


YOGYAKARTA -- Model program beasiswa dengan penugasan bagi penerima beasiswa dilakukan Lazismu yang bekerja sama dengan Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).
Melalui pilar program pendidikan, Lazismu DIY melaksanakan penyerahan beasiswa Sang Surya (BSS) Batch 5 kepada sejumlah majelis dan lembaga di lingkungan Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) DIY pada Kamis, 15 Oktober 2026.
Kegiatan berlangsung di Aula PWM DIY, dihadiri oleh Ketua Lazismu DIY, Jefree Fahana serta perwakilan pimpinan dari masing-masing majelis dan lembaga penerima mahasiswa. Sebanyak 15 mahasiswa diserahkan untuk bertugas sebagai staf bantu untuk mendukung kinerja dan pelaksanaan program di lingkungan PWM DIY.
Penempatan tersebut, kata Jefree, mencakup tujuh mahasiswa di PWM DIY, satu mahasiswa di bidang Wakaf, satu mahasiswa di Lembaga Pengkajian, Pengawasan, dan Pendampingan Produk Halal (LP4H), satu mahasiswa di Lembaga Pengembangan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (LPUMKM).
Adapun dua mahasiswa lainnya, ditempatkan di Lembaga Pengembangan Cabang, Ranting, dan Pembinaan Masjid (LPCR-PM), dua mahasiswa di Family Learning Center (FLC), serta satu mahasiswa di Majelis Lingkungan Hidup (MLH).
Pada penyerahan mahasiswa tersebut, terdapat arahan mengenai pelaksanaan tugas dan tanggung jawab selama menjalankan penugasan di masing-masing majelis dan lembaga. “Mahasiswa diharapkan dapat menjalankan amanah dengan baik, menjaga kedisiplinan, membangun komunikasi yang positif, serta menyesuaikan diri dengan lingkungan kerja”, ujarnya.
Selain itu, mahasiswa diharapkan mampu menunjukkan sikap profesional, aktif belajar, dan memberikan kontribusi nyata dalam membantu kelancaran aktivitas serta program kerja di tempat penugasan.
Sinergi antara Lazismu dan PWM DIY serta majelis dan lembaga di lingkungan persyarikatan diharapkan dapat memberikan manfaat bagi pengembangan kapasitas mahasiswa sekaligus mendukung peningkatan kinerja organisasi.
Program beasiswa ini tidak hanya memberikan dukungan terhadap keberlangsungan pendidikan, tetapi juga membuka kesempatan bagi mahasiswa untuk memperoleh pengalaman kerja, mengasah keterampilan, serta menumbuhkan rasa tanggung jawab dan semangat pengabdian di lingkungan persyarikatan Muhammadiyah.
[Kelembagaan dan Humas Lazismu Pusat/Lazismu DIY]

SUKABUMI -- Layla Nur Alpiah murid kelas 11 Madrasah Aliyah (MA) Nurhasanah tak biasa mengais sampah. Begitu juga dengan Siti Ainsa teman sekelasnya, yang merasakan risi dengan bau tak sedap dari sampah. Siswa di MA Nurhasanah ini, setelah mengikuti program Rekabumi atau preduksi kelola sampah Sukabumi, sekarang cekatan memilah sampah.
Program Rekabumi berpusat di MA Nurhasanah, Desa Sindangraja, Kecamatan Curugkembar, Kabupaten Sukabumi. Inisiasi program tersebut merupakan hasil kolaborasi Universitas Muhammadiyah Sukabumi (UMMI) bersama Lazismu Jawa Barat dalam pilar program lingkungan yang dimulai sejak 18 Juli 2026.
Selama ini, semua sampah di sekolah dikumpulkan lalu dibakar. Di sekolah itu, petugas kebersihan mengakhiri limbah sampah dengan membakarnya. Kepala Sekolah MA Nurhasanah, Nurhayati, mengungkapkan, limbah sekolah tidak dipilah sama sekali, terutama sampah plastik. Butuh waktu untuk memilahnya, maka jalan terakhirnya dibakar saja.
Saat tata kelola sampah dilakukan seadanya, kata Nurhayati, jika sudah penuh butuh penanganan yang rumit. Jadi dilema, dibakar menimbulkan polusi dan mengganggu warga sekitar. Ia menyadari lingkungan sekolah masih absen dalam pengelolaan sampah yang baik dan tepat.
Kelola Limbah Sampah
Dari pengalaman mengelola sampah yang masih seadanya itu, tercetus harapan bagaimana mencari solusinya. Beruntung sekolah ini dipertemukan dengan lingkungan akademisi yang peduli limbah sampah dari Universitas Muhammadiyah Sukabumi.
Johanda, penanggung jawab program Rekabumi dari Program Studi Pendidikan Biologi UMMI, menyeritakan bahwa ada banyak jalan menangani limbah sampah yang berserakan. Meski perlu usaha untuk memilahnya, namun ini merupakan cara alternatif.
“Tidak ada yang mudah dan sulit. Tetapi bagaimana menyikapinya dengan cara tepat agar sampah tak menimbulkan persoalan baru”, bebernya. Paling tidak, kata Johanda, cara ini berjalan di empat pilar utama pengolahan limbah.
Mulai dari bagaimana mengelola budidaya magot (larva lalat tentara hitam) untuk mengurai yang organik, pembuatan limbah organik sebagai pakan ternak, meracik yang organik jadi kompos untuk pupuk, serta pemanfaatan plastik menjadi ecobrick.
