

PAMULANG -- Perkumpulan Organisasi Pengelola Zakat (POROZ) menggelar Sarasehan bertepatan dengan miladnya yang ke-8 pada, Ahad (8/2/2026) di kediaman Ketua Umum POROZ, Mochammad Bukhori Muslim. Sarasehan tahun ini mengusung tema “Ecotheology Zakat: Zakat for Environmental Sustainability”.
Tema tersebut merupakan ikhtiar kolektif POROZ dalam mengintegrasikan nilai-nilai ekologis dalam pengelolaan zakat serta menjawab tantangan krisis lingkungan dan kebencanaan. Acara ini dihadiri oleh Direktur Pemberdayaan Zakat dan Wakaf Kementerian Agama RI, Waryono Abdul Ghafur, serta Pimpinan BAZNAS RI, Rizaludin Kurniawan.
Kehadiran kedua tokoh tersebut menegaskan dukungan strategis terhadap peran POROZ dalam memperkuat sinergi, tata kelola, dan dampak zakat di Indonesia. Sarasehan dibuka dengan sambutan dari Ketua Umum POROZ, Mochammad Bukhori Muslim, yang menegaskan bahwa tema Ecotheology Zakat merupakan respons terhadap isu lingkungan yang semakin mengkhawatirkan.
Ia menekankan pentingnya membangun kesadaran ekologis tidak hanya di kalangan amil zakat, tetapi juga mustahik, agar praktik zakat semakin berorientasi pada keberlanjutan dan penjagaan alam.

Selaras dengan itu, Direktur Eksekutif POROZ, Nur Hasan, dalam sambutannya mengatakan, zakat memiliki keterkaitan erat dengan alam. “Zakat yang bersumber dari kekayaan dan hasil alam sudah seharusnya kembali memberikan manfaat bagi kelestarian lingkungan dan keseimbangan ekosistem,” ujarnya.
Hasan mengajak seluruh anggota POROZ untuk mengarusutamakan pendekatan ekoteologi dalam desain program dan intervensi zakat ke depan. Dalam kesempatan yang sama, Direktur Pemberdayaan Zakat dan Wakaf Kemenag RI, Waryono Abdul Ghafur, memberikan apresiasi tinggi terhadap kontribusi Lembaga Amil Zakat (LAZ), khususnya dalam respons kebencanaan di Sumatera dalam beberapa waktu terakhir.
Menurutnya, bantuan yang diberikan LAZ menjadi testimoni nyata bagi para penyintas dan berperan penting dalam meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap pengelolaan zakat. Momentum Harlah ke-8 POROZ semakin strategis dengan resminya bergabung dua anggota baru, yaitu LAZNAS IKADI (Ikatan Da’i Indonesia) dan LAZ Investa Amanah Zakat.
Bergabungnya kedua lembaga ini memperluas jejaring POROZ sekaligus memperkuat kapasitas kolektif dalam pengelolaan zakat, pemberdayaan mustahik, dan respons kebencanaan berbasis nilai-nilai keberlanjutan.
Acara ditutup dengan penandatanganan Komitmen Kolaborasi Ecotheology Zakat oleh para pemangku kepentingan yang hadir sebagai bentuk kesepakatan bersama dalam mendorong praktik zakat yang berorientasi pada keberlanjutan lingkungan. Sebagai simbol nyata kepedulian ekologis, kegiatan diakhiri dengan penanaman pohon bersama di area sekitar kediaman Ketua Umum POROZ.
Melalui Sarasehan Harlah ke-8 ini, POROZ menegaskan komitmennya untuk terus membangun ekosistem zakat yang lebih sinergis, berdaya dampak, dan berkelanjutan bagi manusia serta alam.
[Kelembagaan dan Humas Lazismu Pusat/POROZ]

ACEH– Menjelang datangnya bulan suci Ramadhan 1447 H, yang diperkirakan jatuh pada 18 Februari 2026, Lazismu Aceh Utara menggelar aksi pilar program sosial dan kesehatan berupa khitanan massal yang didukung penuh Lazismu Jawa Barat, Aisyiyah Aceh dan MDMC Aceh Utara.
Khitan Massal dipusatkan di Poskorda Muhammadiyah Aceh Utara pada Jum’at, (7/2/2026). Kegiatan ini merupakan bagian dari Kick Off Ramadhan yang bertujuan untuk meringankan beban ekonomi masyarakat sekaligus menjalankan syiar dakwah filantropi Islam.
