

Belitung – LAZISMU. Oktober kali ini, Lazismu Belitung telah melaksanakan kegiatan penyaluran dana zakat untuk fakir dan miskin. Penyaluran dilaksanakan di kantor Lazismu Belitung Jalan Gegedek, Tanjungpandan pada Selasa, 8 Oktober 2019. Sebanyak 33 mustahik, dengan kategori fakir dan miskin mendapatkan santunan dari Lazismu.
Harun Alrasyid selaku Divisi Program, mengatakan, Lazismu Belitung menyampaikan harapannya, agar melalui kegiatan penyaluran zakat sebagai amanah dari donatur untuk fakir miskin dapat tersampaikan dan tepat sasaran. Karena itu, lanjut Harun, kegiatan ini diselenggarakan rutin setiap bulan.
Acara
penyerahan dipandu oleh Harun Alrasyid dan Nasrullah yang diselingi dengan
menyampaikan informasi ke warga terkait program-program yang ada di Lazismu
Belitung.
Salah
satu penerima manfaat dari program kegiatan ini, Ibu Suryani, mengucapkan
terima kasih kepada Lazismu. Beliau merupakan seorang janda yang hidup
sendirian, untuk memenuhi kebutuhan sehari-harinya bekerja sebagai tukang buruh
cuci dan mengasuh anak. Lewat bantuan santunan ini ibu Suryani sangat terbantu.
Harun
alrasyid menuturkan, program lain yang ada di Lazismu Belitung adalah BIEKA. Salah
satu program kegiatan Lazismu Belitung dalam pendayagunaan zakat infak dan sedekah.
BIEKA ini merupakan kegiatan bantuan modal usaha untuk kaum duafa sebagai bagian
dari solusi untuk mengurangi persoalan kemiskinan lewat pemberdayaan ekonomi
produktif. (na)

Banjarmasin – LAZISMU. Afifah Humairo usianya 5 tahun. Di masa tumbuh
kembangnya, Afifah mengidap Kanker Sel Darah Putih hasil diagnose dokter
spesialis anak di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dr. H. Andi Abdurrahman Noor,
Tanah Bumbu, Banjarmasin. Afifah sedang menjalani kemoterapi, namun membutuhkan
biaya transportasi dan akomodasi meski pasien rawat jalan menggunakan BPJS.
Ayah Afifah, sehari-hari bekerja sebagai buruh di sebuah toko di Simpang Empat, Batulicin. Ia tak mampu membiayai berobat anaknya. Untuk makan sehari-hari saja susah. Ayah dua anak ini tetap tabah dan semangat mengantar anaknya berobat.
Baru-baru ini Lazismu Tanah Bumbu, terhubung dengan orang tuanya Afifah ketika di RSUD. Lazismu menggali informasi atas kondisi Afifah dari ayahnya agar dapat memperoleh bantuan dari para donatur, kata Kusuma Danubrata selaku Ketua Development Program Lazismu Tanah Bumbu (9/10/2019). Ketua Lazismu Tanah Bumbu, Ahmad Hamidi, langsung menyalurkan bantuan sebesar Rp 2 juta untuk kebutuhan selama kemoterapi yang pertama setelah pasien pulang dari perawatan.

Kusuma
mengatakan, selain bantuan kepada Afifah untuk tahap berikutnya, bantuan lain
juga diserahkan kepada penerima manfaat untuk pengobatan katarak, dan bantuan
persalinan. Lazismu juga sedang
mengembangkan suatu sistem pembiayaan kesehatan mandiri berbasis syariah dengan
pilot project di Desa Teluk Kepayang,
Kecamatan Kusam Hulu melalui program Natasa (Dana Talangan Desa).
Lalu
Ahmad Hamidi merinci kembali bahwa jika donatur semakin kuat kepercayaannya,
maka dapat menitipkan sebagian rezekinya di Lazismu lewat program Natasa.
Tujuannya agar warga di Tanah Bumbu terbantu dengan kehadiran Lazismu, paparnya.
Di
kesempatan berbeda, Lazismu Tanah Bumbu juga rutin mengadakan kegiatan
"Mobile Clinic" setiap akhir pekan, khususnya hari Ahad, di desa-desa terpencil, dengan turun ke kampung
memfasilitasi ibu hamil dengan kegiatan USG dan pemeriksaan KIR Mata gratis.
Kegiatan ini juga terinspirasi dari 13 rekomendasi hasil muktamar Muhammadiyah
dan SDG’s. Acara berlangsung pada pekan pertama Oktober di Desa Sumber Baru,
Angsana. (na)

