

Efrizal menceritakan apa yang mendorongnya untuk membantu warga Kabupaten Cianjur. Baginya, ini sebuah kewajiban yang harus dilakukan. Meski hanya berstatus petani, hatinya tersentuh untuk mendonasikan buah nanas dari kebunnya, apalagi saat mengetahui para penyintas membutuhkan buah-buahan.
"Kalau ditarik dari segi agama dan sesama warga negara, tentu kami mempunyai suatu kewajiban yang harus kami lakukan untuk saudara-saudara kita yang tertimpa musibah di Cianjur ini. Kami hanya petani dan melihat di kebun ada yang bisa kami donasikan. Dan kami adalah petani nanas, ya hanya buah nanas inilah yang bisa kami berikan melihat berita saudara-saudara kita ini membutuhkan buah-buahan. Walaupun tidak banyak yang bisa kami donasikan, semoga bisa membawa manfaat," terang Efrizal.
Ketika ditanya alasan memilih Lazismu sebagai lembaga yang dipercaya untuk menyalurkan bantuan, lelaki yang memiliki tiga orang anak ini menjelaskan bahwa koordinasi dibutuhkan dalam distribusi bantuan agar bisa tepat dan cepat dalam menyalurkan. Setelah mendapatkan masukan dari berbagai pihak, ia kemudian memutuskan untuk memilih Lazismu. Lazismu dipandang mampu berkoordinasi dengan baik dalam penyaluran bantuan saat terjadi bencana.
Satu ton buah nanas segar ditambah produk olahan akan disalurkan melalui Lazismu pada Sabtu (03/11). Nanas ini berasal dari petani yang bernaung di bawah Koperasi Produsen "Singgalang Sari Maju", terletak di Kampung Mekarsari, Desa Sarireja, Kecamatan Jalancagak, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat. Koperasi ini bergerak khusus pada budidaya, pemasaran, dan produk olahan nanas, memilik 32 orang anggota dengan luas lahan yang dimiliki oleh para anggota mencapai 76 hektar. Singgalang Sari Maju yang juga merupakan salah satu mitra binaan dari PT Pupuk Kujang tersebut sudah menjalin kemitraan dengan beberapa petani untuk menghilangkan sistem ijon yang selama ini sangat mendominasi.

Efrizal berharap, donasi nanas dari lahan pribadinya seluas 4 hektar yang dititipkan melalui Koperasi Produsen "Singgalang Sari Maju" ini dapat membawa manfaat bagi para penyintas gempa. Lelaki yang juga menjadi ketua koperasi tersebut berencana untuk menyiapkan bantuan tahap kedua. Untuk bantuan tahap pertama akan disalurkan melalui Pos Koordinasi (Poskor) Muhammadiyah, setelah berkoordinasi dengan Direktur Utama Lazismu Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah.
Edi Suryanto, Direktur Utama Lazismu PP Muhammadiyah mengatakan, dengan adanya donasi ini menunjukkan bahwa kepercayaan masyarakat kepada Lazismu terus mengalami peningkatan. Donasi masyarakat saat ini pun terus mengalir untuk membantu saudara-saudara yang mengalami musibah gempa di Kabupaten Cianjur. Menurutnya, pada yang dilakukan oleh Efrizal terbilang unik dan perdana, yaitu berdonasi dengan buah hasil panen.
"Ada salah satu donatur baru bagi Lazismu dan saya kira ini pertama kalinya, yaitu Pak Efrizal, koordinator petani Nanas Madu di Desa Sarireja, Subang, desa penghasil Nanas Madu terbesar di Jawa Barat dan nomor dua terbesar di Indonesia setelah Lampung. Beliau mendonasikan buah segar hasil panennya sebanyak satu ton dan sengaja dipilihkan yang ukuran sedang biar jumlahnya lebih banyak. Bahkan sampai diantarkan sendiri ke lokasi Poskor di Cianjur," ungkap Edi.
Edi pun berharap agar apa yang dilakukan oleh Efrizal tersebut dapat menjadi inspirasi untuk berbagi. Bantuan tidak selalu dalam bentuk uang, tapi bisa berupa apa saja yang memiliki nilai manfaat bagi orang lain. "Semoga hal ini bisa menjadi inspirasi buat kita semua, bahwa bantuan tidak selalu harus berupa uang, tapi bisa apa saja yang kiranya bermanfaat bagi sesama," pungkasnya.