Ketua Lazismu Aceh Utara, Azkia Algifari menyampaikan bahwa program ini merupakan bagian dari pilar kesehatan yang rutin dilakukan setiap tahun. "Kami ingin memberikan kebahagiaan kepada anak-anak dari keluarga penyintas banjir sebelum memasuki bulan puasa sehingga mereka bisa beribadah dengan lebih nyaman setelah pulih", jelasnya.
Melalui tema semangat "Zakat Memakmurkan Semua", Lazismu berkomitmen hadir di tengah masyarakat melalui pilar kesehatan dan sosial, sambung Azkia. Selain mendapatkan layanan khitan gratis, para peserta juga diberikan paket bingkisan berupa sarung, al-Qur'an, serta santunan tunai untuk memotivasi anak-anak agar tetap ceria pascabencana melanda.
Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Aceh Utara, T. Anwar, menyebutkan bahwa program ini didukung oleh tenaga medis profesional dari Muhammadiyah serta donasi dari para muzakki. Aksi nyata ini diharapkan dapat mempererat tali silaturahim antarwarga Muhammadiyah dan masyarakat di Aceh Utara.
Lebih lanjut kata Anwar, Lazismu Aceh Utara ini sudah melebarkan sayapnya dengan usia yang masih belum dua bulan usai pembentukan. Melalui kegiatan tersebut diharapkan dapat memperkenalkan Lazismu sehingga suasana Ramadhan kali ini disambut penuh keberkahan dan kebahagiaan.
Saat ini, Lazismu Aceh Utara sudah mengadakan beberapa program sosial, bahkan beberapa warga juga sudah membayar zakat, hingga tokoh-tokoh sentral di Aceh Utara yang sudah menyatakan akan menunaikan zakat melalui Lazismu Aceh Utara.
Sebagai lembaga amil zakat di bawah naungan Muhammadiyah, Lazismu berkomitmen mengelola zakat, infak, dan sedekah secara amanah, profesional, dan berkemajuan. Bagi masyarakat yang ingin terus mendukung aksi kemanusiaan serupa, informasi program dan penyaluran donasi dapat diakses melalui platform donasi Lazismu.
[Kelembagaan dan Humas Lazismu Pusat/Lazismu Aceh Utara]

SITUBONDO -- Masjid Al-Azhar berlokasi di kompleks SD Muhammadiyah terpadu Besuki Situbondo. Suara, canda dan tawa anak-anak terdengar riuh ramai. Ada 105 siswa-siswi SD Muhammadiyah, TK Aisyiyah dan kelompok bermain duduk di ruangan masjid. Mereka didampingi guru, ustadzah serta beberapa orang tua wali murid.
Siang itu, Lazismu Jawa Timur, yang diwakili Aditio Yudono, didampingi Manager Lazismu Situbondo hadir di Masjid Al-Azhar. Lazismu membawa bantuan berupa 105 paket perlengkapan sekolah (School Kit) untuk siswa - siswi dan delapan unit kompor gas untuk orang tua wali murid.
Penerima manfaatnya yang menerima bantuan adalah siswa - siswi dan orang tua wali murid yang terdampak bencana banjir bandang yang terjadi di Besuki kabupaten Situbondo beberapa pekan yang lalu. Demikian disampaikan Aditio Yudono Wakil Ketua LAZISMU Jatim yang membidangi pendistribusian dan pendayagunaan saat memberikan sambutan seraya menyemangati para siswa - siswi yang hadir pada Kamis, (6/2/2026).
"Mudah-mudahan siswa - siswi SD Muhammadiyah, TK Aisyiyah dan peserta kelompok bermain terus bersemangat menuntut ilmu dan mengembangkan diri. Peristiwa bencana yang telah terjadi mari diambil hikmahnya”, kata Aditio.
Yang paling penting adalah tidak menyerah dengan kondisi yang tidak diharapkan. Aditio mengungkapkan arahan orang tua dan guru sedapat mungkin bisa mengarahkan anak anak dalam menghadapi bencana dengan motivasi yang menggembirakan.
Salah seorang guru kelompok bermain, Ruli Indriani, mewakili guru dan ustadzah yang hadir menyampaikan ucapan terima kasih dan merasa bahagia atas perhatian dan kepedulian dari Muhammadiyah, khususnya Lazismu dan MDMC, yang telah berpartisipasi dalam penanganan banjir bandang di Situbondo beberapa waktu lalu.
