salah satunya adalah program Back to Masjid. Program ini bertujuan menyemarakkan masjid sebagai pusat pembinaan dakwah sosial dan pendidikan serta pemberdayaan sosial dan ekonomi bagi masyarakat sekitar, juga untuk memberikan bantuan perawatan sarana yang kurang mendapatkan perhatian.
Manajer Area Lazismu Wilayah Kalimantan Tengah, Kurniawan menuturkan, program-program yang ada di bawah Pilar Sosial Dakwah diarahkan untuk gerakan sosial dakwah kemasyarakatan yang berdampak langsung dalam menciptakan masyarakat Islami, baik di daerah miskin perkotaan maupun di daerah terpencil dengan semangat dakwah Islam. Termasuk dalam program Back to Masjid yang mampu untuk menjadikan masjid maupun mushola menjadi nyaman.
"Back to Masjid ini berfokus pada sarana masjid, karena masjid bukan hanya sebagai tempat menunaikan ibadah shalat, tetapi juga berperan sebagai pusat pendidikan dan penyebaran syiar Islam. Kemudian, selain juga dapat digunakan sebagai tempat menyelesaikan berbagai persoalan umat, masjid juga menjadi pusat pemberdayaan masyarakat. Dengan adanya program ini, masjid dan mushola terasa nyaman, bersih, dan aman," terang Kurniawan.
Senada dengan Kurniawan, Muhammad Fitriani selaku Ketua Badan Pengurus Lazismu Wilayah Kalimantan Tengah merincikan bahwa Lazismu memiliki enam pilar program dalam kegiatannya, yaitu Pendidikan, Kesehatan, Sosial Dakwah, Kemanusiaan, Ekonomi, dan Lingkungan. Pilar Sosial Dakwah yang dikemas dalam program Back to Masjid ini menjadi salah satu ikhtiar Lazismu dalam perbaikan dan pemenuhan kelengkapan masjid, terutaman di kawasan pelosok. Pada pelaksanaannya, tiga masjid menjadi penerima manfaat bantuan dengan total senilai Rp.27.000.000,- di antaranya Masjid Darul Arqom, Masjid Baitul Gaza, dan Masjid Baiturahman yang berada di Desa Wuran Trans 200 Barito Timur.
"Semoga Lazismu Kalimantan Tengah dapat selalu menebar kebermanfaatan melalui program-progam kebaikan kepada warga masyarakat. Terima kasih kepada para muzakki dan donatur yang selama ini telah memercayakan zakat, infak, dan sedekahnya kepada Lazismu Kalimantan Tengah. Semoga Allah memberikan keberkahan dan selalu meridhai apa yang menjadi niat baiknya," harapnya.
Salah satu penerima manfaat program Back to Masjid adalah Masjid Baitul Gaza. Masjid ini yang berada di Jalan Manduhara Induk, Kelurahan Kereng Bengkirai, Kecamatan Sabangau, Kota Palangka Raya ini merupakan wakaf dari seorang pewakaf yang berprofesi sebagai salah satu pengembang perumahan di kota tersebut. Berdiri di atas lahan seluas 1.200 meter persegi, masjid dengan nama unik ini masih dalam proses pembangunan yang belum selesai pasca diserahkan kepada Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Palangka Raya awal tahun 2024 ini.
[Komunikasi dan Digitalisasi Lazismu PP Muhammadiyah]

KOTA BANDUNG -- Program Lazismu Goes to Campus sukses digelar di Universitas Muhammadiyah (UM) Bandung. Bertempat di Auditorium KH. Ahmad Dahlan, kegiatan ini sukses dilaksanakan oleh Lazismu Wilayah Jawa Berat yang diwarnai dengan penyerahan beasiswa serta Seminar Literasi Keuangan Syariah yang dikupas Fajri Syafaat (Branch Manager Bank Syariah Indonesia) dengan moderator Kaprodi Ekonomi Syariah UM Bandung Yudistia Teguh Ali Fikri.
Ketua Badan Pengurus Lazismu Wilayah Jawa Barat, Chafid Seffriyadi mengatakan, Muhammadiyah dapat bertahan hingga lebih dari seratus tahun salah satunya adalah karena adanya gerakan filantropi. Pendiri Muhammadiyah, KH. Ahmad Dahlan dahulu menggandeng para agnia untuk menyantuni anak-anak yatim sehingga harta mereka bisa manfaat dan tersalurkan.