Pemantauan kegiatan siswa dilakukan hingga akhir Juli dengan penyampaian materi pembuatan pupuk kompos dan magot diberikan sebagai pelengkapnya yang sebelumnya disampaikan materi tentang pembuatan dan pemanfaatan limbah organik.
Pertengahan Agustus, pembimbingan dan pengukuhan ulang siswa serta pembuatan ecobrick dilakukan secara bertahap yang dimulai pada awal bulan itu. Literasi dan pelatihan pengelolaan limbah sampah yang bersahabat diberikan kepada siswa MA Nurhasanah.
Hingga September, dukungan kuat masih diberikan terhadap persoalan lingkungan yang dialami Sekolah Nurhasanah. Tidak ada yang instans. Semuanya membutuhkan proses agar seluruh siswa tak belajar sendirian.
Dari awal didampingi, hasilnya sekarang setelah tiga bulan berjalan, prinsipnya untuk mengubah kebiasaan membuang sampah, tetapi juga membangun sistem pengolahan limbah sampah yang berkelanjutan dari skala rumah tangga hingga lingkungan sekolah.
Sementara itu, UMMI menerjunkan tim mahasiswa untuk menemukan kendala dan menilai hasil di lapangan menjadi bahan diskusi dan data dalam melakukan rekognisi yang model kegiatannya di setarakan dengan Kuliah Kerja Nyata.
Syahdan salah seorang mahasiswa yang terlibat aktif dalam program ini mengatakan terdapat kendala lapangan, seperti tantangan musim kemarau serta keterbatasan wadah magot. Hal serupa diungkapkan Dede Nur Endah bahwa tantangan besarnya adalah bagaimana mengajak siswa untuk peduli terhadap lingkungannya.
Sementara itu, Fauzan Ramadani berharap kendala yang ditemui di lapangan dapat segera tertarasi sembari berkoordinasi dengan Lazismu Jawa Barat yang dalam praktiknya butuh komunikasi lebih lanjut seiring masuknya bantuan fasilitas baru dalam program ini.
Memasuki bulan ketiga pelaksanaan, telah terjadi perubahan kebiasaan siswa dan warga sekitar. Bukti nyatanya, dari hanya lima siswa yang tertarik, kini program tersebut sudah mengundang minat 28 siswa yang aktif bergerak bersama memilah dan mengolah sampah dengan baik dan benar.
Harus diakui, sekolah merupakan basis dasar masyarakat yang sering kali belum tersentuh program lingkungan. Melalui sekolah, kita menanamkan pola pikir sejak dini bahwa sampah bisa bermanfaat jika dikelola dengan benar.
Tak hanya itu, sekolah juga mengoperasikan sistem Bank Sampah. Sampah yang dibawa siswa maupun warga disetorkan ke tempat pengolahan untuk ditimbang dan ditukar dengan poin. Poin yang terkumpul bisa ditukarkan kembali dengan berbagai produk kreatif buatan para siswa, salah satunya kerajinan ecobrick.
Aisyah murid kelas 12 MA Nurhasanah selaku penanggung jawab ecobrick mengatakan mereka dahulu tidak peduli pada sampah, tapi setelah adanya program ini kini mereka dapat membuat karya lewat sampah.
"Sekarang kalau melihat sampah, bisa dibuat kerajinan," katanya. Sekarang bersama teman-temannya sampah dimanfaatkan jadi kompos. Botol-botol plastik yang dipadatkan menjadi ecobrick kini disulap menjadi beragam kerajinan tangan menarik, seperti gantungan kunci.
Wakil Ketua Badan Pengurus Lazismu Jawa Barat, Endang Mahbub, menegaskan bahwa ada komitmen untuk terus mendukung dan melanjutkan program kolaborasi ini agar menjadi contoh model pengolahan sampah yang mandiri dan berkelanjutan di Sukabumi.
Endang mengatakan bahwa keberlanjutan program pengolahan sampah memerlukan dukungan sarana dan prasarana penunjang yang memadai. Untuk itu, Lazismu Jawa Barat menyiapkan sejumlah inovasi alat pendukung, seperti penyediaan tempat pembakaran sampah khusus (rocket stove) yang lebih aman, mesin pencetak paving block dari olahan limbah plastik, hingga penambahan mesin pengolah sampah lainnya agar mampu menghasilkan lebih banyak produk bermanfaat.
[Kelembagaan dan Humas Lazismu Pusat/Lazismu Jabar]

MELBOURNE -- Jarak ribuan kilometer memisahkan Australia dan Kalimantan. Di Melbourne, Sydney, Brisbane, Canberra, Perth, Adelaide, hingga Darwin, masyarakat umumnya menikmati udara yang relatif bersih. Berdasarkan data IQAir tahun 2025, rata-rata indeks kualitas udara (Air Quality Index/AQI) Australia berada pada angka 24, termasuk kategori sangat baik.
Namun, bagi warga Muhammadiyah yang bermukim di Australia, kenyamanan itu justeru menghadirkan cerita kontras yang memilukan ketika menyaksikan kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan menyelimuti permukiman saudara-saudara sebangsa di Kalimantan.
Mereka mungkin tidak menghirup asap yang sama, tetapi kepedulian membuat warga Muhammadiyah di Australia ikut merasakan sesaknya. Kepedulian ini tidak berhenti pada ungkapan simpati di media sosial.