Ruli juga mengapresiasi bantuan school kit atau perlengkapan sekolah yang sangat dibutuhkan oleh anak didik yang peralatan sekolahnya hancur dan hanyut diterjang banjir. Kami juga menyampaikan terima kasih atas bantuan sembako hingga peralatan memasak untuk orang tua wali murid sebagai penyintas banjir.
Adzan ashar berkumandang, sebanyak 105 paket School kit dan 8 unit kompor gas pun segera didistribusikan kepada para penerima manfaat yang terdampak bencana banjir. Masing -masing penerima manfaat dan para hadirin mendapatkan satu kaleng makanan Rendangmu yang merupakan produk qurban kemasan Lazismu Jawa Timur.
Pada kesempatan yang sama, Manager Lazismu Situbondo, Sugiran, menjelaskan dalam proses respons darurat Lazismu menyampaikan laporan perkembangan. Peristiwa banjir bandang yang terjadi pada 21 Januari 2026 di kabupaten Situbondo, berdampak pada 7400 KK di 15 desa yang ada pada 5 kecamatan. “Terbanyak di kecamatan Besuki, sebanyak 5414 KK yang terdampak. Tinggi air banjir sekitar 50 cm hingga mencapai 2 meter”, tuturnya.
Banjir bandang di kabupaten Situbondo tidak terlalu lama surutnya. Tapi berdampak pada tempat tinggal warga. Sugiran mengungkapkan, dari hasil asesmen MDMC dan Lazismu Situbondo, banyak warga yang kehilangan rumah lalu mengungsi ke rumah kerabat terdekat.
“Sementara itu sungai masih berpotensi meluap jika terjadi curah hujan tinggi. Beberapa rumah warga tidak dapat ditempati karena mengalami kerusakan cukup serius”, pungkasnya. Beberapa lokasi terisolir di kecamatan Jatibanteng dan Besuki karena jembatannya putus terdampak banjir yang menyebabkan akses antar desa dan kecamatan terganggu.
Berdasarkan pantauan Lazismu Situbondo, warga masih mengalami kesulitan untuk memenuhi kebutuhan pokok pangan karena dapur rusak dan beberapa alat dapur terbawa arus banjir. Beberapa siswa sekolah ada yang belum mengikuti kegiatan belajar mengajar.
Pimpinan Daerah Muhammadiyah Situbondo melalui MDMC dan Lazismu berupaya melayani warga terdampak bersama instansi pemerintah dan lembaga kebencanaan lainnya. Bantuan dan dukungan bagi warga terdampak banjir difokuskan di kecamatan Besuki.
Respons yang sudah dilakukan oleh Muhammadiyah antara lain: penyaluran bantuan sembako untuk Guru AUM terdampak banjir, bantuan paket sembako dan donasi untuk siswa TK ABA 1 Besuki, dan melakukan asesmen terhadap siswa-siswi dan untuk mengetahui kebutuhan tempat tinggal dan kebutuhan keluarga penyintas banjir di Kecamatan Besuki dan Banyuglugur.
[Kelembagaan dan Humas Lazismu Pusat/Ddt]

BIREUEN – Kolaborasi program kemaslahatan antara Badan Pengelola Keuangan Haji (BPKH) dan Lazismu menyasar penyintas banjir dan longsor di Kabupaten Bireun, Aceh, dengan menyalurkan bantuan kemanusiaan bagi penerima manfaat.
Bantuan disalurkan pada Selasa (3/2/2026), untuk pemulihan Masjid Taqwa Muhammadiyah Peusangan, Masjid Jamik Lendanon Peusangan Siblah Krueng, serta Musholla Muhammadiyah Samalanga. Ketiga rumah ibadah tersebut mengalami kerusakan akibat banjir bandang yang melanda wilayah Bireuen beberapa waktu lalu.
Ketua Lazismu Bireun, Fajar Ardiansyah, mengatakan dalam program ini, BPKH dan Lazismu menyalurkan berbagai sarana pendukung ibadah, antara lain al-Qur’an dan lemarinya, sajadah, mukena, perlengkapan shalat, serta perangkat pengeras suara.
“Selain bantuan sarana ibadah, dilakukan pula perbaikan fisik berupa pengecatan ulang dinding masjid, perbaikan kran air, dan fasilitas pendukung tempat wudhu untuk menunjang kenyamanan jamaah”, ujarnya.
