

Jayapura –
LAZISMU.
Di sela-sela menggerakan relawan di lokasi pengungsian, MDMC menyempatkan waktu
hadir dalam pengajian rutin Ahad pagi Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota
Jayapura. Dalam kesempatan itu, Naibul Umam dari MDMC Pimpinan Pusat (PP)
Muhammadiyah menyinggung soal peran Muhammadiyah dengan mendirikan lembaga
penanggulangan bencana.
Muhammadiyah
memandang penting urusan penanggulangan bencana sebagai bagian dari mewujudkan
maksud dan tujuan Muhammadiyah. Eksistensi MDMC sangat ditentukan oleh komitmen
warga Muhammadiyah dalam menjalankan kerja-kerja kemanusiaan di manapun berada
karena sejatinya semua adalah relawan Muhammadiyah, demikian Umam mengakatan
dalam pengajian itu.
Muhammadiyah
telah menerbitkan buku Fikih Kebencanaan, isinya menjelaskan konsepsi teologis
dan praksis-implementatif penanggulangan bencana. Umam menjelaskan, buku yang
disahkan oleh Majelis Tarjih ini disusun bersama MDMC dan telah diterjemahkan
dalam bahasa Inggris.
Kehadiran
buku tersebut mendapatkan apresiasi dari berbagai kalangan sebagai buku penting
yang dapat dijadikan pedoman umat Islam dalam memaknai bencana sekaligus
mekanisme mengelola risiko bencana.
"Bencana
bisa menjadi wahana untuk koreksi diri, bahwa masih banyak kesalahan dalam
mengelola hubungan manusia dengan alam. Realitas yang kasat mata bisa kita
deteksi tetapi kerap kita ini abai dengan tanda-tanda alam tersebut dan sering
terlambat mengantisipasinya," papar Umam.
Pengajian
yang dihadiri kurang lebih 100 jamaah warga Muhammadiyah di aula SMP
Muhammadiyah Kota Jayapura (6/10/2019), ini melibatkan semua unsur pimpinan,
majelis/lembaga dan ortom. Sukaryanto, Ketua PDM Kota Jayapura, mengatakan, pengajian
ini diselenggarakan setiap Ahad pagi dan telah berlangsung selama kurang lebih
lima tahun.
.jpeg?access_token=15b474c3-ab9e-4131-ba3e-7a17817731bc)
Pengajian
dimaksudkan untuk menjalin silaturahim dan konsolidasi warga Muhammadiyah di
Kota Jayapura. "Disadari bahwa sekarang ini potensi Muhammadiyah semakin
terlihat ditandai dengan semakin banyaknya jumlah AUM (amal usaha Muhammadiyah)
yang berdiri di Kota Jayapura. Karena itu untuk memupuk komitmen dan sekaligus
peningkatan wawasan keagamaan warga Muhammadiyah maka pengajian ini kami selenggarakan secara
rutin," jelasnya.
Pengajian
kali ini agak istimewa bersamaan dengan momentum kejadian konflik sosial di
Wamena di mana ribuan warga harus menjadi pengungsi di berbagai tempat di
Jayapura. Dalam kesempatan ini, Suparman selaku
Koordinator Poskor Muhammadiyah mengajak jamaah pengajian untuk membantu
kegiatan penanganan pengungsi dengan melakukan penggalangan dana. "Mari
kita gelorakan gerakan infak dan sedekah melalui Lazismu untuk mendukung
program penanganan pengungsi. Kita harus menyadari, situasi dan kondisi yang
tidak menentu ini. Sehingga Muhammadiyah harus bisa mengantisipasi berbagai hal,"
tegasnya.
Selesai
pengajian acara dilanjutkan dengan pelatihan manajemen bencana bagi relawan
Muhammadiyah Jayapura. Diperkirakan 30 peserta akan mengikuti kegiatan ini
sejak pagi hingga sore dan akan dilanjutkan esok hari. (nu/na)