Melalui Pimpinan Cabang Istimewa Muhammadiyah (PCIM) Australia yang diketuai oleh Yudhistira Ardhi Nugraha, bersama Lazismu Australia sebagai penggerak galang donasi, warga Muhammadiyah di berbagai kota Australia bergotong-royong mengumpulkan bantuan untuk mendukung penanganan bencana di Indonesia.
Kepala Kantor Layanan Lazismu Australia, Darmawan mengaku turut merasakan sesaknya kabut asap Kalimantan meskipun berada ribuan kilometer dari lokasi bencana. Setiap hari melihat postingan teman-teman di Kalimantan.
“Fotonya buram semua karena asap, padahal tidak diedit dan tidak pakai filter. Lihat fotonya saja sudah bikin sesak, apalagi mereka yang harus menghirup udara seperti itu setiap hari”, ujarnya melalui pesan daring pada Jum’at, 16 Oktober 2026.
Sementara itu, kata dia, kami di sini masih bisa menikmati udara bersih. Menurutnya, kondisi tersebut mendorong warga Muhammadiyah di negeri Kangguru tersebut untuk ikut berbuat sesuatu, meskipun tidak bisa turun langsung ke lokasi bencana.
Solidaritas tersebut diwujudkan melalui penyaluran dana sebesar Rp 41.712.408 kepada Lazismu Pusat melalui skema muqayyadah, yakni donasi yang penggunaannya secara khusus diperuntukkan bagi program tertentu sesuai amanah para donatur.
Dalam hal ini, sambung Darmawan, dana dialokasikan untuk mendukung penanganan dua bencana, yakni gempa bumi di Nusa Tenggara Timur (NTT) dan karhutla di Kalimantan. Untuk pascabencana gempa bumi Di NTT, dukungan Lazismu Australia diarahkan pada kegiatan tanggap darurat, terutama penerjunan relawan dan pelayanan kesehatan melalui EMT Muhammadiyah di bawah koordinasi MDMC (Muhammadiyah Disaster Management Center).
Sementara itu, kata Darmawan, di Kalimantan, bantuan difokuskan pada pengoperasian rumah oksigen sebagai bagian dari respons kemanusiaan terhadap dampak kesehatan akibat kabut asap karhutla.
Berbeda dengan gempa bumi yang menimbulkan kerusakan fisik secara langsung. Ancaman karhutla sering kali datang melalui udara yang dihirup setiap hari. Dampaknya, peningkatkan risiko gangguan pernapasan mengancam kesehatan, terutama anak-anak, lansia, serta kelompok rentan lainnya.
Dalam situasi ini, rumah oksigen menjadi salah satu bentuk dukungan layanan kesehatan bagi masyarakat terdampak. Kehadirannya memperlihatkan penanganan bencana tidak hanya berbentuk evakuasi atau distribusi logistik, tetapi juga upaya melindungi kesehatan masyarakat dari dampak lingkungan yang memburuk.
Jarak Bukan Suatu Alasan
Kolaborasi antar diaspora tersebut menghadirkan kekuatan jaringan Muhammadiyah yang melampaui batas geografis. Keberadaan PCIM Australia dan Lazismu Australia menggerakkan solidaritas di luar negeri. Dalam kondisi berbeda, Lazismu Pusat bersama jaringan MDMC menghubungkan dukungan itu dengan kebutuhan penanganan bencana di lapangan.
Dari Darwin hingga Melbourne, kepedulian melintasi ribuan kilometer menuju NTT dan Kalimantan. Sebab, untuk merasakan penderitaan sesama, seseorang tidak harus berada di tempat yang sama. Oleh karena itu, dalam mengulurkan tangan jarak bukan suatu alasan.
Lazismu Australia bersama PCIM Australia berkomitmen untuk terus menggerakkan partisipasi warga Muhammadiyah dan masyarakat Indonesia di Australia dalam berbagai program dakwah, sosial, dan kemanusiaan, sekaligus memperkuat sinergi dengan jaringan Muhammadiyah di tanah air.
[Kelembagaan dan Humas Lazismu Pusat/Lazismu Australia]

JAKARTA -- Lazismu meraih penghargaan kategori Lembaga Amil Zakat (LAZ) Mitra Terbaik dalam ajang Grand Baznas Award 2026. Dalam kategori itu Lazismu menerima piagam penghargaan dari Baznas.
Penghargaan itu diterima oleh Ketua Badan Pengurus Lazismu Pusat, Ahmad Imam Mujadid Rais, dalam acara yang berlangsung di Jakarta, pada Kamis, 15 Oktober 2026.
“Kontribusi yang dinilai tersebut merupakan upaya Lazismu untuk turut memperkuat ekosistem zakat nasional. Semoga program-program Lazismu memberikan dampak dan bisa meningkatkan kepercayaan kepada muzaki, mustahik dan masyarakat pada umumnya”, kata Mujadid.
Lazismu sebagai lembaga filantropi Islam terbuka untuk berkolaborasi. Hadir bersama - sama mitra memberikan kontribusi terhadap bangsa sehingga program-program yang didukung melalui dana zakat bisa lebih produktif dan menjangkau penerima manfaat secara lebih luas.
Lazismu dalam kiprahnya mencatat program-program yang dijalankan senantiasa bermitra dengan para pemangku kepentingan baik di sektor keuangan, industri dan teknologi informasi maupun komunitas profesional lainnya di lingkungan internal dan eksternal Muhammadiyah.