Sinergi BPKH dan Lazismu, kata Fajar, berdasarkan pemantauan di lapangan, semuanya saling melengkapi terlibat langsung dalam proses pemulihan, mulai dari pembersihan masjid hingga perbaikan sarana masjid yang terdampak banjir.
Pengurus masjid dan mushola penerima bantuan menyampaikan apresiasi serta terima kasih atas perhatian dan dukungan yang diberikan. Imam Masjid Jamik Lueng Daneun, Tgk. Nazli, menyampaikan, bantuan tersebut sangat membantu proses pemulihan rumah ibadah di lingkungannya.
Penyaluran bantuan program kemaslahatan BPKH di masjid-masjid yang terdampak turut dihadiri oleh Geuchik Lueng Daneun, Taufik, serta Ketua Pemuda Gampong Lueng Daneun, sebagai bentuk dukungan unsur masyarakat terhadap pemulihan rumah ibadah pascabencana. Mereka berharap bantuan ini dapat mempercepat proses pemulihan dan menghidupkan kembali aktivitas ibadah dan pelayanan umat di lingkungan masing-masing.
Dalam kesempatan berbeda, Manager Program Kemitraan Lazismu Pusat, Upik Rahmawati, mengatakan, kegiatan ini merupakan bagian dari program kemaslahatan BPKH tahun 2025 untuk wilayah Provinsi Aceh.
“Dana bantuannya, sambung Upik, berasal dari dana abadi umat yang merupakan hasil tata kelolanya yang diperuntukkan untuk mendukung kegiatan sosial dan dakwah umat Islam.”, ungkapnya.
Secara terpisah, dilansir dari laman resmi BPKH (3/2/2026), Kepala Badan Pelaksana BPKH Fadlul Imansyah menegaskan seluruh pendanaan Program Kemaslahatan ini tidak menggunakan pokok dana haji milik jamaah, melainkan murni dari hasil pengembangan Dana Abadi Umat.
Program ini difokuskan pada tiga provinsi terdampak utama, yakni Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat, untuk bantuan tanggap bencana dan pemulihan pascabencana di wilayah Sumatera.
Sebagai bagian dari gerakan kepedulian dan kemaslahatan umat, masyarakat diajak untuk turut berkontribusi membantu sesama melalui penyaluran zakat, infak, dan sedekah. Donasi dapat disalurkan melalui Lazismu Bireuen rekening Bank Syariah Indonesia (BSI) 803 7075 290, agar manfaatnya dapat terus dirasakan oleh masyarakat yang membutuhkan.
[Kelembagaan dan Humas Lazismu Pusat/Lazismu Bireun]

KALTENG – Musibah tak dapat ditebak, tetapi setiap gejalanya dapat diprediksi sejalan dengan prinsip manajemen bencana. Lima hari sebelum bulan Januari berakhir, peristiwa kebakaran terjadi di kawasan kompleks Pasar Kasongan, Kabupaten Katingan, Kalimantan Tengah.
Peristiwa kebakaran itu meninggalkan duka mendalam bagi para penyintas yang menghanguskan sebanyak 15 rumah dan ruko. Pascakebakaran Lazismu Katingan, bersama Angkatan Muda Muhammadiyah (AMM), dewan guru Muhammadiyah serta para siswa melakukan pengalangan dana.
Lazismu Katingan mengetuk empati para donatur menggalang donasi untuk meringankan beban mereka yang tertimpa musibah kebakaran. Kegiatan galang dana tersebut langsung dikoordinatori Faridul Hayat, Ketua Lazismu Katingan.
Faridul Hayat menhgatakan bahwa pengalangan donasi untuk penyintas kebakaran merupakan aksi bersama yang dilakukan oleh Muhammadiyah terdiri dari Ortom, MDMC, para siswa - siswi MTs Muhammadiyah Kasongan.
Dari hasil galang dana itu terkumpul sebesar sebesar Rp. 64.500.000 berkat dukungan semua pihak. Bantuan kemanusiaan disalurkan kepada 26 Kepala Keluarga, pada Minggu (1/2/2026), masing-masing sebesar Rp. 2.000.000, termasuk paket sembako dan pakaian layak pakai. Selain rumah dan ruko, terdapat dua sekolah yang terdampak yaitu Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) 1 Katingan, dan Madrasah Tsanawiyah (MTS) Al-Badar.