[Kelembagaan dan Humas Lazismu PP Muhammadiyah]

Lazismu menjadi salah satu lembaga pengelola zakat, infak, sedekah, dan dana sosial keagamaan lainnya (ZISKA) yang turut ambil bagian dalam Indonesia's SDGs Action Awards 2022. Berbagai tahapan pun sudah dilalui, mulai dari pendaftaran, pengisian dan pengolahan data, FGD (Focus Group Discussion) tentang kategori yang diikutsertakan, dan proses pengiriman semua persyaratan yang diminta. Lazismu kemudian mengikuti penyaringan ketat hingga masuk pada lima besar dan bisa mengikuti tahap wawancara. Setelah itu, Lazismu berhasil masuk pada tiga besar dan akhirnya meraih penghargaan Pemenang Terbaik I Kategori Filantropi dalam Indonesia's SDGs Action Awards 2022. Piala diserahkan langsung oleh Menteri PPN/Kepala Bappenas, Suharso Monoarfa kepada Ketua Badan Pengurus Lazismu Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Mahli Zainuddin pada Kamis (01/12).
Mahli Zainuddin selaku Ketua Badan Pengurus Lazismu PP Muhammadiyah mengungkapkan, penghargaan ini akan mendorong semangat Lazismu agar lebih banyak berbuat. Sinergi dengan berbagai pihak akan terus dikuatkan sesuai dengan tagline Lazismu, Memberi Untuk Negeri. "Ini tentu mendorong semangat kita ke depan untuk lebih baik lagi, lebih banyak berbuat dengan lebih banyak merapikan berbagai program sehingga bisa dibaca dalam berbagai skema bahkan skema internasional SDGs. Dan dengan itu nanti kita makin kuat sinergi dengan berbagai pihak dan memberi untuk negeri makin berarti," ungkapnya.
Direktur Utama Lazismu PP Muhammadiyah, Edi Suryanto mengucapkan terima kasih kepada Penasihat Ahli Lazismu PP Muhammadiyah, Hilman Latief. Menurutnya, Hilman Latief memiliki peran penting dalam merumuskan dan mengawal program-program Lazismu yang berbasis SDGs. Selain itu, ucapan terima kasih juga diberikan kepada Dewan Syariah Lazismu PP Muhammadiyah yang telah mengakomodir SDGs dalam konsep Islam Rahmatan Lil Alamin.
"Alhamdulillah, Lazismu menerima SDG'S Award dalam forum SDGs Annual Conference 2022 bertempat di Hotel Sultan Jakarta. Terima kasih kepada Prof. Hilman yang telah merumuskan dan mengawal program Lazismu berbasis SDGS sejak 2016. Terima kasih juga kepada Dewan Syariah yang telah mengakomodir SDGs dalam Islam Rahmatan Lil Alamin serta tim dan mitra pelaksana program. Akan semakin berat untuk mempertahankan di masa mendatang. Terima kasih dan selamat untuk kita semua," ucap Edi.
Penasihat Ahli Lazismu PP Muhammadiyah, Hilman Latief memberikan apresiasinya terhadap keberhasilan Lazismu. Ucapan selamat diberikan kepada seluruh jajaran pengurus Lazismu. Keberhasilan ini menurutnya merupakan buah dari kerja keras, konsistensi, dan kedisiplinan amil Lazismu pada semua tingkatan.