Surabaya – LAZISMU. Siang itu, seorang
amil berbagi informasi melalui pesan daring. Isinya memohon dukungan bahwa
dirinya mendapat informasi dari seseorang yang membutuhkan pertolongan, atas
nama Nur Tsuroyah. Intinya seorang Ibu berinisial Duwi dari Bojonegoro, Jawa
Timur, terdiagnosa sakit tumor hidung. Demikian informasi yang disampaikan
salah seorang amil, Imam Hambali kepada sesama amil di wilayah Jawa Timur.
Ibu Duwi adalah pasien Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dr. Soetomo Surabaya. Menurut informasi, kata Tsuroyah sudah antre kamar untuk tindakan operasi. Awalnya, selama 4 bulan menunggu antrean, Ibu Duwi belum ada panggilan juga. Pasien tersebut terdaftar di peserta JKN - BPJS kelas 2. Saat ini kondisi Ibu Duwi sudah kehabisan dana untuk biaya pergi ke rumah sakit.
Tsuroyah
mengaku tidak mengenalnya, tahu kondisi yang sebenarnya melalui status Facebook
(FB) yang dikirimkan adiknya yang mengeluhkan kondisi Ibu Duwi serta pelayanan
rumah sakit melalui salah satu grup FB warga Surabaya.
Hati
saya tergerak dan berinisiatif untuk membantu agar Ibu Duwi secepatnya bisa ke
RSUD dr Soetomo agar bisa ditangani segera. Selasa 8 Oktober 2019, setelah
berkoordinasi dengan teman (Pak Bambang) yang biasa menangani pasien dan
dibantu ambulans Lazismu Bojonegoro
pasien tiba di IGD sore hari sekitar pukul 16.00 WIB.
Sayangnya
setelah diperiksa dokter, pasien tersebut belum termasuk bagian dari pasien emergency, sehingga pasien dipulangkan
dengan alasan pasien masih bisa makan bubur. Lanjutnya, pasien sudah masuk
dalam daftar antrian kamar. Hanya diberi obat anti nyeri saja. Lalu disarankan untuk
kembali ke poli rawat jalan esok hari.
Tsuroyah
awam dan bukan tim medis. Jadi dirinya tidak tahu pasien dengan kategori
seperti apa yang dianggap emergency menurut keterangan rumah
sakit. Tsuroyah bertanya, apakah pasien yang masuk IGD dan bisa cepat
mendapatkan penanganan adalah pasien yang nafasnya sudah naik sampai
kerongkongan atau bagaimana ? Wallahu’alam.
Foto
tersebut diambil saat kondisi sebelum dan setelah 4 bulan berjalan. Selama menunggu
antrean Ibu Duwi sudah bolak-balik ke rumah sakit di poli rawat jalan termasuk
untuk transfusi darah karena kadar darahnya (HB) terus menurun.
Saat
ini, Ibu Duwi berada di Rumah Singgah. Jika teman-teman ada kelebihan rejeki,
dan terketuk untuk membantu biaya hidup beliau selama berobat di Surabaya,
silahkan inbox saya. Terima kasih.
Diakhir
pesan daring, amil itu menyampaikan; maaf saya hanya bisa berbagi info dari
teman mahasiswa di PTM. Mohon sekiranya bisa dibantu, Saya baru buka malam ini.
Semoga bisa menemukan yang juga peduli untuk menolong orang tersebut. (nt)