Jayapura – Lazismu. Ribuan
pengungsi Wamena yang ditampung di beberapa lokasi di Jayapura kini kondisinya
berangsur membaik setelah mendapatkan pendampingan dari relawan kebencanaan
yang datang ke lokasi pengungsian. MDMC juga turut memberikan bantuan kepada
para pengungsi tersebut. Relawan MDMC melakukan kegiatan kemanusiaan ini dengan
khidmat serta didukung penuh oleh Lazismu.
Di lapangan mereka berbagi peran dalam menjalankan tugasnya, antara lain melakukan pendataan pengungsi, menyediakan barang bantuan, melakukan koordinasi dengan berbagai pihak, mengunjungi korban yang dirawat di rumah sakit dan mendampingi anak-anak di lokasi pengungsian.
Wahyu Shaqti Ramadhani, misalnya, mahasiswa ini turut ambil bagian dengan tugas melakukan survei kebutuhan pengungsi. “informasi yang kami cari seputar kebutuhan pengungsi, mana yang prioritas kebutuhannya itu yang di data,” katanya saat berada di lokasi pengungsi di Jayapura,”
Kebutuhan paling penting setelah survei adalah pemulihan psikologis bagi anak-anak, maka kami segera keliling Jayapura mencari toko-toko penjual mainan anak anak. Setiap toko kami kunjungi, bila perlu bertemu langsung dengan pemilik toko agar mereka bersedia memberikan harga yang lebih murah karena ini untuk kegiatan sosial kemanusiaan,” tuturnya.
Selain Wahyu, masih ada relawan lain yang mendapatkan peran serupa, yakni Zulkarnain Muslim Asrialdo. Pemuda yang sehari-hari bekerja sebagai staf di KPU Jayapura. Dirinya mengaku mendapatkan tugas untuk mengelola urusan kesekretariatan.
“Saya mendapatkan tugas menyiapkan kebutuhan administrasi dan kesekretariatan, seperti menyediakan spanduk dan lain-lainnya. Termasuk mencari tempat penyedia jasa pembuatan spanduk dengan cepat karena kebutuhan yang darurat dan mendadak,” katanya. Beberapa tempat harus saya datangi, kadang saya harus menunggu agar proses berjalan cepat dengan hasil yang maksimal,” bebernya.
Masih banyak anak-anak muda yang terlibat dalam penanganan pengungsi Wamena di Jayapura ini bersama MDMC. Mereka berasal dari berbagai perguruan tinggi negeri dan swasta, bahkan ada yang masih berstatus sebagai pelajar SMA. Keterlibatan mereka atas keinginan pribadi sebagai bagian dari panggilan kemanusiaan setelah melihat ribuan pengungsi Wamena yang datang ke Jayapura.
Mereka pula yang turut menggerakkan kegiatan Pos Koordinasi Muhammadiyah Jayapura. Suparman selaku Koordinator, mengatakan, keberadaan relawan ini sangat penting sebagai penggerak. Mereka pula yang pernah ikut terlibat dalam penanganan bencana banjir bandang Sentani tahun lalu. Kiprahnya jelas karena tenaga dan pikiran mereka untuk mempercepat proses pengelolaan bantuan dan lain-lain,” katanya.
Di Jayapura ini ratusan relawan dari berbagai organisasi sosial kemasyarakatan turut ambil bagian dalam pendampingan pengungsi. Mereka membantu pengungsi mendapatkan kebutuhan dasar. Sebagian berasal dari Jayapura dan sebagian yang lain berasal dari luar Jayapura. Semuanya bersinergi menjalankan misi kemanusiaan.
Sebagaimana dikatakan Naibul Umam dari MDMC Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah (5/10/2019), selama ini pengelolaan penanganan pengungsi di semua lokasi bencana di Indonesia melibatkan relawan yang berasal dari anak-anak muda Muhammadiyah. Peran mereka sangat penting, seolah tidak tampak, padahal tanpa mereka semua lini tidak akan bergerak. Mobilitasnya tinggi, sehingga kemampuan komunikasi yang baik dengan setiap orang ada dalam diri anak-anak muda ini, sambungnya. (nu/na)

