

SUKABUMI – Rumah bilik di desa Kabandungan, kecamatan Kabandungan, kabupaten Sukabumi itu milik pasangan Heri Irawan dan Leni Lespinawati. Tata letak rumah terdiri dari ruang tamu, dua kamar tidur sebelah kiri, dan di bagian belakang terdiri dari dapur dan kamar mandi.
Tidak ada perabotan mewah. Di sudut kanan ruang belakang ditemukan kompor hitam dua tungku sudah berkarat. Di sudut kirinya, terdapat kamar mandi dengan kloset jongkok permanen buatan sendiri. Satu bak plastik hitam melengkapi kamar mandi berdinding kayu itu, diterangi sinar matahari yang menyelinap masuk di dinding kayunya yang renggang.
Beberapa gelas dan piring tertata di rak kayu yang kusam. Sebuah panci dan penggorengan yang hitam berkerak tergantung di dinding kayu dapur itu. Leni semringah, ketika rombongan Kemendukbangga/BKKBN yang dipimpin Wihaji mengunjungi rumahnya. Hari itu, Senin (12/1/2026), menjadi istimewa bagi Leni yang didapuk sebagai calon penerima manfaat bantuan program Genting yang bermitra dengan Lazismu.
Masing-masing kamar tidur tanpa dipan menjadi perhatian Wihaji setelah membuka tirainya. Heri, suaminya hanya buruh harian lepas, kata Leni menjawab pertanyaan Pak Menteri. Ia mengaku hanya menerima uang seminggu sekali untuk memenuhi kebutuhan ketiga anaknya. Heri sehari-hari buruh lepas yang setiap minggu membawa pulang Rp 400.000, untuk isteri dan ketiga anaknya.
Leni mengaku untuk makan sehari-hari masih jauh dari bergizi. Kendati ada tanaman sayuran di sekitar rumahnya, kebutuhan untuk protein hewani belum tercukupi. Jika tidak ada uang, Ia dan ketiga anaknya makan seadanya. Sesekali memohon bantuan tetangganya yang berjualan sembako untuk berhutang dan akan dibayarnya saat suami pulang bekerja.
“Leni menyeritakan anak-anaknya bersekolah cukup jauh dengan berjalan kaki. Tanpa uang jajan di saku. Kalau pun ada uang dibekali hanya Rp 3000 dengan senang hati, itu pun tidak setiap hari”, pungkasnya. Tidak ada kendaraan atau pun sepeda untuk mengantar anaknya ke sekolah.
Kondisi itu tak membuatnya patah arang. Bagi Wihaji, yang bertemu dan berdialog langsung dengan Leni sudah cukup untuk menggambarkan bagaimana keluarga berisiko stunting (KRS) menghadapi kesulitan ekonomi. Wihaji berharap tim pendamping keluarga stunting bisa mendampingi dengan penyuluhan dan edukasi.
“Keluarga berisiko stunting disebabkan oleh banyak faktor di antaranya pernikahan dini, pemenuhan asupan gizi yang tak memadai, serta keterbatasan akses air bersih dan sanitasi’, jelas Wihaji menyebutkan faktor yang berpengaruh terhadap terjadinya risiko stunting.
Demikian juga dengan kondisi keluarga Hermawan dan Karyati. Kemiskinan menyelimuti kehidupannya yang tinggal di desa Tugubandung. Hermawan seorang buruh lepas dengan penghasilan Rp 50.000 per hari. Ia harus memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari isteri dan ketiga anaknya.
Sulit baginya memberikan asupan gizi yang cukup untuk buah hatinya. Kondisi rumah yang sama masih menyisakan kendala dalam kebersihan sanitasi. Karyati banyak menyeritakan bagaimana kondisi ekonominya selama ini kepada Pak Menteri. Membeli gas untuk memasak saja tak mampu. Ia mengandalkan kayu bakar untuk memasak di dapur yang persis ada di samping kiri rumahnya.
Anak terakhirnya pun didapati dalam keadaan sakit kulit. Kedua kakinya, dari betis hingga paha penuh ruam dan bintik-bintik hitam. “Kadang suka menangis karena merasa gatal dan demam,kata Karyati.