Sebagai contoh saat merespons situasi tanggap darurat pascagempa bumi di NTT, Lazismu melibatkan banyak mitra dan komunitas relawan profesional untuk mendirikan rumah sakit lapangan melayani kesehatan penyintas bersama Emergency Medical Team (EMT) Muhammadiyah yang sudah terverifikasi oleh WHO.
Dengan diraihnya penghargaan ini, Mujadid berharap nilai manfaatnya mampu membangkitkan motivasi, khususnya gerakan zakat di Indonesia untuk memperkuat ekosistem zakat nasional. “Serta mendorong gerakan zakat di Indonesia untuk terus berkontribusi menciptakan program-program yang produktif dan berkelanjutan”, pungkasnya.
Sekali lagi, kami mengucapkan terima kasih atas penghargaan dan kepercayaan yang diberikan ini, terutama kepada Pimpinan Pusat Muhammadiyah dan Pimpinan Wilayah Muhammadiyah hingga Pimpinan Ranting Muhammadiyah serta mitra-mitra Lazismu yang telah mendukung ekosistem gerakan zakat di Indonesia.
Penghargaan ini jangan sampai membuat kita terlena, justeru menjadi pemantik bagi amil Lazismu di seluruh Indonesia untuk terus meningkatkan kualitas layanan dalam melaksanakan program-programnya yang berdampak.
[Kelembagaan dan Humas Lazismu Pusat]

KALIMANTAN BARAT -- Menjemput impian anak agar di khitan bagi setiap orang tua memiliki peran penting pada proses tumbuh kembang anak. Tidak semua orang tua bisa segera melakukan khitan anaknya. Faktor biaya masih jadi kendala saat impitan ekonomi datang.
Untuk menjembatani hal itu, Lazismu Kalimantan Barat bersama Permata Bank Syariah menggelar Khitan Ceria Gratis bagi keluarga yang membutuhkan. Kolaborasi ini terlaksana Pada hari Ahad, (11/10/2026), di Desa Kiungkang, Kecamatan Nanga Taman, di kabupaten Sekadau, Kalimantan Barat.
Melalui kegiatan ini, Lazismu bersama Permata Bank Syariah berupaya menghadirkan manfaat nyata bagi masyarakat sekaligus memperkuat semangat berbagi dan kepedulian terhadap kesehatan anak. Dalam sinergi tersebut, disalurkan juga bingkisan kepada penerima manfaat berupa perlengkapan sekolah, kain sarung, dan uang saku.
Program ini juga menjadi wujud sinergi antara lembaga filantropi Islam dan sektor perbankan syariah dalam mendukung kegiatan sosial dan kemanusiaan. Ketua Lazismu Kalimantan Barat, Ismail Syailillah, menyampaikan bahwa kegiatan Khitanan Ceria Gratis merupakan bentuk kepedulian sosial.
Dengan sinergi ini, diharapkan dapat meringankan beban ekonomi keluarga. “Memberikan layanan kesehatan bagi anak-anak, serta memperkuat semangat berbagi dan kepedulian sosial di Kalimantan Barat”, tandasnya.
Senada dengan hal itu, perwakilan UPZDK Permata Bank Syariah Pontianak, Dede Ari Mulyawan menyampaikan bahwa program Khitanan Ceria Gratis adalah komitmen dalam meningkatkan akses layanan kesehatan bagi anak-anak serta memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
Dede menyampaikan rasa syukur atas keterlibatan pihaknya dalam kegiatan ini. Ia mengatakan partisipasi itu komitmen dan kepedulian dalam menebarkan kebaikan serta berbagi kebahagiaan bersama masyarakat Nanga Taman.
Pihaknya berharap kolaborasi bersama Lazismu dapat terus berlanjut secara produktif dan berkelanjutan, sehingga mampu menghadirkan dampak yang lebih luas serta menjadi amal jariyah bagi semua pihak yang terlibat.
Sementara itu, Muhamdi mewakili Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kabupaten Sekadau dan Pimpinan Cabang Muhammadiyah Nanga Taman, mengucapkan terima kasih dan apresiasi kepada semua pihak yang telah mendukung terlaksananya kegiatan ini dengan lancar.
Dalam pelaksanaannya, Lazismu Kalimantan Barat dan UPZDK Permata Bank Syariah Pontianak, menggandeng tenaga medis profesional dari Klinik PKU Muhammadiyah Kitamura Pontianak, Puskesmas Nanga Taman, dan Puskesmas Selalong. Keterlibatan mereka dihadirkan untuk mendukung pelayanan yang layak dan prima bagi penerima manfaat.
[Kelembagaan dan Humas Lazismu Pusat/Lazismu Kalbar]

SEMARANG -- Pasokan air bersih sangat dinanti warga Kalisegoro, kota Semarang. Pasalnya, kebutuhan air bersih itu untuk mendukung kegiatan warga dalam mengoptimalkan kegiatan ibadah di Masjid Nurul Huda.
Sebelumnya, masjid itu alami kendala pasokan air bersih yang sempat mengentikan kelancaran aktivitas ibadah dan sekolah. Tak hanya itu, kegiatan Taman Pendidikan al-Qur’an juga terganggu karena aliran air bersih tersendat.