"Hal ini harus menjadi kebanggaan bagi kita. Saya juga berharap para mahasiswa UM Bandung bisa menjadi garda terdepan dalam gerakan filantropi. Bila perlu, setiap ada aksi, bisa menggalang dana dan jadi pihak yang terdepan. Ini bukan untuk satu pihak, melainkan semuanya, kebaikan untuk semua," ajak Chafid dalam sambutannya pada acara yang berlangsung pada Selasa (07/05).
Chafid pun memberikan apresiasi atas pemberian beasiswa kepada tujuh mahasiswa UM Bandung. Meski baru beberapa orang yang mendapatkannya, tetapi Chafid memberikan apresiasi karena program ini mendapatkan sambutan luar biasa. "Di kampus Muhammadiyah lain, dana beasiswa itu sampai miliaran, bukan lagi ratusan juta. Acara ini juga merupakan sosialisasi Lazismu Jawa Barat kepada segenap sivitas kampus. Kami menggandeng beberapa partner untuk memberikan informasi dan pengetahuan umum kepada mahasiswa tentang literasi keuangan syariah," ungkapnya.
Apresiasi juga diberikan oleh Dekan Fakultas Agama Islam UM Bandung, Afif Muhammad kepada Lazismu Wilayah Jawa Barat atas pemberian beasiswa tersebut. Menurutnya, Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan Aisyiyah (PTMA) di Indonesia bisa sukses karena tidak berdiri sendiri. "Termasuk Lazismu yang hari ini sudah membuktikannya. Kita jangan melihat berapa jumlah (beasiswa). Kita harus melihat niatnya. Saya yakin ini akan menjadi inspirasi dan insyaallah nanti akan semakin besar. Kami terima semua ini dengan baik," ujarnya.
Para penerima beasiswa Lazismu Wilayah Jawa Barat adalah Shopiah Syahidah, Nur Ihsan Fadhilah, Salma Sakinah, Ghaidaa umaimatul wafaa, Muhammad Ilyasa Amrullah, Riki Miftahul Ridwan, dan Moechamad Rafi Idzwan Maulana Al Farisi yang berasal dari Fakultas Agama Islam. Perhelatan Lazismu Goes To Campus ini dihadiri ratusan mahasiswa dari Fakultas Agama Islam UM Bandung. Selain seminar dan penyerahan beasiswa, pentas kreasi seni, standup comedy, kuis berhadiah, dan sebagainya turut memeriahkan kegiatan ini.
[Komunikasi dan Digitalisasi Lazismu PP Muhammadiyah]

KABUPATEN LUWU -- Banjir bandang dan longsor yang terjadi pada awal bulan Mei 2024 lalu sempat melumpuhkan belasan kecamatan di Kabupaten Luwu. Merespons kejadian ini, Muhammadiyah Sulawesi Selatan menggerakkan elemen-elemen persyarikatan untuk turun membantu. Dalam kerangka One Muhammadiyah One Response (OMOR), Muhammadiyah melalui Lembaga Resiliensi Bencana atau Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) dengan dukungan Lazismu bergerak untuk membantu para penyintas.
Salah satu bentuk bantuan yang diberikan adalah penyerahan bantuan logistik dapur umum kepada warga terdampak. Aksi tersebut dilakukan secara bertahap menyisir para korban. Seperti dikemukakan oleh Rusfandi Syabir dari Pusat Data dan Informasi MDMC Sulawesi Selatan, 13 kecamatan terdampak akibat bencana alam ini. 7 di antaranya mengalami kerusakan yang parah. "Banyak aktivitas warga terganggu karena fasilitas masih dalam proses pembersihan lumpur," ujarnya.
Ketua MDMC Sulawesi Selata, Hisbullah Amin menyampaikan bahwa sejak hari pertama kejadian bencana, para relawan Muhammadiyah ikut serta terjun ke lapangan untuk mengevakuasi warga. "Mulai dari hari pertama sampai dengan hari ini, kami dan para relawan masih berkomitmen untuk terus membantu seluruh saudara-saudara kita yang terkena musibah khususnya di Luwu ini," ujarnya.
