

SUKOHARJO - Di bawah tanggul Sungai Bengawan Solo saya berdiri di depan pintu rumah berukuran 5 x 20 m. Rumah ini tepat berdiri di bantaran Sungai Bengawan Solo di Grogol, Sukoharjo, terletak tepat di timur tanggul. Sementara sebelah barat tanggul adalah jalan raya Solo Baru yang dipenuhi dengan hotel berbintang dan mall-mall besar. Sebuah pemandangan yang menunjukkan betapa kesenjangan ekonomi adalah nyata adanya.
Beberapa hari yang lalu, tembok rumah yang sebelumnya menggunakan papan dari kayu mulai dibangun dengan semen dan batu bata. Sebagian dinding masih terlihat baru dan belum dihaluskan dengan semen.
Rumah-rumah yang berada di bawah tanggul ini selalu kemasukan air setiap hujan turun dengan curah air yang tinggi. Barang-barang yang ada di lantai, termasuk kasur dan perlengkapan tidur lainnya terpaksa diletakkan di atas lemari atau tempat tinggi lainnya agar tidak basah.
Pada tahun 2007 pernah terjadi banjir besar yang tingginya sampai 1,5 m. Namun, banjir ini hanya dirasakan oleh penduduk di bawah tanggul. Sementara yang berada di luar tanggul aman dari bencana banjir.
Rumah itu tidak memiliki ruang tamu. Bahkan, sekedar tempat tidur saja tidak bisa dimasukkan ke dalam rumah sehingga kasur yang ada langsung diletakkan di lantai. Maka, dalam kunjungan saya di siang itu, saya berdiri di depan pintu utama. Sementara Muslih, amil Lazismu Sukoharjo duduk bersama tuan rumah karena hanya ada dua kursi tanpa meja di sudut ruangan utama.
Nama pemilik rumah tersebut adalah Parno. Pak Parno kami memanggilnya. Ia adalah pria paruh baya yang tinggal bersama istri dan kedua anaknya. Sebelum pandemi, ia bekerja menjadi karyawan di toko kaca di daerah Gading, Solo. Namun, pandemi membuatnya dirumahkan sehingga tidak memiliki pekerjaan hingga sekarang.
Untuk kebutuhan sehari-hari keluarga Pak Parno mengandalkan penghasilan istrinya yang menjadi tukang jahit. Karena sempitnya rumah, tempat menjahit istri Pak Parno adalah di halaman rumah dengan alat seadanya.
Pria yang kedua lengannya penuh dengan tato ini dulunya adalah seorang preman. Bahkan, karena aktivitasnya sebagai seorang preman, ia pernah mendekam di penjara. Karena beberapa hal, ia bertaubat. Ia belajar ke salah seorang Kiai yang ada di Sukoharjo.
Kini, setelah tidak lagi berprofesi sebagai seorang preman, sembari mengisi hari-hari yang kosong, ia mengajar TPA di kampungnya. Meskipun kedua lengannya penuh dengan tato, tapi semangatnya untuk agama cukup tinggi.
Melihat hal tersebut, Pemerintah Daerah memberikan bantuan untuk biaya renovasi rumah senilai Rp. 15.000.000,- yang diwujudkan dalam bentuk material. Pak Parno sangat berbahagia mendapatkan bantuan tersebut.
Namun, ternyata hal tersebut tak seindah yang ia bayangkan. Karena semua bantuan diwujudkan dalam bentuk material, ia tidak mampu untuk membayar jasa tukang bangunan. Sedangkan pemerintah daerah terus mendesak agar segera dilaksanakan pembangunan dan segera dibuat laporan. Pembangunan mangkrak selama satu setengah bulan.
Kabar tersebut terdengar oleh Lazismu Sukoharjo. Setelah melalui beberapa tahapan assesment, saya bersama Muslih mengunjungi Pak Parno sekaligus memberikan bantuan berupa uang tunai untuk menyelesaikan pembangunan tersebut, pada Kamis (24/12).