"Penggalangan dana berhasil terkumpul berkat dukungan dari semua pihak, sehingga menjadi penyemangat untuk berbagi kepada saudara-saudara kita yang terdampak kebakaran”, kata Farid seraya berkata karena kepedulian kita, harapan mereka.
Merespons aksi galang dana itu, Ketua PDM Katingan, Sardinie U. Budin, mengungkapkan penggalangan dana serta penyaluran bantuan untuk penyintas kebakaran di kawasan kompleks Pasar Kasongan, merupakan komitmen dakwah Muhammadiyah.
“Terutama bagi Lazismu sebagai lembaga yang terpercaya, baik dalam pengumpulan, pendistribusian yang amanah, dan tepat sasaran”, pungkasnya. Kami senantiasa mengajak masyarakat untuk peduli terhadap sesama, ujarnya.
Sardinie menambahkan bahwa Lazismu hadir untuk terus bergerak memberikan layanan kepada penerima manfaat agar semua dapat berjalan dengan baik. Pascabencana itu, yang perlu dipikirkan adalah mengajak kembali masyarakat untuk keberlanjutannya agar meringankan beban penyintas.
Lazismu mengucapkan terima kasih kepada para donatur dan masyarakat yang telah membantu para penyintas semoga kebaikan mendapat keberkahan dan meningkatkan kepedulian terhadap sesama. Dalam kesempatan itu, Soratin salah seorang penerima manfaat, menyampaikan rasa terima kasih yang setinggi-tingginya kepada Lazismu Katingan atas bantuan berupa uang tunai, sembako, dan pakaian layak pakai. “Bantuan ini menjadi penguat dan harapan bagi kami untuk bangkit kembal”, tutupnya.
[Kelembagaan dan Humas Lazismu Pusat/mf]

LANGSA – Badan Pengelolaan Keuangan Haji (BPKH) bersama Lazismu dalam program kemaslahatan turut hadir dalam penyaluran bantuan kemanusiaan untuk penyintas banjir dan longsor Aceh. Bantuan kemanusiaan yang diberikan berupa sarana dan prasarana dan mebel untuk sekolah Muhammadiyah yang ada di kota Langsa
BPKH bersama Lazismu Kota Langsa, alhamdulillah pada Senin, (2/2/2026) telah menyalurkannnya sebagai wujud memulihkan sekolah yang terdampak bencana di Provinsi Aceh. Sekolah tersebut mengalami kerusakan termasuk alat-alat yang menunjang proses kegiatan belajar mengajar (KMB).
Ketua Lazismu Kota Langsa, Heru Darmawan, mengatakan bantuan kemanusiaan langsung diterima pihak sekolah, berupa barang seperti perlengkapan mebel yaitu meja kursi siswa, meja kursi guru, lemari rak buku, loker, dan prasarana pendukung seperti komputer, laptop, pengeras suara, printer, dan proyektor.
Bantuan kemanusiaan senilai Rp. 303.900.000 tersebut, kata Heru, disalurkan di empat titik yaitu SD Muhammadiyah 1 Langsa menerima Rp.50.000.000, SD Muhammadiyah 2 Langsa menerima Rp.50.000.000, SMP Muhammadiyah Langsa menerima Rp.60.000.000, SMA Muhammadiyah Langsa menerima Rp. 44.900.000, TK ABA Langsa menerima Rp.20.000.000, dan TK ABA Bayeun menerima Rp.50.000.000 dari program kemaslahatan BPKH yang bertajuk Program Pemulihan Sekolah Terdampak Bencana.
Lazismu Kota Langsa dalam program ini berkoordinasi langsung dengan Lazismu Pusat dan BPKH. “Seluruh kepala sekolah mewakili sekolahnya sebagai penerima manfaat meenyampaikan terima kasihnya kepada BPKH dan Lazismu yang telah berkontribusi dalam proses pemulihan ini”, ujarnya.
Sementara itu, Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Langsa, Zulkarnain, turut menyampaikan terima kasih kepada BPKH dan Lazismu Pusat atas bantuan kemanusiaan itu kepada sekolah yang terdampak.
“Semoga bantuan ini dapat membangkitkan semangat [ara siswa dan guru-guru untuk bisa melakukan kegiatan belajar mengajar seperti sedia kala”, ungkapnya. Karena itu, mewakili pimpinan daerah Muhammadiyah Kota Langsa, kami akan terus mengawal dan mendukung program Indonesia Siaga pascabencana banjir di Aceh.