"Saya mengucapkan selamat kepada seluruh jajaran Badan Pengurus, Badan Pengawas, dan Dewan Syariah Lazismu atas keberhasilannya meraih penghargaan Terbaik I Kategori Filantropi untuk SDGs Action Awards 2022 yang diberikan oleh Kementerian BAPPENAS. Keberhasilan tersebut merubah buah manis dari kerja keras, konsistensi, dan kesiplinan Lazismu dalam mengusung tema, menyiapkan dan mengelola program, membangun kesadaran dan kekompakan amil dari tingkat pusat hingga wilayah/daerah, serta merumuskan strategi capaian pembangunan berkelanjutan melalui zakat, infak, dan sedekah selama bertahun-tahun," ujar Hilman

Dalam keikutsertaannya kali ini, Lazismu mengusung tiga program sebagai "Best Practice", yaitu EdutabMu, Timbang, dan Sekolah Cerdas. EdutabMu merupakan program pendidikan berbasis teknologi sebagai akselerasi kualitas pendidikan di masa pandemi, yaitu menyelesaikan masalah kesenjangan akses teknologi. Materi dalam aplikasi belajar ini juga sudah disesuaikan dengan kurikulum di Indonesia. Selain penyediaan sarana belajar, program ini juga berhasil meningkatkan kapasitas guru serta kesejahteraan guru yang terlibat didalamnya. Dalam pelaksanaannya, program EdutabMu menggandeng Majelis Pendidikan Dasar dan Menengah (Dikdasmen) PP Muhammadiyah. Tak hanya melibatkan mitra internal persyarikatan, EdutabMu juga bekerja sama dengan Enuma dan The HEAD Foundation.
Timbang (Tingkatkan Kemampuan Gizi Seimbang) merupakan program kolaborasi antara Lazismu dengan Nasyiatul Aisyiyah. Program ini bertujuan untuk terbangunnya pemahaman keluarga muda, remaja, tokoh agama, dan perangkat desa mengenai pentingnya pencegahan stunting dan bentuk upaya yang dapat dilakukan, tersusunnya rancangan rencana aksi tingkat desa untk pencegahan stunting, dan meluasnya informasi pentingnya pencegahan stunting baik tingkat nasional maupun di tingkat desa.
Sekolah Cerdas Sekolah CERDAS (Ceria, Damai, dan Siaga Bencana) diperkenalkan sebagai solusi terintegrasi yang menyiapkan Sekolah dari risiko bencana ataupun kekerasan. Sekolah dibekali dengan pengetahuan, keterampilan sehingga Sekolah diharapkan mampu mengurangi risiko melalui budaya dan kebijakan Sekolah CERDAS. Proses pengembangan Sekolah CERDAS dimulai melalui guru yang kemudian mengajarkannya melalui berbagai ruang pembelajaran yang didorong oleh Duta Sekolah CERDAS. Melalui program ini diharapkan dapat meminimalisir dampak dan kemungkinan risiko yang ditimbulkan dari bencana, baik bencana alam maupun bencana sosial. Sekolah Cerdas merupakan kerja sama Lazismu dengan Peace Generation serta Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC).
Peran serta Lazismu dalam ikut mendukung capaian SDGs melalui dana ZISKA bukanlah tanpa alasan. Hal ini lantaran Lazismu merupakan bagian dari Persyarikatan Muhammadiyah yang salah satu sistem gerakannya adalah gerakan tajdid atau pembaharu. Gerakan tajdid dapat beradaptasi dengan masalah-masalah kekinian sehingga mampu mengatasi permasalahan yang ada saat ini.
Mengusung konsep Islam Rahmatan Lil Alamin, Lazismu selaku lembaga milik Muhammadiyah dengan semangat Islam berkemajuan menerima SDGs dan menjadikannya sebagai kerangka penyusunan dan pelaksanaan program-program yang ditetapkannya. Lazismu melaksanakan SDGs dengan kebijakan dakwah, amar ma'ruf nahi munkar, dan jihad. Hal ini sesuai dengan yang digariskan di dalam Al-Qur'an, tidak menjadi tujuan pada dirinya sendiri, tapi untuk mewujudkan tujuan, visi, misi, dan program-program Islam Rahmatan Lil Alamin.
[Kelembagaan dan Humas Lazismu PP Muhammadiyah]

Direktur Institut Fundraising Indonesia, Arlina F. Saliman menjelaskan, kali ini lembaga yang dijaring semakin luas. Lembaga tersebut harus diapresiasi keberadaannya karena telah menggerakkan kepercayaan publik untuk terus berbagi. "Semakin banyak lembaga yang terjaring, tidak hanya yang berada di kota tapi di daerah-daerah. Bukan hanya lembaga ZISWAF, tetapi media massa, korporasi, publik figur yang mendukung gerakan fundraising," ujarnya.