Batang – LAZISMU. Manfaat khitan
bagi seorang pria agar alat kelaminnya lebih sehat. Dengan dikhitan menjadi lebih
higienis dan terhindar dari berbagai macam penyakit. Bahkan jika dikhitan pada usia
anak-anak, proses pemulihannya setelah tindakan medis lebih mudah. Sedangkan manfaatnya
dari kacamata sosial terutama bagi yang belum mampu secara ekonomi dapat
dilakukan dengan khitan massal.
Di
Kecamatan Limpung, Batang, Jawa Tengah, seorang anak berusia 9 tahun, dari
keluarga tidak mampu pada 10 Oktober 2019, bisa menunaikan khitan di Klinik
Berlian. Siswa kelas 2 sekolah dasar ini bernama Jaka Satriya. Ayahnya, Jumeri,
hanya bekerja serabutan. Jaka anak pertama, buah pasangannya dari Mutiatun
selaku isterinya.
Menurut
Abdul Wahab Asyifak, selaku Kepala Kantor Layanan Lazismu Limpung, Jaka
kesehatannya tidak normal. “Seperti penyakit keturunan, sebab orangtuanya juga
mengalami sakit yang sama dengan Jaka,” katanya. Dari sisi kejiwaan ada yang
tidak normal, sangat berbeda dengan anak-anak pada umunya, papar Wahab.
Mengapa
Lazismu mengkhitan Jaka, karena sebagai bentuk kepedulian Lazismu terhadap
kondisi keluarganya yang memang perlu mendapatkan uluran tangan. Bersama
Pimpinan Ranting Muhammadiyah (PRM) Sempu , Lazismu juga memberikan bantuan tambahan
berupa 1 paket kado khitan sebesar Rp 150 ribu, serta sarung, baju koko, celana
khitan dan dan peci.
.jpeg?access_token=2898fe02-f8d6-4529-9d2d-24a6389d7f98)
Tujuan lain mengkhitan Jaka, kata
Wahab, untuk menyampaikan syiar dakwah sosial Lazismu, serta meringankan beban
orang tuanya. Melalui semangat saling berbagi, Lazismu ingin menumbuhkan kepedulian
sosial untuk mewujudkan misinya melalui program ini.
Jumeri yang menyaksikan anaknya
dikhitan sungguh bahagia. Ia mengucapkan terima kasih kepada Lazismu dan donatur
yang telah membantu mengkhitan anaknya.
Kantor
Layanan Lazismu Kecamatan Limpung Kabupaten Batang, tergolong masih baru, namun
kiprahnya dalam gerakan zakat di Batang, terbilang mencerahkan. (na)

Madiun – LAZISMU. Kepedulian
terhadap penyandang disabilitas untuk mendapatkan perlakuan yang sama dengan
aksesibilitas merupakan upaya melibatkan mereka untuk berperan aktif dalam
kehidupan sosial, berbangsa dan bernegara. Perlu cara pandang yang sama dalam
merespons penyandang disabilitas agar ada umpan balik yang saling menghormati.
Hal itu bisa dilakukan dengan melaksanakan sinergi program bersama yang dapat mengangkat kehormatan penyandang disabilitas. Seperti yang dilakukan Lazismu Kabupaten dan Kota Madiun beserta Kantor Layanan Lazismu (KLL) Rumah Sakit Islam Siti Aisyah Madiun saling bersinergi melaksanakan “Program Pemberdayaan Difable”.
Bentuk
kegiatannya dengan memberikan bantuan kursi roda khusus dan alat bantu berjalan
bagi yang membutuhkan. Ketua Lazismu Kabupaten Madiun, Indrik Sustyanto,
mengatakan, salah satu penerima bantuan kursi roda, ananda Reyhan, pada Oktober
2019 ini usianya genap 7 tahun. Reyhan murid TK ABA X Desa Sangen, Kecamatan
Geger, Kabupaten Madiun.
Kata
Indrik, setiap hari ke berangkat ke sekolah diantar orang tuanya dengan
digendong. Reyhan selalu dipangku agar bisa duduk mengikuti pelajaran di kelas.
Kursi roda untuk Reyhan diserahkan langsung di rumahnya pada 9 Oktober 2019.
Berkat bantuan kursi roda itu, Reyhan sudah bisa duduk di kursinya sendiri. “Dia
mengikuti pelajaran sekolah dengan mandiri, Reyhan bisa gembira dan tertawa
bahagia saat ibu guru dan teman-teman menyambut kedatangannya,” paparnya.