Sebagai informasi, prosesi serah terima bantuan kemanusiaan dilaksanakan di Laboratorium SMP Muhammadiyah Kota Langsa. Turur hadir acara tersebut unsur PDM Kota Langsa, PDA Kota Langsa, Kepala Sekolah di lingkungan Muhammadiyah Kota Langsa, dan Dewan Pengawas Syariah Lazismu Kota Langsa.
[Kelembagaan dan Humas Lazismu Pusat/Lazismu Kota Langsa]



Puasa merupakan jalan menuju ketakwaan kepada Allah SWT. Hal ini sejalan dengan prinsip-prinsip ibadah salah satunya, beribadah hanya ditujukan kepada Yang Maha Kuasa. Lantas jika ada pertanyaan, Mengapa puasa diwajibkan?
Puasa wajib dilakukan jika puasa dilaksanakan selama satu bulan penuh pada bulan Ramadhan. Dari aspek hukumnya tersebut dikatakan wajib, didasarkan pada firman Allah, surat Al-Baqarah ayat 183, yang artinya berbunyi:
“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa”
Maka, ditinjau dari segi hukum tersebut, Rasulullah SAW, mempertegas kembali dan mengatakan bahwa sesungguhnya islam itu dibangun atas lima dasar, yaitu: “bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah SWT, dan bahwa Nabi Muhammad adalah utusan-Nya, mendirikan sholat, menunaikan zakat, berpuasa di bulan Ramadhan dan berhaji ke Baitullah”.
Dalam ajaran Islam, kelima dasar utama tersebut dikenal dengan Rukun Islam. Inti diwajibkannya berpuasa bagi seorang muslim adalah menahan diri serta mengontrol dan mengekang hawa nafsunya dari hal-hal yang membatalkan puasa untuk mengharap Ridha Allah SWT.
Rukun dan Syarat Puasa
Ulama fikih berpendapat, rukun berpuasa itu hanya satu yaitu menahan diri dari hal-hal yang membatalkan puasa dari terbit fajar hingga terbenamnya matahari (Syakir Jamaluddin, Kuliah Fikih Ibadah, 2015).
Di samping itu, terkait dengan syariat berpuasa, ulama fikih biasa membaginya menjadi dua. Menurut Syakir Jamaluddin, terdiri dari syarat wajib dan syarat sah puasa. Dalam praktiknya para ulama berbeda pendapat, soal mana yang syarat wajib puasa dan syarat sah puasa. Adapun syarat wajib puasa dan syarat sah puasa, Syakir Jamaluddin merinci sebagai berikut:
Sementara itu, syarat sah puasa adalah islam dan tamyiz (baligh dan berakal). Dalam Fikih puasa, ditambah dua syarat sah lagi, antara lain:
Bagi yang sudah memenuhi syarat wajib dan syarat sah berpuasa, dan suatu waktu tidak melakukan atau sengaja tidak berpuasa atau sengaja membatalkannya tanpa ada halangan yang memang telah disyariatkan maka orang tersebut berdosa.
Mari mantapkan diri untuk berpuasa Ramadhan, jangan sampai ruang dan waktu yang kita miliki sebagai nikmat dari Allah SWT, terbuka pintunya untuk syaitan menggoda dan menjerumuskan kita ke dalam lubang yang merugikan.
[Kelembagaan dan Humas Lazismu Pusat]

Marhaban Ya Ramadhan. Bulan penuh keberkahan yang ditunggu-tunggu itu semakin dekat menyapa kita semua. Ramadhan adalah panggilan untuk orang yang beriman. Bulan yang di dalamnya terdapat ruang latihan (training) yang akan menguji nafsu dan sejauh apa manajemen diri diterapkan kala berpuasa.
Puasa bermakna menahan diri dari sesuatu. Akar katanya berasal dari Shaum/ Shiyam. Ada juga yang mengatakan puasa berarti perisai. Benteng untuk menahan diri dari godaan yang datang dari dalam diri sendiri dan dari luar diri seorang muslim.
Puasa dalam pengertian yang lebih luas menurut Tarjih Muhammadiyah adalah menahan diri dari makan, minum, hubungan seksual suami istri dan segala yang membatalkan sejak dari terbit fajar hingga terbenam matahari dengan niat karena Allah.