Arlina menyebutkan, penghargaan ini juga diharapkan bisa mendorong lembaga sosial kemanusiaan agar termotivasi melakukan fundraising dengan transparan dan akuntabel. "Penghargaan ini juga sebagai edukasi kepada masyarakat bahwa para pegiat filantropi yang kerap bekerja dalam sepi ini memiliki banyak program yang bisa dipertanggungjawabkan, transparan, dan akuntabel," sebutnya.
IFA Award, tutur Arlina, harapannya dapat mendorong ketertarikan anak-anak muda untuk masuk ke dalam dunia sosial kemanusiaan. Selain itu, output IFA Award juga tidak hanya ajang penghargaan semata, namun mendorong adanya kolaborasi antar lembaga dalam program-program pemberdayaan di masyarakat. Arlina juga berterima kasih terhadap berbagai lembaga pendukung gerakan fundraising yang selalu memberi dukungan dalam ajang IFA Award ini.
IFA Award diselenggarakan sejak tahun 2020 dengan memberikan penghargaan 17 kategori pemenang yang terus berkembang menjadi 30 kategori pemenang pada tahun 2021. Pada tahun ini, terdapat 41 kategori nominasi yang diperebutkan. Lazismu berhasil meraih empat penghargaan dalam kategori "Best of The Best Fundraising Zakat Terbaik", "Best of The Best Fundraising Kemanusiaan Terbaik", Best of The Best Fundraising Qurban Terbaik", dan "The Best Fundraising Infaq Terbaik".

Direktur Utama Lazismu Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Edi Suryanto mengapresiasi keberhasilan lembaga yang dipimpinnya dalam meraih empat penghargaan di ajang IFA Award. Capaian ini telah melalui proses yang panjang, salah satunya melalui penilaian kinerja Lazismu sejak tahun 2019 hingga 2021.
"Alhamdulillah, Lazismu mendapatkan 4 penghargaan sebagai pemenang dalam kategori Best of The Best Fundraising Zakat Terbaik, Best of The Best Fundraising Kemanusiaan Terbaik, Best of The Best Fundraising Qurban Terbaik, dan The Best Fundraising Infaq Terbaik. Penghargaan ini diperoleh melalui proses yang panjang, penilaian atas laporan kinerja sejak tahun 2019 hingga 2021 yang menjadi pertimbangan dewan juri dalam memutuskan lembaga peraih penghargaan Indonesia Filantropi Award 2022 ini," terang Edi.
Edi melanjutkan, penghargaan ini diharapkan dapat menjadi motivasi bagi pengelola Lazismu dalam meningkatkan kinerjanya. "Meskipun penghargaan semacam ini bukan menjadi tujuan akhir dari Lazismu, namun penghargaan seperti ini diharapkan mampu menjadi motivasi bagi amil Lazismu di seluruh Indonesia pada khususnya, dan Organisasi Pengelola Zakat (OPZ) atau pun lembaga-lembaga filantropi lainnya, untuk senantiasa meningkatkan kinerja dan berlomba-lomba dalam melakukan kebajikan," ungkapnya.
Proses penjurian pada ajang ini dilakukan secara independen. Hal ini dikemukakan oleh Ketua Dewan Juri IFA Award 2022 yang juga merupakan Direktur Keuangan Sosial Syariah KNEKS, Ahmad Juwaini. Selain memberikan apresiasi terhadap penyelenggaran IFA Award yang telah memasuki tahun ketiga, ia melihat bahwa pelaksanaan dilakukan dengan sangat baik, dilakukan dengan independen melibatkan berbagai dewan juri yang memiliki latar belakang beragam dan memiliki perhatian dan komitmen, serta kompetensi untuk menilai berbagai perkembangan, keahlian dan berbagai inovasi di bidang fundraising. "Mudah mudahan hasilnya juga akan semakin lebih baik dibandingkan tahun-tahun sebelumnya," ujarnya.
Direktur South East Asia Humanitarian (SEAHUM), Amin Sudarsono yang juga menjadi salah satu juri mengatakan, lembaga yang melalui proses wawancara benar-benar serius mengikuti jalannya penjurian. "Para peserta mengajukan juru bicara terbaik, tak jarang langsung top manajemen. Menunjukkan keseriusan nominasi IFA ini," ucapnya.