"Terima kasih banyak Lazismu. InsyaAllah dana yang diberikan akan saya manfaatkan sebaik-baiknya," ujar Pak Parno dengan mata berkaca-kaca. (Yusuf)

GRESIK - Luapan Kali Lamong di Kabupaten Gresik, Jawa Timur kembali menggenangi belasan desa di tiga kecamatan, yakni Balongpanggan, Benjeng, dan Kedamean. Hal ini mengakibatkan ratusan rumah penduduk tergenang, serta sejumlah akses jalan desa tidak bisa dilewati.
Kejadian bermula dari adanya hujan deras pada hari Minggu, (27/12). Sekitar pukul 20.00 WIB terjadi Peningkatan TMA Kali Lamong. Pada pukul 22.30 WIB, Kali Lamong mulai meluap dan menggenangi wilayah Desa Wotansari, Kec. Balongpanggang, dan Desa Lundo, Kec. Benjeng.
Di Kecamatan Balongpanggang, banjir menggenangi sebanyak tujuh desa, masing-masing Desa Ngampel, Dapet, Sekarputih, Wotansari, Banjaragung, Pucung serta Desa Karangsemanding yang menggenangi 535 rumah, serta jalan desa setinggi 70-90 cm sepanjang 15 km.
Sementara itu, di Kecamatan Benjeng banjir menggenangi desa Sedapurklagen, Lundo, Deliksumber, Kedungrukem, Munggugianti, Kalipadang, Sirnoboyo, Bulurejo, Klampok, Bulangkulon, dan Dermo. Di Kecamatan Kedamean, banjir menerjang desa Glindah, Tulung, dan Sidoraharjo.
Sebelumnya, banjir yang sama juga melanda Kecamatan Balongpanggang dan Benjeng pada Minggu (13/12). Banjir ini merupakan banjir tahunan sehingga masyarakat terdampak tetap tinggal di rumah masing-masing.
Dalam laporan situasi terkini yang dikeluarkan oleh Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) Gresik pada Senin (28/12), warga masih bertahan di rumah masing-masing dan tidak mengungsi.
MDMC beserta segenap relawan Muhammadiyah menurunkan 82 relawan yang dibagi ke tiga kecamatan. Mereka merespon bencana banjir tersebut dengan mendirikan tiga Pos Cabang Respon Muhammadiyah. Di antaranya adalah Pos Cabang Cerme, terletak di SMA Muhammadiyah 8 Gresik; Pos Cabang Benjeng, terletak di Perguruan Muhammadiyah Benjeng; dan Pos Cabang Panggang, terletak di Perguruan Muhammadiyah Balongpanggang.
Selain itu, MDMC juga melakukan aktivasi Layanan Dapur Umum Pos Benjeng dan Balongpanggang, packing logistik, dan distribusi logisitik. Logistik yang sudah dibagikan berupa nasi bungkus. Di Balongpanggang MDMC membagikan 1.100 nasi bungkus, di Benjeng MDMC membagikan 544 nasi bungkus.
Kebutuhan mendesak relawan Muhammadiyah saat ini antara lain masker bedah, kompor, dandang, susu, kopi, gas, air mineral, makanan siap saji, beras, minyak goreng, garam, gula, sayur, buah, telur, mie instan, dan popok bayi.
Reporter: Yusuf

LAZISMU.ORG - Di masa pandemi, masalah ketahanan pangan menjadi bahan perbincangan banyak pihak. Bukan hanya di kalangan pemerintah, tetapi juga akademisi dan organisasi sosial kemasyarakatan. Dampak pandemi di bidang sosial dan ekonomi sejak Maret yang masih berlangsung saat ini, mau tidak mau mendorong banyak pihak untuk merevitalisasi berbagai program pengentasan kemiskinan secara umum dan mengantisipasi dampak sosial ekonomi yang lebih buruk dari pandemik Covid-19 ini.
Dalam hal ini Persyarikatan Muhammadiyah telah merumuskan pandangan umumnya tentang pentingnya membangun kesejahteraan masyarakat melalui berbagai jalur, seperti pendidikan, kesehatan, ekonomi. Namun demikian, penerjemahan konsep ketahanan pangan yang diusung di masa pandemi ini perlu penerjemahan yang lebih konkret dan operasional, terutama dalam rangka memperkuat ketahanan pangan dan ekonomi berbasis komunitas.