Oleh karena itu, puasa harus diniatkan karena Allah SWT. Adapun dasar keharusan niat berpuasa karena Allah, dijelaskan dalam Firman-Nya dalam al-Qur’an surat al-Bayyinah ayat 98, yang artinya :
“Padahal mereka tidak diperintahkan kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus …”
Terkait dengan niat yang tulus itu, diperkuat dengan hadis Nabi Muhammad SAW, yang artinya sebagai berikut : “Dari Umar r.a. (diriwayatkan bahwa) Rasulullah saw bersabda: Sesungguhnya semua perbuatan ibadah harus dengan niat, dan setiap orang tergantung kepada niatnya…” [Ditakhrijkan oleh al-Bukhari, Kitab al-Iman].
Dalam hadis yang lain dijelaskan:
“Dari Hafshah Ummul Mu’minin r.a. (diriwayatkan bahwa) Nabi saw bersabda: Barang siapa tidak berniat puasa di malam hari sebelum fajar, maka tidak sah puasanya.”
Jumlah Hari dalam Berpuasa
Setiap orang yang beriman melaksanakan ibadah puasa selama 1 bulan penuh. Puasa dilaksanakan pada tanggal 1 bulan Ramadhan dan diakhiri pada tanggal terakhir bulan Ramadhan (29 hari atau 30 hari, tergantung pada kondisi bulan tersebut). Untuk itu, maka harus mengetahui awal bulan Ramadhan dan kapan berakhirnya untuk mempersiapkan menunaikan zakat fitrah.
Pada tahun 2026, bertepatan dengan tahun 1447 Hijriyah, puasa jatuh pada Rabu tanggal Rabu, 18 Februari 2026 berdasarkan Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT). Menurut Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah, KHGT dibangun di atas dasar prinsip utama keselarasan hari dan tanggal di seluruh dunia (one day, one date globally).
Prinsip ini hanya dapat terwujud apabila bumi dipandang sebagai satu kesatuan matla’, tanpa pembagian zona-zona regional, serta tetap mengikuti garis tanggal internasional. Masih menurut Tarjih Muhammadiyah kalender apa pun pada dasarnya hanya bisa disusun dengan metode hisab (perhitungan astronomi). Rukyah, menurutnya, hanya mampu memastikan satu bulan ke depan, sehingga tidak mungkin melahirkan sistem kalender jangka panjang.
Matla’ yaitu keterangan lokasi atau tempat terbit (matahari, bulan, atau fajar). Yang dalam ilmu astronomi, khususnya Ilmu Falak, matla' merujuk pada batas geografis atau wilayah tempat terlihatnya hilal (bulan sabit muda) untuk menentukan awal bulan Hijriah. Istilah ini sering ditautkan dengan penentuan awal puasa Ramadhan dan Idul Fitri.
Mari kita sambut bulan suci Ramadhan dengan rasa syukur dan bahagia, sehingga kualitas puasa kita menjadi lebih bermakna dalam memuliakan dan memaknai kehidupan ini dengan penuh keikhlasan.
[Kelembagaan dan Humas Lazismu Pusat]

Setiap tahun umat Islam melaksanakan ibadah wajib yaitu puasa di bulan Ramadhan. Konsekuensinya umat islam harus menentukan terlebih dahulu kapan ibadah puasa dimulai. Untuk mengetahuinya, maka dilakukan penentapan tanggalnya jatuh pada hari apa di tahun berjalan melalui metode hisab dan rukyat.
Penetapan awal Ramadhan ini selalu dinanti oleh umat Islam di Indonesia. Pada umumnya ditentukan oleh pemerintah dengan proses sidang isbat oleh kementerian agama. Menariknya, ada ormas Islam yang jauh hari sudah mantap menentukan kapan awal Ramadhan dimulai harinya.
Muhammadiyah misalnya, dikenal sebagai ormas yang menggunakan pendekatan hisab. Hisab sendiri menurut Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah dalam buku Pedoman Hisab Muhammadiyah (2009), selalu dikontekstualisasikan dengan Ilmu Falak (Astronomi).
Mengapa bersandar pada Ilmu Falak? Karena berkaitan dengan langkah-langkah dan rumus-rumus perhitungan arah kiblat, penentuan waktu salat, penetapan awal bulan kamariah dan gerhana. Selanjutnya, mari kita telusuri apa arti dan makna hisab?