Di tahap awal penjaringan nominator, panitia IFA Award menyaring data primer dan sekunder. Kemudian peserta melalui tahap wawancara secara daring. Ada lima aspek yang dinilai yakni cara presentasi, permasalahan dan penyelesaian, pertumbuhan fundraising, inovasi yang dilakukan dan dampak keberhasilan lembaga.
[Kelembagaan dan Humas Lazismu PP Muhammadiyah]

Pukul setengah lima pagi, Sabtu (26/11), aroma sedap opor ayam dengan asap mengepul terendus tajam dari lokasi parkir. Di bawah tenda, delapan orang pengelola dapur umum sibuk menyiapkan menu untuk sarapan pagi para relawan Muhammadiyah. Sebagian yang lain mengupas sayuran untuk menu makan siang. Ada yang mengupas bawang, mengiris cabai, dan ada juga yang menyiapkan bumbu dapur. Sisanya mencuci peralatan masak melalui kran air tersedia langsung di dapur umum.
Komalasari, salah satu relawan yang aktif di Pimpinan Cabang Aisyiyah Sukaluyu, Kabupaten Cianjur menuturkan, pasca gempa mengguncang daerahnya, tim dapur umum masih berjumlah empat orang untuk melayani relawan Muhammadiyah pada hari kedua. Memasuki hari ketiga, relawan sudah berdatangan. Dengan semakin meningkatnya kebutuhan makan relawan, konsumsi beras melonjak hingga lebih dari 100 liter.
Tim dapur umum ini, terang Komalasari, terdiri dari guru-guru, anggota Aisyiyah, Nasyiatul Aisyiyah, serta Immawan dan Immawati yang siap bergabung agar menu makanan tetap tersedia. "Alat-alat masak lengkap di hari ketiga baru terpenuhi setelah relawan Muhammadiyah datang dari beberapa daerah," terangnya.
Melewati hari ketiga, lanjut Komalasari, setiap harinya menghabiskan kurang lebih 100 liter beras. Pagi hari 20 liter, siang hari 20 liter, dan malam hari 20 liter. Ia mengatakan, kendala pasti ada, mulai dari persoalan waktu hingga ketepatan tim untuk belanja bahan-bahan masakan yang harus cepat. Letih itu pun terbayar ketika melihat para relawan Muhammadiyah datang menanyakan menu makanan hari ini dan menyantapnya dengan lahap. "Relawan staminanya harus terjaga agar tidak sakit, karena mereka ditugaskan di lokasi bencana yang jauh dari poskor utama," pungkasnya.
Ahmad Taufiq yang turut bergabung dalam tim dapur umum menceritakan, ia mengatur menu makan untuk setiap harinya. "Variasi menu makanan ditulis di papan menu agar relawan Muhammadiyah membacanya dan dapat mengetahui informasi di dapur umum," ujarnya.
Dalam mengatur menu makanan, imbuh Taufiq, ditargetkan pada pagi hari pukul 06.00 sarapan harus sudah tersedia di meja hidangan. Pagi hari menurutnya adalah waktu yang krusial, karena para relawan Muhammadiyah jangan sampai perutnya kosong. "Mereka kan akan disebar di titik-titik lokasi, apalagi di lapangan kondisi tubuh harus tetap bugar," imbuhnya.
Untuk makan siang ditargetkan sebelum waktu dzuhur tiba harus tersedia. Jika relawan Muhammadiyah tidak datang ke Poskor pada siang hari, relawan tersebut akan meminta kepada tim dapur umum untuk membungkus sarapannya sebagai makan siang di lapangan. Menu makan yang disediakan berupa sayur acar, empal gentong, sayur sop ayam, sayur buncis, sayur kangkung, sayur tumis labu tumis, oseng bihun, oseng kol, karedok, dan menu lainnya.