Bogor
– LAZISMU.
Rumah Sakit Islam Jakarta (RSIJ) Pondok Kopi, sebagai amal usaha di lingkungan
Muhammadiyah kembali melaksanakan bakti sosial dan layanan kesehatan kepada
masyarakat yang membutuhkan. Peran ini sering dilakukan RSIJ Pondok Kopi
bersama dengan Lazismu RSIJ Pondok Kopi sebagai bentuk pengabdian dan pelayanan
kepada masyarakat.
Lokasi bakti social kali ini dilaksanakan di Cileungsi, Bogor, Jawa Barat, lokasinya di Masjid Jami Rabiatul Adawiyah, kompleks Perumahan Umum Grand Nusa Indah. Acara berlangsung pukul pkl. 07.00 s.d 12.00 WIB, pada Ahad, 8 September 2019.
Selain amil Lazismu yang diterjunkan, tim medis dari RSIJ Pondok Kopi turut ke lapangan memberikan layanan kesehatan kepada warga setempat. Dokter yang betugas terdiri dari dr. Rendy Septian Pratama dan dr. Kusuma Ramadhani yang dilengkapi bagian apoteker untuk melayani warga yang menerima manfaat dengan resep dokter berupa obat yang telah disediakan.
Dalam sambutannya, Basuki Sudarwo selaku yang mewakili Ketua Lazismu RSIJ Pondok Kopi mengatakan, sangat bahagia dan senang Lazismu dapat berbagi untuk sesama. Tidak hanya bakti social, di sini kami dapat melayani masyarakat yang tidak dalam kondisi sehat untuk memperoleh layanan kesehatan.
Warga
dapat berkonsultasi tentang keluhan yang dialaminya sehingga tim dokter dapat
membantu memberikan pemeriksaan dengan resep dokter yang telah dicatat oleh tim
medis.
Berdasarkan
data di lapangan, sebanyak 79 orang menerima manfaat dari kegiatab bakti social
ini. Dokter Rendy mengatakan, kebanyakan penyakit yang dialami warga keluhannya
penyakit pegal-pegal, masuk angina, darah tinggi dan koresterol.
Sementara
itu, Rizal selaku amil di divisi Sosial dan Ekonomi mengatakan, mengapa daerah
ini dijadikan lokasi bakti social, karena Lazismu mengaggap di daerah ini masih
banyak warga tidak mampu yang membutuhkan bantuan terutama akses terhadap
kesehatan. (na)

Seperti
disampaikan Muhammad Taher Killwo selaku Koordinator Relawan MDMC-Lazimu, upaya tanggap bencana telah menetapkan tiga
pos bantuan, satu di antaranya berperan sebagai posko induk. “Di lapangan terbagi
atas tiga kelompok utama yang mendirikan posko. Masing-masing posko didirikan
dengan fungsi dan perannya masing-masing,” katanya.
Taher
mengatakan, ada dua posko lainnya yang didirikan, khusus untuk layanan kesehatan.
Posko itu didirikan di dua lokasi berbeda sesuai kebutuhan, karena sasaran daerah
itu dinilai dengan tingkat keparahan yang rumit.

Posko
kesehatan itu, lanjut Taher, terletak di tengah pemukiman pengungsi. Adapun
posko logistik yang berperan sebagai tempat bahan makanan atau bahan dasar
kebutuhan masyarakat ditetapkan sebagai posko induk yang letaknya di halaman Masjid
Pesantren Al-Ansor, Desa Liang.
Di
sini posko kesehatan MDMC dan Lazimu, dibagi dua, yakni di Desa Liang tepatnya
di gunung Bunbun dan di Dusun Walare Ujung Batu, Desa Wai. Soal distribusi
bantuan Taher mengatakan, selama pelaksanaan tanggap darurat, tim relawan tidak
mendapati masalah berarti. Namun, masyarakat membutuhkan beberapa bahan seperti
terpal, sementara posko induk kehabisan stok.
Permintan
itu menyusul hujan lebat yang mengguyur pulau Ambon beberapa hari kemarin,
sedangkan ketersediaan terpal tidak mencukupi karena digunakan oleh para
pengungsi. Secara khusus, penyaluran bantuan melalui posko induk menerima
masyarakat korban pengungsian yang bertandang ke posko induk untuk mengambil
ketubutuhan bahan pokok.
Sementara
penyaluran secara massal oleh Lazismu-MCDM nantinya setelah tim relawan selesai
mengindentifikasi pengungsi sesuai kebutuhan. Taher mengaku, data yang telah dikantongi
mancapai kurang lebih 3 ribu jiwa. “Jumlah itu sudah meliputi anak-anak dan
lansia,” pungkasnya.
"Saat
ini, di posko induk relawan sedang melakukan packing paket bantuan. Penyaluran belum dilakukan, karena menunggu
data hasil identifikasi tim relwan di lapangan. Adapun yang aktif disini posko
kesehatan yang melakukan pelayanan tiap hari,” tandasnya.
MDMC
dan Lazismu mengucapkan terimakasih kepada semua pihak, yang telah menunaikan
donasinya dan mempercayakan kepada Muhammadiyah sebagai tempat tujuan berbagi untuk membantu warga yang terdampak.
Ditegaskan
bahwa MDMC dan Lazimu juga mendirikan posko kesehatan dan logistik di wilayah
Kairatu, Kabupaten Seram Bagian Barat tepatnya di Desa Kelapa Dua. Posko
tersebut dikelola langsung pengurus Lazimu Pusat hasil kerja sama dengan SMA
Muhammadiyah Kelapa Dua. (rul)