Impitan Ekonomi
Sekretaris Badan Pengurus Lazismu Pusat, Gunawan Hidayat, yang turut berkunjung bersama Wihaji, mengatakan, keluarga rawan stunting dicirikan dengan ketidakmampuannya hidup yang sehat di lingkungannya, khususnya rumah tinggal.
“Kondisi MCK (mandi, cuci, kakus) yang tidak memenuhi fasilitas standar sehat, termasuk kondisi dalam rumah turut menjadi perhatian’”, ungkapnya. Kemendukbangga/BKKBN berencana merenovasi rumahnya yang akan menggandeng mitra kolaborasinya. Salah satunya Lazismu yang akan mendukung proses renovasinya yang membutuhkan waktu untuk bedah dua unit rumah itu.
Langkah ini, bagian dari kontribusi untuk memanusiakan manusia agar menjadi generasi yang sehat dan cerdas, paparnya. Selanjutnya, Lazismu segera menindaklanjuti dengan melakukan perencanaan pra pembangunan yang melibatkan para pihak di kedua lingkungan bedah rumah tersebut. Setelah mendapat persetujuan kelayakan segera membangun untuk direnovasi secepatnya.
[Kelembagaan dan Humas Lazismu Pusat]

SUMUT – Proses pemulihan pasca-banjir dan longsor di Tapanuli Selatan masih terus berlangsung. Melalui dukungan Lazismu, MDMC akan menghadirkan tiga puluh satu hunian darurat untuk para penyintas.
Ketua Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Budi Setiawan, dalam kunjungannya (9/1/2026) melakukan kunjungan ke Hunian Darurat (Huntara) Batu Hula, Kecamatan Batang Toru, Kabupaten Tapanuli Selatan.
Kunjungan tersebut dilakukan untuk memastikan proses pemulihan berjalan dengan baik dan berorientasi pada kenyamanan serta martabat warga terdampak. MDMC melalui dukungan MDMC Jawa Tengah telah mendirikan sebanyak 31 unit hunian darurat.
Saat ini hunian darurat telah dihuni oleh sekitar 50 kepala keluarga, dengan total jumlah penerima manfaat sebesar 148 jiwa. Hunian darurat ini menjadi langkah penting dalam masa transisi dari tanggap darurat menuju pemulihan, khususnya dalam menyediakan tempat tinggal yang lebih layak dibandingkan pengungsian komunal.
Budi Setiawan mengatakan bahwa hunian darurat memiliki peran strategis dalam memulihkan kehidupan sosial penyintas. “Di lokasi ini, kepala keluarga kembali memiliki ruang untuk mengelola rumah tangganya sendiri, kendati dalam kondisi yang sangat sederhana”, paparnya. Ia mengungkapkan, dibandingkan dengan pengungsian komunal, hunian darurat memberi rasa nyaman sehingga ada martabat bagi warga.
Ia juga mengapresiasi upaya warga yang mulai melakukan penataan dan perbaikan kecil di sekitar hunian sebagai bagian dari proses bangkit pasca-bencana. Menurutnya, inisiatif itu menggambarkan semangat kemandirian yang didukung terus.
Budi berharap ke depannya, bisa dibentuk pengelolaan lingkungan atau sejenis pengurus ketua RT untuk menjaga keamanan dan kenyamanan bersama di kawasan hunian darurat. Kunjungan tersebut menjadi bagian dari pemantauan menyeluruh MDMC terhadap program hunian darurat di berbagai wilayah terdampak bencana.
Dalam sektor hunian, MDMC secara nasional sedang melaksanakan pembangunan hunian darurat bagi penyintas banjir dan longsor di tiga provinsi, yakni Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.
Di Provinsi Aceh, berdasarkan rekap data respons, MDMC menyiapkan 117 unit hunian darurat dengan 294 jiwa penerima manfaat yang tersebar di Kabupaten Aceh Utara, Bireuen, dan Aceh Tamiang.
Pembangunan hunian darurat dilaksanakan secara bertahap dengan dukungan berbagai mitra, sebagai bagian dari upaya memastikan penyintas memiliki tempat tinggal yang aman dan layak pada tahap pemulihan.