Sementara itu, bahan-bahan yang ada tidak boleh terbuang sia-sia. Jika ada sisa harus bisa diolah menjadi makanan seperti bakwan atau gorengan lainnya yang bisa menjadi cemilan relawan. Prinsipnya adalah mengenyangkan, bergizi, dan bervariasi dari bahan yang ada. Ada kol, wortel, timun, buncis, dan lainnya, semua hasil donasi masyarakat dari Bekasi, Cianjur, Bandung, Tangerang, Cianjur, dan daerah lainnya. "Bahan-bahan ini hasil donasi masyarakat, jadi jangan sampai mubazir, harus bisa dimanfaatkan sebaik mungkin," papar Taufiq.
Antono, seorang relawan yang berasal dari Cilacap dan ikut menyediakan menu makan untuk relawan mengatakan, baru kali ini ia dan kawan-kawan di tim dapur umum merasakan bagaimana tahap-tahap untuk menyiapkan menu makan untuk relawan. "Ini baru pertama kali jadi tim dapur umum," ujarnya.
Biasanya, kata Antono, dulu saat menjadi relawan, ia hanya tinggal makan kemudian bergerak ke lapangan. Tapi kali ini, ia ikut bergabung menjadi tim dapur umum yang harus bangun pagi untuk menyiapkan menu makan.
[Kelembagaan dan Humas Lazismu PP Muhammadiyah/Nazhori Author]

Pada Sabtu (27/11), Muhammadiyah melalui Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) dan Lazismu mengunjungi warga binaan di Lapas yang berada di jalan Aria Cikondang, Kabupaten Cianjur tersebut. Kedatangan MDMC Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah yang diwakili oleh Ketua Budi Setiawan dan Wakil Ketua Rahmawati Husein, didampingi oleh Nazhori Author selaku Manajer Kemanusiaan dan Lingkungan Lazismu PP Muhammadiyah disambut oleh Kalapas Cianjur, Tomi Elyas.
Tomi mengaku terkejut dengan kunjungan dari Muhammadiyah. Meski tak disangka, Lapas yang dipimpinnya ini menurutnya sudah kedatangan tamu yang tepat. Tomi kemudian mengizinkan kepada rombongan Muhammadiyah untuk menjenguk warga binaan. Tomi menceritakan, setelah kejadian gempa tersebut, seluruh petugas dikerahkan untuk mengamankan kondisi Lapas dan warga binaan serta petugas yang terluka agar segera mendapatkan pertolongan.
"Seluruh warga binaan kami tempatkan di lapangan dengan tenda. Tentu saja dibawah pengawasan petugas Lapas. Hampir satu minggu, warga binaan sudah mulai merasakan gejala sakit. Dan ada layanan kesehatan lapas yang siap untuk menangani," terang Tomi.
Ketua MDMC PP Muhammadiyah, Budi Setiawan menjelaskan maksud kedatangan Muhammadiyah ke Lapas tersebut. Selain untuk menggembirakan, Muhammadiyah melihat sisi lain dari para warga yang terdampak, termasuk warga binaan. Di Lapas ini, ujar Budi, dapat disaksikan bahwa warga binaan juga perlu mendapatkan perhatian.
"Membantu orang yang tertimpa musibah bencana alam tidak pilih-pilih karena yang terdampak tidak hanya di masyarakat, warga binaan yang kita temui di Lapas ini bagian dari yang ikut terdampak," tegas Budi.
Budi melanjutkan, MDMC dan Lazismu datang untuk memberikan bantuan. Karena itu kehadirannya sekaligus berkoordinasi untuk memenuhi apa yang dibutuhkan di Lapas ini. Salah satunya adalah asupan pelengkap berupa suplemen dan lainnya.
Menyambut baik apa yang disampaikan oleh Budi Setiawan, Tomi mengucapkan terima kasih kepada MDMC dan Lazismu yang merupakan bagian dari Muhammadiyah. Ia berharap agar semua dapat memahami bahwa warga binaan adalah umat yang juga layak dibantu. "Apalagi mayoritas di Lapas ini penghuninya adalam muslim. Saya yakin warga binaan bisa berubah. Sekali lahgi saya ucapkan terima kasih kepada Muhammadiyah atas perhatiannya terhadap warga binaan. Hanya Tuhan yang bisa membalas kebaikan kalian semua," imbuhnya.
