

EcoprintMu adalah wadah produksi kain bermotif daun serta pewarna alami dengan proses handmade yang digerakkan oleh Lazismu Lhokseumawe.
UMKM yang bergerak di bidang tekstil tersebut melakukan MoU di toko Famous Textile, Jl. Gudang Baru, Kamis, (10/6).
Manajer EcopritMu Lhokseumawe Uswatun Khasanah mengatakan bahwa produk EcoprintMu kini telah tersedia di Famous Textile dan telah terjual dengan baik.
"Bahkan menjelang Ramadhan hingga menjelang hari Raya Idul Fitri kemarin produk kita banyak yang sold out,” ujar Uswah.
Sementara Owner Famous Textile Akhiar atau yang sering di sapa Ryan mengatakan bahwa selama ini, produk Ecoprint sudah mulai bersaing di pasar. Bahkan, menurutnya konsumen produk ecopritMu ini telah di tersebar di beberapa kabupaten dan kota di Timur Utara Aceh.
"Setiap saat produk ecopritMu dibawah manager bu Uswah terus upradge lebih inovatif dan eksotis," imbuhnya.
Farhan Zuhri Baihaqi, Ketua Lazismu Lhokseumawe mengatakan MoU tersebut merupakan langkah hebat.
Menurutnya, Ecoprint harus bisa dikenal masyarakat. Maka, Famous Textile menjadi tempat paling tepat untuk memasarkan produk tersebut.
"Kita berharap agar produk Ecoprint ini bisa laku keras di pasaran dan menjadi arah baru fashion di Aceh selain juga bisa mendongkrak pendapatan bagi pengrajin ecoprintMu yang notabene berpendapatan menengah kebawah," tutup Farhan.
(Syaifulh/Riz/Yusuf)

Penyaluran tersebut dihadiri oleh Direktur Utama Lazismu Pimpinan Pusat Muhammadiyah, M Sabeth Abilawa dan Corcom Alfamidi Pusat, Harry.
Bantuan berupa uang tunai tersebut diberikan kepada pasien rumah sakit di sekitar rumah singgah. Bantuan berasal dari donasi konsumen Alfamidi melalui pengembalian pembelian. Sebelumnya, pada tahun 2020 Lazismu telah melakukan kerja sama dengan Alfamidi untuk menyalurkan donasi pengembalian konsumen Alfamidi.
Rudi Susanto, Kanvasing Program Ekonomi dan Kesehatan Lazismu Pimpinan Pusat Muhammadiyah menyebut bahwa rumah singgah tersebut menampung pasien-pasien dari berbagai daerah yang harus rujuk ke rumah sakit di sekitar Jakarta.
"Kemaren kita data ada 12 penerima manfaat yang mendapatkan bantuan dari Lazismu dan Alfamidi," ujarnya.
Reporter : Yusuf

Nahdlatul Ulama dalam Majalah NU tahun 1938 juga sudah mengangkat isu Palestina. Sebelum kemerdekaan, sudah ada beberapa respon masyarakat Indonesia soal Palestina. 2 tahun setelah Agus Salim menulis tentang Arab dan Yahudi, ia mengangkat isu tentang Al-Aqsa dan kaitannya dengan agama-agama.
Hal tersebut disampaikan oleh Ketua Badan Pengurus Lazismu Pimpinan Pusat Muhammadiyah Prof. Hilman Latief.
Menurutnya, hubungan Indonesia dengan Palestina sudah terjadi sejak lama, bahkan sebelum Indonesia dan Palestina sama-sama berdiri.
Di tahun 1967, Soekarno dengan sangat tegas mendukung Palestina. “Selama kemerdekaan bangsa Palestina belum diserahkan kepada orang-orang Palestina, maka selama itulah Bangsa Indonesia berdiri menantang penjajahan Israel,” ujar Soekarno sebagaimana dikutip Hilman, Jumat (11/6).
Di tahun yang sama, M Natsir menulis sebuah makalah dengan judul “Palestina dan Ummat Islam”. Di Leiden, ceramah-ceramah Natsir tentang Palestina banyak tersebar.
"Sudah ada banyak gerakan solidaritas dari Indonesia untuk Palestina pada waktu itu,” papar Hilman.
Hilman menyebut bahwa sikap orang Indonesia adalah tidak mengakui Israel dan pro terhadap Arab Palestina. Namun, sejatinya pemerintah banyak melakukan hubungan dengan Israel, bahkan membeli senjata ke Israel.
Pemerintah membeli pesawat tempur dari Israel pada tahun 1979. Pada tahun 1982, pemerintah kembali membeli pesawat di Israel. Pada tahun 2001, Menperindag RI menandatangani hubungan perdagangan dengan Israel.
Dalam konteks masyarakat sipil, hubungan Indonesia dan Palestina cukup bagus. Hilman menyebut ada banyak gerakan solidaritas Islam di Indonesia untuk Palestina.
Pada tahun 1973, ada organisasi bernama Panitia Pembantu Perjuangan Pembebasan Palestina dan Al-Aqsha. Organisasi ini dipimpin oleh Sutjipto Judodihardjo, seorang mantan Kapolri.
“Pada tahun 1976 ada Komite Solidaritas Islam (KSI) yang didirikan oleh Luqman Harun. Setelah itu solidaritas Islam untuk Palestina,” imbuhnya.
Selain itu juga muncul Komite Indonesia untuk Solidaritas Dunia Islam (KISDI) yang dipimpin oleh Ahmad Sumargono. Ada Komite Indonesia untuk Solidaritas Palestina (KISPA) yang didirikan oleh Din Syamsuddin. Ada Komite Nasional untuk Rakyat Palestina (KNRP) yang didirikan oleh Suripto.
Sayangnya, menurut Hilman, gerakan-gerakan solidaritas di Indonesia untuk Palestina sangat terfragmentasi. Selain itu, terjadi persepsi politik yang tidak sama terhadap masa depan Palestina, bahkan ada yang pro Israel.
"Belum ada kesamaan paradigma tentang bantuan kemanusiaan,” imbuhnya.
Ia menyebut ada 4 tantangan untuk Ormas Islam di Indonesia. Pertama, peace talk. Ada ruang yang bagus untuk melakukan percakapan, mengingat banyaknya orang Indonesia yang masuk ke Palestina untuk memberikan bantuan secara langsung.
Kedua, humanitarian. Ketiga, soft diplomacy. Keempat, emotional/ideological responses or rational responses.
“Kira-kira apakah Indonesia mampu merumuskan respon yang lebih rasional, secara politik bisa diterima, hingga menyatukan keduanya dan diterima oleh publik? Di satu sisi, ini agak terbelenggu dengan publik Indonesia. Bisakah Muhammadiyah memulai itu?” tutup Hilman.
Reporter : Yusuf