Sementara itu, pembangunan hunian darurat di Sumatera Barat masih berada dalam proses penilaian dan pendataan, sebagai dasar untuk perencanaan pembangunan yang disesuaikan dengan kebutuhan di lapangan bersama penyintas.
Melalui kunjungan lapangan ini, MDMC berkomitmen untuk tidak hanya hadir pada fase tanggap darurat, tetapi juga memastikan keberlanjutan pendampingan hingga fase pemulihan. Program hunian darurat diharapkan dapat menjadi ruang aman sementara bagi keluarga terdampak, sekaligus mendukung pemulihan sosial, kemandirian, dan kehidupan yang lebih bermartabat pasca-bencana.
[Kelembagaan dan Humas Lazismu Pusat/MDMC]

BOGOR -- Badan Pengelola Keuangan Haji (BPKH) terus berkomitmen dalam menebar manfaat bagi umat. Melalui mitra kemaslahatan Lazismu, BPKH menyerahkan satu unit mobil ambulans kepada Klinik Pratama Khairu Ummah PKU Muhammadiyah Leuwiliang, Bogor, Jawa Barat, Kamis (8/1/2026).
Bantuan ini merupakan bagian dari Program Kemaslahatan BPKH yang bersumber dari nilai manfaat Dana Abadi Umat (DAU), bukan dari setoran awal haji milik jemaah. Program ini mencakup berbagai bidang, mulai dari kesehatan, pendidikan, sarana ibadah, hingga kemanusiaan.
Direktur Klinik Khairu Ummah, Muhdam Kamaludin, mengungkapkan rasa syukur dan apresiasinya atas bantuan ini. Menurutnya, bantuan ambulans ini hadir di saat yang sangat dibutuhkan karena armada yang ada saat ini sudah berusia lebih dari satu dekade.
"Selama ini kami menggunakan ambulans keluaran 2014 untuk setiap kegiatan kemanusiaan dan kesehatan. Kehadiran BPKH dan Lazismu sangat tepat waktu", ujarnya. Kami berkomitmen menjaga amanah tersebut dengan sebaik-baiknya demi pelayanan umat," kata Muhdam.
Sekretaris Badan Pengurus Lazismu Pusat, Gunawan Hidayat, menjelaskan bahwa penunjukan Lazismu sebagai mitra kemaslahatan merupakan bukti kepercayaan BPKH terhadap tata kelola lembaga yang transparans.
"Menjadi mitra BPKH tidaklah mudah karena lembaga harus teraudit oleh BPK (Badan Pemeriksa Keuangan). Kami menyalurkan ambulans ini karena melihat rekam jejak Klinik Khairu Ummah yang sangat baik dalam merawat aset; mobil berusia 12 tahun saja masih mereka rawat dan gunakan", pungkasnya. Kami harap unit baru ini semakin memacu semangat pelayanan.

Anggota Dewan Pengawas BPKH RI, Rojikin, menekankan bahwa dana yang digunakan untuk pengadaan ini berasal dari imbal hasil pengembangan Dana Abadi Umat yang dikelola secara syariah.
"Dana ini adalah milik umat yang dikelola secara profesional. Kami berpesan agar ambulans ini dimaksimalkan pemanfaatannya. Jangan pilih-pilih pasien; siapa pun yang membutuhkan bantuan medis, harus segera dilayani. Kesehatan adalah hal yang utama, dan kehadiran klinik serta fasilitas ambulans adalah garda terdepannya", tegas Rojikin.
Dengan adanya bantuan ini, diharapkan akses kesehatan bagi masyarakat di wilayah Leuwiliang dan sekitarnya dapat semakin terjangkau dan responsif, sejalan dengan visi BPKH dan Lazismu dalam mewujudkan kemaslahatan yang berkelanjutan.
[Kelembagaan dan Humas Lazismu Pusat/athif]

ACEH -- Mengawali tahun 2026, Lazismu Riau berbagi kebaikan dengan menyalurkan satu truk bantuan kemanusian untuk warga terdampak bencana banjir Aceh Tamiang pada, Jumat (2/1/2026), di Poskorda (Pos Koordinasi Daerah) Muhammadiyah Aceh Tamiang, Kota Kuala Simpang, Kabupaten Aceh Tamiang, Aceh.