Problem yang dialami warga Kalisegoro disambut Lazismu Kota Semarang. Sebagai Solusi Lazismu dan Aisyiyah segera melakukan penyaluran bantuan air bersih untuk memasok kelancaran air di Masjid Nurul huda.
Dalam aksinya, relawan MDMC dan relawan LLHPB Aisyiyah memprioritaskan fasilitas umum di Kalisegoro. Hasilnya, bantuan pasokan air bersih langsung mengalir ke Masjid Nurul Huda dan TPQ SekolahQu, pada Kamis, (8/10/2026). Satu unit armada tangki memasok kebutuhan air di SD Ummul Quro di lingkungan masjid tersebut.
Kepala Sekolah SD Ummul Quro, Dondi Eko Meilani, menyampaikan terima kasih atas bantuan air bersih dari Lazismu. Dondi mengatakan, krisis air bersih sempat mengganggu jalannya aktivitas kebersihan dan kenyamanan sekolah saat musim kemarau.
“Akibatnya, pengelola sekolah kesulitan menjaga kebersihan tempat wudhu dan sanitasi. Kehadiran bantuan air bersih kini menjadi angin segar bagi guru dan siswa”, ujarnya. Menurutnya, pasokan air ini sangat krusial untuk menjaga kelangsungan kegiatan belajar-mengajar.
Mewakili Lazismu Kota Semarang, Muhammad Rokhi Nazir merasa bersyukur. Akhirnya persoalan itu segera mendapat solusinya. Nazir mengapresiasi sinergi unit usaha persyarikatan yakni PT Surya Amanah Sejahtera dan relawan.
“Ini membuktikan komitmen bersama terhadap kebutuhan dasar masyarakat. “Alhamdulillah, pada siang hari ini kita telah menyalurkan air bersih,” jelasnya. Surya Amanah Sejahtera (SAS) merupakan Badan Usaha Milik Muhammadiyahdi bawah PDM Kota Semarang. Melalui produk unggulannya, Surya Bening, BUMM ini mendukung penuh penanganan krisis air.
Dengan demikian, kolaborasi ini memperluas daya jangkau bantuan untuk masyarakat yang membutuhkan. Tim relawan MDMC dan relawan LLHPB Aisyiyah mendampingi seluruh proses penyaluran. Sementara itu, tim Lazismu Kantor Layanan Gunungpati 2 mengawal proses pengisian air hingga tuntas.
[Kelembagaan dan Humas Lazismu Pusat/Lazismu Kota Semarang]



Seseorang dalam suatu pengajian bertanya kepada Ustadz, Jika Allah SWT Maha Baik dan Maha Penyayang kepada mahluknya, mengapa Ia dengan Kuasanya, memberikan ujian bagi manusia. Hal ini tidak adil padahal Allah SWT telah memberikan nikmat dan anugerah yang tak terhingga.
Pertanyaan di atas, mungkin ada dan dialami dalam benak orang lain. Pertanyaan itu fitrah bagi manusia. Karena dalam Islam manusia memiliki fitrah untuk belajar dan mengetahui segala sesuatu. Potensi bertanya manusia juga bagian dari fitrah manusia dalam beragama untuk mengetahui Kemahakuasaan-Nya sebagai Maha Pemberi Bentuk (Al-Wahib Al-Suwar).
Dengan kuasa-Nya, Allah bisa menjadikan sesuatu dalam bentuk apa saja, bahkan dengan kuasa-Nya mengubah sesuatu dalam bentuk yang lain bahkan menghancurkan atau memusnahkannya. Termasuk bencana gempa bumi, tentu ada maksud-Nya Allah memberikan peringatan dan kehancuran itu kepada setiap manusia.
Dalam kajian Fikih Bencana tahun 2014, Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah telah melakukan kajian atas pokok bahasan mengenai bencana, keadilan dan nasib manusia dalam mempertahankan hidupnya.
Salah seorang Ketua Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah Ustadi Hamsah, misalnya, ketika membahas soal Keadilan Tuhan (theodicy), Musibah dan Peristiwa yang Penuh Makna, mengungkapkan bahwa konsep Keadilan Tuhan merupakan ke-Maha Baik-kan dan ke-Maha Adil-an Allah yang dihadapkan pada kenyataan adanya keburukan dan kejahatan di dunia.
Hal itu, menurutnya, didasarkan pada sifat Rahmah (rahman dan rahim). Ketentuan dan ketetapan Allah pun selalu BAIK, dan hamba-hamba Yang Rahman dan Rahim (‘ibad al-Rahman) memandang bahwa Allah adalah Sumber Kebaikan. Konsekuensi kebaikan ini adalah bertambahnya nilai dari kebaikan (ihsan).
Dalam kajian itu, Ustadi mengatakan bahwa seluruh ketentuan Allah adalah anugerah bagi manusia. Fungsi anugerah itu sendiri sebagai ujian (bala’). Dan ujian itu berbentuk dua keberadaanya, yaitu kebaikan (hasanat) dan keburukan (sayyi’at). Ujian yang buruk (sayyi’at) lazim dikenal dengan musibah, bencana, pageblug, atau prahara.
Musibah Bukan Berarti Masalah
Terlepas dari ujian yang diberikan oleh Allah SWT, sebelum musibah itu datang manusia dalam hidupnya senantiasa dihadapi oleh kendala dalam bentuk masalah. Baik itu masalah ringan atau berat. Masalah dalam pengertian yang sederhana adalah adanya kesenjangan sesuatu antara yang senyatanya (Das Sein) dengan yang seharusnya (Das Sollen).