Untuk itu, Lazismu Pimpinan Pusat Muhammadiyah akan menyelenggarakan webinar daring refleksi akhir tahun tentang strategi-strategi pengentasan kemiskinan dan penguatan ekosistem ketahanan pangan Muhammadiyah di bidang peternakan dan pertanian pada Rabu (30/12) siang. Webinar ini akan diikuti oleh Lazismu, Majelis Pemberdayaan Masyarakat (MPM), dan Majelis Ekonomi & Kewirausahaan (MEK) beserta keluarga besar Muhammadiyah di seluruh Indonesia.
Lazismu menghadirkan dua pembicara, yaitu Prof. Ali Agus, Fakultas Peternakan Universitas Gadjah Mada dan Dr. Ir. Gatot Supangkat, Fakultas Pertanian Universitas Muhammadiyah Yogyakarta. Ali Agus berbicara tentang ekosistem ketahanan pangan berbasis komunitas di bidang peternakan, sedangkan Gatot Supangkat berbicara tentang ekosistem ketahanan pangan berbasis komunitas di bidang pertanian.
Webinar ini bertujuan untuk merumuskan gagasan strategis konsep pengentasan kemiskinan dan ketahanan pangan dalam Persyarikatan Muhammadiyah dan merumuskan gagasan strategis tentang ekosistem pengelolaan ternak dan pertanian berbasis komunitas dalam Persyarikatan Muhammadiyah.

PEKANBARU - Meskipun tengah dalam situasi pandemi, Wakil Wali Kota Pekanbaru, Ayat Cahyadi, S.Si kembali resmikan Kantor Layanan (KL) Lazismu Pekanbaru yang ke 12 secara langsung di Komplek Pendidikan Muhammadiyah Jalan Cipta Karya, Tampan, Pekanbaru pada Rabu (16/12).
Ia menjelaskan bahwa dengan adanya Kantor Layanan Lazismu di Pekanbaru yang terletak di Kompleks Pendidikan Muhammadiyah ini dapat memudahkan para guru, karyawan, orang tua dan masyarakat sekitar mudah menunaikan zakat, infak dan sedekah. Kompleks Pendidikan Muhammadiyah ini terdiri dari SMK Muhammadiyah 3, SMP Muhammadiyah 4, dan SD Muhammadiyah 6.
"Tentunya dana ZIS ini diperuntukan kepada anak-anak kita yang kurang mampu. Untuk memberikan bantuan biaya sekolah," jelas Ayat Cahyadi.
Kepala Sekolah SMK Muhammadiyah 3, Drs. Alisman meminta kepada amil Kantor Layanan yang baru diresmikan tersebut untuk mendata para guru dan karyawan yang gajinya telah memenuhi syarat nizhab zakat. Menurutnya, mereka wajib untuk menunaikan zakat.
“Dengan adanya Kantor Layanan ini mereka tidak repot lagi mencari lokasi-lokasi untuk berzakat, dan ini tidak hanya berlaku kepada guru, karyawan, dan orang tua murid tapi juga masyarakat disekitar kompleks Pendidikan Muhammadiyah,” harapnya.
Ia menambahkan bahwa dana yang terkumpul tersebut bisa untuk membantu murid-murid yang kurang mampu untuk pembiayaan pendidikan.
Selaran dengan Drs Alisman, Ketua Badan Pengurus Lazismu Pekanbaru Hari Sinyanto juga menjelaskan bahwa KL ini bisa memberikan pelayanan kepada guru, karyawan, orang tua murid dan masyarakat yang berada disekitar sekolah untuk menunaikan kewajiban berzakat serta berinfak dan sedekah.
“Maka sekolah dalam hal ini bisa bermanfaat untuk masyarakat sekitar. Bermanfaat baik untuk lingkungan sekolah maupun lingkungan di luar sekolah. Kalau lingkungan sekolah bisa membantu anak-anak yang kurang mampu, begitu juga dengan guru-guru yang bergaji belum layak,” harapnya. (Yusuf)

MAROS, SULAWESI SELATAN - Sejumlah warga korban bencana banjir yang melanda lima kecamatan di Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan, mengungsi di masjid, kampus dan kantor pemerintah.