Secara bahasa, kata “hisab” berasal dari kata Bahasa Arab yaitu al-hisab yang berarti perhitungan atau pemeriksaan. Dalam al-Quran kata hisab banyak disebut dan secara umum dipakai dalam arti perhitungan.
Hal itu termaktub dalam al-Qur’an surat al-Ghofir ayat 17, yang artinya: “Pada hari ini setiap jiwa diberi balasan sesuai dengan apa yang telah dikerjakannya. Tidak ada yang dirugikan pada hari ini. Sungguh, Allah sangat cepat perhitungan-Nya.”
Dalam firman-Nya, yang lain, disebutkan dengan kata yaum al-hisab, yang berarti hari perhitungan. Dalam al-Qur’an Surat Sad ayat 26, yang artinya: “Sesungguhnya orang-orang yang sesat dari jalan Allah akan mendapat azab yang berat, karena mereka melupakan hari perhitungan”
Pada surat Yunus ayat 5, kata hisab justeru digunakan dalam arti perhitungan waktu, sebagaimana firman Allah, artinya:
“Dia-lah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya dan ditetapkan-Nya manzilah-manzilah (tempat-tempat orbit) bagi perjalanan bulan itu, supaya kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan (waktu)”
Demikian beberapa penjelasan tentang pengertian dan makna hisab. Begitu pentingnya hisab dalam lintasan sejarah umat Islam, beberapa ulama dan fukaha menyebutkan hisab sebagai Khazanah pengetahuan islam. Di kalangan fukaha ilmu hisab terjadang disebut juga dengan Ilmu Falak Syar’i.
Hisab Hakiki dan Wujudul Hilal
Berkenaan dengan arti dan makna hisab. Dalam Ilmu Falak, hisab terdiri dari dua macam, yaitu Hisab Urfi dan Hisab Hakiki. Hisab urfi, dinamakan juga hisab adadi atau hisab alamah. Yaitu metode perhitungan untuk penentuan awal bulan dengan berpatokan tidak kepada gerak hakiki (sebenarnya) dari benda langit bulan (Pedoman Hisab Muhammadiyah, 2009).
Sementara itu, Hisab hakiki adalah metode penentuan awal bulan kamariah yang merujuk pada menghitung gerak faktual (sesungguhnya) Bulan di langit sehingga bermula dan berakhirnya bulan kamariah mengacu pada kedudukan atau perjalanan Bulan benda langit tersebut (Pedoman Hisab Muhammadiyah, 2009).
Muhammadiyah dalam praktiknya menggunakan metode hisab hakiki tinimbang metode hisab urfi. Adapun kriterianya menggunakan wujudul Hilal. Metode hisab hakiki wujudul hilal inilah yang digunakan oleh Muhammadiyah dalam menetapkan penentuan waktu ibadah, misalnya bulan Ramadhan.
Penggunaan hisab hakiki sebsagaimana dilansir dalam laman resmi Muhammadiyah (20/2/2022), alasan kuatnya mengapa menggunakan metode ini, karena perhitungan yang dilakukan terhadap peredaran Bulan dan Matahari menurut metode ini harus benar dan tepat berdasarkan keadaan Bulan dan Matahari pada saat itu.
Lebih dalam lagi, secara analitis-astronomi, Muhammadiyah menggunakan hisab hakiki dengan kriteria wujudul hilal, pada kondisi Matahari terbenam lebih dahulu daripada Bulan kendati berjarak satu menit atau kurang.
Ijtihad ini berasal dari suatu Ide seorang pakar falak Muhammadiyah Wardan Diponingrat yang tidak hanya dipahami berdasarkan pada al-Qur’an Surat Yasin ayat 39-40, tetapi juga menggunakan instrumen lain secara syariah seperti hadis dan konsep fikih lainnya yang dibantu dengan sains yaitu ilmu astronomi.
Demikian penjelasan singkat ini, paling tidak informasi di atas memberikan suatu gambaran dan persepsi bagaimana umat Islam mulai melakukan ibadah puasa bulan Ramadhan. Sejauh ini, metode tersebut juga sangat memengaruhi penentuan jatuhnya Idul Fitri yang berkonsekuensi pada umat Islam dalam menunaikan Zakat Fitrah.
Alhamdulilah tahun 2026 ini, Muhammadiyah menetapkan awal Ramadhan 1447 H, jatuh pada tanggal 18 Februari 2026. Berdasarkan metode hisab hakiki dengan Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT).
[Kelembagaan dan Humas Lazismu Pusat]