Sekretaris Lazismu Riau, Agung Pramuryantyo, menjelaskan bahwa bantuan yang disalurkan tersebut merupakan bentuk kepedulian masyarakat Riau terhadap warga terdampak banjir di Aceh Tamiang
"Alhamdulillah hari ini kita berhasil sampai dengan selamat menyalurkan bantuan untuk warga terdampak banjir di Aceh Tamiang. Bantuan yang disalurkan ini merupakan bentuk kepedulian masyarakat Riau terhadap korban bencana banjir di Aceh Tamang," ungkapnya.
Agung berharap bantuan yang diberikan dapat memberikan manfaat kepada para penyintas bencana banjir serta berharap bantuan yang diberikan tidak hanya kali ini saja tetapi di waktu yang akan datang dapat kembali menyalurkan bantuan ke Aceh Tamiang.
“Bantuan yang diberikan oleh masyarakat Riau ini bisa memberikan sedikit banyaknya manfaat untuk yang terdampak”, pungkasnya. Melihat kondisi di lapangan sangat parah, tentu bantuan yang kita kirim tidak hanya ini saja, harapannya ke depan bisa kembali memberikan bantuan kepada mereka, harapnya.
Sementara itu, Saifanur, Kepala Logistik Poskorda Aceh Tamiang, mengucapkan terimakasih atas bentuk kepedulian masyarakat Riau dengan memberikan bantuan kepada para penerima manfaat serta berharap apa yang diberikan dapat menjadi amal jariah.
Terima kasih kami ucapkan kepada seluruh masyarakat Riau, pemprov Riau serta warga Muhammadiyah se-Riau yang telah memberikan bantuan berbagai macam bahan makanan dan juga kebutuhan lainnya melalui Lazismu. Semoga menjadi amal jariah bagi kita semua dan dapat meringankan beban saudar-saudara kita yang berada di Aceh Tamiang," ujarnya.
[Kelembagaan dan Humas Lazismu Pusat/Lazismu Riau]

ACEH – Komitmen untuk peduli terhadap penyintas terdampak bencana banjir di Aceh, Lazismu bersama PT Asuransi Allianz Life Syariah Indonesia (Allianz Syariah) melaksanakan penyaluran bantuan kemanusiaan berupa layanan kesehatan bagi warga terdampak di Desa Meunasah Lhok dan Desa Buangan, Kabupaten Pidie Jaya.
Aksi kemanusiaan ini bagian dari program respons bencana untuk membantu pemulihan kesehatan masyarakat pasca-banjir, terutama kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, dan Perempuan melalui pilar program kemanusiaan, Indonesia Siaga.
Dalam pelaksanaannya, pada awal pekan Januari, tercatat ada 303 warga terdampak mendapatkan pemeriksaan kesehatan, meliputi pemeriksaan umum, pengecekan tekanan darah, konsultasi, dan layanan obat-obatan yang dibutuhkan.
Manager Program Pendistribusian dan Pendayagunaan, Shofia Khoerunisa, mengatakan bahwa layanan kesehatan ini merupakan komitmen bersama Lazismu dan Allianz Syariah untuk hadir berbagi kepedulian bersama penyintas di situasi darurat bencana.
Selama fase respons darurat Lazismu juga berkoordinasi dengan Lazismu Kantor Layanan Pidie Jaya. Kolaborasi tersebut diwujudkan dengan layanan kesehatan untuk mendeteksi risiko gangguan pernapasan dan iritasi mata meningkat akibat debu tebal dan lingkungan yang belum bersih.
Karena itu, kata Shofia, kami memprioritaskan layanan kesehatan sebagai bentuk ikhtiar menjaga keselamatan dan kesehatan warga terdampak. “Para penyintas membutuhkan masker, kacamata dan alat pelindung sejenis untuk menghindari debu, dan lainnya.”. jelas Shofia.
Melalui layanan kesehatan yang diberikan kepada penyintas, Sekretaris Lazismu Pidie. Afdhalul Rahman, mengungkapkan, banjir yang melanda wilayah Pidie Jaya telah berdampak pada kondisi kesehatan masyarakat, baik akibat lingkungan yang kurang higienis maupun keterbatasan akses layanan kesehatan.