"Sejak kemarin (Selasa) ketika genangan air mulai naik setinggi lutut, warga sudah meninggalkan rumahnya dan mengungsi di tempat yang lebih tinggi seperti di masjid, kampus atau kantor," kata Murni, seorang warga Kelurahan Allepolea, Kecamatan Lau, Kabupaten Maros, seperti dikutip dari Antara, Rabu (23/1).
Murni mengatakan setiap musim hujan di daerahnya selalu menjadi langganan banjir, dan warga tetap bertahan di rumahnya.
Namun kondisi banjir kali ini sangat parah karena air terus naik dan arusnya deras, sehingga warga terpaksa harus meninggalkan rumahnya.
Dia menceritakan warga Allepolea baru pertama kali mengungsi akibat banjir kali ini. Sebelumnya warga setempat tidak pernah mengungsi, meskipun terjadi hujan deras dan menimbulkan genangan air.
Saat ini, sekitar 40 kepala keluarga (KK) yang mengungsi di Masjid Nuruttaqwa, Kelurahan Allepolea, Kecamatan Lau, Kabupaten Maros.
Di sisi lain, Lazismu Kabupaten Maros menemukan daerah yang terisolir akibat banjir dan belum mendapatkan bantuan. Sehingga Lazismu Maros memberikan puluhan paket sembako ke daerah Massaloeng, Kabupaten Maros, Provinsi Sulawesi Selatan. Kegiatan ini dilakukan sebagai bentuk Kepedulian yang besar dari Muhammadiyah untuk masyarakat melalui Lazismu ini.
Manager Lazismu Maros Ahmad Hamzah mengatakan bahwa bantuan sembako tersebut merupakan respon Lazismu Kabupaten Maros dalam menanggapi informasi adanya daerah terisolir akibat banjir beberapa hari yang lalu yang tidak tersentuh oleh lembaga lain.
“Satu-satunya jalur menuju daerah tersebut diakses dengan menggunakan perahu. Untuk itu, kami bergerak ke daerah tersebut untuk memberikan perhatian khusus dengan membagikan sembako agar dapat memudahkan warga dalam memenuhi kebutuhan sehari-harinya. Tak lupa kami selalu mengajak kepada masyarakat untuk menyalurkan zakat, infaq dan sedekahnya melalui Lazismu Maros. Juga kepada muzakki (donatur) kami ucapkan banyak terima kasih atas kepercayaannya dalam mengelola zakat, infaq dan sedekahnya," jelasnya sebagaimana dilansir dari matakita.
Sementara itu Ketua Lazismu Maros Nasrun Ruddin berharap agar dengan bantuan ini, masyarakat yang terdampak banjir bisa tetap makan.
“Semoga dengan program Lazismu Maros berbagi, masyarakat yang terimbas banjir bandang dapat merasakan uluran tangan atau bantuan dari para donatur melalui Lazismu Maros, khususnya dusun – dusun yang terisolir. Untuk itu kami sangat mengharapkan partisipasi para donatur agar semakin banyak lagi masyarakat dusun yang bisa kami sentuh dan program ini bisa terus berjalan dan berkesinambungan. Semoga ini semua menjadi ladang pahala jariyah bagi kita semua, insya Allah,” jelasnya.
Reporter: Yusuf

LUMAJANG - Hari Selasa, (29/12), keluarga besar Lazismu se-Indonesia, khususnya Jawa Timur, dalam keadaan berduka cita dan merasa sangat kehilangan atas kepergian seorang pejuang Zakat. Beliau adalah Drs. Muari, MM, Ketua Badan Pengurus Lembaga Amil Zakat, Infaq dan Shodaqoh Muhammadiyah (Lazismu) Kabupaten Lumajang.
Pak Muari (62 tahun), pergi meninggalkan keluarga tercinta, kerabat, sahabat dan rekan-rekan seperjuangannya pada selasa pagi tadi karena sebuah kecelakaan maut di jalan raya.