"Saya ingin mengajak kepada teman-teman semua untuk bersama-sama berkontribusi memberikan kebahagiaan kepada rakyat Palestina melalui Lazismu, Lazis Muhammadiyah," ujar Ustadz Adi.
Menurutnya, dalam keadaan perang, masyarakat Palestina tidak bisa merasakan nikmatnya hari raya idul adha. Padahal, masyarakat Indonesia bisa merasakan kenikmatan, kenyamanan, daging yang cukup, dan lain-lain.
"Nun jauh di sana, namun dekat di hati kita, saudara-saudara kita dari Palestina tidak seperti kita. Mereka membutuhkan bantuan kita," imbuhnya.
Ustadz yang populer dengan panggilan UAH tersebut menyampaikan bahwa Bulan Dzulhijjah membawa pesan-pesan kebaikan yang sangat luas, di antaranya adalah penguatan nilai-nilai sosial dan penguatan nilai-nilai kemasyarakat.
Ia berharap masyarakat Indonesia bisa bahu-membahu menunaikan ibadah kurban yang disalurkan ke rakyat Palestina.
"Kita bisa titipkan qurban untuk rakyat Palestina melalui Lazismu," tutup UAH.
Tidak hanya mengajak, UAH juga turut memggalang bantuan dari masyarakat Indonesia kepada rakyat Palestina yang angkanya mencapai 30 miliar rupiah. Dari 30 miliar tersebut, 6,3 miliar rupiah ia salurkan untuk beasiswa kuliah mahasiswa dari Palestina di Indonesia. Beasiswa tersebut disalurkan melalui Universitas Muhammadiyah Jakarta dan Lazismu.
Reporter : Yusuf

Pertemuan tersebut juga dihadiri oleh lembaga zakat lain seperti Lazisnu, Baznas, Dompet Dhuafa, Rumah Zakat, dan Kementerian PPPA.
Pertemuan dilaksanakan dalam rangka pembahasan sinergi penanganan darurat bencana dan proses recovery serta kolaborasi pengentasan kemiskinan di Indonesia.
Sabeth Abilawa menyebut bahwa pihaknya bersama Kemensos dan lembaga lain ingin menjalin komunikasi dan menggali potensi-potensi kerjasama dalam pengentasan kemiskinan dan penanganan bencana.
"Kemensos berencana membuat dashboard terintegrasi dalam pengentasan kemiskinan," ujar Sabeth.
Risma menguraikan, pihaknya akan menyiapkan dashboard mengenai list kebutuhan korban bencana.
“Kita juga akan menyiapkan dashboard. Dengan adanya dashboard itu kita bisa lihat kira-kira apa yang dibutuhkan oleh saudara-saudara kita,” jelasnya.
Informasi dari pemerintah daerah dan masyarakat akan terlihat dengan dashboard. Karenanya dapat membuat penanganan bencana lebih cepat dan tepat lewat berbagi peran dan tugas.
Pada akhirnya, sinergi Kementerian Sosial dan LSM, kata Risma, akan membuat bantuan Kementerian Sosial saat bencana yang kerap terjadi akan lebih mudah teratasi.
Reporter : Yusuf

Dana tersebut akan disalurkan untuk beberapa program. Menurut Direktur Fundraising Lazismu Pimpinan Pusat Muhammadiyah Edi Muktiyono, Lazismu memiliki program jangka pendek, jangka menengah, dan jangka panjang.
Program jangka pendek, menurut keterangan Edi, akan diwujudkan dalam bentuk makanan pokok, obat-obatan, tangan dan kaki palsu, air bersih, sembako, dan lain-lain.
"Dalam program jangka menengah, Lazismu akan memberikan bantuan alat kesehatan yang dibutuhkan di rumah sakit-rumah sakit yang ada di Palestina. Termasuk membelikan mobil ambulans yang sangat dibutuhkan untuk mengevakuasi korban. Mengingat konflik Palestina adalah konflik berkepanjangan," ujar Edi, Rabu (9/6).
Untuk jangka panjang, Lazismu akan membangun fasilitas kesehatan seperti klinik, baik di Gaza maupun di Tepi Barat.
"Yang sudah dilakukan Lazismu bersama MUI adalah pembangunan rumah sakit di Tepi Barat. Sudah bekerja sama dengan Walikota Hebron. Saat ini tinggal realisasi dan peletakan batu pertama," imbuhnya.
Ia menyebut hingga hari ini Lazismu sudah melakukan beberapa kegiatan seperti menurunkan relawan untuk melaksanakan beberapa program. Selain itu, Lazismu akan mengirimkan bantuan relawan untuk membawa bantuan-bantuan yang terkumpul untuk disalurkan ke rakyat Palestina.
Reporter : Yusuf