Tidak hanya dari MDMC, para relawan tersebut berasal dari berbagai elemen persyarikatan, seperti IMM, IPM, Aisyiyah, hingga perangkat Pimpinan Daerah Muhammadiyah yang ada di Sulawesi Selatan. Selain melakukan evakuasi, lanjut Hisbullah, Muhammadiyah juga menyalurkan kebutuhan dapur, pakaian, selimut, susu ibu hamil, hingga makanan siap saji.
Ketua Badan Pengurus Lazismu Wilayah Sulawesi Selatan, Mahmuddin menegaskan bahwa kegiatan dapur umum merupakan bentuk bantuan darurat yang terdiri dari makanan siap saji dan peralatan dapur. Tujuannya adalah untuk membantu korban menghidupkan kembali kegiatan memasak secara mandiri. "Total 1.200 kotak makanan siap saji dan satu set peralatan dapur telah didistribusikan," terangnya.
Bantuan yang diberikan oleh Muhammadiyah sangat dirasakan manfaatnya oleh para penyintas. Salah satunya adalah Iskandar. Ia menyampaikan terima kasih atas bantuan tersebut. Bagi mereka yang kehilangan tempat tinggal, bantuan ini memberikan harapan dan kelegaan di tengah ujian yang berat. Keberadaan bantuan tersebut memberi semangat untuk tetap sabar dan kuat dalam menghadapi masa sulit ini.
Sebelumnya, luapan air dari beberapa sungai menggenangi seluruh permukiman warga di beberapa titik. Tidak hanya itu, jalan raya, fasilitas pendidikan, fasilitas kesehatan, rumah ibadah, hingga persawahan dan perkebunan juga terdampak. Akibatnya, banjir dan longsor menghanyutkan rumah beserta isinya serta kendaraan warga, terlebih saat ketinggian air mencapai sekitar 1 hingga 3 meter.
[Komunikasi dan Digitalisasi Lazismu PP Muhammadiyah]

KABUPATEN SIDOARJO -- Sejak suaminya meninggal dunia pada tahun 2017 lalu, Nurul Hidayati harus hidup berdua dengan anaknya. Perempuan berusia 46 tahun ini mencoba memenuhi kebutuhan hidup dengan berjualan bandeng presto dan otak-otak. Sejatinya, usaha ini telah dijalani selama 15 tahun. Hasilnya pun dapat mencukupi biaya hidup sehari-hari dan biaya sekolah anaknya yang duduk di bangku kelas X SMA.
"Setiap dua hari sekali saya mengolah 15 kg bandeng. Saya jual dengan kemasan plastik seharga 15 ribu, isi 2. Saya jualan mangkal dengan sepeda motor di lokasi pasar kaget di Betro, Sedati, mulai pukul 7 pagi. Biasanya sebelum jam 11 siang sudah habis. Kalau belum habis, saya tawarkan keliling ke pelanggan-pelanggan di sekitar sini," terang Nurul.
Saat ditemui Yekti Pitoyo, amil Lazismu Kabupaten Sidoarjo pada Rabu (15/05), Nurul bercerita bahwa selain memproduksi bandeng presto yang dijual rutin setiap hari, ia pun menerima pesanan. Resep bandeng presto dan otak-otak tersebut diperoleh dari belajar secara otodidak. Kebetulan tempat tinggalnya berada di lokasi tambak bandeng sehingga mudah untuk mendapatkan bahan baku berupa ikan bandeng segar. Otak-otak bandeng merupakan olahan ikan bandeng yang dagingnya dikeluarkan tanpa merusak kulit ikan, kemudian dibumbui, dikukus, lalu digoreng dengan dilumuri kocokan telur.
"Untuk pesanan bandeng presto dan otak-otak dengan merk 'ICHA' ini yang biasanya dipesan untuk oleh-oleh atau acara hajatan, ukuran bandengnya lebih besar sekitar setengah kilogram per ekor. Setiap kotak saya jual seharga 18 ribu. Monggo kalau mau pesan untuk oleh-oleh atau acara hajatan bisa hubungi nomor WhatApp saya 0878-5214-0310. InsyaAllah presto dan otak-otak saya ini bisa tahan sampai 3 hari," ujar Nurul mempromosikan produk miliknya.