Oleh karena itu, ketika manusia diuji dengan masalah, sebagian orang mengatakan itu adalah musibah. Bahkan musibah itu dimaknai negatif. Sehingga menjadi masalah bagi manusia. Mengapa? Karena manusia memiliki kesadaran. Kesadaran itu bisa rapuh. Dalam kacamata Tauhid tentang musibah secara hakikat pada dasarnya tidak sama dengan masalah. Padahal yang menjadi masalah bagi manusia pada dasarnya adalah cara manusia menyikapi masalahnya. Ustadi berpendapat, apapun yang terjadi adalah nasib (bagian) manusia, ketentuan (qadla’) Allah bagi makhluk-Nya sesuai ketetapan-Nya (taqdir).
Demikian keadilan Tuhan. Maka kita harus memahami dan menyikapi takdir itu. Dalam Tauhid, ada cinta dan keridhoan. Artinya menerima ketentuan Allah dengan Ikhlas. Ridho dan Ikhlas atas kejadian atau peristiwa di alam (bil kaun). Itu adalah kuasa-Nya, manusia tidak mampu menjangkaunya.
Yang menarik menurut Ustadi, jika Allah menghendaki musibah pada suatu kaum, maka akan menimpa orang sholih juga orang kafir, tetapi Allah akan membangkitkan dalam kondisi yang berbeda-beda. Selanjutnya ada Ridho yang dimaknai atas yang menimpa kita (bi na). Maksudnya ada banyak faktor dalam hidup kita yang diatur oleh Allah. Dan yang tahu rahasianya hanya Allah SWT.
Untuk itu, dalam Islam dan dalam setiap ibadah kita selaku Muslim, maka penting untuk kuatkan sikap kita ridho dan ikhlas malakukan hal yang layak untuk dilakukan. Allah tidak mengubah kondisi suatu kaum kecuali kaum tersebut mau mengubah kondisnya pula.
Pandangan terkait bencana ini, juga disampaikan Majelis Tarjih dan tajdid PP Muhammadiyah, Muhammad Khaeruddin Hamsin mengenai Konsep Darurat Dalam Islam dan Masalah -Masalah Fikih Terkait Bencana. Menurutnya, darurat dalam kerangka Maqasid Syar’iyah adalah di mana manusia sampai pada kondisi yang sangat kesulitan sehingga dapat melakukan hal-hal yang dilarang guna menghindarkan jiwanya, hartanya dan sebagainya dari kebinasaan.
Mendudukan makna darurat menjadi penting di sini, karena bertalian dengan konsep maslahah yaitu bagaimana manusia dapat menggapai suatu kemanfaatan dan terhindar dari kerusakan atau mencapai kemanfaatan dengan menjaga agama, jiwa, keturunan (harga diri) akal dan harta.
Jadi, maslahah dalam konteksnya ini mencakup hal-hal yang bersifat dharuriyat, hajiyat dan tahsiniyat, sedang darurat hanya terbatas hal-hal yang besifat dharuriyat saja.
Dari paparan di atas, Ketua PP Muhammadiyah, Syafiq Mughni menilai bahwa pandangan Islam tentang bencana berarti ada suatu hal yang penting yaitu mengurangi risiko bencana untuk mempertahankan hidup.
Penggalian nilai-nilai Islam tentang kebencanaan sangat penting untuk membangun kesadaran masyarakat terhadap bencana. Kesadaran itu akan terwujud dalam upaya untuk memahami bencana sebagai fenomena alam maupun sosial sehingga bisa mengurangi tingkat risikonya, mengantisipasi dan melakukan apa yang terbaik ketika bencana itu terjadi.
Agama memainkan peran yang penting karena sifat ajaran Islam yang menyentuh seluruh aspek kehidupan manusia. Menurut pendapat para pemikir hukum Islam, prinsip-prinsip dasar atau maksud dari setiap ketetapan hukum Islam di antaranya, menjaga keselamatan jiwa dan harta manusia. Karena ini wajib menurut ajaran Islam untuk mempertahankan hidup.
[Kelembagaan dan Humas Lazismu Pusat]

Bayangkan, anda tertidur lelap. Tidur malam cukup selama 7- 8 jam yang bermanfaat untuk kesehatan. Jaringan sel tubuh mengalami perbaikan dalam sistem tubuh yang bekerja untuk menguatkan kekebalan, menjaga kesehatan jantung dan mengoptimalkan fungsi kerja otak serta daya ingat. Selain itu, tidur malam yang cukup dapat menjaga emosi tetap stabil.
Tiba-tiba dalam nyenyak yang nikmat, kasur bergerak dan atap rumah berguncang hebat hingga merubuhkan bangunan. Tetangga dan kerabat dekat anda merasakan hal yang sama sehingga terkejut berlari keluar rumah untuk menyelamatkan diri. Gempa bumi sedang menyapa kita dengan ujian musibah yang tidak mengenal waktu dan tempat.
Demikian hal yang dialami saudara-saudara kita di Nusa Tenggara Timur (NTT). Gempa bumi tektonik berkekuatan 7,7 magnitudo pada Sabtu, (15/8/2026) pukul 04.58 waktu setempat. Tujuh kabupaten di NTT merasakan dampaknya. Bahkan BNPB dalam datanya melaporkan bahwa ada dua kabupaten yang mengalami kerusakan dan dampak yang luar biasa yaitu kabupaten Manggarai dan kabupaten Manggarai Timur.