Sinergi antara Lazismu dan Allianz Syariah, menurutnya berupaya memastikan masyarakat terdampak tetap memperoleh layanan kesehatan dasar secara cepat dan layak. Ia mengakui setelah bencana terjadi kondisi lingkungan di sejumlah wilayah Pidie Jaya dipenuhi debu tebal akibat endapan lumpur yang mengering.
Kondisi itu memicu berbagai keluhan kesehatan warga terdampak. Ia mengatakan masyarakat banyak mengalami iritasi saluran pernapasan, batuk, pilek, gangguan pernapasan ringan, serta keluhan pada mata akibat paparan debu.
Situasi ini turut meningkatkan kebutuhan akan alat pelindung diri sederhana tersebut, sebagai pelengkap terhadap posko layanan kesehatan ini, turut terlibat aktif relawan dari One Muhammadiyah One Response dan paramedis kebencanaan.
[Kelembagaan dan Humas Lazismu Pusat]

SUMBAR – Sejak aktivasi MDMC dalam kegiatan respons darurat pascabencana banjir dan longsor di Adeh dan Sumatera, Lazismu terus menyokong secara operasional agar asistensi yang dilakukan berjalan sesuai rencana dalam setiap fase menuju pemulihan.
Memasuki fase transisi dari tanggap darurat menuju pemulihan, Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) menyelenggarakan Pelatihan Dukungan Psikososial bagi 600 guru dan siswa terdampak bencana di Aceh, Sumatera Barat, dan Sumatera Utara.
Pelatihan tersebut dilaksanakan di Universitas Muhammadiyah Sumatera Barat sebagai rangkaian dari respons lanjutan Muhammadiyah untuk mendukung pemulihan sektor pendidikan dan kesehatan mental anak-anak pascabencana.
Tujuan utama pelatihan membantu murid mengenali perasaan dan kecemasan yang muncul setelah bencana, membekali teknik dasar untuk meredakan stres, serta menciptakan lingkungan yang mendukung bagi anak untuk berbagi pengalaman pascabencana.
Peserta juga didorong untuk menyusun rencana pemulihan yang dapat diterapkan di lingkungan sekolah maupun hunian sementara. Bagi para guru, menurutnya, pelatihan difokuskan pada peningkatan pemahaman mengenai dukungan psikososial dalam situasi darurat.
Selain itu, penguatan keterampilan dalam mendeteksi gejala psikologis pada murid, serta kemampuan menyediakan ruang aman dan pendampingan yang efektif pada fase pemulihan. Guru juga dibekali edukasi menyusun rencana aksi pemulihan untuk mendukung keberlanjutan layanan pendidikan di sekolah terdampak.
Pelatihan dukungan psikososial digelar pada 5 –16 Januari 2026, menghadirkan narasumber dan fasilitator dari MDMC serta kalangan profesional, antara lain Budi Santoso, Zakarija Achmat, Psikolog, Elisa Kurniadewi, Psikolog, serta Natta Hendriatti. Pelatihan ini diikuti oleh 600 peserta yang terdiri dari 200 siswa dan 400 guru dari satuan pendidikan negeri maupun swasta di wilayah terdampak.
MDMC berharap murid memiliki kemampuan untuk mengelola kecemasan dan stres pascabencana serta menyusun rencana pemulihan pribadi yang mendukung kesejahteraan psikososial mereka.
Dalam kesempatan yang sama, guru diharapkan dapat memperkuat perannya sebagai pendidik, pendamping pemulihan anak, sekaligus memastikan layanan pendidikan tetap berjalan dengan aman, ramah anak, dan berkelanjutan di masa transisi menuju pemulihan.
Sebagai informasi pelatihan ini diselenggarakan melalui kerja sama Lembaga Resiliensi Bencana Muhammadiyah (LRB) / MDMC dengan Pusat Kurikulum dan Pembelajaran Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (PKPLK Kemendikdasmen), yang didukung Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Aceh, Sumatera Barat, dan Sumatera Utara, serta melibatkan sejumlah Perguruan Tinggi Muhammadiyah.
[Kelembagaan dan Humas Lazismu Pusat/Budi MDMC]