Dalam kesempatan berbeda, Lazismu juga memberikan bantuan alat berjalan berupa
Kruk (red: Egrang) untuk Ibu Martini yang berusia 43 tahun, warga Desa Sidorejo, Kecamatan Wungu, Kabupaten Madiun, (10/09/2019). Egrang diberikan Lazismu untuk Ibu Martini agar aktivitasnya sehari-harinya sebagai penjahit. Ibu Martini merasa senang, simpul senyumnya membahagiakan.
Syukur
alhamdulillah, ada banyak penerima manfaat yang bisa dibantu Lazismu melalui
program-program sosialnya. Mari kita dukung terus program Lazismu memberi untuk
negeri. Dukungan dan sinergi antar donatur, muzaki, dan pihak-pihak lainnya sangat
berperan dalam memberdayakan mereka yang membutuhkan uluran tangan dengan berkesinambungan.
(Ind/Ad)

Yogyakarta – LAZISMU.
Majelis Ekonomi & Ketenagakerjaan Pimpinan Pusat Aisyiyah (MEK PP Aisyiyah)
menggelar workshop bersama hasil pemantauan dan evaluasi program Rias@ Corner.
Program ini adalah salah satu model pemberdayaan ekonomi perempuan, kerjasama antara Lazismu, MEK PP Aisyiyah dan
Wardah.
Program ini dilaksanakan di 20 kabupaten dengan penerima mafaat sebanyak 100 orang. Acara yang diadakan di Hotel Cavinton Yogyakarta, bertujuan untuk mengetahui capaian, mengevaluasi pelaksanaan serta merumuskan pembelajaran dalam pelaksanaan program Rias@ Corner.
Acara
diselenggarakan selama dua hari dari 11-12 Oktober 2019, dan diikuti oleh
perwakilan penerima manfaat, serta pendamping program dari beberapa kabupaten di
Indonesia. Selain itu, acara ini juga dihadiri oleh perwakilan dari Lazismu dan
wardah.
Menurut
Laras, Ketua MEK PP Aisyiyah, program Rias@ Corner diinisiasi bersama Lazismu
dan Wardah agar bisa menumbukan perekonomian keluarga dan melahirkan
koperasi-koperasi baru di daerah.
Hari
pertama diawali dengan pemaparan berjalannya program serta dinamikanya. Sita
Rahmi, selaku tim monitoring dari Lazismu berharap program ini bisa menjadi
role model.
.jpeg?access_token=5a111e48-53cb-4cbb-810e-2182ac501006)
"Kami
ingin ini bukan hanya sekedar berjalan, bukan hanya dari angka-angka
(pencapaian omset usaha) tapi bisa berkelanjutan dan menjadi contoh
pemberdayaan ekonomi,” pungkasnya. Di sesi lain, ada juga paparan berbagi
informasi dan gagasan terkait kendala yang dihadapi peserta dengan perwakilan
dari Wardah Women Preneur (WWP).
Hari
kedua, penerima manfaat, pendamping dan penaggung jawab program (PIC)
berdiskusi untuk memaparkan pengalamannya apakah ada dampak yang positif atau
ada kendala selama menjalankan program. Dengan menemukan kendala serta mencari
solusi menjadi langkah merumuskan rencana aksi selanjutnya untuk menyelesaikan
kendala yang selama ini dihadapi.
Rizky
Indriani, salah satu penerima manfaat yang berasal dari Lampung mengatakan ia
mendapat banyak manfaat. "Saya dapat keuntungan, menambah kuat jiwa
enterpreneur dan karena saya ibu rumah tangga, jadi bisa menambah kegiatan yang
produktif',” tuturnya.
Ia
berharap kegiatan ini terus berlanjut, ''Kegiatannya bagus, jadi harapannya
terus berlanjut dan ada inovasi dari pihak Wardah seperti kebutuhan tester dan
katalog untuk anggota Rias@,”'sambungnya. (pj)