Data terkini dari BNPB, tertanggal 20 Agustus 2026, jumlah korban meninggal dunia menjadi 72 orang. Korban luka-luka sebanyak 900 orang, dan 82.691 orang mengungsi serta 18.019 kepala keluarga terdampak. Tidak hanya itu, kerugian materilnya ada 29.001 rumah rusak termasuk fasilitas ibadah dan fasilitas umum.
Makna Bencana sebagai Buah Empati
Adalah penting untuk memandang bencana dari perspektif islam dan kemanusiaan. Dalam sudut pandang Fikih Bencana yang diterbitkan oleh Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah (2015), kata bencana memiliki padanan istilah dalam Al-Qur’an yaitu musibah, bala’, fitnah, ‘azab, fasad, halak, tadmir, tamziq, ‘iqab, dan nazilah.
Istilah – istilah tersebut mengandung makna yang berbeda-beda dalam teks dan konteksnya. Istilah Bala’ diartikan sebagai “cobaan untuk memperteguh keimanan”. Adapun istilah fitnah lebih dekat pada makna bencana sosial yang diakibatkan oleh ketegangan sosial antar manusia.
Sedangkan istilah Azab diartikan sebagai “ragam peristiwa yang menimpa manusia karena perbuatannya yang abai terhadap ketetapan dan hukum Allah”. Sementara istilah Fasad merupakan bencana yang diakibatkan oleh manusia yang bertentangan dengan ketetapan Allah.
Dalam makna lain tentang bencana, Halak bersandar pada suatu kehancuran dan kebinasaan yang menjadi hukum ketetapan Allah. Makna bencana lainnya melalui istilah Tadmir diartikan sebagai sifat dari suatu peristiwa yang berdampak merusak dan disebabkan oleh manusia juga oleh alam.
Selain itu, istilah Tamziq merupakan peristiwa buruk yang murni disebabkan oleh ulah manusia. Sedangkan istilah Iqab merupakan kejadian berupa hukuman disebabkan oleh sikap pengingkaran manusia terhadap Allah dan Rasul serta istilah Nazilah yang berarti bencana sebagai hukuman dari Allah untuk manusia.
Berdasarkan istilah dan makna bencana di atas, secara teknis dan konseptual kita sering menggunakannya secara bergantian. Oleh karena itu, makna dasar ini menjadi relevan sebagai bekal pengetahuan tentang bencana dari perspektif fikih islam karena berkaitan dengan wawasan kemanusiaan dan kepekaan sosial (empati).
Berkhidmat kepada Kemanusiaan
Setiap bencana mengandung hikmah dan pelajaran bagi setiap manusia, baik sebagai manusia yang terdampak atau tidak. Oleh karena itu, bencana harus disikapi dengan arif bijakasana agar kita mampu berkhidmat untuk merespons bencana tersebut. Sebagai pelajaran yang sudah terjadi maka manusia harus merencanakan mitigasinya, dan bagaimana merespons kedaruratannya hingga masa pemulihannya.
Hamim Ilyas dari Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah mengatakan bahwa berkhidmat terhadap bencana berarti menyelami makna terdalam. Hamim mendasarkan argumennya pada Surat Al-Maun tentang Yatim dan Miskin serta orang yang mendustai agama. Mengapa demikian, karena manusia yang tertimpa bencana mengalami kerugian bahkan kehilangan harta bendanya yang berharga. Bisa jadi bagi seorang anak, karena bencana orang tuanya berpulang dan Ia menjadi yatim duafa atau penyandang masalah kesejahteraan.
Oleh karena itu, menurut Hamim Ilyas, berkhidmat kepada yatim dan miskin dilakukan dengan empat prinsip: 1. Memuliakan, 2. Keberpihakan, 3. Memperlakukan dengan adil, dan 4. Memberikan kebaikan nyata. Al-Qur’an telah menunjukkan bukti dari pengkhidmatan itu melalui upaya memberikan perlindungan dan santunan, memperhatikan masa depan, berlaku adil dan tidak bersikap kasar serta mengelola harta yang dimiliki yatim dengan cara terbaik.
Dengan upaya pengkhidmatan itu, akan ada usaha-usaha yang dapat dilakukan, misal setelah masa tanggap darurat bencana akan masuk pada fase pemulihan, sebagai ikhtiar menolong sesama bisa dilakukan dengan pemberdayaan masyarakat dengan 4 orientasi yang terus bisa dikembangkan sesuai kebutuhan, yaitu: 1. Pemberdayaan masyarakat yang berorientasi kesejahteraan, 2. Pemberdayaan masyarakat yang berorientasi kemandirian dan kelestarian, 3. Pemberdayaan masyarakat yang berorientasi advokasi dan perubahan sosial, 4. Pemberdayaan masyarakat yang berorientasi advokasi kebijakan publik dan gerakan sosial.
Hal itu diperkuat oleh pemaknaan terhadap bencana yang diungkapkan oleh Pakar Manajemen Bencana dari PP Muhammadiyah, Rahmawati Husein bahwa bencana adalah peristiwa atau rangkaian peristiwa yang mengancam dan mengganggu kehidupan dan penghidupan masyarakat yang disebabkan, baik oleh faktor alam dan/atau faktor non alam maupun faktor manusia sehingga mengakibatkan timbulnya korban jiwa manusia, kerusakan lingkungan, kerugian harta benda, dan dampak psikologis.