Salah seorang warga binaan yang terdampak gempa ini mengatakan bahwa mereka sangat membutuhkan obat-obatan, termasuk pakaian untuk beribadah seperti sarung, baju koko, dan kopiah. Sementara warga binaan lainnya mengaku juga membutuhkan selimut. "Ada sebagian dari kawan-kawan kami yang belum dapat, sementara kami tidur di bawah tenda yang tidak tertutup rapat. Semoga juga ada bantuan medis yang bisa datang ke Lapas untuk mengobati mereka yang sudah mulai didera sakit, termasuk vitamin sangat kami butuhkan," ucapnya mewakili warga binaan lainnya.
[Kelembagaan dan Humas Lazismu PP Muhammadiyah/Nazhori Author]

Salah satu harapan untuk Lazismu disampaikan oleh Dodok Sartono. Ketua Lazismu Wilayah Jawa Tengah ini di sela-sela peluncuran buku mengemukakan harapannya agar Lazismu dapat tumbuh menjadi semakin profesional sehingga menjadi lembaga zakat terpercaya. "Saya kira Lazismu sebagai pilar utama Muhammadiyah, antara schooling, feeding, dan healing, maka feeding ini jadi gerakan utama Muhammadiyah. Maka Lazismu harus selalu tumbuh dan semakin profesional, membangun sistem dan membangun organisasi sehingga ke depan Lazismu akan menjadi lembaga zakat yang terpercaya," ungkapnya.
Dodok yang juga menjadi satu di antara sekian orang yang menerima bingkisan buku "Jejak Kebajikan, Cerita Aksi Layanan Lazismu" ini memuji peluncuran buku tersebut. Menurutnya, panggung literasi yang digelar ini memiliki muatan edukasi yang baik untuk masyarakat. Ia juga mengajak untuk membaca buku tersebut, sehingga bisa merasakan berbagai aksi nyata Lazismu dalam memberikan layanan.
"Alhamdulillah hari ini di tengah-tengah kesibukan muktamar, Lazismu mewarnai dengan baik, dengan panggung literasi di tengah orang sibuk berjualan. Ini edukasi yang baik bagi masyarakat, bahwa sesibuk apapun, kita menyempatkan untuk membaca dan berdiskusi. Salah satunya adalah buku ini, saya kira layak untuk dibaca, bagaimana kita bisa menyelami aksi-aksi nyata Lazismu yang memberikan pelayanan luar biasa," ujar Dodok.
Fauzan Sandiah, penulis buku tersebut memiliki kesan tersendiri atas buku yang ditulisnya. Dalam proses penulisan, ia bisa bertemu langsung dengan para penggiat Lazismu sehingga bisa merasakan langsung perjuangan amil Lazismu. "Yang paling berkesan itu, pertama adalah kalau ada kesempatan turun ke lapangan. Di sana kita bisa selain silaturahmi dengan Lazismu di lokasi, kita bisa melihat perjuangan mereka secara langsung. Jadi kita bisa ikut merasakan semangat dan komitmen mereka untuk melakukan program-program mereka," terangnya.
Ketika ditanya tentang kesulitan dalam menulis buku tersebut, Fauzan mengungkapkan bahwa pemilihan sekitar 30 dari ribuan cerita menjadi hal yang tidaklah mudah. Ini lantaran kisah-kisah di Lazismu menarik untuk diangkat. "Yang paling sulit adalah memilih cerita, mana yang akan diprioritaskan. Semua kisah di Lazismu adalah kisah yang menarik untuk diangkat. Kesulitannya adalah kami terpaksa harus memilih dari ribuan cerita itu kami hanya bisa memilih sekitar 30 cerita saja," ungkapnya.
Terakhir, Fauzan pun menyampaikan harapannya agar Lazismu menjadi pilihan utama bagi warga persyarikatan. "Harapan buat Lazismu, semoga Lazismu itu menjadi pilihan utama terutama bagi warga Muhammadiyah dalam menyalurkan dana filantropi sehingga Lazismu bisa semakin banyak lagi program-program yang inovatif, bukan hanya untuk warga Muhammadiyah namun juga untuk warga muslim pada umumnya," pungkasnya.
[Kelembagaan dan Humas Lazismu PP Muhammadiyah/Fathin Robbani Sukmana]