Merk ICHA dipilih bukan tanpa alasan. Icha merupakan anak semata wayang Nurul. Nama lengkapnya adalah Afnannafi Icha Azzahra. Sang buah hati ini menjadi penyemangat dalam menjalani hidup. ICHA pun menjadi merk yang tertera di kemasan bandeng presto dan otak-otak tersebut.
Dahulu, kemasan bandeng presto dan otak-otak milik Nurul hanya sederhana. Sudah lama ia berkeinginan memiliki kemasan berupa kotak yang full colour atau penuh warna. Tujuannya agar ada peningkatan pemasaran dan penjualan sehingga produknya bisa naik kelas untuk layak menjadi pilihan oleh-oleh khas Kabupaten Sidoarjo. Namun karena keterbatasan modal, ia mengurungkan niatnya, hingga mendapatkan bantuan dari Lazismu.
"Packing full colour itu harganya mahal karena minimal harus cetak seribu. Dengan kondisi keuangan saya yang terbatas ini, rasanya tidak mungkin bisa mencetak kemasan seperti itu. Alhamdulillah, akhirnya impian saya untuk mengembangkan usaha makanan olahan ikan khas Sidoarjo ini bisa terwujud, bisa memiliki packing bandeng full colur yang tidak kalah bagus dengan yang dijual di toko-toko oleh-oleh di Sidoarjo. Pembuatan packing ini mendapat bantuan dana dan pendampingan dari Lazismu Sidoarjo," ungkap Nurul bangga.
Warga Desa Segorotambak, Kecamatan Sedati, Kabupaten Sidoarjo ini merupakan salah satu penerima bantuan program Pemberdayaan UMKM Binaan Lazismu Kabupaten Sidoarjo. Ia berada dalam kategori Pemberdayaan Ekonomi Keluarga Yatim. Program tersebut adalah bentuk kerja sama Lazismu Pimpinan Pusat Muhammadiyah dengan Bank Mega Syariah dan diimplementasikan oleh Lazismu Kabupaten Sidoarjo.
[Komunikasi dan Digitalisasi Lazismu PP Muhammadiyah/Yekti Pitoyo]

KOTA TANGERANG SELATAN -- Dalam rangka meningkatkan kuantitas dan kapasitas Paralegal yang tersertifikasi, Pos Bantuan Hukum (Posbakum) Pimpinan Pusat (PP) 'Aisyiyah menyelenggarakan Pendidikan dan Pelatihan Paralegal yang bekerja sama dengan Badan Pembinaan Hukum Nasional (BPHN). Kegiatan yang mendapatkan dukungan dari Lazismu ini diselenggarakan pada Kamis-Sabtu (16-18/05) di Training Center – Universitas Muhammadiyah Jakarta, Jalan Poncol Indah VII No.27, Cireundeu, Kecamatan Ciputat Timur, Kota Tangerang Selatan, Banten. Para peserta berasal dari Wilayah DKI Jakarta, Banten dan Jawa Barat.
Ketua Majelis Hukum dan HAM (MHH) PP 'Aisyiyah, Henny Wijayanti menjelaskan bahwa akses, ketersediaan, atau hambatan geografis menyebabkan kelompok masyarakat rentan dan miskin tidak mendapatkan bantuan dari seorang profesi hukum. Salah satu upaya untuk mengatasinya adalah mengisi kekurangan ketersediaan profesi hukum adalah melalui paralegal, sekaligus memberdayakan komunitas/masyarakat untuk mengklaim hak-hak dasarnya. Kegiatan pendidikan dan pelatihan paralegal ini bertujuan untuk menambah jumlah paralegal yang memiliki pengetahuan dan keterampilan keparalegalan dalam rangka mendampingi dan memberikan bantuan hukum bagi masyarakat yang membutuhkan sesuai dengan standar dan ketentuan hukum yang berlaku.
Secara khusus, sambung Henny, kegiatan yang mengusung tema "Peningkatan Kapasitas Paralegal ‘Aisyiyah dalam Pelayanan dan Bantuan Hukum Masyarakat" ini memiliki tiga tujuan. Pertama, untuk memberikan pengetahuan dan pemahaman dasar tentang keadilan sosial, akses keadilan, dan keparalegalan. Kedua, memperkenalkan metode layanan dan bantuan hukum. Ketiga, memberikan keterampilan dasar dalam memberikan konsultasi hukum dan penyuluhan hukum bagi komunitas.