.jpeg?access_token=95e4510e-4611-45e0-aa40-5b3eed7a9940)

Palu – LAZISMU. Peristiwa gempa
Palu dan Sigi pada 28 September tahun lalu, masih menyisakan cerita. Apalagi
dalam sejarah gempa di Indonesia, selain diikuti gelombang tsunami, masyarakat
dikejutkan dengan fenomena likuifaksi yang menerjang kawasan Petobo, Palu.
Rumah pemukiman warga hilang tertelan lumpur.
Ada
beberapa desa di kecamatan Dolo, Kabupaten Sigi yang terdampak gempa berkekuatan 7.4 SR saat
itu. Salah satunya Desa Lengaleso rata
dengan tanah akibat likuifaksi. Selain kehilangan tempat tinggal warga juga
kehilangan mata pencaharian. Di desa ini pula lembaga amil zakat nasional dalam
hal ini Lazismu melakukan pendampingan bersama Muhammadiyah Disaster Management
Center (MDMC) dan Majelis Pemberdayaan Masyartakat. (MPM).
Keberlanjutan pendampingan pascagempa masih berlanjut, pada 4 – 5 Oktober 2019, MPM bersama Lazismu, menggelar pemberdayaan dan pelatihan masyarakat. Pelatihan digelar dengan mengaktivasi budidaya cacing di Desa Langaleso, Kecamatan Dolo, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah.
Dalam
tahap rehabilitasi dan rekonstruksi (RR) ini, Rudianto selaku tim fasilitator
MPM mengatakan, program pemberdayaan ini diikuti oleh sebagian warga Desa
Langaleso sendiri dan Kotarindau. “Jumlah peserta yang mengikuti pelatihan sebanyak
35 orang,” katanya.
“Dalam
budidaya cacing, jenis cacing yang diplih berasal dari Jawa Tengah. Di samping
budidayanya, nilai tambahnya yang akan dihasilkan adalah produksi pupuk kascing
(bekas cacing),” jelasnya.

Rudianto
menambahkan, pelatihan dilaksanakan pada 5 oktober 2019, yang dilanjutkan
dengan implementasi serta uji coba pembudidayaan padi INPAGO (Inhibrid Padi
Gogo). Jenis padi ini, memiliki keunggulan dari jenis padi lainnya yaitu, tidak
membutuhkan banyak air dalam pengelolaannya. Masa tanamanya relatif singkat,
membutuhkan waktu 110 hari untuk mengetam.
“Model
pembinaan yang dilakukan MPM kepada para petani diharapkan dapat berkelanjutan
samapai dengan Januari 2020 oleh tim Rehab-Rekon Majelis Pemberdayaan
Masyarakat (TRR MPM). Pendampingan initelah dipersiapkan matang hingga
pascapanen, bahkan sampai dengan penjualannya,” paparnya.
Secara
terpisah, Rudianto yang karib disapa Dava saat dihubungi mengatakan, kerjasama
Lazismu dan MPM menginisiasi pelatihan ini sebagai wujud menggerakkan lahirnya
Jatam (jamaah tani muhammadiyah). Sedangkan Lazismu Sigi yang berkolaborasinya
di dalamnya memiliki badan usaha yang bernama Luku atau Lembaga Usaha Kualitas
Unggul. Kegiatan ini merupakan lanjutan dari bantuan Muhammadiyah sejak pascagempa
tsunami dan likuifaksi September tahun 2018.
Hadir
dalam acara pelatihan dan pemberdayaan, Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Palu
yang juga sebagai mitra kolaborasi yang diwakili oleh Saifudin Wakil Rektor III sekaligus sebagai
Ketua MPM Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM)
Sulawesi Tengah, sekalian membuka pelatihan secara resmi. (dv)