Walau berusia lanjut, semangat perjuangan beliau sungguh luar biasa di Lazismu. Beliau dikenal sebagai Pengurus Lazismu yang tangguh dan gigih, tak kalah gesit dengan yang muda-muda. Sikap low profile dan entengan membuat pak Muari akrab dengan siapapun. Di mata para relawan kebencanaan MDMC, pak Muari dianggap sebagai Bapak dan panutan.
Menurut penuturan Kuswantoro, Amil Lazismu kabupaten Lumajang, rencananya pagi tadi ia dan pak Muari akan berkunjung ke seorang mustahik di Jatoroto yang kakinya patah dan membutuhkan bantuan dari Lazismu. Pak Muari memang sudah meminta kepada Kuswantoro agar Lazismu bisa segera membantu orang yang tertimpa kemalangan itu, tanpa menunggu lama.
Kuswantoro pun berniat menjemput pak Muari ke rumahnya di desa Tempeh, 8 km jauhnya dari kota Lumajang. Namun dicegah oleh pak Muari.
“Tak usah, saya pergi ke kantor naik sepeda motor saja. Nanti sampai di kantor kita berangkat naik mobil bersama-sama ke Jatiroto,” kata pak Muari seperti yang ditirukan oleh Kuswantoro.
Kuswantoro pun segera berangkat ke kantor Lazismu agar tidak terlambat berangkat ke Jatiroto bersama pak Muari. Lokasi kantor Lazismu satu atap dengan Gedung Dakwah Muhammadiyah, Jalan Brantas Lumajang.
Namun belum sampai di kantor Lazismu, Kuswantoro mendapat kabar dari rekan melalui HP bahwa pak Muari mengalami kecelakaan maut. Pak Muari kecelakaan ketika keluar dari SPBU yang terletak di Jl Besuk Tempeh Lumajang, usai mengisi bensin sepeda motornya. Beliau terlanggar kendaraan mobil box yang melaju dari arah utara. Beliau pun sudah dalam kondisi tak bernyawa ketika dibawa menuju ke rumah sakit.
Innalillahi wainnailaihi roji’un, maut pun menjemput pak Muari di tempat kejadian. Lokasi kecelakaan persis di depan Panti Asuhan Muhammadiyah, yang salah satu perintisnya adalah pak Muari. Ketika meregang nyawa, pak Muari tetap setia dengan baju batik Lazismu kesukaannya, yang selalu dipakai pada berbagai kegiatan Lazismu.
Hati Kuswantoro pun menjadi masygul, lemas dan tak mengira kejadiannya akan setragis ini. Tak ayal tangis Kuswantoro pun pecah. Ia lah yang selama ini selalu menemani dan mendampingi pak Muari dalam setiap tugas dan urusan Lazismu. Kemanapun pak Muari pergi, pasti ada Kuswantoro.
Begitu pula dengan rekan-rekan seperjuangannya di Persyarikatan Muhammadiyah, mengenal sosok pak Muari sebagai pejuang kebaikan yang selalu tak pernah lelah memperhatikan sesama yang membutuhkan pertolongan. Pimpinan Daerah Muhammadiyah, Ortom dan AUM se-Kabupaten Lumajang hari ini berbela sungkawa yang sedalam-dalamnya atas kepergian beliau.
Tiba di rumah duka dari rumah sakit, setelah dimandikan, dikafani dan disholatkan, jenazah pak Muari sore ini dimakamkan di makam desa Tempeh dekat rumahnya. Keluarga, anak-cucu, kerabat, handai taulan, rekan dan para sahabat melepas kepergian beliau dengan penuh duka cita yang sangat dalam.
Selamat jalan pak Muari, semoga engkau Syahid dan Khusnul Khotimah. Amal ibadah, perjuangan dan kebaikanmu akan menjadi teman abadi di alam kuburmu. Engkau pun senantiasa dikenang, dan keluarga yang engkau tinggalkan semoga diberikan kesabaran, ketabahan dan tawakal kepada Allah SWT. (Adit)
Selengkapnya baca disini