Henny kemudian menambahkan, di lingkungan 'Aisyiyah saat ini sudah tercatat 45 Posbakum, 7 di antaranya telah terakreditasi. Salah satunya adalah Posbakum 'Aisyiyah DKI Jakarta di bawah pengelolaan MHH PP 'Aisyiyah. "Kami berharap setelah bapak ibu menyelesaikan pelatihan ini akan memberikan dukungan kepada terbentuknya posbakkum di wilayah asal dan terakreditasi," ajaknya.
Terakhir, Henny menegaskan bahwa para peserta akan mendapatkan sertifikat yang akan diperoleh setelah mengikuti rangkaian kegiatan dan akan mendapatkan penilaian kelulusan dari penyelenggara, setelah sebelumnya diberikan pengakuan dari BPHN. "Artinya pemerintah mengakui bapak ibu sebagai paralegal yang besertifikat. Dengan adanya peraturan yang baru, peserta yang mendapatkan sertifikat juga berhak menyandang gelar non akademik. Ini menjadi suatu hal yang membanggakan, namun menjadi suatu tanggung jawab karena bisa berperan secara profesional," imbuhnya.
Ketua PP 'Aisyiyah, Masyitoh Chusnan memberikan apresiasi dan ucapan terima kasih kepada Lazismu yang telah memberikan dukungan atas terselenggaranya kegiatan ini. Menurutnya, pelatihan paralegal memiliki manfaat yang panjang. Ini merupakan kegiatan yang sangat strategis, penting, dan mendesak. Ada banyak hal yang mendasari, bagaimana fenomena berbagai permasalahan, terutama perempuan dan anak di Indonesia terhadap kekerasan. "Ketika Aisyiyah melaksanakan kegiatan ini, ini pun menjadi kegiatan yang berdampak panjang dan bermanfaat. Kalau kita melihat tujuan dakwah muhammadiyah dan aisyiyah, kegiatan ini sesuai dengan dasar pergerakan dan dakwah kita," ujarnya.
Masyitoh pun memberikan semangat kepada para peserta. Ia berpesan untuk mengikuti kegiatan ini dengan sebaik-baiknya. "Selamat kepada para calon paralegal. Semoga para peserta menjadi paralegal yang handal, yang ilmunya bisa dimanfaatkan. Ilmu yang tidak diamalkan bagaikan pohon yang tidak berbuah, tidak ada manfaatnya. Selamat mengikuti pelatihan sampai tuntas," ucapnya saat membuka kegiatan ini secara resmi.
Direktur Utama Lazismu PP Muhammadiyah, Ibnu Tsani yang hadir dan memberikan sambutan mengingatkan, kegiatan atau profesi paralegal memiliki dimensi strategis yang sangat penting dan krusial. Paralegal tidak bisa dipisahkan dalam aktivitas hukum baik di dalam maupun di luar pengadilan. "Ada dua unsur yang menjadi pekerjaan rumah dalam konteks advokasi publik, yaitu bagaimana masyarakat sadar akan haknya dan haknya dalam posisi mana," terangnya.
Lebih jauh, Ibnu Tsani mengingatkan bahwa tugas negara adalah melindungi hak warga negara. Seorang paralegal harus memiliki kapasitas untuk membantu memenuhi hak-hak warga negara. Berbeda halnya dengan hak asasi manusia. Jika bicara hak asasi manusia akan sangat beririsan dengan aktivitas paralegal dan hak warga negara. Bedanya, hak asasi manusia harus dilindungi. Oleh karena itu, antara hak asasi manusia dan hak warga negara menjadi satu kesatuan dan tidak bisa dipisahkan satu sama lain.
"Dalam konteks zakat, infak, dan sedekah, aktivitas paralegal adalah mendampingi kaum yatim sosial. Makna yatim identik dengan kata kesendirian. Inilah yang perlu dibela. Makna kesendirian itu adalah pada aspek hak-hak dasar. Paralegal harus membela individu atau masyarakat yang sendirian atau yatim secara sosial karena hak-hak dasarnya didiskriminasi maupun hilang, baik faktor negara atau faktor lainnya," ungkap Ibnu Tsani.