Menurut Rahmawati Husein dalam memahami bencana dan pengelolaannya yang menjadi poin penting adalah dari tanggap darurat ke pengurangan risiko bencana. Ia menilai sejauh ini masih ada sebagian masyarakat yang melihat bencana alam sebagai sesuatu yang datang di luar kemampuan manusia. Maka kecenderungannya menunggu kejadian tersebut dialami atau menimpa diri mereka tanpa ada pembelajaran untuk mitigasi dan penanggulangan risiko bencananya.
[Kelembagaan dan Humas Lazismu Pusat]

MENGECAM PENYANDERAAN 9 AKTIVIS KEMANUSIAAN INDONESIA DAN BANTUAN KEMANUSIAAN GLOBAL SUMUD FLOTILLA OLEH AKSI MILITER ISRAEL
Jakarta, 20 Mei 2026
Aksi militer Israel yang melancarkan penyergapan terhadap relawan kemanusiaan Global Sumud Flotilla 2.0, menuju Gaza, Palestina, merupakan bentuk teror dan melanggar hukum internasional. Tindakan intersepsi itu terjadi pada Senin, 18 Mei 2026, di perairan internasional Siprus, tepatnya di kawasan Laut Mediterania Timur.
Misi kemanusiaan untuk Palestina yang diinisiasi oleh masyarakat global yang berjumlah 426 Relawan dari 40 negara berlayar menggunakan 50 kapal, merupakan aktivis kemanusiaan dari berbagai macam profesi. Salah satunya negara Indonesia, yang di dalamnya ada 9 orang aktivis kemanusiaan yang mewakili lembaga amil zakat dan jurnalis kemanusiaan.
Berdasarkan informasi terbaru, pada 19 Mei 2026 pukul 21.02 WIB, militer Israel telah mencegat dan memaksa 40 kapal kemanusiaan tersebut untuk berhenti di perairan internasional. Kabar tersiar lainnya melalui media internasional yang sampai ke Indonesia, para relawan kemanusiaan ini dipaksa berlutut dengan kondisi tangan terikat di belakang.
Dengan bersenjata, pasukan militer Israel berjaga dari kapalnya memberikan ancaman. Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, tetap pada pendiriannya sebagai upaya membela hak Israel mencegat kapal kemanusiaan itu. Bahkan, Netanyahu, memerintahkan agar semua aktivis kemanusiaan segera dideportasi.
Atas landasan hukum dan etika kemanusiaan, Kami dari Lembaga Amil Zakat Pimpinan Pusat Muhammadiyah (LAZISMU), yang juga sebagai bagian dari lembaga pengelola zakat, menyatakan kerisauan atas krisis kemanusiaan yang terjadi menimpa aktivis kemanusiaan Global Sumud Flotilla 2.0.
Kami sekaligus mengecam setiap bentuk intervensi yang dilakukan dengan kekerasan yang sewenang-wenang oleh pasukan militer Israel terhadap misi kemanusiaan Global Sumud Flotilla 2.0.
Bantuan kemanusiaan amanah rakyat Indonesia, berupa pangan, logistik, dan penunjang medis serta kesehatan yang diambil-alih dengan paksa merupakan upaya perampasan, dan tidak semata menahan sementara tetapi menghentikan akses atas hak hidup rakyat Palestina. Ini juga merupakan bentuk perendahan martabat kemanusiaan dan solidaritas internasional, termasuk Indonesia.
Ancaman represif tersebut adalah pelanggaran nyata terhadap hukum humaniter internasional. Tindakan militer Israel, melanggar Pasal 59 Konvensi Jenewa IV (1949) serta Protokol Tambahan I Pasal 70 dan 71, yang mewajibkan perlindungan mutlak bagi personil pekerja kemanusiaan dan kewajiban untuk memfasilitasi akses lintasan bantuan tanpa hambatan.
Pencegatan distribusi bantuan kemanusiaan yang disengaja turut melukai wajah kemanusiaan dan ancaman kelaparan di Gaza, Palestina, serta mencederai prinsip-prinsip dasar kemanusiaan universal yang dijunjung tinggi oleh komitmen internasional yang dibuat pada World Humanitarian Summit 2016, sebagai Agenda Pembangunan Berkelanjutan 2030 dan sejumlah inisiatif global lainnya.
Berpijak dari prinsip dasar kemanusiaan dan hukum humaniter internasional tersebut, Kami dari LAZISMU, dalam situasi darurat yang menyertai, dan atas nama solidaritas kemanusiaan, dengan ini menyampaikan pernyataan sikap:
Berikut pernyataan sikap yang LAZISMU sampaikan sebagai wujud solidaritas kemanusiaan universal dan akan terus ikut mengawal dengan tetap menjunjung tinggi perlindungan akses kemanusuiaan global bagi hak kemerdekaan rakyat Palestina.
Kami menyerukan kepada seluruh masyarakat Indonesia untuk tidak pernah lelah mengawal setiap aksi kemanusiaan, sekaligus memanfaatkan ruang-ruang media sosial dengan narasi solidaritas kemanusiaan dan dukungan penuh bagi kemerdekaan rakyat Palestina. LAZISMU juga menyerukan kepada Masyarakat Indonesia untuk tidak letih membantu rakyat Palestina.