Kegiatan ini diharapkan dapat menambah jumlah paralegal 'Aisyiyah yang berpengetahuan dan memahami kerja-kerja layanan hukum. Peserta juga dapat mengambil peran dan berkontribusi untuk menginisiasi baik dalam pendirian, pengembangan, dan mendukung keaktifan Posbakum 'Aisyiyah di tiap daerah. Di antara peserta dapat berjejaring, saling belajar dan berbagi pengalaman untuk kemajuan Posbakum 'Aisyiyah. Selain itu, peserta yang lulus akan mendapatkan sertifikat Paralegal dari BPHN – Kemenkumham RI.
[Komunikasi dan Digitalisasi Lazismu PP Muhammadiyah]

KABUPATEN DEMAK -- Banjir yang melanda Kabupaten Demak beberapa waktu lalu telah menimbulkan banyak kerugian. Selain daerah terdampak cukup luas, bencana ini dapat dibilang yang terparah dalam 30 tahun terakhir. Berbagai pihak pun mengulurkan bantuan untuk meringankan beban para penyintas, baik saat terjadi bencana maupun sesudahnya.
PT PLN Indonesia Power UBP Jawa Tengah 2 Adipala dan Lazismu Kabupaten Cilacap turut ambil bagian dalam proses pemulihan. Sektor ekonomi dan sosial menjadi sasaran dengan menyelenggarakan kegiatan Pelatihan Pembuatan Abon Tuna. Sebanyak 30 warga Desa Ngemplik Wetan, Kecamatan Karanganyar, Kabupaten Demak turut serta dalam kegiatan yang berlangsung pada Selasa (30/04) ini.
Pelaksana Senior Humas CSR Keamanan PT PLN Indonesia Power UBP Jawa Tengah 2 Adipala, Galih Eka Purnomo menjelaskan bahwa tuna yang dipakai sebagai bahan dasar pembuatan abon tersebut memiliki kandungan gizi yang tinggi. Jika sulit didapat, ikan ini dapat diganti dengan lele. "Di Adipala, ada beberapa balita stunting yang tidak mau makan ikan sehingga kami berinovasi untuk membuat abon ikan sebagai alternatif menu makanan tambahan balita stunting. Alhamdulillah, angka stunting di Kecamatan Adipala Cilacap berkurang," jelasnya.
Manajer Lazismu Kabupaten Cilacap, Budi Santoso berharap agar pelatihan ini dapat meningkatkan kesejahteraan warga di sana. "Dengan ilmu yang didapat hari ini beserta kelengkapannya, kami berharap warga dapat mengembangkannya menjadi usaha yang dapat meningkatkan kesejahteraan mereka di kemudian hari," ujar Budi yang juga didampingi oleh Lazismu Kabupaten Demak.
Kegiatan ini sangat dirasakan manfaatnya oleh warga Desa Ngemplik Wetan. Kepala Desa Ngemplik Wetan, Muntofi'in menyambut baik perhatian yang diberikan oleh PT PLN Indonesia Power Adipala dan Lazismu Kabupaten Cilacap kepada warganya. Menurutnya, kerugian pada bidang insfrastruktur dan ekonomi di wilayahnya mencapai 90%. Ia berharap agar bantuan ini dapat membantu warganya untuk pulih secara mental pasca bencana.
"Pemulihan ini sangat ditunggu-tunggu oleh warga kami yang mayoritas mata pencahariannya sebagai petani dan yang wanita bekerja di sektor perdagangan," harap Muntofi'in.
Pada pelatihan yang berlangsung sekitar tiga jam ini, selain membuat abon ikan tuna, para peserta juga mendapatkan teori pembuatan abon ayam. Dengan demikian kelak para peserta dapat menyesuaikan dengan bahan dasar yang mudah didapatkan. Berbekal peralatan yang diberikan oleh PT PLN Indonesia Power, para peserta dapat membuat abon ikan tuna sampai pada tahap pengemasannya.
[Komunikasi dan Digitalisasi Lazismu PP Muhammadiyah]

